ANALISIS COLLECTIVE ACTION DALAM PENGELOLAAN
DAN REHABILITASI TERUMBU KARANG
(STUDI KASUS PIU COREMAP TAHAP II KOTA BATAM)
MAKALAH UAS EKONOMI KELEMBAGAAN DOSEN :
PROF. Dr. DIDIK J. RACHBINI PADANG WICAKSONO, Ph. D
NURBAITI
1406512436
PROGRAM STUDI MAGISTER PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
STATEMENT OF AUTHORSHIP
“Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa Makalah UAS Ekonomi Kelembagaan terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa menyebutkan sumbernya”.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menyatakan menggunakannya.
Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme”.
Nama : Nurbaiti NPM : 1406512436
Mata Ajar : Ekonomi Kelembangaan Tanggal : 30 Desember 2015
Dosen : PROF. Dr. Didik J. Rachbini / Padang Wicaksono, Ph. D
!
Jakarta, 30 Desember 2015
ANALISIS COLLECTIVE ACTION DALAM PENGELOLAAN
DAN REHABILITASI TERUMBU KARANG
STUDI KASUS : PIU COREMAP TAHAP II KOTA BATAM
Nurbaiti
Magister Perencanaan Kebijakan Publik
Abstrak
Indonesia sebagai Negara ke dua setelah Australia yang memiliki Terumbu karang (Coral Reef) dan sebagai pusat keanekaragaman 450 species hayati didunia menjadikan Common Pool Resources (CPR) yang sangat potensial dan patut dijaga kelestariannya. Dalam upaya pengelolaan
dan rehabilitasi terumbu karang tersebut, Pemerintah Indonesia dengan bantuan donor dari ADB
dan World Bank memprakarsai program yang dikenal dengan COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Mangement Program) dalam jangka panjang yang dimulai sejak tahun 1998 hingga sekarang dibawah koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pelaksanaan
tingkat daerah Kota/Kabupaten dibentuk kelembagaan PIU (Project Implementation Unit) sebagai bentuk collective action yang ditetapkan melalui SK Walikota/Bupati. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengidentifikasi permasalahan kelembagaan yang terjadi serta menganalisa pelaksanaan collective action dalam pengelolaan terumbu karang. Dengan metode penelitian analisa deskriptif pada studi kasus terhadap pelaksanaan PIU COREMAP Kota Batam menunjukkan hasil collective action
yang ada dalam pengelolaan CPR Terumbu Karang tidak dapat berjalan maksimal dikarenakan
design kelembagaan yang diidentifikasi melalui 8 (delapan) prinsip Ostorm tidak dapat terpenuhi
semuanya. Selain itu antara kompetensi dan kemapuan para stakeholder yang terlibat dalam collective action masih berada pada kondisi ada komitmen tetapi tidak memiliki kompetensi
maupun sebaliknya. Hal inilah yang perlu diperbaiki kedepannya untuk mencapai tujuan
collective action dalam pengelolaan Common Pool Resources (CPR) dalam program COREMAP
kedepannya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia yang dikenal sebagai Negara kepulauan terbesar didunia, memiliki sumber daya alam hayati laut yang sangat potensial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh KIARA pada tahun 1998, menunjukkan bahwa luas terumbu karang Indonesia sebesar 42.000 m2 atau 16,5% dari luasan terumbu karang didunia. Dengan luasan tersebut Indonesia menduduki peringkat 2 dunia setelah Australia yang memiliki luasan terumbu karang sebesar 48.000 km2. Dari segi keanekaragaman hayati Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia dengan 450 spesies.
Hal ini tentunya menjadi aset sumberdaya alam yang harus dilestarikan, namun sebagai sumberdaya milik bersama (common pool resources), tentunya sulit untuk membatasi dalam pemanfaatannya oleh masyarakat yang pada akhirnya cara-cara pemanfaatan yang salah menimbulkan kerusakan yang besar terhadap terumbu karang di Indonesia. Kerusakan terumbu karang yang terjadi selain karena faktor ilmiah (iklim, tsunami,dll) juga terjadi akibat faktor manusia (penggunaan bom dan potassium, serta sampah). Dalam pemanfaatannya sebagai Common Pool Resources terjadi pemanfaatan yang berlebihan (overuse) dan adanya free rider, sehingga sulitnya melakukan
collective action dan sifat non-excludable.
Dalam upaya pelestarian tersebut, Pemerintah Indonesia melaksanakan program yang bertujuan untuk melindungi, merehabilitasi dan mengelola pemanfaatan secara lestari dalam pemanfaatan terumbu karang serta ekosistem terkait melalui program jangka panjang COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) sebagai bentuk collective action dalam mencapai tujuan akhir yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir1. Program COREMAP merupakan program jangka panjang yang direncanakan pelaksanaannya selama 15 tahun dimulai dari tahun 1998 dan berakhir pada tahun 20132 yang skema pendanaannya melalui pinjaman yang berasal dari ADB, World Bank serta AusAID3 dan pelaksanaannya melalui
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
1!
Program COREMAP merupakan program Rehabilitasi Terumbu Karang jangka panjang, informasi dapat diakses melalui http://www.coremap.or.id
2!Program dilaksanakan melalui 3 tahap, Tahap I (1998-2001), Tahap II (2001-2007) dan Tahap III (2007-2013), namun seiring adanya perubahan tata kola pemerintahan program ini dilanjutkan hingga tahun 2015, informasi dapat diakses melalui http://www.coremap.or.id
pembentukan PIU (Project Implementation Unit) ditiap daerah wilayah program sebagai wadah pengelola. Program ini sudah seharusnya menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang, namun ternyata collective action yang diharapkan untuk pelestarian terumbu karang melalui PIU COREMAP disetiap daerah, tidak menunjukkan hasil yang signifikan dalam perbaikan kondisi terumbu
karang di Indonesia.
Gambar 1.1 Kondisi Terumbu Karang Indonesia Tahun 2000 dan 2013
Berdasarkan data penelitian berdasarkan penelitian Pusat Pengembangan Oseanologi (P2O) LIPI yang dilakukan pada tahun 2000 dan pada tahun 2013 pada gambar 1.1 menunjukkan adanya perbaikan kondisi terumbu karang di Indonesia dimana terumbu karang yang rusak parah mengalami penurunan dari 41.78% ditahun 2000 menjadi 30.4% ditahun 2013. Namun jika dilihat secara kesuluruhan, kondisi terumbu karang yang rusak (rusak parah dan sedang) hanya berkurang 2,5% yang berarti sekitar 70% kondisi terumbu karang Indonesia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Sejalan dengan hal tersebut, berdasarkan penelitian KIARA (1998), program COREMAP tersebut yang melibatkan banyak pihak, baik instansi pemerintah, LSM internasional dan dibiayai dengan menggunakan dana utang dari ADB dan World Bank dalam jumlah besar tidak menunjukkan dampak yang lebih baik bagi perbaikan kawasan terumbu karang, justru kehidupan nelayan diwilayah program semakin terpuruk.
1.2 Rumusan Masalah
Terbentuknya PIU COREMAP didaerah program sebagai wadah pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang dibeberapa kawasan perairan Indonesia, menunjukkan kepedulian pemerintah dalam pelestarian pengelolaan CPR (Commons Pool Resources). Namun peranannya yang belum menunjukkan hasil yang memuaskan sebagaimana
dilihat pada data kondisi terumbu karang pada tahun 2000 dan 2013 yang dijelaskan diatas, perlu dikaji apakah PIU COREMAP yang sudah terbentuk ini mampu memenuhi syarat yang cukup agar peranannya lebih maksimal dalam pengelolaan dan pelestarian terumbu karang.
Namun demikian, collective action dalam pengelolaan terumbu karang melalui PIU COREMAP belum maksimal dirasakan oleh masyarakat yang berada diwilayah program khususnya. Pengelolaan terumbu karang ini tidak berjalan sebagaimana mestinya juga diakibatkan tidak adanya koordinasi antar sektor dalam pemanfaatan sumberdaya. Seluruh sektor secara bersama-sama memanfaatkan sumberdaya alam
berdasarkan acuan setiap Undang-Undang secara parsial (laut, eksplorasi tambang lepas pantai, jalur pelayaran, dll). Hal ini dikarenakan semua sektor dan daerah memaksimumkan capaiannya masing-masing dan dibiarkan dari waktu ke waktu, maka pengendalian dampak kumulatif tidak pernah ada dalam kebijakan nasional (Kartodiharjo, 2010).
Untuk itu perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk menganalisa pelaksanaan active collection yang terjadi pada program COREMAP, dimana penelitian ini difokuskan kepada efektifitas PIU COREMAP yang terbentuk dalam pengelolaan CPR Terumbu Karang dengan studi kasus pengelolaan PIU COREMAP di Kota Batam. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah mengidentifikasi permasalahan kelembagaan yang terjadi serta menganalisa pelaksanaan collective action dalam pengelolaan terumbu karang.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sumber Daya Alam Bersama (Common Pool Resources)
Teori “The Commons” merupakan teori yang dikemukakan oleh Ostrom sebagai
instrumen yang sering digunakan dalam memahami ataupun mendesain model
pengelolaan sumber daya alam. Menurut Ostrom (1990) Common Pool Resources
(CPR) yang terdapat didunia ini sangatlah besar dan bervariasi dalam pemanfaatan dan
yang merasakan manfaatnya, maka tidak ada institutional design yang sesuai dengan
bervariasinya CPR yang ada. Namun dalam mendesain kelembagaan CPR yang tepat
guna dan tepat sasaran harus memenuhi 8 (delapan) prinsip desain yang terdapat pada
tabel 2.1.
Tabel 2.1 Prinsip Desain Kelembagaan CPR yang Tepat
No Prinsip Penjelasan
1. Batas-batas terdefinisi jelas Sumberdaya dan pengguna terdefinisi dengan jelas 2. Relevansi a. Distribusi manfaat dari aturan yang sesuai
proporsional terhadap biaya pemaksaan oleh aturan yang ditentukan
b. Aturan yang sesuai membatasi waktu, tempat, teknologi dan/atau jumlah unit sumberdaya yang berkaitan dengan kondisi lokal
3. Pengaturan Collective Action Sebagian besar individu yang dipengaruhi oleh aturan operasional dapat berpartisipasi dalam memodifikasi aturan ini
4. Pemantauan/Monitoring Pemantau/pengawas, orang secara aktif mengaudit kondisi CPR dan behavior pengguna, dapat
dipertanggungjawabkan terhadap pengguna dan/atau pengguna sendiri
5. Penetapan Sanksi Pengguna yang melanggar aturan operasional harus menerima sanksi dari pengguna lain, dari petugas pemeriksa pengguna/dari keduanya
6. Mekanisme Resolusi Konflik Pengguna dan petugasnya mempunyai akses yang cepat untuk mengurangi biaya, arena- arena lokal untuk memecahkan konflik antar pengguna atau antara pengguna dan petugasnya
7. Pengenalan Hak Minimal untuk diatur
Hak pengguna untuk merancang kelembagaannya tidak bertentangan dengan otoritas eksternal pemerintah
8. Kelompok pengguna Penyisihan, penetapan, monitoring, penegakan, resolusi konflik dan aktivitas tata kelola pemerintahan
Sumber : Ostrom (1990)
Namun dalam pengelolaan sumberdaya alam yang besar khususnya dalam hal ini
sumberdaya terumbu karang tentunya akan mengalami kompleksitas yang tinggi,
sehingga bukan hanya desain kelembagaan tetapi keterkaitan antar sektor. Selain itu
menurut Ostorm, model pengelolaan yang melibatkan masyarakat yang merupakan
pemerintah. Masyarakat lokal sebagai pemanfaat CPR tentunya memiliki pengalaman yang lebih terkait pengetahuan lokal yang sangat berguna dalam pengelolaan CPR yang ada diwilayahnya.
2.2 Aksi Bersama (Collective Action)
Collective action merupakan aksi yang dilakukan bersama untuk menjaga
kepentingan bersama. Dimana menurut Eggertsson (1990) dalam membangun aksi bersama ada beberapa masalah penting yang harus diperhatikan diantaranya munculnya free riding behavior sehubungan dengan keinginan individu untuk memaksimalkan
utilitasnya, munculnya biaya aksi bersama yang berhubungan dengan pembuatan dan
penegakan kesepakatan, memperhatikan ukuran kelompok (group size) dan timbulnya masalah koordinasi antar pelaku.
Aksi bersama merupakan salah satu solusi mengatasi krisis pengelolaan terumbu karang dengan karakteristik Common Pool Resources (CPR) yang bersifat non-excludable, sangat berisiko menghadapi persoalan munculnya free rider dan rent
seeking. Apabila sumberdaya CPR tidak well defined dalam melakukan aksi bersama
(collective action) maka akan terjadi eksploitasi secara berlebihan untuk memaksimumkan utilitas para individu yang dapat mengakses (Hardin, 1968). Namun, menurut para ahli kelembagaan yaitu Ostrom (1990); Thompson (1992); McGinnis and Ostrom (1996); Gibson and Koontz (1998); Agrawal and Gibson (1999); dan Gibson et al. (2000) tidak sepenuhnya menyetujui pendapat Premis Hardin. Mereka mengatakan bahwa banyak bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa para pemanfaat CPR sering menciptakan tatanan kelembagaan yang dapat melindungi sumberdaya CPR yang dimilikinya dan mengatur alokasi pemanfaatan hasil-hasilnya secara efisien dan lestari melalui aksi-aksi bersama yang mereka bangun. Tentu saja bahwa tidak semua pengguna CPR berhasil dalam melindungi dan mengelola sumberdaya mereka secara lestari. Seperti halnya tidak semua pemilik sumberdaya pribadi (private property) mampu melindungi dan melestarikan sumberdayanya.
2.3 COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program)
Pelaksanaan Program ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari Tahap I sebagai proses inisiasi, tahap II sebagai proses Desentralisasi dan Akslerasi serta tahap III merupakan tahap pelembagaan yang akan berakhir di 2015 ini. Lokasi pelaksanaan COREMAP dibagi menjadi 2 kawasan, yaitu :
1. Kawasan Timur yang didanai oleh World Bank
Selayar (Sulawesi Selatan), Pangkajene (Sulawesi Selatan), Buton (Sulawesi
Tenggara), Sikka (Nusa Tenggara Timur), Biak (Papua), dan Raja Ampat (Papua).
Dalam perkembangan kemudian, dalam kaitan dengan pemekaran wilayah,
Kabupaten Buton berkembang menjadi kabupaten Buton dan Wakatobi.
2. Kawasan Barat yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB)
Kota Batam (Kepulauan Riau), Bintan (Kepulauan Riau), Natuna (Riau), Nias
Selatan (Sumatra Utara), Tapanuli Tengah (Sumatra Utara) dan Mentawai (Sumatra
Barat).
Dalam pelaksanaannya program COREMAP melibatkan para pihak terkait tidak
hanya Kementerian Kelautan dan Perikanan, namun juga melibatkan kementerian
lainnya. Diawal tahap I pelaksanaan COREMAP dikoordinasikan oleh LIPI, namun
pada tahap II dengan terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan koordinasi
berada langsung dibawah KKP hingga sekarang. Ditingkat nasional dibentuklah PMO
(Project Management Office) untuk menjalankan program sehari-harinya. Ditingkat
provinsi dibentuk RCU (Regional Coordinating Unit) yang berada dibawah koordinasi
Kepala Dinas Kelautan dan Perikatan Tingkat Provinsi, sedangkan lembaga ditingkat
daerah yang langsung berada di lokasi/wilayah program adalah dibentuknya PIU
(Project Implementation Unit) yang diketuai oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan
Tikat Kota/Kabupaten. Sedangkan di tingkat Kecamatan tidak ada struktur kelembagaan
yang formal. Camat berfungsi sebagai koordinator, apabila lokasi proyek melibatkan
beberapa desa dalam pengelolaan terumbu karang di wilayah kecamatan. Salah satu
bentuk keterlibatan tersebut adalah peran serta Camat dalam pembinaan
kelompok masyarakat yang merupakan perwakilan dari setiap elemen masyarakat di
BAB III
ANALISIS COLLECTIVE ACTION DALAM
PENGELOLAAN TERUMBU KARANG
3.1 Studi Kasus Kelembagaan PIU COREMAP Kota Batam
Kota Batam merupakan salah satu wilayah program COREMAP Tahap II yang
termasuk dalam kawasan Barat yang didanai oleh ADB sejak tahun 2004. Lokasi
Marine Management Area (MMA) COREMAP Tahap II di Kota Batam baru ditetapkan
pada tahun 2007 yang terdapat di 3 kelurahan (Pulau Abang, Galang Baru dan Karas)
yang tersebar di 7 site yang ditetapkan berdasarkan SK Walikota No. Kpts.
114/HK/VI/2007 yang dikeluarkan pada Juni Tahun 2007.
Sumber : Bappeda Kota Batam
Gambar 3.1 Lokasi COREMAP II Kota Batam
Dari sisi kelembagaan, PIU COREMAP Kota Batam sebagai unit pelaksana di
tingkat daerah dibentuk berdasarkan SK. Walikota Batam No. Kpts. 109/HK/V/2014,
dengan tugasnya adalah :
1. Melakukan koordinasi aspek perencanaan dalam rangka memadukan perencanaan
pembangunan kegiatan program COREMAP Kota Batam dengan pembangunan
daerah serta melakukan pemantapan perencanaan pembangunan Kota Batam secara
berkesinambungan.
2. Melaksanakan survey dalam rangka pembangunan program COREMAP
3. Melaksanakan pengendalian, pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan
4. Membuat laporan perkembangan secara berkala sesuai dengan tahap perencanaan
dan tahapan pengendalian serta analisa kegiatan terhadap program yang terkait dalam
kegiatan program COREMAP Kota Batam.
Keanggotan PIU COREMAP Kota Batam sebagai pemangku kepentingan
(stakeholder) pengelolaan terumbu karang merupakan pejabat dari dinas/instansi di
lingkungan Pemerintah Kota Batam. Tentunya untuk menetapkan secara tepat
sebenarnya siapa saja yang harus terlibat dalam kelembagaan PIU COREMAP bukan
hal yang mudah, mengingat batasan-batasan dari stakeholder yang sangat luas mulai
dari tingkat individu sampai kepada tingkat pemerintahan, swasta dan LSM.
Keanggotaan PIU COREMAP Kota Batam yang berdasarkan SK Walikota Batam
belum menggambarkan representasi yang nyata didalam masyarakat, hanya berdasarkan
jabatan yang dimiliki sehingga duduk dalam keanggotaan.
3.2 Analisis dan Pembahasan
Keanggotan PIU COREMAP Kota Batam belum melibatkan masyarakat yang
berada diwilayah program, sebagaimana menurut Ostorm (1990) model kelembagaan
yang melibatkan masyarakat tentunya akan lebih efektif, karena pengetahuan lokal
masayarakat yang lebih terhadap kondisi diwilayah program dibanding pemerintah.
Namun dalam hal ini, komitmen dan kompetensi menjadi hal yang penting dalam
collective action pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang di Kota Batam. Dalam
analisis ini dapat dibuat kuadran antara komitmen dan kompetensi yang dimiliki oleh
anggota PIU COREMAP Kota Batam.
KOMITMEN
MAU TIDAK MAU
KOMPETENSI BISA I II
TIDAK BISA III IV
Gambar 3.2 Matriks Komitmen dan Kompetensi dalam menunjang Collective Action COREMAP Kota Batam
Dalam pelaksanaannya PIU COREMAP harus berada di Kuadran I sehingga
collective action yang diharapkan dapat terlaksana, yang dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. PIU COREMAP Kota Batam yang merupakan kelembagaan yang akan berjalan jika
stakeholder yang terlibat dalam keanggotaan, yang berasal dari dinas/instansi terkait
2. Tantangan bagi jalannya PIU COREMAP Kota Batam agak sedikit longgar jika
situasi yang dihadapi berada di Kuadran II dan III: Memiliki komitmen tetapi tidak
memiliki kompetensi ataupun sebaliknya. Jika berada pada kuadran II (bisa tapi tidak
mau) maka proses kebijakan terseret dalam proses politis: menuntut atau memaksa
agar mereka bersedia bekerja secara partisipatif dan mengembangkan mekanisme
yang partisipatif. Jika berada pada kuadran III (mau tapi tidak bisa) maka langkah
yang diperlukan adalah mengembangkan kompetensinya.
3. Jika kelembagaan PIU COREMAP Kota Batam berada di kuadaran IV: sudahlah
tidak tahu dia tidak mau lagi, collective action tidak akan berjalan sama sekali.
Hasil identifikasi terhadap stakeholder yang terlibat dalam PIU COREMAP Kota
Batam sebagian besar anggotanya termasuk dalam kuadran II dan III, bahkan pada
kuadran IV karena terlanjur dicantumkan meskipun yang bersangkutan tidak aktif lagi
dikarenakan keanggotaan harus merubah SK. Anggota yang aktif berperan dalam PIU
COREMAP Kota Batam sesuai dengan matriks tersebut berada pada kuadran I
didominasi oleh sebagian pejabat yang memang mengerti atau berlatarbelakang
pendidikan perikanan dan kelautan yang mempunyai kompetensi dan komitmen.
Namun dalam struktur pemerintahan sering terjadi mutasi dan kenaikan pangkat,
menyebabkan keanggotaan PIU COREMAP Kota Batam bersifat dinamis sehingga
sering terjadi pergantian orang berdasarkan jabatan yang tertuang didalam SK (dalam
hal ini SK tidak menyebut nama anggota tetapi jabatan anggota).
Sedangkan mengacu kepada 8 (delapan) prinsip Ostorm (1990) tentang desain
kelembagaan PIU COREMAP Kota Batam dapat dilihat sebgai berikut :
Tabel 3.1 Kondisi Desain Kelembagaan PIU COREMAP Kota Batam
No Prinsip Kondisi PIU COREMAP Kota Batam
1. Batas-batas terdefinisi jelas
tempat, yang berkaitan dengan kondisi lokal
Tidak Ada
Ada, tetapi belum terlalu jelas
3. Pengaturan Collective Action Tidak
4. Pemantauan/Monitoring Ada
5. Penetapan Sanksi Belum ada kesepakatan sanksi 6. Mekanisme Resolusi Konflik Belum ada penjelasan mendetail 7. Pengenalan Hak Minimal untuk diatur Sebagian sudah
Berdasarkan pendekatan prinsip Ostorm (1990) menunjukkan yang terjadi pada
design kelembagaan PIU COREMAP Kota Batam dalam kaitannya dengan collective
action pengelolaannya sangat lemah keberlangsungannya dan cenderung tidak terdesign
dengan baik, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Dalam penentuan lokasi CPR telah ditetapkan melalui SK Walikota, sedangkan users
CPR tersebut tidak dibatasi, sehingga siapapun dapat menikmati dan memanfaatkan
CPR tersebut. Hal ini menunjukkan masih ada batas-batas yang tidak terdefinisi
secara jelas.
2. Dalam relevansinya dengan distribusi manfaat dari aturan serta aturan yang
membatasi yang sesuai dengan kondisi lokal secara keseluruhan belum ada, sehingga
secara relevansi collective action PIU COREMAP tidak ada.
3. Pengaturan dalam collective action belum ada, hanya pengaturan pembentukan
kelembagaan dan tugas secara umum.
4. Pemantauan/monitoring sudah ada dan dilakukan pertriwulan oleh PIU COREMAP
sesuai dengan bidang tugas yang telah dibentuk, namun sifat laporan hanya berupa
hasil monitoring yang disampaikan kepada pemegang proyek (laporan administrasi
kegiatan)
5. Belum adanya sanksi turunan dari UU No.31 Tahun 2004 tentang perikanan
yangyang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sebagai pendukung collective action.
6. Dalam mekanisme resolusi konflik juga belum dimiliki oleh PIU COREMAP, hanya
berdasarkan pada saat kejadian dilapangan diselesaikan secara tidak tersistematis.
7. Dalam penetapan hak minimal untuk diatur kelembagaan PIU COREMAP sebagian
sudah diterapkan sesuai dengan tugas dan fungsi, tetapi masih bersifat umum
8. Pembatasan users memang belum ada, tetapi penetapan kelompok pengguna sudah
dilakukan dengan pembentukan POKMAS (Kelompok Masyarakat).
Berdasarkan hasil analisa menunjukkan PIU COREMAP Kota Batam sebagai
salah satu upaya untuk memperbaiki pengelolaan CPR terumbu karang di Kota Batam
belum mencapai hasil yang diharapkan secara maksimal. Selain karena faktor
koordinasi dari aspek tinjauan teori- teori yang berkaitan dengan collective action,
kegagalan ini juga dikarenakan para stakeholder yang terlibat sebagian besarnya
mempunyai komitmen tetapi tidak memiliki kompetensi. PIU COREMAP Kota Batam
belum bisa memenuhi secara keseluruhan prinsip-prinsip design kelembagaan collective
Batam tidak maksimal dalam mengendalikan penggunaan SDA yang berkarakteristik
CPR, pada saat-saat tertentu peran PIU COREMAP menjadi penting terutama untuk
menjadi mediator antara pemerintah dengan masyarakat. Selain itu yang menunjukkan
kurang berjalannya program pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang di Kota
Batam adalah berdasarkan laporan tahunan CRITC-COREMAP Kota Batam (2009)
menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di Kota Batam pada kedalaman 10 m
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Program pengelolaan dan pelestarian terumbu karang yang diprakarsai pemerintah
Indonesia melalui program COREMAP dilaksanakan dibeberapa kawasan barat dan
timur Indonesia dengan tujuan untuk melindungi, merehabilitasi, dan mengelola
pemanfaatan secara lestari terumbu karang serta ekosistem terkait di Indonesia, yang
pada gilirannya akan menunjang kesejahteraan masyarakat pesisir. Tujuan ini akan
tercapai dengan didukungnya keberhasilan dari collective action yang dilakukan
disetiap wilayah program.
Namun collective action yang diharapkan belum menunjukkan hasil maksimal,
sehingga pelaksanaan program COREMAP khususnya mengurangi jumlah terumbu
karang yang rusak belum tercapai, sehingga program yang dilakukan terkesan
pemborosan mengingat seluruh pendanaan program dilakukan dengan mekanisme
pinjaman dari ADB dan World Bank. Melalui studi kasus yang dilakukan di PIU
COREMAP Kota Batam, dapat disimpulkan :
1. Komitmen saja yang dimiliki tanpa kompetensi yang memadai dalam pengelolaan
dan rehabilitasi CPR khususnya terumbu karang menyebabkan collective action yang
diharapkan tidak terlaksana.
2. Tidak maksimalnya pelaksanaan collective action yang terjadi juga dikarenakan
design kelembagaan yang belum memenuhi prinsip design kelembagaan yang
efektif, sehingga tujuan program sulit untuk tercapai.
3. Belum adanya keterlibatan masyarakat sebagai user resources secara kelembagaan
formal dalam mendorong pelaksanaan collective action di wilayah program.
4.2 Rekomendasi
Dalam upaya mendorong pelaksanaan collective action secara maksimal pada
program COREMAP dapat disampaikan rekomendasi:
1. Peningkatan kompetensi anggota dari kelembagaan PIU COREMAP yang telah
dibentuk merupakan suatu keharusan sehingga komitmen yang telah ditetapkan dapat
terlaksana.
2. Perlibatan masyarakat sebagai user resources dalam mendesign kelembagaan formal
akan lebih efektif untuk menciptakan collective action dalam pengelolaan dan
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Kota Batam. 2009. Laporan Monitoring Kesehatan Terumbu Karang COREMAP II Kota Batam. Pemerintah Kota Batam.
Eggertsson, Thrainn. 1990. Economic Behavior and Institutions. Cambridge University Press. United States of America.
Hardin, G. 1968. The tragedy of the commons. Science
Kartodihardjo, H. 2010. Pengelolaan Hutan Bagi Penurunan Emisi Karbon dan
Menjaga kelestarian Lingkungan Hidup : Masalah “the trapped administrators”. Tanggapan terhadap materi ceramah Menteri Kehutanan sebagai bahan diskusi di Lembaga Ketahanan Nasional, 3 Juni 2010.
Ostrom, Elinor. 2003. How Types of Goods and Property Rights Jointly Affect Collective Action, Journal of Theoretical Politics, Vol. 15, No. 3, 239-270 (2003).
Ostrom, E. 2008. Doing Institutional Analysis: Digging Deeper Than Markets and
Hierarchies in Handbook of New Institutional Economics, Edited by Mé nard, C. and Shirley, M. M. Springer‐ Verlag Berlin Heidelberg.
SK. Walikota Batam No. Kpts. 109/HK/V/2014 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Proyek (Projrct Implementation Unit) COREMAP II Kota Batam
SK Walikota No. Kpts. 114/HK/VI/2007 tentang Lokasi Marine Management Area
(MMA) COREMAP Tahap II di Kota Batam.
Website COREMAP Nasional http://www.coremap.or.id/ diakses pada 10 Desember
2015
Website COREMAP Kota Batam http://regional.coremap.or.id/batam/ diakses pada 14 Desember 2015
Website KIARA
http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2013/05/Evaluasi-Coremap-II.pdf diakses pada 10 Desember 2015
Website
https://www.researchgate.net/profile/Bejo_Slamet2/publication/280239348_Kegagalan_ Collective_Action_Dalam_Pengelolaan_Daerah_Aliran_Sungai_%28Studi_Kasus_Kele
mbagaan_Forum_DAS%29/links/55aee81b08aed9b7dcdda8ef.pdf diakses pada 9