PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA PADA NOVEL PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM
Oleh:
Adhitya Tri Hari Pamuji
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Kota Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia
Abstrak : Novel adalah salah satu bentuk karya sastra. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan dan mempunyai unsur instrinsik dan ekstrinsik. Novel “Para Priyayi” merupakan novel yang ditulis oleh Umar Kayam seorang sastrawan yang lahir di Ngawi, Jawa Timur, pada tanggal 30 April 1932. Umar Kayam sekarang berprofesi sebagai Guru Besar pada Fakultas Sastra
Universitas Gadjah Mada. Selain itu, beliau menjadi anggota Akademi Jakarta dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Umar Kayam mendapat gelar doktor dari Cornell University, Ithaca, pada tahun 1932. Dalam novel “Para Priyayi” ini Umar Kayam menceritakan kisah hidup seorang priyayi yang berasal dari keluarga petani, yaitu Satrodarsono. Berkat dorongan dari Asisten Wedana Ndoro Seten, dia bisa mengenyam pendidikan bahkan menjadi seorang guru. Dari sinilah akhirnya Sastrodarsono tumbuh menjadi seorang priyayi. Hingga pada akhirnya Sastrodarsono menikah dengan seorang wanita bernama Siti Aisyah, kemudian mempunyai ia memiliki tiga orang anak dan memiliki cucu. Anak-anak dan cucu Sastrodarsono tumbuh di zaman mereka dan tumbuh menjadi seseorang yang anak kelas birokrat yang manja dan tidak mampu menjadi priyayi yang baik seperti yang diharapkan Sastrodarsono. Pada suatu hari Sastrodarsono
mengangkat Wage anak jadah dari keponakan jauh Sastrodarsono. Wage
kemudian diganti namanya menjadi Lantip oleh keluarga Sastodarsono. Nama itu dipilih oleh keluarga Sastrodarsno dengan harapan agar kelak Lantip menjadi seorang anak yang cerdas. Keluarga Sastrodarsono mampu mendidik Lantip, sehingga Lantip dapat tumbuh besar menjadi anak yang sesuai harapan Sastrodarsono. Lantip tumbuh sebagai anak yang baik, penurut, cerdas,
Kata Kunci : Novel, Umar Kayam, Para Priyayi, priyayi, Sastrodarsono, Lantip
SINOPSIS
Wanagalih merupakan sebuah kota kecil yang menjadi ibukota kabupaten di Madiun. Kota ini berada diantara Sungai Bengawan Solo dan Sungai Ketangga. Di sana hiduplah seorang petani kecil bernama Atmokasan. Atmokasan memiliki seorang anak yang bernama Soedarsono. Atmokasan kemudian menitipkan anaknya kepada seorang priyayi Wanagalih bernama Ndoro Seten. Atmokasan berharap agar kelak Soedarsono bisa menjadi seorang priyayi seperti Ndoro Seten. Ketika Soedarsono menjadi bagian dari keluarga Ndoro Seten namanya pun diganti dengan nama Sastrodarsono. Soedarsono pun akhirnya disekolahkan dan dididik oleh Ndoro Seten hingga pada akhirnya Soedarsono mempunyai pekerjaan yang menetap yaitu sebagai seorang guru.
Hingga pada akhirnya Sastrodrsono menikah dengan seorang gadis bernama Siti Aisyah yang biasa dipanggil Ngaisyah, seorang anak dari mantri penjual candu asal Jogorogo. Dari pernikahannya Sastrodarsono mempunyai tiga orang anak. Anak yang pertama bernama Noegroho yang tinggal di Yogya sebagai guru HIS, seklah dasar untuk anak-anak priyayi, yang kedua Hardojo yang memilih menjadi abdi dalem Mangkunegaran di Solo, dan anak yang ketiga Soemini yang menikah dengan seorang asisten wedana di Karangelo yang kemudian tinggal di Jakarta.
Sastrodarsono juga mengangkat beberapa anak dari keluarganya seperti Soenandar, Ngadiman, Sri, dan Darmin. Dari empat anak yang diasuhnya, Soenandar menjadi anak yang paling nakal dan susah diatur. Ketika masih sekolah, Soenandar sering membuat ulah bahkan sering mengambil uang saku temannya. Hingga pada suatu saat Soenandar dikeluarkan dari sekolah dan diminta oleh Sastrodarsono untuk mengawasi sekolah yang didirikan
Namun semua itu tidak membuat perilaku Soenandar berubah. Soenandar menghamili seorang gadis bernama Ngadiyem anak seorang janda bernama Mbok Soemo, dan fatalnya lagi Soenandar tidak bertanggung jawab. Soenandar kabur dari Wanalawas dan bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Semin Genjik. Ketika dicari oleh keluarga, Soenandar diketahui telah meninggal terbakar bersama dengan gerombolan perampok itu.
Mengetahui hal itu, Ngadiyem sedih memikirkan siapa yang akan
bertanggung jawab terhadap nasib anaknya. Namun, semua kesedihannya hilang setelah Sastrodarsono mengatakan bahwa ia akan menanggung semua biaya untuk anaknya. Hingga pada suatu hari, Ngadiyem melahirkan seorang anak laki-laki bernama Wage. Setelah berusia 6 tahun, Wage diangkat menjadi anak
Sastrodarsono dan namanya diganti menjadi Lantip. Lantip tumbuh menjadi anak yang cerdas, penurut, dan sangat peduli terhadap sesama. Di usia dewasanya Lantip dapat menjadi anak yang selalu membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh dirinya dan keluarga Sastrodarsono. Ketika suatu hari, Lantip mengetahui bahwa ibunya meninggal karena keracunan jamur dan mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang perampok yang mati terbakar bersama
segerombolan Semin Genjik, Lantip tetap tabah dan sabar menghadapi semuanya. Lantip tidak berputus asa, semua itu dijadikan sebagai motivasi bagi Lantip untuk menatap masa depan yang lebih baik.
Noegroho, anak pertama dari Sastrodarsono menikah dengan seorang gadis bernama Susanti. Dari pernikahannya dengan Soesanti, Noegroho memiliki 3 orang anak. Anak yang pertama bernama Suhartono atau Toni, yang kedua Sri Sumaryati atau Marie, dan anak ketiganya Sutomo atau Tommi. Kehidupan keluarga ini penuh dengan cobaan, pada masa G30S/PKI keluarga ini harus rela kehilangan Toni, anak pertama mereka karena tertembak oleh para anggota PKI. Tak hanya itu, belum lama setelah kepergian Toni keluarga ini juga harus
Penderitaan Marie tak hanya berhenti sampai disitu, setelah diselidiki ternyata Maridjan sudah memiliki seorang istri bernama Suminten. Suminten juga sedang mengandung anak Maridjan. Berkat bantuan Lantip akhirnya semua masalah dapat diselesaikan dengan baik. Maridjan akhirnya menikah dengan Marie cucu dari Sastrodarsono.
Soemini, anak terakhir Sastrodarsono juga mengalami masalah yang sangat berat. Suaminya, Harjono yang berasal dari Wonosari itu teryata
mengkhianati cinta Soemini. Harjono diketahui berpaling dengan seorang penyayi keroncong bernama Sri Asih ketika usia pernikahannya tidak lagi seumur jagung. Hingga pada akhirnya Soemini memutuskan untuk menenangkan dirinya di rumah orang tuanya di Wanagalih. Setelah beberapa lama akhirnya masalah itu dapat dihadapinya, Harjono menyusul Soemini ke Wanagalih bersama dengan anak dan cucu-cucunya dan kembali pulang ke Jakarta sebagai satu keluarga yang utuh.
Masalah tidak hanya dialami oleh Noegroho dan Soemini, Hardojo anak kedua Sastrodarsono juga mengalami masalah yang tidak kalah rumitnya.
Diusianya yang tak lagi muda, Hardojo mengalami gagal menikah dengan seorang gadis bernama Maria Magdalena Sri Moerniati atau biasa dipanggil Nunuk karena perbedaan keyakinan. Hingga pada akhirnya Hardjo menikah dengan mantan siswanya bernama Sumarti. Dari pernikahannya, pasangan Hardojo dan Sumarti hanya dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Harimurti.
Harimurti sangat akrab dengan Lantip, dan karena Hardojo hanya
Pada suatu hari diketahui Gadis hamil mengandung buah hati Harimurti. Namun, ketika mereka berniat untuk menikah mereka dipisahkan karena mereka dianggap sebagai anggota Lekra dan Gerwani. Sehingga mereka dipenjara, Hari ditahan di Yogya dan Gadis pun juga ditahan di Plantungan, Semarang.
Beruntunglah Hari, berkat bantuan Noegroho pakdenya yang pernah menjadi kolonel, ia berhasil dibebaskan menjadi tahanan rumah. Kemudian, Hari meminta agar pakdenya juga membebaskan Gadis calon istrinya yang ditahan di
Plantungan. Namun, Tuhan berkata lain, ketika Gadis berusaha ditemui ternyata Gadis telah meninggal beberapa hari sebelum keluarga Hari menjemputnya. Gadis meninggal ketika melahirkan anak kembar yang dikandungnya.
Ketika masalah datang bertubi-tubi, kesedihan juga menghampiri Sastrodarsono. Istri tercintanya harus pergi meninggalkan Sastrodarsono untuk selama-lamanya. Siti Aisyah meninggal diusia yang tidak lagi muda karena penyakit darah tinggi dan liver. Beberapa hari sejak kepergian Ngaisyah kondisi kesehatan Sastrodarsono semakin memburuk, dan Sastrodarsono pun akhirnya meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya juga Lantip untuk selama-lamanya menyusul Ngaisyah.
Pada saat upacara penguburan jenazah Sastrodarsono, Lantip calon suami Halimah diminta oleh keluarga Sastrodarsono untuk menyampaikan pidato mewakili keluarga Sastrodarsono. Lantip dianggap paling pantas untuk
menyampaikan pidato dari pada anak-anak atau cucu Sastrodarsono karena Lantip telah membantu keluarga besar Sastrodarsono dalam menghadapi berbagai masalah yang datang.
Pengarang : Umar Kayam Judul novel : Para Priyayi Tahun terbit : 1992
Penerbit : Pustaka Utama Grafiti
Sebuah karya sastra memiliki struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Unsur-unsur karya sastra tersebut membentuk suatu keutuhan, kebulatan dan harmoni. Analisis struktural mengungkapkan hubungan fungsional antar unsur-unsur karya sastra tersebut dalam membangun totalitas makna. Jadi, bukan hanya sekedar memaparkan unsur demi unsur yang terlepas-lepas, karena unsur-unsur tersebut merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh.
1. Tema
Tema dalam novel “Para Priyayi” adalah priyayi yang sesungguhnya adalah orang yang tidak hanya mengutamakan kedudukan atau jabatan melainkan orang yang juga memikirkan kehidupan rakyat kecil.
Tema yang ada dalam novel ini disampaikan oleh pengarang lewat seperngkat tema minor. Tema dalam novel ini termasuk dalam tema sosial.
2. Tokoh dan Penokohan
a. Tokoh Utama : Wage atau Lantip
Tokoh Lantip dalam novel ini memiliki watak yang baik, cerdas, penurut, suka menolong orang lain, terampil, tahu diri, rendah hati, sabar, rajin, taat, ulet, cekatan, dan berbakti kepada orang tua.
Hal ini tergambar lewat cerita, dimana dalam keluarga Sastrodarsono Lantip selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh Sastrodarsono, selalu membantu memecahakan setiap permasalahan yang dihadapi keluarga Sastrodarsono. Watak sabar dan bakti Lantip dapat dibuktikan lewat cerita ketika ia mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang yang memiliki kepribadian tidak baik ia tetap
b. Tokoh Tambahan Utama : Embah Kakung Sastrodarsono (Soedarsono)
Tokoh Embah Kakung atau Sastrodarsono dalam novel ini digambarkan memiliki watak yang setia, berwibawa, baik hati, rajin, dan suka menasehati.
Sastrodarsono sebagai orang yang baik hati dan suka menasihati digambarkan lewat cerita dimana beliau selalu menolong keluarganya yang meminta bantuan kepadanya. Sastrodarsono bahkan kemudian mengasuh beberapa anak
keponakannya seperti Ngadiman, Soenandar, Sri, dan Darmin. Sastroarsono hingga masa tunya selalu menasehati anak-anak dan keluarganya baik secara langsung maupun secara tidak langsung lewat tembang-tembang mocopat.
c. Tokoh Tambahan Tidak Utama :
1) Embah Putri Ngaisyah / Siti Aisyah
Embah Putri Ngaisyah atau Siti Aisyah dalam novel memiliki watak yang murah senyum, setia, pekerja keras, baik hati, sabar, dan menghargai suami.
2) Noegroho
Noegroho sebagai anak pertama dari keluarga Sastrodarsono digambarkan sebagai seseorang yang berwibawa, baik, dan peduli.
3) Hardojo
Hardojo merupakan anak kedua dari Sastrodarsono. Dalam novel Hardojo digambarkan memiliki watak ulet, telaten, pantang menyerah, cerdas, sabar.
4) Soemini
5) Susanti
Susanti atau sering dipanggil Susi oleh ibunya merupakan istri dari Noegroho, yang memiliki watak yang mudah khawatir, sering memanjakan anak, dan pemikir.
6) Harjono Cokrokusumo
Harjono Cokrokusumo merupakan suami dari Soemini. Harjono merupakan seorang yang berwibawa, mudah terpengaruh, tidak setia tetapi tanggung jawab.
7) Mbok Ngadiyem
Mbok Ngadiyem merupakan ibu dari Wage atau Lantip. Mbok Ngadiyem berperan sebagai seseorang yang murah hati, tegas, hemat, sabar, dan telaten.
8) Embah Wedok atau Mbok Soemo
Embah wedok adalah ibu dari Ngadiyem atau nenek dari Lantip. Embah wedok ini digambarkan sebagai seorang yang pendiam dan mudah putus asa.
9) Soenandar
Soenandar dalam novel berperan sebagai ayah kandung Lantip. Berbeda dengan Lantip, Soenandar memiliki watak yang tidak bertanggung jawab, licik, dan jahil.
10) Ngadiman
Dalam novel Ngadiman digambarkan memiliki watak yang pemalu, penakut, penurut, jujur, rajin, dan bertanggung jawab.
Sri dan Darmin dalam novel berperan sebagai kakak dan adik. Kedua anak ini memiliki watak yang baik, rajin sembahyang, dan baik hati. Namun, karena hidup dikalangan priyayi abangan seperti keluarga Sastrodarsono kedua anak ini berubah menjadi anak yang malas untuk melaksanakan sholat lima waktu.
12) Suhartono
Suhartono atau biasa dipanggil Toni adalah anak pertama dari Noegroho. Suhartono tumbuh sebagai anak yang patuh, rajin, dan tahu tata krama. Selain itu, Suhartono merupakan anak yang pemberani.
13) Sri Sumaryati
Sri Sumaryati atau biasa dipanggil Marie merupakan anak kedua dari Noegroho ini memiliki watak sombong, keras kepala, dan pembangkang tetapi ia memiliki watak peduli.
14) Sutomo
Sutomo atau biasa dipanggil Tommi ini merupakan anak bungsu dari Noegroho. Anak ini memiliki watak masa bodoh, dan pilih kasih.
15) Sumarti
Sumarti adalah suami sah dari Hardojo memliki sifat yang keibuan, baik hati, sopan, dan telaten.
16) Harimurti
Harimurti merupakan anak tunggal dari pasangan Hardojo dan Sumarti. Anak ini memiliki watak yang baik, namun labil, dan mudah terpengaruh.
17) Retno Dumilah atau Gadis
18) Halimah
Halimah merupakan calon istri dari Lantip. Halimah dalam novel digambarkan sebagai seorang yang baik, murah hati, dan peduli.
19) Maridjan
Maridjan adalah anak pondok yang berasal dari Gunung Kidul. Anak ini kemudian menjadi suami dari Marie, anak perempuan Noegroho. Maridjan dalam novel berperan sebagai seseorang yang kurang sopan, nakal, namun tanggung jawab.
20) Ndoro Seten
Ndoro Seten adalah seorang priyayi yang menjadikan Sastrodarsono tumbuh menjadi seorang priyayi. Ndoro Seten memiliki watak baik hati, peduli, dan berwibawa.
21) Maria Magdalena Sri Moerniati
Maria ini sering dipanggil atau dik Nunuk. Dia adalah seorang gadis yang beragama Katholik yang pernah menjadi kekasih Harimurti. Anak ini memiliki watak penurut, lapang dada, dan teguh keyakinan.
22) Soeminah
Soeminah merupakan bude dari Harimurti yang tinggal di Solo. Beliau adalah orang yang baik hati, humoris, dan peduli terhadap sesama.
23) Atmokasan
Atmokasan adalah ayah dari Sastrodarsono. Beliau adalah orang yang baik hati dan berwibawa.
Fran adalah keponakan dari Nunuk. Ia memiliki watak yang sinis, dan tidak sopan.
25) Kentus
Kentus adalah adik tiri dari Gadis. Kentus hidup kurang sempurna dari manusia lain, dia memiliki penyakit yang sulit untuk diobati dan mengharuskan Kentus hidup dalam kekurangan. Namun itu tidak menghalangi semangatnya untuk tetap hidup. Kentus tumbuh menjadi anak yang baik, rajin, berkeinginan kuat, dan pantang menyerah.
26) Kang Man, Kang Trimo, Mbok Nem, dan Lik Paerah
Mereka adalah orang-orang yang membantu menyelesaikan pekerjaan keluarga Sastrodarsono. Mereka memiliki watak penurut, sopan, telaten.
27) Martoadmodjo
Pak Martoadmodjo ini adalah mantan kepala sekolah yang kemudian diasingkan dibeberapa tempat karena diketahui menyimpang dari aturan yang berlaku saat itu. Dia diketahui memiliki selir. Beliau memiliki watak yang baik hati, tabah, peduli, dan cerdas.
28) Martokebo
Martokebo adalah seorang blantik yang sangat terkenal di Wanagalih saat itu. Beliau awalnya adalah seorang yang baik hati,ramah. Namun, sejak adanya PKI, ia berubah menjadi seorang yang jahat, dan tidak sopan.
29) Haji Mansur
Beliau adalah salah satu tokoh agama yang sangat terkenal di Wanagalih. Beliau memiliki watak yang agamis, baik hati, berwibawa, dan sopan.
Dokter ini adalah dokter yang sangat baik, memiliki kepedulian terhadap sesama yang tinggi.
31) Pak Dukuh
Pak dukuh dalam novel ini digambarkan sebagai seseorang yang baik hati, peduli, dan bertanggung jawab.
32) Mukarom
Mukarom adalah ayah dari Siti Aisyah. Mukarom adalah sosok yang baik, peduli, dan penyayang.
33) Tuan Sato
Beliau sosok seorang yang jahat,egois, dan tidak sopan.
34) Pak Naryo
Pak Naryo adalah salah satu anggota dari rombongan ketoprak yang juga dimainkan oleh Harimurti. Pak Naryo merupakan sosok seorang yang baik hati, jujur, dan senang berdebat.
35) Suminten
Suminten adalah mantan istri dari Maridjan (suami Marie). Suminten digambarkan sebagai seorang wanita yang baik,tabah, sabar.
36) Kyai Jogosimo
Merupakan sesepuh atau dukun di Wanagalih beliau sangat sakti dan ampuh.
37) Eyang Kusumo Laku Broto
38) Semin Genjik
Semin Genjik adalah pemimpin dari gerombolan perampok yang juga diikuti oleh ayah Lantip, Soenandar. Semin Genjik merupakan orang yang sangat jahat, dan tidak berperikemanusiaan.
39) Keluarga Sumarti dan Keluarga Nunuk
Dalam novel ini kedua keluarga ini adalah keluarga yang baik, peduli, dan penyayang.
40) Ketua Gapermen
Ketua Gapermen adalah seseorang yang sangat sadis, jahat, dan tidak berperikemanusiaan.
41) Mener Soedirdjo
Beliau adalah guru Soenandar ketika masoh bersekolah. Beliau adalah guru yang baik, dan murah hati.
d. Tokoh Protagonis
Dalam novel ini, tokoh protagonis diperankan oleh keluarga
Sastrodarsono, Lantip, Dokter Soedrajad, Pak Haji Mansur, serta Bude Soeminah.
e. Tokoh Antagonis
Tokoh antagonis dalam novel ini diperankan oleh ketua Gapermen, Tuan Sato, Semin Genjik, dan Soenandar.
Tokoh yang memiliki karakter bulat dalam novel ini adalah Harimurti, Martokebo, Maridjan, dan Marie.
g. Tokoh Datar
Tokoh datar dalam novel ini diperankan oleh Lantip, Sastrodarsono, Haji Mansur, Pak Dukuh, dan Bude Soeminah.
3. Setting a. Tempat :
Tempat-tempat yang digunakan dalan novel “Para Priyayi” ini adalah Madiun(Wanagalih, Pasar Wanagalih, Pendapa Kabupaten, Jalan Setenen atau rumah Sastrodarsono, Wanalawas, Karangelo, Karang Dompol, Jogorogo, Kedung Simo, Stasiun Paliyan, Taman Sriwedari), Solo, Yogyakarta (Wonosari Gunung Kidul, Lapangan Maguwo, Jebukan Bantul), Jakarta, serta Plantungan, Semarang.
b. Waktu :
Waktu yang diceritakan pada novel ini adalah sekitar pertengahan abad 19 sampai menjelang G30S/PKI. Peristiwa dalam cerita terjadi pada pagi, siang, sore, dan malam hari.
c. Sosial Budaya
Latar sosial dalam novel ini adalah latar sosial tradisional. Novel ini mengisahkan kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa yang masih sangat peduli akan tata krama, masih meganut adanya kelas-kelas sosial. Menggambarkan kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu mengganti nama seorang anak apabila anak tersebut telah berhasil dan memiki status sosial dalam masyarakat. Selain itu, dalam novel ini diberikan juga kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu
4. Alur
a. Berdasarkan kompleksitasnya, novel “Para Priyayi“ termasuk dalam alur campuran karena peristiwa yang terjadi tidak diceritakan secara runtut mulai dari awal hingga akhir melainkan kadang dari awal hingga akhir namun kadang diceritakan dari akhir ke awal.
b. Berdasarkan akhir ceritanya, novel ini termasuk dalam golongan novel berjenis happy ending karena ceritanya berakhir dengan bahagia. Terbukti dengan cerita dimana Sastrodarsono mampu mendidik seluruh anak cucu bahkan
keponakan-keponakannya hingga menjadi orang yang berhasil. Salah satunya adalah Lantip, anak yang lahir dari keluarga yang hanya berprofesi sebagai penjual tempe bisa berubah menjadi seorang priyayi yang sesungguhnya.
c. Berdasarkan akhir ceritanya juga novel ini termasuk open plot karena tokoh utamanya, Lantip masih hidup sehingga memungkinkan untuk ceritanya bisa diteruskan. Misalkan diteruskan dengan kisah ketika Lantip kemudian mempunyai seorang istri dan mempunyai anak atau dengan cerita lain yang memungkinkan.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama. Penggambaran tokoh dalam novel menggunakan
kataganti orang pertama yaitu “aku”. Pengarang memposisikan dirinya dalam cerita melalui tokoh dalam cerita yaitu Lantip dan Sastrodarsono, terutama pada tokoh Lantip.
SARANA SASTRA 1. Gaya Bahasa
menggunakan beberapa ungkapan-ungkapan yang mengandung majas maupun peribahasa dalam bahasa Jawa.
Contoh ungkapan-ungkapan itu antara lain :
a. Langit tidak akan selamanya mendung (mengandung unsur retorika)
b. Beberapa pepohonan yang dipilih itu tiba-tiba akan meliuk perlahan ke kiri dan kekanan bagaikan ronggeng yang sedang menggerakkan tubuhnya (majas perbandingan personifikasi)
c. Alun-alun itu seakan raksasa gendut yang baik hati yang mengaga mulutnya menelan semua yang lewat di depannya tanpa pilih bulu, tanpa emosi, kemudian sesudah kenyang mulutnnya menutup dan menyungging senyum kembali.(majas perbandingan persionifkasi)
d. Urip iku mung mampir ngombe (peribahasa bahasa jawa)
e. Kecekel iwake, ojo mgamti butek banyune (paribahasa dalam bahasa jawa)
7. Amanat
Amanat yang dapat diambil setelah membaca novel “Para Priyayi” antar lain :
a. Ketika kita telah menjadi seseorang yang berhasil jangan pernah melupakan orang-orang yang telah membantu kita meraih keberhasilan itu.
b. Tidak semena-mena atau memaksakan kehendak kita kepada orang lain.
c. Selalu berusaha untuk memecahkan suatu masalah dengan jalan musyawarah.
d. Selalu menghargai orang lain.
e. Tidak sombong atas kedudukan yang telah kita dapatkan.
g. Tetap sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan Tuhan kepada hambanya karena dibalik cobaan itu pasti ada hikmah yang Tuhan berikan.
h. Selalu berpikir sebelum bertindak
ANALISIS SOSIOLOGI
Sosiologi dalam sastra merupakan gabungan dan sistem pengetahuan yang berbeda. Sosiologi adalah bidang ilmu yang menjadikan masyarakat sebagai objek materi dan kenyataan sosial sebagai objek formal. Dalam perspektif sosiologi, kenyataan sosial dalam suatu komunitas masyarakat dipahami dalam tiga
paradigma utama, yaitu fakta sosial, definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Sosiologi sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih
mempertimbangkan karya sastra.
Lewat pendekatan sosiologi sastra, keberadaan pengarang dan karyanya sering tak bisa dilepaskan dari lingkungan dan jamannya (Kurniawan, 2012:4). Padahal, ada saja pengarang yang tidak terikat oleh perubahan lingkungan, termasuk momentum penting dalam perubahan politik. Tiap-tiap pilihan tak lain adalah simpul konsep kepengarangan. Seberapa jauh seorang pengarang terikat oleh lingkungan dan jamannya, sebetulnya juga ditentukan antara lain oleh konsep kepengarangannya. Pendekatan sosiologi sastra dapat mengungkapkan latar belakang pengarang, karena dalam kajiannya mempelajari tentang keberadaan manusia (baik dari segi pengarang atau segi hasil karyanya) dalam lingkungan masyarakat.
Dapat dikatakan pula bahwa sastra muncul karena masyarakat menginginkan keterangan kehidupan sosial budayanya. Tepatnya keterangan keberadaan kehidupannya. Sehingga munculah pesan-pesan dalam karya sastra, sebagai bentuk nilai moral yang hendak disampaikan oleh pengarang. Nilai-nilai yang ada berhubungan dengan nilai-nilai yang terdapat pada latar belakang sosial budaya masyarakat ketika pengarang hidup dan menjadi salah seorang
bentuk karya sastra yang akan dihasilkan. Contoh dalam lingkup masyarakat Jawa, seni budaya pewayangan merupakan salah satu fakta sosial budaya yang sudah memasyarakat, sehingga kehadirannya dapat dirasakan siapa pun dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Gaya penulisannya juga sederhana, bernarasi Jawa yang akrab, mudah dicerna, dengan kritik-kritik yang segera mengajak pembaca membuat perenungan, yang sebenarnya memiliki kandungan makna dan filosofi kehidupan. Selain budaya pewayangan yang banyak diekspos dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam juga menghadirkan para tokoh yang sangat mencerminkan orang-orang Jawa pada umumnya.
Para tokoh dalam novel ini dilahirkan dari latar tempat, social dan waktu yang memang benar-benar menggambarkan kebudayaan Jawa pada saat itu. Bahkan Umar Kayam mewarnai novelnya dengan beberapa penggal tembang kinanti yang merupakan perwujudan kesenian jawa di bagian tengah dan akhir novel. Tokoh dalam novel yang terlahir dari latar budaya Jawa terlihat sangat kental terutama dalam dialognya. Uamar Kayam banyak menggunakan dialog dengan berbahasa Jawa. Bahasa Jawa yang disajikan Umar Kayam dalam
novelya ada tiga bahasa Kromo Inggil (sangat halus) ,Kromo (halus) , dan Ngoko (kasar). Misalnya pada saat Lantip berbicara pada Sastrodarsono, Lantip
menggunakan bahasa yang terkesan begitu halus dan berbeda pada saat Lantip berbicara dengan orang yang statusnya sama atau sebaya dengan lantip. Contoh kutipannya” wah, Ndoro. Nuwun sewu, mohon maaf.” dan biasanya bahasa seperti kromo inggil tersebut dipakai oleh yang muda ke yang tua apapun strata sosialnya , sedang kalau yang muda ngomong ke yang muda lagi atau yang setara umurnya, biasanya pakai ngoko. Tiga puluh satu tokoh ditampilkan oleh Umar Kayam dalam meramaikan novelnya (Para Priyayi). Misalnya tokoh
Status priyayi merupakan status yang banyak terlahir dalam suasana kehidupan orang-orang Jawa. Bahkan orang-orang Jawa pada jaman dahulu di saat memilih menantu mereka lebih memberatkan pada calon menantu yang memiliki status priyayi. Bagi orang-orang Jawa status memanglahlah sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi Umar Kayam menyajikan
pemahaman tentang priyayi yang sebenarnya dalam novel, bahwa priyayi itu bukan dari darah birunya, bukan dari posisi dan jabatannya, melainkan dari sikap kesungguhannya untuk melayani dan mengayomi rakyat banyak. Hal ini
disampaikan pada bagian terakhir saat tokoh Lantip berpidato pada pemakaman eyangnya. Lantip dalam pidatonya memaparkan dengan jelas tentang keberadaan Eyangnya selama masih hidup dalam mengayomi rakyat banyak terutama di bidang pendidikan.
Melalui novel Para Priyayi , pembaca Indonesia yang berlatar belakang bukan Jawa akan dapat mengenal dan memahami sebagian kehidupan sosial budaya Jawa. Tingkah laku tokoh-tokoh dalam novel tersebut tampak sangat terikat dan sekaligus mengikatkan diri dengan penuh kesadaran terhadap aturan kelembagaan masyarakat Jawa.
PENUTUP
Novel “Para Priyayi” ini ditulis oleh seorang Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Novel ini menceritakan kisah hidup seorang priyayi yang lahir dari keluarga petani. Sastrodarsono diharapkan dapat menjadi pemula untuk membangun keluarga priyayi kecil. Akhirnya semua berjalan sesuai harapan, Sastrodarsono tumbuh menjadi seorang priyayi yang mampu menjadikan keluarganya juga menjadi seorang priyayi meskipun priyayi kecil.
menyampaikan semua idenya dengan menyeluruh secara terang-terangan sehingga tidak hambatan yang menghalangi penyampaian ide atau gagasan pengarang. Dengan demikian pembaca dapat menangkap ide cerita dengan sangat mudah.
Dalam novel ini juga disampaikan beberapa pesan yang sangat baik baik secara langsung maupun secara tidak langsung lewat perumpamaan-perumpamaan sehingga dapat dijadikan sebagai motivasi bagi pembaca untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik.
DAFTAR RUJUKAN
Escarpit,Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Kayam,Umar. 1992. Para Priyayi. Jakarta:Pustaka Utama Grafiti.
Kurniawan, Heru. 2012. Teori, Metode, Dan Aplikasi Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Delta Buku Yogyakarta.