SKRIPSI
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KUALITAS TIDUR PADA LANJUT USIA DI PANTI JOMPO HISOSU BINJAI SUMATERA
UTARA PADA TAHUN 2016
Oleh :
MUHAMMAD ANGGI IKHSAN SIREGAR 130100105
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
HALAMAN PERSETUJUAN
Laporan hasil penelitian dengan judul :
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Jompo Hisosu Binjai Sumatera Utara pada Tahun 2016
Yang dipersiapkan oleh:
MUHAMMAD ANGGI IKHSAN SIREGAR 130100105
Laporan hasil penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk dilanjutkan ke Seminar Hasil
Medan, 14 Desember 2016 Disetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
dr. Fasihah Irfani Fitri, Sp.S Dr. dr. Dharma Lindarto, Sp.PD NIP: 198307212008012007 NIP: 195512221983021001
LEMBAR PENGESAHAN
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Jompo Hisosu pada Tahun 2016
Nama : MUHAMMAD ANGGI IKHSAN SIREGAR NIM : 130100105
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
dr. Fasihah Irfani Fitri, Sp.S Dr. dr. Dharma Lindarto, Sp.PD NIP: 198307212008012007 NIP: 195512221983021001
Dosen Penguji I Dosen Penguji II
dr. Irina Kemala Nasution, Sp.S dr. Sri Amelia, M.Kes NIP: 198009032006042001 NIP: 197409132003122001
Medan, Januari 2017
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) NIP: 19660524 199203 1002
ABSTRAK
Kelebihan berat badan dan kegemukan merupakan faktor resiko penyebab kematian ke-5 di dunia. Kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Pada penelitian ini ingin dicari apakah ada hubungan antara “ Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada Tahun 2016 “.
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain penelitian cross-sectional.
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling dengan usia ≥60 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Pemeriksaan Indeks Massa Tubuh dilakukan dengan penilaian berat badan dan tinggi badan, kemudian dikategorikan sesuai hasilnya.
Penilaian Kualitas Tidur dilakukan dengan kuesioner Pittsburgh Sleep Index Quality (PSQI). Dinyatakan kualitas tidur baik bila skor <5 dan kualitas tidur buruk bila skor ≥5. Hasil penelitian didapati kualitas tidur baik sebanyak 3 orang (30%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 27 orang (70%) dari seluruh jumlah sampel.
Karakteristik subjek penelitian lanjut usia yang diperoleh dimana kelompok usia terbanyak adalah usia 60-64 tahun dan 65-69 tahun dengan jumlah masing- masing sebanyak 7 orang (23.3%). Selanjutnya, kelompok jenis kelamin lanjut usia terbanyak adalah wanita dengan jumlah sebanyak 21 orang (70%). Lalu, kelompok status IMT terbanyak adalah normoweight dengan jumlah sebanyak 21 orang (70%). Dan lalu, kelompok status PSQI terbanyak adalah buruk dengan jumlah sebanyak 27 orang (90%). Selanjutnya, kelompok status PSQI buruk dengan status normoweight adalah kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 18 orang. Lalu, kelompok jam mulai tidur tiap malam pukul >20.00-22.00 WIB dengan status normoweight adalah kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 13 orang. Dan lalu, kelompok sleep onset tiap malam selama 0-60 menit dengan status normoweight adalah kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 10 orang.
Setelah itu, kelompok jam bangun tiap pagi pukul >04.00 WIB dengan status normoweight adalah kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 14 orang.
Terakhir, kelompok durasi tidur tiap malam selama >5-7 jam dengan status normoweight adalah kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 12 orang.
Hasil analisis statistik dengan uji Chi Square didapati nilai p value = 0.699 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna.
Kata Kunci : Indeks Massa Tubuh, Kualitas Tidur
ABSTRACT
Overweight and obesity are the fifth leading risk for global death. Poor quality of sleep is related to elevated body mass index. This research was carried out to find any association between “ Body Mass Index with Quality of Sleep in Elderly in Nursing Home of Hisosu, Binjai, North Sumatera in 2016 “.
In this research, we use analytic with cross sectional research. The method of sampling is total sampling with age ≥60 years old who qualified the inclusion criteria. The assessment of body mass index includes body weight and height. The outcome then classified based on their respective category.
The quality of sleep obtained from the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaires. The good sleep quality requires the score of <5 and the score of ≥5 qualified as poor sleep quality. The result of this research was obtained that 3 elderlies had good sleep quality (30 %) while 21 elderlies had poor sleep quality (70 %).
Characteristics of research subjects elderly obtained where the largest age group is 60-64 years old and 65-69 years old with the respective amount of 7 people (23.3%). Furthermore, group sex is the most elderly women with a total of 21 people (70%). Then, the group most BMI status is normoweight with a total of 21 people (70%). And then, the group most PSQI status is bad with a total of 27 people (90%). Furthermore, the group status with the status normoweight and bad PSQI is the largest group with a total of 18 people. Then, the group began hours sleep every night at> 8:00 p.m. to 22:00 pm with normoweight status is the largest group with a total of 13 people. And then, sleep onset group every night for 0-60 minutes with normoweight status is the largest group with a total of 10 people. After that, the group o'clock wake up every morning at> 04.00 pm with normoweight status is the largest group with a total of 14 people. Lastly, the group duration of sleep every night for> 5-7 hours with normoweight status is the largest group with a total of 12 people.
The result of statistic analyze with Chi-Square shows that there is no significant relation between Body Mass Index with Quality of Sleep in Erderly in Nursing Home of Hisosu, Binjai, North Sumatera in 2016 ( p value = 0.699 ).
Key Words : Body Massa Index, Quality of Sleep
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan berkahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan Skripsi ini yang berjudul “ Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Smuatera Utara pada Tahun 2016 “. Skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
2. Dosen-dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat / Ilmu Kedokteran Komunitas ( IKM / IKK ) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 3. dr. Fasihah Irfani Fitri, Sp.S sebagai dosen pembimbing I dan Dr. dr.
Dharma Lindarto, Sp.PD sebagai dosen pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan petunjuk, saran, dan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan
4. dr. Irina Kemala Nasution, Sp.S sebagai dosen penguji I dan dr. Sri Amelia, M.Kes sebagai dosen penguji II yang telah bersedia menguji, memberikan masukan, dan saran kepada penulis
5. Kepada kedua orang tua penulis Bapak Ir. H. Amru Siregar dan Ibu Salmah yang telah banyak memberikan semangat dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini
6. Komisi Etik dan Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah menyetujui pelaksanaan penelitian ini
7. Muhammad Iqbal Nusa, Ifan Kusuma Wardana, Muhammad Farhansyah Pane, Muhammad Riza Lubis, Farid Aulia Nasution, Rahmad Diansyah, Muhammad Ari Guhtama, Wendi Armi, Utama Hadiputra Surbakti, Zikri Putra Lan Lubis, Muhammad Taqiyyudin Harahap, Muhammad Riski Assilmi Lubis, dan Maulana Jamil Nasution sebagai teman-teman
seperjuangan yang telah banyak memberikan masukan serta dukungan yang sangat membantu dalam menyelesaikan skripsi ini
Demikian ucapan terima kasih ini disampaikan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis mengharapkan saran serta kritik dari pembaca.
Medan, 14 Desember 2016 Penulis
Muhammad Anggi Ikhsan Siregar NIM : 130100105
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tidur ... 5
2.2 Gangguan Tidur ... 8
2.3 Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Tidur ... 9
2.4 Indeks Massa Tubuh ... 11
2.5 Fisiologi Pengaturan Asupan Makanan ... 12
2.6 Obesitas ... 16
2.7 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur ... 18
BAB 3 KERANGKA TEORI, KONSEP, DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Teori ... 21
3.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 22
3.3 Hipotesa ... 22
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian ... 23
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 23
4.3 Populasi dan Sampel ... 23
4.4 Kriteria Sampel ... 24
4.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 24
4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 26
4.7 Metode Pengumpulan Data ... 27
4.8 Pengolahan Data ... 28
4.9 Analisis Data ... 28
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 29
5.2 Deskripsi Subjek Penelitian ... 29
5.3 Hubungan IMT dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia... 31
5.4 Hubungan IMT dengan Jam Tidur pada Lanjut Usia ... 31
5.5 Hubungan IMT dengan Sleep Onset pada Lanjut Usia ... 32
5.6 Hubungan IMT dengan Jam Bangun pada Lanjut Usia ... 33
5.7 Hubungan IMT dengan Durasi Tidur pada Lanjut Usia ... 34
5.8 Pembahasan ... 34
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 37
6.2 Saran ... 37
DAFTAR PUSTAKA ... 38 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
2.5 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh ... 14
2.6 Zat yang telah terbukti melalui penelitian ... 17
4.5 Definisi Operasional ... 27
5.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian ... 30
5.2.2 Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Status PSQI ... 31
5.3 Hubungan IMT dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia ... 31
5.4 Hubungan IMT dengan Jam Tidur pada Lanjut Usia... 32
5.5 Hubungan IMT dengan Sleep Onset pada Lanjut Usia ... 33
5.6 Hubungan IMT dengan Jam Bangun pada Lanjut Usia ... 34
5.7 Hubungan IMT dengan Durasi Tidur pada Lanjut Usia ... 35
DAFTAR GAMBAR/SKEMA
Nomor Halaman
2.3 Siklus Tidur Lanjut Usia ... 9 3.1 Kerangka Teori Penelitian ... 24 3.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 25
DAFTAR SINGKATAN
REM : Rapid Eye Movement NREM : Non-Rapid Eye Movement DNA : Deoxyribonucleic Acid EEG : Electroencephalogram
PSQI : Pittsburgh Sleep Quality Index CT : Computed Tomography
MRI : Magnetic Resonance Imaging α-MSH : α-Melanocyte-stimulating hormone CCK : Cholecystokinin
GLP : Glucagon-like Peptide
CART : Cocaine-and Amphetamine-Regulated Transcript PYY : Peptide YY
NPY : Neuropeptide YY AGRP : Agouti-Related Protein MCH : Melanocortin Receptor GAL : Galanin
POMC : Proopiomelanocortin
GH : Growth Hormone
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 2 Lembar Penjelasan Kepada Calon Subjek Penelitian
Lampiran 3 Lembar Persetujuan ( Informed Consent )
Lampiran 4 Formulir Subjek Penelitian
Lampiran 5 Kuesinoner Kualitas Tidur ( PSQI )
Lampiran 6 Data Primer Subjek Penelitian
Lampiran 7 Outlet SPSS
Lampiran 8 Surat Komisi Etik Penelitian Kesehatan
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Terdapat fenomena baru yang terlihat, yakni meningkatnya usia harapan hidup dan populasi lanjut usia.1 Meningkatnya usia harapan hidup dan populasi lanjut usia merupakan salah satu masalah serius pada abad ke-21 saat ini. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki usia harapan hidup yang semakin lama semakin meningkat seiring perbaikan kualitas hidup, sosial ekonomi, dan layanan kesehatan.2 Dengan meningkatnya kualitas hidup, sosial ekonomi, dan kesejahteraan maka bisa mempengaruhi peningkatan kualitas hidup lanjut usia.
Lanjut usia merupakan hal yang harus disyukuri. Menjadi tua bisa menyebabkan terjadi keterbatasan individual, seluruh manusia akan mengalaminya jika berumur panjang.3
Pada tahun 1999 di Amerika Serikat, jumlah populasi lanjut usia yang berusia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 600 juta orang dan akan meningkat menjadi 2 miliar orang pada tahun 2050. Kemungkinan warga Amerika yang berusia 65 tahun ke atas berjumlah 52 juta orang pada tahun 2020, yang mana telah mengalami peningkatan sebanyak 20 juta orang sejak akhir tahun 1980-an.4,5 Di Indonesia jumlah penduduk lanjut usia pada tahun 2006 sebanyak 19 juta dengan usia rata-rata 66 tahun. Populasi lanjut usia meningkat secara signifikan dari 14.439.967 jiwa (7,18%) pada tahun 2010 hingga menjadi 20 juta jiwa (9,51%) pada tahun 2011 dengan usia rata-rata 67 tahun. Dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlah populasi lanjut usia berjumlah 28,8 juta penduduk dengan usia rata-rata 71 tahun.3
Proses penuaan yang alami (aging process) pada lanjut usia bisa menyebabkan terjadinya perubahan baik secara fisik, psikososial, maupun spiritual.
Ada banyak perubahan yang terjadi pada fisiologis lanjut usia, perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang bersifat patologis, dan bisa menyebabkan lanjut usia mudah terkena penyakit. Salah satu kelainan yang menjadi masalah adalah
perubahan jam tidur. Berdasarkan laporan National Sleep Foundation bahwa sebanyak 67% dari 1508 lanjut usia yang berusia 65 tahun ke atas di Amerika mengalami gangguan tidur, sebanyak 7,3% lanjut usia mengalami kesulitan dalam memulai dan mempertahankan tidurnya. Di Indonesia, sebanyak 50% lanjut usia yang berusia 65 tahun ke atas mengalami gangguan tidur. Dilaporkan setiap tahun bahwa kasus gangguan tidur lanjut usia diperkirakan sebanyak 20%-50%, yakni insomnia dan sebanyak 17%, yakni gangguan tidur yang serius.6 Di Unit Pelaksanaan Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita, bagian kota Binjai dan Medan, dari 64 responden lanjut usia yang memiliki kualitas tidur buruk, sebanyak 82,8% mengalami gangguan tidur ringan, sebanyak 15,6% mengalami gangguan tidur sedang, dan sebanyak 1,6% tidak mengalami gangguan tidur.7 Keluhan-keluhan yang disebutkan sebelumnya sejalan dengan terjadinya berbagai perubahan fisiologis ketika seseorang memasuki usia tua. Lanjut usia lebih sering mengalami jam tidur yang terputus secara spontan. Mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat kembali tidur setelah terbangun. Jika disimpulkan bahwa lanjut usia memiliki jam tidur yang singkat pada malam hari dan cenderung menggantikan jam tidurnya yang terbuang di malam hari pada siang hari.8 Jika jam tidur seperti yang disebutkan sebelumnya berlangsung dalam waktu lama bisa mengakibatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan pada lanjut usia.9
Tidur merupakan suatu kebutuhan utama yang harus terpenuhi oleh setiap orang. Terdapat dua fase normal tidur yakni tidur dengan gerakan bola mata yang cepat (rapid eye movement atau disingkat REM Sleep) dan tidur dengan gerakan bola mata yang lambat (non-rapid eye movement atau disingkat NREM Sleep). Pada NREM Sleep, seseorang mengalami 4 tahap siklus tidur, yakni tahap 1 dan 2 adalah ciri-ciri tidur yang belum nyenyak dan biasanya seseorang mudah dibangunkan.
Tahap 3 dan 4 adalah ciri-ciri tidur yang sudah nyenyak dan biasanya seseorang sulit untuk dibangunkan.9,10 Pada lanjut usia mutlak lebih sedikit atau hampir tidak pernah memiliki fase NREM Sleep tahap 4 dan REM Sleep. Jumlah pria lanjut usia yang biasanya lebih banyak mengalami gangguan tidur dibandingkan wanita lanjut usia berisiko mengalami morbiditas dan mortalitas yang sangat tinggi.8 Jam tidur yang cukup bagi lanjut usia bisa memberikan pengaruh yang baik dalam memenuhi
kualitas tidur. Karena kualitas tidur yang baik bisa menjaga kesehatan, mempercepat penyembuhan penyakit, menghemat energi ketika sel-sel istirahat, meningkatkan daya imun tubuh, dan membantu memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan. Biasanya seseorang akan merasa segar dan sehat setelah istirahat, oleh karena itu istirahat dan tidur sama pentingnya dengan makan, aktivitas, maupun kebutuhan pokok lainnya. Istirahat yang cukup bisa berdampak baik pada kondisi fisik dan psikososial lanjut usia.11
Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya ditemukan bahwa jam tidur yang singkat (rata-rata tidur 7 jam per hari) bisa menyebabkan terjadinya kekurangan hormon leptin, kelebihan hormon ghrelin, dan kelebihan indek massa tubuh. Hormon ghrelin bisa merangsang hasrat untuk makan, sedangkan hormon leptin memberi sinyal ke hipotalamus bahwa energi yang telah tersimpan sudah cukup. Pada penderita obesitas, kelebihan hormon leptin tidak mengurangi sama sekali hasrat untuk makan sebab telah telah terjadi resistensi hormon leptin.12 Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa lanjut usia yang berusia 70-99 tahun yang mana jam tidurnya dibawah 5 jam lebih banyak memiliki indeks massa tubuh 1,8 kg/m2 (wanita) dan 2,5 kg/m2 (pria) dibandingkan dengan lanjut usia yang sama di mana jam tidurnya cukup.13,14
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan indeks massa tubuh dengan kualitas tidur pada lanjut usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara.
1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat disimpulkan satu pertanyaan pada penelitian ini, yakni: “ Apakah Terdapat Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada Tahun 2016? “
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1.Tujuan Umum
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “ Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada Tahun 2016. “
1.3.2.Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan jam mulai tidur tiap malam pada lanjut usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada tahun 2016.
b. Mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan durasi baru bisa tertidur tiap malam pada lanjut usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada tahun 2016.
c. Mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan jam bangun pagi pada lanjut usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada tahun 2016.
d. Mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan durasi tidur tiap malam pada lanjut usia di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada tahun 2016.
1.4. Manfaat Penelitian
a. Bagi Institusi, hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk pihak manajemen institusi agar lebih memperhatikan indeks massa tubuh dan kualitas tidur pada lanjut usia dengan memberikan edukasi kepada lanjut usia baik yang mengalami kualitas tidur yang buruk maupun yang tidak mengalami kualitas tidur yang buruk.
b. Bagi dokter, hasil penelitian ini memberikan penjelasan hubungan indeks massa tubuh dengan kualitas tidur pada lanjut usia. Selain itu, hasil penelitian ini dapat membantu penatalaksanaan kualitas tidur yang buruk serta edukasi pada lanjut usia.
c. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini memberi informasi pada masyarakat bahwa indeks massa tubuh yang baik dapat membantu proses penatalaksanaan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Tidur
2.1.1.Definisi Tidur
Tidur adalah keadaan tanpa sadar akibat terjadi penurunan rangsangan dan reaksi individu, namun bisa disadarkan kembali melalui rangsangan yang cukup.15 Tidur merupakan keadaan yang memiliki banyak ketenangan tanpa beraktivitas.11 Tidur memiliki fungsi fisiologis dan psikologis yang bisa bertindak sebagai proses regenerasi sel tubuh. Ditinjau dari fisiologis, jika jam tidur individu tidak cukup bisa menyebabkan banyak gangguan, yakni lupa, sering bingung, dan disorientasi.
Ditinjau dari psikologis, tidur bisa membuat individu memiliki perasaan bahagia dan penuh energi dalam beraktivitas.16
2.1.2.Jenis-Jenis Tidur
Pada dasarnya tidur dibagi menjadi 2 bagian, yakni tidur dengan gerakan bola mata yang cepat (REM Sleep) dan tidur dengan gerakan bola mata yang lambat (NREM Sleep). REM Sleep merupakan tidur dalam keadaan aktif atau paradoksal.
Sifat REM Sleep sangat nyenyak, akan tetapi pergerakan kedua bola mata sangat aktif. Biasanya REM Sleep bisa membuat individu itu sendiri bermimpi, meregangnya otot-otot tubuh, terjadinya peningkatan tekanan darah dan sekresi asam lambung, ereksi penis, pergerakan otot yang tidak beraturan, serta denyut jantung dan kecepatan pernafasan yang tidak beraturan. Jika mengalami kehilangan REM Sleep bisa menyebabkan individu hiperaktif, emosi, bertambahnya nafsu makan, bingung, dan curiga.15
NREM Sleep adalah keadaan tidur yang nikmat dan nyenyak. Keadaan ini menyebabkan gelombang otak menjadi lebih lambat dibandingkan keadaan sadar.
Ciri-ciri NREM Sleep, seperti sedikit bermimpi, terjadinya penurunan tekanan darah, penurunan kecepatan pernafasan dan metabolisme, serta pergerakan bola mata yang lambat. NREM Sleep terbagi menjadi 4 tahap, yakni :
a. Tahap I
Proses peralihan individu dari keadaan sadar menjadi tidur. Biasanya individu merasa tenang, seluruh otot terasa lemas, kelopak mata mulai menutup, kedua bola mata bergerak dari kiri ke kanan atau sebaliknya, dan berada pada gelombang alpha. Individu dalam keadaan ini biasanya masih mudah untuk dibangunkan.15
b. Tahap II
Proses tidur ringan dimana tubuh melemah secara bertahap. Biasanya pergerakan kedua bola mata berhenti, terjadinya penurunan suhu tubuh, penurunan tonus otot, penurunan denyut jantung, dan penurunan kecepatan pernafasan. Pola EEG yang terlihat berupa gelombang beta dengan frekuensi 14- 18 siklus per detik (spd). Biasanya gelombang beta juga disebut sebagai gelombang tidur. Durasi tahap II terjadi selama 10-15 menit.15
c. Tahap III
Proses keadaan tubuh melemah akibat hilangnya tonus otot secara keseluruhan. Terjadinya penurunan denyut jantung dan kecepatan pernafasan akibat aktivasi yang dominan pada sistem saraf parasimpatis. Pola EEG yang terlihat berupa perubahan gelombang beta siklus per detik (spd). Biasanya individu sulit dibangunkan pada tahap ini.15
d. Tahap IV
Proses individu dalam keadaan relaksasi, jarang terlihat adanya pergerakan sebab keadaan tubuh sudah mengalami penurunan, dan juga sulit untuk dibangunkan. Pola EEG yang terlihat berupa gelombang delta yang melambat dengan frekuensi 1-2 siklus per detik (spd). Sebanyak 20%-30% individu yang ditemukan mengalami penurunan denyut jantung dan kecepatan pernafasan.
Biasanya tahap ini bisa mengembalikan keadaan tubuh seperti semula.15
2.1.3.Kualitas Tidur
1. Perubahan Tidur pada Lanjut Usia
Usia adalah salah satu faktor penentu durasi tidur yang dibutuhkan oleh individu. Adanya peningkatan usia bisa menyebabkan terjadinya penurunan durasi tidur yang dibutuhkan oleh individu. Biasanya durasi tidur lanjut usia selama 6 jam sehari, sebanyak 20%-25% lanjut usia mengalami REM Sleep, dan mengalami penurunan NREM Sleep tahap IV. Gangguan yang sering dialami oleh lanjut usia, yakni insomnia dan sering bangun lebih dini.15 Sebanyak lebih dari 90% lanjut usia yang berusia 65 tahun keatas memiliki kualitas tidur yang buruk.17
Gambar 2.3 Siklus Tidur Lanjut Usia17 2. Kualitas Tidur pada Lanjut Usia
Kualitas tidur merupakan tingkat kenikmatan individu terhadap tidur sehingga individu tersebut tidak merasakan lelah, tidak mudah marah, tidak gelisah, tidak apatis, tidak ditemukan adanya warna kehitaman daerah sekitar mata, tidak ditemukan adanya edem kelopak mata, dan tidak ditemukan adanya konjungtiva yang berwarna merah.18 Selain itu, kualitas tidur merupakan suatu indikator bagi individu dalam memperoleh jumlah NREM Sleep dan REM Sleep.19,20,21
Ketenangan tidur adalah waktu yang dibutuhkan untuk mulai tidur pada malam hari, biasanya individu memasuki tahap tidur dalam waktu kurang dari
NRE M IV NRE
M III NRE
M II NRE
M I Tahap
Tidur
REM
15 menit setelah merelaksasikan tubuh di tempat tidur.22 Sebagian individu melakukan latihan relaksasi agar bisa tidur lebih awal. Beberapa latihan tersebut, yakni bangun tepat waktu setiap hari dan hindari berbagai aktivitas yang tidak ada gunanya menjelang tidur.8
Menggunakan obat tidur bisa mengubah jam tidur individu dan menyebabkan terjadinya penurunan kewaspadaan pada siang hari. Kebanyakan obat tidur memiliki banyak gangguan dibandingkan manfaat. Salah satu golongan obat yang sering diresepkan adalah obat antidepressants, yakni diazepam dan amphetamine.17 Efek obat tidur yang ditimbulkan bila lanjut usia mengkonsumsi obat tersebut berupa perasaan yang sangat lelah pada siang hari, perasaan mengantuk pada siang hari, dan sering tertidur sewaktu beraktivitas pada siang hari.22
Kualitas tidur yang baik bagi individu jika tidak ditemukan keluhan berupa kurang tidur atau gangguan dalam tidur.18 Berdasarkan kuesioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) bahwa kuesioner tersebut memiliki 9 indikator dalam menilai kualitas tidur, yakni jam mulai tidur pada malam hari, durasi baru bisa tertidur pada malam hari, jam bangun pagi, durasi tidur pada malam hari, masalah yang mengganggu tidur pada malam hari, frekuensi penggunaan obat tidur, frekuensi rasa kantuk pada siang hari, antusias ingin menyelesaikan masalah yang mengganggu tidur, dan gambaran kualitas tidur. Skala nilai yang digunakan oleh PSQI berkisar 0-3. Semua nilai dihitung secara keseluruhan dengan skala nilai global berkisar 0-21. Dan, nilai global 5-21 menunjukkan kualitas tidur yang buruk.22
2.2.Gangguan Tidur
Gangguan tidur adalah keadaan individu yang memiliki kualitas tidur yang buruk.18 Terdapat beberapa jenis gangguan tidur, yakni:
a. Insomnia Primer
Merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan dimana terjadi selama minimal 1 bulan dan idiopatik. Biasanya keluhan yang sering tampak,
yakni sulit untuk tidur pada jam tidur (insomnia onset), sulit untuk tidur secara konstan (sering terbangun), dan sering bangun tidur lebih dini.23
b. Hipersomnia Primer
Suatu kelainan tidur dimana individu mengalami tidur yang berlebihan.
Biasanya individu tersebut tidur nyenyak sepanjang malam dan mengalami tidur tiba-tiba pada siang hari berikutnya.23 Penderita hipersomnia primer memiliki durasi tidur selama 10-12 jam pada malam hari dan merasakan adanya kantuk serta tertidur pada siang hari. Biasanya gangguan ini sering dialami oleh dewasa muda dengan jumlah populasi sebanyak 1%-2%. Tidur sering dianggap sebagai tindakan pelarian stres.16
c. Apnea
Suatu kelainan dengan gejala berhentinya pernafasan sewaktu tidur. Gejala yang sering mencolok, yakni “ mendengkur “, pernafasan yang berhenti selama minimal 10 detik, dan adanya rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari.
Sewaktu tidur, pernafasan bisa berhenti maksimal sebanyak 300 kali dan durasi apnea berhenti selama 10-90 detik. Pria dewasa yang memiliki riwayat mendengkur yang keras dan hilang timbul serta obesitas bisa berisiko mengalami apnea sewaktu tidur.19
2.3.Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Tidur
2.3.1.Obat dan Substansi
Adanya rasa kantuk, insomnia, dan rasa lelah merupakan gejala yang sering terjadi akibat efek obat. Obat-obatan yang sering dikonsumsi oleh individu tertentu bisa menyebabkan tertidur atau tidak bisa tertidur, seperti amphetamine, dengan efek menurunkan REM Sleep.15
2.3.2.Gaya Hidup
Rasa lelah bisa berpengaruh terhadap pola tidur individu. Rasa lelah tingkat sedang bisa menyebabkan individu tidur dengan nyenyak. Sedangkan rasa lelah tingkat berlebihan bisa menyebabkan durasi REM Sleep menurun.15
2.3.3.Pola Tidur yang Lazim
Rasa kantuk yang bersifat patologis bisa terjadi pada individu yang ingin terjaga. Biasanya individu yang mengalami kurang tidur sementara akibat aktivitas malam yang berlebihan bisa menimbulkan rasa kantuk keesokan harinya. Namun, bila mengalami kurang tidur yang kronis bisa menyebabkan terjadinya perubahan fungsi tubuh.17
2.3.4.Stres Emosional
Stres emosional bisa menimbulkan rasa frustrasi pada individu bila tidak bisa tidur. Selain itu, bisa menimbulkan usaha yang berlebihan agar bisa tidur, sering mengalami bangun tiba-tiba sewaktu siklus tidur berlangsung atau durasi tidur yang berlebihan. Gangguan ini sering dialami oleh klien dengan usia tua akibat gejala seperti depresi, gangguan fisik, atau kematian seseorang yang dicintai.17 Gejala-gejala tersebut bisa meningkatkan pelepasan norepinefrine dalam darah.
Akibatnya, bisa menurunkan NREM Sleep tahap IV dan REM Sleep.15
2.3.5.Lingkungan
Lingkungan bisa merangsang atau menginhibisi individu untuk tidur.
Lingkungan yang nyaman bisa merangsang individu untuk tidur dengan nyenak, sebaliknya lingkungan yang berisik bisa menginhibisi individu untuk tidur.15
Selain itu, ventilasi yang bagus bisa merangsang individu untuk tidur dengan nyenyak. Tingkat cahaya bisa mempengaruhi individu untuk tidur.
Sebagian klien lebih menyukai ruangan kamar yang gelap, sedangkan anak-anak atau lanjut usia, lebih menyukai ruangan kamar dengan cahaya yang lembut.17
2.3.6.Penyakit
Individu yang menderita suatu penyakit seharusnya membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dari biasanya. Akan tetapi, dengan adanya rasa sakit justru menyebabkan individu mengalami kurang tidur atau tidak dapat tidur sama sekali.
Misalnya individu yang menderita gangguan pernafasan, seperti asma, bronkitis, dan penyakit kardiovaskuler.11
2.3.7.Diet
Biasanya makanan atau minuman yang mengandung L-Trifton, yakni keju, susu, daging, dan ikan tuna bisa merangsang individu untuk tidur. Sebaliknya, minuman yang mengandung kafein atau alkohol bisa menginhibisi individu untuk tidur.15
2.4.Indeks Massa Tubuh (IMT)
2.4.1.Definisi dan Pengukuran Indeks Massa Tubuh
Indeks massa tubuh merupakan nilai indikator yang dihitung melalui berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m) untuk mengetahui individu apakah termasuk golongan berat badan dibawah normal, berat badan normal, berat badan diatas normal (risiko obesitas), atau obesitas.24 Melakukan pengukuran indeks massa tubuh merupakan metode yang paling sering dan paling mudah untuk dilakukan. Biasanya metode ini dilakukan untuk mengetahui individu apakah mengalami obesitas atau non obesitas yang tidak menimbulkan rasa sakit, tidak mempunyai efek samping, dan bisa dilakukan dalam jangka-panjang untuk memantau diet individu. Selain itu, cara mengetahui individu tersebut apakah obesitas atau non obesitas bisa dilakukan melalui metode lain, yakni antropometri (skin-fold thickness), densitometri (underwater weighing), computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), dan electrical impedance.25
Penyebaran letak penyimpanan jaringan lemak (adiposa) bisa menyebabkan terjadinya kecacatan (morbiditas). Jaringan lemak (adiposa) subkutan yang terletak di bagian intraabdominal lebih spesifik dibandingkan yang terletak di bagian bokong dan ekstremitas bawah.25
Metode densitometri (underwater weighing) dilakukan melalui pengukuran berat badan dibawah air (r=79%) sambil melakukan pemeriksaan umur dan jenis kelamin.26
Metode computer tomography (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI) merupakan metode yang lebih akurat.27
2.4.2.Klasifikasi Indeks Massa Tubuh
Berdasarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa tiap provinsi di Indonesia memiliki 4 jenis golongan indeks massa tubuh.28
Tabel 2.4 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh28
Klasifikasi IMT (kg/m2)
BB dibawah normal < 18,5
BB normal 18,5-24,9
BB diatas normal 25-26,9
Obes ≥ 27
2.4.3.Pengukuran Indeks Massa Tubuh
Hasil berat badan yang diukur melalui timbangan dan hasil tinggi badan yang diukur melalui alat pengukur tinggi badan dimasukkan ke dalam rumus dibawah ini:
[𝐼𝑀𝑇 = Berat Badan (kg) [Tinggi Badan (m)]2]
2.5.Fisiologi Pengaturan Asupan Makanan
Rangsangan rasa lapar terjadi akibat timbulnya hasrat untuk makan dan pengaruh fisiologis lainnya, yakni gerakan peristaltik lambung dan cemas.
Akibatnya, individu terus mencari suplai makanan yang cukup. Apabila proses pencarian suplai makanan berhasil, maka rasa kenyang akan timbul. Setiap
rangsangan pada suatu individu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan budaya yang berbeda-beda serta pengaturan fisiologis yang bisa mempengaruhi pusat-pusat yang spesifik di otak terutama hipotalamus. Sebagian saraf pusat yang terletak di hipotalamus berperan dalam pengaturan asupan makanan. Nukleus lateral hipotalamus berperan sebagai pusat makan dan rangsangan yang terjadi pada pusat tersebut bisa menyebabkan individu makan dengan rakus (hiperfagia). Sebaliknya, apabila terjadi kerusakan pada lokasi tersebut bisa menghilangkan hasrat untuk makan dan bisa menyebabkan terjadinya inanisi, yakni mengalami penurunan berat badan secara progresif, kelemahan otot, dan penurunan metabolisme. Nukleus ventromedial hipotalamus berperan sebagai pusat kenyang. Apabila pusat tersebut dirangsang bisa menimbulkan rasa puas atau rasa kenyang terhadap makanan.
Selain itu, pusat kenyang juga menginhibisi pusat makan. Oleh karena itu, individu menolak untuk makan meskipun makanan tersebut sangat lezat (afagia).
Sebaliknya, apabila terjadi kerusakan pada pusat kenyang bisa menyebabkan individu tersebut makan dengan rakus secara terus menerus sampai individu tersebut memiliki berat bedan diatas normal. Kadang-kadang, berat badan suatu individu bisa mencapai empat kali normal. Nukleus paraventrikular, nukleus dorsomedial, dan nukleus arkuata yang terdapat di hipotalamus juga berperan sebagai pengatur asupan makanan. Apabila terjadi kerusakan pada nukleus paraventrikular bisa menimbulkan rangsangan makan yang berlebihan, sedangkan pada nukleus dorsomedial bisa menginhibisi rangsangan untuk makan. Selain itu, nukleus arkuata merupakan letak kumpulan berbagai hormon yang dilepaskan oleh saluran pencernaan dan jaringan lemak (adiposa) yang berperan sebagai pengatur asupan pemasukan dan pengeluaran energi. Ada banyak reaksi kimiawi yang terjadi antar neuron pada hipotalamus dan pusat-pusat lainnya sambil mengatur rangsangan untuk makan dan kenyang. Nukleus-nukleus yang terdapat di hipotalamus bisa mempengaruhi sekresi hormon yang berperan sebagai pengatur keseimbangan energi dan metabolisme, yakni sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dan kelenjar adrenal serta sel-sel yang terdapat pada pulau pankreas.
Hipotalamus menerima banyak sinyal dari saluran pencernaan yang berisi informasi tentang isi lambung, yakni sinyal kimia yang berasal dari zat nutrisi yang terdapat
dalam darah (glukosa, asam amino, dan asam lemak) sebagai sinyal kenyang. Lalu, sinyal yang berasal dari hormon saluran pencernaan, sinyal yang berasal dari hormon jaringan lemak (adiposa), dan sinyal yang berasal dari korteks otak (penglihatan, penciuman, dan pengecapan) bisa mempengaruhi perilaku makan.12
Tabel 2.6 Zat yang telah terbukti melalui penelitian bisa mengubah hasrat untuk makan dan rasa lapar bagi suatu individu12
Zat Anoreksinogenik Zat Oreksigenik α-Melanocyte-stimulating hormon
(α-MSH)
Neuropeptida Y (NPY)
Leptin Agouti related protein (AGRP) Serotonin Hormon pemekat-melanin (MCH)
Norepinefrine Oreksin A dan B
Hormon pelepas-kortikotropin Endorfin
Insulin Galanin (GAL)
Kolesistokinin (CCK) Asam amino (asam glutamat dan ɣ- aminobutirat)
Peptida mirip-glukagon (GLP) Kortisol Cocaine-and amphetamine-regulated
transcript (CART)
Ghrelin
Peptida YY (PYY)
Terdapat dua jenis neuron yang terletak di nukleus arkuata yang berperan penting sebagai pengatur hasrat untuk makan dan pengeluaran energi, yakni (1) neuron proopiomelanocortin (POMC) yang melepaskan α-Melanocyte-stimulating hormon (α-MSH) dan Cocaine-and amphetamine-regulated transcript (CART) serta (2) neuron yang melepaskan Neuropeptida Y (NPY) dan Agouti related protein (AGRP). Adanya rangsangan neuron POMC bisa menurunkan asupan makanan dan meningkatkan pengeluaran energi, sedangkan adanya rangsangan neuron NPY-AGRP bisa meningkatkan asupan makanan dan menurunkan pengeluaran energi. Neuron-neuron tersebut nantinya akan menjadi sasaran utama
bagi hormon yang merangsang hasrat untuk makan, seperti leptin, insulin, kolesistokinin (CKK), dan ghrelin. Selain itu, neuron-neuron yang terletak di nukleus arkuata merupakan letak kumpulan sinyal yang berasal dari perifer dan saraf yang berperan sebagai pengatur penyimpanan energi. Neuron POMC yang melepaskan α-MSH bekerja di reseptor melanocortin yang terletak di nukleus paraventrikuler. Walaupun paling sedikit terdapat lima subtipe reseptor melanocortin (MCR), MCR-3 dan MCR-4 merupakan reseptor utama yang mengatur asupan makanan dan keseimbangan energi. Adanya aktivasi dari reseptor-reseptor tersebut bisa menurunkan asupan makanan dan meningkatkan pengeluaran energi. Sebaliknya, adanya inhibisi terhadap reseptor-reseptor tersebut bisa meningkatkan asupan makanan dan menurunkan pengeluaran energi. Aktivasi MCR yang bisa meningkatkan pengeluaran energi dianggap diperantarai oleh aktivasi jaras saraf dari nukleus paraventrikel hingga nukleus traktus solitarius dan bisa merangsang sistem saraf simpatis. Reseptor melanocortin yang terdapat di hipotalamus berperan penting sebagai pengatur penyimpan energi tubuh dan biasanya pada penderita obesitas kronis bisa menyebabkan terjadinya penurunan konduksi sinyal di jaras melanocortin. Selain itu, adanya mutasi MCR-4 merupakan penyebab utama terbentuknya monogenik (gen tunggal) yang paling sering dijumpai pada penderita obesitas, bahkan berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukan bahwa sebanyak 5%-6% mutasi MCR-4 merupakan penyebab utama obesitas kronis dengan onset sejak anak-anak. Sebaliknya, jika aktivasi reseptor melanocortin berlebihan bisa menurunkan hasrat untuk makan. Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa apabila aktivasi reseptor tersebut berlebihan bisa menyebabkan terjadinya anoreksia yang berhubungan erat dengan infeksi kronis dan tumor ganas. Agouti related protein yang dihasilkan oleh neuron oreksigenik yang terletak di hipotalamus adalah zat antagonis alamiah bagi MCR-3 dan MCR- 4 dan bisa meningkatkan perilaku makan dengan inhibisi α-MSH. Walaupun AGRP berperan sebagai pengatur fisiologis asupan makanan belum diketahui secara pasti, akan tetapi jika terjadi pembentukan AGRP secara berlebihan akibat mutasi gen bisa menyebabkan perilaku makan yang berlebihan hingga obesitas. Neuropeptida Y juga dihasilkan oleh neuron oreksigenik yang terletak di nukleus arkuatus. Jika
terjadi penurunan energi simpanan, maka neuron oreksigenik teraktivasi untuk menghasilkan NPY, nantinya akan merangsang hasrat untuk makan. Secara bersamaan, terjadi penurunan rangsangan neuron POMC sehingga bisa menurunkan aktivitas jaras melanocortin dan merangsang hasrat untuk makan lebih lanjut. Bentuk lain dari perilaku makan berupa proses mekanis dari makan itu sendiri. Jika otak dipotong yang berada diantara hipotalamus dan mesensefalon, biasanya individu tersebut masih bisa melakukan proses mekanis dari makan itu sendiri. Individu juga masih bisa mengeluarkan saliva, menjilat bibir, mengunyah makanan, dan menelan. Jadi, proses mekanis dari makan itu sendiri diatur oleh saraf pusat yang terletak di batang otak. Ada juga pusat saraf yang lebih tinggi dari hipotalamus yang berperan penting sebagai pengatur perilaku makan, yakni amygdala dan cortex prefrontal, dekat hipotalamus. Amygdala bisa berperan sebagai perangsang perilaku makan dan bisa berperan sebagai penghambat perilaku makan. Selain itu, apabila terdapat rangsangan di beberapa daerah amygdala bisa mengaktivasi proses mekanis amygdala. Jika terjadi kerusakan amygdala di kedua sisi otak bisa menyebabkan terjadinya kebutaan psikis dalam memilih makanan.
Dan juga, hilangnya sebagian kemampuan dalam mengatur hasrat untuk makan dalam menentukan jenis dan kualitas makanan yang dikonsumsi.12
2.6.Obesitas
2.6.1.Definisi Obesitas
Obesitas merupakan suatu keadaan yang memiliki jaringan lemak (adiposa) secara berlebihan.25
2.6.2.Etiologi Obesitas
1. Masukan Energi yang Melebihi Pengeluaran Energi
Jika makanan dengan jumlah energi yang berlebihan masuk ke tubuh dibandingkan jumlah energi yang dikeluarkan, maka berat badan bisa meningkat dan energi-energi yang tidak dikeluarkan akan disimpan didalam jaringan lemak (adiposa). Jadi, pemasukan energi yang berlebihan bisa menyebabkan terjadinya obesitas. Pemasukan energi sebesar 9,3 kalori bisa menyimpan lemak sebesar 1
gr. Lemak kebanyakan disimpan didalam jaringan subkutan lemak (adiposa) dan rongga intraperitoneal walaupun hepar dan jaringan tubuh lainnya juga banyak menyimpan lemak pada penderita obese. Jika terjadi peningkatan jumlah sel lemak pada masa balita dan kanak-kanak, maka bisa menimbulkan obesitas hiperplastik. Obesitas hiperplastik ditandai dengan peningkatan jumlah sel lemak dan hanya sedikit ukuran sel lemak yang mengalami peningkatan.
Sebaliknya, jika terjadi peningkatan jumlah sel lemak pada saat dewasa, maka bisa menimbulkan obesitas hipertrofik. Obesitas hipertrofik ditandai dengan peningkatan jumlah sel lemak dan peningkatan ukuran sel lemak tersebut.
Penderita obesitas yang kronis bisa memiliki sel lemak sebanyak empat kali normal dan tiap sel lemak memiliki kadar lemak sebanyak dua kali normal. Agar suatu individu bisa menurunkan berat badannya, maka pemasukan energi harus diturunkan dan pengeluaran energi harus ditingkatkan.12
2. Gaya Hidup Tidak Aktif
Aktivitas fisik yang teratur bisa meningkatkan massa otot tubuh dan menurunkan massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak teratur bisa menurunkan massa otot tubuh dan meningkatkan massa lemak tubuh.
Berdasarkan penelitian bahwa terdapat hubungan yang erat antara obesitas dan perilaku yang tidak aktif, seperti menonton TV dengan durasi yang begitu lama.
Sebanyak 25%-30% energi yang dikeluarkan setiap hari oleh kebanyakan orang untuk aktivitas otot dan sebanyak 60%-70% energi yang dikeluarkan setiap hari oleh pekerja kasar untuk tujuan tersebut. Jika penderita obesitas melakukan aktivitas yang berat selama beberapa jam, maka bisa meningkatkan pengeluaran energi basal setelah aktivitas tersebut dihentikan. Jadi, aktivitas fisik merupakan cara yang efektif untuk mengeluarkan energi dari tubuh. Dengan meningkatnya pengeluaran energi tubuh, maka akan banyak simpanan lemak yang bisa dikurangi.12
3. Faktor Lingkungan dan Faktor Psikologis
Dampak faktor lingkungan bisa sangat nyata, seperti meningkatnya jumlah penderita obesitas di negara-negara maju, berlimpahnya makanan dan minuman yang berkalori tinggi, dan gaya hidup yang tidak teratur. Dampak faktor psikologis juga sangat nyata, seperti terjadi peningkatan berat badan suatu individu selama atau setelah individu tersebut stres. Akibatnya, perilaku makan yang berlebihan merupakan sarana pelarian stres tersebut.12
4. Nutrisi yang Berlebih pada Masa Kanak-Kanak
Diyakini bahwa perilaku makan yang baik sebanyak tiga kali sehari dan bisa mengenyangkan. Kebanyakan anak memiliki kebiasaan ini sejak kecil hingga sisa usia akibat sikap otoriter orang tua mereka. Namun, kebiasaan ini merupakan faktor penyebab terjadinya obesitas. Pada tahun pertama kehidupan, terjadi peningkatan pembentukan sel-sel lemak secara terus-menerus. Anak yang mengalami obese bisa memiliki jumlah sel lemak sebanyak tiga kali normal.
Jadi, diyakini bahwa nutrisi yang berlebih pada masa kanak-kanak bisa menyebabkan terjadinya obesitas pada masa yang akan datang.12
2.7.Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur
Menurut Cauter29, penurunan durasi tidur disebabkan oleh kadar hormon leptin berada di tingkat paling rendah sehingga terjadi konduksi pesan ke pusat kenyang. Akibatnya, tubuh membutuhkan asupan makanan tambahan walaupun tidak dibutuhkan sebenarnya. Pada individu normal, hasrat untuk makan ditimbulkan oleh peningkatan hormon ghrelin, sedangkan peningkatan kadar hormon leptin memberikan pesan pada hipotalamus bahwa energi yang tersimpan sudah cukup. Namun, pada penderita obesitas meskipun terjadi peningkatan kadar hormon leptin tetap saja tidak menurunkan hasrat untuk makan. Hal ini terjadi karena peningkatan kadar hormon leptin seimbang dengan peningkatan jaringan lemak (adiposa), akibatnya terjadi resistensi leptin.12 Menurut Thompson dkk30, terjadinya penurunan durasi tidur selama 6 hari bisa menyebabkan terjadinya peningkatan keseimbangan cardiac sympathovagal. Jika peningkatan ini terjadi,
maka bisa menurunkan aktivitas nervus vagus. Kadar hormon ghrelin dan aktivitas nervus vagus berbanding terbalik, artinya penurunan aktivitas nervus vagus bisa menyebabkan terjadinya peningkatan kadar hormon ghrelin. Selain itu, hormon leptin juga berhubungan erat dengan aktivitas nervus simpatis dimana peningkatan aktivitas nervus simpatis bisa menyebabkan terjadinya penurunan kadar hormon leptin. Jadi, penurunan durasi tidur bisa menyebabkan terjadinya peningkatan cardiac sympathovagal sehingga mengakibatkan penurunan kadar hormon leptin.31
Kadar hormon kortisol dan GH (growth hormone-hormon pertumbuhan) juga dipengaruhi oleh ritme sirkadian. Ritme sirkadian yang mengalami perubahan dihantarkan ke hipotalamus. Setelah itu, mengirim pesan tersebut ke kelenjar hipofisis. Kadar hormon pertumbuhan yang rendah pada malam hari bisa menjaga kadar glukosa dengan menginhibisi penggunaan glukosa dari jaringan otot. Apabila terjadi penurunan durasi tidur, maka kadar hormon pertumbuhan mengalami peningkatan pada malam hari. Individu normal memiliki kadar hormon kortisol yang rendah pada sore hari. Akibatnya, terjadi penurunan sensitivitas hormon insulin pada awal tidur, lalu meningkat pada pertengahan tidur, dan pada akhirnya keseimbangan hormon glukosa tetap terjaga.29 Penurunan durasi tidur bisa menyebabkan kadar hormon kortisol berada di tingkat paling tinggi pada sore hari.
Akibatnya, tidak ada aktivitas ritme sirkadian terhadap sensitivitas hormon insulin.
Jadi, peningkatan kadar hormon kortisol dan kadar hormon pertumbuhan bisa mengakibatkan gangguan pada metabolisme glukosa.29 Berdasarkan penelitian Gangwisch dkk32, terjadinya penurunan durasi tidur bisa menyebabkan terjadinya peningkatan risiko hipertensi. Hal ini terjadi akibat peningkatan aktivitas nukleus suprakiasma. Aktivitas nukleus suprakiasma bekerja sesuai rangsangan fisiologis tubuh. Peralihan durasi tidur bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada aktivitas nukleus suprakiasma yang berperan sebagai pencetus tidur. Nukleus suprakiasma memiliki hubungan yang erat dengan organ metabolik, yakni pankreas, hati, dan jaringan lemak (adiposa) melalui nervus otonom. Jika nukleus suprakiasma mengalami gangguan, maka bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada pelepasan hormon kortisol dan glukosa serta tekanan darah. Jadi, yang dikatakan
durasi tidur yang mengalami penurunan jika durasi tidur suatu individu dibawah 7 jam.33
BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS
3.1.Kerangka Teori
Gambar 3.1 Kerangka Teori Penelitian
Kualitas Tidur Indeks Massa
Tubuh
Konsep Lanjut Usia
1.Pengukuran IMT
2.Klasifikasi IMT
1.Kuesioner PSQI
2.Interpretasi kualitas tidur Lanjut
Usia Indeks massa tubuh
dihitung melalui BB (kg) dibagi TB (m) untuk menentukan klasifikasi BB yakni underweight,
normoweight,
overweight, dan obese.
Penurunan durasi tidur disebabkan oleh kadar hormon leptin berada di tingkat paling rendah
3.2.Kerangka Konsep Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan kualitas tidur pada lanjut usia.
Variabel independen Variabel dependen
Gambar 3.2 Kerangka Konsep Penelitian
3.3.Hipotesa
Hipotesa dari penelitian ini yakni “ Ada Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia “.
Indeks Massa Tubuh
Kualitas Tidur
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1.Jenis Penelitian
Rancangan penelitian yang akan digunakan adalah metode survei-analitik, dengan pendekatan cross-sectional di mana data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat, akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Pengamatan yang dilaksanakan hanya satu kali dan diharapkan bisa menunjukkan adanya hubungan indeks massa tubuh dengan kualitas tidur pada lanjut usia.34
4.2.Waktu dan Tempat Penelitian
4.2.1.Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret-Desember 2016.
4.2.2.Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara.
Alasan lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian karena terdapat banyak lanjut usia yang sudah mengalami penurunan fungsi tubuh, khususnya memiliki kualitas tidur yang buruk.
4.3.Populasi dan Sampel
4.3.1.Populasi
Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah lanjut usia Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada tahun 2016.
4.3.2.Sampel
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling.
Hakikat metode total sampling yakni mengambil sampel secara keseluruhan di dalam suatu populasi.
4.4.Kriteria Sampel
1.Kriteria inklusi:
a. Lanjut usia berusia ≥ 60 tahun (UU No. 13 Tahun 1998) b. Lanjut usia yang bisa berkomunikasi dengan baik c. Bersedia menjadi responden
2.Kriteria eksklusi:
a. Mengkonsumsi obat-obatan (steroid, antidepressants, dan lain-lain)
b. Menderita penyakit kronis (asma, penyakit jantung bawaan, hipotiroid, hipertiroid, dan lain-lain)
c. Lanjut usia yang telah butuh istirahat penuh (bed rest) d. Tidak bersedia menjadi responden
4.5.Variabel dan Definisi Operasional
4.5.1.Variabel
- Variabel independen (bebas) = indeks massa tubuh - Variabel dependen (tergantung) = kualitas tidur
4.5.2.Definisi Operasional
Tabel 4.5 Definisi Operasional Variabel Definisi
Operasional
Alat dan Hasil Ukur
Skala
Variabel Independen Indeks Massa
Tubuh
Nilai indikator yang dihitung melalui berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m) untuk mengetahui individu apakah termasuk
Alat: Timbangan dan Meteran
Hasil Ukur: Hasil perhitungan yang diperoleh
diinterpretasikan ke
Ordinal
golongan berat badan dibawah normal, berat badan normal, berat badan diatas normal (risiko obesitas), atau obesitas. Melakukan pengukuran indeks massa tubuh merupakan metode yang paling sering dan paling mudah untuk dilakukan.
Biasanya metode ini dilakukan untuk mengetahui individu apakah mengalami obesitas atau non obesitas yang tidak menimbulkan rasa sakit, tidak
mempunyai efek samping, dan bisa dilakukan dalam jangka-panjang untuk memantau diet individu
dalam klasifikasi indeks massa tubuh yang telah
disesuaikan dengan ketentuan yang digunakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Dikatakan BB di bawah normal bila IMT < 18,5 kg/m2, BB normal bila IMT berkisar (18,5-24,9) kg/m2, BB di atas normal bila IMT berkisar (25-26,9) kg/m2, dan Obes bila IMT ≥ 27,0 kg/m2
Variabel Dependen Kualitas Tidur Tingkat kenikmatan
individu terhadap
Alat: Kuesioner Pittsburgh Sleep
Nominal
tidur sehingga individu tersebut tidak merasakan lelah, tidak mudah marah, tidak gelisah, tidak apatis, tidak ditemukan adanya warna kehitaman daerah sekitar mata, tidak ditemukan adanya edem kelopak mata, dan tidak ditemukan adanya konjungtiva yang berwarna merah. Selain itu, merupakan suatu indikator bagi individu dalam memperoleh jumlah NREM Sleep dan REM Sleep
Quality Index (PSQI)
Hasil Ukur: Terdiri dari 18 pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban. Setiap pilihan jawaban memiliki nilai berkisar 0-3. Bila nilai keseluruhan 5- 21 dianggap mengalami gangguan tidur
4.6.Uji Validitas dan Reliabilitas
4.6.1.Uji Validitas
Validitas merupakan suatu cara untuk mengukur tingkat keakuratan suatu alat instrument.35 Kuesioner Pittsburg Sleep Quality Scale (PSQI) akan diuji menggunakan rumus koefisien Pearson Product Moment dengan tingkat kesalahan 5% (α=0,005).36 Setelah dilakukan uji validitas dengan 20 responden di Kardirojo Palbapang Bantul, Yogyakarta, kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dinyatakan valid dengan tingkat korelasi r = 0,484-0,778. Karena r > 0,444 maka
kuesioner tersebut dinyatakan valid sehingga peneliti tidak perlu melakukan uji validitas lagi.
4.6.2.Uji Reliabilitas
Reliabilitas merupakan suatu indeks untuk menilai seberapa akurat suatu alat instrumen dapat dipercaya. Tujuannya untuk menunjukkan seberapa akurat hasil penilaian tersebut tetap konsisten apabila dilakukan penilaian sebanyak ≥ 2 kali terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat instrumen yang sama.34 Kuesioner Pittsburg Sleep Quality Scale (PSQI) akan diuji dengan menggunakan rumus koefisien alpha cronbach.36 Setelah dilakukan uji reliabilitas di Kadirojo Palbapang Bantul, Yogyakarta terhadap 20 responden diperoleh nilai alpha cronbach = 0,841. Karena nilai alpha cronbach > 0,6 maka kuesioner ini dinyatakan reliabel, sehingga peneliti tidak perlu melakukan uji reliabilitas lagi.
4.7.Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data penelitian yang didapatkan secara langsung dari subjek penelitian.
Awalnya, sampel diwawancara untuk memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, lalu meminta persetujuan sampel dengan mengisi formulir informed consent. Setelah sampel setuju, lalu sampel diwawancara melalui kuesioner PSQI. Setelah wawancara selesai, diperiksa kembali kelengkapan dan ketepatan dalam penulisan data. Setiap jawaban memiliki nilainya masing-masing, dijumlahkan, dan dikelompokkan berdasarkan standar nilai kualitas tidur yang telah ditetapkan. Lalu meminta persetujuan sampel untuk dilakukan pengukuran berat badan dengan melepas sepatu, jaket, tas, atau barang-barang lain yang bisa menurunkan keakuratan berat badan, lalu meminta sampel untuk naik ke atas timbangan. Setelah berat badan diukur dan dicatat, meminta persetujuan sampel untuk dilakukan pengukuran tinggi badan dengan berdiri tegak dan pandangan lurus ke depan, lalu diukur dari kepala hingga kaki dan dicatat. Hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus indeks massa tubuh dan hasilnya disesuaikan berdasarkan klasifikasi indeks massa tubuh yang telah ditetapkan.
4.8.Pengolahan Data
Setelah memperoleh seluruh data responden melalui kuesioner PSQI, maka data tersebut diproses melalui beberapa tahap. Tahap pertama editing, yakni pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut. Tahap kedua coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Tahap ketiga processing, yakni memasukkan jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk kode ke dalam perangkat lunak SPSS Statistics 23.0. Tahap keempat cleaning, yakni pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya setelah data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi apabila terjadi keselahan.34
4.9.Analisis Data
Setelah tahapan-tahapan pengolahan data selesai dilakukan, maka dilakukan analisis data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni analisis bevariate. Analisis bevariate dipilih sebab diduga terdapat dua variabel yang saling berhubungan atau berkorelasi. Prinsip analisis bevariate ini dilakukan beberapa tahap. Tahap pertama yakni analisis proporsi atau persentase, dengan membandingkan distribusi silang antara dua variabel yang bersangkutan. Tahap kedua yakni analisis dari hasil uji statistik (chai square test). Melihat dari hasil uji statistik ini akan dapat disimpulkan adanya hubungan 2 variabel tersebut bermakna atau tidak bermakna. Tahap ketiga yakni analisis keeratan hubungan antara dua variabel tersebut, dengan melihat nilai Odd Ratio (OR). Besar kecilnya nilai OR menunjukkan besarnya keeratan hubungan antara dua variabel yang diuji.34
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Panti Jompo Hisosu, Binjai, Sumatera Utara pada tanggal 01 September 2016.
5.2. Deskripsi Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah individu lanjut usia dengan lanjut usia berusia ≥ 60 tahun ( UU No. 13 Tahun 1998 ). Subjek penelitian telah mengerti dan bersedia untuk berpatisipasi dalam penelitian ini. Subjek penelitian diperoleh selama periode September 2016 sebanyak 30 orang.
Jumlah subjek penelitian yang terdapat di Panti Jompo Hisosu diambil dengan metode total sampling. Jumlah sampel dengan jenis kelamin pria sebanyak 9 orang dan wanita sebanyak 21 orang. Semua data yang diperoleh adalah data primer.
Pada data tabel 5.2.1 dibawah terlihat bahwa usia 60-64 dan 65-69 merupakan kelompok usia terbanyak dengan jumlah masing-masing sebanyak 7 orang ( 23.3 % ). Selanjutnya terlihat bahwa wanita lanjut usia merupakan kelompok jenis kelamin terbanyak dengan jumlah sebanyak 21 orang ( 70 % ). Lalu status normoweight merupakan kelompok status IMT terbanyak dengan jumlah sebanyak 21 orang ( 70.0 % ).
Pada data tabel 5.2.2 dibawah terlihat bahwa status PSQI buruk merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 27 orang ( 90.0 % ).
Tabel 5.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian Umur (Tahun)
60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89
>89 Jenis Kelamin
Pria Wanita Status IMT Underweight Normoweight
Overweight Obese
Frekuensi 7 7 6 4 3 2 1
9 21
5 21
3 1
Persentase ( % ) 23.3 23.3 20.0 13.3 9.9 6.6 3.3
30 70
16.7 70.0 10.0 3.3
Tabel 5.2.2. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Status PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index)
Status PSQI Frekuensi Persentase ( % )
Baik 3 10.0
Buruk 27 90.0
Total 30 100
Pada data tabel 5.3 dibawah terlihat bahwa status PSQI buruk dengan status IMT normoweight merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 18 orang. Pada tabel 5.3 dari hasil analisis menggunakan uji Chi Square didapati hasil p value sebesar 0.699. Artinya, menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara indeks massa tubuh dengan kualitas tidur pada lanjut usia dimana p value >0.05.
5.3. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia
Tabel 5.3 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kualitas Tidur pada Lanjut Usia Status
PSQI
Status IMT ( kg/m2 ) P value
Underweight Normoweight Overweight Obese 0.699
Baik 0 3 0 0
Buruk 5 18 3 1
Total 5 21 3 1
5.4. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Jam Mulai Tidur Tiap Malam pada Lanjut Usia
Tabel 5.4 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Jam Mulai Tidur Tiap Malam pada Lanjut Usia
Jam Mulai Tidur (WIB)
Status IMT ( kg/m2 ) P value
Underweight Normoweight Overweight Obese 18.00-
20.00
2 7 2 0 0.896
>20.00- 22.00
3 13 1 1
>22.00- 00.00
0 0 0 0
>00.00 0 1 0 0
Total 5 21 3 1
Pada data tabel 5.4 diatas terlihat bahwa jam mulai tidur tiap malam pukul
>20.00-22.00 WIB dengan status IMT normoweight merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 13 orang. Pada tabel 5.4 dari hasil analisis menggunakan uji Chi Square didapati hasil p value sebesar 0.896. Artinya, menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara indeks massa tubuh dengan kualitas tidur pada lanjut usia dimana p value >0.05.
5.5. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Sleep Onset Tiap Malam pada Lanjut Usia
Tabel 5.5 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Sleep Onset Tiap Malam pada Lanjut Usia
Sleep Onset (Menit)
Status IMT ( kg/m2 ) P
value
Underweight Normoweight Overweight Obese
0-60 0 10 1 1 0.79
>60-120 2 4 1 0
>120-180 2 3 0 0
>180-240 1 3 1 0
>240 0 1 0 0
Total 5 21 3 1
Pada data tabel 5.5 diatas terlihat bahwa Sleep Onset tiap malam 0-60 menit dengan status IMT normoweight merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 10 orang. Pada tabel 5.5 dari hasil analisis menggunakan uji Chi Square didapati hasil p value sebesar 0.79. Artinya, menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara indeks massa tubuh dengan Sleep Onset tiap malam pada lanjut usia dimana p value >0.05.
5.6. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Jam Bangun Pagi pada Lanjut Usia
Tabel 5.6 Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Jam Bangun Pagi pada Lanjut Usia
Jam Bangun (WIB)
Status IMT ( kg/m2 ) P value
Underweight Normoweight Overweight Obese 03.00-
04.00
1 7 1 0 0.851
>04.00 4 14 2 1
Total 5 21 3 1
Pada data tabel 5.6 diatas terlihat bahwa jam bangun pagi pukul >04.00 WIB dengan status IMT normoweight merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 14 orang. Pada tabel 5.6 dari hasil analisis menggunakan uji Chi Square didapati hasil p value sebesar 0.851. Artinya, menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara indeks massa tubuh dengan jam bangun pagi pada lanjut usia dimana p value >0.05.
Pada data tabel 5.7 dibawah terlihat bahwa durasi tidur tiap malam selama
>5-7 jam dengan status IMT normoweight merupakan kelompok terbanyak dengan jumlah sebanyak 12 orang. Pada tabel 5.7 dari hasil analisis menggunakan uji Chi Square didapati hasil p value sebesar 0.974. Artinya, menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara indeks massa tubuh dengan durasi tidur tiap malam pada lanjut usia dimana p value >0.05.