BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam Negara Republik Indonesia ini, adat yang dimiliki oleh masyarakat kita adalah berbeda-beda menurut daerah dan suku-suku bangsa, meskipun dasar serta sifatnya adalah satu, yaitu ke-Indonesiaan. Setiap daerah dan suku bangsa mempunyai adat kebiasaan sendiri-sendiri yang hingga kini tetap melekat dan tetap dijalankan oleh warganya. Tingkatan peradapan maupun cara penghidupan yang modern tidak mampu menghilangkan adat kebiasaan yang hidup dalam setiap masyarakat, tetapi dengan adanya proses kemajuan ini adat hanya disesuaikan dengan kemajuan dan perkembangan, sehingga adat yang hidup dalam masyarakat tersebut tetap kekal. Adanya keragaman adat daerah dan suku bangsa di Indonesia memperkaya budaya bangsa Indonesia, oleh karena itu maka adat harus selalu dipelihara kelestariannya.
Adat merupakan pencerminan daripada kepribadian sesuatu bangsa, merupakan salah satu penjelmaan daripada jiwa bangsa yang bersangkutan dari abad ke abad. Oleh karena itu, maka tiap bangsa di dunia ini memiliki adat kebiasaan sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainya. Oleh karena perbedaan itulah maka dapat merupakan unsur terpenting yang memberikan identitas kepada bangsa yang bersangkutan.
peradapan telah berubah maju, namun adat kebiasaan yang dianut masyarakat masih sangat kuat, salah satunya adat untuk menghormati arwah leluhur (orang mati).
Penghormatan terhadap arwah leluhur ini disebabkan karena masyarakat Sumba masih mepercayai Marapu. Dalam KBBI (2016) leluhur/le·lu·hur/ adalah nenek moyang (yang diluhurkan). Sedankan kepercayaan Marapu (atau Merapu) adalah “keyakinan hidup” yang masih dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu atau “ajaran para leluhur” senantiasa melakukan upacara dan perayaan ritual untuk mengiringi berbagai sendi kehidupan mereka. Kepercayaan ini dilambangkan dengan ritual, perayaan upacara, dan pengorbanan untuk penghormatan kepada sang pencipta juga arwah para leluhur mereka. Marapu dalam bahasa Sumba berarti “Yang dipertuan atau dimuliakan” terutama untuk menyebut arwah-arwah para leluhur mereka.
Menurut Hadiwijono (1977: 29-31) mengemukakan tentang Marapu sebagai berikut:” Marapu adalah tokoh ilahi yang di dalamnya termasuk alam gaib, baik dalam arti dewa maupun dalam arti roh, jiwa serta barang-barang duniawi yang menajdi tanda-tanda atau symbol kehadiran Marapu dan alam gaib tadi.”
melaksanakan banyak peraturan dan kewajiban. Misalnya upacara- upacara, menolong orang lain, menghormati ina-ama. Bila semua peraturan dan kewajiban itu dilaksanakan dengan teliti, hidupnya kan menjadi sejahtera (Ujan, 2012: 20).
Mengingat adat (berasal dari Bahasa Melayu) dan tradisi (berasal dari Bahasa Inggris) mengandung pengertian sebagai kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli, yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma hukum dan aturan yang saling berkaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan tradisional (Suyono dalam Rochwulaningsih 2009: 1), yang kemudian sering disebut sebagai secara umum sebagai hukum adat.
Orang Sumba sangat menghargai orang yang sudah meninggal dan leluhurnya. lni ditandai dengan dikuburnya orang yang telah meninggal di depan rumah atau di tengah kampung. Karena beranggapan, leluhur inilah yang telah menetapkan tata cara adat-istiadat yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, perekonomian dan sebagainya. Personifikasi Marapu terwujud dalam bentuk patung, lambang bulan, matahari, berbagai bentuk binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Semua itu diletakkan dalam tempat yang baik dan kuat disimpan di atas loteng rumah. Pada tempat itulah roh leluhur hadir.
Orang Sumba percaya bahwa roh nenek moyang ikut menghadiri upacara penguburan dan karenanya hewan dipersembahkan kepada mereka. Roh hewan untuk roh nenek moyang dan daging atau jazat hewan dimakan oleh orang yg hidup. Sama halnya dengan upacara yg lain (Kebamoto, 2015).
Bagi orang Sumba menganggap kematian itu sebagai hal yang penting. Kematian berarti memulai kehidupan baru di alam akhirat. Karena itu memberikan bekal bagi orang yang telah meninggal bukanlah tindakan mubazir. Semakin tinggi kedudukan seseorang didalam masyarakat, dari golongan bangsawan (maramba) semakin besar upacara yang dikehendaki untuk diselenggarakan. Pelaksanan ritual Yawe adalah bentuk kepatuhan masyarakat adat di desa Walla Ndimu kecamatan Walla Ndimu Kodi pada hukum adat.
kebudayaan masyarakat tempat hukum adat itu berlaku. Aturan dan nilai adat awalnya dibuat dan disesuaikan dengan kebutuhan serta konteks masyarakat adat itu sendiri (Siboro 2010).
Berdasarkan deskripsi yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Ritual Yawe adat di daerah sumba, khususnya di desa Walla Ndimu Kabupaten Sumba Barat Daya. Judul penelitian yang diajukan adalah: “Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah,
1. Apa asal-usul Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya?
2. Bagaimana proses Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya?
3. Apa sarana dan prasarana Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya?
4. Bagaimana makna Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui asal-usul Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.
2. Mengetahui proses Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.
3. Mengetahui sarana dan prasarana Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.
4. Mengetahui makna Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya
D. Kegunaan Penelitian 1. Bagi Penulis
Kegunaan penelitian ini bagi penulis adalah sebagai salah satu sarana belajar untuk melatih cara berpikir kritis, ilmiah, dan untuk memperdalam pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan. Selain itu penulisan ini juga merupakan salah satu tugas atau syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai Gelar Sarjana di IKIP Budi Utomo Malang.
2. Bagi masyarakat Sumba
Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan agar masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada terutama untuk mengkaji norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
3. Bagi lembaga
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Budaya
1. Pengertian Budaya
Defenisi kebudayaan tradisonal pada dasarnya menggabungkan antara pengertian pertama dan ketiga, di dalamnya termasuk puncak-puncak kebudayaan disebet sebagai peradapan. Jenis kebudayaan inilah yang disebut sebagai kebudayaan yang sesungguhnya, yang dengan sendirinya harus dipelihara, dilestarikan, dipertahankan strukturnya. Kajian budaya diturunkan gabungan antara defenisi antara dua dan ketiga, di dalamnya terkandunng berbagai pengertian yang bersifat berbagai politis, memihak, tetapi tetap memiliki makna tertentu, sesuai dengan kepentiangan masarakat luas, khususnya masahrakat minoritas. Dengan kalimat lain, perkembangan kajian budaya ingris diawali dengan perbedaan sudut pandang tersebut, yang secara nyata tampak melalui perbedaan antara kelas elite dengan kelas pekerja, sastra tinggi dengan sastra populer.
dan kedudukan yang relatif sama tergantung dari pemakai. Yang menjadi masalah adalah penggunaan kata budaya yang justru merupakaan unsur pokok.
Pertama, kata budaya masih sangat kuat implikasinya dengan kebudayaan , sebagai wilaya kajian antropologi, yang justru didekontruksi dalam kajian budaya dalam pengertian naraasi besar.
Kedua, seperti diatas, kata kultural jelas berasal dari cultural (colere) yang sekaligus mewakili pengertian aktifitas.
Ketiga, studi kultural jelas diadopsi dari tradisi kritik intelektual Inggris yang sejak awal kelahirannya didominasi oleh perbedaan pemahaman antara kebudayan dengan culturalism itu sendiri. Meskipun demikian, untuk kasus Indonesia rupanya istilah kajian budaya sudah diterima secara umum (Ratna, 2015: 105).
Secara histori (Sardar dan Loon,1997:24,54) kajian budaya lahir di Inggris sekitar 1960-an melalui lembaga Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS). Para pelopornya diantaranya: Richard Honggart (The Use of Literacy,1958), Raymond Williams (The Long Revolution,1961), E.P. Thompson (The Making of English Working class, 1963), Stuart Hall, Paul Willis, dan Dick Hebdige. Buku ketiga pelopor pertama sekaligus diangagap sebagai teks dasar, sedangkan ide dasarnya adalah Marxisme, seperti pertentangan kelasnya dan hidup manusia.
dan khas di India dengan masalah utama hubungan antara manusia dengan alam dan hubungan dengan bahasa Inggris asli dengan bahasa Inggris asli dengan bahasa Ingggris yang berkembang di India.
Di Indonesia kajian budaya mulai dibicarakan sekitar tahu 1990-an, dalam bidang sastra suda mulai dengan pembicaraan kritik sastra, seperti perdebatan sastra konsektual, sosiologi sastra dengan strukturalisme genetik Goldmannian dan sosiologi sastra neo-Marxis paada umumnya. Dalam kaitannya dengan emansipasi perempuan model kajian budaya yang di bicarakan dalam berbagai jurnal, seperti: Kalam,Horison, dan Basis dan dengan sendirinya perempuan. Pembicaraan lain melalui kajian-kajian media, kelas-kelas khusus di berbagai bidang studi, baik S1 maupun S2. Sebagai program studi yang relatif baru, timbul perbedan pendpat untuk menentukan lembaga mana yang di anggap pendiri pertama kajian budaya Indonesia. Penggunaan nama fakultas sastra yang kemudian juga di tambah dengan kebudayaan mempersulit usaha-usaha untuk mempertemukan persamaan pendapat tersebut. Terlepas dari perbedaan pendapat yang terjadi, untuk mengevaluasi berbagai kecendrungan sekaligus memberikan arah baru, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia (2002) mengadakan pelatihan untuk memahami aspek-aspek terpenting Cultural Studies.
1) Secara akademis, khususnya pada program studi magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana mengembangkan tiga pengutamaan, yaitu: pengendalian sosial, pariwisata budaaya, dan estetika.
2) Secara teknis kajian budaya Universitas Udayana mengembangkan pendekatan bentuk, fungsi, dan makna.
3) Di samping mengembangkan penelitian baik secara nasional maupun internasional, kajian budaya Universitas Udayana memberikan intensitas terhadap khazanah kearifan lokal bali, seperti; tri hita karana (keselarasan hubungan antar tuhan dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan manusia lainnya), desa kala patra (menerima perbedaan sebagai akibat faaktor tempat, waktu dan keadaaan), karmaphala (hubungna timbal balik antara perbuatan dengan hasil yang diperoleh), dan sebagainya. Ciri khyas ini dengan sendirinya di dukung oleh dan sejalan dengan ciri-ciri kajian budaya dan pada umumnya (Ratna, 2015: 106).
a) Ada objek studinya
b) Ada asumsi dasar yang melandasi metode dan teorinya
c) Disiplin tersebut memiliki sejarahnya sekaligus mengimlikasikan makna dan manfaatnya untuk perkembangan manusia.
Dengan singkat, kajian Budaya adalah disiplin, ilmu pengetahuan yang sudaah memiliki kedudukan yang sah, baik secara formal maupun informal, baik secara teoritis maupun praktis. Secara epistemologi kajian budaya termasuk ranah postmodernisme, oleh karna itu analisinya dilakukan meloalui teori-teori postrukturalisme. Sama dengan ilmu pengetahuan yang lain, secara aksiologis kajian budaya berfungsi untuk memahami keseluruan aspek kebudayaan. Perbedaannya apabilah ilmu pengetahuan yang lain cendrung mempertahankan eksitensi yang sudah ada, sebaliknya kajian budaya melakukan secara kritis, politis, dan partisipotaris, bahkan secara dekonstruktif (Storey, 2007: 2-3).
Pada dasarnya sastra, khususnya dalam proses analisis memiliki sejumlah persamaan dengan kajian budaya.
Pertama , kajian budaya menganalisis teks,wacana, sedangkan teks atau wacana merupakan masalah utama dalam sastra.
Kedua, Teori-teori kajian budaya, sebagai teori kontemporer, seperti: strukturalisme, semiotik, feminisme, resepsi, interteks, postkolonialisme dan dekontruksi berasal dari sastra.
Ketiga, dikaitkan dengan dua analisis sastra, yaitu analissi intriksi dan ekstrinsik, maka kajian budaya memiliki ciri-ciri yang relaiti dengan analisis terakhir.
Keempat, perkembangan antropologi sastra juga merupakan salah satu indikator hubungan antara sastra dan kajian budaya
2. Wujud kebudayan
Koentjaraningrat (2015:6-8) menyatakan bahwa budaya itu mempunyau tiga wujud ialah :
1) Wujud budaya sebagai suatu komplek dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
Wujud pertama adalah ideal dari budaya. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala atau dengan kata lain dalam alam pikiran dari warga masyarakat dimana budaya itu hidup. Warga masyarakat menyatakan gagasan dalam tulisan dan budaya ideal berada dalam karangan dan buku-buku hasill karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan.
Budaya ideal disebut juga adat tata kelakuan atau secara singkat adat dalam arti khusus atau adat istiadat dalam, bentuk jamaknya. Maksudnya tata kelakuan menunjukkan bahwa budaya ideal berfungsi sebagai tata kelaksanaan yang mengatur, mengendali dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Dalam fungsi itu secara khusus adat terdiri dari beberapa lapisan yaitu dari yang paling abstrak dan luas sampai yang paling konkret dan sistem hukum yang bersandar kepada norma-norma adalah lebih konkret.
2) Wujud budaya sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarkat.
Wujud budaya dari budaya yang disebut sistem sosial atau sosial system, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, dari detik ke detik, hari ke hari dan tahun ke tahun selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat kelakuan.
Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kehidupan manusia sehari-hari, sehingga sistem sosial bisa diobservasi dan didokumentasi.
3) Wujud budaya sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud ketiga dari budaya disebut budaya fisik dan memerlukan keterangan hanya karena merupakan seluruh total hasil fisik dari aktivitas perbuatan dan akrya semua manusia dalam masyarakat yang sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan difoto.
3. Unsur kebudayaan
Koentjaraningrat (2015: 2) mengemukakan bahwa ada tujuh unsur budaya yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yaitu :
3) Sistem pengetahuan 4) Bahasa
5) Kesenian
6) Sistem mata pencaharian hidup 7) Sistem teknologi dan peralatan 4. Tahap- Tahap Kebudayaan
Sujarwa (2016; 38) perkembangan kebudayaan dibagi atas tiga tahap: pertama tahap mistis, kedua tahap ontologis, dan ketiga tahap fungsional. Yang dimaksud tahap mistis adalah tahap dimana manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan. Kecenderungan bersifat mistis seperti ini masih sering dijumpai di daerah-daerah yang tingkat modernitasnya rendah.
penyeldikan terhadap alam dan lingkungannya untuk dimanfaatkan berdasarkan fungsinya (Sujarwa, 2016; 39).
B. Masyarakat
1. Pengertian masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas- entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur(Wikipedia, 2016).
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
sebuah wilayah tertentu dan memiliki budaya bersama. (John J. Macionis, 1997).
Dalam Ensiklopedi Indonesia, pengertian masyarakat ada tiga yaitu (1) Bentuk tertentu kelompok sosial berdasarkan rasional yang ditranslasikan (diterjemahkan) sebagai masyarakat patembayan dalam bahasa Indonesia, lalu kelompok sosial lain yang tetap berasaskan pada ikatan naluri kekeluargaan (family) disebut gemain-scaft atau masyarakat Paguyuban. Pengertian kedua masyarakat berdasarkan ensiklopedi manusia yaitu merupakan keseluruhan masyarakat manusia meliputi seluruh kehidupan bersama (3), Menunjukkan suatu tata kemasyarakatan tertentu dengan ciri sendiri (identitas) dan suatu otonomi (relatif) seperti masyarakat barat, masyarakat primitif yang merupakan suku yang belum banyak berhubungan dengan dunia sekitarnya.
2. Karakteristik masyarakat adalah:
1) Aglomerasi dari unit biologis dimana setiap anggota dapat melakukan reproduksi dan beraktivitas
2) Memiliki wilayah tertentu
3) Memiliki cara untuk berkomunikasi
4) Terjadinya diskriminasi antara warga masyarakat dan bukan warga masyarakat
Dan berbagai definisi yang ada, dapat dicatat beberapa unsur penting masyarakat sebagai berikut:
1) Adanya sekelompok manusia yang hidup bersama. Dalam hal ini, tidak dipersoalkan berapa jumlah manusia yang hidup bersama itu. Sedikitnya ada dua orang.
2) Kehidupan hersama tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Ungkapan “cukup lama” bukanlah sebuah ukuran angka. Melainkan, hendak menunjukkan bahwa kehidupan bersama tersebut tidak bersifat insidental dan spontan, namun dilakukan untuk jangka panjang.
3) Adanya kesadaran di antara anggota bahwa mereka merupakan satu kehidupan bersama. Dengan demikian, ada solidaritas di antara warga dan kelompok manusia tersebut.
4) Kelompok manusia tersebut merupakan sebuah kehidupan bersama. Maksudnya, mereka memiliki budaya bersama yang membuat anggota kelompok saling terikat satu sama lain.
anggota yang hidup tidak sesuai dengan budaya dan norma yang berlaku dalarn masyarakat tersebut. Mekanisme ini relatif sudah terlembaga dalam masyarakat
C. Tradisi di Masyarakat Sumba
Pulau ini oleh suku bangsanya sendiri disebut "Tana Humba". Menurut ceritera, kata humba berasal dari nama isteri nenek moyang pertama orang Sumba yang datang dan mendiami Sumba, yakni ibu model Rambu Humba, isteri kekasih hati Umbu Walu Mandoku. Salah satu peletak landasan suku¬-suku atas kabisu-kabisu Sumba. Kata 'humba'atau 'sumba'artinya 'asli', jadi tana humba artinya 'tanah asli'(Soeriadiredja, 2002).
Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten, yakni Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, KAbupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur. Pulau ini terletak dibelahan luar paling selatan dari untaian pulau-pulau di Indonesia yang termasuk ke dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur. Atau pada 10 LS dan 120 BT, tepatnya di Tenggara Pulau Bali, sebelah selatan Pulau Flores, di sebelah barat daya Pulau Timor, di sebelah barat laut Darwin — Australia. Sebagai sebuah pulau, Pulau Sumba merupakan salah satu dari 3 pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu Pulau Flores, Timor dan Sumba. Dalam peta, pulau Sumba bagaikan sebuah atol di tengah lautan dengan karakteristik kehidupan yang begitu spesifik dan unik. Keunikannya, karena pulau Sumba terkenal dengan ragam atraksi kesenian, upacara adat dan kampung adat yang sangat spesifik dengan kuburan batu dan menhir peninggalan zaman megalitikum.
tempat upacara pemujaan berupa tugu (semacam lingga-yoni) yang dibuat dari sebatang kayu kunjuru atau kayu kanawa serta sisi-sisinya diletakkan batu pipih. Batu pipih tersebut merupakan tempat untuk meletakkan bermacam-macam sesaji kepada Umbu-Rambu (dewa-dewi) yang berada di tempat itu, antara lain berupa pahapa (sirih pinang), kawadaku (keratan mas), dan uhu mangejingu (nasi kebuli) (Soeriadiredja, 2002).
1. Marapu
Kepercayaan Marapu (atau Merapu) adalah “keyakinan hidup” yang masih dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu atau “ajaran para leluhur” senantiasa melakukan upacara dan perayaan ritual untuk mengiringi berbagai sendi kehidupan mereka. Kepercayaan ini dilambangkan dengan ritual, perayaan upacara, dan pengorbanan untuk penghormatan kepada sang pencipta juga arwah para leluhur mereka. Marapu dalam bahasa Sumba berarti “Yang dipertuan atau dimuliakan” terutama untuk menyebut arwah-arwah para leluhur mereka.
Menurut Hadiwijono (1977: 29-31) mengemukakan tentang Marapu sebagai berikut:” Marapu adalah tokoh ilahi yang di dalamnya termasuk alam gaib, baik dalam arti dewa maupun dalam arti roh, jiwa serta barang-barang duniawi yang menajdi tanda-tanda atau symbol kehadiran Marapu dan alam gaib tadi.”atas dasar yang dikemukakan itu, berikut adalah penggolongan Marapu sesuai dengan kedudukan, pangkat, dan kekuasaan (Daeng, 2008:118):
Marapu Inyangita atau Marapu Awange dimasukkan marapu-marapu berikut:
a) Marapu yang tertinggi, yang hidup samar-samar dalam kenang-kenangan; oleh masyarakat Marapu yang tertinggi dikatakan sebagai yang menjadikan dan pengayam manusia. Di Sumba Barat, Marapu yang tertinggi disebut Inna Kalada-Ama Kalada (nenek dan kakek). Oleh sub-kelompok etnik lain diberi nama Inna Matunggu- Ama Matunggu. b) Marapu yang memerintah, pelaksana kehendak Marapu tertinggi. Marapu
ini disebut Inna Nuku-Ama Hara, karena merekalah yang menjamin bahwa nuku (hukum) dan hara (cara) yang terpelihara dalam masyarakat. c) Marapu Pengawas untuk para dewa sebagai pelaksana segala-galanya
yang direncanakan oleh Marapu yang memerintah.
2) Marapu yang tergolong dalam alam manusia, yang selanjutnya dirinci sebagai berikut;
a) Marapu mete (Marapu orang mati) ialah Marapu arwah orang yang sudah mati, yang berpindah dari alam nyata kea lam gaib.
b) Marapu Moripa (marapu hidup) ialah roh-roh yang karena keadaannya memang menjadi marapu; mereka hanya dapat didekati manusia dengan perantara Marapu mate.
3) Di samping marapu-marapu yang disebut diatas, ke dalam Marapu digolongkan:
tujuan-tujuan destruktif bagi orang lain. Oranng sering membawa sesajian pada watu kabala.
b) Peralatan kerja dan senjata yang pernah digunakan oleh nenek moyang; peralatan itu dipandang berpengaruh positif maupun negative bagi manusia.
c) Batu-batu di Sumba Tengah dan Sumba Timur disebut Katoda, yang dijadikan tempat untuk meletakkan sesajian yang diteruskan kepada Marapu yang bersangkutan (Daeng, 2008: 120).
'Marapu' terdiri dari dua kata, ma dan rapu. Kata ma berarti 'yang'. Sedangkan kata rapu berarti 'dihormati' dan 'didewakan'. Atau mera dan appu. Mera artinya 'serupa' dan appu artinya 'nenek moyang'. Jadi Marapu artinya 'serupa dengan nenek moyang'. Dalam kaitannya ini, 'Marapu" merupakan kepercayaan asli orang Sumba. Pemujaan arwah nenek moyang atau leluhur yang didewakan merupakan unsur yang menonjol. Mereka disebut 'Marapu', yang dipertuan, yang diperdewa, yang diperilah adalah para leluhur yang sangat dihormati oleh anak cucunya turun temurun (Boim, 2010).
Marapu terbagi menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu. Marapu yang pertama merupakan arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan). Sedangkan marapu Ratu ialah merapu yang dianggap turun dari langit dan merupkan leluhur dari para Marapu lainnya.
atau perak (ada pula berupa patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu. Lambang-lambang suci itu disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu. Walaupun mempunyai banyak Marapu yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Sang Maha Pencipta. Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur saja, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa(Wacana, 2012).
Pengakuan adanya Sang Maha Pencipta biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan. Itu pun hanya dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja. Dalam keyakinan Marapu, Sang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk menyebut nama-Nya pun dipantangkan.
Sedangkan para Marapu itu sendiri dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya(Daeng, 2008:118).
percaya bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan(Wacana, 2012).
Bagi masyarakat Sumba, hidup manusia harus selalu disesuaikan dengan irama gerak alam semesta dan selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara manusia dengan alam tidak berubah. Selain itu manusia harus pula mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di setiap bagian alam semesta ini. Bila selalu memelihara hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat dipertahankan (Wacana, 2012).
Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dengan arwah-arwah dari manusia yang sudah mati. Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku-hara sehingga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu (Wacana, 2012).
Untuk memulihkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya, maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara (Wacana, 2012).
2. Upacara Kematian dan Pemakaman Masyarakat Sumba
mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanda hormat dan bakti pada para leluhur, serta menjalin rasa solidaritas kekerabatan di antara mereka(Daeng, 2008:118).
Saat kematian merupakan saat perubahan atau perpindahan dari alam nyata ke alam gaib yang dalam luluku dikatakan njulu la kura luku — halubu la mandu mara (menjelma bagai udang sungai dan berubah bagai ular darat). Tubuh yang mati hanyaiah sebagai tada (kulit) atau haruma (selaput) dan tidak bersifat kekal, sedangkan yang hidup kekal ialah ndiawa (roh). Roh inilah yang harus kembali kepada Mawulu Tau — Majii Tau. Akan tetapi, Selama tubuh yang mati itu belum dikebumikan dengan berbagai upacara, maka selama itu pula rohnya masih melayang-layang dan dapat membawa bahaya, baik terhadap kerabatnya maupun terhadap orang lain(Daeng, 2008:118).
Orang Umalulu membedakan dua macam kematian, yaitu meti mbana (kematian panas) dan meti maringu (kematian dingin). Adapun yang dimaksud dengan meti mbana ialah kematian yang bukan disebabkan oleh ketuaan atau penyakit, melainkan karena mati terlantar (njadangu), kecelakaan ( manjurangu) dan akibat perang ( meti la pabiara). Sedangkan meti maringu ialah kematian yang disebabkan oleh usia tua atau penyakit (Daeng, 2008:118).
melayat diselubungkan pada jenazah. Kemudian jenazah dipindahkan ke kaheli bokulu (balai besar) dan selama empat malam dijaga bergiliran oleh kaum keluarganya. Pada waktu itu pula dipersembahkan korban kerbau, kuda, babi dan ayam(Daeng, 2008:118).
Kematian dan pemakaman menurut adat Sumba berkaitan dengan kebiasaan menurut aliran kepercayaan Marapu.
1. Saat Wafat.
Bila seorang Bangsawan wafat, tidak diperkenankan untuk menangis dan belum boleh memberitahu keluarga lain. Jika wafat di rumah sakit, maka almarhum dibawa ke kampungnya untuk diadakan acara Memanggil. Salah satu orang tua harus melakukan pemanggilan dengan menyebutkan nama orang yang wafat sebanyak empat kali. Jika tidak menjawab, maka dikatakan sudah wafat.
Ungkapan wafat bagi orang Sumba adalah jika yang wafat seorang bangsawan perempuan, dikatakan " Namberanyaka mbalu, Nanjorunyaka Au " artinya tempayan airnya pecah, balai-balai dapurnya roboh. Jika yang wafat seorang bangsawan laki-laki maka dikatakan " Na Njorunyaka Njara, Na mbatanyaka Landu " artinya Jatuh dari Kuda, patah jambul di kepalanya.
2. Pa Hadangu artinya "Membangunkan"
Membangunkan berarti membuat rohnya berada kembali di dalam tubuh atau jenazah sehingga dapat diberi sirih pinang dan makanan. Pada hari itu dipotong seekor kuda sebagai Dangangu ( kurban ).
Gong mulai dibunyikan pada siang dan malam sebagai tanda berduka. Bunyi dan irama Gong pad upacara kematian berbeda dengan bunyi dan irama Gong pada saat pesta atau keramaian. Pada upacara kematian disebut Pa Hengingu dan Patambungu, sedangkan pada upacara pesta disebut Pahandakilungu dan Kabokangu. Arti dari bunyi dan irama Gong
ada beberapa macam tapi dalam penafsiran mengandung kalimat-kalimat
tanya jawab sebagai berikut : Ka Nggikimunya Dumu? Artinya Kau mengapakan dia? Dan dijawab Ba Meti Mana Duna artinya dia mati sendiri.
3. Membuat Kuburan.
Kuburan asli orang sumba (Na Kahali Manda Mbata, Na Uma Manda Mabu) artinya balai-balai yang tidak akan patah, rumah yang tidak akan lapuk = negeri yang baka. Terdiri dari lubang bulat, setelah jenazah
diturunkan, ditutup lebih dahulu dengan batu bulat kecil disebut Ana
Daluna lalu ditutup dengan batu yang lebih besar. Sesudah itu dilindungi
dengan batu besar yang ditopang oleh empat batang batu sebagai kakinya.
Kuburan seperti itu namanya " Reti Ma Pawiti ". Biasanya hanya untuk
Bangsawan karena biayanya mahal. Rakyat biasa, kuburannya cukup
ditutup dengan batu besar saja.
Tergantung pada musyawarah keluarga inti, apakah pemakaman dilakukan
dalam waktu dekat atau waktu yang lama (dua sampai enam bulan, atau
tahunan bahkan puluhan tahun).
Kalau masih lama dikuburkan, maka jenazah disimpan di salah satu kamar
dalam rumah (Puhi La Kurungu) atau dikuburkan sementara dengan belum diupacarakan (Dengi Tera). Jika demikian, keluarga-keluarga yang jauh maupun dekat harus diberitahu dengan mengutus " Wunang =
Delegasi " hanya untuk pemeberitahuan bahwa yang bersangkutan sudah
mati. (Supaya keluarga yang jauh jangan menyangka bahwa yang
bersangkutan masih sehat saja).
Mendekati waktu penguburan, diadakan musyawarah untuk :
a) Menentukan Waktu Penguburan.
b) Mengetahui kekuatan keluarga pengundang dengan melihat kehadiran dalam musyawarah itu.
c) Penentuan jumlah dan siapa saja keluarga yang akan diundang.
Wunang atau delegasi yang mengundang, biasanya berjumlah dua orang.
Sebelum mereka berangkat, dilengkapi dengan tata cara penyampaian
undangan secara adat dan kelengkapan undangan secara adat, yang disebut
" Kawuku ".
5. Lodu Taningu.
Keluarga yang jauh biasanya sudah datang pada hari sebelum pemakaman,
tetapi pada umumnya datang pada hari pemakaman. Urutan upacara
pemakaman, sebagai berikut :
Para tamu disambut dengan tata cara adat Sumba Timur dengan
membunyikan Gong dan Tambur, pelayanan pertama adalah pemberian
sirih - pinang. Dimana para penjaga jenazah harus menangis dengan
memperkeras suaranya. Masing-masing kelompok undangan
menyampaikan pernyataan tibanya melalui juru bicara (wunang), sambil menyerahkan pembawaannya.
b) Pangandi (Pembawaan)
Pihak La Yea (anak mantu) membawa satu Mamuli Emas, satu utas Lulu
Amahu dan dua ekor kuda yang cukup umur, sedangkan pihak Yera
(paman) membawa dua lembar "tenun ikat".
c) Padudurungu (meratap/menangis).
Semua perempuan dari tiap rombongan naik ke atas untuk menangis di
keliling jenazah atau peti mati, bertanda turut berduka. Selesai menangis,
bagian rombongan dipindahkan ke tempat yang sudah ditentukan untuk
mengikuti upacar selanjutnya.
d) Pawondungu (makan untuk persiapan bagi jenazah sehingga kuat)
Diadakan ritual Marapu dengan memotong seekor anaak kerbau, lalu
diambil hatinya untuk dimasak dan diberikan sebagai makan persiapan
bagi jenazah.
e) Papapurungu (menurunkan jenazah menuju tempat penguburan).
Pada waktu jenazah dibawa turun ke pendopo depan, Gong dan Tambur
dibunyikan dengan irama cepat sebagai tanda bahwa penguburan akan
segera dilaksanakan. Sementara jenazah diusung ke kubur, diadakan
f) Taningu (menguburkan)
Jenazah dimasukkan ke dalam lubang kubur kemudian ditutup dengan
batu pipih kecil lalu ditutup dengan batu besar. Di keempat sudut dipasang
batang batu yang tegak untuk menopang batu yang besar. Sementara itu
dipotong lagi beberapa ekor kuda atau kerbau.
g) Pahewa (berpisah).
Selesai pemakaman, seorang Wunang (juru bicara) dari keluarga akan naik
diatas kubur atau tempat yang lebih tinggi untuk berbicara menyampaikan
isi hati keluarga dan beberapa pengumuman. Kata-katanya demikian
"masih banyak yang yang harus kita bicarakan, masih ada yang perlu
dituntaskan. Oleh karena itu, diminta untuk kembali lagi ke tempat duduk
semula"(Daeng, 2008:118). h) Tuangu Kameti (menjamu tamu).
Keluarga-keluarga inti dari jenazah akan menerima tamu, masing-masih
satu "Kawuku" (kepala keluarga atau kepala rombongan) bahkan ada yang
menerima tamu lebih dari satu Kawuku. Masing-masing penerima tamu
akan memotong satu sampai dua ekor babi atau sapi untuk makan
bersama.
i) Warungu Handuka (berhenti berkabung).
Beberapa hari kemudian, semua keluarga dekat dan tetangga diundang
untuk bersama-sama mengikuti penutupan "masa berkabung" (warungu
handuka). Dalam acara ini, dipotong babi atau sapi untuk makan bersama.
Keluarga menyampaikan ucapan terima kasih atas kebersamaan dan
yang datang menghadiri upacara penguburan. Ucapan terima kasih ini
ditandai dengan membagikan sisa-sisa pembawaan kepada jenazah berupa
mamuli (lempeng emas), lulu amahu dan kuda. Barang-barang yang
dibagikan disebut "rihi yubuhu" dan "rihi dangangu"(Daeng, 2008:118). j) Palundungu (Penyelesaian).
Upacara ini merupakan yang terakhir, dimana "arwah" jenazah dihantar ke
alam barsyah (negeri dewa atau khayangan). Dalam acara ini, arwah
jenazah berangkat bersama dengan arwah leluhur lainnya ke negeri
Marapu. Arwah ini akan datang lagi kalau diundang (melalui sembahyang
atau Hamayangu) dalam pesta negeri yang disebut "Langu Paraingu".
Adat-Istiadat tidak akan habis, bersifat dinamis sehingga selalu
berkembang dari waktu ke waktu. Namun sifat-sifat fundamen harus diketahui
sehingga yang sifatnya luhur dan menjadi jati diri bangsa dapat dipertahankan
dan yang merugikan diganti atau dihilangkan (Iki, 2016).
D. Adat
Adat (berasal dari Bahasa Melayu) dan tradisi (berasal dari Bahasa Inggris) mengandung pengertian sebagai kebiasaan yang bersifat magis religius dari kehidupan suatu penduduk asli, yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma hukum dan aturan yang saling berkaitan dan kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan tradisional (Suyono dalam Rochwulaningsih 2009: 1).
kebiasaan; kebiasaan; 3) wujud gagasan kebudayaan yg terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yg satu dng lainnya berkaitan menjadi suatu sistem.
Cooley (1962: 2-4) menyebutkan adat adalah pemberian nenek moyang atau leluhur dan harus di patuhi, adat juga merupakan representasi dari perintah leluhur sebagai pendiri komunitas. Adat adalah sebuah hukum dalam mengatur kehidupan bermasyarakat didalam komunitas. Kedua dimensi ini saling berhubungan satu dengan yang lain. Dalam penjelasannya, Cooley menguraikan bahwa Leluhur yang adalah pendiri dari komunitas, mendirikan desa (baca: negri) dan menetapkan adat sebagai sebuah sistem yang mengatur hidup mereka dimasa kini maupun mengatur hidup keturunan mereka di masa depan. Cooley menambahkan bahwa mereka yang menjalankan adat mendapatkan berkat dari leluhur (baca: Tete Nene Moyang), sedangkan mereka yang mengabaikan adat mendapat sebuah kutukan.
Kekuatan pemahaman ini masih ada sampai sekarang sehingga adat tetap menjadi fenomena pertama dalam kehidupan masyarakat m a s y a r a k a t S u m b a . A d a t a d a l a h aturan, kebiasaan yang dilakukan sejak dahulu kala; juga bermakna wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan-aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem’.
Masyarakat adat tersebut harus tunduk pada kebiasaan yang telah disepakati bersama- sama secara turun temurun. Selanjutnya, masyarakat adat Walla Ndimu adalah masyarakat adat yang menggunakan bahasa Kodi dalam berkomunikasi sehari-hari. Masyarakat adat Walla Ndimu tunduk pada adat, norma, dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Walla Ndimu.
Aturan serta nilai adat yang kemudian menjadi sebuah produk hukum adat merupakan salah satu kesepakatan yang diambil serta dipahami secara
komunal yang terlembaga. Lembaga adat terbentuk setelah terlebih dahulu terbentuk masyarakat adatnya. Masyarakat adat itu sendiri terdiri dari individu-individu yang menggunakan sebuah bahasa yang sama dan kemudian terbalut dalam kepentingan yang sama. Sangaji (2010: 347—366) mengemukakan bahwa komunitas-komunitas masyarakat adat bukanlah entitas yang terisolasi dan tidak pernah berubah, tetapi telah mengalami perubahan sedemikian rupa sejarah mereka yang panjang dalam migrasi, peralihan agama, dominasi politik oleh kekuatan politik di luar mereka, dan terintegrasi ke dalam ekonomi pasar. Komunitas semacam ini yang dianggap sebagai masyarakat adat harus dipahami sebagai entitas yang kompleks dan dinamis.
E. Penelitian yang Relevan
Sebagai bahan rujukan bagi kelancaran penelitian maka peneliti menggunakan beberapa jurnal yang relevan dengan judul yang akan dilaksanakan oleh peneliti. Berikut ini adalah penelitian yang relevan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan
Pendekatan (approach) adalah cara “mendekati” objek sehingga karya budaya, sebagai struktur makna dpat diungkapkan secara jelas (Ratna, 2010:45). Penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah menganalisa tentang sarana, prasarana dan makna Ritual Yawe di desa Walla Ndimu Kabupaten Sumba Barat Daya. Sehingga pendekatan yang paling tepat adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif juga disebut naturalistik, dengan pertimbangan melakukan penelitian dalam latar yang sesungguhnya sehingga objek tidak berubah, baik sebelum maupun sesudah suatu penelitian (Ratna, 2010:95).
Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian penelitian kualitatif tersebut adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci.
Menurut Sugiyono (2012: 8) ada lima ciri pokok karakteristik metode penelitian kualitatif yaitu:
yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama penelitian kualitatif.
2. Memiliki sifat deskriptif analitik. Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. 3. Tekanan pada proses bukan hasil. Tekanan penelitian kualitatif ada pada
proses bukan pada hasil. Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan.
4. Bersifat induktif. Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. 5. Mengutamakan makna. Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna
ditarik maknanya dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa harus menggunakan angka, sebab lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami. Generalisasi tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks dan situasi tertentu. Realitas yang kompleks dan selalu berubah menuntut peneliti cukup lama berada di lapangan.
B. Sumber Data
Data adalah unit tertentu yang dperoleh melalui suatu hasil pengamatan. Dengan singkat, data adalah hasil penelitian, baik yang diperoleh melali pengamatan, wawancara, dan proses pemahaman lain, melaluinyalah dtarik inferensi ( Ratna, 2010: 141).
Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber asli, sumber tangan pertama penyelidik. Dari sumber data ini akan dihasilkan data primer yaitu data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus. Sumber data penelitian ini adalah narasumber yang berfungsi sebagai informan penelitian dideskripsikan sebagai berikut:
1) Narasumber
b) Informan non kunci, yaitu orang yang dianggap mengetahui permasalahan yang diteliti. Informan non kunci dalam penelitian ini adalah orang yang mengetahui jalannya upacara Yawe yaitu Rato Adat.
2) Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang didapat dari proses perekaman kegiatan penelitian. Bisa berupa foto-foto ataupun catatan, arsip-arsip, skema dan lain-lain.
3) Seting sosial
Seting sosial adalah bagaimana penelitian itu dilaksanakan dalam suatu komunitas masyarakat. Dalam penelitian ini seting sosial yang akan diteliti adalah sarana dan prasana Ritual Yawe dan tata cara Ritual Yawe. Setting sosial termasuk penduduk, lingkungan, dan sarana dan prasarana Yawe.
C. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi dilaksanakan oleh peneliti sendiri selaku instrument pengumpul data penelitian. Observasi merupakan salah satu teknik yang palng banyak dilakukan dalam penelitian. Dalam etnografi teknik observasi dikategorikan sebagai aliran utama. Teknik observasi tdak melakukan intervensi dan dengan demikian tidak menganggu objektivtas penelitian (Ratna, 2010:217).
Sebagai mekanisme komunikasi pada umumnya wawancara dilakukan sesudah observasi. Pengamatan menyeluruh terhadap objek diikuti dengan aktifitas tertentu dengan menggunakan instrumen tertentu(Ratna, 2010:222). Proses wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan Rato Adat yang mengetahui upacara Yawe.
2. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang didapat dari proses perekaman kegiatan penelitian. Bisa berupa foto-foto ataupun catatan. Dokumentasi dilakukan dengan pelaku upacara Yawe yaitu kepala desa Walla Ndimu.
D. Instrumen Penelitan
Karena penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka penelitii adalah instrumen utama dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Ratna (2010:217):
1. Pertama, sesuai dengan salah satu ciri metode kualitatf, peneliti adalah instrumen utama. sebagai instrumen utama, peneliti menggunakan panca indera untuk mengumpulkan data.
E. Teknik analisa Data
Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan analitis dan menulis catatan singkat sepanjang penelitian (Creswell, 2014: 274).
1. Pengumpulan data
a. Peneliti melaksanakan observasi lapangan mengenai upacara Yawe;
b. Peneliti melakukan wawancara dengan Rato Adat dan informan non kunci untuk mendapatkan gambaran tentang Yawe.
c. Peneliti mendokumentasikan hasil wawancara dan proses upacara adat Yawe dengan mengambil foto dan video tentang jalannya upacara adat. 2. Penyajian Data
Alur penting yang kedua dan kegiatan analisis adalah penyajian data. Miles dan Huberman (2014: 17) membatasi suatu “penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Béraneka penyajian yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mulai dati alat pengukur bensin, surat kabar, sampai layar komputer. Dengan melihat penyajian-penyajian kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebih jauh mengailalisis ataukah mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dan penyajian-penyajian tersebut.
3. Reduksi data
lapangan. Sebagaimana kita ketahui, reduksa data, berlangsung terus-menerus selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung. Sebenarnya bahkan sebelum data benar-benar terkimpul, antisipasi ákan adanya reduksi data sudah tampak waktu penelitinya memutuskan (acapkali tanpa disadari sepenuhnya) kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian, dan pendekátan pengumpulan data yang mana yang dipilihnya. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, rnembuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis memo). Reduksi data/proses-transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun
4. Kesimpulan
Berikut adalah tahap analisis data dalam penelitian ini menurut Miles dan Huberman (2014:20):
F. Pengecekan Keabsahan Data 1. Perpanjangan Kehadiran
Perpanjangan kehadiran juga menuntut peneliti agar terjun ke dalam lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang guna mendeteksi dan memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data. Pertam-tama dan yang terpenting ialah distorsi pribadi. Menjadi “asing di tanah asing” hendaknya mendapat perhatian khusus peneliti jangan sampai overaction. Di pihak lain, peneliti sendiri biasanya menghasilkan distorsi karena adanya nilai-nilai bawaan dan bangunan tertentu. Yang jelas, tidak akan ada seorang pun peneliti yang memasuki lapangan tanpa bawaan tersebut.
2. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain( Miles dan Huberman, 2014: 330). Teknik triangulasi lebih mengutamakan efektivitas proses dan hasil yang diinginkan. Triangulasi dilakukan dengan menguji apakah proses wawancara dan hasil tes yang digunakan sudah berjalan dengan baik. Tes dan wawancara saling dipadukan untuk mendapatkan kesesuaian informasi data. Apabila informasi yang didapatkan dari hasil tes siswa belum bisa memenuhi keakuratan data, maka akan digali lebih dalam pada saat wawancara. Sehingga akan tecapai suatu perpaduan hasil tes dan wawancara yang selanjutnya akan dipakai untuk menarik kesimpulan.
3. Pendapat Ahli
BAB IV
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Paparan Data
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Desa Walla Ndimu adalah suatu wilayah di kecamatan Kodi Bangedo yang secara administratif termasuk dalam Kabupaten Sumba Barat Daya. Secara astronomis Kabupaten Sumba Barat Daya terletak antara 90 18’ – 100 20’ Lintang Selatan (LS) dan 1180 55’-1200 23’ Bujur Timur (BT). Berdasarkan posisi geografisnya, Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki batas-batas: Utara – Selat Sumba, Selatan – Samudera Indonesia, Barat – Samudera Indonesia, Timur – Kabupaten Sumba Barat (BPS, 2015).
1) Mata Pencaharian
Aktifitas perekonomian atau mata pencaharian sudah sangat lama dikenal pada masyarakat Desa Walla Ndimu yaitu dalam bidang pertanian sebagai mata pencaharian pokok. Berladang dan menanam tanaman perdagangan jangka panjang dan jangka pendek seperti tanaman kopi, jambu mente, kelapa, dan lain-lain dan juga berternak kerbau, kuda, babi, anjing, kambing, ayam, sapi dan semua masih dilakukan secara tradisional. Pada umumnya penduduk Desa Walla Ndimu rajin bekerja, para petani selalu giat dalam bekerja dari pagi sampai sore hari selalu berada di kebun.
Tabel 4.1 Mata Pencaharian Penduduk Desa Walla Ndimu
No Pekerjaan Penduduk Jumlah %
1 IRT 50 14,7
2 Petani 60 17,6
3 Peternak 70 20,5
4 Buruh Tani 140 41,2
5 PNS 20 5,8
Total 340 100
(Sumber: data penelitian, 2017) 2) Penduduk
Tabel 4.2 Komposisi Penduduk desa Walla Ndimu
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk terbesar adalah jumlah penduduk usia produktif (15-49 tahun), yaitu sebanyak 1.182 jiwa, disusul penduduk belum produktif (0-14 tahun) yang berjumlah 697 jiwa dan penduduk non produktif (50-58 tahun) sebanyak 459 jiwa. Pada kelompok penduduk usia produktif yang terbesar adalah penduduk kelompok usia 30-39 tahun, yaitu sebanyak 153 jiwa dan untuk kelompok belum produktif jumlah terbesar adalah penduduk kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebanyak 165 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki Desa Walla Ndimu lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan yaitu berjumlah 1.234 jiwa. Selain itu dapat diketahui perbedaan antara jumlah penduduk perempuan dengan jumlah penduduk laki-laki (sex ratio ) yaitu sebesar 289 jiwa.
3) Karakteristik subyek
c) Informan kunci, yaitu orang-orang yang sangat memahami permasalahan yang diteliti. Adapun yang dimaksud sebagai informan kunci dalam penelitian ini adalah kepala adat di desa Walla Ndimu yang mengetahui tata laksana hukum waris dalam masyarakat adat di desa Walla Ndimu. Kepala adat yang dimaksud adalah Hona Lere.
d) Informan non kunci, yaitu orang yang dianggap mengetahui permasalahan yang diteliti. Informan non kunci dalam penelitian ini adalah warga masyarakat di desa Walla Ndimu yang mengetahui tata laksana hukum waris dalam masyarakat adat di desa Walla: Ndimu.
B. Temuan Penelitian
ritual Yawe adalah bentuk kepatuhan masyarakat adat di desa Walla Ndimu kecamatan Walla Ndimu Kodi pada hukum adat.
1) Asal-Usul Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.
Bagi orang Sumba menganggap kematian itu sebagai hal yang penting. Kematian berarti memulai kehidupan baru di alam akhirat. Karena itu memberikan bekal bagi orang yang telah meninggal bukanlah tindakan mubazir. Semakin tinggi kedudukan seseorang didalam masyarakat, dari golongan bangsawan (maramba) semakin besar upacara yang dikehendaki untuk diselenggarakan. Pelaksanan ritual Yawe adalah bentuk kepatuhan masyarakat adat di desa Walla Ndimu kecamatan Walla Ndimu Kodi pada hukum adat.
Upacara ritual Yawe meruoakan suatu upacara adat yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Kodi pada umumnya, khusunya masyarakat yang masih menganut kepercayaan marapu, upacara tersebut diselenggarakan oleh masyarakat dalam rangka memanggil arwah orang yang meninggal tidak wajar seperti; meninggal karena dibunuh, jatuh dari pohon, disambar petir, terbawa arus, rumah terbakar, padi di kebun terbakar, dan juga diadakan dalam rangka persiapan pesta adat untuk membereskan ‘hutang’ yang belum beres agar perayaan pesta tidak menemui hambatan. Hal ini diperkuat oleh hasil wawacara dengan kepala adat Hona Lere;
Menurut masyarakat Marapu, arwah orang yang meninggal tidak wajar tidak menuju kepada Sang Pencipta, tetapi menuju matahari dan bulan, demikian pula dengan harta benda mereka yang mengalami ketidakwajaran, rohnya berada di matahari dan bulan, oleh sebab itu tidak baik jika dibiarkan begitu saja. Berdasarkan pola berpikir seperti itu, maka masyarakat Marapu mengadakan upacara ritual yawe agar roh yang tersesat tersebut dapat kembali kepada Sang Pencipta.
Orang Sumba sangat menghargai orang yang sudah meninggal dan leluhurnya. lni ditandai dengan dikuburnya orang yang telah meninggal di depan rumah atau di tengah kampung. Karena beranggapan, leluhur inilah yang telah menetapkan tata cara adat-istiadat yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, perekonomian dan sebagainya. Personifikasi Marapu terwujud dalam bentuk patung, lambang bulan, matahari, berbagai bentuk binatang, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Semua itu diletakkan dalam tempat yang baik dan kuat disimpan di atas loteng rumah. Pada tempat itulah roh leluhur hadir. Kepercayaan terhadap marapu ditegaskan berdasarkan wawancara dengan informan kunci Bapak Hona Lere:
Sebelum diadakan upacara Yawe, terlebih dahulu harus diadakan upacara (prupu klorro) yang bertujuan untuk mencari tahu hal-hal yang belum dibereskan oleh leluhur yang berkaitan dengan adat-istiadat yang belum ditunaikan dan hal-hal apa yang menyebabkan seseorang sering mengalami tulah berupa sakit berkepanjangan, mimpi buruk dan bencana lain. Ikhwal tentang asal-usul upacara ini dituturkan oleh Bapak Hona Lere sebagai berikut:
Saat kematian merupakan saat perubahan atau perpindahan dari alam nyata ke alam gaib yang dalam luluku dikatakan njulu la kura luku — halubu la mandu mara (menjelma bagai udang sungai dan berubah bagai ular darat). Tubuh yang mati hanyaiah sebagai tada (kulit) atau haruma (selaput) dan tidak bersifat kekal, sedangkan yang hidup kekal ialah ndiawa (roh). Roh inilah yang harus kembali kepada Mawulu Tau — Majii Tau. Akan tetapi, Selama tubuh yang mati itu belum dikebumikan dengan berbagai upacara, maka selama itu pula rohnya masih melayang-layang dan dapat membawa bahaya, baik terhadap kerabatnya maupun terhadap orang lain ((W. 17/8/17: HL)
Berdasakan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa ritual Yawe dimaksudkan untuk mencari tahu sebab-sebab kematian seseorang. Orang marapu mempunyai keyakinan bahwa seseorang yang meninggal sebelum usia tua, dalam hal ini meninggal karena kecelakaan atau yang karena sakit, merupakan hukuman karena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sendiri ataupun yang dilakukan oleh leluhurnya. Sehubungan dengan itu, keluarga berkewajiban melakukan ritual yawe sebagai salah satu upaya pemulihan agar ciri dan cara kematian yang sama tidak terulang lagi pada turunan/generasi berikutnya.
2) Proses Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.
disembuhkan dengan cara biasa. Ritual Yawe dilaksanakan dalam beberapa tahapan.
(1) Tahap pertama adalah perencanaan
Sebelum upacara Yawe dilaksanakan terlebih dahulu keluarga bermusyawarah untuk memanggil Rato untuk memimpin acara Yawe. Ketua adat yang dipanggil Rato ini diminta untuk mencari tahu penyebab salah satu anggota keluarga itu sakit-sakitan dan tidak sembuh-sembuh. Berikut ini adalah tuturannya:
Nenggo toyyo nahaddu, angga, mangganipi
“orang sakit berkepanjangan, gila,dan sering bermimpi buruk” Engaka mbaotu lha uma haddu, Janna tongoho
“Sering pergi kerumah sakit” “tidak sembuh” Pneghe tutu patatana Jappa menggepong “berbicara tentang adat belum diselesaikan” Ndika bahenyaka Langali djoya
“jikalau demikian Panggilah” Rato marapu Monno prupu kloro
“tua adat Supaya tiup tali (supaya mencari tahu sebabnya)” Pengghe wapanguni payaka napa oro
“tahu persis apa yang menyebabkan” (W. 17/8/17: RA)
Terjemahan: jika ada orang yang sakit terus menerus dan mengalami mimpi buruk tapi orang tersebut sering membicarakan adat yang belum beres sampai menimbulkan praduga, mungkin ini ada hubungannnya dengan adat istiadat, jika demikian panggilah Tua Adat (Rato Marapu) untuk mencari tahu sebabnya sehingga orang ini mengalami penderitaan.
tombak dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah itu Tua adat mulai menyebut satu-persatu hal-hal yang mungkin menjadi penyebab orang tersebut mengalami penderitaan.
Cara mengetahui apakah penyebab orang sakit sudah tepat atau belum, maka tua adat meletakkan ibu jarinta pada tiang rumah. Jika ibu jari Tua Adat dapat menyentuh tiang maka hal yang menyebabkan penderitaan dari si sakit sudah tepat. Jika demikian maka perlu diadakan upacara Yawe. Upacara Yawe dilaksanakan dengan tuturan sebagai berikut:
Mabeka Ana, ndungkabu inya bapa, Pirhena payaka paptakida atu Tutu haddu mono klowo, Monno henen baheyaka
Haghori hagadda pinjaka, Ndika taharabanik loddo ndahana, wulla ndahana
Ambu engawakibadaka, haddu klowor, Tana payaka hapani hapaghangda Ptonddo, pwokada, Awokinda wemringgi, wemlala
Pawaliyaka bahendjonaka (W. 17/8/17: RA)
Terjemahan: Marilah bapak, mama saudara-saudari kita berkumpul. Mengingat pembicaraan kita yang lalu sakit telah sehat, sebagai tanda syukur maka marilah kkita tentukan waktunya agar kita jangan selalu menderita sakit yang berkepanjangan dan apa yang kita pelihara dan kita tanam dapat diberkati oleh Tuhan.
Setelah kesepakatan sudah tercapai maka mulai persiapan materi dan properti yang akan digunakan dalam upacara Yawe dengan menggunakan tuturan adat dengan tujuan meminta keikutsertaan seluruh keluarga untuk melakukan upacara Yawe, dengan demikian sah dan resmi akan diadakan upacara Yawe:
Terjemahan: Dengarlah arwah nenek moyang, anak ayam ini kami persembahkan untuk minta ijin Yawe, karena telah sembuh dari sakit penyakit yang diderita dan sekarang sudah sehat. Sebagai tanda syukur dan termikasih, dan mengingat perjanjian kami waktu itu, sekarang kami ingin menepatinya, perkenankanlah kamu untuk mengadakan ritual Yawe.
(2) Tahap Persiapan
Menyiapkan ranting bambu yang diikat bersama parang dan tombak dengan menggunakan kain warna kuning dan juga menyiapkan abu dapur yang ditaruh dalam nyiru, tapi abu tersebut harus bersih supaya saat arwah turun jejaknya dapat terlihat dengan jelas, selain itu pihak penyelenggara harus menyiapkan hewan kurban. Dengan tuturan adat sebagai berikut;
Make hema yemi la teba ongol monno ta rabok laklidi Yinyiki rato marapu akranga ongol mono arabok laklidi Pawaliyaka tabayaka nallha kabihu (W. 17/8/17: RA)
Terjemahan: marilah penyelenggara untuk pergi memotong bambu dan mengambil abu dapur taruhlah dalam nyiru, lalu letakkanlah di sudut rumah bagian kanan.
(3) Tahap Penyelenggaraan (a) Tahap awal
menunggu anjing dan babi dibakar. Tua adat mengambil empat ekor ayam untuk disembelih, masing-masing mempunyai tujuan penyembahan.
(b) tahap Inti
Rongo lha mango tana, bapa mango loko, Hewalidja bahenen, hena hawewirra hawemata, Na kobekongo awung nolha pitu ndani awung Nolha barana inya wolo, nolha barana bapa rawi, Ndara gallumu, awawi wonnomu. Na notong mete mata lakki Na notong lha libu wamandattu lorro wumangadi. Na notong lha toko ghamdeta, Naklete limma loddo, nakhonga witi wulla. Ambu engabamuku lha kabupetaka marada ghogol. Ronngo lha Bapa bokolo, bapa jappa takki coma Walkokbolo lepko kmataya Dewa tonna, urra ndadin. Todol baka uhu, bunggerobaka binnya (W. 17/8/17: RA)
Terjemahan: Dengarlah bapa, mama pemilik tanah air. Demikianlah tetasan air mata ini yang sampai di lapisan langit ketujuh. Yang menembus tanah lapis enam dihadapan Sang Pencipta, ambilah kembali hartamu yang telah hilang dan sekarang telah kembali dari matahari dan bulan, dia mati karena terbunuh, mati karena terbawa arus sehingga jiwanya berada di matahari dan bulan. Jangan biarkan dia tetap berada di padang belantara.
(c) Tahap Penutup
3) Sarana dan prasarana Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya.
Untuk melaksanakan Proses adat ini maka diperlukan syarat-syarata yang harus di laksanakan, adapun syarat-syarat untuk melakasakan Pataniti adalah sebagai berikut :
1) Tala (gong). Tala atau gong digunakan sebagai penanda bagi dimulainya ritual upacara Yawe. Tala memegang peranan penting dalam penyelenggaraan Yawe sebab ketika Tala dipukul, maka anggota keluarga dan sanak saudara mengetahui bahwa Yawe dimulai atau diakhiri.
2) Bedu (tambur). Bedu atau tambur digunakan sebagai alat musik untuk memuja leluhur. Penyelenggara acara membuat bunyi-bunyian yang merdu untuk menghibur leluhur agar melupakan kesalahan yang dibuat anak cucunya.
3) Dilor (gendang). Dilor adalah gendang yang digunakan untuk membuat tetabuhan mengiringi bunyi Bedu.
4) Kranga ongol (ranting bambu). Ranting bambu adalah perlengkapan acara yang digunakan untuk memasak jamuan bagi tamu yang hadir dalam ritual Yawe.
praktis. Parang digunakan untuk menyembelih kurban dan memotong kayu.
6) Nambu (tombak). Nambu atau tombak digunakan sebagai pelengkap upacara. nambu digunakan untuk mengetahui penyebab si sakit perlu mengadakan ritual Yawe.
7) Kaba rara (kain warna kuning). Kaba Rara atau kain kuning digunakan untuk menandai bahwa ditempat tersebut diadakan ritual Yawe.
8) Rabok Laklidi (abu dapur dalam nyiru). Rabok Laklidi atau abu dapur dalam nyiru digunakan untuk menandai kehadiran roh yang dipanggil pada saat upacara yawe.
9) Daun Siri dan Buah Pinang. Digunakan sebagai perlengakapan sesajen untuk para nenek moyang.
4) Makna Ritual Yawe Adat Desa Walla Ndimu Kecamatan Kodi Bangedo Kabupaten Sumba Barat Daya
1) Makna dari upacara Yawe
Kepercayaan tradisional memliki bermacam makna yang diwariskan secara turun temurun. Masyarakat di desa Walla Ndimu masih mempertahankan kepercayaannya terhadap Marapu sebagai jalan hidup dan patokan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam kepercayaan Marapu, elemen (makrokosmos) terpenting adalah menjaga keharmonisan antara manusia dengan nenek moyangnya. Mereka percaya, arwah nenek moyang sebagai leluhurnya adalah pembawa kesuburan dan kemakmuran bagi mereka.
Dari dimensi ini, ternyata makna kebersamaan secara sosial merupakan aspek yang tidak boleh diabaikan di dalam seluruh rangkaian ritual Yawe. Makna kebersamaan dalam dimensi sosial itu tampak pada beberapa aktivitas, sebagai berikut; mencari bambu di hutan, menyiapkan parang, dan menyiapkan upacara. Dalam hal ini diperlukan kerja sama; bambu dipotong oleh pria yang bukan dari anggota keluarga penyelenggara ritual, parang disiapkan oleh laki-laki sulung, dan potong ayam dilakukan oleh Rato.
Ikhwal tentang makna sosial dalam upacara Yawe ini dituturkan oleh Bapak Hona Lere sebagai berikut:
Upacara Yawe itu makna sosialnya banyak. Yawe dapat digunakan sebagai contoh ungkapan makna sosial yang mengantar orang untuk peka secara sosial. Pada perjamuan semua peserta pesta mendapat porsi daging yang merata. Yawe juga dilakukan secara gotong royong, semua anggota keluarga dan masyarakat disekitar itu terlibat. Tidak ada yang berpangku tangan sekalipun Cuma tetangga (W. 17/8/17: HL)
Dibalik makna kerja sama tersirat nilai saling menghargai. Kehidupan sosial merupakan suatu sistem, karena itu setiap individu mempunyai peran tertentu. Rasa saling membutuhkan merupakan wujud dari nilai saling menghargai yang mutlak diperlukan dalam mempertahankan sistem (sosial)..
(b) Kepercayaan
Pemilihan simbol komunikasi, Penggunaan simbol-simbol komunikasi yang unik atau khas merupakan salah satu ciri yang menonjol dalam komunikasi ritual. Simbol-simbol komunikasi yang digunakan tersebut tidak dipilih oleh partisipan, melainkan sudah tersedia sejak turun-temurun berdasarkan tradisi budaya yang bersangkutan (Carey, 1992:54).
Makna ritual Yawe dapat dicermati melalui media di luar bahasa. Media nonligual juga berperan penting di dalam menentukan “kekuatan” tuturannya. Tuturan ritual sebagai media untuk membangun relasi vertikal antara manusia dengan ina-ama dan leluhur jika tidak ditunjang oleh kebersamaan antara para pelibat ritual, tidak akan sukses pelaksanaannya. Makna dan nilai ritual yawe dicermati pula melalui tuturan/bahasa ritualnya. Bahasa ritual sebagai doa memiliki ujud masing-masing yang bermuara pada keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Pada tahap inventaris sebab-sebab sis sakit dalam ritual yawe, yang disebut seba koda khirin (s’ba koda khirin) “mencari kesalahan, sebab-sebab sakit”,
Makna religi/ kepercayaan dalam upacara Yawe ini dituturkan oleh Bapak Hona Lere sebagai berikut:
hubungan antara manusia dengan ina-ama dan leluhur. Tapi, jika tidak ditunjang oleh kebersamaan antara para pelibat ritual, tidak akan sukses pelaksanaannya (W. 17/8/17: HL)
Makna persatuan dengan leluhur ini membangun nilai religius. Nilai ini kemudian membangun perantara berupa doa-doa tradisi. Nilai ini juga sekaligus melahirkan pengertian dan persepsi bahwa doa merupakan sara untuk komunikasi dan membangun relasi antara manusia dengan leluhur dan antara manusia dengan penciptanya. Relasi dengan Leluhur merupakan bagian dari pandangan orang Sumba. Orang Sumba mempunyai keyakinan bahwa leluhur, atas restu Inya ama berperan penting didalam memberikan ketentraman, kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, dan keberhasilan dalam hidup.
Makna ritual yang lain dalam upacara Yawe ini dituturkan oleh Bapak Hona Lere sebagai berikut:
Upacara Yawe itu selain untuk menghormati leluhur juga untuk bikin orang yang kit asayang yang juga keturunan leluhur tetap selamat dan sehat. Karena kadang ada salah adat yang belum dilaksanakan oleh kita yang membuat leluhur tidak puas. Mungkin juga leluhur mempunyai utang yang belum tuntas sehingga kita anak cucu yang harus bikin. Yawe itu semacam perlindungan kepada anak-cucu. Sehingga mereka tidak sakit atau mati mendadak sebab salah adat tadi (W. 17/8/17: HL)