Antara kemiskinan dan pendidikan.
Suatu bangsa yang ingin mencapai kemajuan, menganggap pendidikan sebagai salah satu dari berbagai kebutuhan vital dan itu sama halnya dengan kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Bahkan dalam bangsa yang kecil yaitu keluarga, pendidikan adalah kebutuhan pokok. Dalam arti bahwa, mereka akan mampu mengurangi kualitas rumah dan bahan makanannya dan mengupayakan pendidikan tinggi untuk anaknya.
Maka sebaiknya negara juga demikian halnya. Apabila suatu negara ingin cepat mendapat kemajuan dan perkembangan dalam segala aspek kehidupan, maka prioritas utama
pembangunan adalah pembangunan di bidang pendidikan. Pendidikan adalah topik yang tidak akan pernah ada habis-habisnya, sebab siapapun, di manapun, kapanpun, bagaimanapun dan apapun yang terjadi kita harus tetap belajar. Belajar dari masalah dan mampu membaca keadaan yang terjadi, merupakan proses belajar yang akan selalu kita dapati dan lakukan di lapangan. Jika pada akhir-akhir ini, bangsa Indonesia sedang giat-giatnya menggalakkan program di bidang pembangunan teknologi demi menyejajarkan dengan bangsa lain yang lebih maju, maka sepertinya itu harus ditunda dulu. Sebab, pendidikan adalah hal yang utama digalakkan jika ingin menyamakan diri dengan negara lain yang lebih maju. Negara-negara maju itu bukan dimulai dari kemampuan berpikir secara cepat akan tetapi modal utama dari semuanya itu adalah ilmu diikuti dengan keinginan kuat untuk maju.
Sejak lama, negeri ini selalu menggalakkan program wajib belajar. Maksud pemberian wajib belajar itu adalah untuk tujuan yang baik. Wajib belajar itu adalah pemberian pelayanan kepada anak bangsa untuk memasuki sekolah dengan biaya murah dan terjangkau oleh kemampuan masyarakat banyak. Pada umumnya penduduk di Indonesia adalah kalangan yang terbilang belum mampu dalam hal materi. Sehingga, pemerintah pada akhir-akhir ini selalu berusaha memberikan bantuan khusus kepada sekolah-sekolah. Bantuan itu adalah guna meningkatkan mutu kinerja tenaga pendidik dan yang terdidik.
Program ini bukan ditujukan untuk kalangan tertentu, tapi semua kalangan haruslah dapat merasakan hal ini. Pemberian bantuan kepada yang kurang mampupun telah digalakkan sejak dulu. Namun, entah apa kendalanya, tetap saja sulit untuk terealisasikan.
Tulisan ini menyorot pada situasi pendidikan yang semakin melemah, beserta pergantian program maupun kurikulum yang dipergunakan dalam mendukung program belajar mengajar. Pergantian program-program pendidikan beserta kurikulumnya dianggap dapat melunturkan nilai pendidikan bangsa kita. Pergantian kurikulum tersebut dapat mengganggu aktivitas pendidikan kita. Setidaknya perhatian akan lebih tertuju ke arah itu. Apabila perlu, penetapan kurikulum itu haruslah berjangka panjang dalam waktu yang terbilang lama, supaya dapat diberi penilaian atas kurikulum yang mana yang lebih mendukung dan sesuai dengan prinsip pendidikan yang bangsa kita miliki.
Kemiskinan selalu jadi bayang-bayang di balik pendidikan kita. Kemiskinan menjadikan semuanya semakin kacau. Namun bagaimanapun juga, pendidikan tetap dinomorsatukan, sebab jika tak ada ilmu tidak akan kita dapati perbaikan kemiskinan. Kita akan tetap seperti posisi seperti ini di sepanjang tahun. Pendidikan menurut ketentuan perundang-undangan adalah kewenangan pemerintah daerah. Akan tetapi, sejauh ini belum ada realisasi yang nyata di lapangan. Cara pembagian anggaran dan pengelolaannya belum ada kejelasannya.
Otonomi daerah sering menjadikan sistem pendidikan berubah arah. Selalu terdapat penyelewengan.
Dalam target penurunan kemiskinan, diutarakan bahwa hal utama yang harus dibenahi duluan adalah bidang pendidikan yang semakin merosot. Perbaikan itu tentunya haruslah ke arah yang lebih baik dan lebih nyata. Dengan peningkatan mutu pendidikan secara otomatis pengangguran akan berkurang, kebodohan dapat diatasi dengan mudah. Namun
bagaimanapun ceritanya, pemerintahlah yang harus memberikan tanggung jawab penuh pada masalah ini.
Kita sebagai warga negara hanya mampu menjalankan dan menyesuaikan dengan peraturan yang telah ditentukan. Relitas itu sungguh memprihatinkan. Ternyata sejarah kian
menunjukkan bahwa masalah kemiskinan tidak akan muncul tiba-tiba kalau bukan kita penyebabnya dan tidak akan dapat teratasi dengan sendirinya secara tuntas, seiring dengan kebebasan dan kemerdekaan yang kita peroleh. Sudah 62 tahun kita terbebas, tapi toh juga seperti ini keadaan dan malah makin memburuk saja . Negara kita tetap miskin, peraturan yang dibuat seakan-akan hanya mengisi lembaran undang-undang saja. Ternyata pernyataan dalam kemerdekaan bukan menjadi jawaban kalau kita akan segera terbebas dari
permasalahan kebodohan dan kemiskinan. Tapi justru, kemerdekaan menjadi gerbang bagi kita untuk menjalani dan menghadapi permasalahan berikutnya.
Sebagai warga negara yang baik, tentunya besar harapan kita agar pendidikan kita semakin maju. Tidak ada yang lebih indah dari setiap keberhasilan. Keberhasilan di bidang apapun itu, nantinya akan mampu merubah nasib perjuangan bangsa, supaya tidak sia-sia apa yang telah diberikan oleh orang-orang terdahulu kita yang telah lebih dahulu memberikan perhatiannya pada negara ini.
Untuk menjadikan pendidikan yang berhasil, janganlah menempatkan kemiskinan di balik pendidikan kita. Kemiskinan itu tidak sepatutnya ada. Tapi itulah yang harus kita buang jauh-jauh dari kehidupan kita. Sebab, kalau kemiskinan itu tidak ada, niscaya kita akan dapat menjalani kehidupan ini dengan berbagai kemudahan. Pada intinya, pendidikan akan sejalan, seiring dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, dan warga negara Indonesia .
Semoga pendidikan di negara kita akan semakin terarah, dan tidak selalu dibayang-bayangi oleh kemiskinan, sehingga kemiskinan akan dapat kita atasi secara lambat laun. Perlahan tapi pasti.
Oleh: Octa Rina Manurung
PENGARUH KEMISKINAN TERHADAP MUTU PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi suatu bangsa. Dengan bekal pendidikan, suatu bangsa dapat bangkit dari keterpurukannya dan mencapai kejayaannya. Namun, tidak semua orang indonesia mau dan mapu mengenyam bangku sekolah.
Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam dan lingkungannya. Pendidikan sangat penting bagi setiap anak bangsa, karena dengan ilmu yang didapatnya, seorang anak mampu mepertahankan hidupnya.
Kemiskinan menjadi fokus perhatian bagi pemerintah indonesia. Masalah kemiskinan di negara ini selalu bersamaan dengan masalah laju pertumbuhan penduduk yang kemudian menghasilkan pengangguran, ketimpangan sosial dalam distribusi pendapatan nasional maupun pembangunan, dan pendidikan yang menjadi modal utama untuk dapat bersaing didunia kerja dewasa ini. Di zaman sekarang untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas maka perlu diimbangi dengan biaya. Sehinggga masyarakat yang berekonomi lemah tidak mampu untuk membayarnya. Akibatnya, pendidikan dan pengetahuan yang mereka miliki dibawah standar. Bahkan banyak anak-anak yang tidak sekolahdan putus sekolah karena kemiskinan.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
2.3 Bagaimana Cara Pemerintah Mengatasi Masalah Kemiskinan di Indonesia ? 2.4 Bagaimana Cara Pemerintah M engatasi Pendidikan yang Kurang Bermutu ?
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Dampak Kemiskina terhadap Mutu Pendidikan di Indonesia
Bagi bangsa yang ingin maju, pendidikan merupakan sebuah kebutuhan. Sebagian besar keadaan sosial ekonomi masyarakat kita tergolong tidak mampu, dengan kata lain, mereka masih dililit predikat miskin.kini kita melihat, hampir semua jenjang sekolah negeri sudah menjadi lembaga komersialisasi karena yang berbicara tidak lagi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh kurikuler, tetapi justru besarnya biaya untuk masuk sekolah dasar. Jika untuk masuk sekolah dasar ditentukan oleh umur, maka seorang anak yang sudah berumur 7 tahun atau lebih wajib diterima sebagai murid sekolah dasar. Ini adalah ketentuan yang tidak boleh ditawar karena ketentuan untuk masuk sekolahdasar adalah berdasarkan umu. Nyatanya, pelaksanaan wajib belajar dihalang-halangi, karena untuk masuk sekolah dasar pun kini harus membayar mahal sehingga msyarakat miskin tidak mungkin dapat membayarnya. Bagi masyarakat yang kaya atau orang tua yang kaya, anakny akan dapat bersekolah di sekolah negeri, sedangkan yang miskin akan gagal dan tidak bersekolah.
Untuk masuk kesekolah swasta, masyarakat miskin tidak mungkin mampu membayarnya. Akibatnya, banyak anak bangsa yang tidak akan memperoleh kesempatan pendidikan. Sungguh satu hal yang ironis. Sebab pada negara yang sudah 60 tahun usianya ini, banyak anak bangsanya yang menjadi buta huruf karena dililit kemiskinan di negeri ini akan terpuruk karena kualitas sumber daya manusianya tidak mampu bersaing dengan negara-negara yang lain.
praktik-praktik pungutan yang diadakan di sekolah-sekolah tetap dibiarkan dan tidak diterbitkan, maka akan bertambah banyaklah deretan anak-anak yang tidak bersekolah karena tidak mampu. Dan hanya anak orang kaya saja yang akan memperoleh pendidikan dari tingkat terbawah sampai ke tingkat yang tinggi. Akibat dari itu semua, negeri ini akan dihuni golongan kaya dan terdidik yang akan membentuk kelas tersendiri dalam masyarakat.
Disisi lain pihak akan terdapat keluarga miskin dan tidak terdidik yang merupakan golongan terbesardi negeri ini. Jika itu terjadi, alangkah rusaknya struktur masyarakat di negeri ini, yang berakibat terjadinya kesenjangan sosial yang tidak kita inginkan. Anehnya, kejadian-kejadian itu justru terjadi di era otonomi daerah, yang seharusnya ada perubahan mampu menuju kebaikan dalam pelaksanaan proses pendidikan.
Pendidikan sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Namun, biaya yang mahal justru sangat menghambat berkembangnya pendidikan di indonesia. Hal ini dikarenakan kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakat indonesia termasuk rendah, atau dengan kata lain masih banyak orang miskin di negara indonesia yang menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yang mereka terima.
Dampak kemisikina terhadap pendidikan sangat besar. Jika kemiskinan tidak segera diatasi maka untuk mencapai pendidikan yang bermutu sangat sulit, karena di zaman yang modern seperti sekarang ini persaingan sangat ketat, segala sesuatu membutuhkan sumber daya yang berkualitas dan mampu bersaing. Jika tidak maka akan sulit. Bagi masyarakat yang mampu mungkin tidak maslah, karena karena mereka memiliki cukup materi untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan denagn berbagai jalan salah satunya dengan kursus.
Semua warga negara memiliki hak yang sama yaitu berhak untuk menuntut ilmu. Tetapi karena kemisikinan hak tersebut kemudian terabaikan. Lebih ironis lagi, banyak anak-anak yang rela bekerja untuk membantu orang tuanya sehingga waktu belajar mereka habis digunakan untuk bekerja.
3.2 Faktor Penyebab Terjadinya Kemiskinan di Indonesia
Dalam suatu negara, pastilah terdapat tantangan besar didalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu tantangan tersebut adalah kemiskinan. Di indonesia, terdapat begitu banyak masyarakat yang terjerat dalam kemiskinan. Semua akibat tentunya ada sebabnya. Faktor-faktor yang menjadi penyebab kemiskina antara lain :
c. Apatis dan anti hal-hal baru
d. Mentalis dan etos kerja yang kurang baik e. Keadaan alam yang kurang mendukung f. Keterisoliran secara geografis dari pusat g. Tiadanya potensi atau produk andalan
h. Rendahnya tingkat kinerja dan budaya korup aparatur pemerintah daerah.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, dan pendidikan yang bermutu. Jadi, kemisikinan merupakan keadaan diamana tidak adanya materi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beberapa faktor lain yang menyebabkan kemisikinan :
a. Semakin meningkatnya jumalah penduduk, sementara lapangan kerja yang tersedia sangat minim
Melekatnya jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang memadai sehingga menciptakan pengangguran, dan dari pengangguran tersebut terciptalah kemiskinan. b. Tidak meratanya pendidikan
Pendidikan yang tidak merata terutama di daerah terpencil memberikan peran yang cukup besar dalam menambah angka kemiskinan, pendidikan selama ini lebih mengutamakan din kota-kota besar, sehingga hanya masyarakat kota saja yang memiliki pendidikan yang cukup. Sedangkan masyrakat dipelosok tetap dibayang-bayangi oleh kemiskinan.
c. Banyaknya pejabat yang melakukan tindakan korupsi
Tindakan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat yang tidak bertanggung jawab hanya memikirkan pribadi tanpa memikirkan orang-orang yang dirugikan. Jumlah uang dikorupsi oleh para kuoruptor sudah tidak terhitung lagi dan telah merugikan negara. Seharuysnya uang tersebut digunakan untuk biaya menguragi kemiskinan.
3.3 Cara Pemerintah mengatasi kemskinan di Indonesia
Pada prinsipnya, pemerintah dalam program pembangunannya telah menjadikan kemiskinan sebagai salah satu fokus utamanya. Program umum pemerintah sendiri dalam programnya adalah program pembanguna yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan perluasan lapang kerja.
Untuk mengatasi masalah kemiskinan, pemerintah memiliki peran yang besar. Namun, dalam kenyataannya, program yang dijalankan pemerintah belum mampun menyentuh pokok yang menimbulkan maslah kemiskinan ini. Ada beberapa program permerintah yang sudah dijalankan dan dimaksudkan sebagai solusi untuk mengatasi maslaah kemiskinan. Seperti diantaranya adalah program Bantuan Langsung Tunai yang merupakan kompensasi yang diberikan usai penghapusan subsidi minyak tanah dan program konversi bahan bakar gas. Selain itu juga ada pelaksanaan bantuan dibidang kesehatan yaitu jaminan kesehatan masyarakat atau jamkesmas. Namun kedua hal tersebut tidak memiliki dampak signifikan terhadap pengangguran angka kemiskinan. Baik ada atau tidak ada masalah kemiskinan di indonesia, negara wajib menyediakan jaminan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana diamnatakan oleh-oleh Undang-undang Dasar 1945. Sedangkan dampak dari kemiskinan itu sendiri, yaitu :
a. Pengangguran
Banyak masyarkat indonesia yang tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena itu mereka tidak memiliki penghasilan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Sehinggga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
b. Kekerasan
Kekeerasan ini merupakan efek dari pengangguran. Hal tersebut disebabkan karena seseorang tidak mampu lagi mencarui nafkah melalui ajaln yang benar. Ketika tidak ada lagi ajminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga kelangsungan hidupnya, maka jalan pintas pun dapat dilakukannya. Misalnya merampok, mendorong, mencuri atau menipu. c. Pendidikan
Mahalnya pendidikaan membuat masyrakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidkan. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan seseorang.
d. Kesehatan
Selain cara-cara diatas kemiskinan juga dapat diastasi dengan cara sebagai berikut : 1. Bantuan kemiskinan
Yaitu membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyrakat eropa sejak zaman pertengahan.
2. Bantuan terhadap keadaan individu
Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskinj berdasarkan perseorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja dan lain-lain
3. Persiapan bagi yang lemah
Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang msikin, banyak yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
3.4 Cara Pemerintah Mengatasi Pendidikan yang Kurang Bermutu
Upaya meningkatkan mutun ini menjadi penting dalam rangka menjawab berbagai tantangan terutama globalisasi, kemajuan ilmu penegtahuan dan teknologi serta pergerakan tenaga ahli yang sangat masif. Maka persaingan antar bangsa pun berlangsung sengit dan intensif sehingga menuntut lembaga pendidikan untuk mampu melahirkan output pendidikan yang berkualitas, memiliki keahlian kompetensi profesional yang siap menghadapi kompetisi global.
Beberapa upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan tantangan terbesar yang harus segera dilakukan oleh pemerintah. Upaya yang sedang dilakukan yaitu :
a. Sertifikasi
Yaitu proses pemberian sertifikasi pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas. Aertifikat pendidik adalah sertifikat yang ditandatangani oleh PT penyelenggara sertifikasi sebagai bukti formal pengakuan profesionalitas guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional.
b. Akreditasi
jalur pendidikan. Banyak kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat mengatasi berbagai macam masalah kemiskinan, yaitu :
1. Kebijaksanaan tidak langsung
Kebijaksanaan tidak langsung diarahkan pada penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya penanggulangan kemiskinan kondisi yang dimaksudkan antara lain adalah suasana politik yang tentram, ekonomi yang stabil dan budaya yang berkembang. 2. Kebijaksanaan langsung
Kebijaksanaan langsung diarahkan pada peningkatan peran serta dan produktifitas sumber daya manusia, khususnya golongan masyarakat berpendapatan rendah. Melalui penyediaan kebutuhan dasar seperti sandang pangan papan, kesehatan dan pendidikan, serta pengembangan-pengembangan sosial ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong kemandirian masyarakat yang yang berpendapatan rendah. Pemenuhan kebutuhan dasar akan memberikan peluang bagi penduduk miskin melakukan kegiatan sosial ekonomi yang dapat memberikan pendapatan yang memadai. Pengembangan kegiatan sosial ekonomi rakyat diprioritaskan pada pengembangan kegiatan sosial ekonomi penduduk miskin di desa-desa miskin berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan permodalan yang didukung sepenuhnya dengan kegiatan pelatih.
Selain dari pihak pemerintah, dari pihak masyarakat yang bersangkutan pun juga dapat mengatasi kemiskinan di negeri ini, yaitu :
1. Usaha individu
Pada lazimnya seseorang itu dapat mengatasi kemiskinan dirinya dengan cara penerusan pendidikan hinggga ke jenjang yang tinggi.
2. Penyedekahan
Penyedekahan merupakan satu cara yang baik untuk membantu golongan miskin dalam masyarakat. Tetapi ia tidak dapat mengatasoi masalah kemskinan secara keseluruhan. 3. Pembangunan ekonomi
Pembnangunan ekonomi dengan cara penambahan berang-barang dan penghidmatan yang ditawarkan dalam pasaran di sebuah negara. Pembangunan ekonomi merupakan cara yang paling berkesan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Tetapi ia harus disertai dengan penagihan pendapatan yang adil dalam masyarakat.
Beberapa penerapan pola peningkatan mutu di indonesia telah banyak dilakukan, namun masih belum dapat secara langsung memberikan efek perbaikan mutu tersebut. Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pedidikan, salah satu upayanya adalah dengan merubah atau memperbaiki kurikulum beberapa proyek peningkatan, diantaranya :
1. Proyek MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah) 2. Proyek Perpustakaan
3. Proyek BOMM (Proyek Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu) 4. Proyek BIS (Bantuan Imbal Swadaya)
5. Proyek peningkatan Mutu Guru 6. Proyek pengadaan Buku Paket
7. Proyek DBL (Dana Bantuan Lngsung) 8. BOS (Bantuan Operasional Sekolah) 9. BKM (Bantuan Khusus Murid)
BAB IV PENUTUP Kesimpulan
Kemiskinan merupakan masalah yang sangat rumit dan memberikan dampak keberbagai bidang terutama pendidikan. Berbagai cara yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kemiskinan. Muai dari pemberian BLT bagi masyarakat ekonoimi lemah, pendidikan gratis, perbaikan dan perkembangan kampung. Namun, pada kemnyataannya angka kemiskinan tetap tinggi. Faktor kemiskinan diantaranya meningkatkan jumlah penduduk yang tidak disertai dengan kualitas sumber daya manusia, tidak meratanya pendidikan, serta banyaknya pejabat negara yang melakukan tindakan korupsi.
bantuan berupa modal usaha kepada masyarakat yang berekonomi lemah, serta memberantas korupsi.
DAMPAK KEMISKINAN TERHADAP PENDIDIKAN
( Oleh : Ellys Sudarwati, SH, YLPHS )
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks. Kemiskinan berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia. Kemiskinan muncul karena sumber daya manusia yang tidak berkualitas, begitu pula sebaliknya. Membangun pengertian kemiskinan bukanlah perkara yang mudah karena kemiskinan mencakup berbagai macam dimensi. Dimensi kemiskinan dapat diidentifikasi menurut ekonomi, sosial, politik. Kemiskinan secara ekonomi dapat diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kemiskinan ini dapat diukur secara langsung dengan menetapkan persediaan sumber daya yang tersedia dan membandingkannya dengan ukuran baku.
Sebenarnya sudah cukup banyak program-program yang dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan yang mengancam anak-anak. Program-program itu adalah Program Keluarga Harapan (PKH),Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).(Abidin). Pada PKH, rumah tangga miskin diberi uang tunai sama dengan program BLT, tapi dalam PKH ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu uang tunai tersebut hanya diberikan jika anak-anak usia sekolah dalam keluarga tersebut benar-benar masih bersekolah. Sasaran PKH cukup jelas, yaitu agar anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin terjamin haknya untuk memperoleh pendidikan sampai sekolah
menengah atas. Dengan pendidikan yang memadai diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan yang terjadi pada orang tua dan keluarganya sehingga tidak berlanjut ke anak-anak generasi berikutnya.
Pendidikan mutlak di butuhkan oleh semua warga Indonesia baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan sangat menunjang perbaikan taraf hidup kita. Pendidikan di artikan sebagai usaha yang di jalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Saat ini, di Indonesia melakasanakan wajab belajar 9 tahun terhitung dari tingkat SD sampai SLTA.
Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak terkecuali, keadilan dalam memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada di garda terdepan untuk mewujudkannya. Penduduk miskin dalam konteks pendidikan sosial mempunyai kaitan terhadap upaya pemberdayaan, partisipasi, demokratisasi, dan kepercayaan diri, maupun kemandirian. Pendidikan nonformal perlu mendapatkan prioritas utama dalam mengatasi kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan sosial ekonominya
Sayangnya, program-program tersebut belum dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan program tersebut. Walaupun banyak penyimpangan yang terjadi, keberadaan program tersebut masih sangat diharapkan oleh masyarakat untuk menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia, sehingga juga dapat mengurangi bahkan menuntaskan jumlah anak-anak yang putus sekolah demi mencari nafkah bagi keluarganya. Pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan program PKH dan BOS yang sudah ada. Adakan evaluasi pada program-program tersebut. Selain itu program pengentasan kemiskinan berupa program-program yang membuat
masyarakat lebih produktif lagi, bukan hanya sekedar memberi mereka bantuan-bantuan yang justru membuat mereka bergantung pada pemerintah.
Satu hal yang patut direnungkan atas kejadian seperti ini pemahaman bahwa perlu mempertajam kepekaan kita terhadap lingkungan sosial tentang kemungkinan adanya kelompok miskin yang memerlukan uluran tangan atau sentuhan pemberdayaan untuk menggiring mereka keluar dari zona kemiskinan. Kepekaan yang diharapkan menyertai para petinggi negara ketika memubat kebijakan menyangkut khalayak ramai. Beberapa cara yang ditempuh oleh kelompok pemerhati anak mencoba memberikan bantuan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) melalui asupan makanan padat gizi layak dikedepankan.
seperti ini yang paling sering dilakukan terhaap warga miskin. Pemberian nutrisi secara teratur nyata bisa membantu anak mencapai pertumbuhan maksimal. Dibeberapa kantong-kantong komunitas keluarga miskin memerlihatkan ada kemajuan signifikan setelah mendapat asupan gizi. Asupan gizi seperti ini sangat efektif melihat pertumbuhan jasmani dan kemampuan berpikir khususnya mempersiapkan anak-anak ini memasuki dunia pendidikan.
Dalam upaya mengentaskan dan memutuskan mata rantai kemiskinan, salah satu titik berat yang harus diberikan perhatian yang serius adalah anak-anak. Pemerintah seharusnya bisa menjamin dan memenuhi hak-hak mereka. Alokasi anggaran untuk kepentingan publik juga seharusnya lebih berpihak pada pembangunan generasi penerus dan diarahkan untuk
memenuhi hak-hak anak dalam rangka mengembangkan potensi diri serta memberikan bekal kemampuan untuk masa depan mereka. Penghematan anggaran juga sepatutnya dilakukan oleh para wakil rakyat jika memang mereka benar-benar serius dan tulus mewakili rakyat dan menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, termasuk anak-anak yang hidup dalam
kemiskinan, mengingat masih begitu banyak dan akan lebih banyak lagi barisan anak-anak yang harus ditolong akibat semakin kerasnya deraan kehidupan ekonomi yang semakin memprihatinkan akhir-akhir ini.
Terlebih lagi, kita harus menyadari dan merenungkan bahwa anak-anak merupakan titipan Sang Pencipta yang harus kita jaga dan rawat dengan baik. Oleh karenanya, upaya
pengurangan kemiskinan juga harus difokuskan pada anak-anak dengan menyediakan sarana sosial dasar (pendidikan dan kesehatan gratis) dengan kualitas yang baik bagi anak-anak yang merupakan kunci bagi mereka untuk membangun kapasilitas dasar mereka dalam rangka menjalani kehidupan dengan lebih bermartabat dan juga untuk menjamin kualitas generasi penerus keberlangsungan dan keberlanjutan hidup bangsa ini.
Korelasi Antara Pendidikan dan Kemiskinan
Oleh : Riska Fauza
Kemiskinan adalah fenomena yang sejak lama terjadi di Indonesia dan tidak dapat dipungkiri lagi besarnya dampak yang ditimbulkan. Dewasa ini, kemiskinan sering menjadi
perbincangan hangat di forum dunia namun belum menunjukkan penurunan angka
kemiskinan yang signifikan. Kemiskinan tidak hanya menarik perhatian Indonesia, tapi juga perhatian dunia baik Negara maju maupun Negara berkembang.
Kemiskinan menurut Van Den Berg (2001) merupakan istilah yang terkait pengertian relatif maupun absolut. Seseorang atau sebuah keluarga dianggap miskin atau hidup dalam
Todaro & Smith (2003) membagi kemiskinan berdasarkan penyebabnya, yaitu kemiskinan alamiah dan kemiskinan struktural. Kemiskinan alamiah terjadi karena kegagalan individu dan atau lingkungan fisik sebagai objeknya sehingga seseorang menjadi sulit dalam melakukan usaha atau mendapatkan pekerjaan. Kemiskinan struktural melihat kemiskinan sebagai bagian relatif, di mana terdapat sekelompok masyarakat yang miskin sementara kelompok lainnya tidak miskin. Sedangkan kemiskinan berdasarkan keparahan dibagi menjadi kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Sedangkan kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar
minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya).
Mankiw (2010) menyatakan bahwa sebagian besar orang akan menyukai untuk meningkatkan jumlah dan kualitas barang dan jasa yang mereka konsumsi. Namun demikian, pendapatan seseorang yang kurang akan menjadi batasan bagi orang tersebut untuk mengkonsumsi barang dan jasa lebih sedikit dari yang diinginkan. Dengan kata lain, konsumen menghadapi sebuah keterbatasan berapa banyak yang mereka dapat belanjakan, yang disebut keterbatasan anggaran.
Menurut Bappenas (2011) program penanggulan kemiskinan dibagi atas beberapa klaster. Klaster I mencakup beasiswa miskin, JAMKESMAS, RASKIN, PKH, BLT (bila diperlukan), dan lain-lain. Klaster II mencakup PNPN (program-program pemberdayaan masyarakat). Klaster III kredit usaha rakyat (KUR). Sedangkan klaster IV mencakup program rumah sangat murah, program kendaraan angkutan murah, program air bersih untuk rakyat, program listrik murah dan hemat, program peningkatan kehidupan nelayan, program peningkatan masyarakat miskin perkotaan.
Sedangkan menurut Susilo Bambang Yudyono dalam Kuncoro (2013) menyatakan bahwa untuk mengurangi tingkat kemiskinan yang ekstrim, kebijakan yang perlu dilakukan adalah mengurangi beban yang ditanggung masyarakat, misalnya sekolah dan pengobatan gratis bagi rakyat yang sangat miskin, beras dengan harga yang lebih murah, dan memberikan bantuan sosial termasuk pada yang terkena bencana.
Korelasi antara pendidikan dan kemiskinan sudah lama menjadi isu sentral di banyak Negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, permasalahan muncul sebagai akibat besarnya subsidi yang diperuntukan bagi kelompok masyarakat miskin (Carey, 2002). Sedangkan di Indonesia permasalahannya berpusat kepada tidak meratanya penyediaan fasilitas sekolah di tiap kota, baik itu kota besar maupun kota terpencil. Selain itu, yang menjadi fokus masalah di Indonesia adalah miskinnya kejujuran pada pengelola dan penerima bantuan biaya pendidikan.
Karakteristik Demografi Kepala Rumah tangga, 2008
Karakteristik rumah tangga Miskin Tidak miskin
Rata-rata jumlah anggota rumah tangga Presentase wanita sebagai kepala rumah
tangga
Tabel Karakteristik Pendidikan Kepala Rumah tangga, 2008
Karakteristik rumah tangga Miskin Tidak miskin
- Perkotaan
Tabel Karakteristik Kepala Rumah Tangga Berdasarkan Pendidikan, 2008
Karakteristik rumah tangga Tidak tamat SD
Sedangkan menurut BKKBN Persentase penduduk laki-laki usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis dari data tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 masih berkisar di angka 95 persen. Sementara itu, persentase penduduk perempuan yang melek huruf
mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai 2010 sebelum akhirnya mengalami sedikit penurunan pada tahun 2011. AMH (Angka Melek Huruf) perempuan tahun 2007 adalah 88,62 persen meningkat menjadi 90,52 persen tahun 2010 dan kemudian menurun menjadi 90,07 persen pada tahun 2011.
ekonomi, minat untuk bersekolah rendah, perhatian orang tua yang kurang, fasilitas belajar yang kurang mendukung, faktor budaya dan lokasi atau jarak sekolah.
Sedangkan menurut Muhammad Firman (2009), faktor ketidakmampuan membiayai sekolah atau faktor ekonomi menjadi faktor penyebab paling dominan putus sekolah. Kenyataan itu dibuktikan dengan tingginya angka rakyat miskin di Indonesia yang anaknya tidak bersekolah atau putus sekolah berasal dari aspek internalnya, yaitu tidak ada keinginan atau motivasi untuk melanjutkan sekolah dalam diri anak sehingga menyebabkannya memutuskan untuk berhenti sekolah.
Kemiskinan memiliki hubungan yang sangat erat dengan pendidikan. Dimana pendidikan di Indonesia pun menjadi bahan perbincangan yang belum menunjukkan adanya titik temu dalam upaya meningkatkannya. Ini terlihat dari data yang diperoleh pada studi pustaka tentang angka yang cukup tinggi mengenai jumlah masyarakat yang menyandang status pendidikan di bawah SD atau jumlah masyarakat yang sangat sedikit dengan latar belakang sarjana dan data mengenai tingkat pengangguran yang dilatar belakangi oleh rendahnya tingkat pendidikan dan menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan dan pendidikan seperti lingkaran setan yang tidak pernah berujung hubungan keduanya.
Banyak masyarakat yang memutuskan untuk berhenti sekolah dengan alasan biaya pendidikan yang cukup tinggi atau ketidakcukupan fasilitas yang tersedia sehingga
masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas pun terpaksa tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengenai fasilitas terlihat jelas ketika terjadinya hujan deras atau gempa bumi pada sebuah daerah, yang dengan mudahnya dapat merobohkan bangunan sekolah atau menghentikan proses belajar mengajar karena tidak layak pakainya fasilitas. Diluar dari pembahasan bencana alam, ada sebuah pemikiran yang tertanam pada kita tentang ketidakadekuatan fasilitas yang disediakan.
Selain fasilitas, biaya juga sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Tidak sedikit keluarga yang menghentikan pendidikan anak karena mengeluhkan biaya pendidikan yang tinggi. Terkait hal itu, pemerintah mulai memberi bantuan dengan adanya subsidi pendidikan bagi keluarga yang tidak mampu. Namun, penyediaan subsidi atau bantuan biaya pendidikan pada keluarga yang tidak mampu belum berhasil menjadi pendongkrak angka rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia. Ada apa di balik ini semua?
Ternyata ada elemen penting yang harus mengiringi program penyediaan bantuan biaya pendidikan bagi keluarga tidak mampu, yaitu kejujuran. Baik bagi penyedia bantuan, pengelola bantuan, maupun penerima bantuan tersebut. Ketika masalah rendahnya pendidikan belum dapat diatasi, maka mempengaruhi tingkat pengangguran di Indonesia yang akan menjadi pendukung utama pada tingginya angka kemiskinan di Indonesia.