LAPORAN PENDAHULUAN ASITES
A. DEFINISI
Asites adalah penimbunan cairan secara abnormal di rongga peritoneum. Pada dasarnya penimbunan cairan di peritoneum apat terjadi melalui 2 mekanisme dasar yakni transudasi (contoh: sirosis hati dan hipertensi) dan eksudasi. (Sudoyo Aru, dkk. 2009: 29).
Asites adalah penimbunana cairan secara abnormal di rongga peritoneum, asites dapat disebabakan oleh banyak penyakit. Pada dasarnya penimbunan cairan di rongga peritoneum dapat terjadi melalui mekanisme dasar yakni transudasi dan eksudasi, asites ada hubunganya dengan sirosis hati dan hipertensi porta adalah salah satu contoh penimbunan cairan di rongga peritoneum yang terjadi melalui mekanisme transudasi. (Ilmu Penyakit Dalam).
Asites adalah penumpukan cairan patoligis dalam rongga abdominal, laki-laki dewasa yang sehat tidak mempunyai atau terdapat sedikit cairan intraperitorial, tetapi pada wanita terdapat sebanyak 20 ml tergantung pada siklus menstruasi. (Silvia. A. Pirice, 2006).
B. PATOFISIOLOGI
Sumber: Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan Profesional (Nanda NIC-NOC), 2013.
Virus alcohol
Kerusakan pada liver
Penurunan kemampuan pembentukan albumin
Tahanan alirab ke vena meningkat
Penurunan serumalbumin Tekanan hidrostatik kapiler meningkat
Menekan hepar asites Sirkulasi volume darah keseluruh tubuh menurun
Penekanan diafragma Kelebihan volume cairan
Penyimpanan Ha+ dan
↓ sirkulasi darah ke ginjal Penekanan ruang paru Resiko ketidakefektifan perfusi ginjal
Resiko ketidakefektifan
C. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Foto thorax dan abdomen
1) Kenaikan diafragma dengan atau tanpa efusi pleura simphatetik (hepatic hydrothorax) terlihat pada asites masif. Jika terdapat lebih dari 500 ml cairan asites harus dilakukan pemeriksaan BNO.
2) Tanda-tanda beberapa tanda asites nonspesifik seperti gambar abdomen buram, penonjolan panggul, batas PSOAS kabur, ketajaman gambar intraabdomen berkurang. Peningkatan kepadatan pada foto tegak, terpisahnya gambar lengkung usus halus, dan terkumpulnya gas di usus halus.
3) Tanda-tanda berikut lebih spesifik dan dapat dipercaya. Pada 80% pasien asites, tepi lateral hati diganti oleh dinding thorax abdomen (Hellmer sign).
Obliterasi sudut hepatik terlihat pada 80% orang sehat. Pada pelvic penumpukan cairan pada kantung rektovesika dan dapat meluap ke fossa paravesika. Adanya cairan memberikan gambaran kepadatan yang simetris pada kedua sisi kantung vesika urinaria yang di sebut ”dog’s ear” atau ”mickey mouse” appearance.
Pergeseran sekum dan kolon ascenden kearah tengah dan pergeseran, dan pergeseran garis lemak properitoneal kelateral terlihat pada 90% dengan asites yang signifikan.
USG
menyebabkan terjadinya peningkatan akustik. Cairan asites tidak akan menggeser organ, tetapi cairan akan berada diantara organ-organ tersebut. Akan terlihat jelas batas organ, dan terbentuk sudut pada perbatasan antara cairan dan organ-organ tersebut. Jumlah cairan minimal akan terkumpul pada kantung morison dan mengelilingi hsti membentuk gsmbar karakteristik polisiklik, ”lollipop” atau arcuate appearance di karenakan cairan tersebut tersusn secara vertikal pada sisi mesenterium.
2) Gambar sonographic tertentu menunjukan adanya asites yang terinfeksi, inflamasi, atau adanya keganasan. Gambar tersebut meliputi echoes internal kasar (darah), echoes internal halus (chyle), septal multiple (peritonitis tuberkulosa, pseudomyxoma, peritonei), distribusi cairan terlokalisir atau atipik, gumpalan lengkung usus, dan penebalan batas antara cairan dan organ yang berdekatan.
3) Pada asites maligna lengkung usus tidak dapat mengapung secara bebas, tetapi tertambat pada dinding posterior abdomen, melekat pada hati atau oargan lainnya atau lengkung usus tersebut dikelilingi oleh cairan yang terlokalisir.
4) Kebanyakan pasien (95%) dengan keganasan peritonotis mempunyai ketebalan dinding empedu kurang dari 3mm. Penebalan kantung empedu berhubungan dengan asites jinak pada 82 % kasus. Penebalan kantung empedu secara umum akibat sirosis dan HT portal.
CT-Scan
kelenjar limfe berhubungan dengan adanya massa yang berasal dari usus, ovarium, atau pankreas, yang menunjukkan adanya asites maligna.
Pada pasien dengan asites maligna kumpulan cairan terdapat pada ruang yang lebih besar dan lebih kecil, sementara pada pasien dengan asites benign cairan terutama terdapat pada ruang yang lebih besar dan tidak pada bursa omental yang lebih kecil.
PEMERIKSAAN LAIN
1) Laparoskopi dilakukan jika terdapat asites maligna. Pemeriksaan ini penting untuk mendiagnosa adanya mesothelioma maligna.
2) Parasentesis abdomen
Parasentesis abdomen adalah pemeriksaan yang paling cepat dan efektif untuk mendiagnosa penyebab asites. Parasentesis terapetik dilakukan untuk asites masif atau sulit disembuhkan. Pengeluaran 5 liter cairan merupakan parasentesis dalam jumlah besar. Parasentesis total, atau pengeluaran semua cairan asites (di atas 20 liter) dapat di lakukan secara aman. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa pemberian albumin 5 g/l pada parasentesis diatas 5 liter dapat menurukan komplikasi parasentesis seperti gangguan keseimbangan elektrolit dan peningkatan serum kreatinin akibat pertukaran cairan intravaskuler.
3) Transjugular intrahepatik portacaval shunt (TIPS)
DERAJAT
Secara Semikuantitatif
a. Derajat 1+ terdeteksi hanya pada pemeriksaan yang secara seksama. b. Derajat 2+ dapat mudah terlihat tetapi dengan volume relatif sedikit. c. Derajat 3+ asites jelas tetapi belum masif.
d. Derajat 4+ asites masif.
D. TEORI DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Assisment keperawatan a. Identitas
Umur, nama, jenis kelamin, alamat, pekerjaan b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama : sulit untuk bernapas (sesak) dan sulit beraktivitas
2) Penyakit sekarang : bagian perut membesar, mual, muntah, sesak napas, sulit beraktivitas, lemah, nyeri 3) Penyakit dahulu : pernah ada menderita penyakit yang sama 4) Penyakit keluarga : adanya angota keluarga yang pernah
mengalami penyakit yang sama c. Pemeriksaan fisik
1) System pernapasan : sesak, epistaksia, napas dangkal, pergerakan dinding dada, perkusi, auskultasi suara napas, nyeri dada
2) System kardiovaskuler : terjadi kegagalan sirkulasi, nadi bias cepat/lambat, penurunan tekanan darah
3) System integument : kulit tampak ikterik, tugor kulit kembali >3 detik, kulit teraba agak kering, kulit diperut menjadi kelihatan agak tipis
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan volume cairan (kelebihan) berhubungan dengan natrium dan intake cairan yang tidak adekuat
2. Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan asites
3. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tugor kulit yang kurang baik dan asites
F. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan volume cairan (kelebihan) berhubungan dengan natrium dan intake cairan yang tidak adekuat
a. tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x8 jam dinas masalah volume cairan (kelebihan) dapat teratasi
b. criteria : asites di perut berkurang lingkar perut menjadi normal intake dan output berimbang
c. intervensi :
1) kaji intake dan output cairan tiap hari
R : mengevaluasi intake dan output sudah berimbang
2) observasi lingkar perut tiap hari
R : mengevaluasi ukuran asites perut klien
3) berikan diet yang rendah garam
R : natrium dapat berubah menjadi cairan
4) jelaskan alasannya harus diberi diet rendah garam
R : biar klien tau alasan dari diberikannya diet rendah garam
5) kolaborasi dalam pemberian obat diuretic R : mengurangi edema dan asites
2. Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan asites
a. tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x8 jam dinas masalah resiko tinggi pola napas tidak efektif dapat teratasi
tanda-tanda sesak napas tidak ada TTV normal
c. intervensi :
1) kaji pola napas klien
R : mengevaluasi pola napas yang tidak efektif 2) observasi TTV
R : mengevaluasi respirasi klien cepat/lambat 3) auskultasi suara napas dan jantung
R : mengetahui suara napas dan jantung 4) latih teknik napas dalam
R : mengurangi rasa sesak
5) kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian O2
R : apabila klien makin sesak kita dapat mengetahui tindakan keperawatan selanjutnya
3. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tugor kulit yang kurang baik dan asites
a. tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x8 jam dinas masalah resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit belum terjadi
b. kriteria : tugor kulit baik lingkar perut normal
tidak ada tanda-tanda kerusakan integritas kulit c. intervensi :
1) kaji keadaan kulit klien
R : mengevaluasi ada tanda-tanda kerusakan integritas kulit 2) observasi keadaan asites klien
R : asites diperut semakin besar akan merusak integritas kulit 3) tinggikan ekstrimitas bagian bawah
R : mengurangi edema pada bagian ekstrimitas bawah 4) beri tahu klien untuk mika miki
5) kolaborasi dengan tim kesehatan lain
DAFTAR PUSTAKA
Giner P. dkk, currents concepts : managemen of cirhasis and asites : 2004
Muhin, H. 2008. Panduan ilmu penyakit dalam. Jakarta : EGC