RESPONS TUBUH TERHADAP NYERI
Oleh:
Donny Pratama
dr. Cynthia Dewi Sinardja, Sp.An, MARS
BAGIAN/SMF ILMU ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA /
RSUP SANGLAH 2017
1 BAB I PENDAHULUAN
Nyeri sering timbul sebagai manifestasi klinis pada suatu proses patologis, dimana keluhan nyeri tersebut yang sering membuat pasien datang ke rumah sakit atau ke tempat pelayanan kesehatan untuk memeriksakan dirinya. Terdapat 2 tipe nyeri nosiseptif, yaitu nyeri dari kulit dan jaringan yang lebih dalam seperti otot dan sendi yang disebut sebagai nyeri somatik, dan nyeri yang berasal dari organ dalam yang disebut sebagai nyeri viseral1.
Normalnya, nosisepsi dan persepsi nyeri timbul dimulai karena adanya rangsangan termal, mekanik, elektrik atau rangsangan kimiawi yang cukup kuat melebihi batas ambang nyeri setiap individu. Nyeri bersifat subjektif pada setiap individu sehingga memiliki ambang nyeri yang berbeda – beda2. Nyeri juga dipengaruhi oleh pengalaman sensori dan emosional yang dipengaruhi oleh psikologis setiap individu, seperti pengalaman nyeri sebelumnya, kepercayaan atau pendapat orang mengenai nyeri, ketakutan dan kecemasan terhadap nyeri itu sendiri1.
Persepsi nyeri terjadi akibat adanya mekanisme yang dimulai dari transduksi, transmisi, modulasi, dan pada akhirnya terjadilah persepsi nyeri.
Apabila nyeri yang dirasakan menetap selama lebih dari 3 bulan dapat dikatakan sebagai nyeri kronik3. Nyeri kronik memberikan dampak yang serius terhadap kondisi pasien itu sendiri.
Penilaian nyeri terhadap pasien dan pemberian terapi yang adekuat untuk menghilangkan nyeri perlu dilakukan sedini mungkin, karena nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat memperparah kondisi fisik maupun mental pasien.
Setiap persepsi nyeri yang timbul akan membuat tubuh merespons rangsangan nyeri tersebut, yang kemudian akan mempengaruhi secara keseluruhan sistem organ penderita nyeri1. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas tentang respons tubuh terhadap nyeri.
2 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Definisi nyeri
Nyeri menurut International Association for the Study of Pain (IASP) adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau yang menggambarkan dalam hal kerusakan tersebut4. Nyeri dapat terjadi pada setiap orang, tanpa memandang umur, jenis kelamin, ras, status sosial, dan pekerjaan. Nyeri merupakan salah satu tanda vital tubuh yang dapat berfungsi sebagai mekanisme proteksi tubuh, mekanisme defensif tubuh, dan penunjang diagnostik5.
II. Respons tubuh terhadap nyeri
Respons tubuh terhadap suatu stimulus nyeri atau trauma akan menyebabkan respons pada seluruh sistem organ tubuh. Mulai dari respons endokrin, kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, urinari, hematologi, imunitas, psikologi dan metabolik pada pasien yang menderita nyeri. Seluruh respons tersebut merupakan respons stres tubuh akibat dari stimulus nyeri atau trauma.
A. Respons endokrin
Setelah terjadinya nosiseptif atau kerusakan pada jaringan, rangsangan neurogenik akan berdampak pada hipotalamus yang kemudian akan membuat perubahan pada respons neuroendokrin. Perubahan respons neuroendokrin tersebut disebut sebagai respons stres2. Respons stres inilah yang merugikan pasien dimana berperan sebagai faktor pencetus terjadinya respons pada sistem organ lainnya terhadap nyeri. Stres yang diakibatkan oleh rangsangan nosiseptif tersebut akan meningkatkan sekresi hormon katabolik yaitu katekolamin, kortisol, angiotensin II, ADH, ACTH, GH, dan glukagon. Sebaliknya, nyeri akan menurunkan sekresi
3
hormon anabolik seperti insulin dan testosteron. Pasien yang mengalami nyeri akan mengalami keseimbangan nitrogen negatif, intoleransi karbohidrat yang diakibatkan dari resistensi insulin dan proses glukoneogenesis, dan peningkatan lipolisis1-3. Akan terjadi peningkatan kortisol, renin, angiotensin, aldosteron, dan ADH yang akan berdampak pada terjadinya retensi natrium, retensi air, dan ekspansi atau pembengkakan sekunder pada ruang ektraseluler1,3. Katekolamin dapat merangsang reseptor nyeri sehingga intensitas nyeri bertambah5.
B. Respons kardiovaskular
Stimulus nyeri akan menyebabkan pelepasan katekolamin, aldosteron, kortisol, antidiuretic hormone (ADH), dan aktivasi angiotensin II yang berdampak pada sistem kardiovaskular5. Efek nyeri pada sistem kardiovaskular yang sering timbul antara lain hipertensi, takikardia, peningkatan iritabilitas miokard, dan peningkatan resistensi vaskuler sistemik1. Pelepasan angiotensin II akan menyebabkan vasokonstriksi.
Pelepasan katekolamin menyebabkan takikardia, peningkatan kontraktilitas otot jantung dan resistensi vaskular perifer dimana akan meningkatkan afterload jantung1,5. Aldosteron dan ADH akan menyebabkan retensi natrium dan air6. Sehingga hal tersebut akan meningkatkan curah jantung dan kemudian dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah atau hipertensi pada pasien dengan nyeri.
Apabila pasien memiliki gangguan ventrikel, maka curah jantung mungkin akan berkurang. Takikardia yang terjadi serta adanya disritmia dan peningkatan resistensi perifer akan meningkatkan kontraktilitas dan kebutuhan miokard akan oksigen sehingga dapat menimbulkan iskemia miokard2.
C. Respons respirasi
Nyeri yang diakibatkan oleh insisi pada abdominal atau dada akan membahayakan fungsi dari paru – paru akibat dari peningkatan tonus otot atau spasme otot skeletal di daerah tersebut. Menurunnya gerakan pada dinding dada akan mengurangi volume tidal dan kapasitas residu
4
fungsional. Hal ini mendorong terjadinya atelectasis, intrapulmonary shunting, hipoksemia, dan hipoventilasi. Berkurangnya kapasitas vital paru menyebabkan batuk, kesulitan bernapas dan gangguan proses pengeluaran sputum1,5. Akan tetapi pada tubuh terjadi stimulasi suprasegmental dari pusat pernapasan yang akan menyebabkan terjadinya hiperventilasi dimana bertujuan untuk menetralkan hipoventilasi yang terjadi akibat spasme skeletal dan refleks konstriksi bronkiolus3.
D. Respons gastrointestinal
Gejala yang sering terjadi akibat rangsangan nyeri adalah mual, muntah dan konstipasi. Gejala tersebut diakibatkan karena meningkatnya tonus simpatik, kemudian hal tersebut menimbulkan inhibisi fungsi saluran cerna dengan meningkatkan tonus sfingter dan menurunkan pasase atau motilitas intestinal (usus), yang akan menyebabkan terjadinya ileus atau obstruksi usus. Hipersekresi asam lambung yang terjadi akan menyebabkan terjadinya ulkus pada lambung dan dapat meningkatkan terjadinya aspirasi pulmonal1,5.
E. Respons urinari (saluran kemih)
Sama halnya dengan gastrointestinal, dimana pada saluran kemih terjadi peningkatan tonus simpatik. Hal tersebut meningkatkan tonus sfingter dan menurunkan pasase atau motilitas saluran kemih yang kemudian dapat menyebabkan retensi urin1,3.
F. Respons hematologi
Tingginya tingkat stres akan berdampak pada fungsi koagulasi dimana akan menimbulkan peningkatan viskositas darah, dan fungsi trombosit5. Hal tersebut dimulai dari adanya pelepasan katekolamin dan angiotensin berlebih sebagai respons tubuh terhadap nyeri yang dapat menimbulkan vasokonstriksi, meningkatkan aktivasi trombosit, adesivitas trombosit kecepatan koagulasi dan, mengurangi fibrinolisis, sehingga dapat terjadi hiperkoagulabilitas, ketika terjadi imobilisasi dalam jangka waktu yang lama akibat nyeri, maka akan mudah terjadi komplikasi
5
trombosis1,2. Peningkatan aktivasi trombosit – fibrinogen akan membahayakan pasien dengan penyakit vaskular aterosklerosis, karena dapat meningkatkan kekentalan plasma, agregasi trombosit, dan pelepasan faktor vasokonstriksi yang berpengaruh mengurangi aliran darah pada pembuluh darah yang stenosis2.
G. Respons imunologi
Respons stres neuroendokrin akan menghasilkan limfopenia, leukositosis dan menekan reticuloendothelial system (RES). Hal tersebut dapat mengakibatkan resistensi terhadap kuman patogen menurun, sehingga menjadi faktor predisposisi terjadinya infeksi. Respons stres yang diakibatkan oleh nyeri juga dapat menyebabkan imunodepresi sehingga mungkin juga dapat meningkatkan pertumbuhan tumor dan metastasis1,5. Keseimbangan nitrogen negatif dan sekresi kortisol yang berkepanjangan telah menyebabkan gangguan klinis yang signifikan dalam penyembuhan luka dan Imunokompetensi2.
H. Respons psikologi
Pada pasien yang menderita nyeri akut yang berat, akan terjadi gangguan kecemasan, rasa takut dan gangguan tidur. Hal tersebut terjadi karena ketidaknyamanan pasien dengan kondisinya, dimana pasien menderita dengan rasa nyeri yang dialaminya kemudian pasien juga tidak dapat beraktivitas seperti yang biasa dilakukannya. Seiring bertambahnya durasi dan intensitas nyeri, pasien dapat mengalami gangguan depresi, kemudian pasien bisa frustasi dan marah terhadap keluarga, dokter, dan dirinya sendiri karena nyeri yang dialaminya1. Kondisi pasien seperti cemas dan rasa takut akan membuat pelepasan kortisol dan katekolamin, dimana hal tersebut akan merugikan pasien karena dapat berdampak pada sistem organ lainnya, gangguan sistem organ yang terjadi kemudian akan membuat kondisi pasien bertambah buruk dan psikologi pasien akan bertambah parah. Pengeluaran biaya juga akan meningkat karena pasien akan berupaya mencari jalan untuk menghilangkan atau meminimalkan
6
rasa nyerinya. Sementara kualitas hidup pasien menurun karena pasien tidak bisa beristirahat dan beraktivitas1,3.
I. Respons metabolik
a. Karbohidrat: intoleransi glukosa, hiperglikemia, resistensi insulin akibat dari meningkatnya glikogenolisis di hepar akibat dari epinefrin dan glukagon, gluconeogenesis akibat dari hormon pertumbuhan, kortisol, asam lemak bebas, epinefrin dan glukagon, dan terjadi penurunan sekresi serta aksi dari insulin3,6.
b. Protein: peningkatan kortisol, glukagon, epinefrin dan interleukin-1 akan meningkatkan metabolisme protein otot dimana akan menyediakan alanin untuk proses glukoneogenesis3.
c. Lemak: terjadinya peningkatan asam lemak bebas yang disebabkan oleh meningkatnya lipolisis dan oksidasi jaringan lemak, kemudian akan terjadi seperti pada protein yaitu glukoneogenesis yang disebabkan oleh peningkatan katekolamin, glukagon, kortisol, dan
hormon pertumbuhan3,6.
7 BAB III SIMPULAN
Nyeri menurut International Association for the Study of Pain (IASP) adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau yang menggambarkan dalam hal kerusakan tersebut. Nyeri dapat timbul akibat adanya stimulus atau rangsangan berupa termal, mekanik, elektrik atau rangsangan kimiawi. Yang kemudian akan lanjut menuju mekanisme nyeri yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan kemudian masuk ke persepsi nyeri. Nyeri yang dirasakan akan membuat tubuh orang yang mengalami nyeri merespons rangsangan nyeri tersebut. Respons tubuh terhadap nyeri sangat banyak, dimulai dari respons endokrin terhadap stimulus nyeri yang kemudian akan membuat terjadinya respons kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, urinari, hematologi, imunitas, psikologi dan metabolik. Dimana respons tubuh tersebut dapat memperburuk keadaan pasien yang akan memperlambat proses penyembuhan penyakit yang diderita pasien, menurunkan kualitas hidup dan produktivitas pasien serta menimbulkan pengeluaran biaya yang tidak sedikit untuk mengatasi nyeri tersebut.
7
DAFTAR PUSTAKA
1. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. 2013. Morgan & Mikhail’s Clinical Anesthesiology Fifth Edition. Mc Graw Hill Education.
2. Sinatra RS, Hord AH, Ginsberg B, Preble LM. 1992. Acute Pain Mechanisms & Management. Mosby Year Book.
3. Bonica JJ, Loeser JD. 1990. The Management of Pain 3rd edition. Lippincot William Wilkins.
4. International Association for the Study of Pain. 2012. IASP Taxonomy.
Diakses pada: http://www.iasp-pain.org/Taxonomy#Pain (12 maret 2017).
5. Mangku, dr, Sp. An. KIC & Senapathi, dr, Sp. An. 2010. Buku Ajar Ilmu Anestesi dan Reanimasi. Jakarta: PT. Indeks.
6. Guyton AC, Hall JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: EGC.