MAKALAH MANDIRI FIQIH MU’AMALAH “JUAL BELI DENGAN SISTEM KREDIT” Makalah ini disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Fiqih Mu’amalah
DOSEN PENGAMPU : Imam Mustofa, S.H.I., M.SI.
DISUSUN OLEH : FAHRIYANI (1502100177)
KELAS D
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PENDAHULUAN
Jual beli sistem kredit datang menyeruak diantara segala sistem bisnis yang ada. Sistem ini mulai diminati banyak kalangan, karena rata-rata manusia itu kalangan menengah ke bawah, yang mana kadang-kadang mereka terdesak untuk membeli barang tertentu yang tidak bisa dia beli dengan kontan, maka kredit adalah pilihan yang mungkin dirasa tepat.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya jual-beli, baik itu secara kontan (langsung) maupun kredit yang dinilai lebih bernilai ekonomis dan menungtungkan bagi kedua pihak. Maka dari itu mempelajari hukum jual-beli termasuk kategori ilmu wajib, bagi siapa saja yang akan melakukan praktek tersebut agar dapat memahami betul urusan ini dan tidak salah dalam menentukan langkah yang akan kita capai.
Banyak umat muslim menganggap remeh hal ini, akibatnya mereka tidak saja menabrak yang subhat tetapi juga yang jelas-jelas haram, kita tidak tahu bagaimana agama mereka terselamatkan setelah itu, sebab telah diketahui bahwa setiap jasat yang tumbuh dari barang haram maka nerakalah yang pantas baginya. Tuhan Maha baik Dia tidak menerima kecuali yang baik, jika Allah telah mengharamkan sesuatu maka haram pula nilai dan harganya, banyak sekali dalil yang menegaskan hal tersebut. Entah apa yang akan terjadi jika kita terus mu’amalah dengan riba dan perkara-perkara haram lainnya.
1. Pengertian Jual Beli Dengan Sistem Kredit
Dalam bahasa Arab jual beli disebut Al-Bai’, menurut etimologi adalah tukar menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain.1 Sedangkan menurut Sayid sabiq adalah tukar-menukar dengan sesuatu yang lain atau tukar-menukar secara mutlak. Jual beli merupakan istilah yang dapat digunakan untuk menyebut dari dua sisi transaksi yang terjadi sekaligus, yaitu menjual dan membeli.2 Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa jual beli adalah tukar menukar apa saja baik antara barang dengan barang lain maupun barang dengan uang.
Dalam bahasa latin kredit di sebut “Credere” yang artinya percaya. Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit yang di salurkan pasti akan di kembalikan sesuai perjanjian.3
Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan nomor 10 tahun 1998, “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.4
Istilah kredit didefinisikan sangat beragam. Hasan Alwi dalam bukunya Kamus Bahasa Indonesia Edisi II, mengatakan bahwa kredit adalah cara menjual barang dengan pembayaran secara tidak tunai (pembayaran ditangguhkan atau diangsur). Tentang kredit ini, Murtadla Muthahhari mengatakan bahwa transaksi secara kredit pada hakikatnya adalah mengambil manfaat dari keadaan terdesak. Sedangkan yang dimaksud dengan pembelian dengan cara kredit adalah suatu pembelian yang dilakukan terhadap sesuatu barang pembayaran harga barang tersebut dilakukan secara berangsur-angsur sesuai dengan tahapan pembayaran yang telah disepakati kedua belah pihak (pembeli dan
1 Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalat,(Jakarta: PT. Aneka Press, 2008), hal, 173.
2 Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 21
3 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 101
4 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, cet. Ke-5, (Jakarta: PT. Kencana, 2005), h.
penjual). Jenis jual beli kredit yang sering dipraktekkan dewasa ini adalah kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan, kredit alat-alat rumah tangga, dan lain-lain sebagainya.5
Ikatan Akuntan Indonesia mendefinisikan kredit adalah pinjaman uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Hal yang termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama, kredit dalam restrukturisasi, dan pembelian surat berharga nasabah yang dilengkapi dengan Note Purchase Agreement (NPA).
2. Hukum Jual Beli Dengan Sistem Kredit Dalam Islam
Apabila kita membicarakan tentang masalah penjualan dan
Artinya : “ Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba),
5 Al-hakim Lukman dan Muslim Muslihun, Muqaranah Fi Al-Mu’amalah, (Yogyakarta: Kurnia Kalam
Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Q.S Al Baqarah : 275)
Ayat diatas merupakan dalil nash yang menjadi dasar bagi kita dalam menangani muamalah jenis ini, yang pada intinya bahwa Islam melarang jual beli setiap tindakan pembungaan uang, akan tetapi tidak boleh menganggap bahwa Islam melarang jual beli secara kredit.
Apalagi di dalam masyarakat yang menganut system perekonomian modern seperti saat ini yang sangat menuntut pada pengkreditan dan pinjaman. Dalam semua itu masing-masing pihak ingin sama-sama diuntungkan, akan tetapi kadang keuntungan yang diperoleh tidak sama dan berubah-ubah karena perekonomian Negara kurang stabil.6 Ada dua pandangan mengenai hukum dari jual beli dengan system kredit, seperti di bawah ini.
a. Hukum yang Memperbolehkan Kredit
Ulama dari empat madzhab, Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah, Hambaliyah, Zaid bin Ali dan mayoritas ulama membolehkan jual beli dengan sistem ini, baik harga barang yang menjadi obyek transaksi sama dengan harga cash maupun lebih tinggi. Namun demikian mereka mensyaratkan kejelasan akad, yaitu adanya kesepahaman antara penjual dan pembeli bahwa jual beli itu memang dengan sistem kredit. Dalam kasus ini biasanya penjual meyebutkan dua harga, yaitu harga cash dan harga kredit.7 Adapun ayat yang juga berhubungan juga dengan masalah. Allah SWT berfirman :
َل َو ۚإل ۡدَََعۡلٱإب ُۢبإتاَََك ۡمُكَن ۡيّب بُت ۡكَيۡل َو ُۚهوُبُت ۡكٱَََف ى ّٗم َََسّم ٖلَََجَأ ٰٓىَلإإ ٍن ۡيَدََإب مُتنَياَدَت اَذإإ ْا ٓوُنَمآَ َنيإذّلٱ اَهّيَأَٰٓي ۡس َخ ۡبَي َل َو ۥُهّب َر َ ّلٱ إقّتَيۡل َو ّقَََحۡلٱ إه ََۡيَلَع يإذّلٱ إلإل ۡمُيۡل َو ۡبُت ۡكَيۡلَف ُّۚلٱ ُهَمّلَع اَمَك َبُت ۡكَي نَأ ٌبإتاَك َبۡأَي ۥُهّيإل َو ۡلََإل ۡمُي ۡلَف َوََُه ّلََإمُي نَأ ُعي إطَت ََۡسَي َل ۡوَأ اًفيإع َََض ۡوَأ اًهيإف َََس ّق َح ۡلٱ إه ۡيَلَع يإذّلٱ َناَك نإإَف ۚا ٗٔ ۡيَش ُه ۡنإم َن ۡو َََض ۡرَت نّمإم إناَََتَأَر ۡمٱ َو ٞلََُجَرَف إن ۡيَلُجَر اَََنوُكَي ۡمّل نإإَف ۖۡمُكإلاَجّر نإم إن ۡيَديإهَش ْاوُدإه ۡشَت ۡسٱ َو ۚإل ۡدَعۡلٱإب َٔ ََۡسَت َل َو ْۚاوََُعُد اَََم اَذإإ ُٓءَدَهّشلٱ َبۡأَي َل َو ٰۚىَر ۡخُ ۡلٱ اَمُه ٰىَد ۡحإإ َرّكَذُتَف اَمُه ٰىَد ۡحإإ ّل إضَت نَأ إٓءَدَهّشلٱ َنإم
6 Kutbudin Aibak, Kajian Fiqih Kontemporer, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 216
mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Q.S Al-Baqarah : 282)
Membayar harga secara kredit diperbolehkan, asalkan tempo atau waktu ditentukan dan jumlah pembayaran telah ditentukan sesuai kesepakatan.8
َل َو ۚۡمُكنّم ٖضاَرَََت نَع ًةَر َََٰجإت َنوََُكَت نَأ ّلإإ إل ََإط َٰبۡلٱإب مُكَن ۡيَب مُكَل َٰو ََۡمَأ ْا ٓوُلُكۡأَََت َل ْاوََُنَمآَ َنيإذّلٱ اَهّيَأَٰٓي ا ٗميإح َر ۡمُكإب َناَك َ ّلٱ ّنإإ ۚۡمُكَسُفنَأ ْا ٓوُلُت ۡقَت ٢٩
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q.S An-Nisa : 29)
Namun para ulama ketika membolehkan jual-beli secara kredit yaitu, dengan ketentuan selama pihak penjual dan pembeli mengikuti kaidah dan syarat-syarat keabsahannya sebagai berikut :
a) Harga barang ditentukan jelas dan pasti diketahui pihak penjual dan pembeli.
b) Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari parktik bisnis penipuan.
c) Harga semula yang sudah disepakati bersama tidak boleh dinaikkan lantaran pelunasannya melebihi waktu yang ditentukan, karena dapat jatuh pada praktik riba.
d) Seorang penjual tidak boleh mengeksploitasi kebutuhan pembeli dengan cara menaikkan harga terlalu tinggi melebihi harga pasar yang berlaku, agar tidak termasuk kategori jual-beli dengan terpaksa yang dikecam Nabi saw.
Contoh : jika seseorang ingin membeli hp , tapi dia tidak bisa membayar secara kontan maka pedagang menawarkan dengan harga kredit dan tempo pembayaran, misalnya jika membeli hp secara kontan harganya 10 juta, akan tetapi kalau secara kredit, pedagang akan mengambil keuntungan misalnya 500 ribu, penambahan tersebut secara angsuran , akan terjadi diantara keduanya kesepakatan yang saling menguntungkan bagi si pembeli karna kredit meringankan dan bagi pedagang menguntungkan, jadi sama-sama mencari keuntunagan.9
b. Hukum yang Tidak Membolehkan Kredit
Kalangan ulama yang melarang jual beli dengan system kredit antara lain Zainal Abidin bin Ali bin Husen, Nashir, Manshur, Imam Yahya, dan Abu Bakar al-Jashash dari kalangan Hanafiyah serta sekelompok ulama kontemporer.10
Allah SWT berfirman :
ا ََٗميإلَأ اًباَذَََع ۡمُه ۡنإم َني إرََإف َٰكۡلإل اَن ۡدَََت ۡعَأ َو ۚإل ََإط َٰبۡلٱإب إساّنلٱ َل َٰو ۡمَأ ۡمإهإل ۡكَأ َو ُه ۡنَع ْاوُهُن ۡدَق َو ْا ٰوَبّرلٱ ُمإهإذ ۡخَأ َو ١٦١ Artinya: “dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (Q.S An-Nisa : 161)
Artinya : “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Q.S Al- Baqarah : 275)
Ayat di atas mendefinisikan mengharamkan riba karena dalam jual beli terdapat tambahan harga sebagai penundaan permbayaran.
9 Kutbudin Aibak, Kajian Fiqih Kontemporer, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 216
Rasulullah Saw bersabda : harga itu berkaitan dengan masalah waktu, dan hal itu tidak ada bedanya dengan riba. Pendapat lain juga mengatakan bahwa menaikkan harga diatas yang sebenarnya adalah mendekati dengan riba nasi’ah yaitu harga tambahan, maka itu jelas dilarang Allah.11 Mereka berpendapt bahwa Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.
Contohnya: Seseorang memerlukan sebuah motor, lalu datang kepada pedagang yang tidak memilikinya, seraya berkata, “saya memerlukan motor yang begini dan begini”. Lantas pedagang pergi dan membelinya, kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan, tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba.
Tafsir dari larangan Rasulullah “Dua transaksi jual beli dalam satu transaksi” adalah ucapan seorang penjual atau pembeli : “Barang ini kalau tunai harganya segini sedangkan kalau kredit maka harganya segitu”. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ucapan seseorang: “Saya jual barang ini padamu kalau kontan harganya sekian dan kalau ditunda
11 M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah, Zakat, Pajak, Asuransi dan Lembaga Keuangan (Jakarta: PT.
pembayarannya harganya sekian” adalah sistem jual beli yang saat ini dikenal dengan nama jual beli secara kredit dan hukumnya adalah haram karena dilarang oleh Rasulullah Saw.
3. Jual Beli Dengan Sistem Kredit Menurut Jumhur Ulama
Jumhur menyanggah argumen ulama yang melarang jual beli menggunakan system kredit.penambahan harga hampir terjadi di dalam semua system jual beli dan ini berlaku umum. Penambahan harga dalam jual beli tidaklah dilarang, kecuali tambahan-tambahan tersebut yang merugikan atau mengandung usur zalim.12
Sementara mengenai hadis nabi yang melarang adanya dua akad dalam transaksi, hadis tersebut adalah larangan terhadap jual beli ‘ainah dan bukan jual beli kredit. Jual beli ‘ainah adalah jual beli di mana seorang pembeli menjual barang yang dibelinya dengan harga tunai dengan harga yang sangat murah. Maka riba dalam kategori ‘ainah ini sangat jelas. Karena pembeli bersepakat atas harga yang ditentukan oleh penjual dan diharuskan bagi pembeli untuk membayar harga barang pada waktu tertentu dengan jumlah penambahan tertentu ditambah dengan harga asli.13
12 Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 60
Kesimpulan
kredit adalah cara menjual barang dengan pembayaran secara tidak tunai (pembayaran ditangguhkan atau diangsur). Tentang kredit ini, Murtadla Muthahhari mengatakan bahwa transaksi secara kredit pada hakikatnya adalah mengambil manfaat dari keadaan terdesak.