• Tidak ada hasil yang ditemukan

URGENSI SERTIFIKASI DOSEN DAN PUBLIKASI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "URGENSI SERTIFIKASI DOSEN DAN PUBLIKASI (1)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

URGENSI SERTIFIKASI DOSEN DAN PUBLIKASI DALAM

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN TINGGI

BERKELANJUTAN

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok

Mata Kuliah Kapita Selekta Manajemen Pendidikan Tinggi

diampu oleh

Prof. Dr. Nahrowi

Disusun oleh Kelompok 3:

Bayu Koen Anggoro

P056163283.22EK

Jeaneke Neltje Tapilatu

P056163353.22EK

Mhd. Hendra Wibowo

P056163373.22EK

R. Khairunnisa

P056163403.22EK

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN TINGGI

SEKOLAH BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam pertimbangan UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dinyatakan bahwa pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang berkelanjutan. Untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang, diperlukan pendidikan tinggi berkualitas yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menghasilkan intelektual, ilmuwan, dan/atau profesional yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, dan berakhlak mulia serta berani membela kebenaran untuk kepentingan bangsa.

Untuk mendukung program-program pendidikan, pada tahun 2016 pemerintah telah mencetak sejarah dimana anggaran pendidikan Indonesia pada APBN 2016 mencapai Rp 419,2 triliun atau 20 persen dari total belanja negara sebesar Rp 2.095,7 triliun. Anggaran pendidikan tersebut dikucurkan melalui belanja negara pemerintah pusat untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Rp 49,2 triliun, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Rp 39,5 triliun, Kementerian Agama Rp 46,8 triliun, Kementerian Negara dan lembaga lainnya Rp 10,7 trilun. Kemudian anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah dan dana desa mendapat kucuran sebesar Rp 267,9 triliun dan anggaran pendidikan melalui pengeluaran Pembiayaan sebesar Rp 5 triliun. Anggaran sebesar itu harus dapat dimanfaatkan secara optimal oleh unsur-unsur pendidikan tinggi dalam meningkatkan daya saingnya di tingkat global (Wicaksono, 2015).

Globalisasi dan implementasi berbagai pakta perdagangan bebas seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) juga berdampak pada PT agar mampu bersaing secara global. Arah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia menuju daya saing global terlihat dari visi yang telah ditetapkan oleh berbagai PT baik Perguruan Tinggi negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), meskipun dengan istilah yang berbeda-beda, misalnya dengan istilah “Unggul pada Tingkat Global”, “Diakui Dunia”, “Berkelas Dunia”, “Berstandar Internasional”, “World Class University”, dan lain-lain.

Globalisasi menuntut setiap orang (Sumber Daya Manusia / SDM) dalam organisasi PT dipergunakan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan mendukung produktivitas PT. SDM yang kurang produktif akan tertinggal oleh situasi yang menuntut persaingan yang semakin ketat, global, dan berkinerja tinggi. Stanciu (2015) mengemukakan bahwa SDM merupakan sumber daya yang paling berharga yang tidak dapat diukur dengan uang dimana organisasi tidak bisa berjalan tanpa SDM dan kinerja organisasi sangat bergantung pada kinerja SDM-nya.

(3)

37 Tahun 2009 Tentang Dosen, dan Peraturan Mendiknas No. 47 Tahun 2009 Tentang Sertifikasi Pendidik untuk Dosen, penilaian terhadap keprofesionalan dosen ditunjukan dengan sertifikasi dosen (serdos). Serdos merupakan bukti dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan tinggi nasional dan memberikan pengakuan resmi pada tenaga pendidik tinggi yang profesional.

Terkait dengan daya saing publikasi internasional, posisi Indonesia masih kalah bersaing dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN dan Asia. Berdasarkan data dari The SCImago Journal & Country Rank yang diakses tanggal 19 Mei 2016, Indonesia berada pada urutan ke-11 di tingkat Asia, di bawah Singapore (7), Malaysia (8), Thailand (9), dan Pakistan (10). Di tingkat Dunia, berdasarkan data The SCImago Journal & Country Rank tersebut Indonesia berada diperingkat ke-57. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh data Scopus, dimana jumlah publikasi Indonesia tahun 2015 hanya mencapai 6.819 artikel, dibawah jumlah publikasi Malaysia (24.606 artikel), Singapore (18.575 artikel), dan Thailand (11.911 artikel).

Berdasarkan penjelasan di atas, pendidikan tinggi Indonesia harus berupaya lebih keras untuk meningkatkan kinerjanya. Dosen dengan sistem sertifikasinya harus mendukung pencapaian kinerja perguruan tinggi dan pendidikan tinggi Indonesia agar berdaya saing global. Peningkatan produktivitas dosen dalam menghasilkan publikasi internasional menjadi salah satu faktor yang mendukung pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan yang mampu bersaing secara global.

1.2 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menganalisis peran dan dampak sertifikasi dosen dan publikasi ilmiah terhadap pengembangan pendidikan tinggi yang berkelanjutan agar mampu bersaing secara global.

1.3 Ruang Lingkup

Makalah ini disusun berdasarkan kajian pustaka (literature study) yang diambil dari berbagai sumber, antara lain buku, jurnal, artikel serta olahan data dari internet, dan lain-lain. Adapun ruang lingkup yang dikaji dalam makalah ini adalah:

- peran dan dampak sertifikasi dosen terhadap pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan (sebelum dan setelah kebijakan diterapkan), dan

- peran dan dampak publikasi ilmiah terhadap pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sertifikasi Dosen

Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (PP No. 37 Tahun 2009 Tentang Dosen). Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(4)

prinsip sebagai berikut: (1) Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; (2) Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3) Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; (4) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; (6) Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; dan (6) Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Dalam rangka menjalankan tugas keprofesionalannya tersebut dosen diwajibkan mempunyai sertifikat profesi pendidik. Program sertifikasi profesi pendidik dalam hal ini sertifikasi dosen atau serdos merupakan upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, dan memperbaiki kesejahteraan dosen, dengan mendorong dosen secara berkelanjutan meningkatkan profesionalismenya. Sertifikat pendidik yang diberikan kepada dosen melalui proses sertifikasi adalah bukti formal pengakuan pemerintah dan masyarakat terhadap dosen sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi.

Serdos merupakan program yang dijalankan berdasar UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP No. 37 Tahun 2009 Tentang Dosen dan Peraturan Mendiknas No. 47 Tahun 2009 Tentang Sertifikasi Pendidik untuk Dosen. Proses penilaian akhir portofolio dilakukan oleh asesor, yang diusulkan oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi dosen setelah mengikuti pembekalan sertifikasi, dan mendapatkan pengesahan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Dosen harus memiliki kualifikasi akademik yang diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian, minimum kualifikasi seperti berikut ini. (1) Lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana, (2) Lulusan program doktor untuk program pascasarjana. Kemudian Serdos, diberikan setelah memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada perguruan tinggi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun; (2) Memiliki jabatan akademik sekurang-sekurang-kurangnya asisten ahli; dan (3) Lulus sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi terakreditasi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Pemerintah RI.

Untuk mendapat pengakukan sebagai dosen profesional, maka dosen tersebut harus melalui uji kompetensi yang dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio, yang merupakan penilaian pengalaman akademik dan profesional. Penilaian portofolio dosen dilakukan untuk menentukan pengakuan atas kemampuan profesional dosen, dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan: (1) Kualifikasi akademik dan unjuk kerja tridharma perguruan tinggi; (2) Persepsi dari atasan, sejawat, mahasiswa dan diri sendiri tentang kepemilikan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian; dan (3) Pernyataan diri tentang kontribusi dosen yang bersangkutan dalam pelaksanaan dan pengembangan tridharma perguruan tinggi.

2.2 Publikasi Ilmiah

(5)

jurnal dan publikasi berseri merupakan kumpulan makalah dengan subjek yang sama atau publikasi yang disajikan pada konferensi atau pertemuan yang sama (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php, diakses 23 Mei 2016).

Publikasi ilmiah adalah sistem publikasi yang dilakukan berdasarkan peer review dalam rangka untuk mencapai tingkat obyektivitas setinggi mungkin (https://id.wikipedia.org/wiki/Publikasi_ilmiah, diakses 23 Mei 2016). Waseso di dalam Suaedi (2015) menyebutkan bahwa publikasi ilmiah dapat dimaknai sebagai upaya untuk menyebarluaskan suatu karya pemikiran seseoarang atau sekelompok orang dalam bentuk laporan penelitian, makalah, buku atau artikel. Selanjutnya Anshori di dalam Suaedi (2015) menyatakan bahwa publikasi ilmiah adalah salah satu upaya agar karya ilmiah yang telah dibuat dapat dibaca oleh orang lain. Menurut Day (1998), tujuan penelitian ilmiah adalah publikasi. Sebuah karya ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang menggambarkan hasil penelitian.

Publikasi ilmiah bagi dosen merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi sebagai pemegang jabatan fungsional atau jabatan akademik. Pasal 12 (3) UU No 12/2012 menyatakan bahwa dosen secara perseorangan atau berkelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks, yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi dan/atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar dan untuk pengembangan budaya akademik serta pembudayaan kegiatan baca tulis bagi Sivitas Akademika. Lebih lanjut disampaikan dalam Pasal 46 (2) UU No 12/2012 dan Pasal 44 (5) Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 tahun 2015 bahwa hasil hasil penelitian yang tidak bersifat rahasia, tidak mengganggu dan/atau tidak membahayakan kepentingan umum atau nasional wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan, dipatenkan, dan/atau cara lain yang dapat digunakan untuk menyampaikan hasil penelitian kepada masyarakat. Dipublikasikan artinya bahwa hasil Penelitian dimuat dalam jurnal ilmiah yang terakreditasi dan/atau buku yang telah diterbitkan oleh Perguruan Tinggi atau penerbit lainnya dan memiliki International Standard Book Number (ISBN). Hal tersebut dipertegas kembali oleh Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Nomor 17 Tahun 2013 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 92 Tahun 2014 mengatur kenaikan jenjang jabatan akademik dosen mewajibkan untuk publikasi pada jurnal ilmiah nasional terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi di bidangnya. Kebijakan ini mendorong dosen agar lebih produktif dalam menghasilkan publikasi ilmiah, sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tingkat dunia dalam hal publikasi.

III. PEMBAHASAN

(6)

satu luarannya adalah publikasi ilmiah. Berikut diuraikan urgensi atau pentingnya sertifikasi dosen dan publikasi ilmiah dalam pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan.

3.1 Sertifikasi Dosen dalam Pengembangan Pendidikan Tinggi Berkelanjutan

Memasuki era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy), sektor pendidikan dipandang sebagai suatu sektor strategis dalam pembangunan dewasa ini. Kualitas pendidikan dan kemampuan menguasi ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan suatu negara. Setelah bergulirnya era reformasi tahun 1998, tuntutan penyelenggaraan pelayanan pendidikan yang berazaskan “good governance” semakin menguat. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional telah menyusun strategi Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPT-JP) III 1995-2005 dan selanjutnya dikembangkan menjadi Strategi Perguruan Tinggi Jangka Panjang (SPT-JP atau HELTS (Higher Education Long Term Strategy) 2003-2010 (Depdiknas, Ditjen DIKTI 2004a, 2004b). Pengembangan SDM menjadi salah satu bagian penting dari HELTS 2003-2010. Beberapa tantangan dalam pengembangan SDM Perguruan Tinggi di Indonesia terkait dengan kuantitas, kualitas, dan kinerjanya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa di Indonesia menghadapi isu ketidakmerataan jumlah dan kualifikasi SDM baik antar wilayah, maupun bidang ilmu (Kartiwa, 2006). Tabel 1 memperlihatkan profil sebaran SDM Perguruan Tinggi di Indonesia.

Tabel 1 Profil tenaga pendidik

Indonesia berdasarkan jenjang pendidikan

XWilayah

Jenjang Pendidikan

D3 D4 S1 S2 S3 Sp1 Sp2 Profesi Tanpa Jenjang

Jawa dan Bali 295 1.627 20.332 84.199 18.500 1.334 219 512 9.642

Sumatera 276 1.227 12.950 34.891 4.439 603 92 444 4.214

Kalimantan 32 234 2.492 8.168 1.171 46 5 65 867

Sulawesi 40 268 6.428 15.480 3.400 117 27 277 2.158

Nusa Tenggara,

Maluku, dan Papua 22 183 4.196 10.046 1.063 45 8 86 1.223

Sumber: diolah dari http://forlap.ristekdikti.go.id/dosen/homegraphjenjang, diakses 7 Juni 2016

(7)

perguruan tinggi dapat berjalan dengan baik. Oleh karenanya wacana sertifikasi tenaga pengajar atau sertifikasi dosen sudah menjadi sangat penting.

Sertifikasi dan kompetensi dosen menjadi penting karena terkait dengan kesiapan dosen dalam mendidik mahasiswa. Sertifikasi menjadi slah satu bentuk jaminan mutu kompetensi seseorang yang seharusnya menjadi tanggungjawab organisasi profesi (Ditjen Dikti 2004b: 26). Sertifikasi diberikan kepada seseorang sebagai pengakuan atas keahlian atau keterampilan tertentu yang biasanya diberikan oleh asosiasi profesi tertentu dan merupakan lisensi untuk melakukan pekerjaan pada bidang yang spesifik. Sertifikasi terdiri dari berbagai tingkatan, mulai dari tingkat dasar (basic) sampai tinggi (advance). Sertifikasi menjadi alat yang memberikan jaminan pada publik yang menunjukkan kualifikasi tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya sesuai dengan standar nasional.

Kompetensi dosen perguruan tinggi menjadi penting mengingat sejauh ini belum ada mekanisme dan format yang pasti yang mampu memberikan gambaran bagaimana kualifikasi seorang dosen dapat dinilai, diklasifikasi dan dipertanggungjawabkan. Hal ini tentu saja tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada tenaga pengajar, karena pemerintah sendiri belum mempunyai format yang pasti mengenai bagaimana standarisasi dan sertifikasi dosen dilakukan.

Dosen yang tidak dapat memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam PP No. 37 Tahun 2009 dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak berlakunya UU No. 14 Tahun 2005 akan dikenai sanksi oleh Pemerintah melalui penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan masyarakat berupa: (a) dialihtugaskan pada pekerjaan tenaga kependidikan yang tidak mempersyaratkan kualifikasi dan kompetensi dosen; (b) diberhentikan tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional, dan tunjangan khususnya; atau (c) diberhentikan dari jabatan sebagai dosen.

Setelah batas waktu sertifikasi dosen (serdos) berakhir, mulai tahun 2016 ini para dosen yang belum menempuh sertifikasi atau yang tidak memiliki jabatan fungsional akademik sebagai tenaga pengajar, maka bukan termasuk dosen. Keputusan tersebut masih menjadi masalah karena banyak perguruan tinggi yang kemudian terkendala dikarenakan keputusan Serdos. Sampai saat ini, keputusan mengenai serdos masih menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi Kemenristekdikti.

Seperti dijelaskan di atas, pada awal tahun 2016 idealnya seluruh dosen di tanah air sudah harus bersertifikat atau sudah lulus serdos. Namun demikian dari 222.191 dosen tetap yang tercatat di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT) sebanyak 136.898 orang atau 61,61% belum bersertifikat. Salah satu kendalanya adalah sekitar 40.837 dosen belum berkualifikasi S2, bahkan sebagian dosen tidak diketahui jenjang pendidikannya (http://forlap.ristekdikti.go.id/ dosen/homerekapserdos, diakses 7 Juni 2016). Di lain pihak kemampuan pemerintah dalam memberikan beasiswa hanya 3.700 orang per tahun.

Terdapat tiga isu penting mengapa sertifikasi dosen tersebut menjadi urgent atau sangat mendesak dilaksanakan atau lebih tepatnya harus segera diselesaikan yakni: 1. Batas waktu target UU No. 14 Tahun 2005 kemudian di perjelas dengan PP No. 37

(8)

2. Penetapan target rencana strategis Kemenristekdikti Tahun 2015-2019 yang menjadikan peningkatan mutu dan daya saing global sebagai indikator utama keberhasilan perguruan tinggi yang sebelumnya menjadi prioritas ke tiga; dan 3. Masih banyaknya ketidaklulusan dosen dalam mengikuti serdos yakni sebanyak

47,17% (11.148 orang lulus dan 5.259 orang tidak lulus) pada periode tahun 2015 dikarenakan: (a) ditemukan kemiripan isian narasi Deskripsi Diri (DD) dengan yang disusun oleh Dosen yang Bersangkutan (DYS); (b) tidak ditemukan bukti karya ilmiah yang dipublikasikan pada isian DD; dan (c) terdapatnya dokumen pekerti/applied approach (AA) yang tidak sah / palsu.

Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan beberapa upaya untuk meningkatkan kompetensi dosen melalui sertifikasi dosen agar minimal berstandar nasional. Menurut Kartiwa (2006) beberapa alternatif yang dapat dilakukan diantaranya yaitu:

 mendirikan lembaga penyelenggara penjaminan kompetensi dan sertifikasi tenaga pengajar yang berbasis keilmuan pada level fakultas,

 dalam upaya menjamin transparansi dan akuntabilitas, lembaga sertifikasi didirikan dalam bentuk konsorsium perguruan tinggi dengan bidang keilmuan yang sama dengan standar, mekanisme, dan pola keanggotaan yang ketat,

 lembaga tersebut akan menentukan standar kompetensi yang harus dimiliki dosen sesuai bidang ilmunya serta melakukan fungsi pengawasan dan evaluasi secara reguler,

 lembaga tersebut menjalankan fungsi-fungsi strategis dalam penjaminan sertifikasi dosen, seperti pelatihan, pengembangan strategi pembelajaran, penelitian, dan lain-lain yang mengarah pada terbentuknya sistem sertifikasi yang akuntabel, dan

 untuk memenuhi standar nasional dan internasional, lembaga tersebut diharapkan mampu melakukan kerjasama (networking) dengan lembaga-lembaga profesi yang diakui oleh pengguna jasa.

Pada kenyataannya upaya yang disarankan oleh Kartiwa tersebut tidaklah mudah dilaksanakan karena masih banyak dosen berkualifikasi sarjana. Selama ketentuan sertifikasi dosen mengacu pada Peraturan Mendiknas No. 47 Tahun 2009 yang mengharuskan dosen memiliki kualifikasi minimal magister dan tidak ada peraturan tantang konversi keahlian/kepakaran dosen pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang memenuhi kualifikasi setara magister tentu saja target sertifikasi tersebut sangat sulit terpenuhi. Pemerintah harus berani merumahkan dan mealihtugaskan dosen ke pekerjaan non-pendidik karena yang berhak mengajar hanya dosen yang bersertifikat pendidik (UU No.14 Tahun 2005).

3.2 Publikasi Ilmiah dalam Pengembangan Pendidikan Tinggi Berkelanjutan

(9)

PTN Indonesia cenderung meningkat, kecuali ITB yang mengalami penurunan cukup signifikan pada tahun 2015.

Kondisi publikasi ilmiah yang diperlihatkan pada Tabel 2 serta Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa daya saing bangsa Indonesia di tingkat regional dan dunia dari aspek penelitian masih tertinggal. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan (2016) yang menyadari bahwa jumlah publikasi internasional yang dihasilkan oleh akademisi Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain, bahkan dengan sejumlah negara ASEAN. Oleh karenanya perlu dilakukan perbaikan mutu penelitian agar dapat mewujudkan negara yang bermutu dan berwibawa, yang salah satu indikator utamanya adalah publikasi internasional para

1 China 3.617.355 495 1 USA 8.626.193 1648

2 Japan 2.074.872 745 2 China 3.617.355 495

3 India 998.544 383 3 UK 2.397.817 1015

4 South Korea 739.229 424 4 Germany 2.176.860 887

5 Taiwan 491.560 331 9 India 998.544 383

6 Hong Kong 200.580 359 15 Brazil 598.234 379

7 Singapore 192.942 349 32 Singapore 192.942 349

8 Malaysia 153.378 165 36 Malaysia 153.378 165

9 Thailand 109.832 213 43 Thailand 109.832 213

10 Pakistan 81.612 148 56 Morocco 35.962 117

11 Indonesia 32.355 140 57 Indonesia 32.355 140

Sumber: http://www.scimagojr.com/, diakses 19 Mei 2016

(10)

1 9 Me i 2 0 1 6

Gambar 2. Perkembangan publikasi terindeks Scopus lima PTN di Indonesia

Pemeringkatan dan akreditasi PT telah memasukkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator atau kriteria yang dinilai. Di tingkat dunia, pemeringkatan PT berdasarkan QS World University Rankings menjadikan sitasi per dosen sebagai salah satu kriteria yang dinilai dengan bobot 20%, yang datanya diperoleh dari database Scopus. Di tingkat regional, sebagai contoh adalah akreditasi ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA) yang memasukkan luaran penelitian berupa publikasi, kekayaan intelektual dan komersialisasi sebagai salah satu kriteria untuk kategori penelitian. Di tingkat nasional, salah satu elemen penilaian standar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam Akreditasi Institusi PT adalah publikasi hasil-hasil penelitian, yaitu publikasi dalam jurnal yang memiliki reputasi dan prosiding ilmiah internasional, publikasi dalam jurnal dan prosiding ilmiah nasional terakreditasi, dan jumlah dosen yang menulis buku ajar, yang masing-masing berbobot 1,06%.

Menurut Zhou (2013), produktivitas publikasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pemasukan basis data, evaluasi kebijakan, serta investasi penelitian dan pengembangan serta jumlah peneliti. Lebih lanjut Zhou (2013) menyampaikan dua faktor yang mungkin akan memperlambat pertumbuhan publikasi internasional, yaitu pertumbuhan kerjasama internasional dan peningkatan jumlah peneliti yang mampu menerbitkan publikasi internasional.

(11)

sebagai calon asesor akreditasi terbitan berkala ilmiah; bantuan internasionalisasi jurnal; insentif artikel jurnal internasional; serta melanggan dan menyediakan referensi ilmiah bagi dosen peneliti.

Ketentuan tentang sertifikasi dosen berpengaruh nyata terhadap produktivitas dosen dalam menghasilkan karya ilmiah dan penelitian, walaupun kontribusi pengaruhnya dinilai masih sangat rendah. Sertifikasi mempunyai hubungan yang searah terhadap produktivitas dosen dalam menghasilkan karya ilmiah dan penelitian. Hubungan tersebut mengartikan, dengan adanya sertifikasi yang diberikan kepada dosen yang sudah disertifikasi, dapat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dosen dalam menghasilkan karya ilmiah dan penelitian (Muhradi, 2011).

Dorongan untuk melakukan publikasi ilmiah juga disampaikan melalui surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 yang mewajibkan publikasi bagi lulusan S1, S2, dan S3. Surat edaran tersebut ditanggapi beragam oleh PT, sebagai contoh IPB dan ITB menanggapinya dengan mewajibkan lulusan S2 dan S3 untuk publikasi. Sebelum edaran tersebut, IPB juga telah mengatur ketentuan tentang publikasi yang dihasilkan dari kegiatan penelitian melalui SK Rektor IPB No. 03/I3/PL/2010 sebagai berikut:

a. Dana penelitian per tahun < Rp 50 juta: 1 (satu) artikel dalam jurnal nasional, dan/atau 2 (dua) artikel/sub bab dalam buku/prosiding;

b. Dana penelitian per tahun > Rp 50 juta < Rp. 100 juta : 1 (satu) artikel dalam jurnal internasional, dan/atau 2 (dua) artikel dalam jurnal nasional, dan/atau 4 (empat) artikel/sub bab dalam buku/prosiding;

c. Dana penelitian per tahun > Rp 100 juta: 1 (satu) artikel dalam jurnal internasional, 1 (satu) artikel dalam jurnal nasional, dan/atau 2 (dua) artikel/sub bab dalam buku/prosiding.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bagaimana pentingnya publikasi ilmiah yang tidak hanya berperan dan berdampak terhadap pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan, tetapi lebih jauh dari hal itu adalah meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tingkat dunia (global). Selain itu, terdapat manfaat lain dari budaya yang dibentuk melalui publikasi karya ilmiah, yaitu: 1) budaya baca, 2) budaya tulis, 3) budaya jujur (tidak plagiat), 4) budaya berbagi, 5) budaya menghargai orang lain, dan 6) budaya analitis. Manfaat publikasi ilmiah dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu 1) bagi mahasiswa agar mampu membaca dan menulis karya ilmiah (analitis)serta mengenali jurnal ilmiah untuk mencari rujukan; 2) bagi dosen akan memudahkan tanggung jawab terhadap keaslian karya bimbingannya dan pemenuhan angka kredit; 3) bagi PT untuk menyemarakkan kehidupan kampus dan meningkatkan reputasi PT; dan

4) bagi negara untuk meningkatkan reputasi negara

(http://luk.staff.ugm.ac.id/acu/Karya IlmiahDikti.pptx, diakses 23 Mei 2016).

IV KESIMPULAN

(12)

Banyaknya dosen yang tidak lolos serdos dikarenakan tidak ditemukannya publikasi ilmiah dan ditemukannya pemalsuan sertifikat applied approach menunjukan ketidak-pedulian DYS akan misi yang diembannya sebagai pendidik yang sebaiknya direspon cepat pemerintah untuk menyelamatkan dunia pendidikan nasional.

Kondisi publikasi internasional Indonesia memperlihatkan bahwa daya saing bangsa Indonesia di tingkat regional dan dunia dari aspek penelitian masih tertinggal. Publikasi menjadi salah satu kriteria yang dinilai dalam pemeringkatan dan akreditasi PT baik di tingkat nasional maupun internasional. Publikasi ilmiah tidak hanya berperan dan berdampak terhadap pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan, tetapi lebih dari hal itu adalah memperlihatkan kualitas penelitian dan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tingkat dunia (global).

Pemberlakuan ketentuan sertifikasi dosen berpengaruh nyata terhadap produktivitas dosen dalam menghasilkan karya ilmiah dan penelitian. Dosen yang sudah bersertifikasi akan meningkatkan produktivitasnya dalam menghasilkan karya ilmiah dan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA). [internet]. [diacu 2016 Juni 02].

Tersedia dari http://www.aunsec.org/pdf/aunwebsite/01_AUNQAGuidelineManual. pdf.

Day RA. 1998. How to Write & Publish a Scientific Paper. 5th edition. Oryx Press, Phoenix.

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2004a. Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi 2003-2010 (HELTS): Menuju Sinerji Kebijakan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2004b. Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi 2003-2010 (HELTS): Mewujudkan Perguruan Tinggi Berkualitas.

Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan-Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. 2016. Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi Edisi X.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2016. [internet]. [diacu 2016 Mei 23]. Tersedia dari http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php.

Kartiwa A. 2006. Urgensi Kompetensi dan Sertifikasi Keahlian dalam Pengelolaan Perguruan Tinggi. [internet]. [diacu 2016 Mei 23]. Tersedia dari http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/05/kompetensi_dan_sertifikasi_ke ahlian_ dalam_pengelolaan_perg.pdf.

Kartiwa, A, 2006. Urgensi Kompetensi dan Sertifikasi Keahlian dalam Pengelolaan Perguruan Tinggi, Prosiding Seminar Temu Dekan Fakultas Ilmu Sosial Politik dan Ilmu Administrasi Se Indonesia, 2006 Semarang.

Kebijakan Publikasi Karya Ilmiah Bagi Mahasiswa. [internet]. [diacu 2016 Mei 23]. Tersedia dari http://luk.staff.ugm.ac.id/acu/KaryaIlmiahDikti.pptx.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. [internet]. [diacu 2016 Juni 7]. Tersedia dari http://forlap.ristekdikti.go.id/.

Muhardi. Nurcahyono, Arinto. 2011. Pengaruh Tunjangan Sertifikasi terhadap

Produktivitas Dosen dalam Menghasilkan Karya Ilmiah dan Penelitian. Prosiding

(13)

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 47 Tahun 2009 Tentang Sertifikasi Pendidik untuk Dosen.

Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Tahun 2015-2019.

Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 Tentang Dosen.

QS World University Rankings: Methodology. [internet]. [diacu 2016 Juni 02]. Tersedia dari

http://www.topuniversities.com/university-rankings-articles/world-university-rankings /qs-world-university-http://www.topuniversities.com/university-rankings-articles/world-university-rankings-methodology.

SCImago Journal & Country Rank. 2016. Country Rankings 1996-2014. [internet]. [diacu 2016 Mei 19]. Tersedia dari http://www.scimagojr.com/countryrank.php.

Scopus. 2016. [internet]. [diacu 2016 Mei 19]. Tersedia dari https://www.scopus.com/. Stanciu RD. 2015. Performance Management – A Strategic Tool. FAIMA Business &

Management Journal. 3(2): 5-12.

Suaedi. 2016. Penulisan Ilmiah. Penerbit IPB Press, Bogor.

Surat Keputusan Rektor IPB Nomor 03/I3/PL/2010 tentang Diseminasi Hasil Penelitian dan Keterlibatan Mahasiswa dalam Penelitian yang Tidak Berpotensi Menghasilkan Paten di Lingkungan IPB.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.

Undang-Undang Nomor Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Wicaksono PE. 2015. Anggaran Pendidikan di APBN 2016 Cetak Sejarah. [internet]. [diacu 2016 Juni 03]. Tersedia dari http://bisnis.liputan6.com/read/2356557/anggaran-pendi-dikan -di-apbn-2016-cetak-sejarah.

Wikipedia. 2016. [internet]. [diacu 2016 Mei 23]. Tersedia dari https://id.wikipedia.org/ wiki/Publikasi_ilmiah.

Gambar

Tabel 1 Profil
Tabel 2 Peringkat publikasi Indonesia di tingkat Asia dan Dunia berdasarkan TheSCImago Journal & Country Rank (1996-2014)
Gambar 2. Perkembangan publikasi terindeks Scopus lima PTN di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Dari uraian yang sederhana ini jelas terlihat bahwa institusi yang sangat berperan dalam mewujudkan pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik bukan hanya Pernerintah (sebagai

yang tentunya akan berdampak pada mutu lulusan serta dapat meningkatkan citra perguruan tinggi swastanya tersebut. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan

Untuk bahasan KLHS dalam RPIJM ini hanya sampai pada tahap identifikasi KRP yang diperkirakan akan berdampak atau berpengaruh pada pembangunan berkelanjutan, mengingat

Bahwa untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi karya ilmiah Mahasiswa dan Dosen baik skala nasional dan internasional sebagai upaya dalam mengembangkan ilmu

Ketiga, publikasi ilmiah pustakawan berkontribusi dalam pengembangan karir jabatan fungsional pustakawan, karena dalam Permenpan-RB Nomor 9 Tahun 2014, kegiatan penulisan

Publikasi karya ilmiah pada jurnal internasional dan jurnal nasional terakreditasi yang diberikan insentif adalah karya ilmiah yang dipublikasikan oleh dosen Polinema dan

Kemudian dengan adanya pelatihan penulisan karya ilmiah bagi guru-guru dapat meningkatkan publikasi imiah bagi guru-guru tersebut.Kegiatan ini dapat membantu peserta guru dalam

Kegiatan pelatihan pengembangan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi TI dan publikasi karya tulis ilmiah bagi guru di SMKN 7 Malang memberikan peningkatan pemahaman pada tata