RELEVANSI PERUBAHAN SOSTAL BUDAYA pOLrrrK (1945-L965)
DAN DINAMIKA PENGARANG/PEMBACA SASTRA INDONESIA DI YOGYAKARTA"
Herry
MardiantoBalai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Pos-el : herm ar d@r o cketmail. com
Kehadiran media massa (majalah/surr,
urJ;,'*l:i1-,
dilepaskan dari persoalan sosial budaya dan politik serta berbagai sistem yang iidak dapat dipisahkan darinya; di hntaranya adalah sistem pengarang dan pembaca. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui siapa pengarang (karya sastra) dan pembaca yang terlibat dalam mempertahankan keberadaan majalah-majalah/surat kabar yang terbit di Yogyakarta pada tahun 1945-1965. Kajian berpijak pada tinjauan makro sastra Roland Tanaka.Kata kunci: sastra, pengarang, pembaca, makro sastra
The existence of mass media
(magarrr*r*rrtoritr'*TJ,
be separated from cultural socint and political problem and also aarious system around it; for example writer and reader system. This study is carried out tofind out utho is the writer (literary piece) and reader inaolaed in mointaning magazines/newspaper published
in Yogyakarta in 1945-L965 . The study based on Roland Tanaka literary macro rertieut.
Key words: literary, writer, reader, literary macro
'I.,. Latar Belakang
Pada masa-masa awal kemerdekaan Indo- nesia, segala bentuk kegiatan seni-sastra nyaris tenggelam, kondisi
ini
disebabkan oleh masih berkecamuknya gejolak revolusi fisik pada saat perang kemerdekaan. Perang kemerdekaan ber- akhir pada tahun 1949 sehingga kegiatan ber- sastra pun baru mulai menggeliat lagi pada de- kade 1950-an. Dekade 1950-an merupakan ma- sa dimulainya perubahan sosial (ya.g penting)di
Indonesia, ditandai dengan: (1) terbebasnya' masyarakat dan bangsa Indonesia dari cengke-raman penjajah, (2) meningkatnya jumlah
melek huruf, dan (3) mulai tersosialisasikannya demokratisasi.
Hanya
saja,jika dibuat
suatu perbandingan, gambaran umum yang terlihat ialah bahwa corak dan gaya penulisan karya sastra angkatan tua masih senada dengan gaya penulisan karya sastra sebelum kemerdekaan.Padahal, corak dan gaya penulisan sastra para pengarang angkatan
muda
(baru) cenderung bebas. Hal tersebuttidaklepas dari lembaga ter- tentu yang menerbitkan karya-karya mereka,yaitu
sebagian besarkarya para
pengarang")
Makalah ini didiskusikan dalam "Diskusi Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan", diselenggarakan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Yogyakarta, bertempat di Gowongan Inn Yogyakarta,
7-9 November 2013.
Naskah masuk tanggal 18 Desember 2013. Editor: Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum. Edit 8-13 Mei 2014.
:
sebelum kemerdekaan diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka, sedangkan karya para penga- rang baru, selain diterbitkan oleh Balai Pustaka
juga diterbitkan oleh penerbit di luar
Balai Pustaka.Kiprah pengarang yang tampil pada tahun 1950-an
terus berlangsung berdampingan
dengan kiprah para pengarang baru yang tam-
pil
pada awal tahun L960-an. Karya-karya me- reka banyak dipublikasikan oleh penerbit swas- ta; terlebih pada saatitu
cukup banyak lemba- ga pers yangaktif
menerbitkan cerita bersam- bung, cerpen danpuisi.
Ricklefs (1995:355- 357)memberikan
gambaranbahwa situasi
pasca kemerdekaan merupakan kegagalan ke- lompok-kelompok elite (pimpinan) dalam me- rnenuhi harapan masyarakat luas. Kondisi
ini dipicu
oleh lajunya pertumbuhan penduduk (terutamadari tahun
1950-anhingga
tahun 1960-an),produksi
pangantidak
mencukupi, kekuasaan yangotoriter
dan memusat, sertabanyaknya rakyat miskin dan buta huruf.
Ricklefs memperkirakan jumlah penduduk
pada tahun L950 berjumlah77,2 jutajiwa;
pa- datahun
1955 berjumlah 85,4juta jiwa;
danmenurut
sensuspenduduk
padatahun
1961.jumlah penduduk meningkat menjadi
97,02juta jiwa.
Produksi pangan meningkat, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan. Dengan de- mikian, produksi beras pada tahun 1956 men- capai 26% lebihtinggi
dibandingkan produksi tahun 1950, tetapi sejumlah beras impor masih diperlukan.l Dari sisi politik, pada masa itu Pu- lau Jawa lebih mendapat perhatian karena ibu kota negara beradadi
Pulau Jawa. Sementaraitu,
sebagian besar kota-kota besar lainnyadi
luar Jawa (yu^g dihuni kaum politisi sipil) pada umumnya cenderung
"dilupakan"
oleh peme- rintah pusat. Perkembangan sarana dan prasa- rana selalu diutamhkan bagi kepentingan Pu- lau Jawa. Situasiifii
menimbulkan kekacauan dengan munculnya pasar-pasar gelap dan ter-jadinya
penyelundupan.Beberapa upaya
yang dilakukan untuk
mengatasi situasisulit itu
ialah dengan mem- perbaiki bidang pendidikan dan ekonomi.Di bidang pendidikan, jumlah
lembaga pendi-dikan
meningkat.Tahun
1953-1960jumlah
anakdidit
sekolah dasarmeningkat
dari 1,,7juta menja di 2,5 juta.2 Sekolah-sekolah lanjutan negeri maupun swasta (umumnya sekolah de- ngan latar belakang agama) dan lembaga-lem- baga tingkat universitas bermunculan (teruta- ma)
di
Pulau Jawa.3 Keuntungan dari perluas-Kekurangan pangan dan kemiskinan beberapa daerah di pulau Jawa terjadi sejak tahun 1930-an (de Vries, 1985:45).
Di ]awa Tengalr, sebagian rakyat mengkonsumsi gaber (limbah ubi kayu untuk makanan babi), gelang (sagu, dari pohon enau untuk makanan itlk), bonggol (bagian bawah batang pisang untuk makanan babi), tlancang (semacam keong kecil yang setelah ditumbuk dengan kulitnya dapat dimakan), dedeg (dedak padi untuk makanan ternak), dan masih banyak makanan lain yang dicoba sebagai pengganti beras. Percobaan-percobaan tersebut menyebabkan banyak kematian karena keracunan.
Perkembangan sistem sekolah/pendidikan di Indonesia, publikasi resmi mencatat bahwa dari tahun 1900 sampai 1,928 pelajar-pelajar dari pendidikan rendah bumiputera berlipat ganda kira-kira 12 kali lipat dari 1,25.444 orang menjadi 1.513.088 orang (Kartodirdjo, 7991,:216). Dari jumlah murid yang terakhir ini 65.106 orang di sekolah- sekolah dengan bahasa Belanda sebagai pengantar. Dijelaskan lebih jauh bahwa kecepatan meluasnya sekolah- sekolah dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dangneluasnya sekolah-sekolah dengan bahasa bumiputera sebagai pengantar menunjukkan bahwa golongan sekolahryang pertama itu sangat dibatasi dan sejak semula sangat selektif -direncanakan untuk menjadi sekolah golongan elite alau standenschool denganfasilitas pendidikan lebih menguntungkan golongan Eropa dan elite bumiputera daripada fasilitas-fasilitas untuk massa rakyat. Kualifikasi pendidikan ala Barat menjadi lambang prestise bagi masyarakat. Suparto Brata yang menguasai serba sedikit bahasa Belanda merasa beruntung dapat menikmati bacaan-bacaan berbahasa Belanda ketika pada tahun 1954 tidak ada cerita berbahasa Indonesia yang terbit. Adanya gerakan antibahasa Belanda (tahun 1956) menyebabkan orang- orang Belanda dan pemakai bahasa Belanda menyingkir. Kemudian bahasa Inggris menjadi pilihan alternatif.
Suparto Brata menyadari bahwa dengan kemampuannya berbahasa Belanda dan Inggris (berkat pendidikan Barat)
-
mampu membaca karya-karya Agatha Cristie, Hilda Lauwrence, dan sebaginya-ia dapat menjadi pengarang pertama roman detektif berbahasa lawa (cf. Suparto-Brata,1997:93).
Lihat Ricklefs (1995:357). Beberapa universitas didirikan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No.57 tahun 1954 yang diberlakukan mulai tanggal 10 Novembet 7954 (Poesponegoro dkk (ed), 1984:285).
Widyapanu0, Votume 42, Nomor I, )uni 2or4
an
bidang pendidikan ialah
(1) pada tahun 1930jumlah
orang dewasa yang melekhuruf
tercatat 7,4%, sedangkan pada tahun 1961jum- lah tersebut mencapai 46,7% dari jumlah anak- anak
di
atas usia sepuluh tahun (56,6%di
Su- matera dan 45,5%di
Jawa); (2) meningkatnyajumlah
penduduk yang melekhuruf-tercer-
min dari oplah surat kabar harian yang mening- kathampir
duakali lipat
dari 500,000 eksem-plar
pada tahun 1950 menjadidi
atas 933.000 eksemplar pada tahun 1956, sementara oplah majalah meningkattiga kali lipat
menjadidi
atas 3,3juta
eksemplar dalamkurun waktu
yang sama.aPemulihan bidang ekonomi
dimulai
de- ngan mengubahstruktur
ekonomidari
eko- nomi kolonial ke ekonomi nasional.s Langkahpertama yang dilakukan pemerintah ialah
menumbuhkan kelas pengusaha. pengusaha-pengusaha bangsa Indonesia yang
pada umumnya memiliki modal terbatas (lemah) di-beri
kesempatanberpartisipasi
membangun ekonomi nasional lewat program Benteng padatahun 1950-1953 dengan memberikan kredit
bantuan terhadap
700perusahaan
bangsa Indonesia. Program pemerintah tersebut padahakikatnya
merupakan kebijaksanaanuntuk
melindungi perusahaan pribumi. Meskipun de-mikian,
upayaini tidak
memerlihatkan hasil yang diharapkan: pengusaha-pengusaha Indo- nesia ternyata lamban menjadi dewasa, bah- kan ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kebijakanuntuk
mencari keuntungan. Banyak perusahaan-perusahaan baruyang didirikan
ternyata hanya merupakan kedok bagi orang- orang Cinauntuk
rheraup uang pemerintah.6Ketidakberha!.ilu., program
Benteng mengakibatkandefisit
bagi keuangan negara sehinggaterjadi krisis
moneterpada
tahun 1952.Meskipun demikian,
pemerintah tetap memberikan perhatian kepada pengusaha dan pedagang nasional golongan ekonomi lemah.Langkah selanjutnya dilakukan dengan mewa-
jibkan
perusahaan asing memberikan latihandan
tanggringjawab
kepada pekerja-pekerjapribumi;
mendirikan perusahaan-perusahaanMenurut Kementerian Penera-n_gan-bagian Sosial, Pers clan Grafika-yang mengurus pembagian kertas untuk surat kabar dan majalah-(liha-t Notodidjojo,1977:110)-pada akhir tahun issit"rcatlt selumtah 56 harian berbahasa Indonesia dengan oplah-3_69-000, yang berarti oplahiata-rata adalah 5.590 eksemplar. pada akhir tahun 1953
*:-"]1gk1t menjadi 467.000 eksemplar. Sedangkan pada pertengahan tahun 1954 tercatat 70 harian dengan oplah 469.050 eksemplar.
Ekonomi kolonial sehalus-1Ya tidak selalu dipandang dari sisi negatif (terjadinya sistem monopoli) tetapi juga harus dikaji sisi positif dari.berbagai upuya yu.tg dilakukan. Dilihat d"ari tujuan awilnya, ekonomi kolonial memiliki misi agar bangsa Indonesia tidak terlalu tergantung pada barang-barang impor yang didatangkan dari Benua Eropa. Ekonomi kolonial mulai memperlihatkan p"iannyu sejak t"ahun 1925 dengan munculnya vereniging aoor Nederlands. Pada tahun 1927 berdiri pabrik Venus yangmemproduksi kembang grli, pur-"n cokelat, parf"um] obat batuk dan lainlain. Pabrik yang didirikan di Semirang ini dikepalai dan diuru"s lten orang tlonghoa, dioperasikan dengan alat modern dengan pengelolaan secara higiei'ris. Dengan alat-alat modern terseb"ut dihirapkan pabrik ini dapat bersaing dengan pabrik.Meyi maupun Morlna-gabis.riitr-fubri"k di rokyo. Tahun rsg+ aiairitan pabrik Talens & Zoon di ]akarta. Pabrik ini memproduksi alat-ilat tulis di bawah p".rgu*rrrr, Alderma. pendirian pabrik dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan alat tulis di samping produk ielu"aran Tiongkok (Cina) dan lipangl
Contoh lainnya adalah palrlk Blima (Blik-en Machinefabriek)"yalt[ dikelola orang pribuilri (Ir. soeratin) bersama beberapa orang Tionghoa_. Pabrik yang didirikan diPurwosail,lsri-r) tersebut dileigiapi deniu., peralatan modern untuk membuat perlengkapan.rumah tangga berbahan tempaga, kuningan, peiut, dan ibagainya. Beberapa peralatan yang dimaksud adalah peralatan untuk las inrichtin!, 'iernikel ai.r rit.rru.,
a"-itiu"
prla banktiterker dan mesin-mesin modern. Pabrik ini dipersiapkan untuk'menyairgi produk peralatan rumah tangga dari England, Jerman, maupun Jepang. Di biang ekonomi pad-a umumnya-kLpentingan-kepentingan non-Indonesia tetap mempunyai arti penting-(Ricklefs, 1995:356). Shell dan perusahain-p"risuhau., ameiika (Stanoac dan Cattei) mempunyai posisi kuat di bidang industri minyak._sebagian besar puiuyuru., antarpulau berada di tangan Kplr,i (Koninkliike Paketoaart Maatschappii) milik Belanda. Perbaikan didominasi oleh perusahaan-perusahaan Belanda, Inggris, dan Cina-oran8-orang Cina menguasai jasa kredit di pedesaan. Dari gambaran ini yelas bahwa bangsa Indonesia secara ekonomi tidak merdeka dan situasi ini memunculkan gerakaniadikalisme tahun 1950-an.Hal ini didahului oleh persetuj ran-persetujuan.antara para pendukung pemerintah dan orang-orang Cina-apa yang disebut perusahaan-perusahaan "
AliBaba",llffl
orang Indoneiii leriy mewakili seorang pengusaha Cina yang sebetulnya pemilik perusahaan tersebut (cl Ricklefs, 1995:321).Relevansi Perubahan sosial Budaya politik (1945-19G5) Dinamika Pengarang/pembaca Sastra lndonesia di yogyakarta
negara; menyediakan
kredit
dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional serta memberikanperlindungan
agar mereka mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing. Sampai pada awal Orde Baru, program pemerintah se-mata-mata diprioritaskan bagi usaha penyela- matan
ekonomi
nasional: penyelamatan ke- uangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat.Sejak
tahun
1950-anmulai
banyak seni- man dan budayawan dari luar Yogyakarta hi-jrah ke
Yogyakarta, seperti Nasjah Djamin, Boet Moechtar,Lian
Sahar, Motinggo Boesje, W.S. Rendra, Toto Sudarto Bachtiar, dan Asha-di
Siregar. Sebagian dari mereka ada yang ha- nya sekedar " sir:.ggah", ada pula yang menetap karena belajar atau bekerjadi
Yogyakarta, se-perti
NasjahDjamin, Mangunwijaya,
Umar Kayam, RachmatDjoko
Pradopo,Kuntowi-
joyo, Bakdi Sumanto, serta Ashadi Siregar. Ke- datangan mereka bukan hanya didukung oleh mobilitas sosial-ekonomi, tetapi juga oleh faktorlain,
seperti keinginan mengembangkan kre- ativitas dan pendidikan tinggi,di
samping pe- ngembanganprofesi.
Para seniman tersebut bukanlah seniman-seniman yang pernah ber- jaya pada dekade sebelumnya (Angkatan'45), tetapi seniman yang benar-benar baru, nama-nama
merekabelum pernah muncul
(bdk.Teeuw, 1989:2). Di bagian lainTeeuw menegas- kan bahwa para pengarang Angkatan'45 tidak panjang usianya karena setelah kemerdekaan, terutama setelah meninggalnya Chairil Anwar,
tidak
ada lagi kelanjutnan angkatan ini.Di bidang aktivitas bersastra,
Teeuw (1989:9) mengatakanbahwa tahun
1950-anmuncul
generasibaru dari
suatu kehidupan sastra Indonesia. Kebaruanitu
terlihat dari pe- nyebaran pusat-pusat kegiatan para pengarang ke berbagaiwilayah
atau daerah. Dikatakan- nya pula bahwa Yogyakarta-karena berbagai faktor spesifik yangdimiliki -
" mamplr" meng- undang para seniman dari berbagai kotadi
In- donesia untuk berproses kreatif di Yogyakarta.2.
MasalahPersoalan yang muncul dari uraian
di
atasialah bagaimana eksistensi pengarang/ pembaca dalam sistem
reproduksi
majalah atau surat kabar yang terbit pada tahun 1945-1965?3. Tuiuan
Mengetahui siapa pengarang
dan
pem-baca yang terlibat dalam mempertahankan ke- beradaan majalah/surat
kabar
yangterbit di
Yogyakarta pada tahun 1945-1965 dan bagai- mana pengarang dapathadir
dalam majalah atau surat kabar tgrsebut.4. Teori
dan Metode PeneliitianPengkajian sastra dapat
dilakukan dari
dua segi, yaitu dari karya sastra atau dari fak- tor-faktorluar
sastra yang sangat mempenga-ruhi
kehadirankarya
sastra. Jenis penelitian pertama berusaha mengungkapkan aspek-as- pek formal sastra sehingga pendekatan dilaku- kan dari segi internal. Jenis penelitian tersebut menganggap sastra dapat berdiri sendiri, tanpa bantuan aspek-aspek laindi
seki-tarnya. Ada- pun jenis penelitian kedua merupakan peneli- tian yang berangkat dari kesadaran bahwa kar-ya
sastra bersifat terbuka, merupakan bagiandari aktivitas
sistem komunikasi sosial yang luas dan rumit. Artinya, terjadi hubungan tim- bal-balik yang rumit antara elemen-elemen mi- kro sastra dan sistem makro sastra. Oleh Tana-ka
(1976:9), pendekatan pertama disebut pen- dekatan mikrosastra, sedangkan pendekatan penelitian jenis kedua disebut pendekatan ma- krosastra. Kajiankali ini
berpijak dari gagasan bahwakarya
sastrahadir
karena adanya ja- rilrgan yang melibatkan pengarang (pencipta karya sastra), penerbit (sebagai pengayom dan berfungsi menyebarluaskan karya sastra), dan pembaca (penanggap).Tanaka
(1976:1,-2)
menegaskan bahwa meskipun sastra merupa- kan subjek bagi dirinya sendiri, sastra tidak da- pat dilepaskan dari berbagai sistem yang ada
di
luarnya.Widyapanri,
Volume 42, Nomor 1, Juni 20145. Analisis
Pada dekade 1950-an berbagai kegiatan
di
ibu kota dan kota besar lumpuh atau tidak ber- fungsi akibat perang serta pergantian pemerin- tahan. Kelumpuhan diperparah karena faktor financial yang belum tumbuh sesuai keinginan masyarakat. Stabilitaspolitik
carut-marut dise- babkan oleh pertentangan ideologi akibat men- cuatnya kepentingan partai-partaipolitik
(PKI,PNI,
dan partai-partai Islam). Situasiitu
ber- dampak pada aktivitas peningkatan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.Pada
awal tahun
1950-andi
Yogyakartamulai
bermunculan surat kabar/majalah. Be- berapa media massa yang terbit adaiah majalah Budaya, Seriosa, Basis, Suara Muhammadijah, Pusara, dan majalah Gadjah Mada; meskipuntidak
semuanya memuatkarya
sastra. Sejak awal kemerdekaan, Yogyakarta berupaya me- ngembangkandiri
menjadi salah satu kota bu- daya terkemuka di Indonesia, terutama karenamemiliki
tradisi budaya kerajaan yang masihkuat di
samping beberapa tokoh masyarakat memiliki landasan spiritual dalam pemelihara- an kebudayaanlokal.
Oleh karenaitu, tidak
mengherankan bahwa dalam perkembangan berikutnyalahir
budayawan-budayawan dan sastrawan terkemuka yang lahir atau berproses kreatif di Yogyakarta. Kenyataan itu mau tidak mau memengaruhi pertumbuhan dan dinami- ka sastradi
Yogyakarta.Keadaan atau mobilitas sosial
di
Yogya- karta pada sekitartahun
1950-an menunjuk- kan gambaran yang tidak berbeda dengn mo-bilitas sosial-politik di
daerahlain. Aktivitas
masyarakat Yogyakarta dilatarbelakangi oleh dinamika sosio-kultural yang kontradiktif, yaitutradisi
yang bergerakrelatif
lamban dando-
,rongan modernisme melesat dengan cepat.
Di
'kawasan Malioboro hingga keraton, dua aspek yang saling
tarik ulur itu
menampakkan so- soknya denganjelas. Sebagai sebuah kota bekas kerajaan, aura kultural tradisi hingga sekarang masihkuat, walaupun
arus modernisasi takmungkin
terelakan. Keraton membukapintu
bagi berbagai atraksi kultural bagi tamu domes-
tik maupun
asing.Di
sektor pengembangan pendidikan, Yogyakartamemiliki
pusat-pusat pendidikan nasional yang spesifik, antara lain Universitas Gadjah Mada, Perguruan Taman Siswa,Akademi
SeniTari
Indonesia (ASTD, Akademi Seni Karawitan, Akademi Seni Rupa Indonesia (selanjutnya menjadi ASRI, dankini
menjadi bagiandari
ISI) yang menyebabkan orangluar
berhasrat memasukikota
Yogya- karta untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik dibandingkan kota lain. Bebe-rapa
perguruanting$i
tersebut menerbitkan media komunikasi, ahtara lain Universitas Ga- djah Mada menerbitkan majalah Gadjah Mada (CAMA) dan Tamansiswa menerbitkan maja- la}l. Pusara. Tokoh-tokoh budayawan dan seni- manterpanggil
menjadipelopor di
berbagai media massa, seperti Kusnadi, Umar Kayam, Kirdjomuljo, Nasjah Djamin, JussacM&
Umbu Landu Paranggi, Darmano Jatman, W.S. Ren- dra, Ashadi Siregar, Bakdi Sumanto, Darmadji Sosropuro, Jasso Winarso, dan Mohammad Di- ponegoro. Sebagian besar dari nama-nama ter- sebutterlibat di
berbagai media massa yang terbitdi
Yogyakarta dan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan sastra Indonesia di Yogya- karta. Tempat-tempat penting, seperti trotoarMalioboro
(tepatnyadi
depankantor
Pelopor Yogya), Jalan Mangkubumi (depan kantor Ke- daulatan Ralcy at), Bulaksumur
B oulezs sar d, karn- pusIAIN,
kampus IKIP Negeri Karang Malang (sekarang UNY), dan kantor Basis (duludi
ka- wasanKotabaru) menjadi kantung-kantung
bagi kegiatan bersastra, setidaknya hingga ta-hun
1970-an.Kehadiran berbagai majalah dan surat ka- bar niampu memberikan sumbangan cukup be- sar bagi perkembangan sastra
di
Yogyakarta.Pernyataan
ini
didukung oleh tujuan penerbit- an (terutama majalah kebudayaan dan sastra) yang tidak dapat dielakkan dari idealisme me-melihara
dan mengembangkan kebudayaan.Dan,
hal itu juga didukung
oleh kenyataanbahwa Yogyakarta memiliki citra
sebagaiRelevansi Perubahan Sosial Budaya Politik (1945-1965) Dinamika Pengarang/Pembaca Sastra lndonesia di yogyakarta
kawasan budaya,
kota
pelajar,kota
budaya, daerah yang penuhdiliputi
sejarah perjuangan bangsa serta memiliki potensi untuk kaderisasi bermacam bidang, termasuk bidang seni, khu- susnya sastra.5.L Sistem Pengarang
Pengarang merupakan komponen sangat penting dalam penciptaan karya sastra karena tanpa
kehadiran
pengarang (sastrawan/pe- nyair), tidak mungkin akanlahir
karya sastra.Tidak salah
jika
Damono (1999:235) melontar-kan
gagasan bahwa pendekatan dalamilmu
sastra dapat memusatkan perhatian pada pe- ngarang. Pilihan
ini
didasarkan alasan bahwa pengarang merupakan sumber pesan dalam karya sasha. Beberapa jenis pendekatan (baik historis, sosiologis, maupun psikologis) mene- kankan betapa pentingnya pengarang. Penga- rang sebagaiindividu
dan kelompok dapat di-pelajari
asal-usul,pendidikan, ideologi,
dan aSamanya.Dari
sejumlah penerbitan yang memuat karya sastra (cerpen) dapatdiidentifikasi
ke- adaan pengarang cerpendi
Yogyakarta. Perta- ma,pengarang yang kurang atau tidak produk-tif
dan karya-karya mereka hanyadimuat
da-lam
media massa yangterbit di
Yogyakarta.Kedua, pengarang
produktif
sehingga jumlah karya merekalebih dari
satu, dan atau karya mereka tidak hanya dimuat oleh media massa yang terbit di Yogyakarta. Pengarang kelompok pertama, antaralain
A.K.Hadi
("Hampa Per-gi..:',
Minggu Pagl,No.
L4,2Ju.Li1950), AgusSujudi ("Majoor
SunartoKembali",
Minggu Pagi, No. 17,21u1i1950), Yuddha ("Dua Jalan", Gadjah Mada,No.
3, 1951),Subekti
("Keme- narrgarr", Minggu Pagi, No. 15, 9 Juli 1950), Kla- na Djarwa ("Layar Terkembang", Minggu ,Pa-gl, No.
L9,6 Agtstus
1950),Harjono,
S.H.("Menguji Hati",
Gadjah Mada,No.
L2, Maret 1951), Djon ("Tinah dan Satu Senar Biola", Me- dan Sastra, No. 3, Juni 1953), Susantoo ("Ham-pa",
Seriosa,No.
6,Agustus
1954), Supomo, S.H. ("Senja Terakhir", Gadjah Mada, No. 4, Juli1954),
Marusman ("Pawai Awan",
Media,No.L, Agustus
1955),Sri Hutomo
Kusumo ("Condromowo", Minggu Pagi,No.
29,1,6 Ok-tober
1955), BramMadylao ("Bara di
Kedi-nginan", Media, No.1, Agustus 1956),
NN
Rose Fereijn ("LapanganHidup",
Media, No. 3, Ok- tober 1956), Fazil Djamsari ("Dahaga" , Media, No. 5, Desember 1956), danM.
Sunjoto ("Ber- suluh di Hati Perempuan" , GemA Islam, No. 61,L November 1964). Barisan pengarang yang ada
di kelompok
kedua, antaralain Mutijar ("Akim
Pelor", Gadjah Mada, No. 4, Juli 1950), Srimaya ("Tumbu Dapat Tutup", Minggu Pagi,No. 25, 17 September
1"950),Sudjoko
Pr.("Penghuni Ruang
L 10',
Seriosa, No. 4, Juni 1954), S. Rasdan ("Terpecah-pecah", Seriosa,No. 1, Maret 1954), Pong Waluya ("Bukan In- termezo",
Minggu
Pagl,No.
30, 23 Oktober 1955), HermanPratikto ("Pulang ke
Sorga", Minggu Pagl, No. 35,27 November 1955), W.S.Rendra ("Hantu-hantu yang Malang", Minggu Pagl,
No.
51, 18Maret
1956),Iman Soetrisno("Andaikata...", Minggu
Pagl,No.
44, 29 Ja-nuari
1956),Alwan Tafsiri
("Pada Satu Sore", Media,No. Z
Februari 1957), Rustandi Karta-kusuma ("Pesan Nafas-nafas Terakhir", Ming- gu Pagi, No. 33, 13 November 1960), S. Tjahja- ningsih Taher ("Prambanan" , Minggu Pagi,No.
34, 20
November
1,960),Djamil
Suherman ("Penggali Kubur", Minggu Pagi, No. 45,29 Ja- nuari 1961), A. Bastari Asnin ("Tanah Merah", Minggu Pagi, No. 47,19 Februari 1961), Nasjah Djamin ("Pertemuan", Minggu Pagl, No. 5'1,,19Maret 1961), S.N. Ratmana
("Dimulai
dengan Kesulitan", Gemalslam, No.19-20,15
Nopem- ber 1962), H.G. Sudarmin ("Ia Datang Tengah\4alam", Minggu
Pagl,No"
37,9
Desember1962), Djakaria N.E. ("Cerita
di
Bawah Bulan", Minggu Pagi,No.
39, 23 Desember 1962),Siti
Nurjanah Sastro Subagio ("Dia Berjalan Sendi-rian",
Minggu Pagl,No.
42, 1,4 Januari 1,962),Hardjana H.P.
("Kemarau Panjangdi
Tegal Sambi", Minggu Pagi,No.
44,28 Januari 1962), St. Iesmaniasita("Antara
Bermacam Warna", Minggu Pagl, No. 15, 8 Juli 1962), Sju'bah AsaWidyapanu?, Volume 42, Nomor 1, Juni 2014
("Hari
PerkawinanKami",
Minggu pagl, No.41., 6 J anuari 1963), Hadjid Hamzah (,, Maling,,,
No.
49, 3Maret
1963),Adjib
Hamzah (,,Ma- lantg", Minggu Pagi,No.
42, 13 Januari 1969), R.G. Warsita ("Penghuni yang Barlt,, Minggu Pagi, No. 45, 3 Februari 196Z), SyamsulArifin
S.H.("Hati
yang Lembut", Minggu pagj, No, 50, 10 Maret 1963), Susilomurti ("Type Ideal,,, Minggu Pagl, No. 51,17 Maret 1969), Tjahjanto("Ia
yang Tersisihkan", Minggu pagi,No.
52, 24Maret1963),Jussac MR ("Pertemuan di Dar-win",
Minggu Pagl,No.
9, 3LMei
1964), d.an Th. Sri Rahayu Prihatmi ("Lelaki ltu,,, Minggu Pagi, No. 25,20 September 1964). Beberapa pe- ngarang tersebutdi
sampingmemiliki
karya sastra (cerpen) lebih dari dua buah, karya-kar- ya mereka pun dimuatdi
dalam media massa yang diterbitkandi luar
yogya. Cerpen,,Nyi_darr." (Hardjana H.P.)
dimuat
dalam majalah TanahAlr,
No. 3, Februari 1961 (Jakarta), ,,Di Kereta Ia SayaTemui" (Kirdjomulyo)
dimuat dalam TanahAlr,
No. 9 (Jakarta, 1961),,,peng- antar Surat" (Motinggo Boesje)dimuat
dalam majalah Sastra, No. 4, Oktober 1961, (Jakarta),"Nenenda" (A.
BastariAsnin) dimuat
dalam majalah Sastra, No, 4, Oktober 1961 $akarta),"Wasja,
Ah,
Wasja' (W.S. Rendra) dimuat da- lam majalah Ksah, No. 5, September 1961[a-
karta),
"Aku
Protes" (B. Soelarto) dimuat maja- lah Cerpen, No. 4, Desember 1966 (Jakarta), dan"Kenangan Seorang Perempuan', (Satyagraha
Hoerip) dimuat
dalam TanahAir, No.
13[a-
karta).
Beberapa penulis cerpen yang telah dise- butkan
di
atas ternyatamemiliki
kegiatan pe- nunjang yang mendukung kegiatan bersastra, yaitu mereka tidak hanya sekadar bisa menulis cerpen, akan tetapi mampu menulis esai sastra dan bahkan menerjemahkan karya orang lain., Rachmadi PS menulis esai"Romantik di
Jer- man" (Seriosa, No. 6, Agustus 1954) yangberisi uraian sepintaskelahiran
zamanromantik di Jerman yang diprakarsai oleh pengarang
Friederich Schiegel,Ludwig
Tieck, dan Jean Paul Friedrich Richter. S. Rasdan menyingkatcerpen "The Last Leaf' karya O Henry menjadi
"Kisah
SelembarDaun"
yangdimuat
dalam majalah Seriosa,No. 7/8,
September/Oktober 1954. Pengarang lairy Supomo, S.H. selain me-nulis
cerpen "SenjaTerakhir"
(Gadjah Mada,No.
4,Juli
195a)juga menulis cerpen
,,Ja-minan"
(Gadjah Mada, No. 6, September 1954),merupakan karya
terjemahan cerpen karya W.B. Maxwell. Sementaraitu
penulis Djoruai
samping menulis cerpen juga mampu menulis naskah dramaradio "Di
Simpang)alan"
(di- muat majalah Medan Sastra, No. 4,luli
1953).Dari segi kualitds, beberapa pengarang cer- pen yang berproses\kreatif
di
yogyakarta me- nunjukkan "keistimewaan" sebagai sosok pe- ngarang yang harus diperhitungkan. Beberapadari
mereka mendapatkan hadiah sastra dari majalah Sastra (Jakarta) pimpinan H.B. ]assin.Majalah
Sastra merupakan majalah bulanan, memberikanandil
bagi perkembangan cerita pendek Indonesia dan mancanegara. pada ta-hun
196L redaksi majalah Sastra memberikan"Hadiah Sastra 1961' kepada enam orang cer- penis Indonesia, antara lain sebagai berikut. Ha- diah I diberikan kepada A. Bastari Asnin untuk cerpen
"Di
Tengah Padang" (Sastra, No. 2, Juni 1961). Cerpenini
dipandang memiliki kelebih- an karena memiliki teknik bercerita yang penuh dengan ketegangan kerahasiaan dan diperkuat oleh keajaiban nasib serta perjalanan hidup to- koh-tokohnya. HadiahIII
diberikan kepada B.Soelarto atas cerpennya yang berjudul,,Rapat Perdamaian" (Sastra, No. 6, Oktober 1961).Da- lam cerpen tersebut terkandung kritik jujur dan berani serta konstruktif terhadap kepincangan- kepincangan/penyelewengan dalam masyara- kat.
pi
samping dua pengarang tersebut, Satya- graha Hoerip memperoleh hadiah hiburan atas cerpennya "Seorang Buruan" (Sastra,No. 3, Juli 1961) yang bercerita mengenai pengorbanan dan penderitaan pejuang dalam melawan pen- jajah. Pemerolehan hadiah sastraitu
memberi-kan
gambaran bagaimana kesungguhan pe- ngarang cerpen yang berproses kreatif di yog_yakarta dalam menciptakan cerpen.
Dari
segiRelevansi Perubahan sosial Budaya politik (194s-1965) Dinamika Pengarang/pembaca Sastra lndonesia di yogyakarta
cara pengungkapan dan pemilihan persoalan, mereka memperhitungkan dengan seksama se-
hingga mereka layak mendapatkan hadiah sas- tra dari sebuah majalah yang dikelola oleh H.B.
Jassin yang dikenal sebagai Paus Sastra Indo- nesia.
Hal lain
yang menarik dari sisi kepenga-rangan adalah
adanya kebiasaan beberapa orang pengarang yang menulis cerpen dituju- kan kepada orang-orang tertentu dan atau de- ngan maksud tertentu. Halini
ditandai dengan tulisan yang biasanya diletakkandi
bawah ju-dul
cerpen,perhatikan
cerpen"Doktoranda
Fatimah" [Buat Yu Sri di Surabaya] karya Har- djana H.P. (Minggu Pagi, No. 46, 10 Februari 1963). Cerpen lainnya adalah "PawaiAwan"
[Souvenir untuk Kartini] karya Marusman (Me- dia,
No.1,
Agustus1955,'2 Hari di
Yogya"[Bagi Wirjono, Adin, diJakarta] karya Satyagra- ha
Hoerip
(Minggu Pagl, No. 37,11, Desember 1955), "Pada Satu Sore" [buatdik
Artiningsih, karena siapa cerita ini lahir] karya Alwan Tafsi-ri
(Media, No.Z
Februari 1957), "Bulan Selalu Tersenyum" lbuat hatiku yang terbelah-belah, buatadikku
nan berhatiindah]
karyaAlwan Tafsiri
(Media,No.
10,Mei
1957),"Ia
Datang TengahMalam"
[buatT &
R] karya H.G. Su- darmin (Minggu Pagl, No. 37, Desember 1962),"Seberkas Surat" [terutama kepada kekasihku:
Titiek] karya Purnawan Tjondronagoro (Ming- gu Pagi, No. 42, 13 Januari 1963), "Perjalanan't"
[hadiah tahunbaru buat: Ummi Kulsum] karya Masbuchin (Minggu Pagl,
No.
43, 20 Januari 1.963),"Btbi Ita"
[Ceritabuat Atet dan
gadis kampungkul karya Sjafik Umar (Minggu Pagi, No. 44, 27 Janrari 1963),"Di
DalamAda
Ca-haya"
[kepada anakisteriku
dan orang-orang tercinta: maaflahir batinl
karya Djakaria N.E.(Minggu Pagl, No. 48,24Februari 1963), "Peng-
huni
yang BaruItu"
[kepada:Herry
Djauzan]karya R.G. Warsita (Minggu Pagi, No.
45),"Hati yang Lembut"
[buatTini]
karya Sh. SjamsulArifin
(Minggu Pagf,No.
50, 10Maret
1963),dan "Dua Jalan" [kepada bekas pengikut kursus presidenanl karya Yuddha (Gadjah Mada,
No.
3,
L951,). Pencantumanketerangan
kepada siapa cerpenitu
ditujukan tentu saja mempu- nyai tujuan tertentu, antara lain agar pembacayang dituju memberi perhatian
khusus ter- hadap cerpen tersebut, menciptakan suasana agar cerpen tersebut terasa dramatis, dan upa- ya men€Jungkapkan perasaan tertentu penulis- nya kepada orang yang dituju.5.2 Sistem Pembaca
Sistem pendukung sastra yangiuga perlu
diperhitungkan
adalah sistem pembaca atau penanggap (gatekeepers)yang diperlukan
re- daktur untuk kelartgsungan kehidupan sebuah terbitan (dalam konteksini
surat kabar/maja- lah). Dalam hal tertentu, pengayom (termasuk staf redaksi) harus selalu memberikan perhati- an terhadap pembacanya agartimbul
saling pengertian dan kerja sama secara simbiosa mu- tualistis. Beberapa majalah yang terbitdi
Yog- yakarta secaraimplisit memiliki
sasaran Pem- baca tertentu, misalnya Media, Pusara, Gadjah Mada, Suara Muhammadiyah, Gema lslam, dan Darmabakti. Majalah Media, Suara Muhammadi- yah, Gema lslam, dan Darmabakti berislkan tu- lisan-tulisan yang bernapaskan Islam sehinggatarget
pembacanya adalahpemeluk
agama Islam. Secara sepesifik, majalah Mediamemiliki
target sasaran pembaca angkatan muda Islamdi
Indonesia, khususnyaHimpunan
Mahasis- wa Islam (HMD Indonesia. Kenyataan ini dapat dicermati lewat pengumuman penawaran bagi pembaca yang ingin mendapatkan bendel ma- jalah Media(dimuat
dalam Media,No.
1, Th.III,
Agustus 1956).Sasaran pembaca tersebut tidak jauh ber- beda dengan sasaran pembaca majalah Darma- baktikarena majalah
ini
diterbitkan oleh dewan mahasiswaIAIN
Sunan Kalijaga. Hanya sajamajalah Media sebenarnya
memiliki
sasaran pembaca yang lebih luas sehingga karya-karya sastra yang ditampilkan pun tidak sepenuhnya bernuansa Islam atau tema dan persoalan yang dikemukakan bersifat umum.Hal itu
berbeda dengan majalah Suara Muhammadiyah maupunWidyapanui,
Volume 42, Nomor 1, Juni 2014Medan Sastera mempermudah pembaca dalam mendapatkan
informasi
kegiatan sastra de- nganartikel "Lintasan
Kesusasteraan BulanIni"
seperti yang termuat dalam Medan Sastera,No. 7, Oktober 1953. Di dalam catatan tersebut dimuat segala kegiatan kesusastraan yang ter- jadi
di
Indonesia maupundi
luar negeri.Asal-usul pembaca sebuah majalah dapat
dirunut dari surat/pengumuman
redaksi, iklan, boks redaksi, berita keluarga, dan seba-gainya. Pembaca majalah Gadjah Mada
tidak
saja berasal dari Indonesia, tetapi berasal dari luar Indonesia. Hal
itu
diketahui dari boks re- daksi diketahui majalah ini memiliki pembantu tetapdi Amerika,
Nederland, dan Denmark.Majalah
ini
puntidak
hanya dikonsumsi oleh pembacadi
Yogyakarta tetapijuga
pembacadi
luar wilayah Yogya, misalnya Madiun, Bu-kittinggi,
Bandung, Kalimantan, Jakarta, Pa- lembang. Asal-usul pembaca majalah Minggu Pagi dapat dicermatidari
sebuahrubrik
yang menarik, yaitu "Detik-Loncatan". Rubrik terse-but
menarik karena mengabarkan tigahal
se-kaligus, yaitu berita kelahirao pernikahary dan kematian yang semuanya merupakan peristi-
wa penting
dalam kehidupan manusia. Darirubrik
tersebut dapat pula diketahui persebar- an dan asal pembaca Minggu Pagl yang meli-puti
berbagai wilayah hingga luar pulau Jawa.Dalam majalah
lain pun
asal-usul dan perse- baran majalah dapat diketahui secaraimplisit
dari boks redaksi, surat pembaca, pengumum-an/pemberitahuan dari redaksi, dan
berita keluarga.Cara pembaca mendapatkan majalah se- cara garis besar dapat dipilah menjadi dua: (1)
berlangganan,
dan
(2) membeli eceran. Satutrik menarik dilakukan
oleh majalah Gadjah Mada dengan menawarkan kepada pembacauntuk
menjadi pelanggan abadi.Trik
yang di- lakukan majalah Gadjah Mada tersebut menda- pat tanggapanpositif dari
pembaca sehingga pada terbitan kemudian pengayom lebih meng- utamakan pelayanan kepada para pelanggan dibandingkan dengan pembeli eceran.Pembaca merupakan subjek yang penting bagi sebuah penerbitan sehingga pelayanan ke- pada pembaca merupakan hal yang diutama- kan. Bagi majalah Seriosa, menjalin komunikasi lewat pengumum redaksi, seperti pengumum- an redaksi (dalam Seriosa, No. 1, 1 Maret 1954) yang berkaitan dengan bagaimana secara tek-
nis
pembacaf pengarang dapat mengirimkan tulisan ke Seriosa. Beberapa iklan yang dimuat Majalah Minggu Pagi secaraeksplisit
(seperti majalahumum
lainnya)tidak
menampakkan keberpihakan terhadap agama tertentu. Halitu
tidak berbeda jauh dengan majalah Pusara ter- bitan Tamansiswd,maupun majalah Basis. Se- mentaraitu,
majalah Suara Muhammadiyah di- khususkanuntuk
kalangantertentu
(interor- ganisasi). Majalah terbitan Pusat Muhammadi- yah ini dimaksudkan juga sebagai majalahilmu dan
amal sehinggavisi
majalahini
menjadiorientasi
khususdari penerbitan
SuaraMu-
hammadiyah. Majalah Gadjah Mada secara im- plisit dituiukan bagi kaum intelektual sehingga tulisan yang dimuat pun beragam,
mulai
dari masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, sastra, dan sebagainya.6.
SimpulanPerkembangan sastra tidak dapat dilepas- kan dari perkembangan sosial, brdaya, dan po-
litik
yang melingkupinya. Diperlukan hubung- an"mesra"
arrtata penerbit, pengarang, dan pembaca agar keberlangsungan penerbitan su- rat kabar/majalah dapat berjalan dengan baik.Pertumbuhan media massa di Yogyakarta ber-
jalan
denganbaik
karenadidorong
oleh ke-inginan
menjadikan kota Yogyakarta sebagai kota budaya. Sebagaiwilayah
yangmemiliki
s6kolah dan kampus, Yogyakarta melahirkan pengarang-pengarang yangmemiliki
kualitas,terbukti
dengan keberhasilan mereka meme- nangi berbagai penghargaan atau setidaknya karya mereka dimuat di media yang bergengsi,terbit di
Jakarta.Hal lain
yangperlu
dicatat10 Widyapanul,
Volume 42, Nomor 'J., Juni 2o!4ialah keberhasilan pengelolaan media massa yang kehadirannya selalu ditunggrl oleh pem_
baca yang tersebar
di
berbagai wilayah.Daltat
PustakaBrata, Suparta. i.99i.. "Roman
Detektif
Berba_hasa
]awa."
Dalampoer Adhi prawoto
(ed). Keterlibatan Sosial Sastra lawa Modern.
Solo:
Tri
Tunggal Tata Fajar.de Vries, Egbert. 1985. Pertanian dan Kemiskinan
di
Jawa.Jakarta: yayasan Obor dan
Gramedia.
Kartodirdjo,
Sartono . 1.991,. pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah pergerakan Nasionaldari
Kolonialisme sampai Nasionalisme, ]akarta: Gramedia.Notodidjojo,
SoebagijoIlham.
1972. Sejarah Pers Indonesra. Jakarta: Dewan pers.Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (ed.). 1984. Sejarah Nasional lndonesia VI. Jakarta: Balai pustaka.
Ricklefs, M.C. 1995. Sejarah Indonesia Modern.
Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Tanaka, Ronald.
1.926. System Modelsfor
Literary Macro-Theo,ry. Lisse: The peter de Ridder Press.
Relevansi Perubahan sosiar Budaya poritik (1945-1965) Dinamika pengarang/pembaca Sastra lndonesia di Vogyakarta