KRITERIA DAN KONSEP DESAIN GYM HOUSE DI KOTA BANGLI
Teks penuh
(2) Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa faktor faktor spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga teori-teori arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan nilai nilai estetika bangunan yang terbentuk akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada di wilayah lain yang berbeda kondisi iklimnya. Menurut (DR. Ir. RM. Sugiyatmo, 2001) kondisi yang berpengaruh dalam perancangan bangunan pada iklim tropis lembab seperti kenyamanan termal, aliran udara melalui bangunan, radiasi panas, sirkulasi udara dengan sistem ventilasi horizontal, sirkulasi udara dengan sistem vertikal Bangli memiliki iklim tropis, suhu udara relatif rendah berkisar antara 15 °c 30°C, semakin ke utara suhu semakin dingin. Angka curah hujan rata -rata tahunan terendah adalah 900 mm dan tertinggi 3.500 mm. Penyebaran curah hujan relatif tinggi (2.500 - 3.500 mm) meliputi bagian utara (lereng Gunung Batur) dan semakin rendah ke arah selatan wilayah. Curah hujan tertinggi terjadi bulan Desember – Maret dan terendah pada bulan agustus. (Situs Resmi Pemerintahan Kabupaten Bangli) 5.2 Kenyamanan Mampu merancang desain yang memiliki tingkat kenyamanan bagi civitas pengelola maupun pengunjung bangunan dari segi ergonomi dan antropometri di dalam bangunan Gym. 5.2.1 Fasilitas Olahraga Yang Bersih dan Fungsional 1. Penempatan tempat sampah pada ruang – ruang yang padat akan civitas pengunjung Penempatan rambu larangan membawa makanan ke dalam ruangan olahraga dan penyediaan tempat sampah yang di letakan pada sudut – sudut ruang yang padat akan aktivitas pengunjung, penyediaan tempat sampah dan rambu – rambu larangan. Gym House di Kota Bangli. 106.
(3) membawa makana ke dalam ruangan olahraga yang bertujuan demi menjaga keamanan dan kebersihan area olahraga. Berikut merupakan perletakan pen yediaan tempat sampah dan rambu – rambu larangan membawa makanan pada fasilitas Gym House dapat dilihat pada gambar 5.1. Gambar 5.1 Penempatan Tempat Sampah. Pada gambar 5.1 Dapat dijelaskan titik -titik penempatan tempat sampah dan rambu larangan guna menjaga kebersihan di setiap sudut ruang yang berpotensi menimbulkan berbagai jenis sampah, seperti halnya botol kemasan minuman yang dibawa oleh pengunjung saat melakukan aktivitas berolah raga. 2. Penyediaan fasilitas jogging yang tidak terhalang oleh kondisi cuaca. Penyediaan fasilitas olahraga jogging yang berada di bawah atap bertujuan untuk mendukung kegiatan olahraga jogging masyarakat yang bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi apapun .Seperti gambar 5. 2. Gym House di Kota Bangli. 107.
(4) Gambar 5.2 Jogging Track. 3. Mengaplikasikan Sistem Sirkulasi Udara Horizontal Ventilasi horizontal timbul karena udara dari sumber yang datang secara horizontal. Kondisi ini bisa terjadi bila ada satu sisi yang sengaja dibuat panas sementar a di sisi lain kondisinya lebih sejuk. Kondisi sejuk ini dapat diperoleh bila bagian tersebut kita tanami pohon yang cukup rindang atau bagian tersebut sering terkena bayangan . Yang dapat dilihat pada gambar 5. 3. Gym House di Kota Bangli. 108.
(5) Gambar 5.3 Sirkulasi Udara Horizontal. 4. Pemasangan Kaca Transparan Pada Dinding Ruang Olahraga Penggunaan dinding kaca transparan pada area olahraga sepeda statis dan olahraga tread mill bertujuan untuk memaksimalkan view yang ada di luar bangunan yang dapat memberikan rasa nyaman kepada civitas yang sedang melakukan kegiatan olahraga. Yang dapat dilihat pada gambar 5.4. Gambar 5.4 Penggunaan Kaca Transparan pada Dinding Ruang Olahraga. Gym House di Kota Bangli. 109.
(6) 5. Penggunaan Overstek Yang Cukup Lebar Hunian atau bangunan yang mengusung konsep Arsitektur Tropis umumnya memiliki overstek atau teritisan yang cukup lebar untuk meminimalisir tampias dari curah hujan dan kecepatan angin iklim tropis yang tinggi. Fungsi lain dari teritisan ini sendiri adalah mengurangi sinar matahari langsung untuk masuk ke dalam ruang-ruang agar hunian tetap sejuk tanpa mengurangi kualitas pencahayaan. Dapat dilihat seperti gambar 5.5. Gambar 5.5 Overstek Yang Lebar 6. Penggunaan Fasad Bangunan Yang Dapat Mengurangi Intensitas Matahari Masuk ke Banguna Penggunaan fasad yang dapat dilihat pada gambar bertujuan untuk meminimalisir masuknya sinar matahari yang berlebihan. Penggunaan fasad dapat dilihat pada gambar 5.6. Gym House di Kota Bangli. 110.
(7) Gambar 5.6 Fasad Bangunan 7. Penggunaan ukuran dan jarak standar pada area olahraga Penggunaan ukuran dan jarak standar pada area olahraga bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung yang akan melakukan kegiatan olahraga yang dapat dilihat pada gambar 5.7. Gym House di Kota Bangli. 111.
(8) Gambar 5.7 Ukuran dan Jarak Alat - Alat Olahraga Aerobik, Fitness dan Kalistenik 8. Penggunaan material yang tepat pada ruang sauna Penggunaan material yang memilki sifat isolator atau tidak mengantarkan panas sangat penting diaplikasikan pada ruang sauna. Ini dikarenakan ruang sauna merupakan ruangan yang memiliki suhu tinggi yang apabila tidak menggunakan materal yang tidak tepat dapat mengganggu kenyamanan pengunjung saat melakukan sauna 5.8. Gambar 5.8 Penggunaan Material Pada Ruang Sauna. Gym House di Kota Bangli. 112.
(9) 5.2.2 fasilitas Olahraga yang Memliki Standar Luasan yang Sesuai Untuk Kenyamannan Civitas 1. penerapan standar Dimensi Manusia dan Ruang Interior perancangan fasilitas gym house yang memiliki luasan dimensi ruang yang sudah sesuai dengan standar pedoman dari “ Dimensi Manusi dan Ruang interior” dan “ Neufert Data Architect “ bertujuan unuk menciptakan ruang ruang olahraga yang nyaman untuk ruang gerak yang dipakai saat melakukan aktivitas olahraga, sehin gga dapat menjaga jarak antar civitas yang berolahraga. Standar ukuran jarak manusia saat berolahraga dapat dilihat pada gambar 5.8. Latihan Lat Match. Latihan Menggunakan Sepeda Statis. Latihan Push – Up. Jarak Antara Dasar Untuk Latihan. Gym House di Kota Bangli. 113.
(10) Jarak Bersih Minimal Untuk Latihan Senam. Ruang Sauna. Latihan Sit - Up. Ruang Loker. Gambar 5.9 Ukuran Standar Manusia Saat Berolahraga Sumber : Buku Dimensi Manusia dan Ruang Interior. 5.3 Keamanan Merancang system keamanan bagi pengunjung maupun pengelola dari segi keamanan security untuk menanggulangi kejadian kehilangan dan tindakan kriminal lainnya dan keamanan terhadap keselamatan. 5.3.1 Meminimalisir Resiko Jika Terjadi Keadaan Darurat 1. penyediaan fasilitas pemadam kebakaran. Gym House di Kota Bangli. 114.
(11) kebakaran merupakan suatu keadaan darurat yang tidak dapat diprediksi, dimana penyebab kebakaran dapat terjadi dikarenakan berbagai hal, baik disengaja maupu tidak disengaja. Guna meminimalisir keadaan tersebut maka pada fasilitas ini ditempatkan berbagai alat pemadam kebakaran. Berikut merupakan jenis – jenis alat pemadam kebakaran yang digunakan pada fasilitas ini dapat dilihat pada gambar 5.9. Gambar 5.10 Jenis Sistem Pemadam Kebakaran yang Digunakan dari Kiri Ke Kanan yaitu Hydran, APAR, Sprinkler Pendant, Kitchen Protection Sistem Berdasarkan jenis – jenis alat pemadam kebakaran yang ada maka dapat ditentukan jenis jenis alat pemadam kebakaran pada setiap ruangan sebagai berikut. Yang pertama Hydran diletakan di dekat entrance dan di dekat parkir pengelola guna memudahkan petugas pemadam kebakaran untuk mendapatkan akses air bersih, yang kedua APAR ditempatkan di beberapa sudut ruang yang memilikiresiko terjadinya kebakaran, yang ketiga sprinkler pendant diletakan di plafond ruang ruang yang berpotensi terjadi percikan api, yang keempat kitchen protection sistem diletakan di area restoran untuk mengantisipasi kebakaran yang disebabkan pada saat proses memasak. Berikut merupakan konsep perletakan sistem pemadam kebakaran pada Gym House yang dapat dilihat pada gambar 5.11. Gym House di Kota Bangli. 115.
(12) =. Hydran. =. APAR. =. Sprinkler Pendant. =. Ktichen Protection sistem. Gambar 5.11 Penempatan Sistem Pemadam Kebakaran. 2. Penempatan Pintu Darurat Penggunaan pintu darurat merupakan suatu upaya untuk meminimalisir terjadinya korban pada saat terjadinya situasi darurat seperti gempa bumi dan kebakaran. Perletakan pintu darurat dapat dilihat pada gambar 5.12. Gambar 5.12 Penempatan Pintu Darurat. Penempatan pintu darurat yang bertujuan guna meminimalisir terjadinya korban saat terjadi kebakaran dan gempa bumi, maka pintu darurat tersebut diletakan pada ruang – ruang yang meliki jarak yang jauh dari pintu utama bangunan gedung. Sehingga,. Gym House di Kota Bangli. 116.
(13) civitas yang berada di dalam ruangan tersebut dapat diarahkan langsung ke area terbuka. 5.3.2 Meminimalisir Tindak Kejahatan 1. Penempatan camera CCTV pada sudut - sudut ruang yang strategis Pemasangan CCTV bertujuan untuk mengontrol dan mengawasi setiap civ itas yang berpotensi melakukan tindakan kriminal, dan juga menjaga kondusifitas dan keamanan pada fasilitas Gym House. Penempatan CCTV dapat dilihat pada gam bar 5.13. Gambar 5.13 Penempatan Camera CCTV. Camera CCTV ditempatkan pada ruang -ruang yang berpotensi terjadinya tindak kriminal seperti entance, area parkir, lobby, restoran, ruang pengelola, ruang loker, ruang fitness, ruang aerobik, dan ruang kalistenik. Dimana ruang tersebut berpotensi terjadi tindak pencurian dan tindak kriminal lainnya.. Gym House di Kota Bangli. 117.
(14) 5.3.3 Merespon kondisi Iklim dan Topografi Kota Bangli 1. Penggunaan Jenis Sub Struktur Tiang Pancang Penggunaan sub struktur Tiang Pancang bertujuan untuk merespon kondisi tanah yang cenderung labik dikarenakan kondisi pada site terpilih merupan area persawahan yang memiliki jenis tanah yang labil. Penggunaan jenis pondasi tiang pancang merupakan jenis pondasi yang tepat digunakan sebagai penopang bangunan yang memiliki struktur tanah yang labil. Gambar pondasi tiang pancang dapat dilihat pada gambar 5.14. Gambar : 5.14 Pondasi Tiang Pancang. 2. penggunaan Super Struktur Baja Komposit Penggunaan super struktur baja komposit dimaksudkan guna merespon dari topografi pada daerah Bangli sebagai daerah yang berpotensi terjadinya gempa Vulkanik maupu gempa Tektonik. Jenis super struktur baja kompisit memiliki sifat kelenturan dibandingkan dengan struktur beton bertulang. sifat dari material baja yang memiliki ketahanan yang lebih pada gaya tarik pada saat gempa dibandingkan struktur beton bertulang. Gambar struktur baja komposit dapat dilihat pada gambar 5.15. Gym House di Kota Bangli. 118.
(15) Gambar 5.15 Struktur Baja Komposit. 3. Penggunaan Upperstruktur Rangka Ruang Penggunaan rangka ruang pada struktur atap dimaksudkan untuk mendukung desain bangunan yang memiliki bentang yang lebar, selain itu penggunaan rangka ruang pada struktur atap dapat mendukung penerapan pedekatan desain analogi yang mengambil bentuk alat – alat yang akan digunakan pada atap bangun Gym House. Gambar uppstruktur rangka ruang dapat dilihat pada gambar 5.16. Gambar 5.16 Uppstruktur Rangka Ruang. Gym House di Kota Bangli. 119.
(16) 4. Penggunaan Atap Banguna Yang Memiliki Kemiringan 30 Derajat Atap pada hunian-hunian berkonsep Arsitektur Tropis umumnya berbentuk miring dengan kemiringan diatas 30 derajat. Hal ini disebabkan morfologi atap seperti ini mampu membuat curah hujan yang tinggi pada iklim tropis bisa mengalir lancar langsung ke tanah tanpa perlu takut tergenang pada bagian atas bangunan.. Gambar 5.17 Atap Bangunan. 5.4 Sirkulasi Mampu menyediakan system sirkulasi yang jelas dan nyaman untuk mempermudah pengelola dan pengunjung yang akan melakukan aktivitas di dalam maupun di luar bangunan. 5.4.1 Kejelasan Alur Sirkulasi Pengunjung dan Pengelola Alur sirkulasi harus jelas dan nyaman terhadap pengunjung dan pengelola sehingga mempermudah dalam aktivitas yang dilakukan. Berikut merupakan beberapa konsep desain yang digunakan guna mewujudkan sistem sirkulasi yang jelas : 1. Pemisahan sirkulasi pengelola dan pengunjung. Gym House di Kota Bangli. 120.
(17) Untuk dapat membedakan sirkulasi pengelola dan pengunjung terlebih dahulu akan dilakukan zoning tapak yang dapat dilihat pada gambar 5.18. Gambar 5.18 Tampilan Zoning Tapak. Dari penentuan zoning pada tapak yang dilakukan, maka didapatkan zona berdasarkan sivat tapak, antara lain zona publik, semi publik dan privat sehingga dengan penentuan zona tersebut dapat ditentukan arah sirkulasi dari masing – masing civitas, dapat dilihat pada gambar 5.19. Gym House di Kota Bangli. 121.
(18) Gambar 5. 19 Tampilan Sirkulasi Tapak Dengan adanya pemisahan sirkulasi pada masing – masing civitas, diharapkan dengan konsep sirkulasi pada gambar 5.19 Dapat memberi kejelasan arah sirkulasi, yang dapat memudahkan aktivitas yang dilakukan civitas pada bangunan Gym House nantinya.. Gym House di Kota Bangli. 122.
(19) 2. Perletakan dan Pola Parkir Pada tapak terdapat fasilitas parkir yang dibedakan kedalam dua kategori yaitu parkir pengelola dan parkir pengunjung. Pola parkir pengelola dan pengunjung memiliki kesamaan, yaitu sama – sama menggunaan pola parkir 45° untuk mobil dan parkir 90° untuk parkir sepeda motor. Dan tetap mempertimbangkan kemudahan dalam memarkirkan kendaraan. Berikut merupakan ilustrasi pola parkir pengelola dan pengunjung yang dapat dilihat pada gambar 5.20. Gambar 5.20 Tampilan Zoning Pakir & Kosep Pola Parkir. Setelah dilakukan proses analisa yang dilakukan dalam menetukan jenis parkir kendaraan civitas dan perletakan zona parkir pada tapak, maka dapat diperoleh konsep parkir pengelola dan pengunjung yang dipisahkan agar mempermudah tahapan pengawasan yang dilakukan oleh petugas pengamanan. 5.4.2 Sistem Sirkulasi yang Jelas dan Fungsional 1. Menampilkan Entrance yang Fungsional. Gym House di Kota Bangli. 123.
(20) Pada entry icon menggunakan model atap yang lancip hal ini bertujuan untuk mendukung pendekatan desain yang digunakan yaitu pendekatan arsitektur tropis. Entry icon dapat dilihat pada gambar 5.21. Gambar 5.21 Entry Icon. 2. Pola Massa Bangunan Untuk mempermudahkan sirkulasi pengunjung dan pengelola, terlebih dahu lu akan ditentukan alur sirkulasi dari masing – masing civitas yang dapat dilihat pada gambar 5.20. Gym House di Kota Bangli. 124.
(21) Gambar 5.22 Tampilan Sirkulasi Civitas. Pola massa bangunan pada fasilitas menggunakan massa bangunan monolid yang merupakan pola masa yang dimana ruangan terhubungan satu dengan y ang lainnya dalam satu bangunan. Berikut merupakan tampilan ilustrasi mengenai tata letak massa bangunan yang dapat dilihat pada gambar 5.22. Gambar 5.23 Konsep Tampilan Pola Masa Bangunan. Gym House di Kota Bangli. 125.
(22) 3. Penggunaan signage sebagai penujuk arah. Gambar 5.24 Signage. 4. Penggunaan vegetasi pengarah sehungga memudahan civitas menuju bangunan. Gambar 5.25 Vegetasi Pengarah Sirkulas. Gym House di Kota Bangli. 126.
(23)
Dokumen terkait
Lain halnya pada pengendara laki-laki, keberadaan keselamatan berkendara tidak terlepas dari keberadaan kecenderungan pelanggaran terhadap aturan, kesukaan akan sensasi dan
Judul Skripsi : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA SEBAGAI RESPON ATAS PERUBAHAN TARIF PAJAK PENGHASILAN BADAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis uji pengaruh yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran gerak dasar terhadap
(PNS) dalam tindak pidana korupsi (tipikor) dan yang telah ditetapkan dalam keputusan.. hukuman tetap (inkracht), Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Kedeputian
makna yang jelas, pasti, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Perbedaan makna kata dan
Oleh karena itu peneliti melihat bahwa konflik rumpon pada komunitas nelayan Puger ini masih ada secara laten, karena dalam kenyataanya pihak pemilik rumpon tidak memutus
kompetensi pada SI yang dipelajari siswa dengan tujuan mata pelajaran.. matematika yang
Tombol di toolbar browser yang digunakan untuk menampilkan website yang berhubungan dengan multimedia adalah …... Bagian jendela browser yang berfungsi untuk menampilkan proses