• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka

Berdasarkan penelitian Veni Rahmawati (2015) yang meneliti tentang Analisis Struktur Rantai Pasok Material Pada Pekerjaan Konstruksi Sumber Daya Air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisa struktur rantai pasok material pada proyek konstruksi sumber daya air. Hasil dari penelitian yang dilakuka pada wawancara kontraktor dan bagian logistik objek penelitian pada konstruksi sumber daya air dengan beberapa aspek penetu seperti hubungan dengan kontraktor dan supplier seperti jenis pengadaan, jenis kontrak, sistem pembayaran, dan interaksi antara dua perusahaan yang menunjukkan adanya keterkaitan antara hubungan kerja sama yang baik terhadap pelaksanaan pekerjaan konstruksi serta pengelolaan rantai pasok material pada proyek tersebut.

Berdasarkan penelitian Adrian Hartanto (2020) yang meneliti tentang Analisis Rantai Pasok Semen, Baja, dan Bata pada Proyek Bangunan Gedung di Kota Solo. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola supply chain dalam proyek bangunan di kota solo dan mengetahui pengaruh faktor cuaca, transportasi, jarak, dan kemacetan terhadap ketepatan waktu kedatanga material pada proyek bangunan di kota solo. Hasil penelitian diperoleh proses supply chain untuk material semen, baja, dan bata pada proyek skala kecil dan besar di kota solo, tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil model ketepatan waktu (Y) diperoleh Y= 0,186 + 0,215X1 + 0,215X2 + 0 197X3 + 0,274X3 + 0,262X4 dengan X1= variabel cuaca, X2= variabel transportasi, X3= variabel jarak, X4= variabel kemacetan. Determinasi regresi adalah 0,703 yang diartikan bahwa 29,7% dipengaruhi variabel diluar penelitian ini.

Berdasarkan penelitian refdizalis (2020) yang meneliti tentang studi perilaku rantai pasok konstruksi pada proyek pembangunan gedung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa pola rantai pasok material konstruksi serta menganalisa perilaku para pihak dalam rantai pasok konstruksi bangunan gedung. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dan menggunakan

(2)

6

analisis deskriptif yakni teknik analisis yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan kumpulan data wanwancara dan hasil pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat pola umum rantai pasok konstruksi yang digunakan yakni pola pekerjaan yang dikerjakan sepenuhnya oleh kontraktor utama, pola pekerjaan yang dilaksanakan oleh subkontraktor termasuk peneydiaan material, tenaga kerja , dan peralatan. Perilaku rantai pasok konstruksi dilakukan dengan mengkaji hubungan interaksi pelaku rantai pasok konstruksi meliputi analisis tentang sistem pengadaan yang digunakan, bentuk perjanjian, sistem pembayaran, dan pengelolaan jaringan rantai pasok oleh kontraktor utama terhadap pelaku rantai pasok dibawahnya.

2.2. Landasan Teori

Proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan yang saling berhubungan agar dapat mewujudkan harapan yang telah dirancang pada batas waktu, biaya, dan mutu yang ditetapkan. Ada tiga karakteristik pada suatu proyek konstruksi yang menarik, dengan kebutuhan sumber daya (finansial, peralatan, metode, dan material), serta memerlukan struktur jaringan. Proyek konstruksi membutuhkan sumber daya seperti manusia, material, peralatan, metode, finansial, penjelasan, dan masa. (Eka Dannyanti, 2010).

2.2.1. Ciri-ciri Proyek Konstruksi

Adapun ciri –ciri proyek konstruksi menurut Eka Dannyanti (2010), diantaranya sebagai berikut:

1. Mempunyai tujuan, hasil akhir atau produk akhir yang lebih spesifik. 2. Memiliki jangka waktu yang terbatas, memulai dengan awal proyek dan

mengakhiri dengan akhir proyek, serta bersifat sementara.

3. Total pengeluaran, tonggak jadwal, dan persyaratan kualitas telah ditetapkan dalam proses mencapai tujuan yang ditetapkan.

4. Bersifat tidak rutinitas dan tidak berulang. Sepanjang proyek bervariasidan intensitas kegiatan berfluktuasi. Akibatnya, tidak ada dua atau lebih proyek yang sama, melainkan proyek yang sifatnya serupa.

Pada pelaksanaan proyek konstruksi terdapat 3 macam keterlambatan dan dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, diataranya yaitu (Suyatno,2010):

(3)

7 1. Non Excusable Delays

Terdapat beberapa macam penyebab keterlambatan ini yaitu:

a. Pengenalan, waktu, dan rangkaian perintah kerja yang kurang cukup serta belum terorganisir dangan baik

Mengidentifikasi kegiatan konstruksi adalah langkah pertama dalam membuat jadwal proyek. Pengenalan yang tidak tercukupi akan berdampak pada total waktu proyek dan akan merusak urutan pekerjaan.

b. Perencanaan tenaga kerja yang tidak tepat

Bergantung pada ukuran dan sifat pekerjaan, jumlah orang yang dibutuhkan pada setiap tahap pelaksanaan proyek. Perencanaan tidak sesuai dengan tuntutan sektor yang bisa mengakibatkan komplikasi oleh pekerja yang merupakan suatu sumber daya yang cukup sulit dicari dan harga yang tinggi.

c. Buruknya kualitas tenaga kerja

Rendahnya kompetensi dan kemampuan tenaga kerja dapat menimbulkan produktivitas pekerja yang rendah, yang dapat mengakibatkan lamanya penyelesaian proyek konstruksi.

d. Terlambatnya penyediaan peralatan dan material yang diakibatkan oleh kesalahan kontraktor

Ketersediaan peralatan dan material yang akan digunakan merupakan salah satu aspek yang mendorong pelaksanaan proyek secara langsung. Penundaan pengiriman material untuk proyek mungkin timbul karena penundaan supply, masalah dalam memperolehnya atau kekurangan produk itu sendiri.

e. Ketidaktepatan jenis peralatan yang dipakai pada suatu konstruksi Salah satu sumber daya yang digunakan secara langsung dalam pelaksanaan proyek adalah peralatan. Untuk mencapai tujuan pembangunan, jenis peralatan yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik dan ukuran proyek.

f. Terlambatnya mobilisasi sumber daya

(4)

8

konstruksi, antara tempat konstruksi, serta pada dalam tempat proyek menuju tempat di luar pembangunna konstruksi. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketersediaan jalannya konstruksi serta durasi yang dibutuhkan untuk memasok peralatan atau bahan.

g. Sulitnya keuangan

Arus kas digunakan agar proyek dapat berjalan dengan baik. Baik arus masuk maupun arus keluar harus dikendalikan secara efektif. Masalah keuangan kontraktor sebagian besar disebabkan oleh komitmen pembayaran kepada supplier material dan harga pekerja. Hal Ini bisa mengakibatkan keterlambatan dalam alokasi sumber daya dan penyelesaian tugas.

h. Rendahnya tingkat pengalaman kontraktor

Menangani masalah tempat kerja, yang dapat menyebabkan penundaan proyek, membutuhkan pengetahuan kontraktor. Kontraktor berpengalaman dapat menangani masalah dengan segera, sementara kontraktor yang tidak berpengalaman dapat membutuhkan waktu lebih lama.

i. Organisasi kontraktor mengalami kekurangan koordinasi dan komunikasi

Komunikasi merupakan langkah pertama menuju kerjasama yang efektif. Koordinasi dalam pelaksanaan proyek pembangunan membutuhkan komunikasi yang efektif agar setiap kelompok tidak saling tumpang tindih.

j. Metodologi konstruksi atau implementasi yang tidak memadai

Kesalahan atau ketidakjelasan dalam memilih suatu teknik bangunan, meskipun tidak selalu mengakibatkan kegagalan untuk menyelesaikan konstruksi, tetapi mengakibatkan bertambahnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

k. Terjadinya kecelakaan kerja pada tenaga kerja

Aturan Pekerja mungkin terluka pada saat bekerja karena kurangnya peraturan keselamatan kerja dalam proyek. Kejadian ini bisa berpengaruh fisik pada karyawan, serta kurangnya kegembiraan dan

(5)

9

trauma akibat kecelakaan, yang dapat mengganggu produktivitas. 2. Excusable Delays

Peristiwa tak terduga dapat terjadi akibat dari keadaan berikut, diantaranya sebagai berikut:

a. Cuaca

Stamina pekerja menurun akibat cuaca buruk, yang menurunkan produksi. Produktivitas pekerja yang rendah dan kegagalan menyelesaikan tugas tepat waktu akan menyebabkan jadwal proyek didorong mundur. Proyek mungkin terhenti atau tertunda akibat gempa bumi, banjir, tanah longsor, atau kebakaran, yang mengakibatkan periode penyelesaian yang diperpanjang.

b. Iklim sosial politik yang tidak pasti

Ketidakpastian dalam lingkungan sosial politik semacam kegaduhan, kontak senjata, dan situasi sosial ekonomi yang buruk adalah contoh variabel sosial politik yang dapat menghambat penyelesaian proyek karena pekerjaan restorasi membutuhkan lebih banyak waktu, yang memperpanjang total jangka waktu proyek

c. Tanggapan dari anggota lingkungan sekitar yang menentang proyek tersebut

Reaksi komunitas terhadap inisiatif ini beragam, ada beberapa hal yang mendukung sementara yang lain menentang. Tanggapan negatif dari lingkungan tetangga memicu demonstrasi, yang mengakibatkan penghentian singkat dalam pekerjaan proyek, menyebabkan jadwal pelaksanaan proyek tertunda

2.2.2. Definisi Material

Jenis material yang dipilih merupakan aspek penting dalam menentukan seberapa besar pengeluaran proyek yang diserap oleh material tersebut. Ada dua jenis bahan konstruksi dalam suatu proyek yang akan menjadi komponen permanen bangunan (material permanen) dan material yang dapat diperlukan kontraktor untuk proyek konstruksi, namun tidak dijadikan bagian permanen struktur (material sementara) (Ervianto, 2012).

(6)

10

Material permanen adalah material yang dibutuhkan kontraktor untuk membangun sebuah struktur dan yang fitur dasarnya tetap sebagai elemen bangunan. Kontrak menentukan bahan-bahan tersebut (gambar kerja dan spesifikasi)

2. Material sementara

Bahan sementara adalah bahan yang dibutuhkan oleh kontraktor selama pembangunan suatu proyek tetapi tidak akan melekat secara permanen pada struktur. Karena jenis material ini tidak termasuk dalam kontrak, terserah kontraktor dan pemasok untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan. Kontraktor tidak diberi kompensasi dengan langsung pada tipe material ini. Akibatnya, biaya item ini ditambahkan ke biaya berbagai tugas kontrak oleh pelaksana.

2.2.3. Pengertian Rantai Pasok

Rantai pasokan adalah sekelompok organisasi yang melakukan kerja sama guna membuat dan mengirimkan barang ke pengguna akhir. Pemasok, produsen, distributor, toko, atau pengecer, serta bisnis pendukung seperti penyedia layanan logistik, membentuk perusahaan-perusahaan ini. Tiga jenis aliran rantai pasokan biasanya wajib untuk dioperasikan. Yang pertama ialah pergerakan produk dari hulu menuju hilir, yang kedua ialah perpindahan finansial dari hilir menuju hulu, dan yang ketiga ialah transfer ilmu dari hulu ke hilir atau sebaliknya (Pujawan, 2010).

Rantai pasokan adalah proses integrasi di mana beberapa organisasi berkolaborasi agar memperoleh bahan dasar, yang kemudian diubah menjadi produk jadi, dan mendistribusikan produk akhir ke konsumen. Rantai pasokan adalah mekanisme dimana perusahaan mentransfer produk dan layanan mereka ke konsumen mereka, selain menjadi unit proses pasokan, manufaktur, pelanggan, dan pengiriman (Yunitasari,2017).

Rantai pasokan adalah serangkaian aktivitas yang mengandalkan jaringan fasilitas dan opsi distribusi untuk melaksanakan tugas perolehan bahan, mengubah sumber daya mentah menjadi komoditas setengah jadi atau jadi, dan mendistribusikan produk jadi. Ini mencakup semua hubungan antara supplier, perusahaan, produsen, distributor, dan pelanggan yang akan melaksanakan tugas akuisisi bahan, mengolah

(7)

11

bahan menjadi produk setengah jadi atau produk jadi, serta mengirimkan produk untuk klien (Anitawati, dkk, 2016).

Jadi, berdasarkan beberapa interpretasi rantai pasok tersebut di atas, rantai pasok dapat diartikan sebagai interaksi kooperatif antara pihak-pihak yang ditugaskan untuk melaksanakan rencana tersebut dalam suatu sistem kegiatan yang bergantung pada strukturnya. Pilihan distribusi adalah fasilitas lengkap dan interaksi antara pemasok, perusahaan, produsen, dan konsumen yang melakukan aktivitas mencari bahan, mengolah sumber daya menjadi barang setengah jadi, dan barang akhir untuk dipasok ke penyedia layanan yang dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1. Simplikasi model rantai pasok

Sumber: Buku Supply chain management /Nyoman Pujawan/Edisi Kedua/2010 2.2.4. Struktur Rantai Pasok

Struktur rantai pasokan adalah kumpulan aktivitas dan struktur untuk pengadaan barang dan jasa yang melakukan kerja sama dan mungkin mempunyai hubungan untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa. Struktur rantai pasokan adalah struktur manajemen yang mengawasi struktur jaringan yang ditautkan dan ditautkan bersama untuk memberi pelanggan paket terbaru untuk layanan yang mereka butuhkan (Masudin, 2017).

Struktur rantai pasok merupakan penataan aktivitas pengadaan material yang dimulai dari produksi material, kemudian pemsok, dan terakhir kepada kontraktor yang berada di lokasi proyek konstruksi dalam proses pelaksanaan proyek konstruksi. Dalam rantai pasok, ada tiga aspek struktural dasar sebagai berikut (Chen, 2011):

(8)

12 2. Dimensi struktural jaringan

3. Hubungan proses yang mengalir melalui rantai pasokan datang dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Tahapan desain jaringan rantai pasok adalah: 1. Mengidentifikasi peserta

Secara khusus, mengidentifikasi peserta dalam kerjasama (rantai) kontraktor dan proyek konstruksi berupa, subkontraktor, pemasok, vendor, dan pembuat ikut berpastisipasi pada aliran pasokan produk dan layanan.

2. Dimensi struktural jaringan

Terdapat tiga jenis dimensi struktural jaringan, diantaranya yaitu:

a. Jumlah lapisan (urutan) yang bergerak melalui rantai pasokan dikenal sebagai struktur horizontal.

b. Jumlah pemasok atau konsumen yang disebutkan di setiap baris merupakan struktur vertikal.

c. Bagian horizontal, suatu tempat perusahaan pada sumber / klien akhir atau di banyak lokasi di antara titik akhir rantai pasokan.

3. Jenis jaringan bisnis, antara lain: a. Rantai proses manajemen b. Rantai seluruh prosedur

c. Rantai tidak dikelola oleh jaringan

d. Rantai bukan bagian dari prosedur anggota 4. Melakukan pemetaan terhadap rantai pasok

2.2.5. Strategi Rantai Pasok

Strategi rantai pasokan adalah pembuatan strategi yang tidak hanya memperhitungkan strategi rantai pasokan perusahaan, tetapi juga strategi rantai pasokan mitra bisnis. Strategi rantai pasokan harus berpusat pada pencapaian keunggulan kompetitif jangka panjang untuk seluruh organisasi (Turban, 2016). Integrasi vertikal, usaha patungan, jaringan keiretsu, dan perusahaan virtual adalah di antara enam taktik rantai pasokan, yang meliputi metode negosiasi dengan berbagai pemasok, strategi untuk menghubungkan kemitraan jangka panjang dengan beberapa pemasok untuk memuaskan konsumen, integrasi vertikal, usaha patungan, keiretsu jaringan, dan perusahaan virtual.

(9)

13

Ir. Mochammad Natsir, M.Sc (2018) rantai pasok atau yang lebih dikenal supply

chain adalah struktur jaringan yang melibatkan pelaku, produsen, pengangkut, distributor, vendor, dan pinjamn emisi untuk mengubah bahan mentah menjadi barang dan mendistribusikan barang-barang tersebut kepada pengguna berdasrkan nilai yang dicari. Akibatnya, semua bagian yang termasuk dalam kepentingan memasok sumber daya dari hulu ke hilir rantai aktivitas harus disertakan dalam kendali rantai pasok. Rantai pasok dimulai dengan inovasi manufaktur yang menghasilkan produk yang berhasil terjual. Barang-barang yang diproduksi ini sering didistribusikan ke pelanggang dengan struktur pemasaran berdasarkan distributor, pemasok, dan pengecer. Namun sebaliknya, barang-barang yang diproduksi oleh pemasok menyediakan bahan dasar, dan perusahaan pendukung menyediakan komponen lainnya. Secara umum, pemasok utama (firma vokal), pemasok, dan pelanggan membentuk sistem jaringan pasokan dan pengguna komoditas manufaktur. Adapun sistem jaringan rantai pasok yang diuraikan dapat dilhat pada gambar 2.3 dibawah ini.

Gambar 2.3. Sistem Jaringan Rantai Pasok Sumber: Ir. Mochammad Natsir, 2018 2.2.6. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Rantai Pasok

O’Brien (2011) menggambarkan bahwa di luar lokasi proyek, pihak-pihak seperti pemasok, subkontraktor, desainer, dan pemilik berkolaborasi dengan langsung ataupun tidak langsung agar membentuk rantai pasokan atau rantai pasok yang mendukung kelancaran kegiatan proyek. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok dapat dilihat pada gambar 2.4 dibawah ini.

(10)

14

Gambar 2.4. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Rantai Pasok Sumber: O’Brain, 2011

1. Owner

Proses rantai pasok dimulai dengan inisiatif pemilik untuk membuat produk konstruksi bangunan dan diakhiri dengan inisiatif pemilik setelah material siap pabrikasi. Peran pemilik hadir di semua tahapan, termasuk perencanaan, pengadaan, implementasi, operasi, produksi, dan pemeliharaan.

2. Kontraktor

Kontraktor merupakan perusahaan konstruksi yang melakukan operasi konstruksi tergantung dengan jadwal dan mutu teknis yang telah ditetapkan. Kontraktor akan memiliki kontak baris perintah dengan pemilik secara terus menerus dan langsung yang tugasnya mewujudkan keinginan dari owner. 3. Subkontraktor

Menurut KBBI sub kontraktor adalah kontraktor yang memperoleh pekerjaan dari kontraktor lain yang lebih sah. Sub kontraktor merupakan kontraktor umum atau kontraktor utama mempekerjakan orang untuk melaksanakan tugas tertentu sebagai bagian dari proyek yang lebih besar.

4. Pemasok (Supplier)

Supplier bertugas untuk pengguna agar dapat mengakses material yang telah

diperoleh. Pemasok atau pemasok memainkan peran penting dalam memastikan bahwa pemilik memiliki akses ke persediaan yang dia butuhkan.

2.2.7. Manajemen Rantai Pasok Material Konstruksi

Manajemen rantai pasok atau yang sering disebut supply chain manajement (SCM) merupakan metode yang digunakan perusahaan untuk mendistribusikan barang dan

(11)

15

jasanya kepada klien. Rantai ini juga merupakan jaringan dari banyak perusahaan terkait dengan tujuan yang sama membeli atau mendistribusikan komoditas secara efektif (Pujawan, 2010).

Manajemen rantai pasok adalah metode untuk mengintegrasikan pemasok, pabrik, pusat distribusi, grosir, pengecer, dan pengguna akhir sehingga barang diproduksi dan dikirim dalam jumlah yang sesuai, di lokasi yang sesuai, dan pada waktu yang tepat untuk mengurangi biaya sistem dan meningkatkan kepuasan layanan . Adapun operasi utama yang termasuk dalam kategorisasi SCM saat mengacu pada bisnis manufaktur adalah sebagai berikut:

1. Tahapan pengembangan material baru (Product development)

2. Aktivitas memperoleh bahan dasar (Procurement, Purchasing, Supply) 3. Aktivitas perencanaan untuk produksi dan inventaris (Planning and Control) 4. Aktivitas pembuatan produk (Production)

5. Aktivitas penyaluran (Distribution)

6. Aktivitas yang melibatkan penanganan pengembalian produk atau komoditas (Return)

Karena diatur sesuai dengan tujuannya, pembagian ini biasanya disebut sebagai divisi fungsi. Perusahaan manufaktur sering kali memiliki departemen pengembangan produk, departemen pembelian atau pengadaan, departemen produksi, departemen perencanaan produksi, dan departemen pengiriman atau distribusi untuk barang jadi lainnya (Pujawan, 2010). Adapun fungsi utama supply

chain dapat dilihta pada tabel 2.1 dibawah ini.

Tabel 2.1. Fungsi Utama Supply Chain (Sumber: Buku SCM/Nyoman Pujawan/Edisi Kedua /2010)

Bagian Kegiatan

Peningkatan produk

Melakukan riset pasar, mengembangkan barang baru, dan berkolaborasi dengan pemasok untuk

mengembangkan barang baru.

Penyediaan

Memilih pemasok, menilai kinerja pemasok, memperoleh bau dan komponen, menilai risiko pasokan, dan menciptakan serta menerima kemitraan pemasok

Perencanaan dan pengawasan

Peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan produksi, dan manajemen inventaris adalah contoh perencanaan permintaan.

(12)

16

Pabrikasi Eksekusi produk, pengawasan kapasitas

Penyaluran/ Distribusi

Merencanakan jaringan distribusi, menjadwalkan pengiriman, membangun dan memelihara koneksi dengan bisnis jasa pengiriman, dan mengevaluasi tingkat layanan di setiap pusat distribusi adalah semua tugas yang harus diselesaikan.

2.2.8. Tahapan Pelaksanaan Manajemen Material

Ada berbagai proses yang harus diselesaikan agar pengelolaan material dapat berfungsi dengan baik, diantaranya (Saputra, 2014):

1. Bahan dipilih berdasarkan dokumen kontrak (gambar kerja dan spesifikasi) 2. Penentuan sumber bahan, yaitu bahan yang digunakan semata-mata atas dasar

biaya. Aspek lain butuh untuk diperiksa mengenai keunggulan supplier, standar supplier, dukungan yang diberikan oleh supplier, persyaratan kompensasi yang diminta oleh supplier, mutu barang yang dikirim, serta keefektifan supplier untuk mengirimkan pasokan pada situasi yang tidak direncanakan.

3. Pemesanan material dilakukan atas dua dasar yaitu basis terpusat dan basis lokal basi.

4. Pengiriman perlengkapan bangunan harus menjamin bahwa mereka dipasok dengan tepat dan sesuai jadwal.

5. Penerimaan perbekalan dalam pemasokan perbekalan kepada kontraktor merupakan konsekuensi dari permintaan beli, yang menjadi tanggung jawab petugas gudang untuk melakukan pengecekan pada saat pengiriman. Materi yang telah disediakan sudah lengkap yang merupakan bidang suatu proyek. 6. Material disimpan dalam penempatan keamanan fisik dan selalu siap adalah

fitur terpenting dari manajemen material (ketersediaan). Pemeriksaan berkala atas barang-barang yang ditempatkan di gudang dilakukan agar terjadi peningkatan catatan petugas gudang, dan aksi yang dapat dilakukan apabila jumlah material yang ditempatkan tidak sesuai dengan catatan.

7. Bahan yang diambil dari gudang diperlukan dan akan dipakai pada konstruksi tersebut. Bahan sementara bekas akan dikembalikan kepada Anda dalam keadaan bersih dan siap digunakan.

(13)

17

2.2.9. Faktor-Faktor Manajemen Material

Manajemen material adalah sistem atau proses, bukan sekadar fungsi atau organisasi. Sistem manajemen material adalah strategi organisasi dalam mengatasi masalah material diperlukan campuran keterampilan manajerial dan teknis. Berikut beberapa sistem material (Pujawan dan Mahendrawati, 2017), diantaranya:

1. Substansi itu sendiri

2. Komputer dan perangkat lunak terkait 3. Kantor pusat

4. Petugas manajemen material di tempat 5. Tempat penyimpanan, kendaraan 6. Pengenalan produk dengan spontan 7. EDI (Electronic Data Interchange) 8. Peralatan penanganan material

Material yang dipesan secara berlebihan, kelebihan pengiriman, dan penolakan akan diakibatkan oleh perencanaan dan manajemen yang buruk. Kegiatan pengelolaan material jarang mendapat perhatian yang cukup karena dampak ekonomi dari pemesanan yang tidak tepat sering kali diabaikan. Ini berdampak signifikan pada biaya dan jadwal proyek.

Memilih sistem manajemen material yang baik berdampak positif dapat dilihat dari (Pujawan, 2010):

1. Pekerja dapat mengatur pekerjaan mereka, sumber daya dapat diperoleh saat diperlukan, dan pengerjaan ulang dapat dikurangi, sehingga produksi meningkat.

2. Pemesanan yang berlebihan akan dikurangi.

3. Menaikkan kapasitas supplier material dalam hal pengiriman, keunggulan, dan pemotongan biaya.

4. Tingkatkan kemampuan untuk tetap berpegang pada jadwal implementasi. 5. Menurunkan pasokan material yang tersedia di gudang, kapasitas ruang

gudang, pengalihan material, pemeliharaan material, bahaya rusaknya material, dan rusaknya material pada saat belum digunakan dipakai.

(14)

18

7. Menurunkan kemungkinan penolakan material (kualitas tidak memenuhi persyaratan / spesifikasi atau pemilihan material yang salah).

Bahan, tenaga kerja, peralatan, subkontraktor, biaya overhead, dan keuntungan atau risiko adalah empat kategori yang membentuk anggaran pelaksanaan proyek. Biaya barang-barang ini sangat dipengaruhi oleh perencanaan teknis. Jika merencanakan atau menentukan material mana yang memerlukan transit ekstensif, menentukan terlalu banyak material, atau menolak untuk mengaktifkan substitusi material dengan kualitas yang sama, biayanya akan lebih dari yang diharapkan.

Biaya material adalah salah satu aspek terpenting dari biaya proyek. Beban material berkontribusi untuk 50% hingga 70% dari biaya proyek, menurut beberapa penelitian. Biaya ini tidak termasuk beberapa biaya yang umumnya tidak diperkirakan pada saat terjadinya (misalnya biaya penyimpanan bahan).

Berikut biaya-biaya yang harus diperhitungkan, diantaranya sebagai brikut:

1. Pendapatan, pengenalan, dan kontrol adalah langkah-langkah dalam proses tersebut. Biaya personil dan peralatan untuk menerima, mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan, jika diperlukan, menolak item termasuk dalam biaya ini. Petugas penerima membutuhkan waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi seperti mencatat, mengecek ulang, dan mengecek tiga kali. Jika ketidakakuratan terdeteksi setelah digunakan, ini bisa meningkatkan faktor finansial yang cukup tinggi.

2. Penanganan material, atau biaya pengangkutan dan pengalihan material di dalam suatu lokasi. Pekerja dan alat konstruksi yang dibutuhkan untuk mengangkut barang di lokasi termasuk dalam biaya penanganan material. Manajemen material diproyeksikan mencapai 8% dari semua pengeluaran tenaga kerja langsung.

3. Pengeluaran terkait dengan pengangkutan fisik material ke dalam dan ke luar gedung, serta dana yang berkaitan dengan pemeliharaan gedung. Harga ini juga mencakup gaji staf yang bertanggung jawab untuk memproses bangunan dan mengawasi materi di lokasi. Finansial pekerja diperkirakan kisaran 0,5% dari total finansial.

(15)

19

kerja. Akibatnya, pendistribusian material harus direncanakan sedemikian rupa sehingga material proyek tidak hilang atau hancur. Penataan material sebagian besar mencakup pengangkutan dan peletakan material disekitaran tempat proyek, oleh karena itu hal-hal berikut harus dipertimbangkan, diantaranya:

1. Memahami atau rencana skenario proyek bangunan 2. Rencana atau struktur implementasi konstruksi

3. Memahami urutan operasi perakitan material yang dilakukan 4. Pengaturan dukungan pemrosesan dan distribusi material

5. Penempatan material seefisien mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi dengan cepat dan efisien.

Material ditempatkan di tempat yang pekerjaannya dapat diselesaikan dengan cepat dan dirancang dengan cermat sesuai dengan lokasi proyek untuk menghindari keterlambatan dalam proses pembangunan. Lokasi penyimpanan bahan harus diawasi untuk menentukan jumlah penggunaan bahan, sehingga setiap penambahan atau pembuangan bahan dapat ditangani dengan baik dan cepat (Ervianto, 2008).

(16)

20

2.3. Penelititian Terdahulu

Tabel 2.2. Penelitian Terdahulu

No Peneliti Tahun Judul Penelitian Rumusan Masalah Tujuan

1 Sutoyo

Soepiadhy 2011

Pengaruh Rantai Pasok terhadap Kinerja Kontraktor Bangunan Gedung di Jember

Faktor-faktor apa saja yang sangat mempengaruhi rantai pasok konstruksi bangunan gedung dan bagaimana pengaruh rantai terhadap kinerja kontraktor bangunan gedung

Menganalisis faktor-faktor rantai pasok konstruksi bangunan gedung dan menganalisis pengaruh rantai terhadap kinerja kontraktor bangunan gedung

2 Nai-Hsin

Pan 2011

Construction Material Supply Chain Process Analysis and

Optimization

How to explore the behavior of the construction supply chain process and develop a performance evaluation method that can help improve the supply chain management (SCM) of the construction project

To provides a systematic approach for the analysis and design of construction supply chain operation models

3 Febiana

maulani 2014

Analisis Struktur Rantai Pasok Konstruksi Pada Pekerjaan Jembatan

Bagaimana struktur jaringan rantai pasok peralatan dan material pada proyek konstruksi jembatan

Untuk mengidentifikasi dan menganalisa struktur rantai pasok peralatan dan material pada proyek konstruksi jembatan

4 Veni

Rahmawati 2015

Analisis Struktur Rantai Pasok Material Pada Pekerjaan Konstruksi Sumber Daya Air

Bagaimana struktur rantai pasok material yang dilakukan pada proyek Pengendalian Banjir Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman dan Proyek Pengendalian Banjir Batang Ulakan Kabupaten Padang Pariaman

Mengidentifikasi dan menganalisa struktur rantai pasok material pada proyek Pengendalian Banjir Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman dan Proyek Pengendalian Banjir Batang Ulakan Kabupaten Padang Pariaman 5 M. Agung

Wibowo 2015

The Analysis of Supply Chain Performance Measurement at Construction Project

As it is known that the road project is one of the very high construction project rules, with using the supply chain operations references (SCOR)

The aim of the study is to analyze supply chain performance in road projecta

(17)

21 6 Elisa

Alonso 2017

Material Availability and the Supply Chain

How supply chain to characterize both the impact that such constraints can have on supply chain operations and the mechanisms by which these constraint are realized

To understand how supply chain to characterize both the impact that such constraint can have on supply chain operations and the mechanisms by which these constraint are realized

7 A. Fauzi 2018

The Materials Supply Chain Management in a Construction Project

How addressing urgent issues including poor cost, practices and environmental performance associated with the traditional process

To considers the potential of applying SCM to integrate the construction process 8 Myrta Puspita Astira Prayogo 2018 Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Dengan

Metode Supply Chain Operations Reference

(SCOR)

Bagaimana kinerja rantai pasok dengan metode supply chain

operations reference (SCOR)

Untuk mengukur kinerja rantai pasok dengan metode supply chain operations

reference (SCOR)

9 Refdizalis 2020

Studi Perilaku Rantai Pasok Konstrksi pada Proyek Pembangunan Gedung

Bagaimana pola rantai pasok

konstruksi, serta perilaku para pihak dalam rantai pasok yang dilakukan pada konstruksi bangunan gedung

Mengidentifikasi dan menganalisa pola rantai pasok konstruksi, serta

menganalisa perilaku para pihak dalam rantai pasok konstruksi bangunan gedung

10 Adrian

Hartanto 2020

Analisis Rantai pasok Semen, Baja, dan Bata pada Proyek bangunan Gedung di Kota Solo

Bagaimana pola supply chain dalam proyek bangunan di Kota Solo dan bagaimana pengaruh cuaca,

transportasi, jarak, dan kemacetan terhadap ketepatan waktu

kedatangan pada proyek bangunan di Kota Solo

Untuk mengetahui pola supply chain dalam proyek bangunan di Kota Solo dan untuk mengetahui pengaruh faktor cuaca, transportasi, jarak, dan kemacetan

terhadap ketepatan waktu kedatangan material pada proyek bangunan di Kota Solo

(18)

22

2.4. Research Gap

Tabel 2.3. Research Gap

No Judul Peneliti Penelitian

Gap Keterangan Struktur Jaringan Masalah Finansial Masalah Transportasi 1

Analisis Rantai Pasok Material Pada Proyek Pembangunan Rumah Susun Cakung Barat

Silviana

Menggunakan metode analisis kuantitatif

2

Pengaruh Rantai Pasok terhadap Kinerja Kontraktor Bangunan Gedung di Jember Sutoyo Soepiadhy

Menggunakan metode analisis kuantitatif

3

Construction Material Supply Chain Process Analysis and

Optimization

Nai-Hsin Pan

Menggunakan metode analisis kuantitatif 4 Analisis Struktur Rantai Pasok Konstruksi Pada Pekerjaan Jembatan Febiana maulani

Menggunakan metode analisis kuantitatif

5

Analisis Struktur Rantai Pasok Material Pada Pekerjaan Konstruksi Sumber Daya Air Veni Rahmawati

Menggunakan metode analisis kuantitatif

(19)

23 6

The Analysis of Supply Chain Performance Measurement at Construction Project M. Agung Wibowo

Menggunakan metode analisis kuantitatif

7 Material Availability

and the Supply Chain Elisa Alonso

Menggunakan metode analisis kuantitatif

8

The Materials Supply Chain Management in a Construction Project

A. Fauzi

Menggunakan metode analisis kuantitatif

9

Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Dengan

Metode Supply Chain Operations Reference (SCOR) Myrta Puspita Astira Prayogo

Menggunakan metode analisis kuantitatif

10

Studi Perilaku Rantai Pasok Konstrksi pada Proyek Pembangunan Gedung

Refdizalis

Menggunakan metode analisis kuantitatif

11

Analisis Rantai pasok Semen, Baja, dan Bata pada Proyek bangunan Gedung di Kota Solo

Adrian Hartanto

Menggunakan metode analisis kualitatif

Gambar

Gambar 2.1. Simplikasi model rantai pasok
Gambar 2.3. Sistem Jaringan Rantai Pasok
Gambar 2.4. Pihak-pihak yang Terlibat dalam  Rantai Pasok
Tabel 2.1. Fungsi Utama Supply Chain
+3

Referensi

Dokumen terkait

Yayını,s:171. Erken Cumhuriyet Dönemi Mimarlığı. Ankara: ODTÜ Mimarlık Fakültesi Yayınları,s:47.. Baskı, Cilt III,. İstanbul: Fetih Cemiyeti İstanbul Enstitüsü

(2006), “Analisis faktor psikologis konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian roti merek Citarasa di Surabaya”, skripsi S1 di jurusan Manajemen Perhotelan, Universitas

Dengan memanfaatkan penyedot debu portebel sebagai mesin utama penghisapnya ditunjang dengan motor DC sebagai motor penggerak roda belakang alat ini, servo

Dari penelitian ini didapatkan nilai estimasi dosis internal 99m Tc-MDP produksi PSTNT berdasarkan uji biodistribusi pada hewan mencit normal menunjukkan bone scan

Nilai rata-rata potensi produksi gas diterjemahkan sebagai parameter bagian bahan organik (BO) yang potensial terfermentasi didalam rumen (b) dan laju produksi

Pada dasarnya adalah sebuah usaha untuk menyediakan sarana penunjang bagi para wisatawan yang datang ke Kota Solo, yang akan melakukan kegiatan serta menikmati

KANIT INTELKAM IPTU SOFYAN KASIUM IPDA HARTO URTAUD KANIT RESKRIM IPDA M.AKMAL SH KANIT LANTAS POLSUSEKTOR UR TAHTI PS KANIT BINMAS IPDA PARNO KANIT SABHARA IPTU SUHARTANA

Hasil dari analisis ruang-ruang berdasarkan standar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.33 Tahun 2008 menunjukkan bahwa ruang pada SDLB A Negeri Banyuwangi yang