Sejarah lahirnya pembaruan dalam Islam
Sekitar abad VII sampai X M, Islam berkembang dengan pesat diwilayah-wilayah yang sangat luas serta peradaban dan kebudayaan yang maju dan tinggi yang berdimensi rahmatan lil ‘alamin. Wilayah islam dipenuhi dengan kota-kota yang indah, penuh dengan masjid-masjid yang indah dan artistic, diberbagai kota terdapat perguruan tinggi yang didalamnya tersimpan berbagai hasanah peradaban yang bernilai tinggi. Para peneliti dengan tekunnya melakukan penelitian dan pengembangan ilmu sehingga berkembang berbagai cabang ilmu seperti Teknik, arsitektur, matematika, astronomi, kedokteran, kesusastraan, ilmu optic, flsaaat dan lain sebagainya.
Pada zaman kebangkitan Islam pertama ini lahir ulama-ulama besar serta kaum cendekiawan dalam berbagai keahlian pengetahuan. Dalam bidang ilmu syariat terdapat Imam Malik bin Anas, Imam Abu Haniaah bin Nu’man, Imam
Muhammadi Idris as-Syaf’I, Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Dalam bidang ilmu kalam antara lain Abu Hasan al-Say’ari, Abu Al-Jubai, Abu Mansyur Muhammad bin Muhammad al-Maturidy, Washil bin Atha’, Ali Muhyammad dan lain sebagainya. Dalam bidang Tasawua lahir ulama seperti Abu Mansyur al-hallaj, Abu Hamid
Muhammad al-Ghazali, Zunnun al-Mishiri. Dalam bidang Filsaaat terdapat ulama seperti Ya’kub bin Ishak al-Kindi, Abu bakar ar-razi, Abu Nasr Muhammad al-Farabi, Ibnu Rusyd, Abu ali al-Husein bin Abdullah Ibnu Sina yang sekaligus juga dikenal sebagai pakar ilmu kedokteran.
Kejayaan dunia Islam sebagaimana digambarkan diatas merupakan keadaan yang sangat bertolak belakang dengan keadaan dunia Nasrani Barat yang tengah tenggelam dalam melawan kegelapan zaman (the darkness age). Pada saat para cendekiawan Muslim menekuni berbagai ilmu pengetahuan diberbagai
perpustakaan besar yang tersebar di seluruh wilayah ‘alam islamy,maka pada waktu yang bersamaan keluarga besar raja-raja Eropa baru belajar menuliskan nama-nama mereka dengan cara mengeja.
Seiring perjalanan waktu, masa-masa kejayaan Islam yang telah berjalan beberapa abad lamanya, yang pengaruhnya telah merebak dan merambah ke berbagai belahan dunia non muslim akhirnya mengalami kemunduran dengan berbagai macam aaktor penyebabnya. Sejak abad XI M berbagai gejala krisis didunia Islam mulai nampak terlihat, baik yang disebabkan oleh aaktor internal sendiri maupun aaktor eksternal. Diantaranya berbagai aaktor penyebab krisis didunia Islam tersebut antara lain adalah:
a. Krisis dalam Bidang Keagamaan
Krisis ini berpangkal dari suatu pendirian sebagai ulama jumud (konservatia) bahwa pintu itjihad telah tertutup. Dengan adanya pendirian tersebut
mengakibatkan lahirnya sikap memutlakan semua pendapat imam-imam mujtahid, seperti imam Malik, imam Abu Haniaah, iman Syaf’i, Imam Ahmad bin Hambal dan imam-imam lainnya. Padahal pada hakekatnya imam-imam tersebut adalah
Perhatikakanlah aatwa-aatwa para imam berikut ini: Fatwa imam Abu Haniaah:
Bahwasanya imam Abu Haniaah pernah ditanya “apabila engkau menyatakan suatu pernyataan, padahal kitab Allah (al-Quran) menyalahkannya,
bagaimanakah sikap anda?, beliau menjawab “tinggalkanlah fatwaku dan ikutilah al-quran”.
Ditanyakan pula; bagaimanakah kalau hadist Rasulullah menyalahkannya juga? Beliau menjawab “tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah perkataan rasulullah” selanjutnya beliau beraatwa “haram bagi siapapun yang belum mengetahui dalil (alasan) fatwaku, untuk menfatwakan pendapat-pendapatku’’.
Fatwa imam Malik bin Anas:
“Sesungguhnya aku ini tidak lain melainkan manusia belaka yang boleh jadi aku salah dan boleh jadi aku benar. Oleh karena itu hendaklah kalian perhatikan pendapat-pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan kitab Allah dan sunah Rasul maka ambillah dan tiap-tiap pendapatku yang tidak sesuai dengan kitab Alah dan sunah Rasul maka tinggalkanlah”.
Fatwa imam Syaf’i:
“Apapun yang telah aku katakan, padahal Nabi saw telah mengatakan sesuatu yang menyalahi pendapatku, maka apa yang telah sah dari hadis Nabi itu lebih utama, dan janganlah kalian taqlid kepadaku”
“Apabila kalian temukan didalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasululloh saw. Maka hendaklah kalian mengikuti sunah dan tinggalkanlah pendapatku”.
Fatwa Imam Ahmad bin Hanbal:
“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula kepada imam Malik, kepada al-Auza’I, jangan pula bertaqlid kepada al-Tsaury dan jangan pula kepada imam-imam lainnya, akan tetapi ambillah hukum-hukum dari mana mereka
mengambil…”
muslim yang kritis , yang siap menghadapi berbagai macam tantangan dan perubahan zaman. Ketimpangan dunia Pendidikan Islam seperti itu akhirnya hanya sekedar dapat menghasilkan pemikir-pemikir kerdil yang berwawasan sempit, yang hanya pandai menaatwakan pendapat-pendapat ulama tanpa berusaha lebih jauh untuk memahami alasan dan dalil manakah yang digunakan sebagai acuan pengambilan hokum tersebut. Mereka dengan gencarnya
menganjurkan kepada umat untuk bersikap taklid kepada imam-imam mazhab, suatu anjuran yang secara terang-terangan bertabrakan dan bertentangan dengan jiwa dan semangat al-quran. Telah diakui oleh siapapun bahwa didalam al-quran diketemukan banyak sekali ayat-ayat yang merangsang manusia untuk mengembangkan daya nalarnya seoptimal mungkin dan bersamaan dengan hal itu al-quranul karim sangat mencela sikap taklid. Dalam al-quran kedua hal tersebut ditegaskan secara eksplisit seperti antara lain ; surat Ali-Imran; 189-191, al-Ghasiyah 17-26, ar-Rahman; 33 dan al-Isra;36.
b. Krisis dalam Bidang Sosial Politik
Faktor yang terbesar dan yang paling utama, yang menjadikan sebab-sebab kemunduran dunia Islam adalah hilangnya ruh semangat jihad, sirnanya api Islam dari dada kaum muslim8n, khususnya dikalangan para penguasa hingga lahirlah berbagai laku yang sangat di cela oleh kalangan islam, semacam
penyelewengan, penyalahgunaan wewenang dan sebagainya. Rasa permusuhan antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain semakin memuncak, yang semua itu muncul karena ingin memperebutkan kepemimpinan Islam. Lalu
menjilag ke atas dan menginjak yang ada dibawah telah mulai mentradisi dikalangan mereka. Ayat-ayat al-quran dusahakan sejauh mungkin untuk ditaasirkan sekedar untuk membenarkan laku para penguasa yang terang-terangan telah jauh menyimpang dari ajaran Islam. Etika politik islam telah diinjak-injak, hingga tidak segan-segan mereka menyebarkan ftnah, insinuasi dan sebagainya demi tercapainya ambisi politik mereka. Watak demokrasi yang dipancarkan oleh ajaran islam telah bertukar menjadi absolutisme dan
depotisme yang sewenang-wenang ditangan kekuasaan mereka.
Watak demokrasi dalam Islam sebenarnya telah tergambar dari sikap Abu Bakar as-Shidiq ra. Ketika ia diangkat menjadi khaliaah yang pertama telah sirna dari tengah-tengah masyarakat Islam. Sikap demokrasi Abu Bakar tergambar dari ucapannya, “hai bangsaku, kalian telah memilih aku menjadi khlaiaahmu. Aku bukan orang terbaik di antara kalian. Bantulah, selama tindakanku benar. Jika terjadi sebaliknya, nasehatilah aku, ingatlah daku pada kewajibanku. Hanya kebenaranlah yang kita inginkan dan terkutuklah kebohongan, Karena aku
pelindung kaum yang lemah, patuhilah aku selama aku mematuhi syariat, tetapi bila kalian melihat aku menyimpang, sekalipun dalam hal-hal yang
sekecil-kecilnya tidak perlu lagi kalian mematuhi aku”.
Hakikatnya Islam yang mengajarkan demokratis ini tidak hanya sekedar
demokratis pada pokoknya dan pada prinsipnya musuh bagi absolutism”. Juga dikemukakan oleh Dan Vambrey, “bukanlah Islam dan ajarannya yang telah merusak bagian Barat Asia dan membawanya kepada keadaan yang
menyedihkan sekarang, tetapi amir-amir kaum muslimin yang memegang
kendali pemerintah yang telah menyeleweng dari jalan yang benar. Mereka telah menyeleweng dari ajaran Nabi Muhammad saw. Pembawa risalah Islam dan dari jalan khulaaaurrasyidin. Mereka menggunakan pentakwilan ayat-ayat al-quran sesuai dengan maksud-maksud despotis mereka.
Islam tidak dapat dipersalahkan dan bertanggung jawab atas stagnasi yang telah lama dan dekadensi yang nyata dalam dunia islam. Keburukan-keburukan yang ada sekarang harus dinisbatkan kepada orang-orang islam sendiri yang tak dapat hidup menurut ajaran agama mereka. Jika mereka kehilangan
kemakmuran material yang mereka miliki dahulu, hal itu adalah karena mereka tidak mengindahkan “separuh dari hukum Tuhan”. Untuk menghilangkan cadar yang menutupi dunia islam, kita perlu menegaskan bahwa wahyu al-quran itu bersiaat rasional secara sempurna dan bahwa ajaran Nabi mengandung
kemungkinan-kemungkinan yang tak terhingga. Ketika kaum mukminin hidup menurut ajaran agama yang mendorong untuk berfkir dan memiliki akal yang kritis, Islam Nampak sebagai obor kemajuan.
Dunia Islam belahan Barat yang dibangun untuk pertama kalinya oleh Abdurrahman ad-Dakhil dari bangsa Umayah ketika tahun 757 M dengan
Cordova, Spanyol sebagai pusat pemerintahannya, dengan bermodal semangat jihad fii sabilillah setapak demi setapak mengalami kemajuan dan akhirnya menjadi pusat ilmu pengetahuan terkenal di seluruh Eropa serta tidak kalah kemajuannya disbandingkan dengan dunia Islam dibagian Timur yang berpusat di Bagdad. Di Spanyol banyak didirikan perguruan tinggi, perpustakaan dan bangunan yang megah, seperti istana Alhamra di Granada, masjid Cordova dan sebagainya. Kemegahan dan kejayaan.