PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SRL (
SELF-REGULATED LEARNING)
TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR
MAHASISWA KELAS KARYAWAN
Meylina
Sistem Informasi, STMIK Jayanusa Padang, Jl. Olo Ladang No. 1 Padang Email : [email protected]
Abstract
This is a regression research that used a quantitative approach. Subjects in this study were the 4th semester students in academic year 2016/2017 in STMIK Jayanusa Padang who took English 4. The total number of students involved were 35 students. Data were obtained by using observation method and questionnaire. IBM SPSS version 23 was used as a tool in processing the data. The result of data processing shown that there were a significant influence between learning approach of self regulated learning (SRL) with the independence of students of STMIK Jayanusa Padang.
Keywords: SCL approach, learning independence, initiative, self-control.
Abstrak
Jenis penelitian ini adalah penelitian regresi yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas karyawan di STMIK Jayanusa Padang semester 4 yang mengambil matakuliah Bahasa Inggris 4 pada tahun akademik 2016/2017. Total jumlah mahasiswa kelas karyawan yang terlibat sebanyak 35 mahasiswa. Data diperoleh dengan menggunakan metode observasi dan angket. IBM SPSS versi 23 dipakai sebagai alat dalam mengolah data. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pendekatan pembelajaran self regulated learning (SRL) dengan kemandirian mahasiswa kelas karyawan STMIK Jayanusa Padang.
Kata kunci: Pendekatan SCL, kemandirian belajar, inisiatif, pengendalian diri.
PENDAHULUAN
Kemandirian sangat penting untuk dikembangkan pada kegiatan pembelajaran bahasa inggris. Karena pada dasarnya tuntutan belajar ditingkat sekolah maupun tingkat universitas, mengharuskan mahasiswa untuk belajar lebih mandiri, disiplin dalam mengatur waktu, dan melaksanakan kegiatan belajar yang lebih
terarah dan intensif sehingga memungkinkan mahasiswa menjadi lebih produktif, kreatif, dan inovatif. Dalam pengembangan hal tersebut, terdapat dua sspek penting yaitu membelajarkan bagaimana mahasiswa belajar dan bagaimana mahasiswa berfikir.
menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut, Santrock (2007) yakni memiliki kemampuan dan keterampilan untuk mengatur kegiatan belajar, mengontrol prilaku belajar, dan mengetahui tujuan , arah, serta sumber-sumber yang mendukung untuk belajar. Mahasiswa yang memiliki kemandirian belajar akan mampu menganalisi permasalah yang kompleks, mampu bekerja secara individual maupun bekerjasama dalam kelompok, dan mempunyai keberanian untuk mengemukakan gagasan pribadi.
Kemandirian sangatlah diperlukan oleh mahasiswa, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang tidak mandiri. Penelitian yang dilakukan oleh Musdalifah (2007) menunjukkan bahwa hambatan perkembangan kemandirian pada individu disebabkan karena ketergantungan pada orangtua, pola asuh permisif, kurangnya perhatian atau bimbingan dari orangtua untuk menguasai tugas perkembangan yang berkaitan dengan kemandirian, serta kurangnya motivasi untuk mandiri. Padatnya materi perkuliahan yang harus diselesaikan membuat mahasiswa kelas karyawan diharapkan memiliki tingkat kemandirian belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa program lainnya. Menurut Steinberg (2002), kemandirian adalah kemampuan individu untuk berperilaku secara bebas, sesuai dengan emosi dan kognisi individu tersebut. Sikap kemandirian belajar seseorang berkembang seiring dengan perkembangan dirinya dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kemandirian diartikan sebagai keadaan pengaturan diri, atau kebebasan individu manusia untuk memilih,
menguasai dan menentukan dirinnya sendiri (Chaplin, 1982). Kemandirian dipandang sebagai salah satu ciri kematangan yang memungkinkan individu berfungsi otonom dan berusaha kearah prestasi pribadi demi terwujudnya target yang diinginkan. Setiap mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan pengalaman mereka dimasa yang lalu dengan tantangan yang ada dimasa sekarang dan masa yang akan datang melalui perencanaan yang matang untuk masa depan mereka. Perencanaan ini meliputi strategi belajar dan target indeks prestasi yang ingin dicapai.
dalam belajar self management ini terwujud dalam SRL.
Berdasarkan observasi awal di kelas STMIK Jayanusa Padang, diperoleh data dan informasi dari bidang kurikulum serta dosen kelas yang bersangkutan bahwa hasil belajar mahasiswa kelas karyawan tergolong rendah. Rata-rata nilai adalah 52, angka ini berada dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Hal ini disebabkan mahasiswa kelas karyawan kurang mampu mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata atau dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, juga dikarenakan penyajian materi yang masih monoton dan membosankan sehingga mahasiswa kelas karyawan kurang tertarik belajar . Dalam situasi demikian, mahasiswa kelas karyawan menjadi bosan karena tidak adanya dinamika, inovasi, dan kreativitas. mahasiswa kelas karyawan belum dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran kurang berkualitas.
Dari hasil observasi dikelas peneliti, juga ditemukan fakta bahwa pada saat pembelajaran bahasa inggris berlangsung sebagian mahasiswa kelas karyawan tidak memperhatikan penjelasan dosen. Mahasiswa kelas karyawan juga tidak membaca buku-buku pelajaran dan tidak mengerjakan latihan-latihan soal jika tidak diminta atau diperintahkan oleh dosen. Ketika dosen memberikan pekerjaan rumah, mahasiswa kelas karyawan tidak mengerjakannya di rumah. Mereka cenderung mengerjakan pekerjaan rumah di kampus dan mengandalkan jawaban teman. Mahasiswa kelas karyawan tidak berani mengemukakan pendapatnya dan malas bertanya. Saat dosen memberikan
penugasan pada mahasiswa kelas karyawan untuk mempelajari materi selanjutnya, mahasiswa kelas karyawan tampak sekali tidak mempelajari materi yang ditugaskan. Ini menunjukkan mahasiswa kelas karyawan belum dapat merancang belajar mereka sendiri. Hasilnya mahasiswa kelas karyawan menjadi cepat bosan, kurang berkonsentrasi, dan kurang aktif dalam pembelajaran bahasa inggris. Kondisi yang demikian menunjukkan kurangnya kemandirian belajar mahasiswa kelas karyawan dalam pembelajaran bahasa inggris.
Terkait belum optimalnya kemandirian belajar mahasiswa kelas karyawan, maka perlu adanya pemilihan strategi pembelajaran bahasa inggris dengan pendekatan yang dapat menumbuhkan kemandirian belajar mahasiswa kelas karyawan. Salah satunya adalah strategi self-regulated learning. Menurut K. Hidayati (2010) Self-regulated learning adalah: “Proses belajar yang terjadi karena pengaruh dari pemikiran, perasaan, strategi, dan perilaku sendiri yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Pada strategi Self-regulated learning, perserta didik dikembangkan menjadi seseorang yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar yang efektif, yang sesuai dengan gaya belajarnya, dan tahu bagaimana serta kapan menggunakan pengetahuan itu dalam situasi pembelajaran bahasa inggris yang
berbeda”.
mahasiswa sebagai ukuran perilaku partisipasi aktif pada proses pembelajaran bahasa inggris. Masalah belajar adalah masalah pengaturan diri, untuk itu, mahasiswa membutuhkan pengaturan diri atau self-regulated learning (SRL). Pengaturan diri (SRL) dibutuhkan mahasiswa agar mereka mampu mengatur dan mengarahkan dirinya sendiri, mampu menyesuaikan dan mengendalikan diri, terutama bila menghadapi tugas-tugas yang sulit. Mahasiswa dikatakan melakukan self-regulation dalam belajar bila mereka secara sistematis mengatur perilaku dan kognisinya dengan memperhatikan aturan yang dibuat sendiri, mengontrol jalannya proses belajar dan mengintegrasikan pengetahuan, melatih untuk mengingat informasi yang diperoleh, serta mengembangkan dan mempertahankan nilai-nilai positif belajarnya.
Lebih jauh lagi, Self-regulated learning menjadi komponen integral terhadap fungsi formatif belajar. Fungsi ini merupakan suatu budaya belajar yang mendorong mahasiswa melatih strategi belajar pengaturan diri ketika ikut ambil bagian dalam suatu kegiatan atau ketika belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah. Strategi self-regulated learning adalah himpunan rencana yang dapat digunakan pebelajar agar mencapai tujuan. Rencana-rencana aksi ini berdasar pada fase-fase, proses-proses, dan sub proses pebelajar pengaturan diri. Penggunaan strategi self-regulated learning mengurangi kecemasan, meningkatkan self-efficacy dan menumbuhkan kemandirian belajar mahasiswa yang secara langsung berhubungan dengan pencapaian tujuan dan prestasi akademik.
Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa keunggulan dari strategi self-regulated learning adalah bahwa strategi ini dicirikan oleh mahasiswa sebagai partisipan yang aktif yang mengontrol secara efisien pengalaman belajar mereka sendiri dengan cara-cara yang berbeda, mencakup menentukan lingkungan yang produktif dan menggunakan sumber-sumber belajar secara efektif, mengorganisir dan melatih informasi untuk dipelajari, memelihara emosi yang positif selama tugas-tugas akademik, dan mempertahankan kepercayaan motivasi yang positif tentang kemampuan mereka, nilai belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Perumusan Masalah Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah self-regulated learning (SRL) berpengaruh terhadap kemandirian belajar pada mahasiswa kelas karyawan STMIK Jayanusa Padang.
Keutamaan penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengembangan psikologi pendidikan mengenai sejauh mana hubungan antara kemandirian belajar dengan self-regulated learning. Penelitian ini juga dimaksudkan agar ke depannya mahasiswa kelas karyawan menjadi lebih mandiri dan dapat memaksimalkan potensi self-regulated learning yang mereka miliki.
Self Regulated Learning
yang sudah kita miliki dengan pengetahuan yang baru. Dengan kata lain, ada tahap check and re-check terhadap informasi tersebut, dari cara ini kita dapat mengetahui pengetahuan yang kita miliki masih relevan atau kita harus memperbaruhi pengetahuan kita.
Seperti diketahui bersama, proses belajar yang harus dilalui seorang anak dalam belajar adalah self-regulated learning. Termasuk kategori self-regulated adalah mahasiswa yang aktif dalam proses belajarnya, baik secara metakognitif, motivasi, maupun perilaku. Mereka menghasilkan gagasan, perasaan, dan tindakan untuk mencapai tujuan belajarnya. Secara metakognitif mereka bisa memiliki strategi tertentu yang efektif dalam memproses informasi. Sedangkan motivasi berbicara tentang semangat belajar yang sifatnya internal. Adapun perilaku yang ditampilkan adalah dalam bentuk tindakan nyata dalam belajar. Dengan belajar model self-regulated learning maka kegiatan belajar akan serba rapi teratur. Self-regulated learning juga membuat anak senang belajar tanpa harus diiming-imingi hadiah (Ismawati & Sirodj, 2010).
Lebih jauh lagi, Self-regulated learning menekankan pentingnya tanggung jawab personal dan mengontrol pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang di peroleh Zimmerman (1989). Self-regulated learning merupakan kombinasi keterampilan belajar akademik dan pengendalian diri yang membuat pembelajaran bahasa inggris terasa lebih mudah, sehingga para mahasiswa lebih termotivasi (Latipah, 2010). Self-regulated learning juga terbukti dapat meningkatkan motivasi para mahasiswa, sehingga dengan
motivasi tersebut prestasi akademik mahasiswa dapat meningkat.
Kemandirian belajar
Menurut Hidayati & Listyani (2010), seseorang dikatakan mandiri jika: (1) Dapat bekerja sendiri secara fisik, (2) Dapat berfikir sendiri, (3) Dapat menyusun ekspresi atau gagasan yang dimengerti orang lain, dan (4) Kegiatan yang dilakukan disahkan sendiri secara emosional. Sedangkan menurut Goodman and Smart menyatakan bahwa kemandirian belajar mencakup tiga aspek yaitu: (1) Independent (ketidak tergantungan) yang didefinisikan sebagai perilaku yang aktivitasnya diarahkan pada diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan orang lain, dan bahkan mencoba serta menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa minta bantuan orang lain, (2) Autonomi (menetapkan hak mendosens sendiri) atau disebut juga kecenderungan berperilaku bebas dan original, dan (3) Self Reliance merupakan perilaku yang didasarkan pada kepercayaan diri sendiri. Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orang tua yang memberlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orang tua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak.
memiliki kontrol diri (mampu mengendalikan tindakan), dan memiliki sifat eksploratif (Antono, 2012).
Kemandirian belajar yang dimiliki oleh mahasiswa diwujudkan melalui kemampuannya dalam mengambil keputusan sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Kemandirian belajar juga terlihat dari berkurangnya ketergantungan mahasiswa terhadap dosen di kampus seperti pada jam pelajaran kosong karena ketidakhadiran dosen di kelas, mahasiswa dapat belajar secara mandiri dengan membaca buku atau mengerjakan latihan soal yang dimiliki. Mahasiswa yang mandiri, tidak lagi membutuhkan perintah dari dosen atau orang tua untuk belajar ketika berada di kampus maupun di rumah. Kebutuhan untuk memiliki kemandirian belajar dipercaya sebagai hal penting dalam memperkuat motivasi individu dan dapat diketahui bahwa mahasiswa yang mandiri mampu memotivasi diri untuk bertahan dengan kesulitan yang dihadapi dan dapat menerima kegagalan dengan pikiran yang rasional (Adawiyah, 2012).
Beberapa ahli mempunyai pendapat yang berbeda tentang batasan usia untuk golongan anak yang sudah bisa disebut sebagai remaja. Menurut Harlock (Artha dan Supriyadi, 2013) masa remaja awal berada pada rentang usia 13 hingga 16 atau 17 tahun, sedangkan Monks (2002) menyatakan bahwa masa remaja awal berusia 12-15 tahun. Pada masa ini kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya (Ali dan Asrori : 2010).
Selanjutnya, A.A.A Dewi (2013) mengungkapkan bahwa kemandirian
belajar merupakan salah satu dari tugas perkembangan yang harus dihadapi remaja dalam masa transisinya menuju dewasa. Kemajuan zaman yang membawa peradaban serta teknologi yang lebih canggih sering kali membuat remaja menjadi lebih manja. Kecanggihan yang ditawarkan dunia saat ini memang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah namun terkadang membuat orang menjadi manja. Anak yang tumbuh dalam kemewahan dirumahnya dapat menjadi kurang mandiri. Sedangkan menurut Musdalifah (2007) kemandirian belajar merupakan kemampuan individu untuk bertingkah laku secara seorang diri dan merupakan bagian dari pencapaian otonomi diri pada remaja. Ada tiga aspek untuk mencapai kemandirian belajar, yaitu aspek kemandirian emosi, aspek kemandirian perilaku dan aspek kemandirian nilai. Dalam pembentukan kemandirian individu tidak terlepas dari faktor-fator yang mempengaruhi kemandirian tersebut. A.A.A Dewi (2013) juga yang mengatakan faktor lain pembentuk kemandirian adalah urutan kelahiran serta jenis kelamin.
Hipotesis
sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen.
Dalam penelitian ini, diterima atau ditolaknya hipotesis dinyatakan dalam bentuk hipotesis nol (Ho) dan Hipotesis (Ha).
Ho: Pendekatan self-generated learning (SRL) tidak mempunyai pengaruh terhadap kemandirian belajar mahasiswa kelas karyawan STMIK Jayanusa Padang
Ha: Pendekatan self-generated learning (SRL) mempunyai pengaruh terhadap kemandirian belajar mahasiswa kelas karyawan STMIK Jayanusa Padang
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian regresi. Yaitu penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiono (2005) Pendekatan penelitian ini bekerja dengan angka, datanya berwujud bilangan yang dianalisis untuk menjawab hipotesis penelitian. Adapun identifikasi variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Variabel bebas (independent) dalam
penelitian ini adalah : self-regulated learning
b. Variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah : kemandirian belajar mahasiswa kelas karyawan.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini dibuat untuk memperjelas pokok permasalahan dan alur permasalahan (Sugiyono, 2005). Rancangan ini menunjukkan adanya pengaruh antara self-regulated learning (X)
dan kemandirian belajar (Y) yang dinyatakan dengan paradigma sebagai berikut:
R
Gambar 1. Model korelasi variabel self regulated learning (X) dan kemandirian belajar (Y)
Keterangan dari gambar di atas adalah: R : Koefisien korelasi X terhadap Y X : Variabel self-regulated learning Y: Variabel kemandirian belajar
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas karyawan STMIK Jayanusa Padang semester 4 yang mengambil matakuliah Bahasa Inggris 4 pada tahun akademik 2016/2017. Total jumlah mahasiswa kelas karyawan yang terlibat sebanyak 35 mahasiswa yang terdiri dari 15 mahasiswa perempuan dan 20 mahasiswa laki-laki.
Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Secara umum pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
b. Angket (Kuesioner)
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia
Self-regulated learning (X)
ketahui yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai self-regulated learning mahasiswa dan kemandirian belajar mahasiswa.
Lebih jauh tentang instrumen penelitian, berikut dijelaskan kisi-kisi penyusunan instrument yang menunjukkan kaitan antara variabel yang diteliti dengan sumber data darimana data akan diambil, metode yang digunakan dan instrumen yang disusun.
1. Kisi-kisi umum:
Tabel 1 : Kisi – Kisi Umum
No Variabel
penilaian Sumber data Metode Instrumen
1
Self-regulated learning
mahasiswa angket angket
2 Kemandir
ian belajar mahasiswa angket angket
2. Kisi-kisi khusus:
1) Skala Self-regulated Learning (SRL) Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert, skala ini digunakan untuk mengukur pendapat, sikap dan persepsi seseorang tentang suatu kejadian. Aspek-aspek yang dijadikan indikator untuk mengetahui SRL adalah sebagaimana tertera dalam table berikut:
1. Penetapan tujuan 2. Perencanaan 3. Motivasi diri 4. Kontrol atensi 5. Strategi 6. Monitor diri
7. Pencarian bantuan yang tepat 8. Evaluasi diri
2) Skala Kemandirian Belajar
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert, skala ini digunakan untuk mengukur pendapat, sikap dan persepsi seseorang tentang suatu
kejadian. Aspek-aspek yang dijadikan indikator untuk mengetahui kemandirian belajar adalah sebagaimana tertera dalam tabel berikut:
1. Bebas
2. Progresif dan aktif 3. Inisiatif
4. Pengendalian diri 5. Kemantapan diri
Penelitian ini menggunakan lima alternative jawaban, yaitu: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Skor jawaban berkisar antara 1 sampai 4. Kriteria pemberian nilai meliputi: untuk jawaban sangat setuju (SS) mendapat nilai 4, jawaban setuju (S) mendapat nilai 3, jawaban tidak setuju (TS) mendapat nilai 2, jawaban sangat tidak setuju (STS) mendapat nilai 1. Adapun pilihan yang disediakan terdiri dari lima opsi jawaban yang dapat dilihat dalam tabel berikut:
Setiap kejadian yang digambarkan pada pernyatan sama sekali tidak terjadi.Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek, maka semakin tinggi nilai kemandirian belajarnya. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subjek, maka makin rendah pula tingkat kemandiriannya. Selanjutnya akan dibuat kategorisasi untuk mengklasifikasikan tingkatan self-regulated learning siswa menjadi sangat baik, baik, tidak baik dan sangat tidak baik.
Teknik Analisis Data
Adapun jenis analisis data penelitian, peneliti melakukan uji korelasi sederhana dan pengujian hipotesis.
1. Uji Korelasi Sederhana
Analisis korelasi digunakan untuk melihat seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independent (X) yaitu Self-generated learning sedangkan variabel independent (Y) adalah kemandirian belajar, yang diberi symbol r.
Untuk menganalisanya, digunakan persamaan dalam regresi linier sederhana. Regresi linier mempunyai persamaan yang disebut sebagai persamaan regresi. Persamaan regresi mengekspresikan hubungan linear antara variabel tergantung atau variabel kriteria yang diberi simbol Y dan salah satu atau lebih variabel bebas atau prediktor yang diberi simbol X (Duncan Cramer, 2006) Uji regrasi sederhana dugunakan untuk melakukan prediksi seberapa tinggi nilai variabel dependent (Y), bila nilai variabel independent (X) dimanipulasi (dirubah). Secara umum persamaan regresi sederhana adalah :
Y = a + b X Dimana :
Y = Variabel Kemandirian mahasiswa kelas karyawan
a = Constant
b = Koefisien regresi
X = Variabel Self Regulated Learning (SRL)
2. Uji- t
Koefisien regresi harus signifikan. Untuk menguji apakah hubungan antara kedua variabel tersebut signifikan (berarti) atau tidak maka digunakan uji-t. Koefisien regresi akan signifikan jika t hitung > t tabel
( nilai kritis). Dalam IBM SPSS 23 dapat dihitung dengan menggunakan nilai signifikansi (sig) dengan ketentuan sebagai berikut:
Jika sig < 0,05; koefisien regresi signifikan Jika sig > 0,05; koefisien regresi tidak signifikan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah semua data dari kuesioner diolah dengan menggunakan IBM SPSS versi 23 maka diperoleh output sebagai berikut: 1. Uji korelasi sederhana
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata kemandirian mahasiswa kelas karyawan ialah sebesar 26,1714 dan rata-rata self-regulated learning (SRL) sebesar 38,5429. Sedangkan variabel standar deviasi kemandirian mahasiswa kelas karyawan ialah sebesar 2,74918, sementara itu pada variabel self-regulated learning (SRL) sebesar 3,75220.
Nilai standar deviasi merupakan nilai simpangan baku yang menunjukkan disperse data. Output data diatas menunjukkan bahwa nilai standar deviasi yang diperoleh lebih kecil ( mendekati 0) jika dibandingkan dengan nilai rata-rata (mean), maka dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini bersifat homogen.
Tabel 2 : Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N Kemandirian
Mahasiswa Kelas Karyawan
26,1714 2,74918 35
Self Regulated Learning
Tabel 3 : Variables Entered/Removeda
Model
Variables Entered
Variables
Removed Method 1
Self Regulated
Learningb . Enter
a. Dependent Variable: Kemandirian Mahasiswa Kelas Karyawan
b. All requested variables entered.
Selanjutnya, dari tabel diatas dapat maknai bahwa metode yang digunakan dalam pengolahan data ini adalah metode enter. Variabel self-regulated learning (SRL) merupakan variabel bebas (independent) sementara itu variabel kemandirian mahasiswa kelas karyawan adalah variabel terikat (dependent).
Tabel model summary diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai korelasi atau hubungan R yaitu sebesar 0.592. Dari nilai tersebut diperoleh koefisien determinasi ( R square) sebesar 0,351. Hasil ini menjelaskan bahwa pengaruh variabel self-regulated learning (SRL) terhadap variabel kemandirian mahasiswa kelas karyawan adalah sebesar 35,1%.
Dari tabel tersebut diketahui bahwa nilai F hitung adalah sebesar 17,835 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Nilai ini menunjukkan bahwa 0,000 > 0,05. Maka, model regresi dapat dipakai untuk memprediksi variabel kemandirian mahasiswa kelas karyawan. Atau dengan kata lain, ada pengaruh variabel self-regulated learning (SRL) terhadap variabel kemandirian mahasiswa kelas karyawan.
Kemudian, dari output diatas dihasilkan nilai konsisten variabel constant kemandirian mahasiswa kelas karyawan (a} adalah sebesar 9,444. Sedangkan nilai koefisien regresi (b) adalah 0,434. Sehingga persamaan regresinya dapat ditulis:
Y = a + bX
Y = 9,444 + 0,434 X
Dari persamaan tersebut dapat ditafsirkan bahwa setiap penambahan 1% nilai variabel self-regulated learning (SRL), maka nilai variabel kemandirian mahasiswa
Tabel 4 : Model Summaryb
Model R R Square
a. Predictors: (Constant), Self Regulated Learning
b. Dependent Variable: Kemandirian Mahasiswa Kelas Karyawan
Tabel 5 : ANOVAa
a. Dependent Variable: Kemandirian Mahasiswa Kelas Karyawan
b. Predictors: (Constant), Self Regulated Learning
Tabel 6 : Coefficientsa
Model
kelas karyawan akan bertambah sebesar 0,434. Koefisien regresi tersebut bernilai positif. Sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variabel X dengan variabel Y adalah positif.
2. Uji-t
Untuk menguji apakah hubungan antara kedua variabel tersebut signifikan (berarti) atau tidak maka digunakan uji-t. Koefisien regresi akan signifikan jika t hitung > t tabel ( nilai kritis). Dalam IBM SPSS versi 23 dapat dihitung dengan menggunakan nilai signifikansi (sig) dengan ketentuan sebagai berikut:
Jika sig < 0,05; koefisien regresi signifikan
Jika sig > 0,05; koefisien regresi tidak signifikan
Dari tabel Coefficient diatas dapat dilihat bahwa nilai t hitung adalah sebesar 4,223. Sementara itu, t tabel dapat dihitung melalui persamaan berikut:
T tabel = a/2 : n-k-1 = 0,05/2 : 35-1-1 = 0,025 : 33
Berdasarkan tabel distribusi nilai t tabel didapat nilai sebesar 2.034.
T tabel = 2.034
Hasil dari persamaan diatas menunjukkan bahwa t hitung sebesar 4,223 > t tabel sebesar 2,034. Hasil ini
menunjukkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan yang signifikan. Sehingga dapat disimpulkan variabel self-regulated learning (SRL) berpengaruh terhadap variabel kemandirian mahasiswa kelas karyawan.
SIMPULAN
Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pendekatan SRL dengan kemandirian mahasiswa kelas karyawan STMIK Jayanusa Padang. Besar korelasi atau hubungan antara pendekatan SRL dengan kemandirian belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa teori-teori psikologi sangat bermanfaat pada bidang pendidikan terutama terhadap kemampuan belajar mandiri baik dari aspek regulasi diri, otonomi diri, dan kontrol pembelajar.
DAFTAR PUSTAKA
A.A.A. Dewi, T. V. (2013). Hubungan Kelekatan Orangtua-Remaja dengan Kemandirian pada Remaja di SMK N 1 Denpasar. Jurnal Psikologi Udayana Vol.1, No.1, 181-189.
Adawiyah, R. (2012). Pengembangan Model Konseling Behavior dengan Teknik Modeling Untuk Meningkatkan Kemandirian Siswa SMPN 4 Wanasari Brebes. . Jurnal Bimbingan Konseling Vol.1, No.1, 21-26.
Antono. (2012). kontribusi Layanan Informasi Bimbingan Belajar dan Kecerdasan Emosional terhadap Kemandirian Belajar. Jurnal Bimbingan Konseling Vol.1, No. 1, 9-13.
Tabel 7 : Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig. B
Std.
Error Beta
1(Constant) 9,444 3,979 2,374 ,024
Self Regulated
Learning ,434 ,103 ,592 4,223 ,000
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. . Jakarta: Rhineka Cipta.
Chaplin. (1982). Dipetik Februari 06, 2017, dari Tatang Website: http://tatangjm.
wordpress.com/belajar-dan-permasalahannya/
Duncan Cramer, D. H. (2006). The Sage Dictionary of Statistics. London: SAGE publication Ltd.
F. Ismawati, S. S. (2010). Perbedaan Self Confidence dan Self Regulated Learning antara Siswa Kelas IMERSI dan Siswa Reguler. Jurnal Psikologi Vol.1, No.1, 75-86. F.J. Monks, A. K. (2002). Psikologi
perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Firdaus, I. (2001). Pengaruh strategi self
management terhadap sikap ketidakmandirian dalam mengambil keputusan siswa kelas III MTS Terpadu Al-Roudloh Mojosari-Mojokerto. Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
K. Hidayati, E. L. (2010). Pengembangan Instrumen Kemandirian Belajar Mahasiswa kelas karyawan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Latipah, E. (2010). Jurnal Psikologi UGM. Dipetik Februari 20, 2017, dari Jurnal Psikologi UGM website: http://www.jurnal.psikologi.ugm.ac .id/index.php/fpsi/article/view/43/3 2
M. Ali, M. A. (2010). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Musdalifah. (2007). IQRA Perkembangan sosial remaja dalam kemandirian (Studi kasus hambatan psikologis dependensi terhadap orangtua. Dipetik Februari 21, 2017, dari IQRA website: http://www.pdf- search-engine.com/faktor-faktor- yang-mempengaruhi-kemandirian-remaja-pdf.html
N.M.W.I Artha, S. (2013). Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Self Efficacy dalam Pemecahan Masalah Penyesuaian Diri Remaja Awal. Jurnal Psikologi Udayana Vol.1, No.1 , 190-202.
Santrock, J. (2007). Educational psychology. 2nd canadian ed. Canada: McGraw Hill Ryerson Limited.
Steinberg, L. (2002). Adolescence. New York: McGraw Hill Companies, Inc.
Sugiyono. (2005). Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabet.
Wikipedia. (2015). Wikipedia. Dipetik Februari 01, 2017, dari Hipotesis: http://id.wikipedia.org/wiki/hipotes is