• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada abad ke-21, perhatian terhadap masalah lingkungan menunjukkan peningkatan yang cukup besar. Kerusakan lingkungan kini semakin parah dan menimbulkan kekhawatiran akan menyebabkan pemanasan global, penipisan lapisan ozon stratosfer, pencemaran laut dan sungai. Kerusakan ini berujung pada degradasi lingkungan dimana permasalahan lingkungan utama saat ini adalah illegal logging, pencemaran air akibat limbah industri, perambahan kawasan konservasi dan penurunan kualitas keanekaragaman hayati.

Permasalahan tersebut berdampak pada degradasi sumber daya alam, sumber daya energi, lingkungan dan sumber daya pangan, serta eksploitasi sumber daya alam tak terbarukan yang semakin memperburuk sumber daya lingkungan (Widyaningrum, 2020).

Indonesia saat ini merupakan negara yang giat menggali sumber daya alam sebagai modal pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Bahkan, menjadi ancaman bagi kesejahteraan rakyat. Akibat eksplorasi lingkungan, eksploitasi dan kegiatan pariwisata semakin terabaikan dan terancam. Terlihat bagaimana setiap daerah menggali segala potensi yang ada di daerahnya tanpa memperhatikan prinsip keadilan antar generasi dan tidak memperhatikan kebutuhan masa depan.

Dapat dikatakan bahwa pembangunan ekonomi di Indonesia akan menghadapi tantangan yang lebih kompleks, sehingga memerlukan reaksi dan tindakan yang kompleks agar Indonesia dapat mengambil sisi yang menguntungkan. Salah satu yang terpenting adalah menyesuaikan kebijakan di sektor ekonomi termasuk perbankan sehingga diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan untuk memperkuat perekonomian nasional di tengah persaingan global (Safitri et al., 2019).

Besarnya pengaruh secara tidak langsung lembaga keuangan khususnya bank dalam pembiayaan kegiatan produksi terhadap kelestarian lingkungan hidup, oleh karenanya pemerintah terus memberikan perhatian pada masalah ini,

(2)

dan bahkan kerjasama antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terus dilanjutkan. Kesepakatan Bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Otoritas Keuangan (OJK). Jakarta, 26 Mei 2014.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menandatangani Kesepakatan Bersama (MoU) tentang Peningkatan Peran Lembaga Jasa Keuangan Dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Melalui Pengembangan Jasa Keuangan Berkelanjutan.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Prof.

Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dan Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad. Kerjasama ini merupakan program lanjutan KLH dengan Bank Indonesia sejak tahun 2010 dalam kerangka pelaksanaan nota kesepahaman green banking. Kerjasama ini pun sejalan dengan komitmen KLH untuk mendorong pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH).

Pelaksanaan green banking adalah salah satu upaya untuk merubah paradigma dalam pembangunan nasional dari greedy economy menjadi green economy (Nasution, 2018).

Perbankan sebagai lembaga sektor keuangan juga tidak bisa lepas dari tekanan untuk berperilaku etis untuk menjalankan bisnis yang ramah lingkungan, sehingga perlu dilakukan manajemen risiko lingkungan dan sosial yang disebut dengan konsep green banking. Green banking adalah bank yang kegiatan operasionalnya ramah lingkungan, memiliki tanggung jawab dan kinerja lingkungan serta mempertimbangkan aspek perlindungan lingkungan dalam menjalankan usahanya.

Dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dalam pengambilan keputusan bisnis, dapat mengurangi dampak negatif dari kegiatan operasional lembaga keuangan sehingga dapat membantu upaya tanggung jawab sosial perusahaan dan mencapai keberlanjutan. Berbagai cara dapat dilakukan dalam penerapan green banking seperti online banking, internet banking, green checking account, green loan, mobile banking, electronic banking outlet dan

(3)

penghematan penggunaan energi yang berkontribusi pada program kelestarian lingkungan (Rachman, 2018).

Green banking adalah program bagi lembaga keuangan yang menjadikan keberlanjutan sebagai prioritas utama dalam bisnis mereka. Green banking memiliki empat elemen kehidupan, yaitu Alam (Nature), Kesejahteraan (Well- Being), Ekonomi (Economy) dan Masyarakat (Society). Bank atau lembaga keuangan yang menggunakan konsep green banking akan menjalankan program ini dengan mensinergikan keempat elemen tersebut ke dalam prinsip bisnis yang selain menjaga kualitas kehidupan manusia, juga menjaga ekosistem. Hasil yang diharapkan berupa efisiensi biaya operasional perusahaan, keunggulan kompetitif, corporate, identity, branding yang kuat kepada institusi dan tercapainya target bisnis yang seimbang. (Suryaman, 2016).

Lingkungan berfungsi sebagai sumber daya karena menyediakan unsur- unsur untuk produksi dan konsumsi. Produksi dan konsumsi tidak akan lepas dari air, udara, tanah/hutan dan lain-lain. Faktor penting dalam menjaga pasokan air dan udara yang sehat adalah pemeliharaan hutan. Masalah lingkungan dapat timbul akibat penggunaan sumber daya alam dan jasa lingkungan yang berlebihan, sehingga meningkatkan berbagai tekanan terhadap lingkungan, baik berupa kelangkaan sumber daya maupun pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya. Salah satunya adalah perusakan hutan. Untuk itu diperlukan penghijauan kembali untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai “paru-paru”

bumi. ini sudah dijelaskan dalam Q.S. Al-Rum (30):41

ْتَبَسَك اَمِب ِرْحَبْلا َو ِ رَبْلا ىِف ُداَسَفْلا َرَهَظ ْمُهَّلَعَل ا ْوُلِمَع ْيِذَّلا َضْعَب ْمُهَقْيِذُيِل ِساَّنلا ىِدْيَا

ن ْوُع ِج ْرَي

٤ََ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.

(Q.S. Al-Rum:41)”

Perdebatan yang terjadi dalam penerapan green banking adalah pihak mana yang harus bertanggung jawab atas dampak lingkungan yang ditimbulkan, apakah pihak bank atau debitur yang akan bertanggung jawab. Beberapa bank telah mencoba melakukan seleksi sejak awal atas pembiayaan yang diajukan

(4)

oleh calon debitur. Bank memiliki hak penuh untuk memilih mengurangi dana pembiayaan atau tidak mengurangi dana pembiayaan, tergantung sejauh mana kegiatan yang akan dibiayai dengan pinjaman bank berdampak terhadap lingkungan (Marcel, 2004).

Program pembiayaan proyek berbasis lingkungan adalah program yang melihat faktor risiko dalam penyaluran pembiayaan, dalam hal ini harus mengutamakan ramah lingkungan dan kontinuitas. Jika bisnis telah memenuhi persyaratan ramah lingkungan sesuai dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), maka bank baru dapat mengucurkan pembiayaan. Bank akan melihat seberapa jauh risiko yang akan timbul dan dapat merugikan pada saat pemberian pembiayaan untuk bisnis yang tidak ramah lingkungan (Yuliawati et al., 2017).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Pusva, 2017) selain manfaat bagi lingkungan, ada beberapa manfaat bagi bank itu sendiri yang dapat diperoleh jika bank menggunakan prinsip-prinsip green banking, baik dalam kegiatan operasional maupun pembiayaan. Hal ini dikarenakan green banking memiliki tujuan untuk melaksanakan operasional bank yang ramah lingkungan melalui pengurangan penggunaan kertas, efisiensi listrik, perkantoran yang ramah lingkungan dan lain-lain.

Efisiensi biaya operasional merupakan langkah yang paling tepat untuk menekan biaya yang terkait dengan kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.

Efisiensi biaya operasional dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan kertas, efisiensi listrik, perkantoran yang ramah lingkungan, membuat produk dengan transaksi berbasis internet dan lain-lain. Penerapan green banking pada efisiensi biaya operasional akan berdampak pada efisiensi penggunaan bahan habis pakai dan listrik dalam rangka penyelamatan lingkungan dan menekan biaya operasional bank.

Indonesia merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi kesepakatan negara-negara di dunia pada Paris Cop 21 yang diselenggarakan pada tahun 2015 dan dikukuhkan dalam berbagai Kerjasama Para Pihak selanjutnya, termasuk penyelenggaraan Cop ke-24, 2018 di Polandia. Pada pertemuan Paris Cop 21, Pemerintah Indonesia menegaskan kembali tekadnya

(5)

untuk mengurangi tingkat emisi CO2 sendiri sebesar 29%, atau hingga 40% jika menerima bantuan internasional pada tahun 2030, dengan menggunakan baseline 2016 sebagai standar.

Karena penanggulangan lingkungan dan cuaca ekstrim membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat, maka BRIsyariah (sekarang BSI) sebagai anak perusahaan BUMN bertekad untuk turut serta melestarikan lingkungan. BRIsyariah merupakan satu dari delapan bank yang menandatangani Pilot Project Implementasi Pedoman Integrasi Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (LST) untuk Bank, yang diprakarsai oleh World Wildlife Fund for Nature (WWf) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kedelapan bank ini sering disebut sebagai “First Mover on Sustainable Banking”. OJK berharap langkah delapan bank yang mewakili 46% aset perbankan nasional ini dapat mendorong perbankan dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya mengikuti jejak untuk mulai menerapkan keuangan berkelanjutan di Indonesia (PT Bank Syariah Indonesia, 2018).

Berdasarkan fenomena-fenomena yang ada pada latar belakang, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Implementasi Green Banking Pada Produk Pembiayaan Pembiayaan Usaha Rakyat Mikro Bank Syariah Indonesia : Penelitian Pada BSI KC Cirebon Dr Cipto”.

B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka didapatkan identifikasi masalah sebagai berikut:

a. Keberlanjutan, bank dapat mengintegrasikan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan ke dalam strategi kerja mereka.

b. Tidak merusak, bank membuat kebijakan dan peraturan yang mendorong investasi dalam kegiatan ekonomi yang tidak menyebabkan kerusakan lingkungan.

(6)

c. Bertanggungjawab, bank juga bertanggung jawab atas dampak dan kerusakan lingkungan dan sosial yang negatif sebagai akibat dari tindakan mereka.

d. Tata kelola dan pasar yang berkelanjutan, bank perlu mendukung kebijakan, peraturan atau mekanisme yang mendorong keberlanjutan.

e. Adanya sistem manajemen dan rencana aksi terkait mitigasi dan pemantauan potensi dampak dan risiko yang teridentifikasi.

2. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut diatas, maka permasalahan pokok dapat dibatasi sebagai berikut:

a. Penerapan konsep green banking dalam penyaluran/pemberian produk KUR (Pembiayaan Usaha Rakyat) Mikro pada BSI (Bank Syariah Indonesia) KC Cirebon Dr Cipto.

b. Pendampingan yang dilakukan BSI KC Cirebon Dr Cipto terhadap nasabah penerima pembiayaan KUR Mikro guna meningkatkan kinerja keberlanjutan.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan-batasan masalah diatas, maka pokok permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana mekanisme penerapan green banking dalam penyaluran/pemberian produk KUR Mikro pada BSI KC Cirebon Dr Cipto?

b. Bagaimana strategi dan kebijakan penerapan green banking yang dikeluarkan oleh BSI KC Cirebon Dr Cipto dalam melakukan pendampingan terhadap nasabah penerima pembiayaan KUR Mikro?

(7)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Mekanisme penerapan green banking dalam penyaluran/pemberian produk KUR Mikro pada BSI KC Cirebon Dr Cipto,

b. Strategi dan kebijakan penerapan green banking yang dikeluarkan oleh BSI KC Cirebon Dr Cipto dalam melakukan pendampingan terhadap nasabah penerima pembiayaan KUR Mikro,

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah diharapkan dapat membawa manfaat sebagai sarana pembelajaran dan dapat menambah wawasan mengenai penrapan green banking dalam industri perbankan.

Serta dapat memberikan gambaran mengenai Sustainable Finance sebagai dukungan menyeluruh dari industri jasa keuangan untuk pertumbuhan berkelanjutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

b. Manfaat Praktis

1) Bagi Pihak Lembaga Keuangan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi para praktisi perbankan syariah dalam melakukan inovasi terkait perkembangnya Green Banking dalam penyaluran pembiayaan pada Bank Syariah.

2) Bagi Masyarakat

Bagi pihak lain baik itu Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) maupun masyarakat, hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi ataupun referensi dalam rangka sebagai acuan dalam penerapan green banking yang lebih optimal.

(8)

3) Bagi Penulis

Bagi penulis, penelitian ini berguna untuk memenuhi persyaratan akademik dalam menyelesaikan studi dari Fakutas Syariah dan Ekonomi Islam prodi Perbankan Syariah program Strata 1 IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan menambah pengetahuan dan pengalaman atas pentingnya memahami konsep dari sustainable finance, Sustainable Development Goals (SDGs) dan juga green banking. Selain itu, penelitian ini memberikan wawasan terkait bagaiamana meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial masyarakat, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara signifikan..

D. Penelitian Terdahulu

Dalam hal ini, peneliti mengambil beberapa penelitian terdahulu terkait green banking sebagai analisa dan perbandingan dalam penulisan penelitian ini.

Adapun penelitian terdahulu pada penelitian ini adalah. :

Menurut (Nurmalia et al., 2021) dalam sebuah jurnal berjudul “Green Banking Dan Rasio Kecukupan Modal Mempengaruhi Pertumbuhan Laba Bank Umum Syariah di Indonesia” mengatakan bahwa penelitian tersebut merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder berupa laporan tahunan yang dipublikasikan dan sampel yang diambil dari laporan keuangan 9 bank umum syariah periode 2016-2019. Peneliti menggunakan indikator green coin rating dalam mengukur green banking dan CAR sebagai variabel independen dan kemudian pertumbuhan laba sebagai variabel dependen. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi data panel dengan software Eviews 11. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara green banking dan CAR terhadap pertumbuhan laba. Hal ini terjadi karena perbankan baru mulai optimal menerapkan green banking pada tahun 2019. Dan perbankan terlalu stabil untuk mempertahankan CAR diatas 8% bahkan meningkat setiap tahun, namun pertumbuhan laba menurun setiap tahun bahkan ada angka negatif. Sedangkan variabel bebas secara simultan mempengaruhi variabel terikat. Penelitian tersebut memiliki perbedaan yaitu lebih menjelaskan

(9)

mengenai kaitan green banking dan CAR terhadap pertumbuhan laba. Namun, memiliki sebuah kesamaan yang terletak pada kedua penelitian ini yaitu, sama- sama meniliti mengenai green banking.

Dalam sebuah jurnal internasional dengan judul “Principle of Sustainable Finance” karya (Robertson, 2020) berawal dari dunia yang 'kosong' dengan sumber daya alam yang melimpah, Revolusi Industri telah membawa kemakmuran dalam bentuk pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Pada waktu bersamaan, pertumbuhan ini didasarkan pada proses produksi yang bergantung pada bahan bakar fosil dan sumber daya alam lainnya sumber daya- telah menciptakan tantangan sosial dan lingkungan. Produksi massal di sistem ekonomi yang kompetitif telah menyebabkan jam kerja yang panjang, upah yang rendah dan anak-anak angkatan kerja, pertama di negara maju dan kemudian ditransfer ke negara berkembang. sosial peraturan semakin diperkenalkan untuk memerangi praktik-praktik ini dan mempromosikan pekerjaan yang layak dan akses pendidikan dan kesehatan. Selanjutnya, produksi dan konsumsi massal ditekankan sistem bumi melalui polusi dan penipisan sumber daya alam.

Perubahan iklim adalah sekarang kendala ekologis atau batas planet yang paling mendesak. Untuk mengatasi masalah sosial ini dan tantangan lingkungan dalam sistem ekonomi kita, PBB telah berevolusi dengan tujuan pembangunan perkelanjutan untuk 2030. Pembangunan berkelanjutan berarti bahwa hari ini dan generasi mendatang memiliki sumber daya yang mereka butuhkan, seperti makanan, air, perawatan kesehatan dan energi, tanpa menekankan proses sistem Bumi. Penelitian ini memiliki kesamaan yaitu membahas mengenai sebuah konsep ekonomi yang berkelanjutan namun berbeda fokus, karena (Robertson, 2020) memiliki fokus yang masih global yaitu sustainable finance sedangakan saya berfokus pada green banking.

Selanjutnya, pada penelitian yang dilakukan oleh (Rachman, 2018) dalam jurnal dengan judul “Kajian Tentang Inisiasi Praktik Green Banking Pada Bank BUMN”, peneliti mengemukakan bahwa Analisis isi dilakukan terhadap informasi terkait pelaporan kegiatan green banking dalam laporan tahunan bank- bank BUMN periode 2015-2017. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa bank-bank BUMN telah menginisiasi praktik green banking dengan berbagai

(10)

bentuk kegiatan karena tidak adanya pedoman pelaporan dan ada kecenderungan peningkatan pelaporan kegiatan green banking dalam 3 tahun terakhir. Indikator kegiatan green banking pada bank-bank BUMN dapat dikelompokkan ke dalam domain pelaporan yang meliputi green product, green operations, green customer, dan green policy. Implikasi dari penelitian ini adalah inisiasi praktik green banking pada bank BUMN dapat menjadi role model bagi inisiasi praktik bank ramah lingkungan untuk meminimalkan risiko usaha dengan mengurangi risiko lingkungan dan sosial dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi, lingkungan dan sosial dalam mewujudkan keuangan berkelanjutan. Penelitian ini memiliki kesamaan karena obyek penelitiannya adalah bank BUMN. Tapi, yang menjadi perbedaan adalah tidak dijelaksan mengenai mekanisme dan juga pendampingan pasca nasbah menerima pinjaman.

Lebih lanjut, (Bhardwaj & Malhotra, 2013) dalam sebuah jurnal internasional berjudul “”Green Banking Strategies: Sustainability through Corporate Entrepreneurship” menyatakan bahwa pencegahan polusi merupakan konsep baru dari ide kewirausahaan lingkungan karena berbasis proses dan berfokus pada pengurangan biaya daripada peningkatan pendapatan.

Kewirausahaan telah diakui sebagai saluran utama untuk produk dan proses yang berkelanjutan, dan usaha baru dianggap sebagai obat mujarab untuk banyak masalah sosial dan lingkungan. Sementara aktivitas kewirausahaan telah menjadi kekuatan penting bagi keberlanjutan sosial dan ekologi; kemanjurannya tergantung pada sifat insentif pasar. Keterbatasan ini terkadang dijelaskan oleh metafora dari dilema narapidana, yang kita sebut penjara hijau. Di penjara- penjara ini, pengusaha dipaksa untuk berperilaku merusak lingkungan karena perbedaan antara penghargaan individu dan tujuan kolektif untuk pembangunan berkelanjutan. Dengan dua prediktor utama, yaitu komitmen manajemen puncak dan dukungan karyawan. Pengaruh pembangunan hijau dan aspek lingkungan serta CSR dan keterlibatan masyarakat lokal terhadap kinerja keuangan juga dianggap positif, tetapi terutama secara tidak langsung melalui kinerja non- keuangan dari perspektif karyawan. Responsivitas lingkungan tidak hanya membantu organisasi untuk tetap kompetitif dan meningkatkan pangsa pasar.

Tetapi ada juga beberapa bukti yang menunjukkan peningkatan loyalitas

(11)

nasabah. Manajemen hijau dalam organisasi harus melampaui kepatuhan terhadap peraturan dan perlu memasukkan alat konseptual seperti pencegahan polusi, penatagunaan produk, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Kebutuhan akan penggunaan sumber daya yang efisien serta kebijakan dan perilaku perusahaan yang ramah lingkungan kini diakui di seluruh dunia. Kinerja suatu perusahaan tidak lagi dapat dinilai berdasarkan parameter ekonomi semata dan perlu diintegrasikan dengan kinerja lingkungan juga. Oleh karena itu, bergerak menuju pembangunan berkelanjutan sekarang menjadi perhatian utama di sebagian besar negara maju, yang menghasilkan peraturan yang lebih ketat mengenai dampak produk selama pembuatan, penggunaan, dan akhir masa pakai termasuk kewajiban untuk menentukan strategi dan sistem logistik terbalik.

Dalam penelitian jurnal yang dilakukan oleh (Maramis, 2016) dengan judul “Tanggung Jawab Perbankan dalam Penegakan Green Banking Mengenai Kebijakan Pembiayaan”. Di Indonesia, Green banking telah diatur sejak tahun 1989 dan lebih ditegaskan dalam penjelasan Pasal 8 UU Perbankan yang diubah. Salah satu produk Green banking adalah kebijakan perpembiayaanan bank berdasarkan hasil AMDAL. Kebijakan perpembiayaanan yang dimaksud lebih menitikberatkan pada pemenuhan persyaratan pengajuan pembiayaan. Untuk melaksanakan kebijakan perpembiayaanan yang berwawasan lingkungan sebagai salah satu syarat penilaian tingkat kesehatan bank, bank dapat mewajibkan debitur untuk melampirkan/menyerahkan hasil AMDAL sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi. Untuk saat ini, pengawasan pembiayaan perbankan belum terfokus pada hal tersebut. Bank dan Bank Indonesia merupakan pihak yang tidak terkait langsung dan berperan secara tidak langsung dalam penegakan Green banking dalam kebijakan perpembiayaanannya sebagai upaya menjaga lingkungan.

Meskipun peran perbankan dan Bank Indonesia dilakukan secara tidak langsung, namun peran ini sangat strategis. Peran Bank Indonesia adalah menerbitkan peraturan terkait kelestarian lingkungan dan mengawasi pembiayaan perbankan apakah hasil AMDAL telah diperhitungkan.

Penelitian ke-enam adalah skripsi yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Nasabah Berdasarkan Konsep Green Banking BRI di

(12)

Surakarta” karya (Andriyanto, 2020) peneliti mengungkapkan bahwa green banking diartikan sebagai upaya perbankan yang mengutamakan pemenuhan keberlanjutan dalam penyaluran pembiayaan atau kegiatan operasionalnya.

Bank memiliki hak penuh untuk mengurangi pembiayaan atau tidak, tergantung sejauh mana kegiatan yang akan dibiayai dengan pinjaman bank berdampak pada lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh strategi green investment dan green competition terhadap kepuasan konsep green banking BRI di Surakarta. Penelitian ini termasuk penelitian survey yang dilakukan terhadap 75 nasabah Bank BRI di Kota Surakarta. Pengumpulan data menggunakan angket dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Green Investment dan Green Competitive Strategies berpengaruh terhadap implementasi Green Banking BRI di Kota Surakarta. Variabel yang paling berpengaruh adalah Green Competitive Strategy.

Penelitian ke-tujuh adalah “Analisis Implementasi Green Banking dan Kinerja Keuangan Terhadap Profitabilitas Bank di Indonesia (2016-2019)”

yang diteliti oleh (Ratnasari et al., 2021). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Operasional harian green banking berpengaruh positif signifikan terhadap ROA.

2. Kebijakan Green Banking tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.

3. MOBIL tidak berpengaruh positif signifikan terhadap CAR.

4. NPL tidak berpengaruh positif signifikan pada ROA.

5. BOPO berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ROA.

6. LDR tidak berpengaruh positif signifikan terhadap ROA.

Bank yang telah menerapkan konsep ini diharapkan dapat mempertahankan dan secara berkala meningkatkan aktivitas hijau dalam menjalankan bisnisnya. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa variabel kebijakan green banking dan efisiensi bank (BOPO) mempengaruhi profitabilitas bank sehingga penerapan green banking di perbankan harus didukung penuh dalam hal penguatan penggunaan teknologi informasi

(13)

elektronik untuk mendukung kegiatan paperless dalam operasi sehari-hari. Hal ini diperlukan agar setiap bank di Indonesia berkontribusi dan mendukung pelaksanaan Peraturan OJK Nomor 51/PJOK.03/2017 tentang Program Keuangan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik dalam menerapkan manajemen risiko dan lingkungan dalam proses bisnis keuangan.

Penelitian ke-delapan dilakukan oleh (Iqbal, 2020) dengan judul skripsi

“Analisis Pengaruh Green Banking Terhadap Profitabilitas Pada Bank Umum Syariah di Indonesia (Periode 2015 – 2018)” yang mana data yang digunakan dalam Penelitian ini merupakan data sekunder yaitu laporan tahunan Bank Umum Syariah periode 2015 – 2018. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Laba Bersih Margin (NPM). Sedangkan variabel bebasnya adalah green banking indikator. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana, koefisien determinasi (R2), dan pengujian hipotesis yaitu Uji Parsial (Y), pengolahan Data yang digunakan adalah program SPSS 21. Hasil Uji Simultan (Uji T) menyatakan bahwa nilai signifikansi > 0,05 (0,063 > 0,05). dan nilai koefisiennya adalah 0,418 Nilai t-hitungnya positif artinya berpengaruh positif.

Hasil uji koefisien determinasi (R2), nilai yang didapat 0,071 atau 7,1%. Ini menunjukkan bahwa 7,1% perbankan hijau terpengaruh oleh variabel bebas.

Sedangkan 92,9% lainnya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak menjadi fokus penelitian. Dan dalam perspektif Islam, keseluruhan indikator green banking sesuai dengan perspektif Islam dan argumen berikut: memperkuat tentang melindungi alam dan mencegah kerusakan alam.

Pada penelitian ke-sembilan dengan judul skripsi “Konsep Green Banking Dalam Al-Qur'an Menurut Perspektif Ulama Tafsir” oleh (Ayu, 2019). Konsep green banking dalam Q.S Al-Baqarah [2]: 205 dan Q.S Ar-Rum [30]: 41 jika dilihat dari tafsir Al-Misbah dan tafsir Al-Azhar, dapat ditemukan makna tersirat terkait dengan istilah fasad atau yang berarti kerusakan. Dari kedua penafsiran tersebut diketahui bahwa kerusakan yang dimaksud lebih condong kepada kerusakan fisik. Kedua ulama tersebut menggagas gagasan kerusakan berupa majazi atau kerusakan akibat perilaku orang munafik yang pada akhirnya juga mengakibatkan rusaknya makna yang sebenarnya, yaitu rusaknya alam, baik di darat maupun di alam. laut. Hal ini dikarenakan kedua ulama tersebut menganut

(14)

pemikiran moderat karena dipengaruhi oleh berbagai macam perkembangan keilmuan, sehingga dapat ditemukan relevansi konsep green banking dengan makna kedua ayat tersebut. Konsep green banking memang sudah digagas oleh institusi perbankan, namun implementasinya belum sempurna. Hal ini disebabkan belum adanya peraturan yang mengikat dari Bank Indonesia.

Sementara itu, setiap lembaga perbankan (khususnya bank syariah) sudah mulai menunjukkan inisiasinya terhadap konsep green banking berdasarkan UUPPLH No. 32 Tahun 2009. Sudah selayaknya lembaga perbankan khususnya perbankan syariah menerapkan konsep green banking yang meliputi internal dan eksternal.

Dari sisi eksternal, intinya terletak pada penyaluran pembiayaan (pembiayaan) dimana lembaga keuangan harus mampu menyeimbangkan profitabilitas dan AMDAL.

Penelitian terdahulu ke-sepuluh dengan judul jurnal “Pengaruh Implementasi Green Banking, Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI” oleh (Rahman

& Zaputra, 2021). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penerapan pengungkapan green banking dan CSR (Corporate Social Responsibility) terhadap nilai perusahaan. Dalam penelitian ini sampelnya adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2017 sampai dengan 2019. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan green banking berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, pengungkapan CSR tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan dan penerapan green banking dan pengungkapan CSR tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

E. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan gambaran tentang bagaimana setiap variabel dengan posisinya yang khusus akan dipahami hubungan, dan keterkaitannya dengan variabel yang lain, baik langsung maupun tidak langsung.

Dalam penelitian ini, secara garis besar peneliti ingin mengetahui penerapan

(15)

green banking dan proses pendampingan pasca nasabah menerima dana pembiayaan Pembiayaan Usaha Rakyat Mikro di BSI KC Cirebon Dr Cipto.

Untuk memudahkan dalam memahami kerangka pemikiran yang terkait dengan penelitian ini, maka peneliti menggambarkan kerangka pemikiran pada pola di bawah ini.

Gambar 1.1 Kerangka Berpikir

F. Metodologi Penelitian

Metode penelitian adalah cara berfikir ilmiah secara rasional, empiris, dan sistematis yang digunakan oleh peneliti suatu disiplin ilmu untuk melakukan kegiatan penelitian.

BSI KC Cirebon Dr Cipto

Green Banking Pada BSI KC Cirebon Dr Cipto

Implementasi green banking dan strategi dalam controlling pada nasabah produk pembiayaan

KUR Mikro

Untuk mengetahui implementasi green banking dan strategi dalam controlling pada nasabah produk pembiayaan KUR Mikro BSI KC Cirebon Dr Cipto

Hasil Penelitian

Analisis Data Kesimpulan

(16)

Menurut (Raco, 2010) mendefinisikan penelitian sebagai suatu kegiatan yang terorganisir, sistematis, berdasarkan data, dilakukan secara kritis, objektif, ilmiah untuk mendapatkan jawaban atau pemahaman yang lebih mendalam atas suatu masalah.

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Menurut (Albi Anggito, 2018) menyatakan bahwa Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan setting alamiah dengan maksud untuk menginterpretasikan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan melibatkan berbagai metode yang ada.

Sedangkan, Penelitian kualitatif deskriptif adalah istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk penelitian yang bersifat deskriptif, deskriptif kualitatif biasanya difokuskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti yang berkaitan dengan pertanyaan siapa, dimana, dan bagaimana suatu peristiwa atau pengalaman terjadi sampai dipelajari secara mendalam untuk Temukan. pola yang muncul dalam peristiwa ini (Nurmalasari & Erdiantoro, 2020). Dalam hal ini ditujukan untuk mempelajari aspek-aspek fenomena yang terjadi dimasyarakat guna memberikan kebenaran terhadap penerapan green banking pada produk pembiayaan KUR Mikro BSI KC Cirebon Dr Cipto.

b. Pendekatan Penelitian

Berdasarkan objek penelitian yang peneliti lakukan, pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (Field Research).

Dalam penelitian lapangan ini, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan terhadap suatu fenomena dalam keadaan alamiahnya. Jenis penelitian ini erat kaitannya dengan observasi peran..

Penelitian lapangan berasal dari dua tradisi yang saling berkaitan, yaitu antropologi dan sosiologi, dimana etnografi adalah ilmu yang mempelajari tentang antropologi dan etnometodologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sosiologi. Secara sederhana dapat diartikan bahwa

(17)

metode observasi penelitian lapangan (field research) adalah melakukan pengamatan langsung untuk memperoleh informasi yang diperlukan (Maros, Fadlun , Elitear, Julian, Tambunan, Ardi, 2016).

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan gambaran suatu keadaan objektif penelitian yang dilakukan peneliti. Fenomena dan kejadian yang terjadi di masyarakat menjadi titik perhatian dalam penelitian. Adapun fenomena yang terjadi dalam objek penelitian yang dilakukan peneliti yaitu berkembangnya industri perbankan namun pengetahuan terhadap konsep ekonomi yang berkelanjutan masih banyak yang belum dipahami.

Oleh sebab itu peneliti melakukan penelitian terkait implementasi green banking pada produk pembiayaan KUR Mikro di BSI KC Cirebon Dr Cipto.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah bahan-bahan yang digunakan sebagai alat pendukung penelitian sesuai bukti kebenaran. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder a. Data Primer

Jenis data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh peneliti melalui sumber yang sesuai, misalnya responden yang diperoleh dari wawancara, kuesioner, data survei dan data observasi (Nuryatsrib, 2016).

Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara langsung penulis dengan pihak BSI KC Cirebon Dr Cipto.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data tambahan yang diambil tidak secara langsung di lapangan, melainkan dari sumber yang sudah dibuat orang lain, misalnya: buku, dokumen, foto, dan statistik. Sumber data sekunder dapat digunakan dalam penelitian, dalam fungsinya sebagai sumber data pelengkap ataupun yang utama bila tidak tersedia narasumber dalam fungsinya sebagai data primer (Nugraha, 2014).

(18)

4. Instrumen Penelitian

Dalam sebuah penelitian sudah merupakan sebuah keharusan untuk mempersiapkan instrumen penelitian atau alat penelitian guna mendapatkan hasil yang maksimal sehingga validitas peneliti tidak diragukan lagi. Kualitas data tergantung dari instrumen atau alat yang digunakan unruk mengumpulkan data penelitian. Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri sehingga peneliti harus “divalidasi”. Validasi terhadap peneliti meliputi pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti dan kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian.

5. Teknik Pengumpulan Data

Menurut (Sutopo, 2021), teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik yang bersifat interaktif dan noninteraktif. Teknik interaktif antara lain meliputi: wawancara mendalam (in-depth interviewing) dan observasi berperan (participant observation). Sementara itu, teknik noninteraktif meliputi: analisis dokumen (content analysis), dan kuesioner terbuka (open-ended questionnaire).

Sedangkan untuk melakukan penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah.

a. Wawancara

Teknik wawancara merupakan teknik penggalian data melalui percakapan yang dilakukan dengan maksud tertentu, dari dua pihak atau lebih. Pewawancara (interviewer) adalah orang yang memberikan pertanyaan, sedangkan orang yang diwawancara (interviewed) berperan sebagai narasumber yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan. Menurut (Sutopo, 2021) wawancara dapat dilakukan untuk mengkonstruksi perihal orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, merekonstruksi kebulatan harapan pada masa yang akan datang.

(19)

Wawancara yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk mengetahui:

1) Mengetahui mekanisme penerapan green banking dalam penyaluran/pemberian produk KUR Mikro pada BSI KC Cirebon Dr Cipto.

2) Mengetahui strategi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh BSI KC Cirebon Dr Cipto dalam melakukan pendampingan terhadap nasabah penerima pembiayaan KUR Mikro.

Subjek yang diwawancarai oleh peneliti adalah pihak BSI KC Cirebon Dr Cipto, wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai mekanisme penerapan dan pendampingan nasabah penerima KUR di BSI KC Cirebon Dr Cipto. Wawancara ini dilakukan secara terstruktur yaitu wawancara yang pewawancaranya menerapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang diajukan.

b. Observasi

Observasi adalah aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah di ketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.

Observasi ini tahapannya meliputi, pengamatan secara umum mengenai hal-hal yang sekiranya berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Setelah itu identifikasi aspek-aspek yang menjadi pusat perhatian, pembatasan objek dan pencatatan.

Peneliti melakukan observasi dengan meliputi cara pemberian KUR Mikro dan pendampingan terhadap nasabah pasca penerimaan KUR Mikro. Adapun yang menjadi objek dari pada observasi ini adalah BSI KC Cirebon Dr Cipto.

c. Dokumentasi

Teknik pengumpulan melalui dokumentasi merupakan pelengkap penelitian kualitatif setelah teknik wawancara dan observasi. Dokumentasi adalah cara untuk mendapatkan data dengan mempelajari dan mencatat

(20)

buku, arsip atau dokumen, dan hal-hal yang berhubungan dengan objek penelitian. (Tjiptohadi Sawarjuwono & Agustine Prihatin Kadir, 2003).

Dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan bahkan untk meramalkan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa dokumen berupa Form Aplikasi KUR Mikro

6. Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat diperoleh tema dan juga dapat dirumuskan menjadi seperti yang disarankan oleh data.

Menurut (Raco, 2010) analisis data kualitatif adalah penelitian mencari dan mengatur hasil observasi, wawancara, dan catatan lapangan lainnya, data tersebut akan dianalisis berdasarkan sifat dan jenis data.

Tujuan analisis adalah membatasi penemuan-penemuan sehingga menjadi suatu data menjadi teratur. Proses analisis merupakan sebuah usaha untuk menemukan jawaban atas suatu permasalahan yang sudah dirumuskan dalam sebua penelitian. Sedangkan metode pengolahan data akan dilakukan ialah dengan cara

a) Mengumpulkan dan menelaah seluruh data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pelaku usaha BSI KC Cirtebon Dr Cipto.

b) Editing, yaitu pemeriksaan kembali data yang diperoleh terutama dari kelengkapan, kejelasan makna, kesesuaian, serta relevansinya.

c) Klasifikasi, yaitu peninjauan kembali data yang diperoleh sesuai dengan rumusan masalah yang sudah di buat oleh penulis sehingga permasalahan yang dibahas tidak keluar jalur dari permasalahan yang dibuat sebelumnya.

d) Verifikasi, yaitu data yang penulis dapatkan agar selalu benar adanya dengan sumber-sumber yang ada.

Setelah data di verifikasi, data tersebut dihubungkan dengan bagian-bagian yang ada sebagaimana yang ditemukan dalam bahan pustaka, sehinga dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian.

(21)

G. Sistematika Penulisan

Sebuah penelitian akan mudah dibaca dan dipahami jika skema yang ditempuh jelas mengarah sesuai tujuan. Sistematika penulisan mencakup uraian dari pokok pembahasan yang disusun secara sistematis. Adapun sistematika penulisan yang ada pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Yang pertama ada “BAB I” yang merupakan bab yang berisi pendahuluan terdri atas latar belakang masalah yang menggambarkan ada tidaknya masalah penelitian (scientific research problem), yakni penyimpanagan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi atau kesenjangan antara harapan (das sollen) dengan kenyataan (das sain). Kemudian rumusan masalah yang merupakan uraian dari suau permasalahan yang menarik untuk diteliti kemudian dirumuskan dalam sebuah permasalahan rumusan masalah dan ini merupakan inti dari permasalahan penelitian yang diteliti lebih lanjut, kemudian tujuan penelitian adalah tujuan peneliti untuk mendapatkan uraian jawaban dari permasalahan yang telah dirumuskan, kemudian manfaat penelitian secara teoritis maupun praktis dari penelitian tersebut, kemudian literature review/penelitian terdahulu yakni sejumlah karya ilmiah sebelumnya yang memiliki relevansi dan dinilai penting terkait dengan penelitian yang sedang dilakukan, kemudian kerangka pemikiran yakni sintesis teori yang dijadikan rujukan peneliti untuk memecahkan masalah penelitian, kemudian metode penelitian yang didalamnya mencakup jenis penelitian, pendekatan penelitian, sumber data, objek penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisis data, kemudian yang terakhir yaitu sistematika penulisan yang mana menjelaskan sistematiak penulisan seluruh sub bab yang terkandung dalam penulisan penelitian agar tersusun lebih sistematis.

Yang kedua ada “BAB II” yang merupakan bab yang berisi kajian pustaka terdiri atas teori-teori yang berkaitan dengan green banking dan controlling yang dilakukan oleh pembiayaanur, dalam hal ini mencakup pembahasan tentang konsep ekonomi berkelanjutan. Diantaranya mengenai, lingkungan, sustainable finance, dan Produk Pembiayaan Pembiayaan Usaha Rakyat Mikro PT. Bank Syariah Indonesia, Tbk.

(22)

Yang ketiga ada “BAB III” merupakan bab yang berisi gambaran umum lokasi penelitian terdiri atas gambaran umum, lokasi geografis, sejarah berdirinya PT. Bank Syariah Indonesia, Tbk, produk-produk dan penyalurannya.

Selanjutnya ada “BAB IV” yang merupakan bab yang berisi hasil penelitian dan pembahasan terdiri atas penyajian data dari hasil peneliti yang telah dilakukan dan pembahasan tentang Implementasi green banking dan juga pendampingan bagi nasabah pada produk pembiayaan KUR Mikro di Bank Syariah Indonesia.

Dan yang terakhir adalah “BAB V” yang merupakan bab yang berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan yang memaparkan hasil akhir dari penelitian ini yang mana terdiri atas ringkasan jawaban atas rumusan masalah penelitian juga di dalamnya berisi daftar pustaka, saran, serta lampiran-lampiran.

Referensi

Dokumen terkait

Dari banyaknya perawatan yang dilakukan disebuah klinik kecantikan terkadang fasilitas yang ada dijadikan multifungsi atau digunakan untuk segala aktivitas yang

Fungsi kedua dari hukuman ialah mendidik, yaitu sebelum anak mengerti peraturan mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena

berasal dari diri kami sendiri melainkan selalu karena orang lain … kami mulai saling menuduh dan curiga … kami mulai berusaha mengalahkan orang lain sambil menyemai dendam …

Bonczek, dkk., (1980) mendefenisikan sistem pendukung keputusan sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi: sistem bahasa yang

Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur, kemudian setiap kelompok

Selain itu, khusus terkait dengan ciri khas Kota Salatiga yang plural dan toleran yang ternyata juga kerap terjadi konversi agama, peran penyuluh Agama Islam juga sangat

NTP Perikanan (NTNP) Juli 2015 naik sebesar 1,09 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,38 persen lebih besar dari pada