MODEL MANAJEMEN PERENCANAAN
KURIKULUM MIKRO DAN MAKRO
Disusun oleh:
Nama: Anik Damayanti
NIM: O100150009
Email: [email protected]
A. PENDAHULUAN
Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.
Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi Abad 21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi.
Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum, demikian dijelaskan oleh Rusman (2009) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Kurikulum. Kurikulum merupakan suatu sistem yang berisi program pembelajaran untuk mencapai tujuan institusional pada sebuah lembaga pendidikan.1 Oleh sebab itulah kurikulum menjadi komponen yang strategis dalam mewujudkan sekolah yang berkualitas mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakannya.
yang pernah diterapkan oleh pemerintah diantaranya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK 2004), Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP 2006), dan sekarang ini Kurikulum 2013 yang berbasis Kompetensi Inti.
Dengan seringnya terjadi perubahan kurikulum diperlukan pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum. Manajemen kurikulum ini menjadi aspek yang penting dalam keberhasilan pelaksanaan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Manajemen kurikulum ini dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh pihak pimpinan lembaga yang dikembangkan secara integral dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah.2
Ruang lingkup manajemen kurikulum mencakup perencanaan, perorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Makalah ini penulis susun hanya fokus pada tahap perencanaan kurikulum, menjelaskan tujuan perencanaan, model-model manajemen perencanaan kurikulum berikut tahapan-tahapannya, baik pada skala makro dan mikro.
B. KONSEP DASAR MANAJEMEN PERENCANAAN KURIKULUM 1. Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan yang kooperatif, komprehensif, sistemik dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.3 Manajemen kurikulum ini bersifat otonomi, artinya lembaga
pendidikan atau sekolah melaksanakan pengelolaan kurikulumnya secara mandiri dengan memprioritaskan kebutuhannya sendiri untuk mencapai sasaran dalam visi-misi pendidikannya, tanpa mengabaikan kebijaksanaan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Manajemen kurikulum yang mencakup proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum ini memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum.
2. Meningkatkan keadilan dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal.
3. Meningkatkan relevansi dan efektifitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik beserta lingkungannya.
4. Meningkatkan efektifitas kinerja pengajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
5. Menarik keterlibatan atau partisipasi masyarakat untuk membantu dan mengontrol implementasi kurikulum.
2. Perencanaan Kurikulum dan Fungsinya
Perencanaan kurikulum merupakan tahapan pertama dalam proses manajemen kurikulum. Terdapat lima hal yang mempengaruhi perencanaan kurikulum, yaitu filosofis, konten/materi, manajemen pembelajaran, pelatihan guru dan sistem pembelajaran.4
Perencanaan kurikulum mencakup pengumpulan, pembentukan, sintesis, menyeleksi informasi, yang relevan dari berbagai sumber. Kemudian informasi yang diperoleh, dipergunakan untuk mendesain pembelajaran belajar siswa untuk mencapai tujuan kurikulum yang diharapkan. Merencanakan pembelajaran merupakan bagian yang sangat penting dalam perncanaan kurikulum karena pembelajaran mempunyai pengaruh langsung terhadap siswa dan hasil pendidikan yang akan dicapai siswa.
Perencanaan kurikulum ini berfungsi sebagai pedoman atau alat manajemen yang berisi sumber daya manusia yang diperlukan, media pembelajaran yang digunakan, tindakan-tindakan yang perlu dilakukan, sumber biaya, tenaga, sistem monitoring dan evaluasi. Di samping itu, perencanaan kurikulum juga berfungsi sebagai pendorong untuk melaksanakan sistem pendidikan sehinngga mencapai tujuan yang dirumuskan.
3. Landasan Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum pendidikan harus mengasimilasi dan mengorganisasi informasi dan data secara intensif yang berhubungan dengan pengembangan program sekolah atau institusi. Di bawah ini informasi dan data yang dijadikan landasan dalam merencanakan kurikulum:
1. Kekuatan sosial
Perubahan sistem pendidikan di Indonesia sangat lah dinamis sebab mengunakan sistem terbuka sehingga selalu menyesuaikan dengan perubahan dan dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Proses pendidikan merupakan sebuah perjalanan sejarah sehingga harus bersikap adaptif terhadap perubahan sosial dan masyarakat. Inilah alasan kekuatan sosial menjadi salah satu landasan untuk merencanakan kurikulum.
2. Perlakuan pengetahuan
Perencana kurikulum yang berhubungan dengan perlakuan pengethuan adalah aktif mengumpulkan dan mengolah informasi untuk dikembangkan dan digunakan dlam rancang kurikulum yang selalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
3. Pertumbuhan dan perkembangan manusia
Penting untuk dipahami tentang pola-pola pertumbuhan dan perkembangan manusia sebab perencana kurikulum dituntut untuk mendesain kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa.
4. Tahapan Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum terbagi menjadi dua tahapan besar, yakni perumusan tujuan kurikulum dan isi kurikulum. Tujuan kurikulum terbagi menjadi tiga bagian yaitu tujuan umum, capaian dan tujuan jangka pendek. Tujuan umum merupakan rumusan yang menggambarkan keadaan yang diharapkan berdasarkan skema nilai yang bersifat filososfis. Capaian merupakan tujuan yang dirumuskan secara institusional berdasarkan jenjang pendidikan. Tujuan jangka pendek lebih berorientasi kepada hasil pembelajaran pada saat kelas berakhir dan dapat dinilai secara numerical dalam jangka waktu tertentu.
Isi kurikulum mencakup tiga elemen, yaitu pengetahuan, proses dan nilai sebab ketiganya merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan. Menurut Hyman5 (1973) menjelaskan bahwa pengetahuan berupa fakta, definisi dan
informasi ilmu pengetahuan; sedangkan proses mencakup ketrampilan atau keahlian yang butuh proses berlatih untuk mampu melakukannya; dan nilai merupakan norma yang berkaitan dengan benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek.
Terdapat empat hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum, yaitu organisasi isi kurikulum, ruang lingkup, sequens atau urutan kurikulum, dan kriteria pemilihan isi kurikulum. Organisasi logis dari materi kurikulum harus dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu. Dengan demikian prinsip, proposisi, dan konsepsi dapat diorganisasikan membentuk urutan yang saling mendukung antara disiplin ilmu.6
Ruang lingkup isi kurikulum mencakup kondisi umum dan khusus dari kebutuhan siswa. Kondisi yang bersifat umum berguna bagi proses interaksi dan pengembangan tingkat berfikir siswa secara equal (setara) dan keseluruhan, sedangkan kondisi khusus memperhatikan kebutuhan siswa yang berbeda misalnya yang memiliki kemampuan istimewa dibandingkan rata-rata yang ada.
Urutan isi kurikulum mengidentifikasi empat prinsip yang mendasari cara penyajian urutan materi, yaitu dari sederhana menuju kompleks, pelajaran
prasyarat, secara keseluruhan, dan kronologis. Contoh penyajian dari sederhana menuju kompleks biasanya untuk mata pelajaran struktur bahasa atau grammar, biologi, kimia. Pelajaran prasyarat misalnya untuk bisa menafsirkan Al-Quran diperlukan ilmu-ilmu alat pendukung tafsir, seperti kaidah Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Studi Al-Quran dan sebagainya. Penyajian secara keseluruhan bisa dilakukan untuk pelajaran geografi, dimulai dari mempelajari peta secara keseluruhan lalu menjadi lebih spesifik per region atau wilayah. Penyajian kronologis digunakan pada pelajaran sejarah.
Isi kurikulum menjadi dasar bagi pembentukan individu sehingga harus memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan sebagai individu dan anggota masyarakat yang saling berhubungan dalam lingkungan. Oleh sebab itu, kriteria dalam memilih dan menetapkan isi kurikulum harus mempertimbangkan tiga hal, yaitu tingkat perkembangan dan kematangan siswa, tingkat pengalaman siswa, dan taraf kesulitan materi.
C. MODEL MANAJEMEN PERENCANAAN/DESAIN KURIKULUM MAKRO Desain adalah rancangan atau model perencanaan. Mendesain kurikulum berarti menyusun kurikulum atau menyusun model kurikulum sesuai dengan kurikulum sekolah.7 Seorang perencana kurikulum layaknya seorang arsitek akan
memilih model bangunan yang akan dibangun.
John D. McNeil (2006) membagi model perencanaan kurikulum menjadi empat, yaitu model kurikulum humanistik, model kurikulum rekonstruksi sosial, model kurikulum sistemik, dan model kurikulum akademik. Namun dalam makalah ini hanya akan menjabarkan tiga model sebagaimana dijabarkan oleh Rusman (2009) dalam bukunya, yakni sebagai berikut:
1. Model Desain Kurikulum Humanistik
Sejak terjadinya revolusi industri di Eropa dan Amerika, kurikulum pendidikan dirancang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan intelektual untuk mendukung percepatan industri. Pendidikan hanya terfokus pada kecerdasan intelektual dan ketrampilan vokasional, tanpa disadari lahirlah manusia-manusia yang hanya mampu bekerja secara mekanis dan bergeser dari nilai-nilai humanis. Dengan perkembangan sains dan teknologi justru mengganggu keseimbangan kehidupan dengan alam. Akhirnya muncullah pemikiran untuk mengembalikan
nilai-nilai kemanusiaan ke dalam desain kurikulum pendidikan, yang disebut dengan model kurikulum humanistik.
Kurikulum humanistik mendukung pentingnya pemahaman diri dalam membantu perkembangan emosi dan jiwa anak serta keterampilan berfikir. Kurikulum humanistik mengutamakan aktifitas, eksplorasi, bermain, dan hal-hal yang penting untuk inovasi dan penemuan jati diri. Kurikulum humanistik juga menawarkan pemecahan masalah terhadap pembelajaran yang tidak relevan yang sering terlalu jauh dari latar belakang guru dan siswa dan tidak membawa makna bagi mereka. Kurikulum humanistik mendukung pembentukan pribadi dan pembelajaran yang lebih berarti bagi kehidupan dengan cara-cara yang demonstratif dan relevan bagi guru dan siswa.
Tujuan pendidikan yang akan dicapai dengan kurikulum humanistik adalah pertumbuhan pribadi ideal, integritas dan otonomi, kepribadian yang mantap dan mampu mengaktualisasikan diri. Seseorang dianggap berkualitas bukan hanya dilihat dari kecakapan kognitif, tapi juga dari sisi estetika dan moral. Dengan demikian akan melahirkan pribadi yang terampil, cakap, dapat bekerja dengan baik, juga memiliki karakter dan etika yang baik.
Peranan guru dalam kurikulum humanistik sebagai fasilitator dan mediator dalam proses potensi siswa dan atas dasar emosi yang positif. Guru membangun hubungan positif dalam pembelajaran dan memiliki komitmen terhadap kepercayaan bahwa setiap anak dapat belajar. Para akademisi mulai memahami bahwa kualitas emosional merupakan orientasi kurikulum humanistik.
Kurikulum Humanistik sebagai Kurikulum yang Terpadu
Pendidikan terpadu mengintegrasikan antara domain afektif berupa emosi, kepribadian dan nilai; dengan kognitif berupa intelektual, ketrampilan, dan kemampuan lainnya. Kurikulum humanistik sebagai kurikulum terpadu berupaya melakukan integrasi dari beberapa aspek di bawah ini:
a. Kesadaran dan Transenden
Kurikulum ini tidak hanya mengembangkan kemampuan kesadaran kognitif, tetapi juga pengembangan intuitif, imajinasi dan aspek spiritual dalam rangka mencapai keseimbangan dan kejernihan dalam pikiran dan ketenangan hati.
b. Teknik Transpersonal
musik dan melodi yang indah melalui latihan yang aktif atau dengan syair, dan tulisan preposisi.
c. Respon terhadap Depersonalisasi
Humanistik percaya bahwa keahlian dasar masuk kemapuan yang penting, demikian pula dengan keluhuran nilai, inovasi diri, dan karakter yang ter buka. Belajar mandiri merupakan respons terhadap perlakuan depersonalisasi dan kunci ide dalam mempertimbangkan perancngan kurikulum mandiri. Tujuan kurikulum belajar mandiri adalah mengembangkan kogmitif, afektif, sosial, moral, dan mengenmbangkan ego.
d. Pembentukan Kepribadian melalui Akademik
Pengembangan kepribadian tidak selalu dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat diupayakan melalui aktifitas dalam kehidupan misalnya olahraga, kesenian, kesusatraan, organisasi dan lainnya.
2. Model Desain Kurikulum Sistemik
Kurikulum sistemik lebih dekat kepada kurikulum berbasis standar (standard-based curriculum) yang dianggap mampu mengantarkan isi materi kurikulum menjadi efektif dan efisien. Kurikulum sistemik ini dapat ditemukan seperti pada program-program pelatihan kepolisian, akademi militer, dan industri untuk memastikan keseragaman atas apa yang dipelajari.
Tujuan yang akan dicapai ditentukan sesuai dengan standarisasi atau patokan ukuran dan diberlakukan mekanisme kontrol/pengendalian. Tujuan pembelajaran, acuan-acuan, hasil percobaan dan indikator lainnya digunakan untuk mengevaluasi kemajuan akan tujuan dan dapat dilakukan modifikasi sesuai kebutuhan. Standar isi kurikulum diikat dengan tujuan dan materi pelajaran. Standar kinerja dibuat dalam sebuah indicator yang terukur dan eksplisit untuk menilai kinerja, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa dan perbaikan yang dibutuhkan.
Hug & King8 (1984) menjelaskan bahwa tujuan penggunaan kurikulum
pendekatan sistem ini adalah merancang, mengimplementasikan dan menilai keseluruhan komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan secara makro dan kaitannya pembelajaraan secara mikro.
Terdapat dua karakteristik utama dalam kurikulum sistemik, yaitu keselarasan (alignment) dan pertanggungjawaban (akuntabilitas).9 Keselarasan ini
menjadi landasan bahwa pembuatan kebijakan, kerangka kurikulum harus mampu menguraikan apa yang sebaiknya terjadi di dalam kelas, program pembelajaran tertentu, pengembangan staf, dan ukuran prestasi siswa yang padu dan konsisten. Keselarasan juga menentukan kesinambungan antara standar isi, buku teks dan ukuran dari performansi atau capaian yang diharapkan.
Tujuan pertanggungjawaban/akuntabilitas pada tingkat perencana kurikulum ini adalah untuk mempertemukan harapan-harapan dari capaian pendidikan dengan identifikasi ketersediaan sumber daya dan kemampuan menerapkan pengetahuan praktis untuk meningkatkan prestasi siswa. Aspek pertanggungjawaban ini menurut R. Linn (2003) menjamin isi dan standar hasil berfokus pada pembelajaran siswa, menekankan pengukuran prestasi siswa sebagai bentuk tanggung jawab sekolah, dan memperkenalkan mekanisme penghargaan, hukuman serta intervensi untuk meningkatkan kinerja.
Pada awal tahun 1990-an banyak negara mengadopsi bagian dari kurikulum sistemik yang dikenal dengan Outcome-Based Education (OBE), pendidikan yang berbasis capaian atau kemampuan. Sedikitnya 30 negara membuat outcome dengan lingkup yang berbeda-beda. Sebagian besar penyelenggara OBE ini tidak sepakat dengan sasaran hasil dari kurikulum tradisional dan lebih cenderung berorientasi pada capaian umum yang berlaku di masa depan dan pengalaman hidup saat ini. Perhatian pendidikan berbasis hasil (OBE) ini layak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan kurikulum.
3. Model Desain Kurikulum Akademik
Model kurikulum ini beranjak dari asumsi bahwa sekolah pada dasarnya untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa, yang disebut juga Kurikulum Subjek Akademis. Longstreet (1993) mengungkapkan bahwa model kurikulum ini berpusat pada pengetahuan (knowledge-centered design), yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu. Penekanan utamanya adalah untuk mengembangkan intelektual siswa.10
John McNeil (2006) menganggap kurikulum sistemik yang menekankan keahlian dan kompetensi, akan tetapi tidak memberikan kesempatan untuk mengembangkan intelektual siswa secara mendalam dan kuat dalam berbagai
disiplin ilmu. Oleh sebab itu diperlukan model kurikulum akademik yang dikembangkan oleh para ahli mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing dan diperkaya dengan data, fakta, konsep dan teori dalam setiap disiplin ilmu.
Konsep kurikulum akademik yang sekarang ini banyak berkembang di perguruan tinggi dan sekolah adalah kurikulum akademik “interdisiplin” dengan penggabungan beberapa disiplin ilmu. Bentuk-bentuk pendekatan pengetahuan dapat digunakan sebagai jalan keluar dalam pemilihan lebih dari seribu jenis disiplin ilmu yang bisa dijadikan sebagai bagian kurikulum sekolah. Sebab pada kenyataannya tidak mungkin seseorang menguasai banyak disiplin ilmu secara mendalam.11 Bentuk-bentuk pendekatan pengetahuan dapat membantu perencana
kurikulum untuk memilih dan memilih beberapa disiplin ilmu yang akan dimasukkan ke dalam bagian kurikulum yang dirancang, dengan mempertimbangkan tiga hal, yaitu keutuhan pemahaman suatu ilmu, disiplin ilmu yang dipilih untuk kebutuhan sosial, menjadi prasyarat ilmu pengetahuan lainnya.
Secara historis, kurikulum akademik ditawarkan oleh Plato untuk mengarahkan masyarakat dan pemerintah ke arah kesederhanaan dan keadilan. Mereka mengedepankan pengetahuan tentang dunia, matematika dan astronomi, dan Plato sendiri mendukung kemajuan geografi dan bakat musik siswa. Pengetahuan dihormati sebagai sesuatu yang membuat orang hidup bersama-sama dengan lebih baik, bukan hidup yang berakhir pada diri sendiri. Sedangkan Aristoteles berlawanan dengan Plato, ia menghormati pembelajaran generalisasi pengetahuan sebagai suatu yang akhir, bukan sebagai alat. Menurut Aristoteles, Biologi merupakan bidang utama, namun ia memasukkan logika, retorika, politik, etika, dan sejarah.
Masa kini dikenal tiga tipe kurikulum subjek akademik berdasarkan cara pengorganisasiannya, yaitu:
1. Subejct-centered Curiculum
Dalam tipe ini, materi atau isi kurikulum disusun dalam subjek atau bidang studi yang terpisah-pisah, seperti biologi, kimia, fisika, geografi dan sebagainya. Tiap bidang studi tak berhubungan satu sama lain dan guru bidang studi hanya bertanggung jawab pada bidang studi yang diajarkannya. Pengorganisasin isi kurikulum yang terpisah-pisah ini maka biasa juga disebut separated subject curriculum.
2. Correlated Curiculum
Bidang studi tidak disusun secara sendiri-sendir, namun yang memiliki kedekatan ilmiah dikelompokkan menjadi satu, misalnya fisika, kimia, biologi digabungkan menjadi sains alam; demografi, geografi, sejarah digabungkan menjadi humaniora.
3. Integrated Curiculum
Model kurikulum terintegrasi bukan lagi menampilkan mata pelajaran atau bidang studi, namun pembelajaran berangkat dari suatu pokok masalah yang harus dipecahkan. Masalah yang harus dipecahkan dikelompokkan berdasarkan tema atau lebih dikenal tematik. Pembelajaran yang dikehendaki model kurikulum ini, tidak hanya belajar dengan menghafal fakta atau teori, tetapi juga menganalisis fakta untuk memecahkan masalah. Dengan pemecahan masalah, diharapkan semua aspek intelektualitas, emosi, sikap dan ketrampilan terbentuk pada diri siswa. Organisasi kurikulum ini biasanya diterapkan pada jenjang pendidikan yang lebih rendah.12
D. MODEL MANAJEMEN PERENCANAAN KURIKULUM MIKRO
Perencanaan kurikulum mikro mencakup perencanaan pembelajaran yang secara spesifik dilakukan oleh guru sebagai panduan menyelenggarakan proses belajar mengajar (PBM) di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran merupakan komponen penting dalam sistem pembelajaran. Penerapannya di Indonesia, menurut Suwarna, mulai popular dengan dengan dikenalkannya Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional yang disingkat PPSI, bersamaan dengan munculnya Kurikulum 1975.13
Perencanaan pembelajaran yang dilakukan secara sistematis akan memberikan manfaat, antara lain:
a. Sebagai alat untuk menganalisis, mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran yang telah berjalan. b. Sebagai daya kontrol dan daya prediksi untuk merumuskan kebutuhan
secara spesifik, merumuskan langkah-langkah perbaikan dan perubahan yang diharapkan.
Beberapa istilah lain yang digunakan oleh para ahli perencanaan pembelajaran antara lain: pengembangan sistem instruksional (instructional system development),
12 Ibid., hlm. 59.
dan desain instruksional (instructional design). Makna yang terkandung dalam pengertian perencanaan pembelajaran mencakup dua hal:14
a. Proses pengembangan pembelajaran dimulai dengan mengidentifikasi masalah dilanjutkan dengan mengembangkan strategi dan bahan pembelajaran, dan diakhiri dengan mengevaluasi efektifitas dan efisiensinya. b. Hasil akhir perencanaan pembelajaran adalah satu set bahan dan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan pendekatan sistem dalam perencanaan pembelajaran yang telah menghasilkan berbagai model yang dikembangkan oleh para ahli, sebagai berikut:
1. System Approach for Education (SAFE) oleh Corrigan, 1966.
2. Michigan State University Instructional System Development Model oleh Barson, 1967.
3. Project MINERVA Instructional System Design oleh Tracey, 1967. 4. Teaching Research System oleh Hamreus, 1968.
5. Banathy Instructional Development System oleh Banathy, 1968.
Menurut Atwi Suparman (2012) kelima model yang dikembangkan di atas bersifat kompleks. Para perencananya menggunakan istilah dan urutan langkah-langkah yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa proses perencanaan pembelajaran atau desain instruksional tidak memiliki urutan langkah-langkah yang baku. Setiap model itu baik dan sesuai untuk kondisi tertentu, tergantung pada besar-kecil atau kompleks-tidaknya suatu lembaga pendidikan, ruang lingkup tugas lembaga pendidikan, serta kemampuan pengelola. Model MINERVA cocok digunakan dalam diklat karena menghasilkan system instruksional yang mengarah pada pembentukan ketrampilan kerja karyawan.
6. Instructional System Design oleh Gagne, 1979.
7. Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) oleh Depdikbud RI, 1975. 8. System Approach Model for Designing Instruction oleh Dick & Carey, 1985 9. Instructional Development Institute oleh AT&T, 1985.
10. Model Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) oleh Diknas RI, 2004.
Tahap mengidentifikasi sebagaimana pada bagan di atas meliputi tiga langkah sederhana, yaitu:
a. Mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran dan menulis tujuan pembelajaraninstruksional umum.
b. Melakukan analisis pembelajaran.
c. Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa.
Tahap mengembangkan dijabarkan menjadi empat langkah, yaitu:
a. Menulis tujuan pembelajaran/instruksional khusus. b. Menulis tes acuan patokan.
c. Menyusun strategi pembelajaran. d. Mengembangkan bahan pembelajaran.
Tahap akhir yaitu evaluasi dan merevisi berisi langkah mendesain rencana pembelajaran. Desain instruksional ini akan menjadi panduan bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran bersama siswa di kelas.
E. KESIMPULAN
Manajemen kurikulum ini menjadi aspek yang penting dalam keberhasilan pelaksanaan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan yang kooperatif, komprehensif, sistemik dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Ruang lingkup manajemen kurikulum mencakup perencanaan, perorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum.
Perencanaan kurikulum menjadi langkah pertama dalam aktifitas manajemen kurikulum, mencakup perencanaan kurikulum secara makro yang menyangkut kebijakan dan aktifitas institusi atau sekolah, dan perencanaan pembelajaran mikro yang biasa dikenal dengan desain instruksional untuk proses belajar mengajar di dalam kelas. Fungsi perencanaan kurikulum adalah menjadi pedoman atau alat manajemen untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirumuskan.
Tahapan perencanaan kurikulum makro secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu merumuskan tujuan kurikulum dan merancang isi kurikulum. Isi atau materi kurikulum mencakup empat hal, yaitu: organisasi isi kurikulum, ruang lingkup, sequens atau urutan kurikulum, dan kriteria pemilihan isi kurikulum.
Kurikulum humanistik berupaya menggabungkan tujuan pendidikan dari sisi kecakapan kognitif sekaligus sisi etika dan moral.
Kurikulum sistemik berbasis standar, memiliki standarisasi isi/materi dan patokan evaluasi sebagai standar kinerja baik guru dan siswa. Kurikulum sistemik menekankan pada keahlian dan ketrampilan tertentu pada siswa. Kurikulum sistemik ini dapat ditemukan seperti pada program-program pelatihan kepolisian, akademi militer, dan industri untuk memastikan keseragaman atas apa yang dipelajari.
Kurikulum subjek akademik penekanan utama untuk mengembangkan intelektualitas siswa. Berdasarkan metoda organisasi bidang studinya, kurikulum subjek akademik terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: separated subject curriculum, correlated curriculum, dan integrated curriculum.
Tahapan perencanaan kurikulum mikro atau disebut dengan desain instruksional meupakan panduan bagi guru menyelenggarakan proses belajar mengajar (PBM) di dalam kelas. Desain instruksional secara garis besar memiliki tiga tahapan yang baku, yaitu mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi atau revisi.
DAFTAR PUSTAKA
Nuh, Muhammad. 2013. Kurikulum 2012. Jakarta: Harian Kompas 7 Maret 2013.
Rusman. 2009. Manajemen Kurikulum, Seri Manajemen Sekolah Bermutu. Jakarta: Rajawali Pers.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2001. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.