• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODERNISASI DALAM NOVEL BELENGGU KARYA A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODERNISASI DALAM NOVEL BELENGGU KARYA A"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MODERNISASI DALAM NOVEL

BELENGGU KARYA ARMIJN PANE

Anggota Kelompok :

1.

Rizki Ariviana

(12201241004)

2.

Septi Wuryani

(12201241011)

3.

Maratul Azizah

(12201241013)

(2)

Pendahuluan

Dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia,

Belenggu merupakan novel karya anak bangsa pada

masa perang ke-II dengan penuh penghayatan dapat

mengkomposisikan

penceritaan

dan

nilai-nilai

kebaruan yang dimunculkan, sehingga membuat novel

ini bebas dari konvensi prosa lama (Junus, 1986).

(3)

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka beberapa masalah yang terkait dengan modernisasi dalam Novel Belenggu sebagai berikut :

1. Apakah tokoh-tokoh dalam cerita novel Belenggu sanggup keluar dari tradisi bangsanya yang feodal menuju tradisi modern?

2. Mengapa para tokoh dalam novel ini justru tertarik pada tardisi yang bertentangan dengan budaya bangsa yang dipelihara sejak dahulu?

3. Apakah tema yang terkandung dalam novel Belenggu?

(4)

Menurut Lombard, berbagai paham Barat yang mulai

berkenalan dengan berbagai generasi terutama kaum

intelektual Indonesia yang sebenarnya menunjukkan

gejala runtuhnya “asas keselarasan yang dahulu

mempersatukan manusia dan lingkungannya” seperti

tergambar dalam pandangan-dunia Timur pada

umumnya.

Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra

dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana

karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Sastra tidak

hanya mendapat pengaruh dari realitas sosial tetapi juga

dapat mempengaruhi realitas sosial. Rene Wellek dan

dan Austin Warren (1956) membagi telaah sosiologis

menjadi tiga klasifikasi :

a.

sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan

(5)

b. sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan

tentang suatu karya sastra.

c. sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang

pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.

Dalam konteks kesusastraan dan kondisi sosial

Indonesia menjelang kemerdekaan, novel

Belenggu

karya

Armijn

Pane

(1908-1970)

memiliki

keistimewaan tersendiri.

(6)

Selain filosofi kepenulisannya yang berbeda, novel

Belenggu

juga mengangkat tema yang pada saat itu

terbilang tabu, yakni masalah perselingkuhan dalam

keluarga. Tono, yang mengharapkan sosok seorang istri

yang dapat melayani dan mendukung profesinya sebagai

seorang dokter, tak menemukan itu pada Tini. Sebaliknya,

pada sosok Rohayah, Tono menemukan pemenuhan atas

harapan-harapannya akan seorang istri yang “berlutut,

membukakan tali sepatu” atau “menunggu suami dengan

senyum yang murah di rumah”.

(7)

Unsur-Unsur Intrinsik

Istilah unsur-unsur intrinsik dalam kajian ini adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri.

Pada umumnya para ahli sepakat bahwa unsur intrinsik terdiri dari (a) tokoh dan penokohan/perwatakan tokoh, (b) tema dan amanat, (c) latar, (d) alur, dan (e) sudut pandang/gaya penceritaaan.

Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas beberapa unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam Novel Belenggu.

a. Tema

(8)

b. Alur

Alur novel ini cukup dapat ditebak. Pada akhirnya Tono dan Tini tak kuasa mempertahankan bahtera keluarga mereka. Keduanya bercerai. Tini berangkat ke Surabaya dan mengabdikan diri pada sebuah panti asuhan yatim piatu. Namun demikian, Tono akhirnya juga tak mendapatkan Rohayah dan harus rela menerima kesendiriannya, karena Rohayah sendiri memutuskan untuk pergi ke Kaledonia Baru tanpa pamit.

c. Penokohan

(9)

Pesan yang Ingin Disampaikan Pengarang

(10)

KESIMPULAN

Jika dicermati mengenai isi cerita novel Belenggu, maka ada beberapa poin yang menjadi kesimpulan dari penelitian ini:

1. Novel Belenggu yang lahir sejak masa perang dunia II yang melukiskan mengenai nilai-nilai yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca tentang gejolak yang terjadi pada saat itu.

2. Dalam Novel ini, akhir dari suatu cerita tidak tetap, akan tetapi selalu berubah-ubah sehingga pembaca sulit untuk menebak. Dan hal ini barangkali yang menjadi ciri suatu perubahan dalam segala aspek kehidupan manusia yang tidak menentu.

3. Karena ingin mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak dahulu.

Maka saat ini berbagai belenggu seperti yang tergambar dalam novel ini terus hadir dengan berbagai rupa, tidak hanya subjektivitas obsesif, masa lalu, atau euforia—seiring dengan transformasi dan transisi budaya yang terus berlangsung. 4. Novel ini diharapkan dapat menginspirasikan refleksi dan banyak hal lain

berkaitan dengan cara kita bersiasat menghadapi berbagai bentuk belenggu tersebut.

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih tokoh utama sebagai objek penelitian, yang juga merupakan tokoh sentral di dalam cerita dan mengalami

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap novel Belenggu karya Armijn Pane, dapat disimpulkan beberapa hal:1) Struktur Kepribadian Dokter Sukartono yang

“Modernisasi dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane “Sebuah Kajian Sosiologi Sastra”.. JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN

Dengan berlandaskan teori Hurlock (2012) tersebut maka dampak dari perceraian yang terjadi pada anak yang tergambar dari novel The Last Song ini meliputi

pendekatan ini diharapkan penelitian akan tersaji lebih jelas dan spesifik dalam menggambarkan konsep konflik batin yang tergambar dari kedua novel tersebut

Pada novel Padusi karya Ka’bati, kedudukan perempuan Minangkabau yang tergambar dalam novel ini dilihat dari tokoh ibu Dinar dan ibu Sahara. Berikut kedudukan perempuan

Proses sosial akomodasi yang terlihat pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata tergambar dalam tokoh Paman (Kahar), dalam novel ini Paman berusaha memberikan

Ketiga , wacana militer yang dimunculkan dalam novel-novel era reformasi adalah wacana militer masa lalu (Orde Baru), sampai penelitian ini berakhir belum