• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDONESIA DARURAT KEBAKARAN HUTAN DAN DA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INDONESIA DARURAT KEBAKARAN HUTAN DAN DA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

INDONESIA DARURAT KEBAKARAN HUTAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEMBANGUNA BERKELANJUTAN

Muhammad Irdhi

Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta E-mail: [email protected]

Pengantar

Indonesia merupakan Negara yang pernah mengalami berbagai macam bencana seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, letusan gunung berapi, putting beliung dan pernah mengalami tsunami. Berdasarkan data kejadian bencana di Indonesia September 2014, bencana banjir dengan jumlah kejadian 5 kali, banjir dan tanah longsor 1 kali, gempa bumi 2 kali, kebakaran hutan dan lahan 12 kali, letusan gunung berapi 1 kali, putting beliung 17 kali dan tanah longsor 6 kali (BNPB, 2014).

Berdasarkan data tersebut pada bulan September 2014 bencana yang banyak terjadi adalah putting beliung, namun sampai saat ini bencana yang masih sering terjadi yaitu kebakaran hutan dan lahan. Akibat dari kebakaran hutan, kekayaan alam Indonesia pun rusak. Berdasarkan catatan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam World Wildlife Fund for Nature), dan berdasarkan statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015, luas daratan kawasan hutan adalah 120.773.441,71 Ha (BPS 2017). Semakin berkurangnya luas hutan Indonesia ini karena masih tingginya angka penebangan liar dan yang lebih parah lagi adalah banyaknya kasus kebakaran hutan dan lahan, padahal Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki luas hutan terbesar didunia dengan kekayaan berlimpah yang terkandung di dalamnya.

(2)

2

api tidak hanya dipermukaan gambut tetapi penyebaran kebakarannya juga di bawah lapisan tanah gambut yang susah diketahui penyebarannya. Taccomi mengatakan Indonesia pernah mengalami bencana lingkungan terburuk yaitu kebakaran hutan yang hebat pada tahun 1997-1998 yang menghabiskan biaya sekitar US$ 1,62 sampai 2,7 miliar dan pencemaran kabut asap sekitar US$ 674 sampai 799 juta dan emisi karbon sampai US$ 2,8 miliar (Fadillah dkk, 2017:215).

Di tahun 2014, dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) wilayan yang paling banyak mengalami kasus kebakaran adalah Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. Berikut adalah Rekapitulasi titik panas di Pulau Sumatra dan Kalimantan bulan September 2014.

Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana bulan September 2014

(3)

3

Kalimantan Barat 74 titik api, Kalimantan selatan 30 titik api, Kalimantan Tengah 313 titik api, Kalimantan Timur 138 titik api, dan Kalimantan Utara 36 titik api (Syukur, 2015).

Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah kabut asap yang luas sehingga mengurangi jarak pandang dan berpotensi terjadinya kecelakaan lalu lintas, transportasi udara juga terganggun, Dari segi kesehatan dapat menimbulkan sesak napas dan tidak sedikit masyarakat yang meninggal karena sesak napas dari udara yang terscemar tersebut dan yang paling memperihatinkan adalah rusak dan hilangnya ekositem hutan, jika sudah seperti ini butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaikinya.

Secara umum penyebab terjadinya kebakaran hutan karena faktor alami dan faktor manusia. Faktor alami biasanya terjadi karena faktor El-Nino yang menyebabkan kemarau berkepanjangan dan kekeringan, sedikit saja ada percikan api dapat menyebabkan kebakaran. Sedangkan faktor manusia karena banyaknya aktivitas pembukaan lahan baru menebang hutan secara besar-besaran dan membakar lahan menggunakan api untuk konversi lahan perkebunan sawit oleh pihak swasta karena murah dan mudah dilakukan. Dari berbagai kebakaran hutan yang selama ini terjadi, kebanyakan dilakukan dengan sengaja sehingga yang lebih tepat sebenarnya adalah pembakaran hutan, hanya 1% kebakaran hutan karena faktor alam dan 99% karena faktor manusia.

(4)

4

Indonesia Darurat Kebakaran Hutan dan Dampaknya Terhadap Pembanguna Berkelanjutan

Setiap pembangunan yang dilakukan pasti bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun disisi lain juga akan meningkatkan permintaan sumber daya alam (SDA). Oleh karena itu penggunaan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat baik untuk generasi saat ini dan generasi yang akan datang harus di imbangi dengan pelestarian lingkungan sehingga keberlanjutan sumber daya alam dapat dijaga. Dengan demikian Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Defelopment) merupakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dengan baik untuk saat ini tanpa harus merugikan generasi yang akan datang agar kehidupan tetap sejahtera dan kelestarian sumber daya alam serta fungsinya tetap terjaga, karena generasi yang akan datang juga punya hak untuk menikmati kekayaan alam.

Menurut Emil Salim, Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan menyerasikan sember daya alam dan manusia dalam pembangunan. Dengan demikian ketika keselarasan antara sumber daya alam dan sumber daya manusia dapat tercapai maka akan terciptanya keseimbangan (Jazuli, 2015:189).

Pembangunan yang dilakukan harus memperhatikan ekosistem sekitar agar tidak rusak, seperti pembangunan ekonomi yang berbasis sumber daya alam biasanya tidak memperhatikan aspek lingkungan. Karena pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakata maka harus memperhatikan juga kepentingan dan kebutuhan masyarakat tanpa harus melakukan pemborosan terhadap sumber daya yang ada. Namun itulah yang menjadi tantangan Indonesia saat ini dimana pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan masih kurang, lahan-lahan pertanian banyak yang dikonversi mejadi kawasan industri, luas hutan yang tiap tahunnya semakin berkurang akibat dari penebangan hutan secara liar dan kebakaran hutan serta udara yang tercemar akibat dari kebarakan hutan.

(5)

5

Nature). Seperti yang tertera pada Stistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2014 dibawah ini:

Sumber: Ali Said, dkk di Badan Pusat Statistik (BPS) 2016

Pada tahun 2013, penutupan lahan dalam kawasan hutan berdasarkan hasil penafsiran Citra Satelit Landsat 8 OLI ditafsir sebesar ± 98.072,7 juta ha (52,21

persen) untuk areal berhutan dan ± 89.768,9 juta ha (47,79 persen) untuk areal

tidak berhutan. Sementara tahun 2014, berdasarkan hasil penafsiran Citra Satelit

Landsat 7 ETM+ ditafsir sebesar ± 96.490,8 juta ha (51,35 persen) untuk areal

berhutan dan ± 91.427,5 juta ha (48,65 persen) untuk areal tidak berhutan (Said, dkk, 2016:216).

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa adanya penurunan luas area hutan dan peningkatan luas area tidak berhutan. Jika seperti ini terus berlanjut lalu bagaimana untuk pemanfaatan keberlanjutan ekosistem daratan serta pengelola hutan secara lestari yang secara keseluruhan ditargetkan pada tahun 2020 dan menjamin pelestarian ekosistem pegunungan, termasuk keanekaragaman hayatinya pada tahun 2030.

Salah satu yang menjadi masalahnya adalah masih maraknya bencana kebaran hutan. Di Indonesia, hampir setiap tahun terjadi dengan skala kecil maupun skala besar. Berdasarkan

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor

(6)

6

baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbukan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik.

Data tahun 2014 perbandingan luas lahan terbakar di 5 propinsi di indonesia tahun dapat dilihat sebagai berikut. Provinsi Riau mencapai lebih dari 6000 hektare. Provinsi Jawa Timur mencapai 5000 hektare, Provinsi Kalimantan Tangah mencapai 4000 hektare, Provinsi Jambi mencapai 3400 hektare, dan Provinsi Sumatera Utara mencapai 3200 hektare (Purnomo dkk, 2016:68).

Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2014, wilayah yang paling banyak mengalami kasus kebakaran adalah Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang juga dekat dengan Negara tetangga yaitu Malaisya, maka dari itu kebakaran hutan yang ada di Indonesia bukan hanya berdampak di wilayan Indonesia saja tapi berdampak juga secara global karena asap yang di timbulkan dari kebakaran hutan meluas sampai di wilayah Negara tetangga seperti Negara Malaisya dan Singapur, karena secara fisik, keberadaan sumber udara tidak mengenal batas administratif, sehingga kemungkinan terjadinya pencemaran lintas batas.

Salah satu Provinsi di Pulau Sumatera tiap tahun mengalami kebakaran hutan adalah Privinsi Jambi. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Jambi 2016, jumlah titik api di Provinsi Jambi tahun 2010-2015 adalah sebagai berikut:

Sumber: Suhendri, & Purnomo, E. P. 2017. Penguatan Kelembagaan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Journal of Governance and Public Policy, 4(1), 174-204.

(7)

7

2015 berdasarkan data yang telah paparkan sebelumnya dari 198 titik api di Pulau Sumatera, 82 titip api berada di Provinsi Riau. Secara keseluruhan dilihat dari titik api di Provinsi Riau, kabupaten dengan tingkat kebakaran yang tertinggi pada lima tahun terakhir adalah, pertama Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan yang bergatian menempati posisi teratas dengan jumlah titik api dikisaran 400-900 titik. Disusul Kabupaten Rokan Hili dengan kisaran 100-800 titik api, Kbupaten Indragiri Hulu 200-600 titik api dan Kabupaten Indragiri Hilir di kisaran 100-400 titik api (Purnomo dkk, 2016:69).

Sementra Kalau dilihat dari jumlah Kecamatan rawan kebakaran yang ditetapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD DAMKAR) sebagai daerah rawan kebakaran adalah Kabupaten bengkalis yaitu Kecamatan Siak Kecil, Kecamatan Bukit Batu dan Kecamatan Bantan. Kabupaten bengkalis menjadi rawan kebakaran kerana wilayahnya adalah lahan gambut yang sangat luas. Data dinas kehutanan propinsi riau, 75% lahan kabupaten bengkalis adalah lahan gambut (Purnomo dkk, 2016:73).

Sedangkan Provinsi Riau, luas lahan gambutnya mencapai 46,1 % dari keseluruhan luas wilayahnya dan ini yang menjadikan Provinsi Riau sebagai salah satu Provinsi yang sangat rawan kebakaran. Fakta menunjukkan bahwa sejak tahun 1997 sampai 2015 atau selama 17 tahun telah terjadi kebakaran hutan dan lahan yang bersifat tahunan dan menimbulkan banyak kerugian materil dan nonmaterial (Suwondo dkk, 2015:65) .

(8)

8

Sumber: Adinugroho, W, C., dkk. 2004. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Wetlands International: Bogor.

Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi, yang menjadi sorotan adalah perkebunan kelapa sawit karena sering dianggap sebagai penyebab kebakaran. Biasanya pembersihan lahan untuk dibuka lahan perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan tebang pohon secara besar-besaran dan biasanya juga lahan yang ada dibiarkan kering kemudian dibakar untuk membersihkan lahan karena murah dan mudah dilakukan, namun oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab setelah dibakar dan dibiarkan begitu saja tanpa di kontrol, sehingga terjadilah kebakaran.

Masalah lain yang timbul dari perkebunan kelapa sawit adalah jelas dari segi kualitasnya tidak sebaik pepohonan asli daerah tersebut yang telah ditebang sebelumnya. Pengelolaan perkebunan kelapa sawitpun mempengaruhi lahan gambut disekitarya, karena harus membuat saluran air untuk mengairi perkebunan kelapa sawit. Ketika saluran dibuat dilahan gambut atau sekitar lahan gambut akan mempengaruhi daya serap air oleh gambut karena didalam lahan gambut dapat menyimpah air yang banyak, apabila daya serap air berkurang akan berakibat cepat keringnya lahan gambut dan tidak ada air yang memadamkan api di dalam tanah. Pengalih fungsian lahan inilah yang banyak menyebabkan lahan hutan semakin berkuran dan berpotensi terjadi kebaran.

Marongo menyatakan, lebih dari 40% hutan tropis di Asia Tenggara dikonversi untuk produksi tanaman komersial (sekitar lima kali lebih besar dari hutan di Thailand atau Malaysia) berada di Indonesia. Misalnya di Pulau Sumatera sebagai tempat spesies langka yang sudah terancam habitatnya. 70% hilangnya hutan yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit sebagai pendorong utamanya (Rautner dkk, 2013:20).

(9)

9

Masyarakat yang benar-benar terkena dampaknya adalah masyarakat dikawasan tempat kebakaran, terlebih lagi masyarakat yang hidup di kaki gunung dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi dan ketergantungan terhadap hasil hutan relatif tinggi karena dari hasil hutanlah masyarakat di kaki gunung dapat memenuhi kehidupan sehari-hari terutama bagi masyarakat yang masih kental dengan tradisi dan budaya.

Jika seperti ini mereka tidak bisa apa-apa karena mata pencahariaan mereka telah hilang. Walaupun mungkin dari perusahaan kelapa sawit yang dekat dengan kehidupan mereka akan menjadikan masyarakat sekitar perkerja di perusahaan tersebut tapi itu tidaklah seberapa karena hanya sebagian kecil yang diambil sebagai pekerja sisanya mengalami nasib yang kurang baik.

Selain karena pembersihan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, yang menjadi penyeba kebakaran hutan adalah adanya kekecewaan masyarakat terhadap pengelolan hutan yang dilakukan oleh pemerintah. Pengelolaan hutan yang dilakukan tidak memberikan manfaat ekonomi yang berarti bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. oleh karena tindakan anarkispun dilakukan masyarakan untuk meluapkan kekecewaannya, tingkat pendidikan yang rendah dan minimnya pengetahuan mereka tentang hukum juga mempengaruhi tindakan mereka (Rasyid, 2014:49). Selain itu lahan yang dibiarkan begitu saja tanpa diurus bisa menimbulkan kebakaran, ketika musim panas semak belukar akan mudah terbakar entah dengan senagaja untuk membuka lahan baru atau secara tidak senagaja seperi terkena putung rokok yang masih menyala.

Untuk mengatasi permasalahan kebakaran hutan dan lahan serta untuk menjaga keberlanjutan ekologi, maka upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan baik pemerintah pusat mupun pemerintah daerah adalah melakukan pencegahan dan pengendalian dengan melakukan upaya-upaya sistematis untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, baik melalui pendidikan formal, maupun dengan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan pengetahuan personil pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. (Suherdi, Purnomo, 2017:77).

(10)

10

tantangan pembangunan tanpa merusak lingkungan dan menumbuhkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, (Jazuli, 2015:189).

Dengan semikian upaya yang paling penting untuk mengatasi permasalahan kebakaran hutan dan menjaga keberlanjutan ekologi adalah dengan melibatkan dan memberdayakan masyarakat sekita untuk mengelola dan melestarikan hutan atau dengan istilah Hutan Kemasyarakatan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 Tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan bahwa Hutan Kemasyarakatan merupakan hutan Negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Berdasarkan peraturan tersebut juga selain Hutan Kemasyarakatan ada juga yang disebut Hutan Tanaman Rakyat (HTR), yaitu hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian Sumberdaya hutan. Artinya masyarakatlah yang harus berperan penting dalam menjaga klesetarian hutan karena masyarakat asli di area kawasan hutan tersebut yang lebih paham tentang keadaan hutan. Osborne dan Gabler juga mensyaratkan adanya pengalihan kepemilikian dari Birokrasi kepada masyarakat karena sesungguhnya masyarakat paling tahu terhadap masalah dan kebutuhan mereka (Ramdani, 2016:123).

(11)

11

Sumber: Adinugroho, W, C., dkk. 2004. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Wetlands International: Bogor.

Yang pertama yaitu pemberian kesempatan kepada masyarakat lokal mengolah lahan di sekitar hutan, dengan demikian masyarakat akan ikut menjaga hutan dan lahan dari kebakaran, karena jika terjadi kebarakan maka lahan mereka juga akan ikut terbakar. Yang kedua dengan memberikan insentif kepada masyarakat dalam bentuk pengenbangan produk yang dihasilkan masyarakat seperti kerajinan, kompos dan lain-lain, serta pengembangan ekonomi yang ramah lingkungan seperti budidaya ikan dan sebagainya. Kemudian yang ketiga yaitu adanya rangsangan dan dorong untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan dan pengendalian kebakaran. Cara yang dilakukan melalui peningkatan kesadaran sejak dini, meningkatkan kesadaran masyarakat akan fungsi hutan dan lahan gambut serta upaya pencegahan atau mengurangi terjadinya sumber api di lahan gambut dan memberikan pemahanan tentang hukum dan kebijakan yang berlaku.

Selanjutnya yang keempat peningkatan kemampuan masyarakat melalui pelatihan dan penyuluhan seperti penyuluhan tentang teknik-teknik dalam penyiapan lahan agar tidak terjadi kebarakaran serta pelatihan tentang cara pengendalian kebakaran. Dan yang terakhir adalah bimbingan yang dilakukan oleh pikah-pihak terkait seperti badan penanggulangan bencana, dinas kehutanan untuk membentuk kesadaran masyarakat dan membantu masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan

Penutup

(12)

12

Hal ini tidak sejalan dengan tujuan dari pembangunan berkelanjutan yang salah satunya adalah ramah lingkungan dan salah satu pilar pembangunan berkelanjutan yaitu keberlanjutan lingkungan yaitu menjaga lingkungan supaya aman dan nyaman. Jika seperti ini terus, untuk pemanfaatan keberlanjutan ekosistem daratan serta pengelola hutan secara lestari yang secara keseluruhan ditargetkan pada tahun 2020 dan menjamin pelestarian ekosistem pegunungan, termasuk keanekaragaman hayatinya pada tahun 2030 tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, sedangkan pembukaan lahan baru untuk industri mensyaratkan untuk merusak lingkungan karena inilah yang sering terjadi, penebangan hutan secara besar-besaran, membersihkan lahan dengan cara membakar. Hal ini sering terjadi karena kebijakan pemerintah semarta-mata untuk pertumbuhan ekonomi saja, sehingga dengan alasan pertumbuhan ekonomi, lingkungan menjadi korbannya. Dari segi hukum juga yang biasanya terjadi adalah tumpul keatas, tajam kebawah. Ketika masyarakat biasa yang melakukan penebangan hutan dan sejenisnya langsung di hukum, sedangkan kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh perusahaan-perusahaan besar sangat susah disentuh oleh hukum.

(13)

13 Daftar Pustaka

Adinugroho, W, C., dkk. 2004. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Wetlands International: Bogor.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2014. Info Bencana: Informasi Kebencanaan Bulanan Teraktual. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Badan Pusat Statistik. 2017. Luas Kawasan dan Kawasan Konservasi Perairan Indonesia Menurut Provinsi Berdasarkan SK Menteri Kehutanan. (online), (https://www.bps.go.id/linktabelstatis/view/id/1716, diakses 14 Mei 2017).

Fadillah, N., Basuni, S., & Sunarminto, T. 2017. Pengendalian Kebakaran Hutan Oleh Masyarakat Peduli Api (MPA) di Taman Nasional Gunung Ciremai. Media Konservasi, 21(3), 216-224.

Jazuli, A. 2015. Dinamika Hukum Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Dalam Rangka Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal RechtsVinding, 4(2), 181-197.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 Tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Purnomo, E. P., dkk. 2016. Ekologi Pemerintahan: Tata Kelola Kelembagaan Birokrasi Dalam Menangani Kebakaran Hutan, Pengelolaan Sawit Serta Peranan Elit Lokal.

LP3M UMY: Yogyakarta.

Ramdani, R. 2016. Pendelegasian Kewenangan Dalam Pengelolaan Hutan: Studi Kasus Kelompok Tani Hutan (KTH) Kemasyarakatan Sedyo Makmur Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Administrasi Publik, 1(2), 188-131.

(14)

14

Rautner, M., Leggett, M., & Davis Frances. 2013. Buku Kecil Pendorong Besar Deforestasi. Global Canopy Programme: Oxford.

Said, A., dkk. 2016. Potret Awan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) di Indonesia. Badan Pusat Statistik.

Suhendri, & Purnomo, E. P. 2017. Penguatan Kelembagaan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Journal of Governance and Public Policy, 4(1), 174-204.

Suwondo, dkk. 2015. Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan: Penguatan Program Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Kahutla) Berbasis Masyarakat. Badan Penerbit Universitas Riau: Riau.

Syukur, M. 2015. BNPB: Kebakaran Hutan Sering Terjadi karena Hukum Lemah, (online), (m.liputan6.com/news/read/2307345/bnpb-kebakaran-hutan-sering-terjadi-karena-hukum-lemah, diakses 15 Mei 2017).

World Wildlife Fund for Nature. Kehutanan. (online),

(http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/forest_spesies/tentang_forest_spesie s/kehutanan/, diakses 14 Mei 2017).

Referensi

Dokumen terkait

Dikutip dari kepustakaan 6.. Disebabkan bagian ini berkembang paling akhir berbanding bagian bawah yang mulai berkembang sejak awal setelah implantasi, maka plak yang

Melakukan komunikasi yang intens dengan sejawat profesi kesehatan lain sehingga tercapai kesamaan persepsi sehingga akan mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan

[r]

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari tujuh faktor inti model UTAUT2 terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap penerimaan modul kepegawaian SIESTA yakni

‘Senandika’ memuat surat-surat anggota jaringan dan berita dari daerah, informasi baru dan perkembangan situasi AIDS, agenda kegiatan yang bisa diikuti, isu-isu hangat dan

disebabkan ketidakpahaman remaja terhadap berbagai aspek reproduksi yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Di daerah pedesaan masih menganggap bahwa membicarakan

Pengambilan sampel diutamakan pada serum darah dan darah (buffycoat) sapi Bali di daerah-daerah yang sedang terjadi wabah dicurigai karena Penyakit Jembrana,

Selain itu, kendala- kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengembangan Ancient Track One di Desa Wisata Bedulu dan Desa Buruan dengan melakukan evaluasi