• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan utama yang berarti bahwa berhasil (2)atau tidaknya pencapaian pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami siswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan utama yang berarti bahwa berhasil (2)atau tidaknya pencapaian pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami siswa"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan umat manusia, karena tujuan yang dicapai dengan pendidikan adalah pembentukan kepribadian yang komprehensif sebagai individu dan sosial dan hamba Tuhan berdedikasi kepada Tuhan.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk melakukan proses pembelajaran serta memiliki tujuan. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri , kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia , serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara (Depdiknas,2003:2)

Tuntutan pendidikan merupakan faktor terpenting dalam kehidupan manusia setiap hari, karena pendidikan seseorang akan lebih mudah untuk mewujudkan keinginan hidupnya. Oleh karena itu, upaya mutlak harus dilakukan di bawah tuntunan dirinya sendiri. Namun, dalam kasus ini tidak selalu merupakan tugas yang mudah mencapai kualitas tertinggi pendidikan karena terdapat hambatan atau kesulitan. Dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan utama yang berarti bahwa berhasil

(2)

atau tidaknya pencapaian pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Tingkat keberhasilan inilah yang disebut sebagai prestasi belajarnya. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2010: 12) belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Apabila dari ketiga hal tersebut tidak tercapai dengan maksimal maka akan menyebabkan suatu permasalahan. Permasalahan ini terjadi akibat dari beberapa kesulitan yang terjadi, salah satunya yaitu ketidak berdayaan belajar (learned helpessness).

Kondisi learned helplessness menurut Abramson et. al (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2003) yaitu perasaan kurang mampu mengendalikan lingkungannya yang membimbing pada sikap menyerah atau putus asa dan mengarahkan pada atribusi diri yang kuat bahwa dia tidak memiliki kemampuan. Learned helplessness terjadi ketika seorang individu terus- menerus menghadapi situasi negatif yang tidak terkendali dan berhenti mencoba mengubah keadaan mereka, bahkan ketika mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Jadi dapat dipahami bahwa learned helplessness adalah sikap yang dimunculkan oleh individu bahwa ia merasa putus asa, pesimis, pasrah maupun menyerah untuk menghindari kemungkinan terbutuk yang akan terjadi nantinya. Seseorang yang mengalami learned helplessness akan menilai

(3)

dirinya tidak cukup mampu maupun tidak berdaya untuk menjalani atau melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain.

Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka pola didik guru harus dipilih dengan benar untuk mencegah dan mengatasi learned helplessness, mengingat learned helplessness berperan besar dalam pencapaian prestasi belajar siswa.

Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk mengubah perilaku negatif learned helplessness menjadi perilaku positif yang optimis adalah dengan

melakukan bimbingan kelompok.

Menurut Nurihsan (2006: 7), bimbingan kelompok merupakan layanan yang mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan bagi siswa, isi kegiatan juga terdiri dari bekal informasi tentang pendidikan, pekerjaan, masalah pribadi dan sosial yang disajikan dalam bentuk pelajaran. Winkelt (2004: 46) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok adalah proses membantu perorangan dalam memahami dirinya sendiri dan lingkungannya. Menurut Yarmis Syukur dkk (2019: 94) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok membahas topik bebas maupun topik tugas yang mencakup bidang-bidang pengembangan kepribadian, hubungan sosial, pendidikan karier, kehidupan berkeluarga, kehidupan beragama dan lain sebagainya. Apa yang dibicarakan semuanya bermanfaat untuk diri peserta didik sebagai anggota kelompok.

Berdasarkan pendapat di atas bisa dipahami bahwa dengan bimbingan kelompok bisa mengurangi learned helplessness siswa dan membantu meningkatkan minatnya dalam belajar sehingga menjadi lebih optimis dan pantang menyerah.

(4)

Dengan learned helplessness yang dialami oleh siswa maka menurut peneliti akan efektif dilakukan melalui bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik disensitisasi sistematis. Teknik desensitisasi sitematis salah satu peningkatan relaksasi, teknik yang lazim digunakan untuk menangi permasalahan berat seperti stres, frustasi, kecemasan, atau kekecewaan mendalam, Sutja Akmal, (2016:74). Dalam desensitisasi, klien didorong mengendalikan pikiran dalam keadaan tertentu, dan kemudian diminta untuk melupakan kondisinya dengan mengurangi perasaan sensitif terhadap masalah yang dihadapinya. Teknik desensitisasi memberi peluang kepada klien untuk bisa melewati kondisi sulit dengan fisik yang baik.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru Bimbingan Konseling dan wali kelas VIII di SMPN 22 Kota jambi bahwa terdapat siswa yang memiliki kriteria mengalami learned helplessness seperti bersikap pesimis, mudah putus asa, mudah menyerah, kehilangan upaya, dan bersikap pasif di lingkungan sekolah. Setelah peneliti melakukan wawancara dengan wali kelas dan memberikan angket kepada siswa yang terindikasi mengalami learned helplessness didapatkan bahwasannya ada 8 orang siswa yang

termasuk dalam kategori tinggi dan sangat tinggi, dengan hasil sebagai berikut:

No. Inisial Siswa Persentase Kategori

1. DH 73% Tinggi

2. PR 93% Sangat Tinggi

3. RD 100% Sangat Tinggi

4. JR 80% Tinggi

5. FT 100% Sangat Tinggi

6. AH 80% Tinggi

7. SR 86% Tinggi

8. NS 73% Tinggi

(5)

Berkenaan dengan hal tersebut maka penelitian ini dilakukan secara khusus untuk mengatasi learned helplessness yang dialami oleh siswa.

Penelitian ini menjadi penting karena hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh guru Bimbingan Konseling sebagai bahan masukan dalam membantu siswa untuk mengatasi learned helplessness yang dialami, serta dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari

Bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan karena kegiatan belajar merupakan kegiatan inti dalam keseluruhan proses pendidikan agar tercapai tujuan yang diharapkan dan mampu mengatasi permasalahan yang dialami siswa.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena di lapangan diatas peneliti merasa perlu mengadakan penelitian dan menuangkan secara mendalam dalam bentuk Skripsi dengan judul “Penerapan Teknik Disesnsitisasi Sistematis Dalam Mengatasi Learned Helplessness Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 22 Kota Jambi”.

B. Batasan Masalah

Agar peneliti lebih terfokus dan terarah maka peneliti membatasi masalah dalam penelitian ini hanya membahas tentang:

1. Subjek dalam penelitian ini dibatasi yaitu pada siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Kota Jambi yang mengalami learned helplessness di tingkat tinggi sesuai dengan kriteria, yakni bersikap pesimis, mudah putus asa, mudah menyerah, kehilangan upaya, dan bersikap pasif.

(6)

2. Teknik yang digunakan pada layanan bimbingan kelompok adalah teknik desensitisasi sistematis.

3. Hasil yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengurangi learned helplessness pada siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Kota Jambi

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pokok pikiran dan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka peneliti dapat menguraikan masalah:

1. Bagaimana penerapan teknik desensitisasi sistematis dapat mengurangi learned helplessness pada siswa melalui layanan bimbingan kelompok ?

2. Bagaimanakah pengurangan Leaarned Helplessness yang dicapai melalui penerapan teknik desensitisasi sistematis?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan peneltian ini, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengungkapkan seberapa efektif pengurangan learned helplessness siswa melalui teknik desensitisasi sistematis dalam bimbingan kelompok.

2. Mengungkapkan seberapa besar penurunan learned helplessness dapat dicapai melalui penerapan teknik desensitisasi sistematis.

E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan untuk dapat menambah wawasan dan pengetahuan di bidang bimbingan dan konseling terutama tentang

(7)

Penerapan teknik disensitisasi sistematis dalam mengatasi learned helplessness pada siswa melalui layanan bimbingan kelompok.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru BK, penelitian ini diharapkan dapat membantu guru BK untuk menuntuaskan permasalahan terkhusus tentang penerapan teknik disensitisasi sistematis dalam mengatasi learned helplessness pada siswa melalui layanan bimbingan kelompok

b. Bagi Penulis, penelitian ini dijadikan sebagai bahan mengembangkan dan menyempurnakan penelitian yang akan dilaksanakan pneliti selanjutnya.

c. Bagi Informan dan Partisipan, penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan mengenai Penerapan teknik disensitisasi sistematis dalam mengatasi learned helplessness pada siswa melalui layanan bimbingan kelompok.

F. Definisi Operasional

Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti menjelaskan beberapa pengertian istilah dalam penelitian ini, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Learned Helplessness Menurut Berk dalam Sari & Kartasasmita, (2017: 13), karakteristik individu yang mengalami learned helplessness adalah menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan, berkurangnya usaha individu karena mempelajari bahwa usaha apapun yang dilakukan pada akhirnya akan berujung pada kegagalan, ditambah tidak ada kemampuan

(8)

maka tidak perlu melakukan usaha apalagi mengulang usaha yang sudah jelas gagal

2. Menurut Prayitno (2013:309), bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan secara berkelompok. Menurut pendapat Gazda (dalam Prayitno, 2013:309), kelompok bimbingan kelompok di sekolah adalah kegiatan informasi yang ditujukan kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka membuat rencana yang tepat dan mengambil keputusan yang tepat. Bimbingan kelompok yang disebutkan dalam penelitian ini adalah layanan yang dirancang untuk membantu siswa mengatasi learned helpelssnes. Tahapan pembinaan kelompok yang akan dilakukan oleh

peneliti adalah: tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap finalisasi..

3. Menurut Sutja (2016: 195) teknik desensitisasi sistematis merupakan suatu teknik konseling untuk melatih klien agar tidak terlalu sensitif terhadap kondisi emosi diri maupun kondisi sosial tertentu, dan dikatakan sistematis bahwa latihan ini diberikan secara bertahap dan mendapatkan petunjuk setelah klien memperoleh konseling,

Referensi

Dokumen terkait

masyarakat luas, dan pertumbuhan rata-rata bisnis toko kue terus meningkat di Indonesia serta Waralaba Yasmin Cake & Bakery memiliki kelebihan seperti para pekerja yang

Tujuan penelitian ini adalah merancang model sistem penunjang keputusan agroindustri skala kecil berbasis kentang serta memberikan alternatif keputusan investasi produk

Berdasarkan lembar observasi aktivitas peneliti sebagai guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, maka jumlah skor dan persentase aktivitas peneliti dalam

Induk terseleksi dan siap pijah harus dipelihara di dalam wadah yang mudah untuk ditangkap (sempit), namun mendapatkan kualitas air yang baik yaitu oksigen yang cukup (≥ 3 ppm) dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ikan nila pada kerupuk singkong memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar protein, warna secara fisik,

Sehubungan dengan proses Evaluasi Pra Kualifikasi seleksi umum untuk Paket Pekerjaan Perencanaan Teknis Pembangunan Sarana Prasarana pemerintah di Jalan Akhmad Muksin Timbau (Gedung

maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi yang kriteria usaha kecil sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang.. Kriteria UMKM, peluang usaha

Penggunaan teknik modulasi dalam penerjemahan Alquran membuat aspek keakuratan menjadi sangat baik, namun kurang berterima dalam bahasa sasaran.. Kata-Kata Kunci: Teknik