Pabrik Susu Kental
Manis
Kelompok 2: Anatta W.B Angga D.W Anindya A. Anny Aprilia R.
Pengolahan
Pabrik SCM
Semua bahan yang digunakan dalam proses produksi dan menjadi bagian penyusun produk
Serealia
Vitamin & (Butter
Milk
Susu segar diubah menjadi kristal/bubuk dengan proses spray drying
MSK = Milche Skeme Kowsmilche (Skim Milk Powder)
Bahan baku pembuatan produk susu rekombinasi
Dibuat dari skim liquid dengan skim liquid (tanpa lemak) dipisah dari cream (kaya lemak) dengan menggunakan centripetal force dalam rotating vessel
Metode Pembuatan: skim milk Îpreheating Î
pasteurization ÎevaporationÎspray drying
Mudah mengalami pengerasan dan pencoklatan (browning) karena reaksi antara gula reduksi dan asam amino
Merupakan by-product dari pembuatan butter
Proses pembuatan: Buttermilk grainÎrewettingÎ
pasteurizationÎhomogenizationÎdrying with spray dryerÎ
BMP
Buttermilk grain didapat dari hasil pemisahan cream CreamÎbutter
ÔbuttermilkÎBMP
Klasifikasi: ¾sweet buttermilk powder: dari unrippen cream
¾acid buttermilk powder: dari rippened cream Yang digunakan dalam produksi susu hanya sweet buttermilk powder
Merupakan bagian cair susu yang tersisa setelah pemisahan curd (produk antara dalam pembuatan keju dari susu segar)
Proses pembuatan: Whey liquid (dari proses pembuatan keju)ÎevaporasiÎflash coolingÎcrystallizationÎspray dryingÎ
conveyingÎafter dryingÎwhey powder (SWP)
Diproses dari konsentrat whey dengan menggunakan unltrafiltrasi yang memisahkan/ menyaring pratikel berdasar perbedaan berat
Hasil saringan dikristalisasi lalu dipisahkan dengan pelarutnya dan dikeringkan sebagai bubuk laktosa
Lakstosa digunakan untuk proses kristalisasi agar dihasilkan susu dengan tekstur yang halus dan tidak
sandy
Diproses dari konsentrat whey liquid yang di-spray drying
Perbedaan DWP4 dengan SWP hanya
terletak pada konsentrat wheynya.
Digunakan khusus untuk susu formula bayi, dimana nutrisi dan komposisi mineralnya dapat distandarisasi dengan ASI.
Gula yang digunakan adalah white refined sugar
Terdiri dari minyak nabati: palm oil, corn oil, coconut oil, dan minyak nabati seperti butter oil.
Proses produksi butter oil: butterÎsoftenedÎ
heatingÎseparationÎdrying under vacuumÎ
butter oil
Mudah mengalami ketengikan karena oksidasi. Oleh karena itu drum oil diberi inert gas untuk mencegah oksidasi
Vitamin dan trace element (Fe, Cu, Zn) dicampur dengan maltodextrin sebagai carrier
Vitamin yang digunakan: A, B1, B3, B12, C, D3, E, F, K
• Tipping • Weighing • Dissolving • Penyaringan 1 • Emulsifikasi • Homogenisasi • Pasteurisasi • Evaporasi • Penyaringan 2 • Cooling • Kristalisasi
• Proses pemasukan
bahan mentah powder untuk dialirkan ke tempat penampungan / silo
• Bahan yang dipakai
:
gula, MSK, SWP, SBMP
• Alat-alat yang
dipakai
• Proses penimbangan bahan mentah sesuai komposisi standar
• Satu kali penimbangan untuk satubatch produksi
Proses Pembuatan Larutan
DSugar Dissolving
1. Gula dilarutkan dalam air yang telah dipanaskan dengan bantuan steam pada suhu 800C
2. Keseluruhan prosessugar dissolving djaga pada suhu tersebut
D MS Dissolving
1. MSK,SBMP,SWP dicampur dengan air pada MS Dissolving Tank, lalu ditambah vitamin B1 2. Suhu tangki dipertahankan
pada suhu kamar
• Sirup gula dan larutan
MS dilewatkan pada
rotary filter dengan
saringan berdiameter
lubang 0.8 mm
• Lalu sirup gula
ditampung dalam
Sugar Syrup Tank,
sementara larutan MS
pada hydration tank
• Proses pembentukan emulsi susu yang stabil dengan total solid 61-63% menggunakan alat pemecah globula lemak • Sebelumnya telah ditmbahkan
lemak yang dicampur dengan vitamin A dan D3
• Hasil emulsifikasi dialirkan ke equalization tank sambil diaduk • Ukuran globula lemak dari
proses ini belum seragam sehingga masih memerlukan proses homogenisasi
• Proses yang bertujuan untuk menghindari terbentuknya lapisan cream bila susu didiamkan yang disebabkan ketidakseragaman ukuran partikel globula lemak • Prinsip kerja alat dengan
mlewatkan emulsi pada celah sempit dengan kecepatan tinggi dan tekanan besar sehingga globula menumbuk katup homogenizer yang b kib t l b l l k k
• Proses ini dilakukan
dalam temperatur
tinggi (85-89
0C)
menggunakan Plate
Heat Exchanger
• Air susu yang telah
• Proses ini
dimaksudkan untuk mengentalkan susu dengan meningkatkan total solid menjadi 70-72% dengan
menguapkan air yang terdapat pada bahan • Proses terjadi pada
kondisi vakum dan suhu rendah
SKEMA EVAPORASI
Susu kental manis yang dihasilkan disaring dengan menggunakan rotary filter dengan
mekanisme kerja yang sama dengan proses penyaringan 1
• Susu kental manis didinginkan hingga suhu 250C secara
counter current pada cooler dengan memakai air sebagai media pendingin
• Tujuan pendinginan:
1. Menghambat pertumbuhan mikroba
2. Mencegah autooksidasi 3. Mendapatkan suhu yang tepat
untuk proses kristalisasi
• Proses untuk membentuk kristal halus laktosa dengan
penyebaran kristal berukuran ±1μm
• Kristal tersebut akan memacu laktosa dalam SCM untuk membentuk kristal yang pertumbuhannya mengikuti ukuran kristal laktosa yang disebarkan,sukrosa juga akan mengkristal menyelubungi kristal laktosa
Pengendalian mutu dilakukan oleh Quality
Assurance. Proses analisa mutu meliputi:
• Analisa Bahan Baku ( Raw Material )
• Bahan Pengemas ( Packing Material )
• Line Material ( Analisa sampling produk
selama masih di line produksi )
• Finished Goods ( Produk Jadi )
• Keeping Quality
• Sampel masuk ke bagian Sampel
Receiving di Lab QA
• Sampel ditimbang berdasarkan kebutuhan
untuk uji kimia dan fisik, salmonella &
bacto (mikrobiologi), maupun organoleptik
• Untuk raw material seperti MSK, SWP, BMP, Gula, Butter Oil, Laktosa, Vitamin, sebelum digunakan dalam proses produksi harus dilakukan analisa chemical properties, physical properties, dan mikrobiologis.
• Untuk raw material berupa susu segar, sebelum di-loading dari truk susu pada Fresh Milk Receiver dilakukan sampling untuk menguji antibiotik dengan metode Betastar.
• Untuk packing material seperti alumunium
foil dan karton box langsung dilakukan
sampling.
• Untuk kemasan kaleng, diperiksa tampilan
luar apakah sempurna atau cacat.
• Untuk finished goods, baik susu bubuk
maupun susu kental manis, dilakukan uji
fisik dan kimiawi, mikrobiologi, dan
organoleptis.
• Uji chemical dan physical properties
dilakukan di General Lab QA
• Uji Organoleptis bertempat di Lab
Organoleptis.
1. Uji Kadar Lemak 2. Uji Protein 3. Uji Kadar Gula 4. Uji Kadar Laktosa 5. Analisa Moisture
(Kadar Air ) 6. Dirt Test (Uji
Kandungan Pengotor) 7. Uji Kelarutan
(Solubility)
8. Uji State of Dissolution (SOD)
9. Uji Viskositas
10. Peroxide Value 11. Uji Kandungan Oksigen 12. Periode Induksi PV 13. PH
14. Penentuan Kandungan Vitamin C
15. Uji Total Solid 16. Penentuan Kandungan
Zat Besi 17. Pengujian Derajat
Homogenisasi dan Sedimentasi
• Uji kadar lemak dilakukan untuk raw
material seperti MSK, SWP, BMP, bubuk
coklat, dan DWP4.
• Pengujian kadar lemak menggunakan
metode Mojonnier.
• Penentuan kadar protein dilakukan
dengan metode Lowry.
• Menggunakan kalorimeter dan
spektrofotometer sebagai alat utamanya.
• Kadar Gula /
Sukrosa diketahui
dengan metode
polarimetri.
• Menggunakan
alat polarimeter.
• Perhitungan :
% sukrosa =
angle x 7.52%
Uji Kadar Laktosa
• Sampel Laktosa diuji dengan metode polarimetri.
Analisa Moisture
• Dilakukan dengan metode oven
• Untuk sampel berupa butter oil, corn oil, dan palm oil, kadar air ditentukan dengan metode Karl Fischer.
Dirt Test (Uji Kandungan
Pengotor
)
• Ditujukan untuk melihat banyaknya kotoran yang terdapat dalam bahan, biasanya berupa burn particle.
Uji Kelarutan (Solubility)
• Dilakukan untuk mengetahui daya kelarutan dariUji State of Dissolution (SOD)
• Menggunakan prinsip pelarutan sample
bubuk dengan aquadest, dan kedalamnya dicelupkan kaca obyek.
Uji Viskositas
• Khusus dilakukan pada produk susu kental manis.
• Dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan SCM.
• Menggunakan STV Viscotester, Viscometer Brookfield, maupun Viscometer VT-500.
Peroxide Value
• Peroxide value adalah miliequivalen
oksigen aktif yang terdapat dalam 1000 gr
sampel.
• Dilakukan untuk mengevaluasi tingkat
kesegaran suatu produk.
• Prinsipnya adalah dengan mengoksidasi
iodine oleh peroxidase dari sample, titrasi
iodine dengan menggunakan thiosulfate
standart.
• Perhitungan:
PV = (V-Vo) x N x 1000
m
V = volume Na
2S
2O
3untuk sampel
Vo= volume Na
2S
2O
3untuk blank sampel
N = normalitas Na
2S
2O
3m = gr sampel
• Untuk produk yang sudah dikemas dalam kemasan • Menggunakan
alat Servomex • Jika kandungan
oksigen
tinggi,memungki nkan tumbuhnya bakteri patogen dalam produk
• Untuk menguji Raw Material minyak • Menggunakan alat
Rancimax
• Prinsipnya dengan mengetahui waktu yang diperlukan sampai sampel menjadi rancid (tengik)
• Dilakukan dengan pH meter
• Dengan reflektometer rapid methode,
dengan reagen methaphosphoric acid +
akadiastase + paparin
• Reagen: metaphosphoric
acid+akadiastase+paparin
• Untuk mengetahui kadar padatan / jumlah padatan selain air yang terdapat khususnya dalam susu kental manis
• Alat yang digunakan adalah ATAGO PR-301 dengan prinsip reflektometer
Penentuan Kandungan Zat Besi
• Menggunakan test kit semikuantitatif dengan reagen HCl 6N, NaOH 10%
Pengujian Derajat Homogenisasi dan
Sedimentasi
• Sampel diencerkan hingga kadar lemaknya 3,5% lalu disentrifugasi. Derajat homogenisasi dihitung secara gravimetri dari endapan setelah sentrifugasi
Pengujian Mikrobiologis
TPC
(Total Plate Count) Coliform Salmonella
• Indikator jumlah mikrobiologis dalam produk
• Hasil dari uji dinyatakan dalam sekian ribu bakteri per gram sampel
• Indikator bakteri patogen dalam produk, dalam hal ini adalah bakteri E. Coli yang menyebabkan infeksi saluran pencernaan
• Proses: inkubasi
Ð
konfirmasi uji pendugaan
Ð
• indikator bakteri salmonella
• Indikator higienitas produk
Mekanisme pengujian keeping quality
Pisahkan sampel
Ð
Bawa sampel ke QA
Ð
Beri label pada sampel
Ð
Inkubasi pada suhu tertentu
Ð
Keluarkan sampel
Ð
Analisa kandungan O2
Ð
Lakukan uji sensori/ organoleptis
Ð
Masukkan hasilnya ke dalam KQT card
Ð
Rekap dalam data komputer
Limbah Industri
Limbah Padat Limbah Gas Limbah Cair
Sumber:
¾Produk sisa analisa dari laboratorium
¾Limbah kertas dari kantor
¾Kardus, plastik, aluminium foil
¾Copper wire sisa pembuatan kaleng susu kental manis
¾Karton pengemas
¾Potongan tin plate
¾Karung gula
¾Tissue kayu
¾dll
Pengolahan:
¾Produk sisa analisa yang tidak dapat di-rework dijual ke KUD
¾Kertas,kardus, plastik, aluminium foil, karton, karung gula dan powder bag, potongan tin plate dijual kembali
¾Tissue, sampah dapur, kayu, sebagian dibakar sebagian diangkut oleh dinas kebersihan
Limbah gas berupa steam yang dihasilkan oleh evaporator, pengering, dll.
Sumber:
¾Proses produksi
¾Limbah rumah tanggaÎ Housing compound (perumahan karyawan)
ÎSocial block (toilet, kantin, laundry)
Egron 1&2
Housing Compound
Social
Block Lab QA SCM Plant Pumping Feed Pretreatment with Fat Separator
Balancing Tank
Aeration Tank
Clarifier
Collecting Pit
Biocontrol Pond
Irrigation/River
Sludge Recirculation Pit
Sludge Thickening Silo
Drying Beds
Excess Sludge Muddy Water
Sludge Dumping Area Thickening Sludge
Ð Housing Compound, serta Social Block sebelum diolah diberikan pretreatment dengan Fat Separator. Separator ini mengendapkan fat, oil, dan zat-zat berdasarkan perbedaan berat jenis.
Limbah disaring dengan screen filter berukuran 1x1 cm untuk menyaring sisa scum (limbah melayang) yang mungkin terbawa
Untuk menetralkan pH (6-7)
Diaduk dengan floating aerator untuk menyediakan oksigen dalam jumlah besar
Lemak akan membentuk sludge (lumpur)
Limbah dipompa dengan feed pump berada di dasar tangki
Terdapat Feeding Gate yang mengontrol aliran dari balancing tank ke aeration tank
Limbah diolah secara aerobik dengan penambahan activated sludge
Tangki dilengkapi dengan fixed turbin sebagai aerator
Berbentuk lingkaran dengan tipe center feed
Mengendapkan limbah yang berasal dari aeration tank
Effluent yang keluar dialirkan ke controlling pit. Sebagian air dimasukkan ke dalam biocontrol pond yang berisi ikan.
Untuk mengetahui bahwa air hasil olahan limbah sudah layak dibuang ke sungai.
Digunakan ikan mujair dan ikan nila yang sensitif terhadap pencemaran air.
Sludge (lumpur dan bakteri) dari clarifier ditarik ke sludge recirculation pit, sebagian dipompa ke aeration tank (regenarasi sludge) untuk diolah kembali
Lumpur yang melampaui detention time dialirkan ke sludge thickening silo dimana air dipisah dengan lumpur oleh agitator.
Lumpur pekat keluar dari silo lalu dikeringkan oleh drying beds, atau dibuang ke sludge dumping area.