• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fenomena Labor Shifting dalam Pasar Tena

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Fenomena Labor Shifting dalam Pasar Tena"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

USULAN TOPIK SKRIPSI

Nama/NIM : Clara Arsinta/13.7545

Jurusan/Peminatan : Statistika/Ekonomi

Proposal 1: Judul:

Fenomena Labor Shifting dalam Pasar Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat Latar Belakang Masalah

Ekonomi pasar modern terus menerus mengalami perubahan struktural. Beberapa sektor menyusut, sementara yang lain tumbuh. Perubahan struktural ini juga berdampak pada tenaga kerja. Perubahan permintaan terhadap output pada suatu sektor akan menyebabkan perubahan terhadap kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut yang dapat memicu terjadinya shifting dari dan atau ke sektor lainnya (Bachmann, 2008). Hal itu sangat relevan pada setiap daerah, termasuk Jawa Barat.

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional. Provinsi Jawa Barat menempati urutan ketiga provinsi yang memiliki PDRB tertinggi setelah Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Timur. Sebelum terjadinya krisis tahun 2008, Jawa Barat memiliki laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,28 persen (berdasarkan harga konstan 2000), lebih besar dari pada pertumbuhan nasional rata-rata sebesar 6,48 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mengalami penurunan akibat adanya krisis global tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat turun menjadi sebesar 4,19 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 4,77 persen. Setelah krisis berakhir, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat kembali meningkat.

Adanya gejolak ekonomi tersebut berdampak pada perubahan struktural ekonomi di Jawa Barat. Penurunan ekonomi tersebut ternyata tidak menurunkan tingkat penyerapan kerja. Pada tahun 2008 dan 2009, penyerapan tenaga kerja ternyata tetap mengalami peningkatan yaitu sebesar 3,95 persen dan 2,55 persen. Besarnya penyerapan tenaga kerja disebabkan oleh terjadinya

(2)

Tabel 1. Pertumbuhan Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2016

Lapangan Pekerjaan Utama

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Pertanian, Perkebunan,

Kehutanan dan Perbu-ruan

7.68 -1.09 1.03 -6.85 -8.13 11.20 -6.06 0.45 -18.99 1.90

Pertambangan dan Penggalian

0.03 20.69 0.47 16.22 21.06 41.57 -27.51 1.35 -3.81 -17.05

Industri 0.84 6.08 4.71 10.27 9.85 5.90 -0.19 -0.83 1.09 -1.54 Listrik, Gas, dan Air 3.55 -12.97 12.25 36.84 -40.64 43.58 27.13 -7.07 14.80 -10.96 Konstruksi 3.67 10.16 -5.23 4.03 18.48 8.59 -0.81 15.63 13.88 -15.79 Perdagangan, rumah

makan da jasa akomo-dasi

10.03 1.42 2.92 -2.24 5.05 5.37 3.06 2.65 3.54 4.66

Transportasi,

pergu-dangan dan komunikasi -4.21 -4.90 2.91 -15.96 -8.70 -3.86 -1.96 -3.72 3.60 7.28 Keuangan, Real Estate,

Usaha persewaan dan Jasa Perusahaan

7.90 7.40 -0.34 26.90 48.75 0.28 7.02 11.29 11.58 21.63

Jasa kemasyarakatan, sosial dan perseorangan

9.37 20.39 5.41 8.14 -0.16 7.91 9.15 5.34 -7.47 8.28

Total 5.71 3.95 2.55 0.24 2.75 6.94 0.62 2.66 -2.29 2.18

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Pada tabel dapat dilihat bahwa pertumbuhan penyerapan tenaga kerja berbeda antar tahun. Misalkan pada sektor pertanian cenderung tidak stabil, ditandai dengan pertumbuhan positif dan negatif. Penurunan pertumbuhan tenaga kerja pada suatu sektor mengindikasikan adanya mobilitas tenaga kerja ke sektor lain, begitu pula sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa adanya mobilitas sektoral berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja yang ditandai jumlah penyerapan tenaga kerja relatif tetap bahkan bertumbuh. (Permata, 2010).

Tujuan dan Metode Analisis

(3)

Ketersediaan Data

Data yang digunakan merupakan data sekunder yang seluruhnya diambil dari data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) oleh Badan Pusat Statistik. Variabel yang akan digunakan pada analisis inferensia adalah variabel dependen yaitu status perpindahan tenaga kerja dan variabel dependen yaitu jenis kelamin, usia pekerja, tingkat pendidikan, status pengalaman kerja, upah, dan level jabatan.

Daftar Pustaka

1. Permata, M. I., Yanfitri, Prasmuko A. (2010). Fenomena Labor Shifting

dalam Pasar Tenaga Kerja Indonesia. Buletin Ekonomi dan Perbankan Vol 12, No 3.

2. Bachmann, R. dan Burda, M. C. (2008). Sectoral Transformation, Turbulance, and Labor Market Dynamics in Germany. IZA Discussion Paper No. 3324, January 2008.

3. Badan Pusat Statistik. (2016). Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2016. Jakarta: BPS.

4. __________________. (2016). Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat Agustus 2016. Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat No 64/11/32/ThXVII. November 2016.

Penelitian yang Terkait/Relevan

1. Permata, M. I., Yanfitri, Prasmuko A. (2010). Fenomena Labor Shifting

dalam Pasar Tenaga Kerja Indonesia. Buletin Ekonomi dan Perbankan Vol 12, No 3.

2. Bachmann, R. dan Burda, M. C. (2008). Sectoral Transformation, Turbulance, and Labor Market Dynamics in Germany. IZA Discussion Paper No. 3324, January 2008.

Dosen Pembimbing: Ribut Nurul Tri Wahyuni S.S.T., M.S.E.

Jakarta, 26 November 2016

Gambar

Tabel 1. Pertumbuhan Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Lapangan PekerjaanUtama di Provinsi Jawa Barat Tahun 2007-2016

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian dengan analisis input output dapat diketahui sektor mana yang berdampak paling besar terhadap angka pengganda (multiplier effect) , permintaan akhir pada

Selain itu, juga ada motivasi khusus (mencoba sesuatu yang baru dan unik). Hal ini berdampak pada perubahan pola konsumsi yang menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan

Investasi pertanian secara umum juga bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan permintaan tenaga kerja di sektor tanaman pangan, perikanan,

Perubahan struktural di Provinsi Jawa Barat yang ditunjukkan oleh penurunan dalam share baik dalam output maupun dalam tenaga kerja dari sektor pertanian di satu sisi

1 Tahun 2023 11 Evaluasi Tenaga Kerja Professional Dalam Pemenuhan Kebutuhan Permintaan Lapangan Kerja Yang di Tangani PT.Laguna Indonesia I Putu Vivasvan Dharma Yogaswara1, Ni

Oleh karena itu, seiring dengan terjadinya perubahan permintaan konsumen terhadap produk golang-galing yang dijual oleh Pak Liman dan dengan adanya data banyaknya golang-galing yang di

Mesin Es Balok: Solusi Ideal untuk Kebutuhan Pendinginan Industri Dalam dunia industri, kebutuhan akan es sebagai media pendingin sangat penting, terutama di sektor perikanan, pengolahan makanan, dan logistik. Salah satu solusi paling efektif untuk memenuhi kebutuhan ini adalah mesin es balok. Mesin ini dirancang khusus untuk memproduksi es dalam bentuk balok yang padat, kokoh, dan tahan lama. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang mesin es balok, mulai dari pengertian, manfaat, hingga cara memilih mesin yang tepat. Apa Itu Mesin Es Balok? Mesin es balok adalah perangkat industri yang berfungsi untuk memproduksi es berbentuk balok dengan ukuran besar. Proses pembuatannya melibatkan pembekuan air di dalam cetakan khusus yang ditempatkan dalam tangki berisi cairan garam atau brine solution. Mesin ini biasanya dilengkapi dengan sistem pendingin modern yang memungkinkan pembekuan cepat dan efisien. Es balok yang dihasilkan oleh mesin ini memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari 5 kg hingga 50 kg per balok, tergantung pada desain dan kapasitas mesin. Karena sifatnya yang padat, es balok mencair lebih lambat dibandingkan es berbentuk serpihan atau kubus, menjadikannya pilihan yang ideal untuk pendinginan skala besar. Keunggulan dan Manfaat Mesin Es Balok Daya Tahan Leleh yang Lama Es balok memiliki kepadatan tinggi, sehingga mencair lebih lambat dibandingkan jenis es lainnya. Hal ini membuatnya sangat efektif untuk menjaga suhu rendah selama transportasi atau penyimpanan bahan yang memerlukan pendinginan. Produksi Skala Besar Mesin es balok tersedia dalam berbagai kapasitas, mulai dari 1 ton hingga lebih dari 100 ton es per hari, sehingga cocok untuk kebutuhan kecil hingga besar. Efisiensi Operasional Mesin ini dirancang untuk bekerja otomatis, mulai dari pengisian air hingga pelepasan es. Proses otomatisasi ini mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual, sehingga lebih hemat biaya. Kualitas Material yang Higienis Sebagian besar mesin es balok menggunakan bahan stainless steel atau material tahan karat lainnya untuk memastikan es yang dihasilkan bersih dan bebas kontaminasi. Hemat Energi Teknologi pendingin modern yang digunakan pada mesin ini memastikan efisiensi energi, mengurangi biaya listrik tanpa mengorbankan performa produksi. Ramah Lingkungan Mesin es balok modern menggunakan refrigeran ramah lingkungan yang meminimalkan dampak terhadap lapisan ozon dan perubahan