• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Konflik adalah bagian kehidupan. Konflik menjadi kenyataan kehidupan yang tidak dapat dihindari dalam bangunan relasi di tengah masyarakat. Melalui konflik, dinamika masyarakat terbangun. Dengan syarat, jika suatu konflik yang terjadi di tengah masyarakat dapat teratasi dengan baik.

Jika konflik menjadi bagian dari kenyataan kehidupan yang tak bisa terelakan, maka tidak dapat dipungkiri bahwa di negara yang aman, masyarakat yang tenteram, kelompok yang mapan, dalam keluarga yang harmonis, bahkan dalam suatu institusi agama, konflik bisa terjadi.

Untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik, manusia perlu membiasakan diri, hidup dalam kesadaran dengan menumbuhkan sikap, pemikiran, serta perilaku terbuka; logis dan dialogis, menjunjung tinggi cara-cara damai1. Dalam rangka penyelesaikan konflik, sikap terbuka, logis, dialogis dengan mengutamakan cara-cara damai menjadi alat terwujudnya kesepakatan di antara para pihak yang berkonflik. Mereka lalu menegosiasikan posisi, kekuatan, sumber daya yang dimiliki, dan pada akhirnya menemukan kesepahaman, dengan tidak lagi mempertentangkan kepentingan para pihak yang berkonflik2.

1 C.B. Mulyatno, Filsafat Perdamaian: Menjadi Bijak Bersama Eric Weil (Yogyakarta:Kanisius, 2012), hlm.

42

2 Afthonul Afif, Pemaafan, Rekonsiliasi dan Restorasi Justice-Diskursus Perihal Pelanggaran di Masa Lalu dan Upaya-upaya Melampauinya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 260

(2)

12

Dalam kultur masyarakat Jawa, jika konflik tidak berhasil diselesaikan, hal itu dipahami sebagai kenyataan hidup yang abnormal3. Karena di setiap konflik selalu ada pihak-pihak yang terluka dan menjadi korban, sehingga masyarakat Jawa memandang konflik sebagai hal yang tidak baik. Masyarakat Jawa selalu berupaya untuk dapat menjaga keselarasan kehidupan. Cara-cara itu selalu terwujud dalam sikap hidupnya4. Penghayatan hidup orang Jawa diwujudkan dengan menjunjung tinggi budi pekerti, termasuk diantaranya adalah menyelesaikan konflik demi terjaganya keharmonisan hidup.

Masyarakat Jawa memandang konflik sebagai hal yang berbahaya.

Sedapat mungkin konflik harus cepat diselesaikan atau malah dihindari sama sekali, bahkan jangan sampai terjadi. Menghindari konflik dengan maksud agar stabilitas dan integritas sosial dapat dipertahankan. Dalam konsep kehidupan orang Jawa, penghayatan akan hal itu disebut memayu hayuning bawana. Kata memayu berarti membuat baik/memperbaiki. Kata hayuning berarti ayu/baik/selamat/cantik. Kata bawana berarti bumi. Secara etimologis memayu hayuning bawana memiliki makna membuat bumi/jagad menjadi baik. Konsep memayu hayuning bawana menjadi spirit laku hidup orang Jawa. Mereka akan terus menerus berupaya mewujudkan kedamaian dan keharmonisan hidup, yang diwujudnyatakan dalam sikap hidup sehari-hari.

Ciri-ciri kearifan orang Jawa dalam rangka mewujudkan memayu hayuning bawana, diantaranya dengan menunjukkan melalui sikap seperti;

3 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia abnormal: tidak sesuai dengan keadaan yang biasa, tidak normal.

Dalam padanan yang lain bisa disebut sebagai deviasi: ada penyimpangan dari norma/peraturan

4 Suwardi Endraswara, Memayu Hayuning Bawana, Laku menuju Keselamatan dan Kebahagiaan Hidup Orang Jawa (Yogyakarta:Narasi, 2013), hlm. 16

(3)

13

membuat orang lain nyaman, tidak mempunyai musuh, mengupayakan jangan menjadi rasanan5 orang lain, dan selalu berupaya mewujudkan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat6. Tenteram dalam konteks kehidupan orang Jawa adalah suasana istimewa dan baik, dimana di dalamnya terdapat kondisi bebas dan tidak merasa terancam.

Oleh sebab itu, dalam relasi sosial orang Jawa, konflik sebisa mungkin harus dihindari. Jika terjadi konflik, harus segera diselesaikan dengan baik. Demi mewujudkan tata titi tentrem kerta raharja (kehidupan tenteram yang seutuhnya).

Keseimbangan kehidupan harus dijaga sehingga tercipta keharmonisan. Jika keharmonisan tercipta maka ketenteraman yang sejati nyata dalam hidup. Bebas dari rasa takut, tidak ada pertikaian, dan tidak ada ancaman yang akan mengganggu harmonisnya kehidupan.7 Kedamaian bagi orang Jawa adalah hal yang utama. Prinsip tersebut tidak hanya sekadar menjadi falsafah orang Jawa tetapi merupakan perwujudan batin orang Jawa. Untuk mencapai kedamaian, orang Jawa harus mewujudkannya dengan hidup rukun. Rukun adalah keadaan dimana terdapat keseimbangan sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari- hari.8

Konflik bisa menjadi kesempatan bagi manusia untuk menata kehidupan baru. Manusia belajar dari konflik yang mereka alami. Pengalaman konflik membentuk suatu tatanan baru, keadaan baru, juga kesepakatan baru. Hal tersebut merupakan dinamika kehidupan masyarakat pascakonflik, dengan syarat jika

5 rasanan: pergunjingan/pembicaraan

6 Ibid, hlm. 17

7 Ibid, hlm. 32

8 Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa-Menggali Mutiara Kebijakan dan Intisari Filsafat Kejawen (Yogyakarta: Cakrawala, 2016), hlm. 38

(4)

14

konflik berhasil diselesaikan dengan baik. Konflik yang diselesaikan dan diatasi dengan baik justru akan memperteguh persaudaraan. Pengalaman konflik dapat menciptakan kesadaran baru, pola hubungan baru, dan keadilan bagi para pihak yang berkonflik.9

Lalu, apa yang akan terjadi bila dalam masyarakat terjadi konflik kepentingan-kepentingan yang berlawanan, juga ada perasaan-perasaan bermusuhan yang dipendam dan terus menerus ditekan? Keadaannya akan beraneka ragam, tergantung pada keterlibatan, reaksi timbal-balik, intensitas hubungan emosional, seberapa besar kelompok berkonflik, juga tergantung pada faktor-faktor eksternal lainnya.

Menurut Lewis A. Coser10, konsekuensi dipendamnya konflik memungkinkan terjadi suatu kondisi: Pertama, dipendamnya konflik dapat mengakibatkan putusnya hubungan. Ketegangan konflik yang memuncak dan akhirnya meledak juga dapat berujung pada sikap pengunduran diri dari salah satu pihak. Kedua, para pihak yang berkonflik mengingkari perasaan bermusuhan yang sebenarnya, lalu akan mengembangkan saluran alternatif untuk mengungkapkannya. Coser menjelaskan sebagai safety valve (katup penyelamat), yaitu sesuatu yang diungkapkan melalui dorongan-dorongan berlawanan dengan sikap agresif yang dapat mengancam solidaritas. Ketegangan dan permusuhan ditekan, solidaritas dan kehidupan baiklah yang dinampakkan.

9 Ronald S. Kraybill. dkk, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 26

10 Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid 2, diindonesiakan oleh:Robert M.Z.

Lawang, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1990), hlm. 202

(5)

15

Dalam kehidupan Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa, terkhusus di beberapa Gereja, terjadi konflik. Rata-rata, konflik yang terjadi berujung pada perpecahan Gereja. Kebanyakan akar konflik bersumber pada persoalan pendeta dan keluarga. Seperti yang dialami oleh Gereja Jawa A di Kota Sragen, yang akhirnya berdampak pada pengunduran diri sekelompok jemaat bernama B11

Konflik internal Gereja Jawa A yang mencuat semenjak Juli tahun 200712, berakibat pada pengunduran diri sekelompok jemaat. Kelompok jemaat yang mengundurkan diri, menamakan kelompoknya; Komunitas Peduli Gereja Jawa A. Mereka lalu bergabung ke Gereja Jawa D, dan dikenal dengan nama Jemaat B.13

Sampai saat ini meskipun para pihak yang berkonflik berjalan sendiri- sendiri dalam menata pelayanan, akan tetapi bila membicarakan persoalan legalitas institusi Gereja Jawa B, pihak Gereja Jawa A belum bisa menerima keabsahan institusi Gereja Jawa B yang telah dewasa. Hal itu Nampak dalam ketidakhadiran pihak Gereja Jawa A, apabila mendapat undangan acara/pelayanan dari Gereja Jawa B.

Padahal, mereka sejatinya memiliki keterhubungan satu sama lain; antara anak dan orang tua, kakak dan adik, mertua dan menantu, sesama saudara di keluarga besar, kakek nenek dan cucu, dan antara besan. Satu sama lain saling bertegur sapa, berelasi dengan tidak ada masalah dalam kehidupan sehari-hari.

11 Komunitas Peduli Gereja Jawa A, kemudian menjadi Jemaat B.

12 Buku Perjalanan Iman Jemaat Tamanmurni (Jemaat yang memisahkan diri dari GKJ Tamanasri), hal. 1

13 Komunitas ini akhirnya bisa mendirikan gereja diresmikan oleh Bupati Sragen waktu itu Bp. Agus Fatchur Rahman pada Kamis, 2 Februari 2012. Letak gerejanya, tidak jauh dari gedung gereja GKJ Tamanasri, kurang lebih hanya 500 meter ke barat dari GKJ Tamanasri, tepatnya di Kampung Tamanmurni.

(6)

16

Upaya-upaya penyelesaian konflik oleh Bapelklas maupun Bapelsin sepertinya belum membuahkan hasil yang berarti. Rekonsiliasi yang merupakan pulihnya hubungan rusak di antara para pihak yang berkonflik, masih terus diupayakan hingga saat ini. Berjalannya waktu, terjadi dinamika rekonsiliasi konflik. Pemaafan diakui oleh para pihak yang berkonflik. Namun pemaafan bersumber dari hati yang tidak terlihat. Apakah benar terjadi pemaafan? Secara lisan, benar terjadi pemaafan, akan tetapi belum menjadi jaminan rekonsilasi yang utuh terwujud.14

Indikasi belum terwujudnya rekonsiliasi, nampak dalam hal pengakuan terhadap Jemaat Gereja Jawa B. Keberadaan Gereja Jawa B15 menurut Gereja Jawa A, juga didukung oleh Gereja-gereja se-Klasis Sragen, tidak sah. Pijakan yang dipakai adalah Akta Sidang Sinode XXV artikel 7 dan 99

Dialog dan upaya rekonsiliasi, terus menerus digumuli dalam persidangan Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa. Seperti yang tertuang dalam Akta Sidang Sinode XXV & XXVI GKJ16. Sinode GKJ bekerja sama dengan Klasis Sragen dan Klasis Sala17 mengupayakan untuk pendampingan dan penyelesaian kasus tersebut. Dan berlanjut di dalam keputusan Sidang Sinode

14 Afthonul Afif, Pemaafan, Rekonsiliasi & Restorative Justice-Diskursus Perihal Pelanggaran di Masa Lalu dan Upaya-Upaya Melampauinya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015) hal. 78

15 Jemaat Tamanmurni pada akhirnya didewasakan oleh GKJ Dagen Palur menjadi GKJ Tamanmurni pada tahun 2019 dan diakui secara sinodal masuk menjadi bagian di Klasis Sala.

16 Artikel no.7 & 99 Akta Sinode XXV GKJ, Artikel no. 28 Akta Sinode XXVI GKJ, keputusannya:

1. Menerima Keputusan Sidang Istimewa Klasis Sragen tanggal 28 Agustus 2009 yang menetapkan penanggalan Pdt Em. Drs Is Subari, dengan demikian Drs. Is Subari tidak berhak lagi melayankan sakramen dan pelayanan kependetaan lainnya.

2. Tidak mengakui keberadaan kelompok yang menamakan diri sebagai jemaat Taman Murni dan majelis termasuk Drs. Is Subari yang diteguhkan oleh GKJ Dagen Palur.

3. Menugasi Bapelsin mendorong Majelis GKJ Dagen Palur untuk membatalkan keputusan penerimaan dan peneguhan jabatan gerejawi GKJ Dagen Palur jemaat Taman Murni.

4. Menugasi Bapelsin menggembalakan jemaat GKJ Dagen Palur secara khusus Pdt. Novembri Choeldahono, MA. dan kelompok Jemaat yang menamakan diri jemaat Taman Murni GKJ Dagen Palur.

17 Jemaat Tamanmurni setelah bergabung dengan GKJ Dagen Palur menjadi bagian dari Klasis Sala

(7)

17

XXVII GKJ dalam Artikel 42 untuk mencari solusi bagi penyelesaian masalah Gereja Jawa A. Begitu juga, dalam Akta Sidang Sinode XXVIII tahun 2019 artikel 14 tentang dialog dan rekonsiliasi Gereja Jawa B. Keputusan yang terakhir terkait dialog dan upaya rekonsiliasi tertuang dalam artikel 14 Akta Sidang Sinode XXVIII GKJ tahun 2019.

Upaya peace building begitu keras untuk diwujudkan. Hal tersebut terlihat dalam relasi yang dibangun di setiap kegiatan kebersamaan dalam aras Kabupaten Sragen misalnya: Perayaan Paskah, Perayaan Natal maupun kegiatan bakti sosial, nampak mereka satu sama seperti tidak ada masalah. Bahkan juga sering terjadi pelayanan bersama, jika ada pelayanan kematian atau Peneguhan Nikah dan Pemberkatan Perkawinan18. Namun jika sudah menyinggung tentang keabsahan institusi, para pihak yang berkonflik memiliki pemahaman yang berbeda. Pihak Gereja Jawa B, melalui kesaksian beberapa tokoh gereja merasa sudah tidak ada masalah dan sudah tidak memerlukan rekonsiliasi.

Proses demi proses menuju pada penyelesaian konflik dan upaya rekonsiliasi yang dilakukan oleh Klasis Sragen, Klasis Sala dan Tim Dialog Sinode, tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Dialog-dialog bersama yang menghadirkan para pihak yang berkonflik selalu berujung pada deadlock dan memunculkan ketegangan baru Bapak RESPONDEN 119 dalam pertemuan membahas rencana pendewasan Jemaat B oleh Gereja Jawa D bersama dengan Utusan Klasis Sala dan Tim Dialog Sinode waktu itu menyatakan:

18 Dalam satu keluarga bisa terjadi anggota keluarga yang satu adalah Warga Tamanasri dan yang lain adalah Warga Tamanmurni.

19 Peryataan dalam pertemuan pada, 8 Oktober 2015, di Klasis Sragen

(8)

18

“Kami tidak pernah mengetahui atau diberitahu progress dari keputusan-keputusan Sidang Sinode terkait dengan masalah Jemaat B. Kalau pada hari ini kami dilibatkan untuk berdialog, kami berterima kasih, berarti keberadaan kami dianggap ada.

Karena selama ini kami tidak pernah sama sekali dilibatkan.

Dan tiba-tiba ada rencana soal pendewasaan Jemaat B, terus terang untuk menerima itu dan berdialog soal itu berat bagi kami. Kami belum siap jika tiba-tiba dipertemukan dengan mereka untuk membahas soal pendewasaan. kami butuh waktu.

Kami takut jika nanti terjadi konflik yang kedua.”

Sementara itu, pihak Gereja Jawa B merasa bahwa luka-luka itu telah sembuh dan tidak mebutuhkan rekonsiliasi. Bapak RESPONDEN 220 sesepuh Jemaat B, dalam pertemuannya dengan utusan Klasis Sragen dan Sala membahas rencana pendewasaan Jemaat B oleh Gereja Jawa D menyatakan:

“Kami tidak merasa sakit hati, hal itu kami wujudkan dalam beberapa sikap kami, seperti; mengundang Bp/Ibu Pendeta untuk datang berkhotbah, mengundang Gereja-gereja di Klasis Sragen dalam event yang kami selenggarakan, kami pun terlibat dalam kegiatan Pepenkris yang diselenggarakan oleh Klasis Sragen dan Yayasan Krida Wacana Sragen. Itu upaya kami untuk kembali menjalin hubungan baik. Meskipun demikian, ada gereja dan Pendeta yang menerima kami, ada yang menolak kami. Kami tidak akan memaksa. Kami tidak akan mengingat ke belakang namun kami akan melihat ke depan, untuk kebaikan.”

Fokus perhatian Bapelklas Sragen dan Bapelsin GKJ adalah mewujudkan terjadinya rekonsiliasi yang otentik21; mendampingi jemaat Gereja Jawa A maupun Gereja Jawa B untuk memahami dengan baik makna rekonsiliasi, memutus rantai dendam dan sakit hati, mewujudkan transformasi konflik;

mengubah konflik menjadi damai.

20 Pertemuan di Klasis Sala, 2 Oktober 2015

21 Seperti dalam mandate Akta Sidang Klasis XV Gereja-Gereja Kristen Jawa Sragen Tahun 2019, pada artikel 11 tentang Rekonsiliasi yang otentik antara Klasis Sragen dengan Komunitas Tamanmurni (masih menyebut dengan komunitas bukan GKJ Tamanmurni)

(9)

19

Luka-luka yang dialami oleh kedua pihak adalah suatu pengalaman sejarah yang tidak bisa hilang. Luka-luka itu diingat sebagai cara untuk mewujudkan rekonsiliasi yang utuh. Seperti yang dialami oleh masyarakat Afrika Selatan pada masa apartheid, Desmon Tutu mengungkapkan: “Kami tidak ingin memaafkan apabila kami tidak tahu siapa yang kami maafkan”22. Dengan kata lain, upaya perwujudan rekonsiliasi otentik justru dengan mengambil langkah awal untuk tidak melupakan peristiwa yang terjadi.

Dengan mengingat apa yang terjadi seseorang dapat memberikan pengampunan demi terwujudnya rekonsiliasi. Schreiter menjelaskan bahwa rekonsiliasi bukan semata-mata soal melupakan kekerasan dan peristiwa kelam di masa lalu dan pada akhirnya seseorang atau sekelompok dapat melanjutkan rekonstruksi. Seperti semacam “gencatan senjata” untuk beberapa waktu tertahan, namun pada akhirnya meledak kembali. Upaya semacam itu justru meremehkan penderitaan masa lalu seseorang atau sekelompok orang, dan terus menerus menjadikan mereka sebagai korban. Kehadiran korban dalam upaya rekonsiliasi justru penting. Korban menjadi pusat perhatian demi terwujudnya perdamaian23.

Bagaimana dapat mengukur bahwa pelaku kesalahan telah mengakui kesalahan dan mendesak para korban untuk bisa memaafkan dan melupakan?

Melupakan merupakan bukti kesungguhan untuk memaafkan, sekali pun melupakan bukanlah bagian dari rekonsiliasi. Apa yang diingat sekarang dibuang dengan cara yang berbeda, akan tetapi tidak dilupakan. Melupakan hal-hal yang

22 Desmond Tutu, Tiada Masa Depan Tanpa Pengampunan-Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan, (Kartasura: CISCORE, 2001), hlm. 163

23 John Brewer, dkk, The Sosiology of Everyday Life Peacebuilding-Palgrave Studies in Compromise After Conflict, (Switzerland: Palgrave Macmillan, 2018), hlm. 9-10

(10)

20

terjadi di masa lalu sama saja meremehkan korban.24 Menurut Schreiter, rekonsiliasi adalah menyoal tentang penyembuhan, perubahan pandangan dan itu tidak dapat diprogram.25 Dalam rekonsiliasi terjadi proses yang alami tidak dibuat-buat.

Transformasi konflik berangkat dari penghargaan yang dalam terhadap martabat dan keunikan masing-masing manusia. Kraybill menjelaskan bahwa peran mediator dalam menjalankan fungsi transformatifnya adalah dengan berupaya menumbuhkan kesadaran dalam diri para pihak yang berkonflik. Hal tersebut dapat diupayakan melalui: pertama; interaksi dengan para pihak yang berkonflik. Dengan membangun dialog hingga melihat para pihak mampu menumbuh kembangkan kesadaran diri yang sehat, sehingga dapat merumuskan dan mengungkapkan soal pilihan, harapan, kebutuhan, maupun impian mereka, serta mendorong agar dapat bertanggung jawab atas kehidupan dan masalah mereka sendiri. Ketrampilan ini sering disebut dengan empowerment (pemberdayaan).26

Sedangkan strategi yang kedua menurut Kraybill adalah bagaimana memperluas kemampuan para pihak yang berkonflik untuk menyadari dan menerima harkat dan martabat pihak lain. Hal tersebut dapat dilakukan melalui dorongan menghargai keberadaan orang lain, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku mereka sendiri, memberikan kesempatan kepada para pihak yang berkonflik untuk mendengarkan, menghayati pengalaman pihak lain, mencatat

24 Robert J. Schreiter, C.PPS, Reconcilliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order, (Orbis,1992) hlm. 11-13

25 Ibid, hlm. 13

26 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 27-28

(11)

21

dan menunjukkan berbagai persamaan di antara para pihak, memberi kesempatan untuk saling mengakui kesalahan dan akhirnya dapat memperbaiki hubungan yang rusak. Proses ini disebut dengan recognition (pengakuan).27

Seorang pendamai dalam mentransformasi konflik pada satu sisi dituntut komitmen yang tinggi dan kuat untuk dapat menolong para pihak yang berkonflik tumbuh dan berubah dalam rangka mencapai potensi diri mereka masing-masing.

Di sisi lain, dituntut untuk dapat mengelola diri secara cermat agar mampu mempertahankan sikap fasilitatif dan persuasif, yang mutlak diperlukan demi kemungkinan terwujudnya transformasi. Orang-orang dengan kapasitas ini, disebut oleh Kraybill sebagai peacebuilders (para juru damai). Seluruh rangkaian kegiatannya disebut dengan peacebuilding (membangun perdamaian).28

Pascakonflik internal Gereja Jawa A, kehidupan sehari-hari tidak sama lagi dengan dahulu sebelum konflik. Di antara jemaat, berkembang pro kontra pemahaman tentang sebagian jemaat yang memisahkan diri dari keanggotaan Gereja Jawa A. Dimana sebagian diantaranya adalah anggota keluarga mereka, saudara mereka dan tetangga mereka, yang dahulu bergaul akrab, namun selama terjadi konflik sampai dengan pascakonflik, relasi dalam keluarga, keluarga besar, dan tetangga beberapa berubah menjadi kaku dan tidak wajar. Ada sebagian dari mereka yang menghendaki terjalinnya hubungan baik kembali serta mengakui mereka yang memisahkan diri sebagai jemaat yang sah. Sebagian yang lain, adalah mereka yang tidak mengakui dan tidak akan pernah mau mengakui keberadaan jemaat yang memisahkan diri.

27 Ibid, hlm. 28

28 Ibid, hlm. 31

(12)

22

Bapak RESPONDEN 3, salah satu anggota jemaat Gereja Jawa A yang berdomisili di Pepanthan Gandil waktu itu mengatakan29:

“Mending seperti ini saja keadaannya, biarlah mereka tetap dengan Gereja Jawa D, dan kalau pun nanti didewasakan, biarlah masuknya ke Klasis Sala, jangan diserahkan ke Klasis Sragen.”

Ada keenganan dan kekuatiran untuk menjalin relasi yang baik dengan jemaat yang telah memisahkan diri. Mereka takut jika proses rekonsiliasi itu justru dapat memunculkan konflik baru. Karena masih ada sebagian jemaat yang memiliki luka terlalu dalam, dan masih sulit untuk menerima kembali mereka yang memisahkan diri. Seperti yang disampaikan oleh Pdt. RESPONDEN 4, salah satu anggota Tim Rekonsiliasi demikian30:

“Rekonsiliasi akan sulit terwujud di antara mereka, karena masih ada tokoh-tokoh gereja yang sampai sekarang merasa masih memiliki luka yang dalam, karena mereka merasa diingkari, padahal mereka sebenarnya penentu rekonsiliasi.”

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis berinisiatif untuk melakukan studi kasus pada Jemaat Gereja Jawa B, untuk mencari tahu bagaimana pemisahan dan pendewasaan gereja dapat menjadi mekanisme dalam rekonsiliasi konflik.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana pemisahan gereja menjadi upaya dalam rekonsiliasi konflik?

29 Wawancara pada, 8 Oktober 2015, di Kantor Klasis Sragen

30 Percakapan bersama dengan utusan Klasis Sragen pada perjalanan menuju Klasis Sala untuk berdialog dengan Jemaat Tamanmurni, 2 Oktober 2015

(13)

23 1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian ini, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Menjelaskankan sejarah terjadinya konflik dan mengidentifikasi faktor- faktor yang menyebabkan pemisahan diri jemaat.

2. Memetakan upaya rekonsiliasi yang telah dilakukan pasca pemisahan diri jemaat.

3. Mengetahui dan menganalis keadaan jemaat paska pengunduran diri.

1.4.Kerangka Pemikiran

Konflik internal jemaat di lingkungan Gereja Kristen Jawa akhir-akhir ini bermunculan31, di antaranya menyebabkan perpecahan jemaat.

Faktor pencetus konflik utamanya adalah persoalan relasi antara pendeta dan jemaat, keluarga pendeta dan jemaat, pendeta dengan tokoh gereja32. Dari beberapa konflik yang terjadi pada akhirnya pendeta yang menjadi korban, jabatan mereka ditanggalkan33. Posisi pendeta dalam suatu konflik, lemah.

Dalam perspektif penulis, hubungan pendeta dengan jemaat seperti hubungan pekerja dan pemberi kerja. Apalagi ada sebagian jemaat yang memiliki pemahaman bahwa pendeta harus tunduk, patuh, dan melakukan semua pekerjaan pelayanan sesuai dengan tuntutan jemaat, karena jemaat sudah mencukupi seluruh

31 Gereja-gereja yang mengalami konflik di antaranya:GKJ Tamanasri (Klasis Sragen), GKJ Tunjungseto (Klasis Kebumen), GKJ Wonosobo (Klasis Wonosobo), GKJ Semanu (Klasis Yogya Selatan), GKJ Gondokusuman (Klasis Yogya Selatan), GKJ Majenang (Klasis Citanduy), GKJ Salatiga Timur (Klasis Salatiga), GKJ Kendal (Klasis Semarang Barat)

32 Kebanyakan kasus adalah tentang masalah etis pendeta

33 Akta Sinode XXV GKJ artikel 7 (lampiran) mencatat ada 9 pendeta yang ditanggalkan jabatannya.

(14)

24

kebutuhan hidup pendeta dan keluarga. Jadi jemaat memiliki hak penuh kepada pendeta. Pendeta layaknya seorang gembala upahan.

Di lain sisi, beberapa kasus menunjukkan ketika pendeta melakukan kesalahan, entah melanggar norma etis, hukum gereja, atau hukum negara, jemaat menganggap sudah tidak ada ruang lagi bagi pendeta untuk membarui diri dan memperbaiki kesalahan. Satu noda telah menutup seluruh kebaikan atau pun nilai- nilai baik yang dimiliki oleh pendeta. Jika pendeta terlibat dalam konflik internal jemaat, pendeta menjadi pihak subordinasi, sementara pihak jemaat/gereja menjadi pihak superordinasi.

Dalam asumsi dasar teori konflik menyebutkan bahwa ada otoritas yang berbeda-beda: yang berkuasa dan yang dikuasai. Otoritas yang berbeda itu menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan34.

Pemahaman umum bahwa gereja adalah lembaga penyemai benih belas kasih dan cinta, justru dalam kenyataannya menjadi kontradiktif. Namun, ketika terjadi konflik, gereja (baca: jemaat) sepertinya malah menjadi lembaga yang tidak memiliki belas kasih dan cinta. Egoisme para pihak yang berkonflik itu yang ditonjolkan, alih-alih mempertahankan prinsip dan berpegang kepada aturan gereja yang saklek. Ketika konflik meledak di gereja, jika tidak ditangani dengan baik, konflik akan menjadi berkepanjangan, pada akhirnya menyulut perselisihan yang mendalam, perpecahan dalam tubuh jemaat tidak bisa dihindari.

34 Bandingkan Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas tentang Teori konflik.

(15)

25

Dalam teorinya, Lewis A. Coser menyatakan bahwa semakin dekat hubungan semakin besar rasa kasih sayang yang tertanam, akan membuat semakin besar juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan.

Konflik jemaat Gereja Jawa A yang memuncak dengan mundurnya sebagian jemaat dan mengikatkan diri ke Gereja Jawa D35 menjadi contohnya.

Tindakan mundurnya sebagian jemaat tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak menginginkan adanya gesekan yang semakin keras. Tindakan sebagian jemaat tersebut untuk menghindari ledakan konflik yang membahayakan hubungan di antara jemaat. Barangkali hal itu karena tipikal orang Jawa dalam memahami relasi dengan sesama, konsep hidup memayu hayuning bawana sangat besar pengaruhnya.

Kekecewaan sebagian jemaat terhadap proses penyelesaian konflik yang terjadi menurut Coser disebut dengan konflik realistis. Konflik terjadi oleh karena kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus dalam sebuah hubungan.36

Sebagian jemaat yang mengatasnamakan dirinya Komunitas Peduli Gereja Jawa A merasa sebagai pihak subordinasi, menganggap proses yang dijalani terlalu bertele-tele dan tidak efisien. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Majelis maupun Badan Pelaksana Klasis Sragen dianggap berat sebelah, tidak mengakomodir suara mereka. Mereka beranggapan upaya rekonsiliasi, upaya penyatuan jemaat kembali melalui: visitasi khusus, mediasi Badan Pelaksana

35 Dalam perkembangannya saat ini sudah menjadi Gereja yang mandiri dan didewasakan menjadi GKJ Tamanmurni

36 Dalam catatan Perjalanan Iman Jemaat Tamanmurni, hal 4 menjelaskan bahwa pengunduran diri 514 jemaat, Majelis GKJ Tamanasri II dan Bapak Is Subari adalah jalan terbaik bagi mereka. Kepindahan mereka dengan tidak membawa dan menuntut apapun dari GKJ Tamanasri .

(16)

26

Klasis (Bapelklas) dan Badan Pelaksana Sinode (Bapelsin), juga dari pihak aparat kepolisian mengalami jalan buntu. Dalam bahasa mereka tidak ada kemajuan yang berarti. Daripada konflik berlarut-larut dan menguras emosi sampai pada tindakan kekerasan dan teror, mereka memilih untuk mundur, dengan cara menggabungkan diri ke Gereja Jawa D. Gereja Jawa D bagi Komunitas Jemaat B adalah jalan keluar/katup penyelamat untuk meredakan permusuhan, sekaligus sebagai upaya peredaman gejolak konflik yang semakin menajam.

Dalam kacamata Coser katup penyelamat adalah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari ledakan konflik. Katup penyelamat merupakan institusi pengungkapan rasa ketidakpuasan atas sistem.

Mereka tidak puas dengan proses penyelesaian konflik yang sedang berjalan.

Ronald S. Kraybill, menjelaskan bahwa pada suatu titik berlangsungnya konflik, para pihak yang berkonflik bisa saja tiba-tiba mengubah langkah, memilih menghindar atau bisa menempuh kekerasan37. Komunitas Peduli Gereja Jawa A atau Jemaat B memilih untuk memisahkan diri, dan bergabung dengan Gereja Jawa D.

Di komunitas baru tempat mereka bernaung, mereka merasakan hidup berjemaat secara bebas tidak dibatasi dengan kesepakatan-kesepakatan, mereka bebas beribadah dan menunjukkan eksistensi dirinya sebagai jemaat yang mandiri.

Setelah peristiwa pengunduran sebagian jemaat ke Gereja Jawa D, Jemaat Gereja Jawa A berbenah diri dan menata kembali kehidupan bergereja.

Melakukan pemanggilan pendeta atas diri Bp. G, ditahbiskan pada 26 Oktober

37 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 43

(17)

27

2010. Jemaat pun kembali bergairah dalam berbakti, bersekutu, melayani dan bersaksi. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan dalam kategorial pelayanan. Begitu pula dengan Jemaat B, pada tahun 2019 mulai melakukan proses pemanggilan calon pendeta, dalam diri Sdr. C, dan ditahbiskan pada tahun 2021.

Ada banyak kegiatan yang dilakukan bersifat konsolidasi dan mempererat kembali jalinan kehidupan berjemaat. Konflik secara positif dapat memperkokoh sistem/struktur suatu kelompok tertentu.

Kondisi yang ada sekarang ini sebenarnya bukanlah kondisi final yang diinginkan oleh sebagian besar jemaat, baik Gereja Jawa A maupun Gereja Jawa B. Mereka merindukan relasi yang terbangun utuh dan tidak semu. Bagi jemaat yang mengundurkan diri menginginkan keberadaan mereka diakui secara sah oleh seluruh keluarga besar Gereja Kristen Jawa pada umumnya.38 Namun tampaknya, Jemaat Gereja Jawa A sudah merasa nyaman dalam keadaan seperti sekarang ini.

Tidak perlu ada penerimaan kembali. Demikian juga dengan Gereja Jawa B, harapan mereka sudah terwujud dengan diakuinya Gereja Jawa B menjadi bagian dari Sinode GKJ.

Melihat kebuntuan proses rekonsiliasi yang telah diupayakan oleh Bapelklas (Badan Pelaksana Klasis) maupun Bapelsin (Badan Pelaksana Sinode), perlu menyusun strategi ulang, untuk dapat mewujudkan transformasi konflik.

Dalam bahasa Kraybill, transformasi konflik dimaknai bukan hanya dengan mengakhiri atau mencegah sesuatu yang kurang baik, akan tetapi juga memulai

38 Karena masalah GKJ Tamanasri dan Jemaat Tamanmurni sesudah menjadi masalah yang digumuli bersama keluarga besar Gereja Kristen Jawa

(18)

28

sesuatu yang baru dan baik. Konflik dapat menjadi katalisator bagi terwujudnya perubahan yang mendasar, langgeng, dan positif dalam diri individu, relasi antarindivu, juga struktur-struktur kelompok masyarakat39.

Rekonsiliasi, memerlukan penyusunan langkah-langkah kembali dengan melakukan dialog kepada kedua pihak. Oleh sebab itu melalui penelitian ini, penulis ingin melihat, gambaran sejarah konflik yang dialami oleh Jemaat Gereja Jawa B juga dialog-dialog yang telah dilakukan, hingga menyebabkan pemisahan diri. Penulis juga ingin menjelaskan dinamika rekonsiliasi konflik, serta melihat bagaimana pemisahan dan pendewasaan gereja sebagai mekanisme rekonsiliasi konflik.

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan melengkapi berbagai macam kajian ilmiah tentang rekonsiliasi konflik yang sudah ada. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi pemangku kepentingan (Majelis Gereja Jawa A dan Gereja Jawa B40, Badan Pelaksana Klasis, dan Badan Pelaksana Sinode) dalam menentukan kebijakan dan langkah-langkah dialog untuk mewujudkan rekonsiliasi.

39 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 134-135

40 Sekarang menjadi GKJ Tamanmurni (karena sudah diakui sah secara sinodal, pada Sidang Sinode tahun 2019 di Magelang)

(19)

29 1.6.Metodologi Penelitian

1.6.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian akan dilakukan di: Gereja Jawa B, Jl. Cemara No.

15, Jemaat B, Sragen. Jarak lokasi penelitian dengan lokasi penulis tidaklah jauh, sekitar 2 Km.

1.6.2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus.

Metode kualitatif studi kasus dipilih, berdasarkan tujuan penelitian ini untuk menjelaskankan sejarah terjadinya konflik, dialog-dialog yang telah diupayakan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan pengunduran diri/pemisahan sebagian besar jemaat, juga memetakan upaya rekonsiliasi yang telah dilakukan pasca pengunduran diri dan mengetahui keadaan jemaat pasca pengunduran diri. Dalam hal ini, kasus yang dipilih memiliki kekhususan tertentu yang bersifat unik/berbeda dengan kasus yang lain. Menurut Creswell, dalam penelitian kualitatif peneliti berusaha membuat gambaran kompleks dari suatu masalah yang diteliti, serta mengeksplorasikannya.41

Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitian dilakukan terhadap obyek dalam kondisi yang alamiah atau apa adanya. Ketika peneliti memasuki obyek, selama berada

41 John W. Creswell, Research Design:Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Edisi Ketiga.

Penerjemah Achmad Fawaid (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2012)

(20)

30

dalam obyek dan setelah keluar dari obyek, kondisi obyek yang diteliti relatif tidak berubah.42

1.6.3. Jenis dan Sumber Data

Ada dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer adalah informasi yang diperoleh dari sumber-sumber primer, yaitu informasi dari narasumber sebagai pelaku sejarah (majelis, Tim Pastoral, tokoh gereja, visitator) serta partisipan yang lain (jemaat).

Data sekunder dibutuhkan untuk melengkapi data primer. Data sekunder yang dimaksud seperti: dokumen-dokumen resmi (Akta Sidang Klasis, Sidang Sinode), buku-buku, laporan tertulis hasil visitasi, yang oleh Creswell disebut sebagai dokumen publik dan dokumen-dokumen privat seperti: buku harian, catatan pribadi, surat-surat.

1.6.4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan pada kondisi alamiah, menurut Creswell, konteks natural inilah yang menjadi karakteristik utama penelitian kualitatif.

Peran peneliti adalah sebagai instrumen kunci yang mengumpulkan sendiri data-data43.

Dalam Penelitian ini akan dilakukan teknik pengumpulan data dengan:

42 Ibid

43 ibid

(21)

31

1) Observasi kualitatif, merupakan observasi yang di dalamnya peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu. Dalam pengamatan peneliti merekam/mencatat secara terstruktur maupun semistruktur (dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang ingin diketahui oleh peneliti) aktivitas-aktivitas di lokasi penelitian.

2) Wawancara kualitatif, wawancara kualitatif dapat dilakukan dengan face to face interview (wawancara berhadap-hadapan) dengan narasumber/partisipan atau menggunakan focus group interview (interview dengan kelompok tertentu). Dalam wawancara yang dilakukan dengan partisipan memerlukan pertanyaan-pertanyaan yang secara umum tidak terstruktur dan bersifat terbuka dirancang untuk memunculkan pandangan/opini dengan para partisipan.

3) Selama proses penelitian, peneliti juga akan mengumpulkan dokumen-dokumen kualitatif. Dokumen ini, berupa dokumen publik (dokumen-dokumen resmi, akta-akta sidang majelis, klasis dan sinode, laporan hasil visitasi, makalah-makalah terkait kasus Gereja Jawa A dan Gereja Jawa B, catatan-catatan sejarah ataupun dokumen privat, yang meliputi: buku harian/diary, surat-surat)

4) Peneliti juga akan mendokumentasikan materi audio dan visual.

Materi tersebut bisa berupa foto, objek, videotape, dan segala jenis suara bunyi.

(22)

32 1.6.5. Medote Analisis Data

Melalui data yang dikumpulkan, peneliti akan melakukan klasifikasi, kategorisasi untuk melihat konflik yang terjadi dari sudut pandang kedua pihak (Jemaat Gereja Jawa A dan Gereja Jawa B). Karena keberadaan Gereja Jawa B tak lepas dari sejarahnya di Gereja Jawa A.

Setelah itu akan dilakukan penyelarasan data observasi, interview, dokumen-dokumen penelitian maupun materi audio dan visual. Langkah terakhir dalam analisa data adalah interpretasi/memaknai data. Creswell menjelaskan menurut Lincoln & Guba pertanyaan: “Pelajaran apa yang bisa diambil dari semua itu?” akan membatu peneliti mengungkap esensi dari suatu gagasan44.

Interpretasi bisa berupa makna yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literatur atau teori.

Cresswell menyebutkan peneliti dalam hal ini meneGkan apakah hasil penelitiannya membenarkan atau justru menyangkal informasi sebelumnya.45 Interpretasi/pemaknaan ini juga bisa berupa pertanyaan-pertanyaan baru yang perlu dijawab. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari data dan analisis, bukan dari hasil ramalan si peneliti.

Penting dalam sebuah penelitian untuk melakukan validitas data. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pemeriksaan akurasi hasil penelitian dengan penerapan prosedur-prosedur tertentu.46 Salah satunya dengan melakukan triangulasi. Triangulangi dilakukan sebagai pengujian kredibilitas serta

44 ibid

45 ibid

46Ibid, hlm. 285

(23)

33

pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu.47 Penulis akan melakukan triangulasi sumber dan triangulasi waktu.

1.7. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:

Bab I berisi Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian yang meliputi: Lokasi Penelitian, Metode Penelitian, Jenis dan Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Metode Analisa Data, dan Sistematika Penulisan.

Bab II Menjelaskan apa itu rekonsiliasi/transformasi konflik dalam konflik dilihat dari berbagai sudut pandang teori.

Bab III berisi tentang Sejarah Konflik di Gereja Jawa A, yang dijelaskan melalui akar konflik di Gereja Jawa A, dialog-dialog yang telah dijalankan dan faktor-faktor pemicu pemisahan diri Jemaat B. Dalam bab ini, akan dijelaskan tentang proses pendewasaan Jemaat B menjadi Gereja Jawa B.

Dalam Bab IV akan dijelaskan tentang analisa dinamika rekonsiliasi yang sudah dijalani, dipetakan melalui dinamika rekonsiliasi menurut Kriesberg. Akan dijelaskan pula analisa dalam kerangka pengampunan seperti yang sampaikan oleh Schreiter dan Desmon Tutu, dengan melihat korban sebagai pusat rekonsiliasi seperti yang dikaji oleh John Brewer, dkk. Penulis juga akan membandingkan dengan pemahaman konsep hidup masyarakat Jawa tentang

47Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan RND, Edisi ke-12. (Bandung:Penerbit Alfabeta, 2011), hlm. 273-274

(24)

34

memayu hayuning bawana, serta pilihan pemisahan dan pendewasaan gereja sebagai mekanisme rekonsiliasi konflik.

Pada bagian penutup yaitu Bab V berisi kesimpulan dan rekomendasi khususnya untuk kepentingan Sinode GKJ dalam upaya pendampingan dan penyelesaian terhadap kasus konflik yang terjadi lingkungan GKJ.

Referensi

Dokumen terkait

Penulis menyusun Tesis ini dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen

Konsekuensi yang diharapkan klien dapat memeriksa kembali tujuan yang diharapkan dengan melihat cara-cara penyelesaian masalah yang baru dan memulai cara baru untuk bergerak maju

Hasil dari penelitian ini adalah terumuskan 5 strategi dan kebijakan IS/IT yang sebaiknya diterapkan di FIT Tel-U berdasarkan pertimbangan 3 hal, pertama kebutuhan

 Membuat tabel sederhana hasil pengukuran berat dengan 3.3 Mengenal teks buku harian tentang kegiatan anggota keluarga dan dokumen milik keluarga dengan bantuan guru

L : Ya Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib, hanya oleh karena kasihMu kepada orang berdosa ini. P : Ajarilah kami selalu mengingat Tuhan yang mati di kayu

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).

Penelitian ini terdiri dari dua percobaan yaitu 1) Iradiasi sinar gamma pada kalus embriogenik jeruk keprok SoE untuk mendapatkan nilai LD 50. 2) Seleksi untuk mendapatkan

peran Humas dilihat dari perencanaan Program, Perencanaan Strategi, Aplikasi Strategi, dan Evaluasi dan kontrol, jika semua itu diprioritaskan untuk