• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. KAJIAN PUSTAKA 1. Pemecahan Masalah Matematika Pemecahan masalah juga dikenal dengan istilah Problem Solving. Pemecahan masalah itu sendiri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "B. KAJIAN PUSTAKA 1. Pemecahan Masalah Matematika Pemecahan masalah juga dikenal dengan istilah Problem Solving. Pemecahan masalah itu sendiri"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

5

Pemecahan masalah juga dikenal dengan istilah Problem Solving. Pemecahan masalah itu sendiri merupakan proses berpikir untuk menentukan apa yang harus dilakukan ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Pemecahan masalah juga dapat dikatakan sebagai salah satu kemampuan yang harus dikuasai peserta didik setelah belajar matematika dan merupakan suatu proses untuk menerima tantangan dalam menjawab masalah. Proses pemecahan masalah memiliki empat langkah penting yang harus dilakukan, yaitu: 1) memahami masalahnya; 2) merencanakan cara penyelesaiannya; 3) melaksanakan rencana, dan 4) menafsirkan atau mengecek hasilnya (Polya, 1957).

Kegiatan matematika dari pemecahan masalah yang sukses terdiri dari strategi pemecahan masalah, pengambilan langkah mengerjakan soal, keyakinan tentang sifat matematika dan melaksanakan langkah mengerjakan soal yang telah diberikan. Namun, pada pelaksanaannya masih menunjukan adanya kesalahan yang dilakukan peserta didik dalam mengerjakan soal-soal matematika yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah matematika, seperti kurang teliti, salah dalam mentransformasikan informasi, keterampilan proses penyelesaian, serta kesalahan dalam memahami soal (Sumartini, 2016). Hal itulah yang menyebabkan kemampuan pemecahan masalah matematika pada peserta didik rendah dan kemampuan peserta didik sendiri sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar.

Masalah matematika dapat dikatakan suatu tantangan yang terdapat pada soal untuk diselesaikan (Fikriyah, 2016). Kata masalah mengandung arti yang komprehensif, oleh karena itu akan terjadi berbagai respon yang berbeda dalam menghadapi masalah tertentu. Demikian pula akan terjadi perbedaan penyikapan terhadap masalah tertentu, misalnya suatu pernyataan akan menjadi masalah bagi peserta didik namun bukan masalah bagi guru. Sebab peserta didik untuk menjawab pertanyaan tersebut memerlukan proses yang rumit sedang bagi gurunya untuk menjawab masalah tersebut memerlukan proses penalaran yang rutin. Pertanyaan yang menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat

(2)

dipecahkan oleh suatu prosedur rutin akan menimbulkan suatu masalah pada pertanyaan tersebut (Shadiq, 2014).

Kemampuan pemecahan masalah matematika pada peserta didik berbeda- beda sehingga ada kemungkinan kesalahan yang ditimbulkan karena pemahaman yang berbeda. Peserta didik dikatakan mampu ketika sanggup atau dapat menyelesaikan soal pemecahan masalah yang telah diberikan pada tingkat soal tertentu. Pendekatan yang dapat dilakukan terhadap peserta didik dalam situasi belajar dengan cara menerima, mengorganisasi dan menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka. Peserta didik juga memiliki cara-cara sendiri yang disukai dalam menyusun apa yang dilihat, diingat, dan dipikirkannya.

Perbedaan-perbedaan individual yang menetap dalam cara menyusun dan mengelola informasi serta pengalaman-pengalaman tersebut dikenal dengan gaya kognitif. Gaya kognitif sendiri merupakan cara seseorang dalam menerima dan mengorganisasi informasi dari sekitarnya (Intan, Magister, & Matematika, 2014).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan pemecahan masalah matematika menekankan peserta didik untuk berpikir bagaimana cara untuk memecahkan masalah dan memproseskan informasi matematika. Ketika menghadapi masalah matematika khususnya soal cerita, peserta didik harus melakukan analisis dan memerlukan informasi sebagai landasan untuk menentukan pilihan dan keputusan.

Ketika memecahkan masalah matematika, peserta didik harus menguasai cara pengaplikasian konsep-konsep dan aturan dengan menggunakan keterampilan komputasi dalam berbagai situasi baru yang berbeda. Dengan pemecahan masalah ini diharapkan para peserta didik memiliki kesempatan belajar untuk menyelesaikan bermacam-macam persoalan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga menghasilkan model pembelajaran matematika terbuka untuk membantu peserta didik mengembangkan kreativitasnya (Sriyanto, 2007;

Suastika, 2017). Kemampuan pemecahan masalah sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika.

(3)

2. Taksonomi SOLO

Taksonomi SOLO dapat dikatakan sebagai klasifikasi tujuan pembelajaran berdasarkan pada data penelitian ilmiah yang berhubungan dengan hal-hal yang digolongkan dalam sistematika tertentu. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (2005), taksonomi merupakan kaidah dan prinsip yang meliputi pengklasifikasian objek. Taksonomi yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu pengklasifikasian respon nyata dari peserta didik mengenai tujuan-tujuan pembelajaran (Hamdani, 2008). Tujuan pembelajaran sendiri menunjukkan apa yang harus dicapai oleh peserta didik sebagai hasil belajar dan tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan dalam suatu taksonomi.

Sedangkan SOLO itu sendiri adalah Structure of Observed Learning Outcome atau struktur hasil belajar teramati. SOLO pertama kali dijelaskan dalam mengevaluasi mutu pembelajaran. Model SOLO, diketahui sebagai struktur hasil belajar yang teramati, yang dikembangkan oleh (Biggs & Collis, 1982) adalah digunakan untuk menilai kemampuan pemecahan masalah aljabar peserta didik.

Taksonomi SOLO merupakan klasifikasi respon nyata yang diberikan peserta didik masalah hasil belajar yang dapat diamati. Berdasarkan taksonomi SOLO, respon struktur dalam memecahkan masalah aljabar diklasifikasikan ke dalam lima level yang meliputi prestructural, unistructural, multistructural, relational dan extended abstract (Lian & Yew, 2012).

Kegunaan taksonomi SOLO yaitu mengukur kemampuan peserta didik dalam merespon masalah yang diberikan yaitu membandingkan jawaban benar optimal dengan jawaban yang diberikan oleh peserta didik. Taksonomi SOLO juga dapat membantu usaha menggambarkan tingkat kompleksitas pemahaman peserta didik tentang subjek, melalui lima tingkatan respon dan diklaim dapat diterapkan di setiap wilayah subjek (Kuswana, 2012). Sekalian digunakan sebagai alat untuk menilai hasil belajar peserta didik. Taksonomi ini fokus pada struktur respon peserta didik dalam pemecahan masalah sehingga dapat mengetahui seberapa besar kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Penerapan taksonomi SOLO untuk mengetahui respon peserta didik dan analisa kemampuan pemecahan masalah sangatlah tepat.

(4)

Taksonomi SOLO memiliki beberapa kelebihan yang dikemukakan oleh (Asikin, 2002) sebagai berikut: 1) untuk menentukan tingkat respon peserta didik terhadap suatu soal matematika; 2) untuk pengkategorian kesalahan dalam menyelesaikan masalah matematika, dan 3) menyusun dan menentukan tingkat kesulitan soal matematika. Maka dalam penelitian ini yang dimaksud peneliti yaitu taksonomi SOLO merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah yang telah dikerjakannya melalui respon atau jawaban tersebut. Kemudian untuk mengidentifikasi target, maka peneliti menilai hasil belajar peserta didik berdasarkan taksonomi SOLO.

Taksonomi SOLO mengklasifikasi kemampuan peserta didik pada level sesuai berdasarkan kemampuan kognitif peserta didik dalam menyelesaikan masalah. Taksonomi SOLO membagi level mulai level terendah hingga level tertinggi (Lian & Yew, 2012), sebagai berikut:

a) Prestructural (0): Peserta didik tidak memahami inti dari pertanyaan yang diberikan sehingga peserta didik mengalami kesulitan dalam menjawabnya, oleh karena itu menjawab dengan pengetahuan yang dimilikinya saja dan juga tidak ada upaya untuk menyelesaikannya.

b) Unistructural (1): Peserta didik menjawab pertanyaan dengan menggunakan satu penggal informasi yang relevan. Respon peserta didik pada tingkat unistructural dalam usaha menyusun struktur tertentu hanya membuat satu hubungan sederhana. Sehingga hubungan yang dibuat tersebut tidak memiliki logika yang jelas.

c) Multistructural (2): Peserta didik mampu menghubungkan beberapa informasi, namun informasi-informasi yang dimiliki belum mampu menjawab inti dari masalah dan memerlukan informasi secara berurutan.

d) Relational (3): Peserta didik mampu menghubungkan beberapa informasi menjadi satu kesatuan sehingga pemahaman peserta didik terhadap informasi- informasi terintegrasi secara baik.

e) Extended Abstract (4): Peserta didik dapat menggeneralisasikan struktur menjadi situasi baru dan lebih abstrak. Mungkin ini memberikan generalisasi ke sebuah topik baru atau topik yang lebih luas. Peserta didik pada level ini

(5)

berpikir secara konseptual dan dapat melakukan generalisasi atau membentuk gagasan atau simpulan umum.

Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Peserta Didik Berdasarkan Taksonomi SOLO

No Level Indikator Taksonomi SOLO

1 Prestructural

1.1. Peserta didik tidak memahami dan tidak dapat menyelesaikan masalah yang telah diberikan.

1.2. Peserta didik menyelesaikan masalah dengan cara tidak relevan.

1.3. Peserta didik menyelesaikan masalah tetapi penyelesaian masalah tidak konsisten.

2 Unistructural

2.1. Peserta didik memahami masalah dengan menggunakan satu informasi sehingga peserta didik hanya dapat menyelesaikan soal yang diberikan dengan sederhana.

2.2. Peserta didik hanya menggunakan satu penyelesaian masalah.

3 Multistructural

3.1 Peserta didik dapat memahami masalah dengan menggunakan dua informasi atau lebih yang bersifat terpisah.

3.2 Peserta didik mampu menggunakan beberapa penyelesaian masalah.

3.3 Peserta didik tidak dapat menghubungkan dari beberapa penyelesaian masalah.

4 Relational

4.1 Peserta didik dapat memahami masalah dengan menggunakan dua informasi atau lebih yang bersifat terpisah.

4.2 Peserta didik mampu menggunakan beberapa penyelesaian masalah.

4.3 Peserta didik mampu menghubungkan dari beberapa penyelesaian masalah tersebut.

5 Extended Abstract

5.1 Peserta didik dapat memahami masalah dengan menggunakan dua informasi atau lebih yang bersifat terpisah.

5.2 Peserta didik mampu menggunakan beberapa penyelesaian masalah.

5.3 Peserta didik mampu menghubungkan dari beberapa penyelesaian masalah tersebut.

5.4 Peserta didik dapat menggunakan generalisasi dan kesimpulan baru.

Sumber: (Mulbar, Rahman, & Ahmar, 2017)

3. Pemecahan Masalah Berdasarkan Taksonomi SOLO

Pemecahan masalah matematika berdasarkan taksonomi SOLO dapat dilihat dari penyelesaian soal pemecahan masalah matematika materi aljabar pada sub bab sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) berdasarkan level taksonomi SOLO.

(6)

Taksonomi SOLO memiliki tingkatan-tingkatan dari kesulitan suatu pertanyaan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Tingkat Kesulitan Soal Berdasarkan Taksonomi SOLO

Taksonomi SOLO Kriteria

Prestructural

Unistructural

Pertanyaan yang kriterianya membutuhkan sebuah informasi yang jelas dan langsung dari teks soal.

Pertanyaan yang kriterianya menggunakan satu informasi yang jelas dan langsung dari teks soal.

Multistructural Pertanyaan yang kriterianya menggunakan dua informasi atau lebih dan bersifat terpisah yang terdapat pada teks soal.

Relational Pertanyaan yang kriterianya menggunakan suatu pemahaman dan dapat menghubungkan dengan dua informasi atau lebih yang terdapat pada teks soal, namun belum bisa segera digunakan untuk mendapatkan penyelesaian akhir.

Extended Abstract Pertanyaan yang kriterianya menggunakan prinsip umum yang abstrak dari informasi dalam teks soal atau data diberikan tetapi belum bisa digunakan untuk mendapatkan penyelesaian akhir. Data atau informasi yang diberikan itu masih diperlukan prinsip umum yang abstrak atau menggunakan hipotesis untuk mengaitkannya sehingga mendapatkan informasi atau data yang baru.

Sumber: (Teaching and Educational Development Institute University of Queesnland, 2011)

(7)

Berikut soal pemecahan masalah matematika materi aljabar pada sub bab sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) berdasarkan tingkat taksonomi SOLO, sebagai berikut:

Tabel 3.2 Soal Pemecahan Masalah Berdasarkan Taksonomi SOLO No. dan

Tingkat Soal SOAL

1. Prestructural Dalam suatu konser musik jazz panitia menyediakan 2 macam tiket yaitu tiket VIP dan tiket reguler. Gedung yang digunakan untuk konser memuat maksimal 1500 orang.

Terdapat berapa variabel?

Berapa maksimal tiket terjual?

2. Unistructural Dalam 5 menit pertama banyak tiket laku 1 tiket VIP sehingga panitia mendapat pemasukan $25. Ternyata dalam 1 jam tiket laku 2 tiket VIP dan 10 tiket reguler dengan harga $200. Berapa harga 1 tiket reguler?

3. Multistructural Dalam seminggu seluruh tiket terjual dan panitia mendapat . Berapa banyak tiket VIP dan tiket reguler yang terjual?

4. Relational Jika suatu hari sebagian kursi yang berada pada gedung tersebut rusak, panitia hanya mendapatkan total pemasukan dengan syarat dari penjualan tiket VIP, maka berapa banyak tiket VIP dan banyak tiket reguler yang harus terjual?

5. Extended Abstract Panitia memperbolehkan 1 orang membeli lebih dari 1 tiket untuk titipan suatu rombongan. Buatlah persamaan linear baru yang mewakili 1500 tiket yang dibeli oleh sejumlah orang dengan syarat awal banyak tiket VIP sama dengan banyak tiket reguler !

Gambar

Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Peserta Didik Berdasarkan Taksonomi SOLO
Tabel 3.1 Tingkat Kesulitan Soal  Berdasarkan Taksonomi SOLO
Tabel 3.2 Soal Pemecahan Masalah Berdasarkan Taksonomi SOLO  No. dan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian sebelumnya mengenai katalis berbasis pengemban β -zeolit untuk konversi sitronelal telah banyak dilaporkan, antara lain adalah Ni/Zr-beta (Nie et

Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi yang normal atau tidak. Untuk menguji apakah dalam model

Disajikan gambar dan skema rangkaian listrik yang terdiri dari sebuah lampu, sebuah rheostat dan sumber tegangan, peserta didik dapat menjelaskan.. mengapa lampu bertambar terang

Kegiatan ini telah dilakukan mulai tahun 2013 dengan melakukan kajian screening dan ranking, pemetaan sumber daya migas, koordinasi dan diskusi untuk mendapatkan rekomendasi

Bab ini akan menguraikan dasar teori yang akan digunakan dalam penyusunan studi literatur, yang meliputi Persamaan Diferensial dan Model Pertumbuhan Populasi

Kompetensi Dasar IPK Materi pokok Indikator Soal Level Bentuk Soal Nomor Soal 1 2 3 4 5 6 7 3.3 Menjelaskan konsep usaha, pesawat sederhana, dan penerapanny a

Salah satu cara yang ditempuh oleh kepala sekolah yaitu dengan melakukan kerja sama dengan guru dari berbagi bidang seperti dalam bidang kesenian, olah raga, yang

Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel dan gambar di atas, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kadar glukosa tertinggi dari kombinasi perlakuan konsentrasi ragi