mukaddimah
Sikap terhadap perdebatan
Natsir Vs Soekarno
PEMBENTUKAN BPUPKI&PPKI
saat Soekarno, Radjiman,dan
Hatta diterimah oleh Jendral
Terauchi Hisaichi dan Soekarno
sebagai ketuanya di Saigon.
Tidak tepat jika di katakan PPKI
dibentuk 7 agustus 1945 yg ada
hanyala izin dari Jepang untuk
pembentukan PPKI.
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
Di bentuk 29 April 1945 dengan 63 Orang dengan 3 Pimpimpinan
1. KRT Radjiman W 2. Itibangase Yosio 3. RP Soeroso 4. Abi Koesmo
Tjoektosoejoso 5. H. Achmad Sanusi 6. KH Abdul Halim 7. Asikin
Widjajakoesoema
8. M. Aris 9. R Abdul Kadir
10. R. Buntaran
Martoatmodjo 11. BPH. Bintoro 12. Ki Hadjar Dewantara 13. AM. Dasaad 14. PAH
Djajadiningrat
15. Moh. Hatta
16. Ki Bagoes
Hadikoesoema 17. R. Hindromartono 18. Muhammad Yamin 19. AA Soemitro KP 20. R. Koesoema
Atmadja
21. J. Latuharhary
22. RM. Margono J 23. AA Meramis 24. KH Masjkoer
34 Agoes Salim 35 Samsi 36 RM Sartono
37 R Samsoedin 38 R Sastroemoeljono 39 RP Singgih
40 Soekarno 42 R Soedirman 43 Soekiman
44 A. Subarjo 45 Soepomo 46 MP Soerahman T
47 Sutardjo K 48 RMTA Soerjo 49 Soesanto
50 Soewandi 51 KRMA
Sosrodiningrat 52 KH Wachid Hasyim 53 KRMTH
Woerjaningrat 54 RAA Wiranatakoesoesma 55 KRMT Wongsonagoro 56 Ny Maria Ulfa
Santoso 57 Ny. RSS Soenarjo M 58 Oei Jong Hauw 59 Oei Tiang Tjoei 60 Liem Koen Hian 61 Tan Eng Hoa
Panitia 8
Dibentuk oleh BPUPKI 1 Juni 1945, setalah Pidato Bung Karno Tentang Pancasila
Golongan Nasionalis Golongan Islam 1 Soekarno 7 Ki Bagoes hadikkoesoemo 2 Mohammad Hatto 8 Wachid Hasyim
3 M. Yamin 4 A. Meramis 5. M. Sutardjo Kartohadikusuma
Panitia 9
Di bentuk secara spontan oleh
Soekarno pada sidang VIII Cuo
Sangiin 18-21 Juni 1945
Golongan Nasionalis Golongan Islam
1 Soekarno 6 Wachid hasyim
2 Mohammad Hatta 7 A. Kahar Muzakkir
3 M. Yamin 8. H. Agus Salim
4. A. Meramis 9. Abikusno Tjokrosuyoso
Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia
(PPKI)
Di bentuk 12 Agustus 1945
Soekarno Amir Moh. Hatta
Abdoel Abbas Soepomo Tengku Moh. Hasan Radjiman W Hamidhan RP Soeroso
Ratulangi Soetarjo Andi Pangeran
Wachid Hasyim I. Gusti Ktut Pudja Ki Bagoes
Hadikoesoema Oto Iskandar Dinata Ki Hajar Dewantara Abdoel Kadir
Wiranatakoesoema Kasman Singodimedja Soerjohamidjojo
Sajoeti Poeroebojo Koesoema Soemantri
DEBAT DI BPUPKI
1.
PLENO 1 (29 MEI-1 JUNI 1945) BPUPKI
gagal mengambil keputusan tentang
Dasar Negara.
Lanjutan....
Karena kegagalan tersebut, BPUPKI membentuk
Panitia 8 dg ketua Soekarno yang bertugas
inventarisasi usul-usul para anggotanya
sekaligus mencari kompromi dan merumuskan
dasar negara dan UUD.
Lanjutan....
Lanjutan....
Perubahan Piagam Jakarta
Lanjutan...
Ada yang mempersoalkan lobi tersebut, sebab 3
dari 4 orang wakil golongan Islam selain Wachid
Hasyim tidak ikut dalam panitia 9, bahkan Kasman
dan A. Hasan merupakan anggota baru dalam PPKI
bukan anggota BPUPKI. Lebih dari itu menurut
beberapa sumber, Wachid Hasyim tidak ikut dalam
lobi tersebut karena sedang ke Surabaya.
Pancasila sebagai
Ideologi bangsa dan
Negara
Pancasila sebagai
ideologi Terbuka
Ciri-ciri ideologi terbuka adalah nilai-nilai
dan cita-citanya tidak dipaksakan dar luar,
melainkan digali dan diambil dari kekayaan
rohani, moral dan budaya masyarakat sendiri.
Dasarnya adlah konsensus masyarakat, tidak
diciptakan oleh negara, melainkan ditemukan
dalam masyarakatnya sendiri.
Lanjutan...
Keterbukaan
ideologi
pancasila
ditujukan dalam penerapannya yg
berbentuk pola pikir yg dinamis dan
konseptual dalam dunia modern.
Kita mengenal 3 nilai.
1.
Nilai dasar yg tidak bisa dirubah
2.
Nilai intrumental sebagai sarana
mewujudkan nilai dasar yg dapat
berubah sesuai dengan keadaan
Lanjutan...
Lanjutan....
Sekalipun
Pancasila
memiliki
sifat
keterbukaan, namun ada batas-batasnya yaitu
tidak boleh melanggar:
1.
Stabilitas Nasional yg dinamis
2.
Larangan terhadap ideologi marxisme,
Lenninisme dan Komunisme
3.
Mencegah berkembangnya paham liberalisme
4.
Larangan terhadap pandangan ekstrim yang
menggelisahkan kehidupan kehidupan
masyarakat
Ideologi terbuka dan
nilai-nilai dan cita-cita
digali dari kekayaan adat istiadat dan relegiusitas masyarakat
Menerima reformasi
Penguasa bertanggug jawab pada masyarakat sebagai pengemban amanah rakyat
Nilai2 dan cita2 dihasilkan
daari pemikiran indiviidu atau kelompok yang
berkuasa dan masyarakat berkorban demi ideologinya.
Menolak reformasi
Masyarakat harus taat
kepada ideologi elit penguasa
Implenetasi Pancasila
Dalam kehidupan
1.
Ketuhanan Yang Maha Esa
Lanjutan...
2.
Kemanusiaan yg adil dan beradab
perwujudan dari nilai kemanusiaan sebagai
mahluk yg berbudaya, bermoral dan beragama.
Konsekuensinya adaah menjunjung tinggi
hak-hak asasi manusia, menghargai atas kesamaan
hak dan derajat tanpa membedakan ikatan
primordial.
3.
Persatuan Indonesia
Lanjutan....
4.
Kerakyatan yg dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan
dalam
Permusyawatan/perwakilan
nilai demokrasi terkandung di
dalamnya.
Kaidah penuntun
berdasarkan Pancasila
Dengan
dipertahankannya
Pancasila
sebagai
ideologi negara, maka konsekuensi setiap hukum
yang lahir dari konstitusi haruslah memenuhi 4
(empat) kaidah, yaitu
pertama,
bertujuan untuk
membangun dan menjamin integrasi negara dan
bangsa Indonesia baik dalam aspek teritorial
maupun
ideologi.
Kedua
,
didasarkan
pada
keseimbangan
prinsip-prinsip
demokrasi
dan
nomokrasi;
Ketiga
, ditujukan untuk membangun
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia sangat lemah, bahkan cenderung menuju kematian. Terdapat lima faktor penyebab yang membuat se-mangat dan ideologi kebangsaan Indonesia menjadi melemah, bahkan menuju kematian.
(i). Aktualisasi dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara RI tidak efektif atau tidak berhasil.
(ii). Hingga kini Jatidiri Bangsa Indonesia belum terbentuk secara kokoh akibat gempuran keras datangnya ideologi-ideologi asing dan berkembangnya pandangan baru yang liberal,
(iii). Negara atau penguasa tidak memiliki sikap konsisten untuk menjaga, mengembangkan, dan melestarikan semangat dan ideologi kebangsaan Indonesia akibat negara dan penguasa yang tidak memiliki kemampuan mandiri dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bangsa asing,
(iv). pengelolaan proses kebangsaan untuk menjadi ”negara bangsa” (Nation State) kurang berhasil sehingga muncul faham Etno-sentrisme dan primordialisme yang eksklusif dan tidak produktif, dan
Secara teoritis, moral sosial-politik yang terdapat dalam Islam
sesungguhnya sudah terkandung dalam kelima sila dalam pancasila. Sila kesatu: Ketuhanan Yang Maha Esa jelas memberi dasar kuat bagi kehidupan umat Islam untuk beragama secara tulus dan autentik. Sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan beradab, mengandung makna bahwa umat Islam harus menegakkan keadilan dan keadaban dalam berperilaku, baik perorangan maupun kehidupan kolektif dalam politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Sila ketiga: Persatuan Indonesia, bisa dijadikan sebagai pembimbing bagi umat Islam Indonesia dalam kebhinnekaan (pluralitas) yang kaya dalam kehidupan plural.
Sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat