• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PESANTREN dalam (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANAJEMEN KEPEMIMPINAN PESANTREN dalam (1)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan maupun lembaga keagamaan cukup menarik dicermati dari berbagai sisi. Terlebih saat muncul istilah-istilah era tinggal landas, modernitas, globalisasi, pasar bebas, dan lain sebagainya. Fokus perbincangan adalah bagaimana peran atau posisi pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan di tengah arus modernisasi atau globalisasi, apakah pesantren akan tetap teguh mempertahankan posisinya sebagai lembaga “tafaqquh fi al-din”yang bercorak tradisional atau pesantren ikut-ikutan melakukan proses “pemodernisasian” sistem, mulai dari perombakan kurikulum sampai pada manajemen pengelolaan.

Hal itu tentu tergantung dengan model manajemen dan kepemimpinan seorang Kyai yang diterapkan di sebuah pondok pesantren dalam merespons perubahan tersebut. Secara umum, dari segi kepemimpinan, pesantren masih terpola secara sentralistik dan hierarkis, terpusat pada seorang Kyai. Kyai sebagai salah satu unsur dominan dalam kehidupan sebuah pesantren. Ia mengatur irama pekembangan dan keberlangsungan kehidupan suatu pesantren dengan keahlian, kedalaman ilmu, karisma, dan keterampilannya. Tidak jarang sebuah pesantren tidak memiliki manajemen pendidikan yang rapi, sebab segala sesuatu terletak pada kebijaksanaan dan keputusan Kyai.1

Seorang Kyai dalam budaya pesantren memiliki berbagai macam peran, termasuk sebagai ulama, pendidik dan pengasuh, penghubung masyarakat, pemimpin, dan pengelola pesantren. Peran yang begitu kompleks tersebut menuntut Kyai untuk bisa memposisikan diri dalam berbagai situasi yang dijalani. Dengan demikian, dibutuhkan sosok Kyai yang mempunyai kemampuan, dedikasi, dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjalankan peran-peran tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH

1 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan

(2)

Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimana model kepemimpinan pesantren? 2. Bagaimana regenerasi dan kaderisasi di pesantren?

C. SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, dan sistematika penulisan.

Bab II Pembahasan, berisi tentang pengertian manajemen, pengertian kepemimpinan, kepemimpinan persfektif Islam, model kepemimpinan di pesantren dan regenerasi dan kaderisasi di pondok pesantren.

Bab III Penutup, berisi tentang kesimpulan untuk memberikan jawaban atas rumusan masalah mengenai manajemen kepemimpinan pesantren.

BAB II PEMBAHASAN

(3)

Mary Parker Follent mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri.

Manajemen memang bisa berarti itu, tetapi juga bisa mempunyai pengertian lebih daripada itu. Pengertian manajemen begitu luas, sehingga dalam kenyataannya tidak ada definisi yang digunakan secara konsiten oleh semua orang. Definisi yang lebih kompleks dan mencakup aspek-aspek pengelolaan seperti yang dikemukakan oleh Stoner sebagai berikut:

“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.”

Dari definisi diatas terlihat bahwa Stoner telah menggunakan kata proses bukan seni. Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan pribadi. Suatu proses adalah cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Manajemen didefinisikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa mempedulikan kecakapan atau keterampilan khusus mereka, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.

(4)

sendiri, tetapi menyelesaikan tugas-tugas esensial melalui orang-orang lain. Mereka juga tidak sekedar memberikan perintah, tetapi menciptakan iklim yang dapat membantu para bawahan melakukan pekerjaan secara paling baik. Pengawasan berarti para manajer berupaya untuk menjamin bahwa organisasi bergerak ke arah tujuan-tujuannya. Bila beberapa bagian organisasi ada pada jalur yang salah, manajer harus membetulkannya.2

B. Pengertian Kepemimpinan

Secara etimologis “pemimpin” dan “kepemimpinan” berasal dari kata “pimpin” (Inggris: to lead), maka konjungasi berubah menjadi “pemimpin” (leader) dan kepemimpinan (leadership). Kalimat kepemimpinan berasal dari kata “pemimpin “ mendapat awalan ke dan ahiran an yang mengandung kerja. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “pimpin” mengandung arti erat yang kaitannya dengan pengertian memelopori berjalan di muka, menuntun, membimbing, mendorong, mengambil langkah, prakarsa pertama, bergerak lebih awal, berbuat lebih dahulu, memberi contoh, menggerakan orang lain melalui pengaruh (Fajri Em dan Aprilia, 1980:645).3

Secara bahasa, makna kepemimpinan adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengerahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. Seperti halnya manajemen, kepemimpinan atau leadership telah didefinisikan oleh para ahli diantaranya adalah Stoner mengemukakan bahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai salah satu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang selain berhubungan dengan tugasnya.4

D.E Mc Farland mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberi perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.5

2 T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2015), hlm. 9-10

3 Kompri. Manajemen Sekolah Orientasi Kemandirian Kepala Sekolah, (Yogyakarta:

Pustaka Belajar, 2015), hlm. 45

(5)

Beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa, kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

C. Kepemimpinan dalam Persfektif Islam

Allah SWT menciptakan manusia sebagai masterpiece dari seluruh ciptaannya. Manusia dianugerahi gelar sebagai ahsanu takwim, sebaik-baiknya ciptaan, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4:

م

م ِيووقَقتتِ ن

و س

ت حَقأ

ت ِ ِيفوِ نتَاستنَق لَقواِ َانتقَقلتختِ دَققتلت

Telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(QS At-Tin: 4)

Kesempurnaan manusia sebagai ciptaan Allah sejalan dengan beratnya beban yang harus ditanggung di dunia ini. Allah menciptakan manusia beserta kesempurnaanya untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30:6

ض

و

رَق لَق

ت اِ ِيفوِ للعوَاجتِ ِيننإوِ ةوكتئولتمتلَقلوِ كتببرتِ لتَاقتِ ذَقإووت

ك

ك فوس

َق ِيتوتِ َاهتيفوِ دكس

و فَقِيكِ ن

َق متِ َاهتيفوِ ل

ك عتجَقتتأتِ اولكَاقتِ ةةفتيلوخت

ِي ننإوِ لتَاقتِ ك

ت لتِ س

ك

دنقتنكوتِ ك

ت دومَقحتبوِ حكبنس

ت نكِ ن

ك ح

َق نتوتِ ءتَامت دنلا

ن

ت ومكلتعَقتتِ لتِ َامتِ مكلتع

َق أت

Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka: Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau? Dia berkata: Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS Al-Baqarah: 30)

6 Saiful Falah, Pesantren, Kyai dan Masa Depan: Upaya Mencari Model Kaderisasi

(6)

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan makna

khalifah sebagai yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah berarti yang menggantikan Allah dalam menegakan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan.7

Karena manusia terlahir sebagai khalifah fil ardh, tugas selanjutnya adalah menggali potensi kepemimpinannya yang bertujuan memberikan pelayanan serta pengabdian yang diniatkan semata-mata karena amanah Allah, yaitu dengan cara memainkan perannya sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam semesta. Kepemimpinan bagi semua manusia bukanlah pilihan, melainkan adalah kemestian. Setiap manusia dengan takdirnya telah diberikan amanah sebagai pemimpin.8

Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Seorang pemimpin tidak bisa berbuat semena-mena. Dia harus ingat bahwa dunia akan berakhir. Di hari perhitungan kualitas kepemimpinannya akan dipertanyakan. Saat dia bertindak menuruti hawa nafsu maka azab yang berat menunggu. Sebaliknya apabila kepemimpinan dia jalankan sebagai amanah untuk menyebar keadilan bagi masyarakat, pahala berbentuk surga menjadi miliknya.

D. Model Kepemimpinan Kyai 1. Kepemimpinan Individual

Eksistensi Kyai sebagai pemimpin pesantren, ditinjau dari tugas dan fungsinya, dapat dipandang sebagai sebuah fenomena yang unik. Dikatakan unik karena kiai sebagai pemimpin sebuah lembaga pendidikan Islam tidak sekadar bertugas menyusun kurikulum, membuat peraturan atau tata tertib, merancang sistem evaluasi, sekaligus melaksanakan proses

(7)

belajar-mengajar yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama di lembaga yang diasuhnya, melainkan pula scbagai pembina dan pendidik umat serta menjadi pemimpin masyarakat

Peran yang begitu sentral yang dilaksanakan oleh Kyai seorang diri menjadikan pesantren sulit berkembang. Perkembangan atau besar tidaknya pesantren semacam ini sangat ditentukan oleh kekarismaan Kyai pengasuh. Dengan kata lain, semakin karismatik Kyai (pengasuh), semakin banyak masyarakat yang akan berduyun-duyun untuk belajar bahkan hanya untuk mencari barakah dari Kyai tersebut dan pesantren tersebut akan lebih besar dan berkembang pesat.

Kepemimpinan individual Kyai inilah yang sesungguhnya mewarnai pola relasi di kalangan pesantren dan telah berlangsung dalam rentang waktu yang lama, sejak pesantren berdiri pertama hingga sekarang dalam kebanyakan kasus. Lantaran kepemimpinan individual Kyai itu pula, kokoh kesan bahwa pesantren adalah milik pribadi Kyai. Karena pesantren tersebut milik pribadi Kyai, kepemimpinan yang dijalankan adalah kepemimpinan individual.

Dengan kepemimpinan semacam itu, pesantren terkesan eksklusif. Tidak ada celah yang longgar bagi masuknya pemikiran atau usulan dari luar walaupun untuk kebaikan dan pengembangan pesantren karena hal itu wewenang mutlak Kyai. Hal seperti itu biasanya masih berlangsung di pesantren salaf.

Model kepemimpinan tersebut mempengaruhi eksistensi pesantren. Bahkan belakangan ada pesantren yang dilanda masalah kepemimpinan ketika ditinggal oleh Kyai pendirinya. Hal itu disebabkan tidak adanya anak Kyai yang mampu meneruskan kepemimpinan pesantren yang ditinggalkan ayahnya baik dari segi penguasaan ilmu keislaman maupun pengelolaan kelembagaan. Karena itu, kesinambungan pesantren menjadi terancam.

(8)

santri terabaikan, sehingga kelangsungan aktivitas pesantren menjadi terbengkalai.

Adapun pergantian kepemimpinan di pesantren dilaksanakan apabila Kyai yang menjadi pengasuh utama meninggal dunia. Jadi Kyai adalah pemimpin pesantren seumur hidup. Apabila Kyai sudah meninggal, estafet kepemimpinan biasanya dilanjutkan oleh adik tertua dan kalau tidak mempunyai adik atau saudara, biasanya kepemimpinan langsung digantikan oleh putra Kyai. Biasanya Kyai mengkader putra-putranya untuk meneruskan kepemimpinannya. Namun, jika kaderisasi itu gagal, biasanya yang melanjutkan adalah menantu yang paling pandai atau menjodohkan putrinya dengan putra Kyai lain. Jadi tidak ada peluang masuknya orang luar menjadi pemimpin pesantren tanpa memasuki jalur feodalisme Kyai.

Dengan demikian, jelas bahwa posisi kepemimpinan Kyai adalah posisi yang sangat menentukan kebijaksanaan di semua segi kehidupan pesantren, sehingga cenderung menumbuhkan otoritas mutlak, yang pada hakikatnya justru berakibat fatal. Namun profil Kyai di atas pada umumnya hanyalah terbatas pada Kyai pengasuh pesantren tradisional yang memegang wewenang (otoritas) mutlak dan tidak boleh diganggu gugat oleh pihak mana pun. Sedangkan Kyai-kyai di pesantren khalaf ataupun modern tidaklah sedemikian otoriter.

2. Kepemimpinan Kolektif

(9)

maksimal mereka hanya bisa menjadi menantu Kyai. Padahal, menantu kebanyakan tidak berani untuk maju memimpin pesantren kalau masih ada anak atau saudara Kyai, walaupun dia lebih siap dari segi kompetensi maupun kepribadiannya. Akhirnya sering terjadi pesantren yang semula maju dan tersohor, tiba-tiba kehilangan pamor bahkan mati lantaran Kyainya meninggal.

Akibat fatal dari kepemimpinan individual tersebut menyadarkan sebagian pengasuh pesantren, Kementerian Agama, di samping masyarakat sekitar. Mereka berusaha menawarkan solusi terbaik guna menanggulangi musibah kematian pesantren. Kementerian Agama pernah mengintroduksi bentuk yayasan sebagai badan hukum pesantren, meskipun jauh sebelum dilontarkan, beberapa pesantren sudah menerapkannya. Pelembagaan semacam itu mendorong pesantren menjadi organisasi impersonal. Pembagian wewenang dalam tata laksana kepengurusan diatur secara fungsional, sehingga akhirnya semua itu harus diwadahi dan digerakkan menurut tata aturan manajemen modern.

Kepemimpinan kolektif dapat diartikan sebagai proses kepemimpinan kolaborasi yang saling menguntungkan, yang memungkinkan seluruh elemen sebuah institusi turut ambil bagian dalam membangun sebuah kesepakatan yang mengakomodasi tujuan semua. Kolaborasi dimaksud bukan hanya berarti “setiap orang” dapat menyelesaikan tugasnya, melainkan yang terpenting adalah semua dilakukan dalam suasana kebersamaan dan saling mendukung (al-jam’iyah al murassalah atau collegiality and supportiveness).

Model kepemimpinan kolektif atau yayasan tersebut menjadi solusi strategis. Beban Kyai menjadi lebih ringan karena ditangani bersama sesuai dengan tugas masing-masing. Kyai juga tidak terlalu menanggung beban moral tentang kelanjutan pesantren di masa depan.

(10)

Padahal, keberadaan yayasan justru ingin meringankan beban baik akademik maupun moral. Kecenderungan untuk membentuk yayasan ternyata hanya diminati pesantren-pesantren yang tergolong modern, belum berhasil memikat pesantren tradisional. Kyai pesantren tradisional cenderung lebih otoriter daripada Kyai pesantren modern.

Pesantren memang sedang melakukan konsolidasi organisasi kelembagaan, khususnya pada aspek kepemimpinan dan manajemen. Secara tradisional, kepemimpinan pesantren dipegang oleh satu atau dua Kyai, yang biasanya merupakan pendiri pesantren bersangkutan. Tetapi karena diversifikasi pendidikan yang diselenggarakan, kepemimpinan tunggal Kyai tidak memadai lagi. Banyak pesantren kemudian mengembangkan kelembagaan yayasan yang pada dasarnya merupakan kepemimpinan kolektif.

Konsekuensi dan pelembagaan yayasan itu adalah perubahan otoritas Kyai yang semula bersifat mutlak menjadi tidak mutlak lagi, melainkan bersifat kolektif ditangani bersama menurut pembagian tugas masing-masing individu, kendati peran Kyai masih dominan. Ketentuan yang menyangkut kebijaksanaan-kebijaksanaan pendidikan merupakan konsensus semua pihak. Yayasan memiliki peran yang cukup besar dalam pembagian tugas yang terkait dengan kelangsungan pendidikan pesantren.

Perubahan dan kepemimpinan individual menuju kepemimpinan kolektif akan sangat berpengaruh terhadap hubungan pesantren dan masyarakat. Semula hubungan semula bersifat patronklien, yakni seorang Kyai dengan karisma besar berhubungan dengan masyarakat luas yang menghormatinya. Sekarang hubungan semacam itu semakin menipis. Justru yang berkembang adalah hubungan kelembagaan antara pesantren dengan masyarakat.

E. Regenerasi dan Kaderisasi di Pondok Pesantren 1. Pengertian regenarasi dan kaderisasi

(11)

produce or create something. Kemudian ditambahkan kata re ke dalam

generate, menjadi regenerate; to make an area, institution, etc. develop and grow strong again. Bentuk kata benda dari regenerate adalah

regeneration.9

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata generasi; sekalian orang yang kira-kira sama waktu hidupnya; angkatan; turunan. Sedangkan kata regenerasi diartikan penggantian generasi tua kepada

Kaderisasi berasal dari kata kader. Dalam KBBI, kader diartikan orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai dan sebagainya. Kaderisasi atau pengaderan berarti proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader.12

2. Model regenerasi di pondok pesantren

Sebagai lembaga pendidikan Islam yang asli Indonesia, pesantren memiliki aturan tersendiri dalam regenerasi. Kepemimpinan pesantren tidak seperti kepemimpinan sekolah bukan jabatan yang diperebutkan oleh banyak orang. Kepemimpinan pesantren berbeda di tangan Kyai dan regenerasinya pun tergantung Kyai. Hal ini terjadi karena Kyai di pesantren adalah pendiri sekaligus pemilik.

Kelangsungan pesantren salah satunya tergantung kemampuan Kyai dalam memilih calon pengganti. Regenerasi merupakan suatu hal yang niscaya. Kyai sebagai manusia bbiasa tentu akan menghadapi kematian. Setelah Kyai wafat pesantren diteruskan oleh generasi

9 Saiful Falah, Pesantren, Kyai dan Masa Depan: Upaya Mencari Model Kaderisasi

Ideal di Pesantren, hlm. 42-43.

(12)

setelahnya. Terkadang regenerasi tidak berjalan dengan baik. Minimnya kemampuan generasi penerus berdampak kepada kemerosotan nilai pesantren. Hal ini terjadi di banyak pesantren.

Hal tersebut disadari oleh para Kyai. Mereka menganggap regenerasi merupakan perkara alami yang harus diperhatikan. Para Kyai selalu memikirkan kelangsungan hidup pesantren setelah mereka meninggal. Sarana utama yang dijalankan para Kyai untuk melestarikan pesantren ialah dengan membangun solidaritas dan kerja sama antar mereka. Ada tiga cara yang mereka lakukan untuk membangun solidaritas:

a. Membangun suatu tradisi bahwa keluarga yang terdekat harus menjadi calon kuat pengganti kepemimpinan pesantren.

b. Mengembangkan suatu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga Kyai.

c. Mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intelektual antara sesama Kyai dan keluarganya.

Estafet pergantian kepemimpinan pesantren yang dimiliki oleh pribadi Kyai terjadi di dalam keluarga terdekat; pendiri-anak-menantu-cucu-santri senior. Zamakhsyari Dhofier menyebut ini sebagai geneologi sosial pemimpin pesantren. Regenerasi kepemimpinan terjadi di dalam keluarga terdekat Kyai. Anak laki-laki pertama menjadi putra mahkota, dia diberi privillage sebagai penerus utama. Apabila Kyai tidak memiliki putra, maka pilihan akan jatuh kepada menantunya. Seterusnya estafet kepemimpinan diteruskan oleh cucu Kyai pendiri. Ada saatnya santri senior diangkat menjadi pimpinan. Hal ini terjadi ketika generasi penerus Kyai tidak memiliki kualitas yang mumpuni untuk memimpin pesantren.

3. Model kaderisasi di pondok pesantren

(13)

Imam Zarkasyi membedah model kaderisasi pemimpin yang dilaksanakan di Gontor dalam buku Bekal Untuk Pemimpin. Berikut adalah tujuh metode kaderisasi pemimpin yang beliau tulis:

a. Pengarahan

Dalam pembentukan karakter pemimpin, pemberian pengarahan sebelum melaksanakan kegiatan bersifat mutlak dan sangat penting. Pengarahan berfungsi sebagai petunjuk agar calon pemimpin itu tahu dan paham tujuan kegiatan, isi kegiatan, bagaimana melaksanakannya dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

b. Pelatihan

Pengarahan saja tidak cukup, para calon pemimpin harus dibekali dengan pelatihan. Calon pemimpin harus dilatih agar bisa hidup bermasyarakat dan berorganisasi. Bekal pelatihan sangat dibutuhkan oleh calon pemimpin agar siap terjun menghadapi tantangan.

c. Penugasan

Penugasan merupakan sarana pendidikan yang sangat efektif. Dengan diberi tugas, calon pemimpin akan terlatih, terkendali dan termotivasi. Penugasan adalah proses penguatan dan pengembangan diri. Siapa saja yang banyak mendapat tugas atau melibatkan diri dalam berbagai tugas, dia akan tumbuh kuat, terampil dan terbiasa menyelesaikan berbagai problematika hidup.

d. Pembiasaan

Pembiasaan merupakan unsur penting dalam pengembangan mental dan karakter calon pemimpin. Pendidikan adalah pembiasaan. Membiasakan para calon pemimpin melakukan kegiatan positif dan berfikir solutif harus dilakukan di setiap kesempatan. Pembiasaan tumbuh dari tuntutan dan aturan. Setelah aturan dilakukan terus-menerus maka hal itu akan menjadi kebiasaan.

e. Pengawalan

Pengawalan yang dimaksud disini, setiap kegiatan yang dilakukan oleh calon pemimpin harus selalu mendapat bimbingan dan pendampingan. Fungsi pengawalan sebagai kontrol dan evaluator di setiap kegiatan.

f. Uswah Hasanah

(14)

kaderisasi. Keberhasilan mencetak kader yang baik tentu bermula dari pemberian contoh dan teladan yang baik.

g. Pendekatan

Ada tiga model pendekatan yang dilakukan kepada calon pemimpin. Pertama pendekatan manusiawi, secara fisik kader harus didekati. Kedekatan bisa menjadi wasilah pengetahuan kepribadian kader. Dengan kedekatan pola pikir, sikap dan perilaku kader bisa diketahui secara jelas. Kedua pendekatan program, kader harus bersentuhan langsung dengan tugas yang akan diemban kelak setelah dia menjadi pemimpin. Seorang kader imam tentu harus diberi tugas menjadi imam meski dalam skala yang lebih kecil. Ketiga pendekatan idealisme, ini adalah pendekatan isi, nilai, filsafat dan ruh. Calon pemimpin harus tahu filosofi setiap apa yang dia kerjakan.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarakan pembahasan keseluruhan dalam kajian makalah ini dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

1. Eksistensi Kyai sebagai pemimpin pesantren, ditinjau dari tugas dan fungsinya, dapat dipandang sebagai sebuah fenomena yang unik. Karena Perkembangan atau besar tidaknya pesantren semacam ini sangat ditentukan oleh kekarismaan Kyai pengasuh. Dengan kata lain, semakin karismatik Kyai (pengasuh), semakin banyak masyarakat yang akan berduyun-duyun untuk belajar bahkan hanya untuk mencari barakah dari Kyai tersebut dan pesantren tersebut akan lebih besar dan berkembang pesat.

(15)

3. Model kepemimpinan kolektif atau yayasan tersebut menjadikan strategis. Beban Kyai menjadi lebih ringan karena ditangani bersama sesuai dengan tugas masing-masing. Kyai juga tidak terlalu menanggung beban moral tentang kelanjutan pesantren di masa depan.

4. Sebagai lembaga pendidikan islam yang asli Indonesia, pesantren memiliki aturan tersendiri dalam regenerasi.tidak sama seperti kepemimpina sekolah bukan seperti kepemimpinan yang diinginkan kebanyakan orang. Dalam pergantian kepemimpinan pesantren, niscaya setelah pimpinan wafat kemudian akan diteruskan oleh generasi setelahnya yaitu putranya atau dengan model-model yang telah di tentukan.

5. Dan untuk melestarikan dan menjalankan pesantren agar tetap terjaga dengan cara kerja sama antar mereka agar tidak ada kesalahan dalam menjalankan aturan-aturan pesantren dan menentukan regenerasi yang lebih baik sesuai dengan model-model kepemimpinan kiai.

(16)

Anwar, Kasful. .Kontekstualita, Vol. 25, No. 2, 2010. Kepemimpinan Kiai Pesantren: Studi terhadap Pondok Pesantren di Kota Jambi.

Danim, Sudarwan. 2012. Kepemimpinan Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Falah, Saiful. 2016. Pesantren, Kyai dan Masa Depan: Upaya Mencari Model Kaderisasi Ideal di Pesantren. Bogor: Santrinulis Publishing.

Handoko, Hani. 2015. Manajemen. Yogyakarta: BPFE.

Hasbullah. 2001. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hermino, Agustinus. 2017. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Alfabeta. Kompri. 2015. Manajemen Sekolah Orientasi Kemandirian Kepala Sekolah.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Ketua PTUN Bengkulu, konsep klausul pengaman akan dilihat sebagai norma hukum dikarenakan suatu kondisi yang dituntut oleh administrasi negara untuk

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan, nilai o-phthalaldehyde (OPA) dan Angiotensin Converting Enzyme I- inhibitor pada yogurt dengan ekstrak daun

Oleh sebab itu, penulis membuat suatu Perancangan Aplikasi Pengubah Sistem Bilangan Desimal ke Bilangan Biner Dengan VB 6.0 Melalui Interface LPT1/LPT2/LPT3 yaitu program yang

Perancangan mesin pengaduk adonan roti dengan kapasitas 43 kg yang secara rinci menjabarkan elemen mesin yang digunakan meliputi menghitung daya motor penggerak, diameter

MATA KULIAH Dosen/Koordinator Pengawas Jum'at, 2 November 2018. Jam MATA KULIAH PRODI Sem Kls Pst Dosen/Koordinator

menyatakan dengan sebenarnya bahwa saya tidak pernah dijatuhi hukuman pidana, hukuman disiplin tingkat sedang dan/atau tingkat berat, tidak sedang menjalani hukuman

Berdasarkan uraian latarbelakang yang telah di dikemukakan diatas, maka tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah: ingin mengetahui korelasi antara kelincahan,

Realisasi belanja negara sampai dengan triwulan II-2019 baru mencapai Rp23,94 triliun atau 37,7 persen dari total pagu, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama