• Tidak ada hasil yang ditemukan

STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA SEBAGAI MEDIA EDUTAINMENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA SEBAGAI MEDIA EDUTAINMENT"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA SEBAGAI MEDIA

EDUTAINMENT

SKRIPSI

Oleh:

Rossa Amira Damawati

I0203097

PENDIDIKAN Sastra Inggris

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

(2)

i

BAB I PENDAHULUAN

1. JUDUL ………

2. PENGERTIAN JUDUL……… 3. LATAR BELAKANG……...………..

3.1. Fenomena Televisi dan Anak……….………...

3.1.1. Televisi dan Pesonanya ………

3.1.2. Anak dan Teman Televisinya ………

3.1.3. Mitos Televisi vs Penelitian Para Ahli Terhadap Manfaat Televisi 3.1.4. Dukungan Pemerintah Terhadap Perkembangan Media Televisi

Sebagai Media Edutainment ...………

3.2. Latar Belakang Pemilihan Lokasi Kota Surakarta dan

Kondisi Penyiaran Televisi ……….. 3.2.1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi Kota Surakarta……….

3.2.2. Kondisi Penyiaran Televisi ……….

4. PERMASALAHAN DAN PERSOALAN………. 4.1. Permasalahan……..………...

4.2. Persoalan ………..……..…

5. TUJUAN DAN SASARAN ………...………

5.1. Tujuan ………..…….

5.2. Sasaran ………..…….

6. LINGKUP DAN BATASAN PEMBAHASAN………...………....……..

6.1. Lingkup Pembahasan ……….………

6.2. Batasan Pembahasan ……….………

7. METODE PEMBAHASAN………..……….

7.1. Pengumpulan Data ……….………

7.2. Analisa Data ……….…………

7.3. Konsep Perencanaan dan Perancangan ……….. 8. SISTEMATIKA PENULISAN………..

BAB II TINJAUAN TEORI

1. TINJAUAN DUNIA PENYIARAN ………..…..

1.1. Definisi Penyiaran ……….….…

1.2. Sejarah Penyiaran Televisi ………..…..

1.2.1. Sejarah Perkembangan di Dunia ……….………..…...

1.2.2. Sejarah Perkembangan di Indonesia ……….………...…..…

1.3. Ragam Televisi ………..…

1.4. Sistem, Teknik, dan Prosedur Penyiaran Stasiun Televisi ……..…….

1.4.1. Sistem Penyiaran Stasiun Televisi ……….…………....

1.4.2. Teknik Penyiaran Stasiun Televisi ……….………..…..

1.4.3. Materi/Program Siaran Pada Stasiun Televisi ……….…….…..….

1.4.4. Prosedur Penyiaran Stasiun Televisi ……….………..…..

1

(3)

ii

1.5. Tinjauan Studio Televisi ………..…..

1.5.1. Makro ………..…….…..

1.5.2. Mikro ………..………

2. PERTIMBANGAN VISUAL, AKUSTIK, DAN PENCAHAYAAN PADA STUDIO TELEVISI ……….……. 2.1. Pertimbangan Visual ……….……….….. 2.2. Pertimbangan Akustik……..………...

2.2.1. Audio ……….……..…

2.2.2. Pengkondisian Akustik ……….………..……

2.2.3. Volume Ruang ……….………..……

2.2.4. Besaran/Tinggi Ruang ……….………..…… 2.3. Pertimbangan Pencahayaan ……….……….…….……

2.3.1. Pencahayaan Buatan …….……….……

2.3.2. Macam Penyinaran Pada Ruang Dalam……..………..…. 2.3.3. Pencahayaan Pada Studio Pementasan…….………..……. 3. TINJAUAN DUNIA ANAK USIA 2 – 10 TAHUN ……….…

3.1. Periodesasi dan Tugas Perkembangan ..………….……

3.2. Eksplorasi Pengembangan Potensi dan Bakat Anak……….. 3.3. Konsep Edutainment (Belajar dan Bermain) dan Wadah Eksplorasi

Pengembangan Potensi dan Bakat Anak ..……….………

4. STUDI KOMPARASI ……….….……..

4.1. CCTV (China Central Television Headquarters) ………..……..

4.2. Maidstone Studios Inggris ……….…...

4.3. MMTC (Multi Media Training Center) Jogjakarta ……….……...

4.4. TV E (TV Edukasi) ……….………

BAB III TINJAUAN SURAKARTA

1. KONDISI FISIK ……….………

2. KONDISI NON FISIK………..………….. 2.1. Sarana dan Prasarana ... 2.2. Rencana Umum Tata Ruang Kota Surakarta... 2.3. Kondisi Kependudukan ... 2.4. Kondisi Perekonomian ... 3. RELEVANSI STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA…...…

3.1. Perkembangan Dunia Penyiaran Di Surakarta ……….…...

3.2. Fasilitas Edutainment Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Anak di Surakarta ……….………. 3.3. Potensi Dan Kebutuhan Stasiun Televisi Swasta Anak

di Surakarta ………..………

BAB IV STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA YANG DIRENCANAKAN

1. PENGERTIAN ………..……....……

2. FUNGSI DAN PERANAN STASIUN TELEVISI ………..………

3. VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STASIUN TELEVISI …..……….

3.1. Visi Stasiun Televisi ...

3.2. Misi Stasiun Televisi ………..……..…..….…

3.3. Tujuan Stasiun Televisi ………...………..

3.4. Sasaran Stasiun Televisi ………...……….

4. JENIS KEGIATAN UTAMA YANG DIWADAHI ………..………

4.1. Pertelevisian ………...……….….………

(4)

iii

4.3. Kegiatan Penunjang Stasiun Televisi ………

4.4. Kegiatan Servis Stasiun Televisi ………

5. PELAKU KEGIATAN ………...

6. RENCANA PROGRAM SIARAN ……….…….…

6.1. Sumber Program ………...….……..

6.2. Perencanaan Program ……….…….

7. PENGADAAN DANA ………..…….

8. LOKASI SITE YANG DIRENCANAKAN ……….…..….. 8.1. Pendekatan Pemilihan Lokasi Site ………...…….. 8.2. Pemilihan Site………...………

8.2.1. Site Terpilih ……….……..

8.2.2. Eksisting Site ……….……..

9. UNGKAPAN FISIK STASIUN TELEVISI YANG DIRENCANAKAN……..…

9.1. Rencana Penampilan Bangunan ……….……….…..

9.2. Perwujudan Penampilan Bangunan ……….………...

9.2.1. Eksterior ……….…….

9.2.2. Interior ……….….

9.3. Rencana Penggunaan Material Bangunan ……….…..

9.3.1. Struktur ……….. PERANCANGAN STASIUN TELEVISI ANAK DI SURAKARTA

1. ANALISA PERENCANAAN PROGRAM ……….………….………….….… 2. ANALISA ALUR KEGIATAN PADA STASIUN TELEVISI……….……..….. 2.1. Alur Kegiatan Pertelevisian ……….……….….……. 2.2. Alur Kegiatan Fasilitas Anak ……….……….……….….

2.2.1. Kegiatan Staff ……….……

2.2.2. Kegiatan Anak ……….……

2.2.3. Kegiatan Orang Tua dan Pengunjung ………..

2.3. Alur Kegiatan Penunjang ……….………

2.4. Alur Kegiatan Servis ……….………

3. ANALISA SISTEM DAN PROGRAM PERUANGAN………...…….. 3.1. Analisa Kebutuhan Ruang ………..…..…

3.2. Analisa Besaran Ruang ……….……….…..

3.3. Analisa Pola Hubungan Ruang…...……….…..

3.3.1. Hubungan Ruang Makro ………..…...…..

3.3.2. Hubungan Ruang Mikro ………..………..….…..

4. ANALISA PENDEKATAN SITE ……….……… 4.1. Analisa Orientasi Massa dan View ……….….. 4.2. Analisa Penentuan Main Entrance (ME) dan Side Entrance (SE)

Berdasarkan Pencapaian ………...…....

4.3. Analisa Pengolahan Pola Sirkulasi ……….…..

4.4. Analisa Tingkat Kebisingan ……….…...

4.5. Analisa Zonifikasi Site ……….…..

4.6. Analisa Tata Landscape ………..…...…....….

5. ANALISA SISTEM SIRKULASI BANGUNAN……….….… 5.1. Sistem Sirkulasi Horizontal ……….………

5.2. Sistem Sirkulasi Vertikal ……….…………..………..………

97

(5)

iv

6. ANALISA PENDEKATAN BANGUNAN STASIUN TELEVISI... 6.1. Studi Bentuk Dasar ………...……… 6.2. Pendekatan Tata Massa Bangunan ………

6.2.1. Tata Eksterior ………

6.2.2. Tata Interior dan Penyelesaian Akustik Ruang ……….…………

6.2.3. Tata Cahaya ………...

6.3. Pendekatan Sistem Struktur Bangunan…..………..

6.3.1. Sub Struktur ………….………..……..

6.3.2. Super Struktur ……….……….…… 6.3.3. Upper Struktur ………..……… 6.4. Pendekatan Sistem Utilitas Bangunan……….……….…

6.4.1. Jaringan Air Bersih ...

6.4.2. Jaringan Drainase ………..……..…..…….……

6.4.3. Jaringan Listrik ... 6.4.4. Jaringan Instalasi Tata Udara ... 6.4.5. Jaringan Sistem Komunikasi ………....………..…………. 6.4.6. Sistem Pengelolaan Sampah ………..…..…………..…….…… 6.4.7. Sistem Keamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Dan Petir….

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA

1. MAKRO ………..….………

1.1. Konsep Pemilihan Lokasi dan Site ……….……….………..…..

1.1.1. Lokasi Terpilih ……….……….…….…….……

1.1.2. Eksisting Site Terpilih ……….……….…….…….……

1.2. Konsep Pengolahan Site ……….….…….…….

1.2.1. Konsep Pencapaian ……….………..…….……

1.2.2. Konsep Sirkulasi ……….……….….…….……

1.2.3. Konsep Zonifikasi Site ……….………..…….……

1.3. Tata Lansekap ……..………….………..….………

2. MIKRO ………..………..………

2.1. Konsep Kebutuhan Ruang ……….……….……..……… 2.2. Konsep Pola Hubungan Ruang…..……….……..………

2.2.1. Hubungan Ruang Makro ………

2.2.2. Hubungan Ruang Mikro ………...………

2.3. Konsep Sirkulasi ………..….…..

2.3.1. Sirkulasi Horizontal ………..….…….

2.3.2. Sirkulasi Vertikal ………..…….…….

2.4. Konsep Bangunan Stasiun Televisi ……….………..…….……...

2.4.1. Konsep Tata Massa Bangunan ………..…….……...

2.4.2. Konsep Sistem Struktur Bangunan ………..………

2.4.3. Konsep Sistem Utilitas Bangunan ………...………

DAFTAR PUSTAKA

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1. JUDUL

Stasiun Televisi Swasta Anak di Surakarta Sebagai Media Edutainment

2. PENGERTIAN JUDUL

Stasiun televisi swasta anak di Surakarta sebagai media edutainment adalah

sebuah wadah yang berfungsi sebagai sarana penyiaran program khusus anak

bermuatan edukasi rekreatif yang bersifat memberikan informasi, pengetahuan

dan memotivasi belajar anak dengan dikemas secara atraktif dan

menyenangkan, dan rekreasi edukatif yang memberi sajian hiburan edukatif bagi

pengembangan potensi anak dengan disertai fasilitas yang mewadahi kegiatan

edukasi rekreatif dan rekreasi edukatif sebagai sarana eksplorasi pengembangan

potensi dan bakat anak yang berlokasi di kota Surakarta.

3. LATAR BELAKANG

3.1. Fenomena Televisi dan Anak

3.1.1. Televisi dan Pesonanya

Dewasa ini manusia tidak dapat melepaskan diri dari teknologi dengan

berbagai macam aktivitas yang sedang dijalani setiap hari. Sebagai contoh ketika

pagi ibu mempersiapkan masakan bagi keluarga menggunakan kompor, atau

berangkat bekerja seperti ayah menggunakan motor, mobil, atau sarana

transportasi lain (bekerja dari pagi sampai sore/malam), dan anak menghabiskan

sebagian besar waktunya untuk menonton televisi dan bermain (aktivitas nyata di

lapangan atau maya dengan media seperti PS atau virtual game lain) selain

bersekolah. Malahan, seluruh anggota keluarga disibukkan aktivitas masing –

masing demi terpenuhinya kebutuhan dan kesejahteraan hidup dengan bantuan

dari teknologi.

Televisi merupakan salah satu produk teknologi yang memiliki penetrasi

sangat besar dan juga memiliki pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan umat

manusia. Semenjak kehadirannya dikomersilkan secara massal pada tahun

1930, dengan sekejap kotak elektris ini menjadi primadona seluruh umat

manusia, bahkan menjadi bagian hidup mereka. Seperti ditulis oleh Saktiyanti

1

(7)

Jahya pada bukunya Menilai Tanggung Jawab Sosial Televisi, Martin Essin

menyebut bahwa era sekarang ini merupakan The Age of Television dimana

televisi telah menjadi kotak ajaib yang dapat membius para penghuni gubuk reyot

masyarakat di dunia ketiga. Martin juga menambahkan, televisi memiliki

keunggulan yang menyebabkan masyarakat harus tetap terpaku 4 sampai 6 jam

sehari di depan layar kaca. Dan Foster Wallace menyatakan: “Kita hidup

bersamanya, tidak hanya melihatnya...maka tidak seperti generasi yang sudah

tua, manusia abad ini tidak punya ingatan tentang dunia tanpa membicarakan

televisi. Ingatan tentang dunia terbangun bersama di dalamnya.”1

Dengan menjalankan fungsi – fungsi media massa sebagai media berita /

penerangan, pendidikan, hiburan, dan promosi, televisi mampu mengisi

kekosongan tiap individu karena mampu memberikan bantuan layaknya teman

melalui program – programnya diantara himpitan tuntutan hidup yang semakin

tinggi dan kompetitif. Dibanding media lain seperti media cetak atau radio,

televisI dinilai sebagai media massa paling cepat dan efektif dalam menyajikan

informasi dan hiburan. Beberapa peneliti dan pengamat media menyatakan

bahwa televisi memiliki banyak kelebihan, seperti mampu memberikan

rangsangan audio visual yang dapat meningkatkan perkembangan otak termasuk

meningkatkan keingintahuan, perhatian, dan konsentrasi2, memberikan

keserempakan penyiaran kepada khalayak sehingga mereka dapat menerima

informasi dalam waktu yang sama, memiliki kekuatan pesan yang konkret,

mampu meliput daerah yang tidak terbatas, bisa dinikmati dan dimengerti oleh

berbagai kalangan umur bahkan oleh penderita cacat tubuh dan buta huruf,

harga terjangkau oleh golongan ekonomi bawah, dan menurut Darwanto televisi

adalah sebagai agen pembaru (agent of social change) dalam pembangunan

nasional yang membantu mempercepat proses peralihan masyarakat tradisional

ke masyarakat modern3.Itulah sebabnya mengapa kotak ajaib ini begitu sangat

dipuja sehingga dikenal mendapat julukan ‘The Second God’, orang-orang

Belanda pun memplesetkan singkatan TV menjadi Tweede-Vrouw (istri kedua)4.

Bahkan kini televisi juga berfungsi sebagai sarana ‘pemersatu’ keluarga setelah

masing – masing individu menjalankan kewajiban personal dalam hidup. Dan

1

Suprapto, Tommy,(2006), Berkarier di Bidang Broadcasting, Media Pressindo, Jogjakarta

2

http://www.kompas.com, 21 April 2008

3

Darwanto, (2007), Televisi Sebagai Media Pendidikan, Pustaka Pelajar, Jogjakarta

4

(8)

kenyataannya kini televisi menjadi barang primer yang harus dipenuhi dan

memainkan peranan yang cukup penting dalam hidup.

Perkembangan teknologi media televisi di Indonesia cukup pesat.

Diperkirakan saat ini ada lebih dari 80 juta set pesawat televisi di Indonesia, ini

berarti jika satu pesawat ditonton oleh sekitar 3 orang dalam satu keluarga,

hampir 95% penduduk Indonesia menyaksikan acara yang disiarkan oleh kotak

ajaib ini5. Semenjak TVRI disiarkan secara serempak pada 24 Agustus 1962

sebagai pionir berdirinya stasiun televisi (milik pemerintah), masyarakat antusias

menyambut secara positif kehadirannya. Selama 39 tahun menjadi single fighter

dalam dunia pertelevisian dan masyarakat mulai mengalami kejenuhan,

pemerintah mulai memberikan izin kepada RCTI pada tahun 1988 untuk

beroperasi sebagai stasiun televisi pertama dengan mengusung status swasta

(kepemilikan perseorangan bukan pemerintah) berdasar SK Menpen RI Nomor

190A/Kep/Menpen/1987 (yang diperbarui SK Menpen No.111/Kep/Menpen/1990)

tentang saluran siaran terbatas, dan dari sinilah muara peluang berdirinya

stasiun televisi swasta lain untuk beroperasi. Setelah itu SCTV lahir pada 24

Agustus 1990, TPI 23 Januari 1991 (sekarang berganti nama menjadi MNC TV

sejak 20 Oktober 2010), ANTV 7 Maret 1993, Indosiar 11 Januari 1995, Metro TV

25 November 2000, Trans TV 15 Desember 2001, Lativi tahun 2002 (yang

berganti menjadi TV One pada 2008), TV7 tahun 2001 (pada 2006 berubah

menjadi Trans7), dan Global TV tahun 2002, seakan menjadi magnet bagi para

pemilik modal untuk berinvest di dunia pertelevisian6. Tak hanya stasiun televisi

swasta nasional saja yang semakin dikenal, beberapa kurun waktu terakhir

televisi lokal juga mendapat perhatian khusus dari para pemirsa. Ini terbukti

sampai saat ini ada lebih dari 100 buah stasiun televisi lokal beroperasi di

Indonesia. Dengan berpayung hukum pada UU No. 32 Tahun 2002 tentang

penyiaran pasal 6 ayat 3 yang berbunyi “Dalam sistem penyiaran nasional

terdapat lembaga penyiaran dan pola jaringan yang adil dan terpadu yang

dikembangkan dengan membentuk stasiun jaringan dan stasiun lokal” dan

dibentuknya lembaga ATVLI (Asosiasi Televisi Lokal Indonesia) sebagai

pelindung stasiun televisi local semakin mantap mengembangkan sayap untuk

memberikan berbagai macam sajian program kepada pemirsa.

5

Mahayoni dan Hendrik Lim, (2008), Anak vs Media, PT Elex Media Komputindo, Jakarta

6

Ibid no.1

(9)

3.1.2. Anak dan Teman Televisinya

Kotak ajaib menyajikan berbagai program menarik bagi seluruh khalayak.

Tak hanya orang dewasa, sekarang ini racun bius televisi sudah menyebar pada

anak. Sebuah survey yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak

Indonesia menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan, anak-anak

menghabiskan waktunya rata-rata 30-35 jam seminggu hanya untuk menonton

televisi7, ini berarti anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk

menonton televisi dibanding kegiatan lain yang lebih berarti seperti bersekolah,

bermain, dan beristirahat.

Televisi adalah teman bagi anak. Namun layaknya sifat manusia, televisi

memiliki sifat seperti 2 sisi mata uang, baik dan buruk. Sebagai teman yang

selalu setia menemani anak dengan memberikan berbagai informasi dan

hiburan, pada saat ini sebagian besar stasiun TV menayangkan 5 unsur

merugikan bagi perkembangan kehidupan, otak dan karakter anak, yaitu

kekerasan (war), eksploitasi seksual (sex), kriminalitas (criminal), gosip, dan mistik. Sasa Djuarsa Sendjaja, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Pusat

menyatakan bahwa frekuensi dan durasi tayangan kekerasan sudah berada

dalam tahap yang mengkhawatirkan, mengingat rata-rata program tayangan

liputan berita criminal (21 program) memuat adegan kekerasan dengan berbagai

versi, khususnya ketika menunjukkan gambar korban kekerasan, perusakan

benda, penggunaan alat kekerasan, dan visual mayat. Bahkan menurut

catatannya sepanjang periode 15-30 November 2005, 9 televisi setidaknya telah

menayangkan 225 program kriminal8

. Amelia Hezkasari, salah satu anggota

Komisi Penyiaran Indonesia Pusat menambahkan acara-acara banyak

menayangkan adegan vulgar dan kekerasan karena persaingan program yang

semakin kompetitif dalam menarik pemirsa. Dari setiap 3 jam tayangan prime

time yang disiarkan oleh 11 stasiun televisi swasta di Jakarta, hampir 70%

sinetron mengandung kekerasan dan kecenderungan eksploitasi seksual.”9

Kelima unsur negatif tersebut selalu menjadi teman anak setiap kali menonton,

selalu setia memberikan input/pertimbangan negatif pada otak. Sedangkan pihak

stasiun televisi menyiarkan dengan dalih menyiarkan program sesuai dengan

potret sketsa keinginan masyarakat penonton yang pada sejatinya demi

7

Artikel Kompas: Anak yang Ketagihan Nonton TV, Hal 20: kol 1-9, Selasa 16 Juli 2002

8

News Letter KPI, Hal 26, Januari-Maret 2006

9

(10)

peningkatan rating dan share tanpa pertimbangan mutu materi siaran, hanya

melihat kepentingan bisnis/komersialisme saja10.

Program – program yang hadir dalam setiap ruang keluarga tersebut tidak

mampu menyajikan filter, terutama bagi tayangan yang kurang layak untuk

ditonton anak yang belum cukup umur. Ini berakibat fatal karena televisi memberi

pengaruh yang cukup kuat bagi individu apalagi bagi anak karena dalam masa

perkembangannya mereka masih labil, belum memiliki pondasi karakter sehingga

informasi apa yang diterima oleh mereka langsung diterima, diserap, dan

diaplikasikan dalam kehidupan nyata, sehingga pada akhirnya terjadi pergeseran

nilai moral dan membentuk pola pikir yang salah. Mengingat lamanya anak

menonton TV rata – rata 5 jam setiap hari dan berdasar pada sebuah penelitian

bahwa pada usia tertentu (2-10 tahun) otak anak mengalami perkembangan

tingkat kecerdasan maksimal (masa peka otak untuk belajar), aktivitas otak jauh

lebih sibuk, 2 kali lebih aktif dibandingkan dengan orang dewasa11, yang disebut

sebagai Golden Age, pada usia ini rawan terhadap berbagai input yang masuk ke

dalam otak dan pengaruh yang dirasakannya begitu kuat terhadap

perkembangan kepribadian anak, mereka mudah meniru dan belajar dari

tayangan yang mereka tonton12. Bentuk belajar anak adalah dengan bermain dan

berekreasi. Kemampuan untuk menciptakan gagasan baru, bersuka cita

terhadap hal-hal baru, dan menciptakan dunia demi dunia merupakan

celah-celah evolusioner yang berawal dari kegiatan bermain. Dan anak belajar 75%

melalui pengamatan (visual) dan 25% melalui pendengaran (audio) karena

pengamatan visual lebih meninggalkan kesan mendalam dan cermat sehingga

memudahkan untuk mengingat kembali sehingga membantu perkembangan

psikologis dan daya kreativitas anak13.

3.1.3. Mitos Televisi vs Penelitian Para Ahli Terhadap Manfaat Televisi

Edward R. Murrow (1958) mengatakan, “Alat ini bisa mengajar, bisa

memberikan pencerahan, ya, bahkan bisa memberikan ilham. Tetapi ini bisa

terwujud hanya bila manusianya bertekad menggunakannya untuk mencapai

tujuan – tujuan itu. Kalau tidak, ia cuma sebuah kotak kecil berisi tabung dan

10

Ibid no.5

11

Gopnik, Alison, (2007), Keajaiban Otak Anak, Mizan Media Utama, Bandung

12

http://www.petra.ac.id/~puslit/journals

13

Ibid no.3

(11)

kabel.” Ada beberapa mitos seputar televisi dan fakta yang terjadi diantaranya

yaitu14:

a) Mitos mengenai televisi merupakan media pasif, hal ini disangkal oleh fakta

bahwa kenyataannya acara televisi pendidikan bisa secara aktif melibatkan

anak, baik fisik maupun intelektual yang berkelanjutan, bahkan sampai

setelah acaranya usai.

b) Televisi menghambat pertumbuhan dan mengganggu gelombang otak anak

yang sehat, yang mana faktanya adalah pola – pola gelombang otak selama

menonton televisi sangat serupa dengan kegiatan otak selama kegiatan –

kegiatan lain.

c) Televisi memperpendek rentang perhatian anak – anak, faktanya adalah

acara – acara televisi pendidikan bisa benar – benar meningkatkan perhatian

dan keterampilan kognitif anak – anak.

d) Jika anak menonton televisi, ia akan menjadi murid yang bodoh, faktanya

adalah tergantung pada apa dan seberapa banyak yang ditonton anak.

Pelajar yang menonton televisi secara moderat, khusunya televisi pendidikan

bisa menjadi pelajar unggulan.

e) Jika anak menonton televisi, ia tak akan menjadi pembaca yang baik, televisi

dan buku adalah musuh bebuyutan, yang mana faktanya adalah program –

program anak yang bermutu bisa benar – benar memotivasi anak untuk

membaca buku dan mencintai kegiatan membaca.

f) Jika anak menonton televisi yang mendidik maupun yang menghibur ia akan

mengharapkan gurunya suka menyanyi dan menari, yang mana faktanya

adalah anak kecil memahami benar bahwa kedua dunia itu terpisah, begitu

pula konvensi – konvensi televisi dan ruang kelas.

Dr. Jack Lyle, yang menjabat sebagai Director of Communication Institute

The West Center di depan rapat staf Menteri Penerangan Republik Indonesa

mengungkapkan pemikirannya terhadap televisi sebagai media audio visual

dalam hal keefektifan menjalankan fungsinya menyatakan bahwa “Televisi

menyajikan ‘jendela dunia’. Apa yang kita lihat melalui jendela tersebut

membantu untuk berkreasi seperti yang telah disebut beberapa tahun lalu oleh

Walter Lippman sebagai ‘gambaran dalam pikiran’, dan gambaran inilah yang

merupakan bagian penting dari proses pembelajaran setiap individu, terutama

sekali yang berhubungan dengan rasa menghargai orang lain, tempat – tempat,

14

Chen, Milton. Anak – Anak dan Televisi, (1996), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

(12)

situasi – situasi yang tidak setiap orang pernah bertemu secara langsung

maupun yang telah memiliki pengalaman.” Selanjutnya televisi sebagai media

audio visual menghasilkan pengalaman tiruan (simulated experience), dan justru

dari sini akan memberikan kesan mendalam bagi penonton, membuatnya tertarik

pada hal – hal baru dan ingin menggali lebih banyak dan mendalam, akan lebih

bermanfaat lagi jika televisi dimanfaatkan sebagai media pendidikan.

Patricia Marks Greenfield dan Jessica Beagles-Roos mengadakan penelitian

pada anak dengan kelompok usia 6 – 10 tahun dengan cara membandingkan

peran televisi dan radio dengan menampilkan suatu cerita yang disertai dengan

kegiatan menguji ingatan anak kemudian menganalisa hasil respon anak

terhadap kedua media tersebut. Ternyata hasilnya adalah televisi dapat

memperjelas peranannya sebagai media pendidikan. Penyajian melalui radio

sama halnya dengan yang terjadi di ruang kelas dimana sisi audio lebih dominan

untuk dipakai oleh anak karena rangsangannya berupa kata – kata, sedangkan

pada televisi ada tambahan berupa ilustrasi visual yang dinamis. Sejalan dengan

hasil penelitian tersebut, Dr. Oemar Hamalik dalam bukunya Media Pendidikan

mengutip pendapat A.S. Franklin Durham yang ditulis dalam bukunya Television

In Our School tentang siaran pendidikan untuk sekolah, melalui media massa televisi sebagai berikut:

“Sebuah komunikasi, televisi adalah unik terhadap kemampuannya untuk

menyajikan banyak sisi lain ke dalam ruang kelas. Setiap bantuan rangsangan

audio dan visual seperti yang telah kita ketahui dapat diperoleh dari televisi,

gambar bergerak, film strip, slide (terutama untuk menyediakan setting untuk

produksi drama), rekaman, gambar, peta, dan tak terhitung banyaknya peralatan

instruksional yang terlebih lagi memberikan kesempatan pada sekolah untuk

menyajikan suasana kesegaran, orisinil, ilustrasi kreatif yang dihasilkan saat ini.”

Pendapat tersebut lebih meyakinkan bahwa melalui media televisi dapat

membantu memecahkan masalah – masalah pendidikan, yang berarti bahwa

televisi mampu meningkatkan kemampuan belajar. Alih – alih sajian tayangan

negatif dari produsen TV, dengan berdasar pada penelitian sebelumnya,

sebenarnya televisi adalah media potensial dalam menyampaikan pendidikan,

karena dengan adanya televisi dapat memacu mengembangkan daya nalar serta

(13)

daya reka anak sehingga mampu meningkatkan dan mendukung efektivitas dan

efisiensi proses belajar anak sebesar 20% – 50%15.

3.1.4. Dukungan Pemerintah Terhadap Perkembangan Media Televisi

Sebagai Media Edutainment

Fenomena televisi yang menjadi candu bagi masyarakat saat ini nampaknya

menjadi pemikiran serius bagi pihak pemerintah negara – negara berkembang,

tak terkecuali Indonesia. Dengan melihat permasalahan dan kondisi yang ada

dalam dunia pertelevisian kita yang tidak sehat disertai dengan kondisi

pendidikan saat ini, seperti terbatasnya produksi buku dan penyebarannya,

jumlah kelas untuk belajar, dan juga jumlah peralatan laboratorium, maka

pemerintah begitu sangat melirik pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan

masyarakat dari semua jenjang pendidikan maupun praktisi untuk berjalan sesuai

dengan arah dan tujuan UU RI nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional dan amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,

dimana tercakup di dalamnya kewajiban untuk melakukan peningkatan mutu

pendidikan, pemerataan akses pendidikan, faktor geografis, keterbatasan sarana

dan prasarana, globalisasi informasi, dan memotivasi masyarakat gemar belajar.

Dari latar belakang itulah Departemen Pendidikan Nasional melalui departemen

Pusat Teknologi Komunikasi (Pustekkom) mulai melakukan persiapan untuk

mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada

tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi

Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE) yang terletak di Ciputat,

Jakarta Selatan16

.

Materi program siaran pada TV Edukasi meliputi 4 komposisi pokok, yaitu

program pendidikan formal (meliputi pendidikan untuk PAUD, SD, SMP, SMA,

Perguruan Tinggi) sebesar 30%, non formal (paket B, C, dan keterampilan)

sebesar 30%, informal (pentas dongeng, lensa siswa, ungkapan budaya,

dokumenter, sinetron, micro teaching, science club, fisika itu asyik) sebesar 20%,

dan informasi pendidikan (straight news dan feature) sebesar 20%, yang

disiarkan melalui 2 sistem distribusi utama, yaitu langsung melalui TVRO

(Television Received Only; menggunakan parabola) dan siaran relay melalui TVRI (Televisi Republik Indnesia), dengan menayangkan jadwal siaran formal

15

Ibid no.3

16

Survey data Televisi Edukasi oleh penulis, 01 April 2010

(14)

selama 45 menit/mata pelajaran pada jam – jam sekolah dengan maksud untuk

dijadikan sebagai media sumber belajar.

Dengan diwujudkannya TV Edukasi sebagai media home-centered learning

(pembelajaran yang berpusat di rumah) membuktikan bahwa pemerintah sangat

mendukung lahirnya stasiun televisi yang mendedikasikan diri pada kemajuan

belajar anak.

3.2. Latar Belakang Pemilihan Lokasi Kota Surakarta dan Kondisi

Penyiaran Televisi

3.2.1. Latar Belakang Pemilihan Lokasi Kota Surakarta

Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan kota Surakarta layak untuk

dijadikan lokasi stasiun televisi swasta anak. Beberapa pertimbangan tersebut

antara lain:

1) UU RI No 32 Tahun 2002 memberikan kesempatan perkembangan Lembaga

Penyiaran Lokal

Dalam UU No 32/2002 tentang penyiaran, pasal 6 ayat 3 berbunyi “Dalam

sistem penyiaran nasional terdapat lembaga penyiaran dan pola jaringan yang adil dan terpadu yang dikembangkan dengan membentuk stasiun jaringan dan stasiun lokal.“ Stasiun penyiaran jaringan adalah stasiun televisi lokal yang bekerja sama dengan stasiun televisi swasta nasional. Munculnya

peraturan ini sempat menimbulkan polemik karena dengan demikian stasiun

televisi nasional harus mempunyai stasiun penyiaran jaringan (stasiun relay)

di setiap daerah di Indonesia, jika tidak maka stasiun televisi nasional

tersebut akan menjadi stasiun televisi lokal.

Selain itu pasal 31 ayat 1 undang-undang yang sama menyatakan “Lembaga

penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau jasa penyiaran televisi terdiri atas stasiun penyiaran jaringan dan atau stasiun penyiaran lokal.” Hal ini tentunya membuka kesempatan stasiun TV lokal menunjukkan potensinya, termasuk di kota Surakarta.

2) Mendukung Pengembangan Kota

Perkembangan kota merupakan wujud beberapa kebijakan penting dari

bidang pembangunan kota Surakarta yang ditegaskan dalam Rencana

Strategis Daerah antara lain17:

17

http://www.surakarta.go.id

(15)

Ø Bidang ekonomi dengan pengembangan industri, revitalisasi obyek-obyek wisata, penggalian obyek dan daya tarik wisata yang baru

Ø Bidang kebudayaan dengan meningkatkan kualitas dan ketahanan

budaya, mengembangkan kebudayaan khas yang bersumber dari

warisan budaya luhur bangsa dan budaya daerah dan meningkatkan

apresiasi seni dan budaya tradisional daerah bagi pengembangan

pariwisata daerah.

Ø Bidang komunikasi dan media massa dengan meningkatkan kerjasama

kemitraan antara pemerintah kota, media massa dan masyarakat dalam

memantapkan kualitas demokrasi dan keseimbangan informasi,

meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi dan komunikasi

pembangunan dan hasil-hasilnya.

Oleh karena itu pengembangan berbagai bidang pembangunan tersebut

dapat dibantu dengan dilakukan promosi melalui media penyiaran, oleh karena

itu bisa dikatakan bahwa stasiun televisi dapat membantu pertumbuhan kota.

Selain itu potensi kota yang semakin kian berkembang dan dikenal internasional

semenjak ditetapkannya Bandara Adi Sumarmo sebagai bandara internasional

melalui event – event kebudayaan seperti Solo International Ethnic Music

(SIEM), Solo International Performing Art (SIPA) yang kini rutin digelar setiap

tahun dengan dihadiri oleh berbagai kalangan usia artis (termasuk anak – anak

dari berbagai negara), dan tak ketinggalan pula gelaran Solo Batik Carnival

(SBC) mampu menarik minat pengunjung baik domestik maupun internasional,

yang secara tidak langsung memancing investor mengembangkan bisnisnya di

kota ini (sebagai contoh, menjamurnya pusat perbelanjaan dan pasar – pasar

modern, hotel, apartemen dan lifestyle, misal dibangunya hotel Ibis, Best

Western Premier, dan apartemen Solo Paragon yang kesemua unit sudah full

booked, bahkan dalam dunia pendidikan kini semakin banyak sekolah bertaraf

internasional, khususnya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) menjadi

sasarannya. Dan tak ketinggalan pula event olah raga yang diselenggarakan di

Manahan). Dari beberapa hal tersebut media penyiaran televisi memang patut

dibutuhkan untuk memberikan lebih banyak informasi potensi kota melalui

promosi, dan ini saatnya pemupukan potensi dan bakat generasi muda (juga

sebagai media penguat pondasi anak agar tidak terlarut terjadinya akulturasi

budaya yang berlebihan di masa mendatang).

(16)

3.2.2. Kondisi Penyiaran Televisi

Stasiun televisi regional hadir sebagai pionir di kota Surakarta atas nama TA

TV (Terang Abadi Televisi) pada bulan April tahun 2004 dengan Channel 50

UHF. PT Terang Abadi Televisi hadir dengan visi memberi sumbangsih yang

berarti guna kemajuan daerah dan masyarakat pemirsa dalam segala bidang

kehidupan, melalui perubahan paradigma berpikir dan berperilaku, dengan

langkah-langkah strategis berupa misi yaitu menjadi televisi yang memberi

pencerahan pada paradigma berpikir dan berperilaku masyarakat pemirsa

menuju pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, dan tujuan membangun

pola berpikir masyarakat supaya lebih baik lagi, sehingga dapat membangun

manusia Indonesia seutuhnya. Dengan menggunakan pemancar 10 KW Sistem

terbaru dari Italia yang berada di Patuk Gunung Kidul berjajar dengan tower 2

televisi nasional, TATV mampu menjangkau daerah layanan coverage meliputi

Subosukawonosraten (Kota Solo, Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten,

Wonogiri, Sukoharjo, Wonogiri). Propinsi Yogyakarta (Bantul, Sleman,

Wonosobo), Magelang, Kebumen, Kudus dan sekitarnya. Sekarang ini TATV

sudah menyiar lebih dari 15 jam penyiaran, akhir 2007 menjadi 18 jam penyiaran,

dengan pola 60% in house program (program produksi sendiri) dengan

mengusung tema kelokalan baik dari segi berita, talk show, maupun hiburannya

dengan slogannya TATV MANTEB (MAsa kini daN TEtap berBudaya)18. Namun

walau sudah menyajikan produk lokal, bahkan sering menggelar promosi event

off air seperti konser musik Ari Lasso di Stadion Sriwedari Solo, launching

beberapa produk nasional (Telkomsel Halohybrid, Esia, Suzuki Karimun Estilo,

Suzuki New Shogun, dan sebagainya) tampaknya kondisi TA TV sekarang

semakin lesu, ditandai dengan beberapa kendala seperti materi program yang

kurang menarik (monoton) dan terutama masalah teknis audio dan penampilan

layar yang tidak jernih.

4. PERMASALAHAN DAN PERSOALAN

4.1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang mengenai kondisi pertelevisian secara global,

permasalahan anak dan teman televisinya, kondisi perkembangan kota

Surakarta terhadap perkembangan bisnis dan anak ke depan, dan kondisi

pertelevisian kota Surakarta saat ini, ditarik suatu permasalahan:

18

http://id.wikipedia.org/wiki/Terang_Abadi_TV

(17)

Bagaimana merancang stasiun televisi swasta anak di Surakarta sebagai media

edutainment yang berfungsi sebagai sarana penyiaran program khusus anak

berusia 2 sampai dengan 10 tahun dengan disertai fasilitas edukasi rekreatif dan

rekreasi edukatif sebagai sarana eksplorasi pengembangan potensi dan bakat

anak yang atraktif, informatif, dan komunikatif?

4.2. Persoalan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka persoalan yang harus

diselesaikan meliputi:

1) Penentuan jenis kegiatan penyiaran program anak usia 2 – 10 tahun dan

pendukungnya yang diwadahi, pola kegiatan, kebutuhan ruang, besaran

ruang, organisasi ruang, pola peruangan dalam bangunan, dan persyaratan

ruang yang harus dipenuhi

2) Penentuan lokasi dan tapak yang sesuai untuk pendirian bangunan stasiun

televisi

3) Penentuan pencapaian dan sirkulasi dalam tapak, kaitannya dengan kegiatan

pertelevisian

4) Penentuan tata massa bangunan, tata ruang kawasan, dan ekspresi bentuk

tampilan bangunan yang disesuaikan dengan karakter bangunan

pertelevisian dan anak usia 2 – 10 tahun

5) Penentuan sistem struktur, akustik, dan utilitas yang digunakan dalam

bangunan stasiun televisi anak

6) Penentuan bahan dan material yang mampu mendukung fungsi peruangan

dan bangunan stasiun televisi anak yang direncanakan

5. TUJUAN DAN SASARAN

5.1. Tujuan

Menyusun konsep perencanaan dan perancangan Stasiun Televisi Swasta

Anak di Surakarta sebagai media edutainment yang berfungsi sebagai sarana

penyiaran program khusus anak berusia 2 sampai dengan 10 tahun dengan

disertai fasilitas edukasi rekreatif dan rekreasi edukatif sebagai sarana

eksplorasi pengembangan potensi dan bakat anak dalam ungkapan visual

bangunan yang atraktif, informatif, dan komunikatif.

5.2. Sasaran

Menyusun konsep Stasiun Televisi Swasta Anak yang meliputi :

(18)

a) Rumusan konsep jenis kegiatan penyiaran program anak usia 2 – 10 tahun

dan pendukungnya yang diwadahi, pola kegiatan, kebutuhan ruang, besaran

ruang, organisasi ruang, pola peruangan dalam bangunan, dan persyaratan

ruang yang harus dipenuhi

b) Rumusan konsep lokasi dan tapak yang sesuai untuk pendirian bangunan

stasiun televisi

c) Rumusan konsep pencapaian dan sirkulasi dalam tapak, kaitannya dengan

kegiatan pertelevisian

d) Rumusan konsep tata massa bangunan, tata ruang kawasan, dan ekspresi

bentuk tampilan bangunan yang disesuaikan dengan karakter bangunan

pertelevisian dan anak usia 2 – 10 tahun

e) Rumusan konsep sistem struktur, akustik, dan utilitas yang digunakan dalam

bangunan stasiun televisi anak

f) Rumusan konsep bahan dan material yang mampu mendukung fungsi

peruangan dan bangunan stasiun televisi anak yang direncanakan

6. LINGKUP DAN BATASAN PEMBAHASAN

6.1. Lingkup Pembahasan

Pembahasan diorientasikan pada hal-hal untuk menjawab permasalahan

dalam lingkup disiplin ilmu arsitektur yang sesuai dengan tujuan sasaran dan

berkaitan dengan proses perencanaan dan perancangan stasiun televisi swasta

anak di Surakarta

6.2. Batasan Pembahasan

Pembahasan dibatasi pada pemecahan permasalahan arsitektural bangunan

dengan didasari pada pendekatan konsep perencanaan dan perancangan.

7. METODE PEMBAHASAN

Untuk mempermudah pemahaman, pembahasan dikemukakan dengan cara

mengupas hal- hal yang bersifat umum ke hal- hal yang bersifat khusus. Tahap

yang dilakukan adalah sebagai berikut:

7.1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara :

a) Studi literatur: diperoleh dari buku referensi maupun tulisan yang membahas

tentang keterkaitannya dengan judul konsep project tugas akhir yang

diajukan

(19)

b) Studi lapangan: data didasarkan pada hasil survey yang berupa wawancara

dengan sumber-sumber yang terkait, data teknis dan data dokumentasi

c) Studi komparasi: membuat perbandingan dengan objek sejenis yang sudah

ada

7.2. Analisa Data

Dilakukan pengolahan data-data yang telah terkumpul dan dikelompokkan

berdasarkan pemrograman fungsional dan arsitektural yang mengacu pada:

a. Analisa fungsional bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan stasiun

televisi, termasuk kegiatan pengguna, kebutuhan dan aktivitas pertelevisian.

b. Analisa arsitektural bertujuan untuk menganalisa masalah persyaratan atau

kriteria pemilihan site, pengolahan site, persyaratan dan program ruang,

bentuk massa, ruang, tampilan, material dan struktur bangunan yang

menyatukan antara tuntutan kebutuhan pengguna dengan persyaratan yang

ada.

Analisa yang dilakukan dikaitkan dengan permasalahan yang ada sehingga

menghasilkan sintesa dan kesimpulan sebagai faktor- faktor pemecahan dan

dasar dalam penyusunan konsep untuk mencapai tujuan dan sasaran.

Penyusunan konsep kemudian dibahas dan disajikan dengan cara deskriptif

disertai gambar dan diungkapkan dengan cara yang sistematis.

7.3. Konsep Perencanaan dan Perancangan

Dari proses analisa dan sintesa arsitektural akan dihasilkan beberapa

konsep yaitu konsep lokasi dan site, konsep tata landscape, konsep tata massa,

konsep peruangan, konsep tampilan bangunan, konsep material, struktur, dan

utilitas bangunan.

8. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I PENDAHULUAN

Menjelaskan tentang pengertian judul, latar belakang,

permasalahan, persoalan, tujuan dan sasaran, lingkup dan

batasan pembahasan, metode pembahasan, dan sistematika

penulisan Stasiun Televisi Swasta Anak di Surakarta yang

direncanakan.

(20)

BAB II TINJAUAN TEORI

Memaparkan tinjauan teori mengenai dunia penyiaran, televisi,

akustik studio, dunia anak, dan studi komparasi objek stasiun

televisi yang telah ada.

BAB III TINJAUAN SURAKARTA

Tinjauan umum kota Surakarta, kondisi eksisting kawasan

perencanaan dan potensi-potensi yang ada sebagai lokasi Stasiun

Televisi Swasta di Surakarta yang direncanakan.

BAB IV STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA YANG

DIRENCANAKAN

Menguraikan pembahasan mengenai stasiun televisi yang

direncanakan beserta pendekatan-pendekatannya.

BAB V ANALISA DAN PENDEKATAN KONSEP PERENCANAAN DAN

PERANCANGAN STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI

SURAKARTA

Berisi analisa pendekatan perencanaan dan perancangan yang

mencakup analisa pola kegiatan, kebutuhan ruang, besaran

ruang, organisasi ruang, pola peruangan dalam bangunan lokasi,

persyaratan ruang, tata massa bangunan, tampilan bangunan,

site, pencapaian, orientasi, gubahan massa, sistem material

akustik, struktur, dan utilitas bangunan yang nantinya menjadi

konsep dasar perencanaan dan perancangan bentuk fisik

bangunan Stasiun Televisi Anak.

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN STASIUN

TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA

Penyajian rumusan konsep sebagai hasil dari pembahasan

analisa yang telah dilakukan sebelumnya, untuk kemudian

digunakan sebagai dasar perancangan desain fisik Stasiun

Televisi Swasta Anak di Surakarta.

(21)

Gambar 3.1 Peta Kota Surakarta (Sumber: Dokumentasi pribadi)

BAB III

TINJAUAN SURAKARTA

1. KONDISI FISIK

Kota Surakarta terletak antara 1100 – 1110 BT dan 7,60 – 80 LS. Kota

Surakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata–rata 92 m di atas

permukaan air laut. Kondisi topografinya relatif datar dengan kemiringan rata–

rata (0–3)0. Di bagian utara agak bergelombang dengan kemiringan kurang lebih

50. Sebagian besar tanahnya berupa tanah liat dengan pasir (regosol kelabu). Di

bagian utara pada beberapa tempat berupa tanah padas dan agak berbatu.

Kota Surakarta memiliki iklim tropis dengan musim kemarau dan musim

hujan. Kelembapan udara kota sebesar 73 %. Curah hujan rata–rata 2.200 %

mm/ tahun. Suhu udara rata–rata 260, suhu udara maksimum 32,300 C, dan

suhu udara minimum 21,700 C1.

Luas wilayah Kota Surakarta adalah 440,040 km (4.404ha), terdiri dari 5

kecamatan dan 51 kelurahan. Secara administrasi kota Surakarta berbatasan

dengan:

» Utara : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali

» Timur : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar

» Selatan : Kabupaten Sukoharjo

» Barat : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar

1

http://www.surakarta.go.id

81

(22)

2. KONDISI NON FISIK

2.1. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana kota Surakarta yang cukup penting meliputi jalan,

angkutan darat dan udara, lembaga perbankan, telekomunikasi dan lain-lain.

Untuk sarana angkutan darat di wilayah kota Surakarta terdapat teminal bis

Tirtonadi, Stasiun Balapan, Porwosari, Jebres. Sedangkan untuk sarana

angkutan udara terdapat bandara Adi Sumarmo sebagai bandara internasional.

2.2. Rencana Umum Tata Ruang Kota Surakarta

Berdasarkan Permendagri No. 2 Tahun 1987 dan Kepmen No.

640/KPTS/1986, RUTRK kota Surakarta bertujuan untuk memberikan arahan

penataan ruang kota secara makro yang diharapkan menjadi dasar pedoman

pelaksanaan pembangunan kota. Sejalan dengan hal tersebut, maka

keberadaan Stasiun Televisi Swasta Anak di Surakarta disesuaikan relevansinya

dengan segi perencanaan kota.

A. Fungsi dan Peran Kotamadya Surakarta

1) Fungsi khusus guna pengembangan Trikrida Utama, yang diharapkan

menjadi jati diri kota, yaitu pengembangan pariwisata, budaya dan

olahraga.

2) Fungsi umum, yaitu pembangunan sektor industri, pendidikan dan

administrasi.

3) Peran kawasan sebagai Pusat Kota Wilayah Perkotaan Surakarta, peran

makro sebagai pusat pertumbuhan Propinsi Jawa Tengah.

B. Rencana Pembagian Satuan Wilayah Pengembangan

Berdasarkan Perda No. 1 tahun 1989, wilayah Kota Surakarta dibagi dalam

4 wilayah pengembangan, yaitu :

Penggunaan Ruang Kota RUTRK

Ha %

Wisata budaya 99,9 2,25

Olahraga 79,27 1,00

Jasa Wisata 55,05 1,25

Perdagangan 264,24 6,00

Perkantoran komersial 44,04 1,00

Perkantoran pemerintah 77,07 1,75

Pendidikan 253,23 5,75

Fasilitas Sosial 121,11 2,75

Fasilitas Transportasi 44,04 1,00

Industri 85,88 2,00

Perumahan 2.642,44 60,00

Ruang terbuka 22,02 0,05

Fasilitas Khusus 11,01 0,25

Lain-lain (jalan sungai, dll) 605,58 0,25

Jumlah 4.404,07 13,70

Tabel 3.1 Penggunaan ruang kota menurut RUTRK (Sumber: Bappeda Surakarta)

(23)

· Wilayah Pengembangan Utara.

· Wilayah Pengembangan Barat.

· Wilayah Pengembangan Timur, dan

· Wilayah Pengembangan Selatan.

Secara makro, perkembangan tata ruang Surakarta dicirikan sebagai daerah

transisi antara kegiatan perumahan dan kegiatan komersial dan fasilitas umum

yang berkembang di dalam wilayah administratif Kotamadya Surakarta. Di dalam

wilayah kotamadya, pusat kota berkembang di sekitar dua keraton, yaitu

Kasunan dan Mangkunegaraan yang berkembang menjadi daerah perdagangan

atau niaga, perkantoran, dan hiburan serta jasa. Pusat-pusat kegiatan lain diluar

pusat kota, berkembang menjadi satelit pusat kota. Beberapa satelit pusat kota

berkembang secara linear maupun terpusat. Kegiatan-kegiatan yang ada

berkembang menjadi daerah komersial, niaga, dan jasa terutama di jalan-jalan

utama dan daerah elite2.

RUTRK sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan memuat rencana

pembagian satuan wilayah pengembangan. Wilayah Kotamadya Surakarta dibagi

menjadi 4 wilayah pengembangan. yang terbagi dalam 10 Sub Wilayah

Pengembangan (SWP). Pembagiannya sebagai berikut :

1) SWP I dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Pucangsawit meliputi 6

kelurahan (Pucang Sawit, Jagalan, Sewu, dan Semanggi).

2) SWP II dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Kampung Baru meliputi 12

kelurahan (Kampung Baru, Kepatihan Kulon, Kepatihan Wetan,

2

RUTRK Kota Surakarta Tahun 1993-2013, Hal II.2

Wilayah pengembangan Barat (Pabelan,

Kartasura)

Wilayah pengembangan Timur (Palur, Jaten)

Wilayah Pengembangan Selatan (Grogol, Baki,

Mojolaban)

1100 BT

1110 BT

7.60 LS

80 LS Wilayah

Pengembangan Utara

(Colomadu)

Gambar 3.2 Rencana pengembangan wilayah (Sumber: RUTRK Kota Surakarta Tahun 1993-2013)

(24)

Purwodiningratan, Gilingan, Kestalan, Keprabon, Ketelan, Timuran,

Punggawan, Stabelan, dan Sudiroprajan)

3) SWP III dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Gajahan meliputi 12

kelurahan (Joyotakan, Danukusuman, Serengan, Kratonan, Jayengan,

Kemlayan, Pasarkliwon, Gajahan, Kauman, Baluwarti, Kedung Lumbu, dan

Joyosuran)

4) SWP IV dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Sriwedari meliputi 8

kelurahan (Tipes, Bumi, Panularan, Penumping, Sriwedari, Purwosari,

Manahan, dan Mangkubumen)

5) SWP V pusat pertumbuhan di Kelurahan Sondakan meliputi 3 kelurahan

(Pajang, Laweyan, Sondakan)

6) SWP VI dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Jajar meliputi kelurahan

(Karang Asem, Jajar, Kerten)

7) SWP VII dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Sumber meliputi 2

kelurahan (Sumber, Banyuanyar)

8) SWP VIII dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Jebres meliputi 2

kelurahan (Jebres, Tegalharjo)

9) SWP IX dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Kadipiro meliputi 2

kelurahan (Kadipiro, Nusukan)

10) SWP X dengan pusat pertumbuhan di Kelurahan Mojosongo meliputi 1

kelurahan (Mojosongo)

C. Rencana Pemanfaatan Ruang Kota

Mencakup arah pemanfaatan ruang kota yang menggambarkan lokasi

intensitas tiap bangunan. Kegiatan yang disediakan ruangnya dalam wilayah

Gambar 3.3 Peta satuan wilayah pembangunan daerah Surakarta (Sumber: RUTRK Kota Surakarta Tahun 1993-2013)

IX : Potensi industri

VIII : Potensi pendidikan, industri

dan wisata

I : Potensi industri dan wisata

III : Potensi wisata, budaya dan perdagangan II : Potensi wisata,

budaya dan olahraga IV : Potensi pendidikan

dan home industri V : Potensi pendidikan VI : Potensi pendidikan,

industri dan wisata

VII : Potensi perumahan X : Potensi perumahan

(25)

Kotamadya Dati II Surakarta mengacu pada pengembangan delapan fungsi di

masa mendatang, yaitu : areal pariwisata, kebudayaan, olah raga, relokasi

industri, pendidikan, perniagaan, pertokoan dan perbelanjaan, arel perkantoran,

serta lingkungan perumahan. Kedelapan fungsi tersebut akan dikembangkan

hingga tahun 2013, merupakan aktivitas primer Kodya Dati II Surakarta.

SWP POTENSI LOKASI

Wisata Budaya OR Industri Pendidikan Dagang Kantor Rmh

I X Pucang sawit

II X X X X Mangkunegaran,

balaikota, kawasan Komersial

III X X X Keraton,

kawasan komersial

IV X X Sriwedari, balai

kambang, Manahan

V X Sondakan,

Laweyan

VI X X Jajar

VII X Sumber,

Banyuanyar

VIII X X X Taman jurug,

UNS, kawasan Komersial

IX X X Kadipiro

Dari Peta Satuan Wilayah Pembangunan dan Tata Guna Lahan Daerah

serta potensi penyediaan ruang untuk fungsi kota Surakarta di atas, wilayah yang

sesuai untuk didirikan Stasiun Televisi Swasta adalah pada SWP VI, dengan

pertimbangan yaitu sesuai daerah peruntukan fasilitas perkantoran dan

pendidikan, keberadaan lokasi tidak terlalu jauh dari pusat kota, dan kemudahan

akses dari dalam maupun luar kota.

D. Rencana Penataan Bangunan

1) Penataan Lingkungan dan Bangunan

Penataan kepadatan bangunan pada penggal jalan utama untuk tiap SWP

di kota Surakarta :

a. Kawasan peruntukan Angka Lantai Dasar (ALD) tinggi (>75%), untuk

bangunan dengan Ketinggian Bangunan (KB) maks. 4 Lantai, yang

berfungsi komersial di daerah perdagangan.

b. Kawasan peruntukan Angka Lantai Dasar (ALD) sedang (50 - 75%), untuk

bangunan dengan Ketinggian Bangunan (KB) maks. 8 Lantai, yang

berfungsi komersial di daerah perdagangan, serta KB maks. 2 Lantai

untuk perumahan.

Tabel 3.2 Potensi lokasi dalam penyediaan ruang untuk fungsi kota (Sumber: RUTRK Kota Surakarta Tahun 1993-2013)

(26)

c. Kawasan peruntukan Angka Lantai Dasar (ALD) rendah (20 - 50%), untuk

bangunan dengan Ketinggian Bangunan (KB) min. 9 Lantai, yang

berfungsi komersial di daerah perdagangan, serta KB maks. 2 Lantai

untuk industri.

2) Penataan Bangunan Bertingkat Banyak

a. Sangat potensial

Sepanjang jalan Slamet Riyadi, Urip Sumoharjo, Sudirman, Yos Sudarso,

Gatot Subroto, dan Dr. Rajiman (Coyudan).

b. Potensial

Sepanjang jalan A.Yani, Kapt. Mulyadi, Gajah Mada, Sutan Syahrir, S.

Parman, Sudiarto, Veteran, Honggowongso, dan Kol. Sutarto.

c. Cukup potensial

Sepanjang jalam R.M. Said, Akhmad Dahlan, Juanda Teuku Umar,

Ronggowarsito, Kartini, Monginsidi, Dr. Rajiman (Laweyan), Adi Sucipto,

Dr. Moewardi, dan Katamso.

3) Penataan Perpetakan Bangunan Jalan – Jalan Utama

a. Kawasan peruntukan dan penggal jalan dengan petak > 5000 m2 untuk

KB min 9 lantai

b. Kawasan untuk peruntukan dan penggal jalan dengan petak

2000-5000m2 untuk KB max 8 lantai.

c. Kawasan peruntukan dan penggal jalan dengan petak 1000-2500m2

untuk KB max 4 lantai.

d. Kawasan peruntukan dan penggal jalan dengan petak < 1000 m2 untuk

KB max 2 lantai.

4) Penataan Ketinggian Bangunan

Materi atau kriteria perancangan yang diatur dalam penataan ketinggian

bangunan adalah jumlah lantai ketinggian bangunan maksimum pada

jalan-jalan utama di tiap Sub Wilayah Pengembangan Kota Surakarta yaitu:

a. Ketinggian bangunan sangat rendah, yaitu blok dengan bangunan tidak

bertingkat maksimum 2 lantai dengan tinggi puncak dasar dan dengan

Angka Luas Lantai = 2 x Angka Lantai Dasar

b. Ketinggian Bangunan Rendah, yaitu blok dengan bangunan bertingkat

maksimum 4 lantai dengan tinggi puncak maksimum 20m dan minimum

12m dan lantai dasar dan dengan Angka Luas Lantai maksimum =

(27)

c. Ketinggian Bangunan Sedang, yaitu blok dengan bangunan bertingkat

maksimum 8 lantai dengan tinggi puncak bangunan maksimim 36m dan

minimum 24m dari lantai dasar dan Angka Luas Lantai maksimum =

8xAngka Lantai Dasar.

d. Ketinggian Bangunan Tinggi, yaitu blok dengan bangunan bertingkat

minimum 9 lantai dengan tinggi puncak bangunan minimum 40m dari

lantai dasar dan Angka Luas Lantai minimum = 9xAngka Lantai Dasar,

maksimum 20 lantai dengan tinggi puncak bangunan maksimum 84m dari

lantai dasar dan Angka Luas Lantai = 20xAngka Lantai Dasar.

2.3. Kondisi Kependudukan

A. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2011 adalah 500.642 jiwa

terdiri dari 243.363 laki-laki dan 257.279 wanita, tersebar di lima kecamatan yang

meliputi 51 kelurahan. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100

orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya

sebesar 66%. Jumlah penduduk tahun 2003 jika dibandingkan dengan jumlah

penduduk hasil sensus tahun 2007 yang sebesar 488.834 jiwa, berarti dalam 3

tahun mengalami kenaikan sebanyak 83.708 jiwa. Catatan dari tahun 1880

memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa3.

Jika wilayah penyangga Surakarta juga digabungkan secara keseluruhan

(Soloraya - Surakarta + Kartasura, Colomadu, Baki, Grogol, Palur), maka

luasnya adalah 130 km2. Penduduknya berjumlah 850.000 jiwa.

3

Surakarta, dalam Retrobibliothek Online dari Meyers Knversationslexikon, Leipzig & Wien. 1885-1892

Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah

Pria Wanita Pria dan

Wanita

0-4 18.880 16.284 35.164

5-9 17.936 23.128 41.064

10-14 21.476 24.780 46.256

15-19 24.072 24.072 48.144

20-24 22.656 29.264 51.920

25-29 24.072 24.544 48.916

30-34 20.296 23.128 43.424

35-39 20.296 23.836 44.132

40-44 19.588 21.240 40.828

45-49 16.992 16.048 33.040

50-54 12.744 13.452 26.196

55-59 9.204 10.620 19.824

60-64 8.024 11.564 19.588

65+ 14.632 21.712 36.344

Jumlah 250.868 283.672 500.642

Tabel 3.3 Jumlah penduduk kota Surakarta tahun 2011 (Sumber: www.surakarta.go.id)

(28)

B. Penggolongan Penduduk Berdasar Kegiatan

Jenis Kegiatan Jenis Kelamin

Pria Wanita Jumlah

Bekerja 131.452 83.544 214.996 Pengangguran 17.228 8.968 26.196 Angkatan Kerja 148.680 92.512 241.192

Sekolah 28.792 30.208 59.000

Mengurus Rumah Tangga 6.608 90.624 97.232

Lainnya 8.496 6.316 14.632

Bukan Angkatan Kerja 43.896 126.968 170.864 Usia Kerja 192.576 219.480 412.056 Bukan Usia Kerja

(15 Th Keatas)

58.292 64.192 122.484

C. Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Indonesia (SUSENAS), jumlah

penduduk kota Surakarta mencapai 534.540 jiwa dengan rasio jenis kelamin

sebesar 84,44, yang artinya bahwa pada setiap 100 penduduk perempuan

terdapat sebanyak 88 penduduk laki-laki.

Tingkat kepadatan penduduk kota Surakarta mencapai 12.716 jiwa/km2.

Adapun proyeksi tambahan jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel sebagai

berikut :

2.4. Kondisi Perekonomian

Surakarta merupakan kota terbesar kedua di Jawa Tengah yang layak untuk

dijadikan tujuan investasi. Beberapa alasan yang melatarbelakanginya adalah:

1. Kondisi perekonomian dan sosial politik yang relatif stabil menjadikannya

sebagai tempat yang nyaman untuk berinvestasi.

2. Penduduknya memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang beragam

ditunjukkan dengan banyaknya universitas, akademi, sekolah tinggi, dan

institut. Menjadikan Surakarta sebagai penghasil sumber daya manusia yang

berkualitas.

3. Lokasi yang strategis di kawasan perdagangan Joglosemar (Jogjakarta, Solo,

Semarang) memudahkan untuk terkoneksi satu sama lain.

4. Beberapa industri mempunyai prospek ekonomi yang cukup baik.

Tahun Luas (km2) Jumlah penduduk

(jiwa)

Tk. Kepadatan (jiwa/km2)

1992 44,040 519.997 11.807

1993 44,040 527.767 11.984

1998 44,040 568.280 12.904

2003 44,040 602.910 13.690

2008 44,040 639.650 14.524

2013 44,040 678.620 15.409

Tabel 3.4 Penggolongan jumlah penduduk berdasar kegiatan (Sumber: www.surakarta.go.id)

Tabel 3.5 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kota Surakarta (Sumber: Biro Pusat Statistik)

(29)

5. Pelayanan perizinan investasi yang dapat dipercaya, efisien, mudah dan

transparan.

Adapun potensi Kota Surakarta adalah sebagai berikut :

1. Surakarta, kota dagang bersejarah yang hingga saat ini masih memegang

peranan sebagai pusat perdagangan dan jasa di wilayah Solo. Kota ini

menawarkan kesempatan yang begitu besar karena didukung oleh letak kota

yang strategis sebagai salah satu titik pusat perdagangan di Joglosemar

(Jogja, Solo, Semarang), dekat denganBandara Internasional Adi Sumarmo,

dan didukung oleh infrastruktur lainnya seperti terminal antar propinsi,

Stasiun Kereta Api Antar Propinsi, Rumah Sakit Nasionalterkemuka, Hotel

Bintang Lima, Universitas Terkemuka, Pusat Perbelanjaan Besardan kondisi

jalan raya yang baik. Tradisi manufaktur serta kualitas institusi pendidikan

yang dimiliki menjadikan kota ini memiliki angkatan kerja yang berdaya jual

untuk menarik investor baik dari dalam maupun luar negeri.

2. Wisatawan baik domestik maupun mancanagera merasakan kebanggaan

tersendiri ketika mengunjungi kota sejarah ini saat menyaksikan kemegahan

budaya dan peninggalan sejarah kerajaan pada masa itu. Ketenangan,

keramahtamahan masyarakatnya serta industri pariwisata Keraton Surakarta

menjadi prospek usaha luar biasa yang ditawarkan kota ini.

3. Dalam hal potensi investasi, kota yang dibatas oleh sungai Bengawan Solo

di bagian timur dan selatan ini dikenal sebagai kota yang fokus terhadap

sektor Manufaktur dengan angka kontribusi sebesar 25% diikuti dengan

perdagangan, restoran & hotel yang menyumbang 22,02%. Kota ini juga

dikenal dalam sektorkeuangan, pusat perdagangan dan jasa di wilayah Solo

dan penyedia tulang punggung manufaktur yang penting.

4. Hampir semua produk yang dihasilkan dipasarkan keluar wilayah melalui

jalur Surakarta itu sendiri, sehingga kota ini juga dikenal sebagai pusat

pemasaran hasil pertanian. Potensi yang kuat dalam peranannya sebagai

pusat distribusi dan bidang jasa menjadikan bidang tersebut fokus utama

untuk pengembangan lebih lanjut.

3. RELEVANSI STASIUN TELEVISI SWASTA ANAK DI SURAKARTA

3.1. Perkembangan Dunia Penyiaran Di Surakarta

Seiring dengan pertumbuhan kota yang semakin pesat skala nasional dan

(30)

fasilitas, Sumber Daya Manusia, begitu pula informasi menjadi sangat penting

untuk diikuti setiap waktu sebagai respon. Saat ini perkembangan dunia

penyiaran di kota Surakarta belum mengalami geliat nyata. RRI sebagai tonggak

sejarah hadirnya stasiun radio pertama milik pemerintah tidak mampu

berkembang, bahkan stasiun televisi lokal satu – satunya di Surakarta, TA TV,

juga belum mampu merepresentasikan dirinya sebagai media efektif penyaji

program siaran secara audio visual (terlebih program bagi anak sebagai tunas

bangsa) dan fasilitas stasiun televisi yang ideal.

3.2. Fasilitas Edutainment Sebagai Sarana Pengembangan Potensi Anak

di Surakarta

Aktivitas anak yang dilakukan setiap hari adalah bersekolah, menonton

televisi, dan bermain. Nampaknya kegiatan menonton televisi yang semakin

menggeser kegiatan anak bermain merupakan dua hal yang tak dapat

dipisahkan mengingat sudah terjadi perubahan gaya hidup. Orang tua sekarang

ini sulit memaksa anak untuk tidak menonton televisi, bahkan membatasi waktu

bermain. Hal ini sangat merugikan karena anak (dalam hal ini usia 2 – 10 tahun)

memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk memperoleh informasi sebagai

kegiatan belajar mereka dalam rangka memenuhi kewajiban tugas

perkembangan hidup. Di kota Surakarta sendiri stasiun televisi TA TV yang ada

belum dapat memenuhi kebutuhan anak tersebut baik dari unsur

informasi/edukasi maupun hiburannya, dan kondisi fasilitas edutainment anak

yang ada di kota Surakarta sendiri saat ini seperti kursus akademik yang tersebar

penjuru daerah di Surakarta, kursus musik Purwacaraka, kursus drum milik

Gilang Ramadan, kursus menyanyi Elfa’s Music, sanggar tari dalam lingkungan

keraton, fasilitas olahraga di Manahan, wahana bermain Taman Hiburan

Sriwedari (THR), Timezone, dan Amazone berupa wadah pengembangan yang

terpisah – pisah.

3.3. Potensi Dan Kebutuhan Stasiun Televisi Swasta Anak Di Surakarta

Melihat tinjauan kota Surakarta dan perkembangannya, terutama pada

kondisi anak maka dibutuhkan stasiun televisi swasta anak sebagai media

edutainment di Surakarta, sebagai wadah pengembangan potensi anak berusia 2

hingga 10 tahun. Hal ini didukung oleh peraturan Undang-Undang Penyiaran

Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 Bab III Pasal 6 ayat 3 yang berbunyi

“Dalam sistem penyiaran nasional terdapat lembaga penyiaran dan pola jaringan

(31)

yang adil dan terpadu yang dikembangkan dengan membentuk stasiun jaringan

dan stasiun lokal”, bahwa lembaga penyiaran kini tidak hanya dikuasai oleh

jaringan pertelevisian nasional saja namun dapat memberi kebebasan berdirinya

stasiun – stasiun televisi di luar metropolitan, sehingga daerah mampu

menampilkan potensi lokalnya melalui stasiun televisi lokal yang dikelola secara

mandiri oleh swasta. Ini berarti stasiun televisi yang direncanakan pada awal

pendiriannya berskala dan berskope regional pada batas waktu secepatnya

berkembang menjadi nasional. Pada khususnya stasiun televisi yang

direncanakan diperuntukkan bagi anak, namun pada umumnya secara

ketenagakerjaan stasiun televisi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat,

ini berarti dalam cara pandang yang luas stasiun televisi secara tidak langsung

membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Dan dengan

berbagai pertimbangan di atas pula kota Surakarta memiliki potensi pemasaran

yang cukup menguntungkan khususnya dalam bidang pertelevisian dan informasi

modern.

Gambar

Gambar 3.1 Peta Kota Surakarta
Gambar 3.2 Rencana pengembangan wilayah
Tabel 3.2 Potensi lokasi dalam penyediaan ruang untuk fungsi kota
Tabel 3.3 Jumlah penduduk kota Surakarta tahun 2011
+7

Referensi

Dokumen terkait

Secara keseluruhan dari lembaga penyiaran televisi swasta nasional itu, tidak satu pun dari mereka yang konsisten dalam mengaplikasikan peraturan khususnya tentang Sistem

Sementara dari hasil niche overlap antara Metro TV dan TV One, sebagai stasiun televisi spesialis dan televisi berita yang ada di Indonesia, kedua stasiun televisi ini

Akhir dengan Judul “ Peran Tim Kreatif Dalam Proses Produksi Program Acara Inbox Di Stasiun Televisi Surya Citra Televisi (SCTV )”.. Laporan ini berisi tentang semua kegiatan

Penelitian ini akan mencari tahu apakah audiens merasa puas dengan stasiun televisi swasta nasional, berdasarkan motif dan kepuasan yang sama dengan penelitian

Evaluasi kerasionalan klaim indikasi iklan obat saluran nafas (batuk) tanpa resep pada tayangan acara untuk anak-anak di stasiun televisi A, B, C, D selama dua minggu (periode Juli

Direktorat News memiliki tim sosial media yang khusus menangani akun media sosial dari acara-acara berita di empat stasiun televisi di bawah grup MNC.. Terdapat

Aspek perilaku agresif yang paling banyak ditemukan pada film animasi anak-anak yang ditayangkan di stasiun televisi nasional adalah agresi langsung aktif verbal

Beberapa acara kesenian Tradisional pernah menjadi acara favorit dibeberapa stasiun televisi swasta (Favorit tentunya berdasarkan rating, menurut data Survey Research