• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU PENERAPAN P (23)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU PENERAPAN P (23)"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU

PENERAPAN PRINSIP PROPORSIONALITAS TERHADAP PENGGUNAAN PESAWAT TANPA AWAK DALAM KONFLIK BERSENJATA1

Oleh: Wahyu Ningtias2

RINGKASAN

Hukum humaniter internasional telah mengalami berbagi perkembangan, salah satunya adalah perubahan karakter, peran, serta fungsi subjek hukumnya. Sehingga perubahan tersebut berdampak dalam pola-pola hubungan antarnegara, khususnya terkait mekanisme penyelesaian sengketa. Saat ini, penggunaan kekerasan bersenjata dalam penyelesaian sengketa telah menjadi metode baru yang didorong oleh kemajuan teknologi. Dalam hal ini, kemajuan teknologi telah merubah perilaku dan sarana perang serta membawa dimensi-dimensi hukum yang baru dalam konflik bersenjata.

Perkembangan teknologi telah mendorong negara-negara dalam memodernisasi peralatan perang, seperti dengan terciptanya pesawat tanpa awak. Terdapat banyak asumsi terhadap penggunaan pesawat tanpa awak dalam konflik bersenjata, dimana keberadaan teknologi ini dapat mengurangi keterlibatan pihak militer secara langsung dimedan perang. Tetapi disisi lain, pesawat tanpa awak tidak memiliki akurasi yang cukup jika digunakan pada zona konflik karena melihat bahwa teknologi ini telah menyebabkan banyaknya korban khususnya penduduk sipil.

Pesawat tanpa awak harus digunakan secara proporsional dalam konflik bersenjata. Prinsip proporsionalitas wajib diterapkan untuk menghindari korban dari pihak sipil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam prinsip ini harus terdapat keseimbangan antara prinsip kepentingan militer, prinsip kemausiaan, dan prinsip kesatriaan. Dengan demikian, dalam mencapai keberhasilan perang, negara dilarang untuk menjadikan penduduk sipil sebagai target atau tameng dalam permusuhan.

Terdapat beberapa ukuran atau batasan dalam menggunakan pesawat tanpa awak secara proporsionalitas, antara lain:

1. Penduduk sipil harus mendapatkan prioritas utama dalam perlindungan. Penduduk sipil mendapatkan perlindungan secara penuh dalam aturan hukum humaniter kecuali mereka ikut terlibat dalam pertikaian bersenjata. Jika secara nyata penggunaannya

1 Heriyanto, Dodik S.N., “Penerapan Prinsip Proporsionalitas terhadap Penggunaan Pesawat Tanpa Awak dalam Konflik Bersenjata”, dalam Denny Ramdhani, et. al, Konteks dan Perspektif Politik Terkait Hukum Humaniter Internasional Kontemporer, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2015, hlm.211-224.

(2)

dilakukan untuk menyerang kelompok sipil, maka sanksi dapat diterapkan bagi pihak-pihak yang melanggarnya.

2. Penggunaannya harus dilakukan dengan kendali langsung manusia. Orang yang mengendalikan pesawat tanpa awak perlu dibekali beberapa hal penting seperti: (1) Standar Operasional Prosedur pengendalian pesawat tanpa awak; (2) Kemampuan untuk berkeputusan cepat dengan mempertimbangkan prinsip kemanusiaan dan prinsip tujuan militer; (3) Etika dalam berperang. Umumnya, pesawat tanpa awak dibekali dengan kamera dengan resolusi tinggi dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan satelit, sehingga sebelum upaya penyerangan dilakukan, sistem dalam pesawat akan mengolah informasi di lapangan untuk diberikan kepada si pengendali.

3. Penggunaannya tidak boleh bertentangan hukum humaniter. Penggunaan pesawat tanpa awak tidak boleh bertentangan dengan tujuan dasar hukum humaniter, yaitu:

a. Memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu.

b. Menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus dilindungi dan dirawat serta berhak diperlakukan sebagai tawanan perang.

c. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Di sini, yang terpenting adalah asas perikemanusiaan.

Sejauh ini, Hukum Humaniter Internasional belum mengatur secara khusus terkait penggunaan pesawat tanpa awak dalam konflik bersenjata. Sehingga, pengembangan teknologi pesawat tanpa awak boleh saja dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum humaniter. Sehingga, keberadaan pesawat tanpa awak untuk mendukung kekuatan militer suatu negara diperbolehkan sebagaimana dijamin dalam Pasal 36 Protokol Tambahan I Tahun 1977 Konvensi Jenewa.

DAFTAR PUSTAKA

Heriyanto, Dodik S.N., “Penerapan Prinsip Proporsionalitas terhadap Penggunaan Pesawat Tanpa Awak dalam Konflik Bersenjata”, dalam Denny Ramdhani, et. al, Konteks dan Perspektif Politik Terkait Hukum Humaniter Internasional Kontemporer,

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan tersebut ditandai dengan perubahan karakter hukum internasionalyang bersasis pada kedaulatan negara secara ketat dan kaku ke arah pola hubungan antar negara yang cair

Ketentuan tersebut terdapat pada amanat Pasal 36 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa tentang Perlindungan Korban-korban Pertikaian-Pertikaian Bersenjata

Hal tersebut diatur dalam Pasal 36 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa tentang Perlindungan Korban-Korban Pertikaian-Pertikaian Bersenjata Internasional Tahun 1997 yang

Pada pasal 36 protokol tambahan 1 konvensi jenewa tentang perlindungan korban-korban pertikaian bersenjata internasional tahun 1977 yang apa bila disimpulkan

2Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia dengan Nomor Induk Mahasiswa: 16323043.. dari hukum internasional

Dengan adanya hal-hal tersebut, diharapkan kedepannya korban jiwa dan/atau terluka dari penduduk sipil tidak terjadi kembali, sekaligus tidak mencederai amanat dari hukum

Hal tersebut dilakukan demi menghindari jatuhnya korban yang berlebihan dan dalam membangan teknologi persenjataan setiap Negara tetap harus memperhatikan kewajibannya

Namun berbeda dengan perkara insidential yang terjadi terhadap masyarakat sipil maupun objek-objek yang dilarang dalam HHI ketika konflik bersenjata berlangsung tidak