Doktrin Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
1. Doktrin of Identification
Indentification theory juga salah satu teori atau doktrin yang digunakan sebagai pembenaran bagi pertanggungjawaban pidana kepada korporasi meskipun pada kenyataannya korporasi bukanlah sesuatu yang dapat berbuat sendiri.
Pertanggungjawaban korporasi secara pidana, di negara anglo saxon seperti di Inggris dikenal dengan konsep direct coporate criminal liability atau doktrin pertanggungjawaban pidana langsung.
Menurut doktrin ini, perusahaan dapat melakukan tindak pidana secara langsung melalui orang-orang yang sangat berhubungan erat dengan perusahaan dan dipandang sebagai perbuatan perusahaan (korporasi) itu sendiri. Keadaan demikian, perbuatan itu tidak dipandang sebagai pengganti sehingga pertanggungjawaban perusahaan (korporasi) tidak bersifat pertanggungjawaban pribadi;
Pemikiran doktrin identifikasi ini, berpendapat bahwa perusahaan itu merupakan kesatuan buatan, sehingga ia dapat bertindak melalui agennya.
Agen tersebut dipandang sebagai directing mind atau alter ego. Perbuatan individu yang dikaitkan dengan perusahaan yaitu bila seseorang (individu) diberi wewenang untuk bertindak atas nama dan selama menjalankan perusahaan, sehingga mens rea seseorang/individu merupakan mens rea dari perusahaan.
Michael Allen berpendapat Korporasi hanya bertanggungjawab dimana seseorang itu diidentifikasikan dengan perbuatan perusahaan, yang bertindak dalam ruang lingkup jabatannya; korporasi tidak bertanggungjawab jika perbuatan itu dilakukan dalam kapasitas pribadinya).
Peraturan perundang-undangan sekarang ini, telah mengakui bahwasanya perbuatan dan sikap bathin dari orang-orang tertentu yang berhubungan erat dengan korporasi di dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, dipandang sebagai perbuatan dan sikap bathin korporasi.
banyak hal dapat disamakan dengan tubuh manusia. Perusahaan (korporasi) memiliki otak dan pusat saraf yang mengendalikan apa yang dilakukannya. Memiliki tangan yang memegang alat dan bertindak sesuai dengan arahan dari pusat syaraf itu.
Beberapa orang dilingkungan perusahaan itu ada karyawan dan agen yang tidak lebih dari sebuah tangan di dalam melakukan sebuah pekerjaan; Sedangkan di pihak lain ada direktur dan manager yang mewakili sikap bathin yang mengarahkan dan mewakili kehendak perusahaan serta mengendalikan apa yang dilakukan Perusahaan (korporasi) memiliki otak dan pusat saraf yang mengendalikan apa yang dilakukannya. Tangan yang memegang alat dan bertindak sesuai dengan arahan dari pusat syaraf itu. Beberapa orang dilingkungan perusahaan itu ada karyawan dan agen yang tidak lebih dari sebuah tangan di dalam melakukan sebuah pekerjaan;
Sedangkan di pihak lain ada direktur dan manager yang mewakili sikap bathin yang mengarahkan dan mewakili kehendak perusahaan serta mengendalikan apa yang dilakukan
Directing mind dari korporasi biasanya adalah direktur dan manajer yang mewakili kehendak dan pikiran yang mampu menggerakkan perusahaan tersebut. Dengan status dan otoritas tertentu yang dimiliki oleh directing mind berdasarkan hukum maka akan dapat dianggap bahwa perbuatan tersebut dilakukan atas nama perusahaan. Dengan kata lain bukan nama jabatan ataupun
kedudukan sebagai pegawai yang mempengaruhi
pertanggungjawaban pidana, tetapi kewenangan dan kemampuan yang dimilikinya. Secara khusus siapa yang dapat dianggap sebagai kalbu dan tubuh dari perusahaan tersebut tergantung pads fakta masing-masing kasus.
Intinya adalah tidak semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh siapapun yang merupakan personel dari suatu korporasi dapat dipertanggungjawabkan kepada korporasi yang bersangkutan, hanya apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh personel korporasi yang memiliki suatu kewenangan untuk dapat bertindak sebagai directing mind dari korporasi tersebut.
Syarat-syarat untuk dapat menerapkan doktrin identifikasi dalam pertanggungjawaban pidana korporasi adalah:
1.Perbuatan yang dilakukan oleh directing mind dari korproasi tersebut harus termasuk dalam bidang kegiatan yang ditugaskan kepadanya.
3.Tindak pidana tersebut dimaksudkan untuk memperoleh manfaat bagi korporasi.
Manfaat yang diperoleh dari penggunaan doktrin ini adalah: Seseorang tidak dapat mengelak untuk bertanggungiawab dengan alasan geografi maksudnya ia terpisah dari lokasi di mana tindak pidana tersebut teradi. Misalnya atasan yang berada di kantor pusat menjadi directing mind dari perbuatan yang dilakukan oleh kepala cabang korporasi.
1. Sebuah korporasi tidak dapat mengelak untuk bertanggungjawab atas tindak pidana yang dilakukan oleh pegawainya, meskipun telah ada perintah kepada pegawai tersebut agar hanya melakukan perbuatan yang tidak melanggar hukum, akan tetapi pejabat dan direktur korporasi jugs memiliki kewajiban untuk memantau perbuatan-perbuatan dari para pegawai korporasi yang melanggar pedoman umum perusahaan yang melarang mereka melakukan tindak pidana.
2 .Directing mind dari korporasi tidak terbatas pada satu orang saja, pejabat dan direktur bisa dikenakan secara bersamaan.
3. Pejabat atau direktur korporasi yang merupakan directing mind dari suatu korporasi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana, apabila tindak pidana tersebut tidak disadarinya.
4. Penentuan pertanggungjawaban pidana, korporasi harus dilakukan kasus perkasus, maka harus dilakukan analisis konseptual meliputi menentukan kebijakan-kebijakan korporasi.
2. Doktrin Strict liability
Menurut doktrin atau ajaran strict liability, pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada pelaku tindak pidana yang bersangkutan dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan (kesengajaan atau kelalaian) pada pelakunya.
Alasannya, bahwa dalam perkara strict liability seseorang yang telah melakukan perbuatan terlarang (actus reus) sebagaimana yang ditentukan undang-undang dapat dipidana tanpa mempersoalkan pelaku mempunyai kesalahan (mens rea) atau tidak. Pendapat kedua, strict liability bukan merupakan absolute liability, artinya seseorang yang melakukan perbuatan terlarang belum tentu dipidana Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability), menurut hukum pidana Inggris hanya diberlakukan terhadap perkara pelanggaran ketertiban umum dan kesejahteraan umum yaitu: Pelanggaran terhadap tata tertib pengadilan. Pencemaran nama baik.
Mengganggu ketertiban masyarakat. Namun demikian, kebanyakan strict liability terdapat pada delik-delik yang diatur undang-undang (statutory offences ; regulatory offences ; mala prohibita) yang pada umumnya merupakan delik-delik kesejahteraan umum (public welafare offences). Termasuk regulatory offences, misalnya penjualan makanan dan minuman, obat-obatan yang membahayakan dan penggunaan gambar dagang yang menyesatkan.
Asas Strict liability, dalam konteks pertanggungjawaban pidana korporasi merupakan solusi atas penempatan korporasi sebagai subjek hukum pidana.
Menurut ajaran strict liability, pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada pelaku tindak pidana dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan (schuld) dari pelaku.
3. Doktrin Vicarious Liability
Doktrin vicarious liability ini, diartikan the pertanggungjawaban hukum seseorang atas perbuatan dan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain (The legal responsibility of one person for wrongful acts of another). Secara singkat vicarious liability sering diartikan sebagai pertanggungjawaban pengganti.
Vicarious liability, diartikan Henry Black sebagai inderect legal responsibility, the liability of an employer for the acts of employee, of a principle for torts and contracts of an agent. (Pertanggungjawaban hukum secara tidak langsung, pertanggungjawaban majikan atas tindakan dari karyawan, pertanggungjawaban prinsip atas tindakan agen dalam suatu kontrak).
yang melakukan suatu perbuatan melalui orang lain dianggap dia sendiri yang melakukan perbuatan itu dengan syarat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh orang lain itu adalah perbuatan dalam rangka tugas yang diberikan.
Dengan kata lain, pemberi kerja adalah penanggungjawab utama dari perbuatan buruh atau karyawan yang melakukan perbuatan itu dalam ruang lingkup tugas atau pekerjaannya.
Penerapan doktrin ini hanya dapat dilakukan setelah dapat dibuktikan bahwa terdapat hubungan subordinasi antara pemberi kerja (employer) dan orang yang melakukan tindak pidana tersebut.
Luasnya otonomi dari seorang pegawai profesional, perwakilan atau kuasa dari korporasi tersebut, memang dapat menimbulkan keraguan mengenai hubungan subordinasi, yaitu apakah hubungan itu merupakan hubungan yang cukup memadai untuk dapat mempertanggungjawabkan tindak pidana yang dilakukan oleh bawahannya kepada pemberi kerja. Menurut undang-undang (statute law) vicarous liability, dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut
Menurut undang-undang (statute law) di Inggris, vicarous liability, dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut: Seseorang dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana atas perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, apabila terdapat adanya pendelegasian (the delegation principle ).
Seorang majikan atau pemberi kerja dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan yang secara fisik dilakukan oleh pekerjanya apabila menurut hukum perbuatan dipandang sebagai perbuatan majikan. Perbedaan antara strict liability dan vicarious liability terletak pada ada tidaknya mens rea. Pada doktrin strict liability, mens rea tidak diperlukan untuk memidana seseorang yang telah melakukan perbuatan pidana;
Sedangkan dalam doktrin vicarious liability mens rea menjadi syarat utama yang harus dipenuhi untuk dapat memidana pelaku yang telah melakukan perbuatan pidana.
Doktrin vicarious liability ini juga ditemukan dalam Pasal 38 ayat (2) Rancangan KUHP 2006 yang berbunyi : “ Dalam hal ditentukan oleh Undang-undang, setiap orang dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain“.
Ketentuan ayat ini merupakan pengecualian dari asas tiada pidana tanpa kesalahan. Tanggung jawab seseorang dipandang patut diperluas sampai kepada tindakan bawahannya yang melakukan pekerjaan atau perbuatan dalam batas-batas perintah pimpinannya. Meskipun, seseorang dalam kenyataanya tidak melakukan tindak pidana akan tetapi dalam rangka pertanggungjawaban pidana dipandang mempunyai kesalahan jika perbuatan orang lain itu berada dalam kedudukannya yang sedemikian itu, merupakan tindak pidana.
Sehubungan hal diatas, dipertanggungjawabkannya korporasi atas doktrin stric liability dan vicarious liability sebagaimana tersebut diatas dalam perkembangannya kedua doktrin tersebut sangat diperlukan. Mengingat kemajuan ekonomi yang didasari pada peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, tidaklah mudah mendapatkan tentang kesalahan dari pemilik industri. Doktrin-doktrin tersebut di atas, menurut Barda Nawawi Arief perlu dipertimbangkan sejauhmana dapat diambil. Intinya, sejauhmana makna kesalahan atau pertanggungjawaban pidana harus diperluas dengan tetap mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat luas.
Dengan demikian, arah perkembangan pertanggungjawaban pidana yang dapat dibebankan kepada korporasi untuk yang akan datang sebagai kebijakan legislasi yang ideal.
4. Doctrine of Delegation
Doctrine of Delegation, merupakan salah satu dasar pembenaran untuk dapat membebankan pertanggungjawaban pidana yang dilakukan oleh pegawainya kepada korporasi. Menurut doktrin tersebut, alasan untuk dapat memberikan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi adalah adanya pendelegasian kewenangan dari seseorang kepada orang lain untuk melaksanakan kewenangan yang dimilikinya. Pendelegasian kewenangan dari seorang pemberi kerja (employer) kepada bawahannya merupakan alasan pembenar bagi dibebankannya pertanggungjawaban pidana kepada pemberi kerja tersebut atas perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya.
Doktrin aggregation adalah mengkombinasikan kesalahan dari sejumlah orang secara kolektif yang terikat kewenangan korporasi (struktur organisasi perusahaan), bertindak dan atas nama, kepentingan, manfaat korporasi untuk diatributkan kepada korporasi sehingga korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban. Menurut ajaran ini semua perbuatan dan unsur mental dari berbagai orang yang terkait secara relevan dalam lingkungan perusahaan dianggap seakan-akan dilakukan oleh satu orang saja. Kelemahan dari teori ini adalah: Tidak dapat digunakan ketika suatu tindak pidana memerlukan pembuktian mengenai adanya kesalahan subjektif dan mengabaikan realitas bahwa esensi riil dari suatu perbuatan yang salah mungkin saja bukan berupa penyatuan dari suatu perbuatan yang salah, atau bukan berupa penyatuan dari apa yang telah dilakukan oleh masing-masing orang, tetapi fakta bahwa suatu perusahaan tidak memiliki struktur organisasi atau tidak memiliki kebijakan untuk dapat mencegah seseorang dalam perusahaan itu melakukan perbuatan yang secara kumulatif merupakan suatu tindak pidana.
Keuntungan dari ajaran ini adalah:
Banyak kasus tidak mungkin untuk mengisolasi seseorang yang telah melakukan tindak pidana, dengan memiliki mens rea dalam melakukan tindak pidana itu, dari perusahaan tempat ia bekerja, maka ajaran ini mencegah perusahaan menyembunyikan dalam-dalam tanggungjawabnya dalam-dalam struktur korporasi.
6. The corporate culture model
Pendekatan model budaya kerja perusahaan memfokuskan pada kebijakan korporasi yang tersurat dan tersirat, yang mempengaruhi cara korporasi melakukan kegiatan usahanya. Pertanggungjawaban pidana korporasi dapat dibebankan kepada korporasi, apabila berhasil menemukan bahwa seseorang yang telah melakukan perbuatan melanggar hukum memiliki dasar yang rasional untuk meyakini bahwa anggota korporasi tersebut memiliki kewenangan, telah diberikan wewenang, atau mengizinkan dilakukannya tindak pidana tersebut untuk kepentingan korporasi, maka korporasi sebagai suatu keseluruhan adalah pihak yang harus juga bertanggungjawab karena telah dilakukannya perbuatan yang melanggar hukum dan bukan orang yang telah melakukan perbuatan itu saja yang harus bertanggungjawab.
Fisse dan Braithwaite menyatakan bahwa apabila actus reus dari suatu tindak pidana terbukti dilakukan oleh atau atas nama korporasi, maka pengadilan sepanjang telah dilengkapi dengan kewenangan berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk dapat mengeluarkan perintah yang bersangkutan, dapat meminta kepada perusahaan untuk: Melakukan penyelidikan sendiri mengenai siapa yang bertanggungjawab di dalam organisasi perusahaan itu. Untuk mengambil tindakan-tindakan disiplin terhadap mereka yang bertanggungjawab Mengirimkan laporan yang merinci apa saja tindakan yang telah diambil perusahaan. Apabila perusahaan memenuhi permintaan pengadilan dengan mengirimkan laporan dan di dalam laporan itu dimuat apa saja langkah-langkah yang telah diambil oleh perusahaan untuk mendisiplinkan mereka yang bertanggungjawab maka pertanggungjawaban pidana tidak akan dibebankan kepada korporasi yang bersangkutan.