• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES SIMULASIDEKONTAMINASIURANIUM DARI HASIL BELAH SECARA SINAMBUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSES SIMULASIDEKONTAMINASIURANIUM DARI HASIL BELAH SECARA SINAMBUNG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

214 liuku II

l'ro

l'I't

ID0200073

PROSES SIMULASIDEKONTAMINASIURANIUM DARI

HASIL BELAH SECARA SINAMBUNG

R. Didiek Herhady, Busron Masduki, Mashudi, SupriyantoC

PPNY-BATAN.JL Babarsari, P.O. Box 1008. Yogyakarla 55010

ABSTRAK

PROSES SIMULAS! DEKONTAMINASI URANIUM DARI HASIL BELAH SECARA SINAMBUNG Telah dilakukan proses ekstraksi secara sinambung menggunakan pesawat pengaduk pengenap 16 stage dan sebagai ekstraktan dipakai TBP 30 % dalam pengencer dodekan. Larutan uranium nitrat dengan konsentrasi 200 g/lyang terkontaminasi rutenium dengan konsentrasi 11 mg/l diumpankan pada bagian stage no. 7 dengan kecepatan alir 75 ml/jam, larutan TBP 30%- dodekan dialirkan kedalam stage no. I dengan kecepatan alir 150 ml/jam serta larutan asam nitrat dialirkan kedalam stage no. 16 dengan kecepatan alir 56 ml/jam. Kecepatan pengadukan 2300 rpm dengan waktu ekstraksi selama 6jam. Untuk optimasi proses dekontaminasi uranium dilakukan dengan cara memvariasi keasaman umpan pada keasaman pencuci tetap, kemudian memvariasi keasaman pada pencuci dengan keasaman pada umpan yang tetap. Perubahan keasaman dalam umpan maupun dalam pencuci sangal mempengaruhi harga FDg.u-v dan prosentase rekoveri uranium. FDna.v dan % recovery uranium naik untuk keasaman umpan sampai 3 N dan turun kembali pada keasaman 4 N. Proses ekstraksi terbaik pada keasaman umpan 3 N dan keasaman pencuci 3 N, dengan harga FDt&.u 3,93 dan prosentase rekoveri 99,79 %.

ABSTRACT

THE SMULATION PROCESS OF THE CONTINUOUS URANJUM DECONTAMINATION FROM FISSION PRODUCT. }The continuous extraction was held by 16 stage mixer settler using 30 % TBP-dodecane as an ehractant. Uranyl nitrate solution with the concentration o/200 g/l containing 11 mg Ru/l, was feed to the mixer settler at 7th stage with Jlowrate of 75 ml/h. The solution of 30% TBP-dodecane wasflowed to thefirst stage wiih Jlowrate of150 ml/h and nitric was jlowed to the 16th stage with flowrate oj 56 ml/h. The stirring velocity was 2300 rpm and the extraction time was 6 hours. For optimating the uranium decontamination process, the acidity ofthefeed and scrubber were variated alternately. The acidity variation offeed and scrubber influence th.e DFRU-U value and the percentage of uranium recovery excessively. The optimum extraction process was achieved at the feed and scrubber acidity o/3 N, with the DFRU-U va/we 3.93 andihe recciVerypercentage 99,79%.

PENDAHULUAN

D

i bidang teknologi nuklir uranium banyak dipakai sebagai bahan bakar reaktor nuklir baik dalam bentuk metal maupun dalam bentuk oksida. Uranium sebagai bahan bakar reaktor nuklir harus mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi (tingkat murni nuklir) pada reaksi pembelahan uranium di dalam reaktor dihasilkan inti baru, energi danhasil belah. Hasil belah tersebutadayang mempunyai tampang Hntang serapan netron yang besar, sehingga akan mengganggu reaksi pembelahan uranium.

Namun lambat laun dengan bertambahnya unsur hasil belah tersebut maka uranium tersebut tidak lagi memenuhi persyaratan mumi nuklir, karena dengan bertambahnya unsur hasil belah itu akan menurunkan efisiensi kerja reaktor. Oleh

karena ltu bahan. bakar yang banyak mengandung unsur-unsur hasil belah tersehut narus dikeluarkan dari reaktor. Mengingat bahan hakar nuklir bekas tersebut masih hanyak mengandung uranium yang belum mengalami reaksi pembelahan (95 %) maka masih dipandang perlu untuk dilak.ukan pemungutan kembali(l'

Untuk memisahkan uranium dan plutonium dari hasil belah pada umumnya dilaksanakan dengan proses Purex (Plutonium and Uranium recovery by extraction) Di dalam proses Purex terj-di masalah yaitu adanya beberapa hasif belah yang selalu ikut terekstrak dalam fase organik, diantaranya adalah Ru, Ru mempunyai sifat yang komplek karena Ru dapat berada dalam beberapa keadaan tingkat oksidasi dari 0 - 8 , dengan ion kompleks dan spesies molekulnya. Ru juga mudah membentuk radiokoloid yang sangat menyulitkan

(2)

Prosi<iin<> Pertemuan dan Prcsenlasi Ilmiah

PPNY-BATAN Yogyakarta 25-27 Apnl 1995 liuku 11 215

dalam proses ekstraksi dan juga mudah membentuk nitroso/nitrato yang stabil dalam larutan asam nitrat yang ikut terekstraksi bersama uranium dan plutonilum sehingga dalam hal ini perlu dilakukan optimasi keasaman umpan maupun keasaman pencuci dalam sistem dekontaminasi uranium dari hasil belah (4). Sehingga dalam hal ini perlu

dilakukan pene;litian proses simulasi dekontaminasi uranium dari hasi! belah secara sinambung, dengan harapan hasil penelitian dapat bermanfaat sebagai penelitian pendahuluan penanganan/pemrosesan kembali bahan bakar bekas secara proses Purex.

Untuk harga faktor dekontaminasi dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut(4):

_ [(Ru)/(U)]umpan

Ru~U [ (Ru)/(U) ] ekstrak

Sedangkan harga prosentase recovery untuk uranium dapat dihitung dari rafinat dituliskan sebagai berikut:

Recovery = XF - A)/FXi x 100%

Keterangan :

XF =Konsentrasi uranium dalam umpan A = Kecepatan lair pencuci

F = Kecepatan alir umpan

Xi = Konsentrasi uranium dalam rafinat

TATA KERJA

A. Bahan

1. Serbuk U3O8 buatan PPNY

2. SerbukRu

3. Tributil phospat (TBP) 4. Dodekan

5. Larutan HNO3

6. Air bebas moneral (ABM) 7. LarutanH2SO4

8. LarutanKOH 9. LarutanKNO3

B. Peralatan

1. Pesawat pengaduk pengenap 16 stage 2. Pompa-pompa

3. Pengaduk dan pemanas listrik 4. Potensiograp dan dosimat 5. Spektrometctr serapan atom AAS 6. Alatgelas

C. Cara kcrja

Dilakukan penyiapan umpan berupa uranium nitrat dengan kadar 200 g/1 pada berbagai keasaman (1, 2, 3 dan 4 N) yang mengandung pengotor Ru 11 mg/1. Sebelum proses ekstraksi dijalankan tcrlebih dahuhi dilakukar. kalibrasi terhadap pompa-pompa untuk kecepatan aliran tertentu dan juga terhadap motor pengaduk. Selanjutnya pada masing-masing stage (baik ntang pengaduk maupun ruang pengenap) diisi larutan umpan sainpai pada tanda kemudian selanjutnya dilakukan proses ekstraksi selama 6 jam, larutan umpan masuk pada stage 7 dengan kecepatan alir 75 ml/j, pelarut TBP 30 % - Dodekan dengan kecepatan alir 150 ml/j masuk pada stage 1, larutan pencuci dengan keasaman 3 N masuk pada stage 16 dengan kecepatan alir 56 ml/j dengan kecepatan pengadukan 2300 rpm. Kemudian pada proses ekstraksi dilakukan juga variasi keasaman pencuci ( 1 , 2 , dan 4) pada keasamar. umpan yang tetap. Untuk penentuan waktu kesetimbangan setiap 30 menit diambil sampel baik untuk ekstTak maupun rafinat. Setelah proses ekstraksi dilakukan analisa uranium dalam fase organik, fase air dan Ru dalam fase air. Sedangkan Pai dalam fase organik dilakukan perhitungan berdasarkan neraca hahan dengan anggapan bahwa jumlah Ru yang masuk yang masuk ke sistem sama dengan jumlah Ru yang keluar setelah tercapai kesetimbangan :

5

Ru dalam umpan = Ru dalam ckstrak + Ru dalain raflnat VFRUF = VsRuY 16 + (VF + VR) Rux,

VF =kecepatan alir pelarut RUF =konsentrasi Ru dalam umpan Vs = kecepatan al ir pelarut

Ruy16 =konsentrasi Ru dalam fase organik stage

16

VR =kecepatan alirpencuci

Ruxl =konsentrasi Ru dalam rafinat stage 1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini dilakukan dua tahap proscs ekstraksi, pada tahap pertama ekstraksi dengan variasi keasaman umpan (1, 2, 3 dan 4 N) pada keasaman pencuci tetap 3 N. Pada tahap kedua ekstraksi dengan variasi keasaman pencuci (1, 2, dan 4 N) pada keasaman umpan yang tetap

Selanjutnya kalau profil distribusi konsentrasi U, keasaman, dan Ru untuk masing-masing stage pada ekstraksi dengan keasaman umpan tetap 3 N untuk variasi keasaman

(3)

216 Buku II

Pros'uting Pertemuan dan PresentasiIlniiah PPNY-BATAN YoRyakarta 25-27April 1995

pencuci dari ! N, 2 N, 3 N dan 4 N seperti pada tabel 3, tabel 6 tabel 7, dan tabel 8 terlihat bahwa untuk keasaman pencuci 1 N Sampai dengan 3 N, kadar Ru yang masuk ke dalam rafinat menurun berarti distribusi U pada fase organik semakin tiuggi. Sedangkan pada keasaman pencuci 4 N ternyata terjadi kenaikan distribusi U dalarn fase air berarti hal ini terjadi penurunan kadar U yang terektrak kedalam fase organik. Kemudian distrihusi Ru pada fase air untuk variasi keasaman pencuci dari 1 N, 2 N, 3 N dan 4 N terlihat cenderung naik dengan pola distribusi yang sama yaitu semakin tinggikeasaman pencuci U yang diperoleh semakin bersih dari produk fisi Ru.

Kalau dibandir.gkan profil distribusi pada tahel 1 s.d 4 N keasaman umpan 1 N s.d 3 N, maka distribusi uranium fase air dalam setiap stage mengalami penurunan, hal ini bisa dimengerti karena terjadi kenaikan distribusi uranium dalam fase organik. Tetapi pada keasaman umpan 4 N distribusi uranium fase air dalam setiap stage naik kembali hal ini dikarenakan adanya penurunan distribusi uranium dalam fase organik.

Distribusi Ru pada fase air dalam setiap stage untuk keasaman umpan 1 N sampai dengan 4 N selalu terjAdi kenaikan karena distribusi Ru dalam fase organik mengalami penurunan.

Kemudian pada tabel 5 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi asam nitrat dalam umpan maka semakin tinggi pula prosentase rekoveri uranium berarti keadaan ini menunjukkan bahwa konsentrasi uranium yang terekstrak ke fase organik makin tinggi. Tetapi pada konsentrasi asam nitrat di dalam umpan lebih dari 3 N, maka presentase rekoveri uranium justru menurun. Hal ini disebabkan terjadi kompetisi reaksi antara HNO3 dan uranium dengan TBP akibatnya uranium yang terekstrak ke fase organik akan menurun.

Dari tabel 9 terlihat bahwa variasi keasaman pada pencuci berpengaruh terhadap rekoveri uranium. Pada kenaikan konsentrasi HNO3 dalam pencuci dari 1 N sampai dengan .3 N, maka prosentase recoveri uranium yang diperoleh haik, dengan kenaikan relatif kecil. Hal ini disebabkan semakin tinggi konsentrasi HNO3 di dalam pencuci menyebabkan uranium kembali ke fase air. Dengan pengertian bahwa pada konsentrasi HNO3 dalam pencuci semakin tinggi akan mempermudah mendorong Ru keluar dari fase organik masuk ke fase air sehingga uranium yang terekstrak dalam fase organik semakin bersih dari produk fisi Ru.

Tabel 1. Data distribusi konscntrasi uranium, keasainan dan kadar Ru dalam masing-masing stage pada keasaman umpan 1 Ndan keasaman pencuci3N No Stngc 1 2 1 4 5. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KADAR U (g/l) Fasc Air 2S.56 45,22 46,41 48,79 96,39 ?5,39 132,99 82,11 47,60 41,65 59,50 45,22 77,35 69,02 39,27 33,57 Fase Org. 7,14 9,52 13,09 26,18 45,22 72,59 74,97 73,78 72,59 71,40 71,40 71,40 69,02 69,02 69,02 64,64 KEASAMAN (N) Fase Air 0,98 ,38 ,40 ,44 ,46 ,42 1,52 1,58 " 0,68 1,88 0,74 1,58 0,78 ' 0,88 0,78 2,50 Fase Org. 0,33 0,33 0,33 0,33 0,32 0,32 0,31 0,33 0,32 0,32 0.33 0,33 0,32 0,31 0,33 0,50 Kadar Ru Kase Air (mg/I) 4,H 3,95 3,83 3,62 3,43 5,51 4,53 3,51 3,07 2,94 1,93 2,04 1,77 1,05 0,87 0,52

Tabel 2. Data distribusi konsentrasi uranium, keasaman dan kadar Ru dalam masing-masing stage pada keasaman umpan 2N dan keasaman pencuci3N

No Stage 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KADAF Fasc Air 2,17 46,41 63,76 70,55 90,23 105,41 130,90 78,54 51,17 49,98 32,13 34,51 23,80 23,80 24,99 24,99 •U(g/l) ?ase Org. 10,12 11,77 15,18 45,72 87,80 92,91 125,13 80,29 48,46 50,51 75,24 62,03 61,04 71,25 82,34 96,82 KEASAMAN (N) Fase Air 2,9.6 2,01 2,51 2,48 2,48 2,36 2,36 2,83 2,83 2,94 2,95 2,96 2,85 2,87 2,88 2,90 Fase Org. 0,69 0,50 0,33 0,34 0,19 0,36 0,47 0,56 0,63 0,61 0,66 0,80 0,68 0,96 0,98 0,99 <adar Ru Fase Air (ing/1) 4,28 4,12 3,94 3,52 3,44 4,17 5,62 2,11 1,22 1,55 0,89 0,75 0,68 0,67 0,52 0,48

(4)

Prosiding l'ertemuan ilan Presentasi llmialt

PPNY-BA TAN Yogyukaria 25-27 Aftnl. 1995 Buku 11 217

Tabei 3. Data distribusi konsentrasi uranium, keasaman dan kadar Ru dalam masing-masing stage pada keasaman umpan 3 N dan keasaman pencuci 3 N

Tabel 5. Harga FDRU-U dan prosentase recoveri pada

variasi keasaman umpan dengan keasaman pencuci tetap 3 N No Stagc l 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KADAR U (g/1) Fasc Air 0,24 0,18 0,96 1,20 1,90 5,00 44,03 41,00 40,94 37,84 36,93 34,98 33,94 31,56 28,63 19,59 Fssc Org. 2,38 3,57 4,76 4,76 35,70 136,85 141,61 138,04 130,90 114,24 111,86 105,91 106,82 104,64 108,21 110,12 KEASAMAN (N) Fase Air 0,98 2,92 2,94 2,92 2,70 2,06 2,44 2,38 2,30 2,34 2,38 2,40 2,80 2,46 2,46 2,60 Fase Org. 0,12 0,26 0,50 0,53 0,58 0,40 0,11 0,10 0,81 0,82 0,84 0,84 0,85 0,85 0,86 0,87 Kadar Ru Fasc Air (mg/1) 4,48 3,92 3,90 3,85 3,86 5,75 4,28 1,52 1,07 0,92 0,84 0,91 0,75 0,69 0,66 0,62

TabeM. Data distribusi konsentrasi uranium, keasaman dan kadar Ru dalam masing-masing stage pada keasaman umpan 4 N dan keasaman pencuci 3 N

No Stage 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 .11 12 13 14 15 16 KADAR U (g/1) Fase Air 1,39 2,68 3,87 14,28 49,98 80,92 85,68 39,27 42,84 34,51 33,32 28,56 26,18 21,42 17,85 13,09 Fase Org. 2,19 4,17 16,07 69,02 102,34 133,28 135,66 120,19 117,81 114,24 111,86 109,48 103,53 99,96 98,77 88,66 KEASAMAN (N) Fasc Air 3,30 3,64 3,70 3,80 3,68 3,40 3,34 3,20 3,12 3,16 3,28 3,28 3,16 3,16 3,20 3,50 Fase Org. 0,99 0,96 0,94 0,91 0,61 0,61 0,96 0,67 0,66 0,64 0,62 0,61 0,65 0,69 0,72 0,79 Kadar Ru Fase Air (mg/l) 4,49 4,52 4,33 3,94 3,81 4,01 4,33 2,12 1,84 0,97 0,91 0,89 0,74 0,62 0,50 0,58 Keasaman umpan (3N) 1 2 3 4 KADAR Ru (mg/1) FA-1 4,11 4,28 4,48 4,49 FO-16. !,91 1,76 1,59 1,58 KADAR Ru (g/1) FA-1 28,56 2,17 0,24 1,39 FO-16. 66,64 96,82 110,12 88,66 FDRU.U 1,92 3,41 3,81 2,81 % Recoveri U 75,06 98,11 99,79 98,/9

Tabel 6. Data distribusi konsentrasi uranium, keasaman dan kadar Ru dalam tnasing-masing stage pada keasaman umpan 3 N dan keasaman pencuci 1 N

No Stage 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 . 14 15 16 KADAR U (g/1) Fase Air 0,97 20,23 11,90 15,47 17,85 36,89 42,84 73,78 64,26 111,86 110,67 129,71 126,14 74,97 91,63 27,65 Fase Org. 5,95 9,52 15,47 2,43 23,80 111,80 107,10 128,52 133,28 1333 128,52 135,66 135,66 123,76 115,43 109,91 KEASAMAN (N) Fase Air 1,55 1,66 2,33 0,93 2,33 2,09 1,29 1,36 1,97 1,99 1,66 1,93,28 1,93 1,34 1,34 1,36 Fase Org. 0,84 0,64 0,87 3,52 0,89 0,45 0,45 "" 0,30 0,29 0,26 0,25 0,24 0,22 0,22 0,23 0.22 Kadar Ru FaseAir (mg/1) 3,98 3,99 3,66 3,52 4,21 5,52 6,71 3,25 1,08 1,23 1,24 1,67 2,04 2,57 2,14 2,28

(5)

2IS Buku II

Prosiding Pertsmuan dan Presentasi tltniah PPNY-BATAN Yogyakarta 25-27 April 1995

Tabe! 7. Data distribusi konsentrasi uranium, k e a s a m a n dan k a d a r Ru d a l a m masing-masing stage pada keasaman umpan 3 N dan keasaman pcncuci 2 N

Tabel 9. Harga FDRU-U dan prosentase rccoveri

uranium untuk keasaman umpan 3 N

No Stage I 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KADAR U (g/1) Fase Air 0,78 16,66 17,85 16.66 28,56 39,04 50,23 26,66 28,56 26,28 26,66 21,42 28,56 38,08 38,08 26,18 Fase Org. 74,49 76,16 82,11 83.30 84,49 88,06 90,44 85.68 94,01 85,68 86,87 110,67 98,77 108,29 121,38 109,48 KEASAMAN (N) Kasc Air 1,78 1,90 0,86 0,84 0,80. 2,02 1,90 2,04 0,78 2,24 2,34 2,24 2,22 2,20 1,18 2,18 FascOrg. 0,49 0,46 0,51 3.54 0,49 0,51 0,54 0,49 0,53 . 0,54 0,62 0,54 0,48 0,47 0,51 0,44 Kadar Ru Fasc Air (mg/1) 4,06 3,15 3,02 3,66 4,52 5,12 6,21 2,12 1,42 0,92 0,95 0,94 1,05 0,92 1,11 1,26

Tabel 8. Data distribusi konsentrasi uranium, keasaman dan kadar Ru daiam masing-masing stage pada keasaman umpan 4 N dan keasaman pencuci 4 N

No Stage 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KADAR U (g/1) Fase Air 2,28 2,38 15,47 55,93 164,22 186,83 188,02 122,57 104,72 85,68 82,11 65,45 80,92 57,12 54,74 52,36 Fase Org. 3,57 11,86 54,74 97,33 100,42 101,61 105,18 119,46 101,61 102,09 102,09 101,61 111,13 94,47 109,23 105,91 K£ASA!VIAN (N) FaseAir 2,87 3,59 3,92 3,94 3,00 2,70 2,85 2,73 2,03 3,94 3,54 3,60 3,73 3,70 3,80 3,85 Fase Org. 0,80 0,96 0,68 3,40 0,36 0,35 0,36 0,37 0,37 0,39 0,42 0,44 0,41 0,53 0,63 0,80 <adar Ru FaseAir (mg/1) 4,52 4,49 4,27 4,21 4,18 3,92 4,18 1,20 0,92 . 0,78 0,62 0,51 0,52 0,43 0,45 0,44 Keasaman umpan (3N) 1 2 3 4 KADAR Ru FA-1 3,98 4,06 4,48 4,52 FO-16. 2,02 1,95 1,58 1,55 KADAR Ru FA-1 0,97 0,78 0,24 2,37 FO-16. 105,81 109,43 110,12 105,91 FDR„.u 2,99 3,09 3,81 3,76 Rccovcri U 99,15 99,32 99,79 97,80

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

1. Perubahan keasaman dalam umpan. maupun dalam pencuci sangat mempengaruhi FDR„.U

dan % rekoveri U, yaitu akan mengalami kenaikan mulai dari keasaman 1 N sampai dengan 3 N dan turun kembali untuk keasaman 4 N.

2. Terjadinya kompetisi antara uranium dan asam nitrat untuk bereaksi dengan TBP mengakibatkan distribusi uranium dan keasaman pada masing-masing stage dalam pesawat pengaduk pengenap berbeda-beda. 3. Ekstraksi proses Purex dengan menggunakan pesawat pengaduk pengenap 16 stage padaproses simulasi dekontaminasi uranium hasil belah akan mencapai hasil terbaik pada keasaman umpan 3 N dan keasaman pencuci 3 N dengan harga faktor dekontaminasi Ru-U 3,81 dan prosentase rekoveri uranium 99,79 %

UCAPAN TERIMA KASIH

Diucapkan terima kasih kepada Saudara Joko Kustanto, Sukiman, Bambang Pratikna yang telah membantu jalannya penelitian hingga selesai

DAFTAR PUSTAKA

1. BENEDICT M., et.al.,: "Nuclear Chemical Engineering". 1981, Mc. Graw Hill Book Company, New York.

2. BRUCE,: The Behaviour ofFission Product in Sclvent Extraction Process", 1956,

(6)

Prositiiitg Pertenuian dan Presenlasi /tmiah

PPNY-BATAN Yogyakarta 25-27April 1995 Buku U 219

ORNL, Oak Ridge Tenesse, Pergamon Press Ltd., London.

3. FLETCHER, : "Chemical Principle in the Separation of Fission Product from Uranium and Plutonium by Soivent Extraction", 1956, Pergamon Press Ltd., London. 4. LONG, J.T.,: "EngineeringforNuclearFuel

Reprocessing American Society", 1978, La Grange Prak, tenesse, ORNL.

5. PITTERSON S., RAYMOND, S.W., : "Chemistry in Nuclear Technology", 1963, ORNL.

TANYA JAWAB

R. Subagiono

Konsentrasi Ru = 11 mg/l. Mohon dijelaskan produk hasil belah dari reaktor mana yang dipakai ?

R. Didiek Herhady

Konsentrasi Ru = 11 mg/lberasal hasil perhitungan yang analog pada komposisi hasil belah dalam bahan bakar bekas yang telah dikeluarkan dari reaktor daya, sebagai contoh reaktor daya tipe PWR dari 1 ton bahan bakar dengan Burn up 1000 MWD/ton, pendinginan 100 hari, waktu iradiasi 300 hari, U = 998.000 gr dan Ru = 55 gr. Maka Ru dalam 200 g/1 = 200 / 998.000 x 55 gr = 11 mg.

Subagiono

Menyambung pertanyaan sebelumnya, analisis dilakukan dengan AAS. darl makalahpak Supriyanto (BI.13), kurva standar linier RUpada kisaran konsentrasi 2-20 tng/1. bagaimana cara analisisnya.

R. Didiek Herhady

Cara melakukan analisis sbb :

Seteiah kurva standar linier Ru diperoleh/dibuat yaitu pada kisaran 2 - 20 mg/1, maka cuplikan yang m e n g a n d u n g Ru yang akan ditentukan konsentrasinya bisa dianalisis.

Supardjo M

Dari penelitian diperoleh FDM-V naik

sampai keasaman 3 Ndanpada 4Nakan menurun. Fenomena apayang terjadi pada proses tersebut.

R. Didiek Herhady

Untuk menghitung FDRU.U menggunakan

rumus:

Fn - [ (Ru)/(U) 3 umpan ^URU-U ~ [ (Ru)/(U) J ekstrak

Karena pada keasaman 4 N, U yang terekstraksi mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena adanya kompetisi antara HNO3, U dan TBP, pada keasaman makin tinggi ternyata U terdorong kembali dari fase organik ke fase air sehingga mempengaruhi RDRU-U akan turun.

Gambar

Tabel 1. Data distribusi konscntrasi uranium, keasainan dan kadar Ru dalam masing-masing stage pada keasaman umpan 1 Ndan keasaman pencuci3N No Stngc 1 2 1 4 5
Tabel 5. Harga  FDR U -U  dan prosentase recoveri pada variasi keasaman umpan dengan keasaman pencuci tetap 3 N No Stagc l 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 KADAR U (g/1)Fasc Air0,240,180,961,201,905,0044,0341,0040,9437,8436,9334,9833,9431,5628,6319,59
Tabel 9. Harga FDR U -U dan prosentase rccoveri uranium untuk keasaman umpan 3 N

Referensi

Dokumen terkait

Jadi, motivasi belajar adalah keseluruhan daya pengaruh yang ada di diri siswa yang dapat menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberi

Dari hasil pengujian, diketahui penambahan kadar fly ash yang optimum sebesar 10 %, Sedangkan makin banyak kadar fly ash maka nilai permeabilitas dan porositas

Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara. Dengan dokumentasi, peneliti mengumpulkan bahan- bahan tertulis yang berkenaan dengan keadaan

Topik diskusi: mahasiswa menentukan tema yang akan ditulis menjadi makalah Pemahaman tentang tema yang dipilih 5 2 Mahasiswa mampu menjelaskan kondisi Indonesia pada masa

Penjamin dalam penerbitan sukuk berbasis wakaf dengan melakukan kontrak ijarah yaitu MUIS Majelis Ugama Islam Singapura Sedangkan pada negara Indonesia untuk penerbitan sukuk

disebut APBN dan APBD.Dalam pandangan Lewis (1994), rencana tahunan merupakan rencana pengontrol dengan pengertian bahwa ini adalah tahun dimana tahun demi tahun

(4) Bagan Tata kerja antara PPID dengan PPID Pembantu, PPID Pelaksana dalam rangka mengelola pelayanan informasi dan dokumentasi di lingkungan Pemerintah,

*$lusi dari permasalahan yang terakhir yaitu dengan )ara mengadakan kegiatan umat bersih. &#34;al ini bertujuan agar mush$la disini kembali terawat dan dapat dimanfaatkan