KATA PENGANTAR
Semoga Alloh Subhanahuwata’ala senantiasa
melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk
senantiasa dapat melaksanakan kewajiban beribadah kepada-Nya
dan untuk mendapatkan Ridho-Nya. Amin
Dan atas kuasa-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Intisari “Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran
di Sekolah”. Buku panduan ini penulis sajikan sebagai bahan referensi pada pengajar dalam melakukan Analisis Evaluasi
Pembelejaran disekolah.
Mengingat keterbatasan penulis, baik secara moril maupun
materil serta pengetahuan dalam penulisan ini, sudah barang
tentu banyak sekali kekurangan-kekurangan. Kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan.
Mudah-mudahan segala Amal baik yang telah diberikan
kepada penulis mendapat balasan yang lebih dari Alloh SWT.
Akhir kata penulis berharap semoga panduan ini bermanfaat,
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua pihak yang
memerlukannya.
Curiculum Vitae Penulis
TERTANGGAL 29 Mei 1980 telah lahir seorang
anak Dindin Kamaludin, S.Pd yang merupakan anak ke-3 dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Kosim Al Ma’ruf dan Ibu E.Sopiah.
Riwayat pendidikan yang telah dilaksankan penulis, diawali dari SDN Manggahang II sejak tahun 1987-1993, sejak tahun 1993-1996 belajar di MTs PPI No. 3 Pameungpeuk Bandung, tahun 1996-1997 menimba ilmu di MAN Ciparay hanya sampai kelas 1 dan dilanjutkan pada tahun 1997-1999 di PPI No. 70 Pameungpeuk Bandung. Dan pada tahun 1999 diterima sebagai mahasiswa IAIN SGD bandung di Fakultas Syariah Jurusan Ilmu Hukum, pada tahun 2000 – 2006 penulis memilih pindah jurusan dan masih di IAIN SGD Bandung yaitu difakultas Tarbiyyah Jurusan Pendidikan Matematika. Namun, karena beberapa hal penulis membereskan studi S1 di UNINUS Bandung .
Riwayat organisasi yang pernah penulis alami, sejak tahun 1999 penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam, pada 2000 penulis menduduki jabatan Sekretaris HIMA Persis Kom. IAIN SGD Bandung, dan pada tahun 2001-2003 penulis diberi amanah sebagai Ketua PJM/PD Hima Persis Kota Bandung, bersamaan itu penulis pada tahun 2002 diberi amanah sebagai Ketua Bidang Keorganisasian PP. Hima Persis.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……….. 2
Curiculum Vitae Penulis ………. 3
Daftar Isi ………... 4
Bab I Validitas A. Pengertian ……….. 6
B. Koefisien Validtas ………... 8
C. Interprestasi Indeks Validitas ………. 9
D. Contoh Analisis Item Validitas ………... 9
E. Faktor Yang Mempengaruhi Validitas ……. 17
Bab II Reliabilitas A. Pengertian ………. 18
B. Rumus Analisis Reliabilitas ………. 19
C. Interprestasi Indeks Reliabilitas ……….. 24
D. Contoh Analisis Reliabilitas ………. 24
Bab III Daya Pembeda A. Pendahuluan ……….. 39
B. Contoh Perhitungan Daya Pembeda ………... 41
Bab IV Tingkat Kesukaran A. Pendahuluan ………..…………. 46
B. Contoh Perhitungan Daya Pembeda ………… 47
Bab V Efektivitas Option ……… 48
KENAPA
HARUS
MENGADAKAN
EVALUASI
PENDIDIKAN ??????
Secara umum, tujuan diadakannya evaluasi pendidikan atau pembelajaran siswa disekolah adalah :
1) Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebai bukti mengenai taraf perkembangan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2) Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode dan model pembelajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran dalam waktu tertentu.
3) Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidika, tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan pada diri peserta didik untuk memperbaiki, mempertahankan, atau bahkan meningkatkan.
4) Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
Untuk mendapatkan hasil evaluasi baik tentunya diperlukan alat evaluasi yang kualitasnya baik pula. Ada beberapa tinjauan alat evaluasi memilki kriteria baik, yaitu :
1. Validitas 2. Reliabilitas 3. Daya Pembeda 4. Tingat Kesukaran
BAB I VALIDITAS
A. Pengertian
Suatu alat evaluasi disebut Valid (absah atau shohih) apabila alat tersebut mampu mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasikan dengan TEPAT, Validitas soal disebut juga KETEPATAN suatu soal. Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran (validitas logis) dan juga hasil pengalaman (validitas Empiris).
Dalam beberapa referensi pembelajaran, validitas terbagi pada 4 macam
1) Validitas Isi
Adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, validitas isi ditilik dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat ukur hasil belajar. Dalam praktek KBM, validitas isi dari hasil belajar dapat diketahui dengan cara membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar ( kisi-kisi soal) dengan SK/KD/Indikator yang telah ditentukan sebelumnya dalam Pemetaan.
2) Validitas Konstruksi
SK/KD/Indikator yang telah ditentukan sebelumnya dalam Pemetaan.
3) Validitas “Ada Sekarang”
Sebagai kriterium alat pembanding dalam Validitas ini terdapat pada waktu yang bersamaan dengan alat evaluasi, biasanya dilakukan terhadap subyek yang sama. Misalnya, pada suatu hari guru melakukan tes terhadap 30 siswa dengan jumlah soal 20 soal dan diperoleh nilai-nilanya. Dan pada 2 minggu kedepan dilakukan tes tanpa ada pemberitahuan kepada 30 siswa tersebut dengan 20 soal yang sama.
4) Validitas Prediksi
Validitas Prediksi atau ramalan adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauh sebuah tes dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Misalnya, tes seleksi PSB SMP Plus Al Istiqomah, maka yang menjadi alat pembanding adalah nilai-nilai setelah dilaksanakan Tes, peserta yang mendapatkan nilai diatas rata-rata dinyatakan LULUS, dan nilai dibawah rata-rata dinyatakan TIDAK LULUS.
B. Koefisien Validitas
Cara menentukan tingkat (indeks) validitas adalah dengan menghitung Koefisien korelasi antara alat evaluasi yang diketahui validitasnya dengan alat ukur lain ukur lain yang telah dilaksanakan dan diasumsikan telah memiliki validitasnya.
1) Korelasi Produk Moment Memakai Simpangan Rumus Korelasi Produk Moment Simpangan
rxy= xy
x2 y2 Ket :
rxy : Koefisien korelasi Variabel X dan Y
x : X−X y : Y−Y
2) Korelasi Produk Moment Memakai Angka Kasar Rumus yang digunakan :
rXY= N XY− X Y
N X2− X 2 N Y2− Y 2
Ket :
N : banyak siswa/peserta test 3) Korelasi Metode Rank
Rumus yang digunakan :
rXY= 1− 6 d
2
N N2−1
Ket :
d : selisih rank antara X dan Y
C. Interprestasi Indeks Validitas
Interprestasi koefisein yang diperoleh:
0,80 < rxy ≤1,00 Validitas sangat Tinggi/sangat baik
0,60 < rxy ≤0,80 Validitas Tinggi /baik
0,40 < rxy ≤0,60 Validitas Sedang /Cukup
0,20 < rxy ≤0,40 Validitas Rendah /Kurang
0,00 < rxy ≤0,20 Validitas sangat Rendang
rxy ≤0,00 Tidak Valid
D. Contoh Analisis Item Validitas Contoh Validitas Antar dua Test
Misal : diketahui hasil test yang akan dicari validitasnya (X) dengan hasil test ulangan harian (Y).
Tabel 1. Persiapan Untuk mencari Validitas
No Nama X Y x y x2 y2 xy
1 A 6.5 6.3 0.0 -0.1 0.00 0.01 0.0
2 B 7.0 6.8 0.5 0.4 0.25 0.16 0.2
3 C 7.5 7.2 1.0 0.8 1.00 0.64 0.8
4 D 7.0 6.8 0.5 0.4 0.25 0.16 0.2
5 E 6.0 7.0 -0.5 0.6 0.25 0.36 -0.3
6 F 6.0 6.2 -0.5 -0.2 0.25 0.04 0.1
7 G 5.5 5.1 -1.0 -1.3 1.00 1.69 1.3
8 H 6.5 6.0 0.0 -0.4 0.00 0.16 0.0
9 I 7.0 6.5 0.5 0.1 0.25 0.01 0.0
10 J 6.0 5.9 -0.5 -0.5 0.25 0.25 0.3
Jumlah 65.0 63.8 3.5 3.59 2.65
X = X
N =
65.0
Y = Y
N =
63.8
10 = 6.38≈6,4
Berdasarkan Tabel diatas, kita masukan dalam Rumus Korelasi Produk Moment Simpangan:
rxy=
xy
x2 y2
rxy=
2.65
3.5 3.59
rxy=
2.65
3.545= 0.748≈0,75
Berdasarkan nilai rxy=0,75, maka test tersebut memiliki
Validitas TINGGI
Bandingkan, dengan menggunakan Rumus Korelasi Produk Moment Angka Kasar !!!
Tabel 2. Persiapan Untuk mencari Validitas Dgn Angka Kasar
No Nama X Y X2 Y2 XY
1 A 6.5 6.3 42.3 39.7 40.95
2 B 7.0 6.8 49.0 46.2 47.60
3 C 7.5 7.2 56.3 51.8 54.00
4 D 7.0 6.8 49.0 46.2 47.60
5 E 6.0 7.0 36.0 49.0 42.00
6 F 6.0 6.2 36.0 38.4 37.20
7 G 5.5 5.1 30.3 26.0 28.05
8 H 6.5 6.0 42.3 36.0 39.00
9 I 7.0 6.5 49.0 42.3 45.50
10 J 6.0 5.9 36.0 34.8 35.40
Dimasukan dalam rumus :
rXY= N XY− X Y
N X2− X 2 N Y2− Y 2
rXY=
10×417,3− 65×63,8
10×426−4225 10×410,5−4070,44
rXY= 4173−4147
4260−4225 4105−4070,44
rXY=
26
35 34,76 = 0,745≈0,75
Berdasarkan hasil tersebut, ternyata penggunaan Korelasi Moment dengan Simpangan dan Angka Kasar hasilnya sama yaitu 0,75 dan dikategorikan Validitas TINGGI.
Berbeda dengan penggunaan Korelasi diatas, dalam penggunaan Matode Rank, terlebih dahulu kita membuat Rank (peringkat) dari skor setiap subyek untuk daya X dan data Y, data yang ada diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah, untuk rank-nya sama maka penulisannya harus sama, misal urutan 5 dan 6 sama maka keduanya diberi rank (5+6)/2=5,5. Dan urutan 7, 8, 9 sama maka ketiganya diberi rank (7+8+9)/3=8, berikut contohnya :
Tabel 3. Pengolahan Bahan Validitas Metode Rank
No Ssw Skor Rank d d2
X Y X Y
1 A 6.5 6.3 5.5 6 0.5 0.25
2 B 7.0 6.8 3 3.5 0.5 0.25
3 C 7.5 7.2 1 1 0.0 0.00
5 E 6.0 7.0 8 2 -6.0 36.00
6 F 6.0 6.2 8 7 -1.0 1.00
7 G 5.5 5.1 10 10 0.0 0.00
8 H 6.5 6.0 5.5 8 2.5 6.25
9 I 7.0 6.5 3 5 2.0 4.00
10 J 6.0 5.9 8 9 1.0 1.00
Jumlah 49
Dimasukan dalam rumus :
rXY= 1− 6 d
2
N N2−1
rXY= 1− 6×49
10 102−1
rXY= 1−
294 990
rXY=
990
990−
294 990
rXY=696
990= 0,703
Berdasarkan nilai rxy=0,703, maka test tersebut memiliki
Contoh Validitas Item Soal Metode Simpangan
Tabel 4. Persiapan Validitas Metode Simpangan
No Nama
Butir Soal/Item Skor
Total
Pada kesempatan ini penulis hanya sajikan mengitung Validitas Item soal no. 6, sebagai berikut :
Dari data diatas, kita gunakan Korelasi Produk moment dengan Simpangan diperoleh :
0.75 1.88
Berdasarkan Tabel diatas, kita masukan dalam Rumus Korelasi Produk Moment Simpangan:
rxy= xy
Bandingkan, dengan menggunakan Rumus Korelasi Produk Moment Angka Kasar !!!
Contoh Validitas Item Soal Metode Angka Kasar
Tabel 6. Persiapan Validitas metode angka kasar
No Nama X Y X2 Y2 XY
1 A 1 8 1 64 8
2 B 0 5 0 25 0
4 D 1 5 1 25 5
5 E 1 6 1 36 6
6 F 0 4 0 16 0
7 G 1 7 1 49 7
8 H 1 8 1 64 8
Jumlah 6 47 6 295 38
Dimasukan dalam rumus :
rXY=
N XY− X Y
N X2− X 2 N Y2− Y 2
rXY= 8×38− 6×47
8×6−62 8×295−472
rXY=
304−282
48−36 2360−2209
rXY= 22
12 151 = 22
1812=
22
42,57= 0,48
Berdasarkan hasil tersebut, ternyata penggunaan Korelasi Moment dengan Simpangan dan Angka Kasar hasilnya terjadi perbedaan tetapi soal tersebut sama dikategorikan Validitas
CUKUP.
Dan seterusnya apabila akan mencari validitas item soal no.
Contoh Validitas Item Soal Metode Rank
Tabel 7. Pengolahan Validitas Item Soal Metode Rank
No Nm Skor Rank d d2
X Y X Y
1 A 1 8 3.5 1.5 -2.0 4.00
2 B 0 5 7.5 5.5 -2.0 4.00
3 C 1 4 3.5 7.5 4.0 16.00
4 D 1 5 3.5 5.6 2.1 4.41
5 E 1 6 3.5 4.0 0.5 0.25
6 F 0 4 7.5 7.5 0.0 0.00
7 G 1 7 3.5 3.0 -0.5 0.25
8 H 1 8 3.5 1.5 -2.0 4.00
Jumlah 32.9
Dimasukan dalam rumus :
rXY= 1−
6 d2
N N2−1
rXY= 1−
6×32,9
8 82−1
rXY= 1−197,4
504
rXY=
504
504−
197,4 505
rXY=306,6
504 = 0,60
Berdasarkan nilai rxy=0,60, maka test tersebut memiliki
E. Faktor Yang Mempengaruhi Validitas
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil suatu evaluasi sehinga menjadi bias, menyimpang dari keadaan yang sebenarnya, beberapa diantaranya adalah berasal dari dalam alat evaluasi itu sendiri. Dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran, faktor-faktor berikut biasanya menjadi validitas bias, sbb :
a) Petunjuk Soal yang tidak jelas
b) Perbendaharaan kata dan struktur kalimat yang sukar c) Penyusunan Soal yang kurang baik
d) Kekaburan
e) Tingkat kesukaran soal yang tidak cocok f) Materi test tidak refresentatif
BAB II RELIABILITAS
A. Pengertian
Reliabilitas alat penilaian adalah ketetapan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya, kapan pun alat penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang relative sama.
Indeks reliabilitas dapat dicari dengan mengorelasikan skor-skor yang diperoleh. Ada beberapa teknik pencarian indeks reliabiltas, yaitu :
1) Reliabilitas Tes Ulang
Adalah penggunaan alat penialaian terhadap subyek yang sama, dilakukan dua kali dalam waktu yang berlainan, jarak atau selang waktu antara tes pertama dan kedua sebaiknya tidak terlalu dekat atau lama. Jika terlalu dekat, hasilnya banyak dipengaruhi oleh ingatan jawaban siswa, juga jangan terlalu lama, sebab kemungkinan akan terjadi berubahan pengetahuan dan pengalaman siswa.
Hasil penilaian pertama kemudian dikorelasikan dengan hasil penialian yang kedua untuk memperoleh koefisien korelasinya. Asumsi yang digunakan dalam tes ulang ialah karakteristik yang diukur oleh alat penialaian tersebut stabil sepanjang waktu, sehingga jika ada perubahan skor, hal itu lebih disebabkan oleh kesalahan alat penialainnya.
2) Reliabilitas Pecahan Setara
sama, tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes yang sebanding atau setara yang diberikan kepada subyek yang sama pada waktu yang sama pula. Dengan demikian, diperlukan dua perangkat tes yang disusun agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan baik dari segi isi, tingkat kesukaran, abilitas, jumlah pertanyaan, bentuk pertanyaan, maupun segi-segi teknis lainnya. Namun, kesulitannya terletak dalam
menyusun perangkat tes yang benar-benar
mengandung derajat kesetaraan yang tinggi. 3) Reliabilitas Belah Dua
Reliabilitas Belah dua mirip dengan reliabilita pecahan setara. Dalam prosedur ini tes diberikan kepada subyek cukup satu kali. Selanjutnya, butir-butir soal dibagi menjadi dua bagian yang sama. Dalam membagi butir soal menjadi dua bagian yang sama, dapat dilakukan dengan cara membagi soal menjadi butir ganjil-genap atau Awal-Akhir.
4) Kesamaan Rasional
Prosedur ini dilakukan dengan menghubungkan setiap butir dengan butir-butir lainnya dalam tes itu sendiri secara keseluruhan.
B. Rumus Analisis Reliabilitas
Sebagaimana telah diungkap pada macam-macam reliabilitas diatas, maka dalam pengihitungan realiabilitas dapat dikukan dengan beberapa penghitungan statistik. Ada beberapa pendekatan penghitungan yang dapat dilakukan, yaitu : 1) Formula Spearman-Brown
Awal-Akhir) selanjutnya mencari indeks korelasi dengan menggunakan Korelasi produk Moment dengan angka kasar (lihat bab 1 ), kemudian dimasukan pada rumus Formula Spearman-Brown, yaitu :
r11 =
r11 : Reliabilitas Tes r1
2 1 2
: Korelasi produk Moment dengan angka kasar
2) Rumus Flanagan
s22 : Varian belahan kedua (Genap atau Bawah) st2 : Varian Total/Skor Total
Dalam perhitungan varian digunakan rumus :
s2=
Rumus yang digunakan :
r11 = 1− Sd2 St2
Ket :
St2 : Varian Total
Untuk mencari Varian beda, digunakan rumus :
Sd2=
d2− d 2
N N
Untuk mencari Varian Total, digunakan rumus :
St2= x
2− x 2 N N
4) Rumus K-R.20
Rumus Yang digunakan :
r11 = n n−1
S2− pq S2 Ket :
r11 : Reliabilitas Tes
p : Proporsi subyek yang menjawab benar q : Proporsi subyek yang menjawab salah
pq : Jumlah hasil perkalian p dan q n : Banyak item
S : Standar deviasi
Untuk mencari Standar Deviasai, digunakan rumus :
S = x2
N , dengan x = X−X
5) Rumus K-R.21
r11 = n
n−1 1−
M n−M nSt2
Ket :
M : Mean skor Total n : Jumlah Item Soal
St2 : Varian Total
6) Rumus Hoyt
Rumus yang digunakan :
r11 = 1− Vs
Vr atau r11 =
Vr−Vs
Vs
Ket :
r11 : Reliabilitas Tes
Vs : Varian Responden Vr : Varian Sisa
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam penngunaan rumus HOYT, sebagai berikut :
Langkah 1 : Mencari jumlah kuadrat responden
Jk r = Xt 2
k −
Xt 2 k × N
Keterangan
Jk r : Jumlah kuadrat Responden
Xt : Skor Total Responden
k : Banyak item
Langkah 2 : Mencari jumlah kuadrat item
Jk i = B2 k −
Xt 2 k × N
Keterangan
Jk i : Jumlah kuadrat Item
B2 : Jumlah Kuadrat Jawab benar seluruh item
Xt : Kuadrat dari jumlah Skor Total
Langkah 3 : Mencari jumlah kuadrat total
Jk t = B S B + S
Keterangan :
Jk t : Jumlah Kuadrat Total
B : Jumlah kuadrat benar seluruh item
S : Jumlah kuadrat salah seluruh item
Langkah 4 : Jumlah kuadrat sisa
Jk t = Jkt −Jkr −Jk i
Langkah 5 : Mencari varians responden dan varian siswa dengan menggunakan Tabel F
Dalam langkah ke-5 diperlukan d.b (derajat kebebasan), rumus yang dapat digunakan :
d. b = N−1
N : Banyak subyek
Langkah 6. Penggunaan Rumus Hoyt
C. Interprestasi Indeks Reliabilitas
Interprestasi koefisein yang diperoleh:
r11 ≤0,20 Derajat Reliabilitas Sangat Rendah
0,20 < r11 ≤0,40 Derajat Reliabilitas Rendah
0,40 < r11 ≤0,60 Derajat Reliabilitas Sedang
0,50 < r11 ≤0,80 Derajat Reliabilitas Tinggi
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah D. Contoh Analisis Reliabilitas
Jenis Soal Pilihan Ganda
Tabel 8. Persiapan Perhitungan untuk memperoleh Reliabilitas
Ssw Skor Untuk Item Nomor skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 X X2
A 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 22 484
B 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 15 225
C 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 9 81
D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24 576
E 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 225
F 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 12 144
G 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 14 196
H 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 13 169
I 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 15 225
J 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 19 361
K 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 13 169
L 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 15 225
M 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 11 121
N 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 18 324
O 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 19 361
P 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 324
Q 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 15 225
R 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 12 144
S 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 10 100
T 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 20 400
U 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24 576
P 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 15 225
W 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 15 225
X 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24 576
Y 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 14 196
Tabel 9. Belahan Ganjil-Genap
ssw
Skor Item
Bernomor XY X2 Y2
Ganjil(X) Genap(Y)
A 10 12 120 100 144
B 7 8 56 49 64
C 5 4 20 25 16
D 12 12 144 144 144
E 7 8 56 49 64
F 5 7 35 25 49
G 6 8 48 36 64
H 8 5 40 64 25
I 7 8 56 49 64
J 10 9 90 100 81
K 5 8 40 25 64
L 5 10 50 25 100
M 4 7 28 16 49
N 7 11 77 49 121
O 7 12 84 49 144
P 9 9 81 81 81
Q 7 8 56 49 64
R 6 6 36 36 36
S 5 5 25 25 25
T 10 10 100 100 100
U 12 12 144 144 144
P 6 9 54 36 81
W 7 8 56 49 64
X 12 12 144 144 144
Y 7 7 49 49 49
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
Perhitungan Menggunakan Formula Spearman-Brown
rXY= N XY− X Y
Dimasukan pada rumus Formula Spearman-Brown :
r11 =
Maka Koefisien reliabilitas nya adalah 0,802 dinyatakan tes tersebut memiliki reliabilitas TINGGI.
Perhitungan Menggunakan Rumus Flanagan
S12=
Dimasukan pada Rumus Flanagan:
r11 = 2 1−S1
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
reliabilitasnya adalah 0,802 dinyatakan tes tersebut memiliki reliabilitas TINGGI.
Perhitungan Menggunakan Rumus Rulon
Tabel 10. Persiapan Perhitungan Menggunakan Rumus Rulon
Langkah pertama : mencari Varian beda, digunakan rumus :
Untuk mencari Varian Total, digunakan rumus :
St2=
Dimasukan dalam rumus Rulon :
r11 = 1−Sd
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
Perhitungan Menggunakan Rumus K-R.20
Tabel 11. Persiapan Perhitungan Menggunakan Rumus K-R.20
Terlebih dahulu mencari St2dengan menggunakan rumus :
Dimasukan pada rumus K-R.20
r11 =
diperoleh Koefisien reliabilitasnya adalah 0,75 dinyatakan tes tersebut memiliki reliabilitas TINGGI.
Perhitungan Menggunakan Rumus K-R.21
Terlebih dahulu kita mencari Mean (Mt)
Mt = Xt N =
401
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
Selanjutny dimasukan pada rumus K-R.21
r11 = n
diperoleh Koefisien reliabilitasnya adalah 0,731 dinyatakan tes tersebut memiliki reliabilitas TINGGI.
Perhitungan Menggunakan Rumus Hoyt
Langkah 1 : Mencari jumlah kuadrat responden
Jk r = Xt2
Langkah 2 : Mencari jumlah kuadrat item
Jk i = B2 k −
Jk i = 6787
24 −
401 2
24 × 25= 282,79−268,001 = 14,79
Langkah 3 : Mencari jumlah kuadrat total
Jk t =
Langkah 4 : Jumlah kuadrat sisa
Jk S = Jkt −Jkr −Jk i
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah r11 = 1−Vs
Vr
r11 = 1− 0,180
0,77 r11 = 1−0,23 = 0,8
diperoleh Koefisien reliabilitasnya adalah 0,8 dinyatakan tes tersebut memiliki reliabilitas TINGGI.
Sebagai Latihan dapat dicoba mencari koefisien reliabilitas pada belahan Awal-Akhir seperti table dibawah ini.
Tabel 13. Belahan Awal-Akhir
ssw
Skor Item
Bernomor XY X2 Y2
Awal(X) Akhir(Y)
A 11 11 121 121 121
B 7 8 56 49 64
C 4 5 20 16 25
D 12 12 144 144 144
E 6 9 54 36 81
F 6 6 36 36 36
G 7 7 49 49 49
H 6 7 42 36 49
I 8 7 56 64 49
J 10 9 90 100 81
K 6 7 42 36 49
L 7 8 56 49 64
M 5 6 30 25 36
N 8 10 80 64 100
O 10 9 90 100 81
P 9 9 81 81 81
R 6 6 36 36 36
S 4 6 24 16 36
T 10 10 100 100 100
U 12 12 144 144 144
P 8 7 56 64 49
W 7 8 56 49 64
X 12 12 144 144 144
Y 8 6 48 64 36
N=25 195 206 1709 1659 1800
Mencari Reliabilitas Tes Bentuk Uraian
Dapat digunakan rumus sebagai berikut :
r
11=
n
n
−
1
1
−
σ
i2σ
t2Keterangan
r11 : Reliabilitas yang dicari
n : jumlah item
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
Contoh perhitungan mencari reliabilitas bentuk Uraian/Essay
Tabel 14. Persiapan perhitungan mencari reliabilitas bentuk Uraian/Essay
Jumlah Varian semua item
= 7,8 + 1,61 + 3,36 + 3,36 + 2,24 + 2,85 = 21,22
Varian Total =
11836−334 2
10
10 = 68,04
Dimasukan pada Rumus Alpha :
r
11=
n
n
−
1
1
−
σ
i2σ
t2r
11=
66−1
1
−
21,2268,04
=0,826
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah BAB III DAYA PEMBEDA
A. Pendahuluan
Analisis Daya Pembeda mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang tergolong mampu (tinggi prestasinya) dengan siswa yang tergolong kurang. Artinya, bila soal tersebut diberikan kepada anak mampu, hasilnya menunjukan prestasi tinggi, dan bila diberikan pada siswa yang lemah, hasilnya rendah.
Tes dikatakan tidak memiliki daya pembeda, apabila tes tersebut diujikan kepada siswa berprestasi, hasilnya rendah; tetapi apabila diberikan pada siswa lemah, hasilnya tinggi. Atau apabila diberikan kepada siswa berprestasi dan siswa lemah, hasilnya sama.
Mengetahui daya pembeda item itu sangat penting, sebab salah satu dasar yang dipegang untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan, bahawa kemampuan antara siswa yang dengan yang lainnya itu berbeda-beda. Dan butir soal tes hasil belajar haruslah mampu memberikan hasil yang mencerminkan perbedaan kemampuan siswa.
Daya Pembeda item dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item. Angka indeks diskriminasi item adalah sebuah angka yang menunjukan besar kecilnya daya pembeda yang dimiliki oleh sebutir item. Diskriminasi pada dasarnya dihitung atas dasar pembagian testee kedalam dua kelompok, yaitu kelompok atas (pintar) dan kelompok bawah (lemah).
sebutir item memiliki angka indeks diskriminasi item dengan tanda Positif , hal ini merupakan petunjuk butir item tersebut memiliki daya pembeda, dalam arti bahwa testee yang kategori pandai lebih banyak menjawab dengan betul.
Jika indeks Diskrimanasinya 0 (nol), maka hal ini menunjukan item tidak memiliki daya pembeda, dalam arti kelompok atas dan bawah menjawab item tersebut dengan jumlah yang sama. Adapun apabila anga indeks Diskriminasi negative, maka pengertian yang terkandung didalamnya adalah bahwa butir item yang bersangkutan lebih banyak dijawab betul oleh kelompok bawah.
Dari uraian diatas, maka klasifikasi daya pembeda adalah :
D : 0,00 – 0,20 : Jelek D : 0,20 – 0,40 : Cukup D : 0,40 – 0,70 : Baik
D : 0,70 – 1,00 : Sangat Baik
Untuk mengetahui besar kecilnya angka indeks diskrimanasi item dapat diergunakan dua rumus, sebagi berikut :
Pertama ;
D = P
A−
P
B atauD =
BAJA
−
BBJB
Keterangan :
PA : Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB : Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab benar
BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab benar
JA : Banyak peserta kelompok Atas
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah B. Contoh Perhitungan Daya Pembeda
Tabel 15. Perolehan Hasil Belajar Siswa
Ssw Skor Untuk Item Nomor skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Xt
A 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 22
B 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 15
C 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 9
D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
E 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15
F 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 12
G 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 14
H 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 13
I 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 15
J 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 19
K 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 13
L 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 15
M 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 11
N 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 18
O 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 19
P 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18
Q 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 15
R 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 12
S 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 10
T 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 20
U 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
P 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 15
W 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 15
X 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
Tabel 16. Hasil Belajar Siswa Atas-Bawah
Ssw 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Untuk Item Kelompok Atas 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 skor X
t
D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
U 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
X 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 24
A 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 22
T 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 20
J 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 19
O 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 19
N 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 18
P 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18
B 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 15
E 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15
I 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 15
12 7 9 12 10 8 10 8 11 9 10 10 11 10 9 8 12 9 10 9 9 9 11 11 11 233
ssw Skor Untuk Item Kelompok Bawah skor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Xt
L 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 15
Q 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 15
V 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 15
W 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 15
G 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 14
H 1 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 13
K 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 13
F 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 12
R 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 12
M 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 11
S 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 10
C 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 9
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
Tabel 17. Perhitungan dan Interprestrasi Daya Pembeda Menggunakan angka Diskriminasi
No
Soal
B
AB
BJ
AJ
BP
AP
BD
Interprestasi
1 7 6 12 12 0.58 0.50 0.08 Jelek
2 9 7 12 12 0.75 0.58 0.17 Jelek
3 12 4 12 12 1.00 0.33 0.67 Baik
4 10 7 12 12 0.83 0.58 0.25 Cukup
5 8 7 12 12 0.67 0.58 0.08 Jelek
6 10 7 12 12 0.83 0.58 0.25 Cukup
7 8 6 12 12 0.67 0.50 0.17 Jelek
8 11 6 12 12 0.92 0.50 0.42 Baik
9 9 2 12 12 0.75 0.17 0.58 Baik
10 10 5 12 12 0.83 0.42 0.42 Baik
11 10 8 12 12 0.83 0.67 0.17 Jelek
12 11 7 12 12 0.92 0.58 0.33 Cukup
13 10 5 12 12 0.83 0.42 0.42 Baik
14 9 9 12 12 0.75 0.75 0.00 Tdk DP
15 8 5 12 12 0.67 0.42 0.25 Cukup
16 12 7 12 12 1.00 0.58 0.42 Baik
17 9 8 12 12 0.75 0.67 0.08 Jelek
18 10 7 12 12 0.83 0.58 0.25 Cukup
19 9 6 12 12 0.75 0.50 0.25 Cukup
20 9 9 12 12 0.75 0.75 0.00 Tdk DP
21 9 7 12 12 0.75 0.58 0.17 Jelek
22 11 7 12 12 0.92 0.58 0.33 Cukup
23 11 5 12 12 0.92 0.42 0.50 Baik
Kedua :
Dengan rumus kedua ini maka angka indeks diskriminasi item diperoleh dengan menggunakan teknik korelasi Phi (
∅
) dengan
menggunakan rumus :∅= PA−PB 2 p q
Keterangan :
∅ : Angka Indeks Korelasi Phi PA : Proporsi Benar kelompok atas
PB : Proporsi Benar kelompok Bawah
p : Proporsi seluruh testeee yang menjawab benar q : Proporsi seluruh testeee yang menjawab salah
berikut contoh perhitungan dengan menggunakan Korelasi Phi
Tabel 18. Perhitungan dan Interprestrasi Daya Pembeda Menggunakan Korelasi Phi
No
Soal BA BB JA JB PA PB p q
∅
1 7 6 12 12 0.58 0.50 0.54 0.46 0.02
2 9 7 12 12 0.75 0.58 0.67 0.33 0.04
3 12 4 12 12 1.00 0.33 0.67 0.33 0.16
4 10 7 12 12 0.83 0.58 0.71 0.29 0.06
5 8 7 12 12 0.67 0.58 0.63 0.38 0.02
6 10 7 12 12 0.83 0.58 0.71 0.29 0.06
7 8 6 12 12 0.67 0.50 0.58 0.42 0.04
8 11 6 12 12 0.92 0.50 0.71 0.29 0.09
9 9 2 12 12 0.75 0.17 0.46 0.54 0.15
10 10 5 12 12 0.83 0.42 0.63 0.38 0.10
11 10 8 12 12 0.83 0.67 0.75 0.25 0.04
12 11 7 12 12 0.92 0.58 0.75 0.25 0.07
13 10 5 12 12 0.83 0.42 0.63 0.38 0.10
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
15 8 5 12 12 0.67 0.42 0.54 0.46 0.06
16 12 7 12 12 1.00 0.58 0.79 0.21 0.08
17 9 8 12 12 0.75 0.67 0.71 0.29 0.02
18 10 7 12 12 0.83 0.58 0.71 0.29 0.06
19 9 6 12 12 0.75 0.50 0.63 0.38 0.06
20 9 9 12 12 0.75 0.75 0.75 0.25 0.00
21 9 7 12 12 0.75 0.58 0.67 0.33 0.04
22 11 7 12 12 0.92 0.58 0.75 0.25 0.07
23 11 5 12 12 0.92 0.42 0.67 0.33 0.12
24 11 7 12 12 0.92 0.58 0.75 0.25 0.07
BAB IV
TINGKAT KESUKARAN
A. Pendahuluan
Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar dapat diketahui dari tibgkat kesukaran yang dimiliki oleh masing-masing butir item. Butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir yang baik, apabila butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah dengan kata lain butir item tersebut berkategori sedang atau cukup.
Menurut Witherington dalam bukunya berjudul Psychological Education mengatakan, bahwa sudah atau belum memadainya tingkat kesukaran item tes hasil belajar dapat diketaui dari besar kecilnya angka yang melambangkan tingkat kesukaran dari item tersebut, yang dalam dunia evaluasi hasil belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P . yaitu singkatan dari proporsi.
Adapun indeks tingkat kesukaran diklasidikasikan sebagai berikut P : 0,00 – 0,30 dikategorikan soal Sukar
P : 0,30 – 0,70 dikategorikan soal Sedang/Cukup P : 0,70 – 1,00 dikategorikan soal Mudah
Rumus yang dapat digunakan dalam mencari indeks tingkat kesukaran adalah :
P = B JS
Keterangan :
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah B. Contoh perhitungan Tingkat Kesukaran
Berdasarkan perhitungan data pada tabel 15 , maka diperoleh perhitungan Tingkat kesukarannya sebagai berikut :
Tabel 19. Perhitungan dan Interprestrasi Tingkat Kesukaran
No
Soal B JS P
Interprestasi
1 13 24 0.54
Sedang
2 16 24 0.67
Sedang
3 16 24 0.67
Sedang
4 17 24 0.71
Sukar
5 15 24 0.63
Sedang
6 17 24 0.71
Sukar
7 14 24 0.58
Sedang
8 17 24 0.71
Sukar
9 11 24 0.46
Sedang
10 15 24 0.63
Sedang
11 18 24 0.75
Sukar
12 18 24 0.75
Sukar
13 15 24 0.63
Sedang
14 18 24 0.75
Sukar
15 13 24 0.54
Sedang
16 19 24 0.79
Sukar
17 17 24 0.71
Sukar
18 17 24 0.71
Sukar
19 15 24 0.63
Sedang
20 18 24 0.75
Sukar
21 16 24 0.67
Sedang
22 18 24 0.75
Sukar
23 16 24 0.67
Sedang
BAB V
EFEKTIVITAS OPTION
Berbicara tentang tes objektif bentuk multiple choice item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternative. Option yang merupakan jawaban benar disebut option kunci (key option), sedangkan optionnya disebut option pengecoh ( Distraktor).
Agar suatu option yang disajikan efektif harus diusahakn homogin (serupa), baik dari segi isi, notasi, atau panjang-pendek kalimat yang digunakan.
Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah menganalisa penyebaran jawaban item. Menganalisa penyebaran jawaban item adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana testee menentukan pilihan jawabnya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawab yang telah dipasangkan pada setiap butir soal.
Berdasarkan penyebaran pilihan pada setiap option dapat ditentukan option yang berfungsi efektif dan tidak. Criteria option yang berfungsi secara efektif adalah :
1) Untuk Option Kunci (key Option)
Jumlah pemilih kelompok atas harus lebih banyak dari pada jumlah pemilih kelompok bawah, artinya siswa yang pandai lebih banyak yang menjawab benar dari pada siswa yang bodoh
Panduan Analisis Evaluasi Pembelajaran di Sekolah
jika jumlah tersebut lebih dari 0,75%, maka soal tersebut dikategorikan mudah atau terlalu mudah 2) Untuk Option Pengecon (Distraktor)
Jumlah pemilih kelompok atas lebih sedikit daripada julah pemilih kelompok bawah. Hal ini berarti untuk jawaban yang salah siswa yang lemah lebih banyak memilih dari pada siswa yang pandai.
Jumlah pemilih kelompok atas dan kelompok bawah minimal sebanyak 0,25% dari ½ jumlah option pengecoh kali jumlah kelompok atas dan kelompok bawah. Secara matematis dapat dirumuskan sbb:
JPA+ JPB ≥0,25 × 1
2N−1 × JSA+ JSB Keterangan :
JPA : Jumlah Pemilih Kelompok Atas
JPB : Jumlah Pemilih Kelompok Bawah
n : Banyak Option pengecoh
JSA : Jumlah testee pada kelompok atas
JSB : Jumlah testee pada kelompok bawah Jika testee mengabaikan semua option disebut omit (
DAFTAR PUSTAKA
Erman Suherman, M.Pd ; Evaluasi Pendidikan Matematika, Wijayakusumah, Bandung;1990
Suharsini Arikunto, DR : Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Yogyakarta;1997
Anas Sudijono, Drs,Prof : Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta;1998