• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN PRESIDEN NICOLAS SARKOZY TERHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEBIJAKAN PRESIDEN NICOLAS SARKOZY TERHA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN PRESIDEN NICOLAS SARKOZY TERHADAP IMIGRAN

PERANCIS

Rahmat Syahid Suraya

Hubungan Internasional – 20120510242

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Email: [email protected]

ABSTRACT

This journal will explain about the immigration policy of the France

Government that enact Immigration and Integration Law in the era of President

Nicolas Sarkozy who aim to tighten the entry of immigrants and reduce the number

of immigrants who lived in France. The policy is a response from the France

Government against various social problems that emerge are caused by immigrants

living in France, culminating in 2005 a large riot and it is the worst in the history of

the immigrants in France. Nicolas Sarkozy who became President of France in 2007

had the support of the party's right-wing UMP party who support his candidacy in

the presidential election in France. The UMP party is a right-wing ideology of the

representation using the issue against immigrants to get sympathy from French

society and the party won the election in 2007. As for the key points of the policy

France Immigration and Integration Law, namely (1) the selection of immigrants

(immigration choisie), (2) the integration of ' mandates ' (mandatory immigration),

(3) development (co-development).

(2)

Pendahuluan

Sejak tahun 1999, Perancis menerima pendatang lebih banyak dari

Negara-negara tetangga yaitu Eropa Timur (Bryant 2011). Negara tetangga ini sebenarnya

hanya menjadi pintu masuk para imigran dari Afrika dan Timur Tengah menuju

Perancis. Karena apabila diperhatikan berdasarkan letak geografis, Perancis

berbatasan langsung dengan Laut Mediterania dan Italia (Eropa Timur). Sebagian

besar imigran yang berasal dari Afrika, khususnya Tunisia dan Libya, Morocco

masuk ke Perancis melalui Italia dan juga Laut Mediterania.

Tercatat bahwa jumlah imigran di Perancis terus menunjukkan peningkatan

setiap tahunnya hingga mencapai 11% dari total jumlah penduduk Perancis 60 juta

jiwa pada tahun 2007. Berdasarkan data yang diperoleh telah terjadi peningkatan

kriminalitas akibat imigran sebesar 10-15% setelah tahun 2000. (Sari 2013)

Perbedaan yang cukup mencolok tersebut memunculkan pengkotak-kotakan

masyarakat. Ada yang menerima dan menolak terhadap keberadaan imigran asal

Afrika Utara tersebut. Sehingga, asimilasi (pembauran) antara imigran dan warga

asli Perancis susah untuk di lakukan. Pada akhirnya, muncul banyak konflik yang di

latarbelakangi kecemburuan secara sosial maupun ekonomi. Pada November 2005

terjadi sebuah kerusuhan yang cukup besar sepanjang sejarah imigrasi Perancis.

Kerusuhan tersebut disebabkan oleh warga imigran yang tidak puas dengan

nasibnya. Kerusuhan tersebut pada awalnya terjadi di pinggiran kota Perancis dan

meluas sampai ke pusat kota. Kerusuhan tersebut menelan banyak korban jiwa,

kerugiaan materi mencapai 200.000 Euro dan banyak fasilitas umum yang rusak

akibat kerusuhan tersebut. Sebagai bentuk respon dari permasalahan yang muncul

tersebut, pada Maret 2006, Menteri Dalam Negeri Perancis Nicolas Sarkozy

(3)

Nicholas Sarkozy mencoba mencari dukungan dari sayap kanan dalam

proses pencalonannya di tahun 2007, yang tak lain halnya memiliki kesamaan yaitu

sensitif dan tidak menyukai adanya imigran di Perancis. Hal ini pula dianggap

sebagai suatu hal baru oleh warga Perancis karena setelah sebelum-sebelumnya

presiden Perancis merupakan representatif dari sayap kiri.

Hasil dan Pembahasan

Kerusuhan tahun 2005 menggambarkan kuatnya sentimen antiorang asing di

Prancis. Kerusuhan kemudian menyebar ke hampir seluruh Prancis, sehingga

memaksa pemerintah memberlakukan keadaan darurat selama 3 minggu. Kerugian

materi mencapai 200.000 euro, belum termasuk kerugian yang ditimbulkan oleh

larangan mengunjungi Prancis yang dikeluarkan oleh beberapa negara.

Pemerintah Perancis dibawah Nicolas Sarkozy kemudian memberlakukan

France Immigration and Integration Law untuk memperketat masuknya imigran ke Perancis karena kondisi politik domestic dengan alasan bahwa Imigran

menimbulkan berbagai permasalahan social di Perancis sehingga membuat Presiden

Nicolas Sarkozy membatasi jumlah imigran yang masuk dan hanya imigran yang memiliki “High Qualification” yang dapat masuk ke negara Perancis. Selain itu juga tekanan Partai UMP sebagai partai pemerintah pemenang pemilu yang beraliran

tengah kanan yang ingin negara Perancis perlu memiliki persyaratan yang ketat

untuk para calon imigran.

A. Isu Imigran Perancis selama dipimpin oleh presiden Nicolas Sarkozy

Bukan hanya bagi para imigran, namun juga bagi keturunannya yang telah

lahir dan mengenyam pendidikan di Prancis. Bahkan aksi rasisme di berbagai aspek

kehidupan yang dialami oleh seorang imigran dan/atau keturunannya juga disebut

(4)

terlalu banyak orang asing di negaranya dan sistem untuk mengintegrasikan mereka

"bekerja lebih dan lebih buruk". Dalam sebuah debat televisi, Sarkozy

mempertahankan rencananya untuk mengurangi setengah jumlah pendatang baru

jika dia kembali terpilih kembali bulan depan. Presiden Perancis mengatakan, ketika

para imigran memberikan keuntungan bagi Perancis, butuh pengawasan yang ketat

dan aturan yang kuat bagi penduduk.

Permasalahan yang terjadi bagi imigran di Perancis adalah karena mereka

banyak yang tidak mampu lagi membayar pajak tempat tinggal, visa yang telah lama

habis tidak diperpanjang lagi, dan banyaknya pengangguran dari kalangan imigran.

Pemerintah Perancis seperti kewalahan mengatasi berbagai problema social tersebut

sementara jumlah para imigran terus berdatangan maupun para pencari suaka yang

datang dari laut mediterania.

Permasalahan seperti rendahnya pendidikan, rawannya keamanan di daerah

tempat tinggal imigran, dan kemiskinan merupakan hal-hal yang juga termasuk

dalam kategori masalah imigran. Terlihat bahwa walaupun di satu sisi keberadaan

imigran dibutuhkan untuk mengisi sektor-sektor pekerjaan tertentu atau untuk

memperbaiki situasi demografis Prancis, namun di sisi lain segala permasalahan

sosial yang muncul sebagai dampak logis proses migrasi sepenuhnya dibebankan

kepada para imigran. Sarkozy sering kali membuat pernyataan yang kontroversial

berkaitan dengan masalah ras dan imigrasi sehingga menyebabkan perbedaan

pendapat di Perancis. Pada 2005 lalu, sebelum kerusuhan Perancis, dia

menggambarkan penjahat muda di pinggiran Paris sebagai racaille, artinya rakyat

jelata.

Sebagai presiden, dia telah mendesak pembuatan aturan imigrasi yang baru,

termasuk pendeportasian masyarakat gipsi Roma yang kontroversial. Di era Sarkozy

Pemerintah Perancis mulai mendeportasi kaum gipsi asal Rumania atau Roma

(5)

- Dunia - Prancis deportasi kaum gipsi 2010). 79 orang gipsi yang setuju untuk

kembali ke rumah mereka secara sukarela akan mendapatkan uang senilai 300 euro

atau sekitar US$ 383, dan diterbangkan ke Rumania. Pemerintah Prancis

mengatakan rencana untuk menutup 300 pemukiman gipsi Roma akan berlangsung

selama tiga bulan.

Rencana kontroversi yang didukung Presiden Nicolas Sarkozy ini dilakukan

setelah bentrokan antara kaum pengelana ini dengan polisi di kawasan selatan kota

Grenoble. Pemerintah mengatakan pemukiman itu merupakan sumber perdagangan

manusia, standar kehidupan yang sangat rendah, eksploitasi anak untuk jadi

pengemis, prostitusi dan kejahatan. Sekitar 700 gipsi Roma ini akan diterbangkan

keluar Prancis pada akhir Agustus, dalam sebuah kebijakan yang dikritik tajam oleh

kelompok hak azasi manusia. Aksi ini mendapat protes dari masyarakat yang ada di

Perancis dengan cara melakukan demonstrasi di jalanan. Setidaknya 77 ribu orang turun ke jalanan kota Paris dan beberapa kota lainnya, untuk memprotes kebijakan pemerintah Perancis yang mengusir masyarakat etnik Roma di sana. (Darmawan 2010)

Rumania juga menyatakan kekhawatirannya atas operasi ini dengan mengatakan

bisa meningkatkan sentimen xenophobic atau takut pada orang asing. Aksi ini

mendapatkan tanggapan dari menteri luar negeri Rumania, bahwa kekhawatirannya

akan implikasi sosial bisa timbul dari tindakan penggusuran ini. Tetapi Prancis

bersikeras kalau penggusuran dan pengusiran sepenuhnya sesuai dengan peraturan

Eropa dan tidak dalam cara apapun untuk mempengaruhi kebebasan bergerak bagi

warga Uni Eropa, sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian.

B. Isu Imigran Perancis selama dipimpin oleh presiden Nicolas Sarkozy

Bukan hanya bagi para imigran, namun juga bagi keturunannya yang telah

lahir dan mengenyam pendidikan di Prancis. Bahkan aksi rasisme di berbagai aspek

(6)

sebagai masalah imigran. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy telah mengatakan

terlalu banyak orang asing di negaranya dan sistem untuk mengintegrasikan mereka

"bekerja lebih dan lebih buruk". Dalam sebuah debat televisi, Sarkozy

mempertahankan rencananya untuk mengurangi setengah jumlah pendatang baru

jika dia kembali terpilih kembali bulan depan. Presiden Perancis mengatakan, ketika

para imigran memberikan keuntungan bagi Perancis, butuh pengawasan yang ketat

dan aturan yang kuat bagi penduduk.

Permasalahan yang terjadi bagi imigran di Perancis adalah karena mereka

banyak yang tidak mampu lagi membayar pajak tempat tinggal, visa yang telah lama

habis tidak diperpanjang lagi, dan banyaknya pengangguran dari kalangan imigran.

Pemerintah Perancis seperti kewalahan mengatasi berbagai problema sosial tersebut

sementara jumlah para imigran terus berdatangan maupun para pencari suaka yang

datang dari laut mediterania.

Permasalahan seperti rendahnya pendidikan, rawannya keamanan di daerah

tempat tinggal imigran, dan kemiskinan merupakan hal-hal yang juga termasuk

dalam kategori masalah imigran. Terlihat bahwa walaupun di satu sisi keberadaan

imigran dibutuhkan untuk mengisi sektor-sektor pekerjaan tertentu atau untuk

memperbaiki situasi demografis Prancis, namun di sisi lain segala permasalahan

sosial yang muncul sebagai dampak logis proses migrasi sepenuhnya dibebankan

kepada para imigran. Sarkozy sering kali membuat pernyataan yang kontroversial

berkaitan dengan masalah ras dan imigrasi sehingga menyebabkan perbedaan

pendapat di Perancis. Pada 2005 lalu, sebelum kerusuhan Perancis, dia

menggambarkan penjahat muda di pinggiran Paris sebagai racaille, artinya rakyat

jelata.

Sebagai presiden, dia telah mendesak pembuatan aturan imigrasi yang baru,

termasuk pendeportasian masyarakat gipsi Roma yang kontroversial. Di era Sarkozy

(7)

sebagai bagian dari penggusuran pemukiman terlarang di negara itu. (BBC

Indonesia - Dunia - Prancis deportasi kaum gipsi 2010) 79 orang gipsi yang setuju

untuk kembali ke rumah mereka secara sukarela akan mendapatkan uang senilai 300

ero atau sekitar US$ 383, dan diterbangkan ke Rumania. Pemerintah Prancis

mengatakan rencana untuk menutup 300 pemukiman gipsi Roma akan berlangsung

selama tiga bulan.

Rencana kontroversi yang didukung Presiden Nicolas Sarkozy ini dilakukan

setelah bentrokan antara kaum pengelana ini dengan polisi di kawasan selatan kota

Grenoble. Pemerintah mengatakan pemukiman itu merupakan sumber perdagangan

manusia, standar kehidupan yang sangat rendah, eksploitasi anak untuk jadi

pengemis, prostitusi dan kejahatan. Sekitar 700 gipsi Roma ini akan diterbangkan

keluar Prancis pada akhir Agustus, dalam sebuah kebijakan yang dikritik tajam oleh

kelompok hak azasi manusia. Aksi ini mendapat protes dari masyarakat yang ada di

Perancis dengan cara melakukan demonstrasi di jalanan. Setidaknya 77 ribu orang turun ke jalanan kota Paris dan beberapa kota lainnya, untuk memprotes kebijakan pemerintah Perancis yang mengusir masyarakat etnik Roma di sana. (Darmawan 2010)

Rumania juga menyatakan kekhawatirannya atas operasi ini dengan

mengatakan bisa meningkatkan sentimen xenophobic atau takut pada orang asing.

Aksi ini mendapatkan tanggapan dari menteri luar negeri Rumania, bahwa

kekhawatirannya akan implikasi sosial bisa timbul dari tindakan penggusuran ini.

Tetapi Prancis bersikeras kalau penggusuran dan pengusiran sepenuhnya sesuai

dengan peraturan Eropa dan tidak dalam cara apapun untuk mempengaruhi

kebebasan bergerak bagi warga Uni Eropa, sebagaimana yang tercantum dalam

perjanjian.

(8)

Sebelum Nicolas Sarkozy menjabat sebagai presiden Perancis, ia telah

merancang skema kebijakan imigrasi untuk Perancis. Melalui Skema kebijakan baru

tersebut kemudian pada Mei 2006 Pemerintah Mulai mengadposi kebijakan tersebut

untuk menjadi Undang-Undang. Melalui Skema Kebijakan Menteri Dalam Negeri

Perancis pada saat itu yaitu Nicolas Sarkozy Undang-Undang French Immigration

and Integration Law tersebut kemudian di berlakukan pada 25 Juli 2006 setelah melalui serangkaian proses pembuatan. Seperti Skema yang di ajukan oleh Nicolas

Sarkozy Undang-Undang ini dimaksudkan untuk memilah imigran yang pantas

masuk ke wilayah Perancis.

Ada tiga poin penting yang terdapat pada French Immigration and

Integration Law yaitu (1) penyeleksian imigran (immigration choisie), (2) integrasi „mandat‟ (mandatory immigration), (3) pembangunan (co-development). Poin pertama ini dicetuskan untuk setiap individu yang ingin tinggal bahkan hidup di

wilayah Perancis.

Contohnya adalah ketika ada individu yang ingin membawa keluarganya ke

wilayah Perancis maka setidaknya individu tersebut telah tinggal selama minimal 18

bulan di Perancis dan sanak keluarganya yang akan dibawa harus direunifikasi oleh

pemerintah Perancis agar dapat masuk ke wilayah tersebut. Poin kedua dijelaskan

untuk menjadi warga negara Perancis maka setiap imigran harus melewati berbagai

proses yang telah dicanangkan oleh pemerintah Perancis yaitu kemauan dan keinginan yang ditunjukkan dengan „mendemonstrasikan‟ dirinya terhadap publik dengan sungguh–sungguh dan setelah itu menandatangani kontak perjanjian yang dibuat oleh pemerintah Perancis. Poin ketiga dijelaskan bahwa imigran yang ingin masuk ke wilayah Perancis berasal dari negara yang memiliki hubungan „baik‟ dengan Perancis. Baik disini dimaksudkan adalah negara asal memberi keuntungan

strategis baik itu ekonomi maupun politis terhadap negara Perancis.

(9)

Menurut keterangan Komisi Uni Eropa setiap tahunnya 220 ribu orang

mengajukan permohonan suaka. Sekitar satu setengah hingga dua juta orang

bermigrasi secara legal dan diperkirakan ada sekitar satu setengah juta orang juga

yang tanpa ijin menetap di Uni Eropa (Welle, Kebijakan Imigrasi Baru untuk Eropa?

| dunia | DW.COM | 04.07.2008 2008). Masuknya imigran ke negara-negara anggota

Uni Eropa tersebut di sebabkan oleh berbagai macam faktor. Mulai dari faktor

ekonomi yakni untuk mencari kehidupan yang baru yang lebih layak, hingga faktor

keamanan di negara asal mereka. Hal ini membuat pemerintah Perancis berupaya

mengeluarkan kebijakan yang dinilai akan mampu menyelamatkan identitas nasional

Perancis dari para imigran.

Presiden Nicolas Sarkozy yang didukung oleh Partai UMP sebagai partai

mayoritas di parlemen seperti tidak mendapat hambatan yang cukup serius dalam

mengeluarkan kebijakan France Immigration and Integration Law berhubung

Perancis di tahun terpilihnya Sarkozy sebagai Presiden, Perancis juga sedang

mengalami permasalahan sosial yang berkaitan antara imigran dan warga asli

Perancis.

Dalam upaya memperoleh suara terbanyak dan untuk mempertahankan

eksistensinya sebagai partai pemerintah yang berkuasa sejak tahun 1995, Partai

Union for a Popular Movement (UMP) berusaha mengeluarkan program-program

kebijakan partai yang cenderung mendapat dukungan penuh dari rakyat Perancis

sewaktu kepemimpinan Presiden Nicolas Sarkozy. Salah satu program kebijakan

utama Partai Union for a Popular Movement adalah menolak referendum Konstitusi

Uni Eropa tanggal 29 Mei 2005 yang bertujuan untuk mengintegrasi secara penuh

negara Uni Eropa tersebut.

Partai UMP sangat menentang Konstitusi tersebut karena bertentangan

dengan keinginan rakyat Perancis. Partai UMP akan berjanji untuk merealisasikan

(10)

yang memiliki sikap etatisme yang sangat tinggi yaitu sikap yang mendahulukan

kepentingan Negara daripada kepentingan rakyatnya. Maka dari itu kebijakan untuk

melindungi kedaulatan Perancis dari para imigran dianggap perlu dibandingkan

melindungi rakyatnya.

Kesimpulan

Sikap Perancis yang memperketat masuknya imigran ke negara Perancis

merupakan aturan yang berasal dalam politik domestik Perancis itu sendiri.

Banyaknya permasalahan sosial yang terjadi di Perancis terkait dengan para imigran

ditambah lagi kerusuhan yang terjadi di tahun 2005 menggambarkan kuatnya

sentimen antiorang asing di Prancis, yang memaksa pemerintah memberlakukan

keadaan darurat selama 3 minggu. Akibatnya Perancis mengalami kerugian materi

mencapai 200.000 euro, belum termasuk kerugian yang ditimbulkan oleh larangan

mengunjungi Prancis yang dikeluarkan oleh beberapa negara.

Sebagai akibat dari berbagai permasalahan sosial tersebut membuat

pemerintah Perancis berinisiatif untuk memberlakukan kebijakan France

Immigration and Integration Law di era Presiden Nicolas Sarkozy yang tujuannya untuk membatasi jumlah imigran masuk dan hanya imigran yang memiliki “High Qualification” yang dapat masuk ke negara Perancis.

Tiga poin penting yang terdapat pada French Immigration and Integration

Law yaitu (1) penyeleksian imigran (immigration choisie), (2) integrasi „mandat‟ (mandatory immigration), (3) pembangunan (co-development). Poin pertama ini

dicetuskan untuk setiap individu yang ingin tinggal bahkan hidup di wilayah

(11)

ingin membawa sanak keluarganya maka harus melalui reunifikasi oleh pemerintah

Perancis. Pada poin kedua yaitu kemauan dan keinginan yang ditunjukkan dengan „mendemonstrasikan‟ dirinya terhadap publik dengan sungguh–sungguh dan setelah itu menandatangani kontak perjanjian yang dibuat oleh pemerintah Perancis seperti

perjanjian kontrak kerja. Pada poin ketiga bermaksud bahwa imigran yang datang ke

Perancis adalah berasal dari negara yang memberi keuntungan strategis baik itu

ekonomi maupun politis terhadap negara Perancis.

Bibliography

Buku:

Cipto, Bambang. "Prospek dan Tantangan Partai Politik." 21. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Fudzcha Putri Jazilah, Djoko Susilo, Linda Dwi Eriyanti. "Kepentingan Nicolas Sarkozy Dalam Pembuatan Kebijakan Imigrasi di Perancis." 2012: 1-7.

Kurniawan, Aji. "INTEGRASI IMIGRAN DI PERANCIS." Masalah Integrasi Perancis, 2010. Sari, Ganes Nirwana Parapat. "Personalitas Presiden Nicholas Sarkozy dan Kebijakan Terhadap Kaum Imigran di Perancis." S1-2013-266003-chapter1, 2013.

Sumantri, Mitha Putri Prawira. "Perubahan Kebijakan Perancis Terhadap Imigran Pada Masa Pemerintahan Nicolas Sarkozy." Perubahan Kebijakan Perancis Terhadap Imigran Pada Masa Pemerintahan Nicolas Sarkozy, June 2013.

BBC Indonesia - Dunia - Prancis deportasi kaum gipsi. August 19, 2010.

http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/08/100819_francegypsi.shtml (accessed November 25, 2015).

(12)

Darmawan, Indra. Warga Perancis Demo Pengusiran Kaum Gipsi - Dunia. September 5, 2010. http://dunia.news.viva.co.id/news/read/176110-warga-perancis-demo-pengusiran-kaum-gypsi (accessed November 25, 2015).

France - The new immigration law. November 11, 2003.

http://www.meltingpot.org/France-The-new-immigration-law.html (accessed Oktober 2, 2015).

Nicolas Sarkozy - President (non-U.S.) - Biography.com. March 19, 2015.

http://www.biography.com/people/nicolas-sarkozy-37799 (accessed November 29, 2015). Welle, Deutsche. Kebijakan Imigrasi Baru untuk Eropa? | dunia | DW.COM | 04.07.2008. July 4, 2008. http://www.dw.de/dw/article/0,,3461933,00.html (accessed November 28, 2015).

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien JKN terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Andalas dan Klinik Simpang

Maka pada sistem dual fuel bahan bakar solar masih dibutuhkan untuk digunakan sebagai pematik karena bahan bakar solar dapat terbakar pada kondisi kompresi ruang bakar

Untuk contoh dalam video konferensi atau telepon video, ukuran image kecil dengan resolusi rendah diinginkan bandwidth tidak sebanyak video broadcasting , dan pada

Field harus terisi Diisi sesuai dengan format Kode haru urut dan tidak double Kode Barang Completeness Check.

1) Menilai organisasi dan diri manajemen atas pekerjaan dalam domain pribadi. Hal ini harus sering dikelola dengan dasar gender dalam menilai pekerjaan pria atau

Komparator Op-Amp akan membandingkan nilai tegangan pada kedua tegangan, apabila sebuah tegangan (-) lebih besar dari tegangan masukan (+) maka keluaran Op-Amp akan menjadi sama

Melalui pengamatan literature dan data sekunder, dengan teori komunikasi instruksional, komunikasi interpersonal, mediated interpersonal communication dan pendidikan untuk

Panitia 9 merupaka panitian yang melahirkan pancasila yang ada sekarang dirumuskn dan kemudian disahkan sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945 dengan mengganti