• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembiayaan Pemukiman dan Perumahan dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pembiayaan Pemukiman dan Perumahan dan"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pada tahap yang paling sederhana, orientasi pemenuhan kebutuhan akan perumahan bertujuan untuk memiliki tempat berlindung dari panas dan hujan. Pada tahap yang lebih tinggi, perumahan menjadi kebutuhan untuk mencermikan aktualisasi diri dengan lingkungan sekitar. Hirarki orientasi kebutuhan akan perumahan bergantung pada kondisi sosial ekonomi masing-masing individu.

Dewasa ini kebutuhan akan perumahan semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Namun kebutuhan tersebut tidak dapat diimbangi dengan penyediaan jumlah rumah yang memadai. Akibat yang muncul adalah harga rumah selalu tinggi sehingga menimbulkan adanya keterbatasan pada masyarakat dalam rangka memiliki sebuah rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang mengalami keterbatasan dengan segi pembiayaan.

(2)

pelaku dalam penyediaan perumahan dengan sasaran MBR melalui dinas-dinas terkait dimana salah satunya adalah DPU dalam bidang Cipta Karya. Oleh karena itu dipelukan kajian untuk mengetahui tupoksi dan sistem pembiaayaan formal yang dilakukan oleh DPU dalam memenuhi kebutuhan perumahan, khususnya bagi MBR.

I.2 Rumusan Masalah

1. Apa peran DPU dalam pembiayaan perumahan bagi MBR?

2. Bagaimana mekanisme pembiayaan perumahan yang dilakukan oleh DPU terkait dengan program sanimas?

I.3 Tujuan

1. Mengetahui peran Dinas Pekerjaan Umum Surakarta dalam pembiayaan pembangunan perumahan.

2. Mengetahui mekanisme pembiayaan perumahan terkait program Sanimas DPU Surakarta

I.4 Sasaran

1. Mengidentifikasi tupoksi dan renstra DPU Surakarta.

2. Mengidentifikasi tupoksi dan renstra DPU Surakarta terkait pembiayaan perumahan dan permukiman.

3. Mengidentifikasi komponen pembiayaan yang dikelola DPU Surakarta dalam program sanimas.

4. Mengidentifikasi proses pembiayaan yang dilaksanakan DPU Surakarta terkait program sanimas.

5. Mengidentifikasi lembaga-lembaga yang terkait dalam pelaksanaan program sanimas DPU Surakarta dan perannya.

(3)

Metode penelitian merupakan pedoman yang digunakan untuk melaksanakan penelitian mulai dari tahap persiapan sampai pembahasan. Metode penelitian membahas bagaimana penelitian dilakukan dan apa yang harus dibahas dalam penelitian. Metode penelitian terdiri dari tahap persiapan, identifikasi data, pengolahan data, dan pembahasan.

1. Tahapan Persiapan, yang meliputi:

a) Persiapan Admnistrasi dan Persiapan Teknis

Tahap persiapan adiministrasi dan persiapan teknis meliputi pembuatan surat ijin survey dan pencarian data, pembuatan kerangka pikir penelitian, penyiapan instrumen survey, dan pembuatan desain survey b) Pemasukan Surat Ijin Pencarian Data dan Survey ke Dinas Pekerjaan

Umum (DPU) Surakarta

Tahap ini masuk ke tahapan kedua dengan pertimbangan semua data yang ingin diperoleh di DPU Surakarta harus dicantumkan dalam surat tersebut. Sedangkan kebutuhan data diperoleh setelah penentuan kerangka pikir dan desain survey.

2. Identifikasi data

Pencarian data meliputi data sekunder dan data primer terkait dengan program sanimas yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendukung penelitian antara lain:

a) Studi Dokumen

Studi dokumen dilakukan untuk mendapatkan data-data yang sifatnya kuantitatif dan kualitatif baik yang berasal dari Dinas Pekerjaan Umum Surakarta maupun literature-literatur lain yang relevan dengan penelitian kami.

b) Survey

(4)

- Field Research

Field research digunakan untuk mendapatkan data fisik kawasan yang tidak diperoleh dari dokumen manapun. Field research digunakan untuk mengupdate data yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Surakarta yang dirasa sudah tidak relevan lagi. Selain itu field research juga dilakukan untuk mengenal kawasan yang menjadi sample studi secara langsung.

- Pembagian Kuesioner

Kuesioner disusun berdasarkan kebutuhan data yang membutuhkan jawaban berupa pendapat atau argumentasi masyarakat. Dalam pembuatan kuesioner ini peneliti menghindari pencantuman pertanyaan yang sifatnya harus memiliki jawaban pasti atau teknis untuk menghindari adanya subjektivitas.

Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner semi terbuka jadi ada pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya tertutup dan tidak membutuhkan alasan, tetapi ada juga pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dengan leluasa karena tidak diberikan option jawaban. Kuesioner dibagikan dengan menggunakan teknik non probability samples. Non probability samples diterapkan dengan cara membagikan kuesioner kepada tokoh yang dianggap lebih tahu mengenai tema yang diangkat.

Tabel I.1

Identifikasi Kebutuhan Data

No

. Data yang di cari Sub Data

Jenis Data Sumber Data

Teknik Pencarian Primer Sekunder Data Umum (Peran DPU dalam Pembiayaan Pembangunan Perumahan dan Permukiman)

1. Tupoksi DPU, Kebijakan dan Strategi

DPU 1. Tupoksi dan Renstra DPU

√ RENSTRA

DPU DokumenStudi

(5)

3. Strategi yang diterapkan 1. Alokasi dana yang

disediakan DPU dalam pembangunan

DPU Studi Dokumen

2. Proporsi alokasi dana yang disediakan DPU terkait dengan program sanimas.

2. Komponen Pembiayaan Perumahan dan Permukiman terkait dengan program sanimas.

1. Jenis-jenis sanimas

yang dapat dibiayai oleh DPU. Studi Dokumen 2. Komponen sanimas

yang dibiayai oleh DPU. √ √ Wawancara

3. Proses Pembiayaan Pembangunan

Perumahan Permukiman yang dilaksanakan DPU terkait dengan program sanimas.

1. Persyaratan untuk memperoleh pendanaan dari DPU terkait dengan program sanimas.

Studi Dokumen

2. Proses pengimplementasian program sanimas.

√ √ Wawancara

4. Kerjasama yang dilakukan DPU dengan lembaga atau pihak lain terkait dengan program sanimas.

1. Lembaga atau dinas apa saja yang terkait dalam pelaksanaan program sanimas. lembaga dalam pelaksanaan program sanimas.

3. Pengolahan Data :

Data primer dan sekunder yang diperoleh kemudian diolah untuk mendapatkan informasi. Pengolahan data terdiri dari tiga tahapan yaitu

a) Pengidentifikasian Data b) Pengkategorisasian Data

(6)

4. Pembahasan :

Pembahasan mengenai peran Dinas Pekerjaan Umum dalam pembiayaan pembangunan perumahan dan permukiman merupakan hasil kajian perbandingan antara data instansional dan teori dengan kajian di lapangan yang meliputi 4 kajian pokok, yaitu :

a) Identifikasi Rencana Strategis (RENSTRA) DPU dalam pembangunan perumahan dan permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah. b) Komponen pembiayaan pembangunan perumahan dan permukiman

yang berkaitan dengan program sanimas yang dikelola oleh DPU.

c) Proses pembiayaan pembangunan perumahan dan permukiman yang dilaksanakan oleh DPU terkait dengan program sanimas.

(7)

I.5 Batasan Penelitian

Batasan objek dalam penelitian ini adalah DPU dalam pembiayaan pembangunan perumahan. Sedangkan batasan aspek yang akan dibahas meliputi komponen dan proses pembiayaan pembangunan perumahan permukiman yang dilakukan oleh DPU dalam suatu program pembangunan perumahan yang ditanganinya, serta kerjasama pembiayaan dengan pihak lain baik swasta, pihak pemerintah lainnya, maupun masyarakat yang dilakukannya dalam program tersebut.

(8)

Gambar I.1 Kerangka Pikir

Data Sekunder:

Tupoksi DPU, Kebijakan dan Strategi DPU tentang pembiayaan

pembangunan perumahan.

Alokasi dana yang disediakan DPU dalam pembangunan perumahan dan permukiman terkait program

sanimas.

Komponen Pembiayaan Perumahan dan Permukiman dalam program sanimas.

Proses Pembiayaan Pembangunan Perumahan Permukiman yang dilaksanakan DPU terkait dengan program sanimas.

Kerjasama yang dilakukan DPU dengan lembaga atau pihak lain dalam program sanimas.

Latar Belakang:

MBR memiliki keterbatasan dalam memiliki sebuah rumah. Hal ini terjadi karena sulitnya mendpaat akses pada

pembiayaan. Oleh karena itu diperlukan pengadaan perumahan oleh pemerintah yang salah satunya dilakukan oleh DPU.

Rumusan Masalah:

Apa peran DPU dalam

pembiayaan perumahan bagi MBR?

Bagaimana mekanisme pembiayaan perumahan yang dilakukan oleh DPU terkait dengan program sanimas?

Data Primer:

Komponen Pembiayaan Perumahan dan Permukiman

Proses Pembiayaan Pembangunan Perumahan Permukiman yang dilaksanakan DPU terkait dengan program sanimas.

Kerjasama yang dilakukan DPU dengan lembaga atau pihak lain terkait dengan program sanimas.

Analisis Kualitatif, yaitu mengkaji data sekunder hasil survey instansi dan data primer hasil observasi

Kesimpulan dilakukan oleh DPU dalam pembiayaan

Peran Pemerintah dalam Pembiayaan Pembangunan

Perumahan

Judul

Peran DPU dalam Pembiayaan Pembangunan Perumahan Bagi

MBR

Mengetahui peran Dinas Pekerjaan Umum Surakarta dalam pembiayaan

pembangunan perumahan. Mengetahui mekanisme

pembiayaan perumahan terkait program Sanimas DPU

(9)

I.6 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat tentang rancangan penelitian yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, metode penelitian, kerangka pikir, dan sistematika penulisan laporan dari hasil penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini memuat tentang pemerintah secara umum dalam pembiayaan perumahan disertai dengan kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan pemerintah ditambah dengan peran DPU terhadap pembiayaan perumahan.

BAB III PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN OLEH DPU UNTUK MBR

Bab ini memuat tentang studi lapangan terkait dengan peran DPU terkait Tupoksi dan Renstra DPU dan mekanisme program sanimas yang ditangani oleh DPU dalam rangka penyediaan perumahan bagi MBR.

BAB IV PEMBAHASAN

Bab ini memuat tentang hal-hal yang tidak sesuai antara teori dengan kenyataan di lapangan dan hal-hal khusus yang perlu untuk dikomentari berdasarkan hasil temuan di lapangan terkait dengan pembiayaan pembangunan perumahan yang dilakukan oleh DPU secara umum dan terkait dengan program sanimas.

BAB V PENUTUP

(10)

Pengertian Perumahan dan Permukiman Kedudukan Perumahan dalam Masyarakat

Proses Pembangunan Perumahan dan Permukiman

Permasalahan Perumahan dan PermukimanSiapa yang Berhak Mengatasi

Pembiayaan Sanitasi Perumahan Ditinjau dari Prosesnya Perencanaan

Pembangunan Pembiayaan

Pengelolaan dan Pengendalian Ditinjau dari Komponenya

Bangunan Rumah

Sarana, Prasarana, dan Utilitas Tanah

dll

Pemerintah Swasta

Swadaya Masyarakat Pemerintah

Dinas Pekerjaan Umum (DPU)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

(11)

II.1. PENGERTIAN DAN FUNGSI PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, perumahan dan permukiman diartikan sebagai berikut,

 Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai

lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.

 Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar

kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Pengertian di atas hanyalah menjelaskan secara harfiah arti dari perumahan dan permukiman, tetapi tidak menjelaskan kedudukan atau fungsi rumah bagi masyarakat penggunanya. Dala Buku Sistem Perumahan Sosial di Indonesia dijelaskan bahwa perumahan memiliki fungsi yang berbeda bagi masyarakat penghuninya. Masyarakat berpenghasilan rendah melihat perumahan sebagai kebutuhan dasar dan sekaligus suatu sumber daya modal yang berguna untuk meningkatkan kehidupan dan penghidupan mereka. Bagi masyarakat golongan berpenghasilan rendah rumah harus memenuhi syarat sebagai berikut:

(12)

- Kualitas fisik hunian dan lingkungan tidak penting sejauh mereka masih mungkin menyelenggarakan kehidupan mereka.

- Hak-hak penguasaan atas tanah dan bangunan khususnya hak milik tidak penting. Yang terpenting adalah mereka tidak diusir atau digusur. Ini sesuai dengan cara piker mereka bahwa rumah adalah suatu fasilitas.

Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah merupakan hasil dari suatu proses keputusan yang mempertimbangkan berbagai kebutuhan,kepentingan, kemampuan, dan keterbatasan, pribadi dan lingkungan. Rumah bukanlah soal membangun, tetapi rumah adalah persoalan mengelola kehidupan, dimana berbagai kebutuhan, kepentingan, kemampuan, dan kelemahan dioptimalisasikan terhadap sumber daya yang serba terbatas yang dimiliki pribadi dan peluang yang disediakan oleh lingkungan.

(13)

Golongan Berpenghasilan Rendah Golongan Berpenghasilan Menengah

Golongan Berpenghasilan Tinggi

II.2. PROSES PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

1 Perencanaan

Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam perencanaan perumahan dan permukiman adalah kesesuaian lokasi dengan rencana pembangunan Perumahan yang tertera di dalam RUTRK/RTRW maupun RP4D (apabila ada). Mekanisme perencanaan pembangunan kewilayahan mulai dari Musrenbang Kelurahan, Musrenbang Kecamatan, dan terakhir pada Musrenbang Kota. Program-program prioritas kemudian dibawa pada mekanisme penganggaran Daerah (RKA) dan mendapatkan persetujuan dari DPRD.

2 Pelaksanaan a. Perijinan

Perijinan yang harus dipenuhi adalah ijin prinsip, ijin lokasi, dan IMB. Proses perijinan dalam pembangunan perumahan dan permukiman terdiri dari:

 Ijin Prinsip

(14)

tersebut sudah sesuai dengan rencana Spatial Daerah/Kota.

 Ijin Lokasi

Ijin Lokasi dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional dengan proses sertifikasi.

 IMB disetujui oleh Dinas Tata Kota.

 Pengajuan dukungan program menyangkut sarana

prasarana yang diajukan ke DPU.

 Pengajuan dukungan jaringan listrik ke PLN.

 Pengajuan dukungan air bersih dan limbah ke PDAM.

 Dukungan prasarana sosial kemasyarakat yang

ditangani oleh Dinas Kesejahteraan Rakyat dan Pemberdayaan Perempuan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dll.

Pada era otonomi daerah sekarang ini, banyak daerah yang mempunyai Unit Pelayanan Terpadu (UPT) yang melayani perijinan dalam satu atap.

b. Pembiayaan

(15)

3 Pendampingan

Pendampingan akan berfungsi sebagai capacity building dan pengorganisasian masyarakat dalam mengimplementasikan program pembangunan perumahan sesuai dengan direncanakan.

4 Penghunian/ Pemeliharaan, Monitoring, dan Evaluasi

Tahap penghunian menyangkut upaya menjaga sustainabilitas program menyangkut peningkatan TRIDAYA secara kontinyu dan berkelanjutan.

II.3. PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN

Pembiayaan merupakan bagian dari proses pembangunan perumahan dan permukiman. Terdapat tiga prinsip dasar dalam pembeayaan perumahan yaitu,

1. Memperluas akses pembiayaan perumahan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)

2. Menghindari monopoli salah satu badan penyalur kredit 3. Memperluas lembaga-lembaga pembiayaan untuk terlibat di

dalam penyaluran kredit pembiayaan perumahan.

Pembiayaan sering dianggap sebagai permasalahan yang paling penting dalam keseluruhan proses pembangunan perumahan karena menyangkut alokasi sumber dana. Secara mikro, hal ini disebabkan oleh kemampuan ekonomis masyarakat Indonesia untuk menjangkau harga rumah yang layak bagi mereka masih sangat susah sekali, karena sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat perekonomian menengah kebawah, sedangkan secara makro hal ini juga tidak terlepas dari kemampuan ekonomi nasional untuk mendukung pemecahan masalah perumahan secara menyeluruh.

(16)

pembiayaan ini adalah adanya kecenderungan meningkatnya biaya pembangunan, termasuk biaya pengadaan tanah yang tidak sebanding dengan kenaikan angka pendapatan masyarakat, sehingga standar untuk memenuhi kebutuhan akan hunian menjadi semakin tinggi (mahal).

Permasalahan dalam pembiayaan perumahan juga tidak hanya pada pembangunan rumah saja, tetapi juga pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas yang mendukung lingkungan perumahan. Kekopleksitasan permasalahan perumahan ini kemudian meimbulkan pertanyaan siapakah yang berkewajiban mengatasi masalah tersebut. Berdasarkan system penyediaan rumah yang dianut Indonesia saat ini maka lembaga-lembaga yang berkaitan adalah pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pemerintah dalam operasionalnya dibantu oleh lembaga-lembaga yang berada di bawahnya seperti BAPPEDA, DRTK, DPU, dll. Masing-masing lembaga melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi yang dimilikinya sehingga bidang yang ditangani juga berbeda.

BAB III

Kompilasi Data

A. Profil DPU

(17)

Peraturan Walikota Surakarta Nomor 17 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta, di jelaskan bahwa Struktur Organisasi Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta adalah sebagai berikut: 1. Kepala Dinas, membawahkan:

 Sekretariat

 Bidang Bina Marga

 Bidang Drainase

 Bidang Cipta Karya

 Bidang Pemadam Kebakaran

 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)

 Kelompok Jabatan Fungsional

2. Sekretariat, membawahkan:

 Subbagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan

 Subbagian Keuangan

 Subbagian Umum dan Kepegawaian

3. Bidang Bina Marga, membawahkan:

 Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan

 Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan

4. Bidang Drainase, membawahkan:

 Seksi Pembangunan Drainase

(18)

5. Bidang Cipta Karya, membawahkan:

 Seksi Gedung Pemerintahan dan Rumah Dinas

 Seksi Perumahan dan Permukiman

6. Bidang Pemadam Kebakaran, membawahkan:

 Seksi Manajemen Penanggulangan Kebakaran

 Seksi Peralatan

Gambar

Bagan Struktur Organisasi Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta

b. Tugas Pokok dan Fungsi DPU

Berdasarkan Peraturan Walikota Surakarta Nomor 17 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta mempunyai tugas pokok menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum. Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta mempunyai fungsi :

1) Perumusan kebijakan teknis bidang Pekerjaan Umum 2) Perencanaan program kerja bidang Pekerjaan Umum

3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum bidang Pekerjaan Umum

4) Pembinaan dan fasilitasi bidang Pekerjaan Umum lingkup kota 5) Pelaksanaan tugas dibidang Pekerjaan Umum

6) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang Pekerjaan Umum 7) Pelaksanaan kesekretariatan Dinas

8) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

(19)
(20)

Tabel

Tugas Pokok dan Fungsi setiap Bidang DPU No

.

Bidang Tugas Fungsi

1 Sekretariat Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan,

pengkoordinasian penyelenggaraan secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan, Keuangan, Umum dan Kepegawaian

1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan,

pengkoordinasian penyelenggaraan secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan.

2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan,

pengkoordinasian penyelenggaraan secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang keuangan. 3. Penyiapan bahan perumusan

kebijakan teknis, pembinaan,

pengkoordinasian penyelenggaraan secara terpadu, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang umum dan kepegawaian.

4. Pelaksanaan tugas lain yang

diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(21)

Marga kebijakan teknis, pembinaan dan

pelaksanaan di bidang pembangunan jalan dan jembatan serta pemeliharaan jalan dan jembatan sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan. 2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan

teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan. 3. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh

Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

3 Bidang Drainase Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan drainase sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang Pembangunan Drainase.

2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang Operasi dan Pemeliharaan Drainase.

3. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

4 Bidang Cipta

Karya Penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang pembangunan, rehabilitasi atau

pemeliharaan gedung pemerintah dan rumah dinas serta perumahan dan permukiman sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

pelaksanaan dibidang Gedung Pemerintah dan Rumah Dinas.

2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang Perumahan dan Permukiman.

(22)

diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya.

5 Bidang Pemadam Kebakaran

Melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

pelaksaan di bidang Pemadam Kebakaran.

1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Manajemen Penanggulangan Kebakaran.

2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Peralatan.

6 UPT Rumah Sewa Melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional dan / atau kegiatan teknis penunjang Dinas di bidang penanganan kegiatan teknis di Rumah Sewa sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

1. Menyusun rencana kerja UPT Rumah Sewa berdaarkan rencana strategis Dinas.

2. Memberi petunjuk, arahan dan

mendistribusikan tugas kepada bawahan. 3. Mempelajari, menelaah peraturan

perundang-undangan, keputusan, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis program kegiatan Dinas sesuai dengan bidang tugas. 4. Menyusun kebijakan teknis

penyelenggaraan rumah sewa.

5. Menyusun laporan hasil pelaksanaan rencana strategis, rencana kerja, LAKIP, LKPJ, LPPD dan EKPPD UPT Rumah Sewa.

(23)

Rumah Sewa.

7. Melaksanakan evaluasi dan analisis hasil kerja guna pengembangan rencana strategis dan rencana kerja UPT Rumah Sewa. 8. Melaksanakan pelayanan administrasi

Rumah Sewa, Rumah Susun Sederhana Sewa dan Rumah Sosial.

9. Melaksanakan pengelolaan Rumah Sewa, Rumah Susun Sederhana Sewa dan Rumah Sosial.

10. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan Rumah Sewa, Rumah Sederhana Sewa dan Rumah Sosial. 11. Melaksanakan pengelolaan ketatausahaan

Rumah Sewa.

12. Melaksanakan pemungutan retribusi daerah di bidang Rumah Sewa.

13. Melaksanakan penyusunan indikator dan pengukuran kinerja kinerja penyelenggaraan Rumah Sewa.

14. Melaksanakan sosialisasi di bidang Rumah Sewa.

15. Memeriksa dan menilai hasil kerja bawahan secara periodik.

(24)

atasan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan tugas.

18. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

(25)

B. Progam DPU (secara umum/setiap bidang)

Dinas Pekerjaan Umum terdiri dari berberapa bidang, yaitu:

a. Bidang Bina Marga

Bidang Bina Marga mempunyai tugas penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang

pembangunan jalan dan jembatan serta pemeliharaan jalan dan jembatan sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Bidang Bina Marga dibantu oleh :

1. Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan; 2. Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan.

Masing – masing dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Bina Marga.

Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan mempunyai tugas

melakukan Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan,

meliputi : pelaksanaan survey dan perencanaan teknis pembangunan, pelaksanaan pembangunan, peningkatan

pengendalian dan pengawasan pembuatan jalan dan jembatan serta penentuan klasifikasi kelas jalan dan jembatan.

Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan mempunyai tugas melakukan Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan

pelaksanaan di bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, meliputi : pelaksanaan survey dan perencanaan teknis pemeliharaan,

pelaksanaan pemeliharaan, perbaikan dan pengawasan jalan dan jembatan.

b. Bidang Drainase

Bidang Drainase mempunyai tugas melaksanakan penyiapan

perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan drainase sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

(26)

1. Seksi Pembangunan Drainase;

2. Seksi Operasi dan Pemeliharaan Drainase.

Masing–masing dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Drainase.

Seksi Pembangunan Drainase mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan bidang Pembangunan Drainase, meliputi : perencanaan teknis, pembinaan dan pengawasan pembuatan bangunan pada sungai dan drainase serta pengelolaan hidrologi dan hidrometri.

Seksi Operasi dan Pemeliharaan Drainase mempunyai tugas

melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan bidang Operasi dan Pemeliharaan Drainase,

meliputi : pembinaan, pengawasan, pemeliharan drainase dan

pemanfaatan air permukaan serta pengendalian bencana banjir, erosi dan genangan kota.

c. Bidang Cipta Karya

Bidang Cipta Karya mempunyai mempunyai tugas penyiapan

perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang pembangunan, rehabilitasi atau pemeliharaan gedung pemerintah dan rumah dinas serta perumahan dan permukiman sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Bidang Cipta Karya dibantu oleh:

1. Seksi Gedung Pemerintahan dan Rumah Dinas; 2. Seksi Perumahan dan Permukiman.

Masing–masing dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Cipta Karya.

Seksi Gedung Pemerintahan dan Rumah Dinas mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Gedung Pemerintahan dan Rumah Dinas, meliputi: pelaksanaan pengadaan, pemanfaatan den pemeliharaan gedung pemerintah dan rumah dinas.

(27)

pelaksanaan pengaturan, penyelenggaraan dan pengawasan perumhan dan pemukiman.

d. Bidang Pemadam Kebakaran

Bidang Pemadam Kebakaran mempunyai tugas melaksanakan

penyiapan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksaan di bidang Pemadam Kebakaran.

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Bidang Pemadam Kebakaran dibantu oleh:

1. Seksi Manajemen Penanggulangan Kebakaran; 2. Seksi Peralatan.

Masing–masing dipimpin oleh seorang Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang Pemadam Kebakaran.

Seksi Manajemen Penanggulangan Kebakaran mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Manajemen Penanggulangan Kebakaran, meliputi : penyusunan rencana serta pelaksanaan pola operasional penanggulangan dan pencegahan usaha penanggulangan bahaya kebakaran, perlindungan keselamatan jiwa termasuk harta benda akibat kebakaran.

Seksi Peralatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang Peralatan, meliputi : perencanaan dan pelaksanaan pengadaan, pemeliharaan, perbaikan peralatan operasional penanggulangan bahaya kebakaran.

e. UPT Rumah Sewa

(28)

Berdasarkan Tujuan, Sasaran, Strategi, dan Kebijakan yang telah dirumuskan pada Renstra, maka dapat disusun Program dan Kegiatan sesuai dengan Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai berikut :

A. Program dan Kegiatan serta Jadwal Pelaksanaan RENSTRA

SASARAN PROGRAM KEGIATAN TARGET PENDANAAN INDIKATIF

( DALAM JUTAAN ) 201

1 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 Kelancaran

mobilitas angkutan barang dan jasa

Pembangunan jalan dan jembatan

1. Perencanaan jalan

dan jembatan 27% 18% 18% 18% 18% 300 200 200 200 200

2. Pembangunan jalan (30 km) dan pembebasan tanah

27% 18% 18% 18% 18% 300 200 200 200 200

3. Pembangunan

Jembatan (7 buah) 0% 11% 5% 42% 42% 10 5 40 40

(29)

pelaporan

Rehabilitasi /pemeliharaan jalan dan jembatan

1. Perencanaan rehabilitasi/pemeliha raan jalan dan jembatan

25% 19% 19% 19% 19% 400 300 300 300 300

2. Rehabilitasi/ pemeliharaan jalan dan jembatan (150 Km)

20% 20% 20% 20% 20% 15 15 15 15 15

Inspeksi Jalan

dan Jembatan 1. Inspeksi kondisi jalan dan jembatan kota

50% 50% 0% 0% 0% 200 200

Tanggap darurat jalan dan jembatan

Rehabilitasi tanggap darurat jalan dan jembatan

20% 20% 20% 20% 20% 1 1 1 1 1

Peningkatan Sarana dan Prasarana Ke Bina Margaan

1. Pengadaan

Alat-alat berat 50% 50% 0% 0% 0% 2,5 2,5

2. Pemeliharaan

(30)
(31)

Pengendalian

Banjir Mengendalikan banjirpada daerah tangkapan air dan badan-badan sungai

20% 20% 20% 20% 20% 700 700 700 700 700

Menyediak an Sarana dan

Prasarana Pelatihan bagi tenaga kerja yang siap pakai di bidang industry

Pengembanga n Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh

Pembangunan/penin gkatan STP

0% 50% 50% 0% 0% 0 6 6 0 0

Gedung STP (R&D, Kolam Las, Trade Center, Cooling System, Teaching Factory, Tower)

0% 17% 17% 5% 62% 350 35 35 10 ###

(32)

Pembangunan Infrastruktur Kota (Koridor Jl. Gatot Subroto, Jl. Bayangkara, Jl. S Parman,Kawasan Monjari, penataan perempatan Patung Wisnu, Simpang Lima Komplang, Jl. Tendean) 1. Rehab. Masjid

Agung 0% 0% 50% 50% 0% 0 0 5 5 0

2. Rehab. Gedung

Juang 0% 0% 100% 0% 0% 0 0 10 0 0

3. Rehab. Beteng

Vastenberg 0% 0% 50% 50% 0%

0 0 1 1 0

4. Rehab. Masjid

(33)

5. Rehab. Pagar Mangkunegaran

0% 14% 86% 0% 0%

0 100 600 0 0

6. Lanjutan

Pembangunan Bank Pasar

Pemeliharaan

rutin/berkala gedung

kantor 0%

100

% 0% 0% 0%

(34)

C. Sumber Dana Program Pembangunan DPU

Dinas Pekerjaan Umum dalam melaksanakan fungsinya membagi kewenangan dan tugas dalam bentuk bidang-bidang, yaitu Bina Marga,Cipta Karya, Drainase, Pemadam kebakaran dan UPT Rumah Sewa. Masing-masing bidang memiliki fungsi yang berbeda namun terkait. Dari berbagai bidang tersebut, DPU membuat berbagai program pembangunan yang ditangani masing-masing bidang. Untuk merealisasikan program-program tersebut tentu DPU memerlukan sumber dana.

Sumber dana dalam pembiayaan program pembangunan DPU berasal dari beberapa sumber, yaitu :

1. APBN 2. APBD/DAK 3. Swasta 4. Masyarakat

Dana dari APBN berasal dari pemerintah pusat yang khusus dialokasikan untuk pembangunan infrastruktural. Dalam mekanisme pencairan dana dapat berbeda-beda di tiap programnya, dalam

beberapa program yang merupakan program nasional seperti pembangunan RUSUNAWA, pencairan dana dikelola langsung oleh pemerintah pusat. Sedangkan untuk program-program daerah seperti pengelolaan prasarana dikelola dengan mekanisme yang dilaksanakan dengan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan DPU. Dana dari APBD berasal dari dana alokasi khusus. Dana tersebut dikelola dengan kerjasama oleh pemerintah daerah dan DPU.

Untuk menunjang pembangunan maka dilakukan sinergitas dengan masyarakat dan Swasta. Hal ini dilakukan agar masyarakat dan swasta ikut terlibat dalam pelaksanaan pembangunan sehingga tercipta kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat serta untuk menumbuhkan rasa memiliki dan menghargai program pembangunan yang dilaksanakan. Pihak swasta yang ikut terlibat biasanya berupa bank dan LSM.

C. PROGRAM SANIMAS 1. Pengertian Sanimas

Secara definitif, Sanimas adalah sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah permukiman yang berbasis masyarakata dengan pendekatan tanggap kebutuhan. Fokus kegiatan Sanimas adalah penanganan air limbah rumah tangga khususnya tinja manusia dan tidak menutup kemungkinan limbah cair “home indsutri”, misalnya industri tahu dan tempe.

(35)

dan pemerintah pusat. Pendekatan Sanimas adalah pemberdayaan masyarakat (comunity empowerment).

Walaupun sebagai gagasan Sanimas berasal dari pemerintah pusat, namun tingkat keberhasilan progam ini ditentukan oleh kontribusi dan peranan masyrakat setempat sesuai namanya, Sanitasi oleh masyarakat. Sebab, merekalah yang akan memanfaatkan, mengoperasikan, serta memelihara prasarana sanitasi di lingkungannya. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lebih bertindak sebagai fasilitator.

Fasilitas Sanimas terdapat beberapa macam, tergantung pilihan teknologinya, yakni : Sistem Perpipaan komunal, Sistem MCK Plus ++, dan “septictank” bersama (biasanya satu “septictank” untuk 3-15 KK).

Fasilitas Sanimas MCK Plus ++ yang dilengkapi “bio-digester” dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi alternatif. Sesuai dengan namanya, MCK Plus ++ memberikan banyak manfaat.

2. Penjelasan Progam Sanimas dari Pemerintah

Pemerintah sudah mengembangkan program perbaikan kampung sejak tahun 1980 secara besar-besaran dengan nama KIP dimana dari 7 komponen kegiatannya adalah pembangunan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan (MCK, Persampahan dan Drainase). Meskipun secara fisik terlihat berhasil baik, tetapi sebenarnya program tersebut masih memiliki kekurangan terutama aspek keberlanjutan dimana peran masyarakat sangat minimal.

Untuk menindak lanjuti progam tersebut saat ini Pemerintah menyediakan program sanitasi lingkungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi, yang disebut dengan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM); yaitu sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan.

(36)

ini, masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase yang sesuai, ikut aktif menyusun rencana aksi, membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaannya, bahkan bila perlu mengembangkannya, dalam rangka meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan permukiman kumuh perkotaan.

3. PENDEKATAN, PRINSIP dan POLA PENYELENGGARAAN a. Pendekatan

DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) merupakan salah satu kegiatan pembangunan prasarana air limbah, persampahan dan drainase yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui :

1) Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah, dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil ditujukan kepada penduduk miskin yang bermukim di permukiman padat perkotaan berdasarkan kebutuhan;

2) Otonomi dan desentralisasi, dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan dan pengelolaan hasilnya;

3) Mendorong prakarsa lokal dengan iklim keterbukaan, dimana masyarakat menyampaikan permasalahan dan merumuskan kebutuhannya secara demokratis dan transparan;

4) Partisipatif, dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan dan pengelolaan;

5) Keswadayaan, dimana kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan, baik proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, maupun pemanfaatan hasil kegiatan.

b. Prinsip-Prinsip DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Prinsip Dasar DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1. Program ini bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK

Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka.

2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, peran LSM/Swasta, sedangkan pemerintah hanya sebatas sebagai fasilitator.

(37)

PERSIAPAN Sosialisasi

PENYIAPAN TFL (Seleksi, Pelatihan)

SELEKSI LOKASI

Longlist, Shortlist Lokasi terpilih

PENYUSUNAN RKM Organisasi, Pilihan Teknologi dan Sarana,

DED, RAB dan Jadwal Kegiatan

Efluen dari IPAL memenuhi standar Penyakit terkait air menurun

Sarana berkelanjutan

yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan limbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial.

4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat.

Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

1. Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat.

2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak.

3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat.

4. Berkelanjutan, pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.

c. Pola Penyelenggaraan

Pola penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Konsultan Pendamping yang memiliki kemampuan teknis dan sosial kemasyarakatan, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Namun jika dalam tahap pelaksanaan konstruksi terdapat kegiatan yang secara teknis tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat sendiri, maka KSM dapat menunjuk pihak ketiga melalui Kerja Sama Operasional (KSO)

4. Tahap Pelaksanaan

(38)

5. Pembiayaan

a. Sumber Pendanaan

Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini berasal dari berbagai sumber pembiayaan, yaitu: Pemerintah Pusat (APBN), Pemerintah Kabupaten/Kota (DAK dan APBD), swadaya masyarakat dan swasta/donor.

Bagan Sumber Pendanaan b. Rencana Pembiayaan

Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut:

1. Biaya sosialisasi DAK, pelatihan TFL dan pelatihan Ketua KSM serta mandor dibiayai dari dana APBN dan APBD, sedangkan biaya pelatihan bendahara, tukang dan operator dari dana APBD.

2. Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD.

3. Biaya Konstruksi

Biaya Konstruksi dibiayai oleh:

a. Pemerintah Daerah (DAK dan APBD) untuk biaya material dan upah. b. Swadaya Masyarakat

Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunai (on cash) serta kontribusi dalam APBN

SANITASI BERBASIS MASYARAKAT

Masyarakat APBD

(39)

bentuk barang (in kind) berupa lahan, tenaga kerja, material dan lain-lain.

c. Dana pihak swasta lainnya dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling menguntungkan.

4. Biaya Operasi dan Pemeliharaan

Biaya operasi dan pemeliharaan di tanggung oleh masyarakat.

c. Pembiayaan per Komponen Kegiatan

Komponen utama kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), terdiri dari: Persiapan, Seleksi, Penyusunan RKM, Pemberdayaan, Konstruksi, Pendampingan, Pengoperasian dan Pemeliharaan, Monitoring dan Evaluasi.

d. Penyaluran Dana 1) Dana APBN

1. Penyaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Departemen PU di Provinsi yang digunakan untuk melakukan pelatihan TFL, KSM dan mandor.

2) Dana DAK dan APBD

1. Dana DAK dan APBD berupa bantuan (langsung) ke masyarakat diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening KSM.

2. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM.

3) Dana Masyarakat

1. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan.

2. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi.

3. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM, wakil Dinas Penanggung Jawab Pemerintah Kabupaten/Kota dan fasilitator/LSM.

4) Dana Swasta/Donor/LSM

1. Dana swasta/donor/LSM adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi swasta dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat

(40)

masyarakat/RKM.

Gambar

Tabel I.1
Gambar I.1Kerangka Pikir

Referensi

Dokumen terkait

Penambahan minyak cengkeh, minyak sereh, dan minyak kayu putih sebagai fragrance oil berpengaruh terhadap sifat fisis dari sabun translucent yang dibuat, yaitu pada

(2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini, dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, dan

Suatu kota dibentuk oleh pusat-pusat kegiatan fungsional kota yang terbesar, kemudian setiap pusat mempunyai peran yang penting dalam kota.. Pusat-pusat tersebut dapat

Penemuan isolat bakteri endofit yang cocok untuk perlakuan benih bawang merah dalam mengendalikan Xaa penyebab penyakit hawar daun bakteri dan informasi mengenai respon

Catatan: Predikat ditulis dengan jumlah skor perolehan, misalnya A (19) agar mudah direkap oleh guru PKn dan Agama. Diperdengarkan teks dialog short fungsional berbentuk

Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sekolah Islam Terpadu adalah sekolah yang diselenggarakan dengan memadukan secara integratif ajaran dan

RANCANG BANGUN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ADVENTURE GAME MENERAPKAN PENDEKATAN SAINTIFIK MATA PELAJARAN SISTEM KOMPUTER.. Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu

RPJMD Kabupaten Lombok Utara Tahun 2011-2015 bukan hanya merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Bupati-Wakil Bupati terpilih yang disetujui dan