• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRISIS KESEHATAN KABUPATEN / KOTA RAWAN BENCANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KRISIS KESEHATAN KABUPATEN / KOTA RAWAN BENCANA"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

KRISIS KESEHATAN

KABUPATEN / KOTA RAWAN BENCANA

Pusat Krisis Kesehatan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

2019

(2)
(3)

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan izin dan karunia-Nya penyusunan buku “Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan tahun 2019” dapat diselesaikan. Profil ini menggambarkan kajian risiko krisis kesehatan akibat bencana di 7 provinsi dan 54 kabupaten/kota target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2019. Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Indonesia memiliki potensi bahaya, kerentanan masyarakat dan kapasitas yang berbeda. Kondisi yang beragam inilah yang melatar belakangi perbedaan tingkat risiko bencana tersebut.

Program pengurangan risiko bencana haruslah berdasarkan kepada suatu kajian risiko bencana, di mana risiko berbanding lurus dengan ancaman/ bahaya dan kerentanan serta berbanding terbalik dengan kapasitas. Kajian risiko tersebut digunakan sebagai acuan dalam menilai, merencanakan, mengimplementasikan, memonitoring dan mengevaluasi upaya pengurangan risiko bencana pada suatu wilayah. Oleh karena itu Pusat Krisis Kesehatan menyusun buku profil ini untuk dapat dicermati oleh pemerintah daerah sebagai bahan referensi dalam menyusun program “Pengurangan Risiko Bencana” di wilayahnya masing-masing. Pengambilan data dilakukan secara langsung ke masing-masing daerah terpilih menggunakan alat bantu kuesioner, kemudian diperdalam dengan wawancara dan pada akhirnya dilakukan validasi.

Kami sangat berterima kasih sekiranya ada kritik, saran serta masukan dari semua pihak guna penyempurnaan penyajian informasi buku sejenis di masa mendatang. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi tenaga dan pikiran dalam penyusunan buku ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih. Semoga buku ini bermanfaat dalam mewujudkan keberhasilan upaya pengurangan risiko bencana di negara kita.

Jakarta, November 2019 Kepala Pusat Krisis Kesehatan

dr. Budi Sylvana, MARS NIP. 197504012002121002

Kata Pengantar

(4)
(5)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ... 03 DAFTAR ISI ... 05 BAB I: PENDAHULUAN ... 07 1.1. Latar Belakang ...07 1.2. Tujuan ...08 1.3. Dasar Hukum ...09 1.4. Metodologi ...10 A. Penyusunan Kuesioner ...10 B. Pengambilan Data ...13 C. Input Data ...14 D. Pengolahan Data ...14

E. Penyusunan Naskah Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan 14 1.5 Definisi Operasional ...15

BAB II: PROFIL Penanggulangan Krisis Kesehatan ... 23

2.1. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang ...24

2.2. Karakteristik Wilayah Kabupaten Tangerang ...24

2.3. Ancaman Bencana Kabupaten Tangerang...24

2.4. Kerentanan Kabupaten Tangerang ...25

2.5. Kapasitas Kabupaten Tangerang ...25

BAB III: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 36

3.1. Kesimpulan ...36

3.2. Rekomendasi ...36

LAMPIRAN KUESIONER ASISTENSI ...41

Daftar Gambar

2.1 Gambar Peta Kabupaten/Kota ...23

Daftar Tabel

2.1 Rincian Penilaian Kapasitas ...25

3.1 Rekapitulasi Penilaian Indikator Kapasitas...36

3.2 Rekomendasi Peningkatan Kapasitas Kabupaten/Kota Berdasarkan Tahun Kegiatan ...37

(6)
(7)

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang wilayahnya rawan terhadap terjadinya bencana. Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia tahun 2013 yang dikeluarkan BNPB, dari 496 kabupaten/kota, 65% nya adalah lokasi berisiko tinggi. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa - Nusa Tenggara, Sulawesi, yang pada salah satu sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Selain faktor alam, secara geopolitik, Indonesia memiliki peran ekonomi internasional yang cukup penting, karena memiliki pelabuhan internasional. Ditambah jumlah penduduk yang banyak (nomor 4 dunia) dan terdiri dari multi etnis serta multi agama, menyebabkan Indonesia berisiko untuk terjadinya konflik sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Indonesia sering dilanda bencana, baik bencana alam (banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, banjir, banjir bandang), non-alam (kegagalan teknologi), maupun bencana sosial (konflik, terorisme). Berdasarkan data yang dikumpulkan Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan, pada tahun 2017 terjadi 198 kejadian krisis kesehatan dan tahun 2018 sebanyak 326 kejadian. Jumlah korban yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Tercatat korban meninggal sebanyak 4.377 jiwa dan 16.297 korban luka berat/rawat inap serta 210.770 korban luka ringan/rawat jalan dalam kurun waktu dua tahun tersebut.

Bencana umumnya memiliki dampak yang merugikan. Rusaknya sarana prasarana fisik, permukiman dan fasilitas umum. Dampak lain adalah

(8)

permasalahan kesehatan seperti korban meninggal, korban cedera berat yang memerlukan perawatan intensif, peningkatan risiko penyakit menular, tidak memadainya jumlah dan jenis obat serta alat kesehatan, terbatasnya tenaga kesehatan, kerusakan fasilitas kesehatan, rusaknya sistem penyediaan air, stres paska trauma, masalah gizi dan psikososial. Kejadian bencana seringkali diikuti dengan adanya arus pengungsian penduduk ke lokasi yang aman, yang akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru di lokasi tujuan pengungsian tersebut. Hal ini tentu akan berdampak pada pembangunan kesehatan baik tingkat nasional maupun daerah. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memulihkan keadaan. Belum lagi waktu yang hilang untuk mengejar ketertinggalan.

Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan 190 kabupaten/kota rawan bencana untuk menjadi sasaran peningkatan kapasitas dalam rangka pengurangan risiko krisis kesehatan. Salah satu langkah awal dalam upaya peningkatan kapasitas tersebut adalah dengan melakukan asistensi ke kabupaten kota untuk selanjutnya memetakan risiko krisis kesehatan di wilayah tersebut. Pemilihan provinsi (kabupaten/kota) berdasarkan 136 kabupaten/kota rawan bencana dan pusat pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan dalam RPJMN 2015-2019. Selain itu juga ditambahkan kabupaten/ kota bermasalah kesehatan yang memiliki indeks risiko bencana dengan kelas risiko tinggi.

Pusat Krisis Kesehatan pada tahun 2019 telah melakukan asistensi di 54 Kabupaten/Kota rawan bencana dari 190 Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan. Kabupaten/kota tersebut berada di 12 provinsi yaitu Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Jambi, Bali, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Papua Barat. Hasil asistensi tersebut dikaji untuk selanjutnya disusun menjadi profil krisis kesehatan kabupaten/kota yang mengambarkan bahaya, kerentanan dan kapasitas terkait dengan Penanggulangan Krisis Kesehatan akibat bencana di daerah.

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan profil Penanggulangan Krisis Kesehatan yaitu :

a. Memetakan ancaman (hazard), kerentananan dan kapasitas terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan di 54 kabupaten/kota rawan

(9)

b. Mengidentifikasi permasalahan terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan di 54 kabupaten/kota rawan bencana target tahun 2019; c. Memberikan usulan/rekomendasi kebijakan yang perlu diambil

oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi dan Kementerian Kesehatan dalam rangka mengatasi permasalahan yang ditemui di dinas kesehatan kabupaten/kota terkait upaya Penanggulangan Krisis Kesehatan; dan

d. Memberi masukan untuk kebijakan nasional terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan.

1.3. Dasar Hukum

a. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;

b. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan; c. Undang–undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;

d. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana;

e. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana;

f. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Kese lamatan Jalan;

g. Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan rakyat Nomor 54 Tahun 2013 tentang Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan tahun 2011-2025;

h. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81 Tahun 2004 tentang Pedoman Penyu sunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota Serta Rumah Sakit;

i. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2006 tentang Pedoman Mana jemen Sumber Daya Manusia Kesehatan pada Penanggulangan Bencana;

j. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 971 Tahun 2009 tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan;

k. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan;

l. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 77 tahun 2014 tentang Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan;

(10)

m. Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana;

n. Peraturan Kepala BNPB Nomor 3 Tahun 2012 tentang Panduan Penilaian Kapa sitas Daerah dalam Penanggulangan Bencana;

o. Keputusan Menteri kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019; dan

p. Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 02.03/4/77/2017 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan (Kementerian Kesehatan) Nomor HK.02.04/4/1515/2016 tentang Penetapan 34 Kabupaten/Kota rawan bencana tahun 2017 - 2019.

q. Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 02.03/4/300.1/2018 tentang Perubahan atas Kepu tusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan (Kementerian Kesehatan) Nomor HK.02.04/4/ 1515/2016 tentang Penetapan 34 Kabupaten/Kota rawan bencana tahun 2017 - 2019.

1.4. Metodologi

Metodologi penyusunan Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan Tahun 2019 terdiri dari beberapa tahap, antara lain :

A. Penyusunan Kuesioner

Kuesioner berisi pertanyaaan-pertanyaan yang menggambarkan faktor risiko dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan yang mencakup potensi ancaman bencana (Hazard), Kerentanan (Vulnerability) dan Kapasitas (Capacity). Referensi penyusunan kuesioner yaitu peraturan perundangan/regulasi yang berlaku, SPHERE Handbook (2011), Global Health Cluster Suggested Set Of Core Indicators and Benchmarks By Category (IASC) serta Benchmarks, Standards and Indicators for Emergency Preparedness and Response (WHO).

Tahap Penyusunan Kuesioner terdiri dari : 1. Menentukan tolok ukur

Dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen yang digunakan untuk menilai ancaman bencana, kerentanan dan kapasitas, yaitu :

(11)

a. Tolok ukur untuk menilai potensi ancaman bencana (hazard) berupa probabilitas dan dampak;

b. Tolok ukur untuk menilai kerentanan (vulnerability) berupa faktor-faktor sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan; dan

c. Tolok ukur untuk menilai kapasitas meliputi kelembagaan/ kebijakan, penguatan kapasitas, peringatan dini, mitigasi dan kesiapsiagaan.

2. Menentukan standar

Dilakukan untuk menentukan tingkat kualitas/kuantitas yang disepakati/ditetapkan menjadi patokan untuk tolok ukur yang ditetapkan, yaitu:

a. Standar penilaian untuk potensi ancaman bencana (hazard) adalah potensi di suatu wilayah untuk terjadi kejadian bencana/krisis kesehatan;

b. Standar untuk menilai kerentanan yaitu kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat baik sehingga mampu bertahan dari sisi kesehatan dalam menghadapi bahaya/ancaman; dan

c. Standar untuk menilai kapasitas adalah daerah dan masyarakat memiliki kemampuan untuk melakukan pengurangan tingkat ancaman dan tingkat kerugian bidang kesehatan akibat bencana. 3. Menentukan Indikator

Untuk mengetahui apakah standar dari ancaman (hazard), kerentanan dan kapasitas sudah tercapai/sudah terpenuhi atau belum, dengan rincian sebagai berikut:

a) Indikator untuk potensi ancaman bencana (hazard), antara lain : 1) Jenis ancaman bencana di wilayah tersebut; dan

2) Jumlah kejadian krisis kesehatan di wilayah tersebut dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2015 -2019)

b) Indikator untuk Kerentanan (vulnerability), antara lain :

1) Proporsi populasi rentan, terdiri dari bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia dan penyandang disabilitas;

2) Status kesejahteraan masyarakat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM); dan

(12)

3) Status kesehatan masyarakat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

c) Indikator untuk kapasitas (capacity) dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan terbagi dalam :

1) Kelembagaan Kebijakan antara lain : a) Kebijakan/Peraturan;

b) Struktur organisasi Penanggulangan Krisis Kesehatan; dan c) Keterlibatan institusi/lembaga non pemerintahan dalam

Penanggulangan Krisis Kesehatan. 2) Penguatan Kapasitas antara lain :

a) Fasilitas pelayanan kesehatan; b) Sumber daya manusia kesehatan;

c) Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan; dan d) Peningkatan kapasitas petugas.

3) Peringatan Dini antara lain :

a) Manajemen data dan informasi; dan b) Sistem peringatan dini.

4) Mitigasi antara lain :

a) Pemberdayaan masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan; dan

b) Kapasitas untuk memetakan risiko krisis kesehatan. 5) Kesiapsiagaan antara lain :

a) Rencana Penanggulangan Krisis Kesehatan b) Pembiayaan Penanggulangan Krisis Kesehatan; c) Sarana dan prasarana;

d) Penilaian Risiko e) Public Safety Center

4. Membuat Pertanyaan.

Dari indikator-indikator yang telah ditentukan dari tiap komponen

hazard, Kerentanan dan Kapasitas langkah selanjutnya adalah membuat pertanyaan-pertanyaan untuk masing-masing indikator tersebut. Misalnya untuk mengetahui kepemilikan tim Penanggulangan Krisis Kesehatan di dinas kesehatan dibuat pertanyaan: Apakah dinas kesehatan telah membentuk/memiliki tim Penanggulangan Krisis

(13)

Kesehatan? Bila sudah, jenis Tim apakah yang dimiliki? tim rapid health asessment, tim gerak cepat, atau tim bantuan kesehatan? B. Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota oleh Tim yang terdiri dari petugas dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Universitas dan WHO Indonesia di Provinsi tempat Kabupaten/Kota yang menjadi target. Pengambilan data dilakukan pada periode Bulan Februari – Juli 2019 di 54 kabupaten/kota rawan bencana di 12 provinsi yang telah ditetapkan untuk Tahun 2019.

Metode pengambilan data yaitu dengan :

1. Wawancara dengan responden yaitu pengelola program Penanggulangan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yaitu staf dan/ atau pejabat terkait. Dalam wawancara ini Tim Asistensi menanyakan secara langsung pertanyaan yang terdapat di dalam kuosioner. Data yang diperoleh berupa data/jawaban langsung dari responden disertai dokumen-dokumen pendukung seperti :

a. Peraturan Kepala Daerah/Kepala Dinas Kesehatan; b. Rencana Kontinjensi;

c. SK Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan;

d. SK Tim Penanggulangan Bencana Di Rumah Sakit; e. Dokumen Hospital Disaster Plan;

f. Data Kejadian Krisis Kesehatan 5 Tahun Terakhir; g. Data daftar kontak petugas;

h. Peta Rawan Bencana, dll

2. Kunjungan dalam rangka koordinasi dan advokasi ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, BPBD, Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten/Kota, dan Puskesmas. Kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten/ Kota dan Puskesmas yang terletak di daerah rawan bencana juga untuk menilai kesiapan Rumah Sakit dan Puskesmas dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan dari segi bangunan, Manajemen, Sumber Daya Manusia dan sarana prasarana.

(14)

3. Selain itu, untuk melengkapi pengambilan data di lapangan, dilakukan pengambilan data di situs-situs serta buku resmi pemerintahan yang resmi yaitu antara lain :

• http://bppsdmk.kemkes.go.id/info_sdmk/ • http://www.bankdata.depkes.go.id/puskesmas/ • www.depkes.go.id/resources/.../datadasar-puskesmas-tahun-2013. pdf • http://sirs.buk.depkes.go.id/rsonline/report/proyeksi_bor_kabkota. php?id=17prop • http://sirs.buk.depkes.go.id/rsonline/data_list.php • terbitan.litbang.depkes.go.id • www.bps.go.id • www.inarisk.bnpb.go.id • www.dibi.bnpb.go.id C. Input Data

Jawaban pertanyaan/data yang ada dalam kuosioner diinput/dimasukkan ke dalam Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK) yang dapat diakses di website www.pusatkrisis.kemkes.go.id/pemantauan. Pemasukan (input) data dilakukan pada periode bulan Februari–Juli 2019 oleh petugas asistensi/pengambil data masing-masing kabupaten/kota. Di dalam SIPKK tersebut telah tersedia form sesuai pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner untuk diisi dengan jawaban/data dari kuesioner tersebut. D. Pengolahan Data

Data yang telah diinput di dalam SIPKK selanjutnya akan diolah dalam Decision Support System (DSS) yang juga terdapat di dalam SIPKK. Hasil pengolahan data berupa nilai dari masing-masing indikator yang diolah dengan membandingkan jawaban/data kuosioner dengan standar masing-masing indikator.

E. Penyusunan Naskah Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan

Penyusunan naskah profil dilakukan dengan mendeskripsikan indikator-indikator penilaian risiko krisis kesehatan yang diperoleh dari hasil pengolahan data oleh Decision Support System (DSS). Kegiatan ini dibagi dalam 3 tahap/ kegiatan, yaitu : Penyusunan Draft 1, Penyusunan Draft 2 serta Finalisasi. Penyusunan Profil dilakukan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian

(15)

Kesehatan dengan turut melibatkan unit lintas program terkait di Kementerian Kesehatan dan melibatkan WHO Indonesia, Universitas serta LSM/NGO.

1.5. Definisi Operasional 1. Luas Wilayah

Luas Wilayah adalah sebuah daerah yang dikuasai atau menjadi teritorial dari sebuah kedaulatan (Negara/Provinsi/Kabupaten/Kota) dalam kilometer persegi (km2).

2. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk adalah jumlah manusia yang bertempat tinggal/ berdomisili pada suatu wilayah atau daerah dan memiliki mata pencaharian tetap di daerah itu serta tercatat secara sah berdasarkan peraturan yang berlaku di daerah tersebut. Pencatatan atau peng-kategorian seseorang sebagai penduduk biasanya berdasarkan usia yang telah ditetapkan.

3. Penduduk/Populasi Rentan

Kelompok penduduk yang dapat/lebih mudah mengalami dampak kesehatan apabila terkena kejadian bencana. Yang termasuk kelompok penduduk/populasi rentan dalam buku profil ini adalah Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Bayi (0-1 tahun), Balita (0-5 tahun), Lanjut Usia (di atas 55 tahun).

4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Status Kesejahteraan Masyarakat ditetapkan berdasarkan nilai IPM, yaitu :

a. Tinggi = Nilai IPM Lebih Dari Atau Sama Dengan 80 b. Menengah Atas = Nilai IPM 65 – 79

c. Menengah Bawah = Nilai IPM 50 - 64 d. Rendah = Nilai IPM < 50

(16)

5. Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) adalah kumpulan indikator kesehatan yang dapat dengan mudahdan langsung diukur untuk menggambarkan masalah kesehatan. Status Kesehatan Masyarakat ditetapkan berdasarkan nilai IPKM, yaitu :

a. Di atas Rata-rata = Nilai IPKM > 0.7270 b. Rata-rata = Nilai IPKM 0.6401 - 0.7270 c. Di bawah Rata-rata = Nilai IPKM < 0.6401 6. Krisis Kesehatan

Krisis Kesehatan adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam kesehatan individu atau masyarakat yang disebabkan oleh bencana dan/atau berpotensi bencana.

7. Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

8. Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi Krisis Kesehatan melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

9. Mitigasi Kesehatan

Mitigasi kesehatan adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko Krisis Kesehatan, baik melalui penyadaran dan peningkatan kemampuan sumber daya kesehatan maupun pembangunan fisik dalam menghadapi ancaman krisis kesehatan.

10. Peringatan Dini

Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. 11. Tanggap Darurat

Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak

(17)

buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

12. Ancaman Bencana (Hazard)

Ancaman bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.

13. Kapasitas adalah kemampuan daerah untuk melakukan tindakan pengurangan Tingkat Ancaman dan Tingkat Kerugian akibat bencana. Kategori kapasitas dihitung dari pencapaian indikator kapasitas yang terdiri dari 5 komponen kapasitas, yaitu kebijakan/peraturan, penguatan kapasitas, peringatan dini, mitigasi, dan kesiapsiagaan. Pengkategorian tingkatan kapasitas daerah ialah sebagai berikut: Rendah : pencapaian 1 % - 33 % dari seluruh indikator Sedang : pencapaian 34 % - 66 % dari seluruh indikator Tinggi : pencapaian 67 % - 100 % dari seluruh indikator 14. Rawan Bencana

Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.

15. Risiko Bencana

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.

16. Pemerintah Pusat

Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(18)

17. Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati/walikota, atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

18. Dana Siap Pakai (DSP)

Dana Siap Pakai adalah dana yang selalu tersedia dan dicadangkan oleh Pemerintah untuk digunakan pada status keadaan darurat bencana, yang dimulai dari status siaga darurat, tanggap darurat dan transisi darurat ke pemulihan.

19. Biaya Tak Terduga (BTT)

Biaya Tak Terduga adalah dana yang disediakan oleh Pemerintah yang sifatnya tidak biasa, bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksi sebelumnya, tidak diharapkan terjadi secara berulang, berada di luar kendali dan pengaruh Pemerintah Daerah dan memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat, sesuai dengan PP nomor 58 tahun 2005 tentang Keuangan Daerah.

20. Kesehatan

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

21. Sumber Daya Kesehatan

Sumber Daya Kesehatan adalah Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/ atau masyarakat.

22. Obat

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia.

(19)

23. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Penilaian ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dihitung dari Jumlah total Fasyankes/10.000 penduduk (Fasyankes = RS + Puskesmas perawatan + Puskesmas non perawatan + klinik swasta). Standar minimal yang dipakai adalah 1 Fasyankes/10.000 penduduk.

24. Puskesmas.

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Penilaian ketersediaan puskesmas dihitung dari jumlah total (Puskesmas perawatan + Puskesmas non perawatan) /50.000 penduduk. Standar minimal yang dipakai adalah 1 Puskesmas/50.000 penduduk.

25. Rumah Sakit

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Penilaian ketersediaan rumah sakit menggunakan standar minimal yaitu 1 Rumah Sakit/250.000 penduduk.

26. Puskesmas Perawatan

Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat Inap merupakan Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat, baik berupa tindakan operatif terbatas maupun rawat inap sementara. Sesuai Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.

27. Kapasitas Tempat Tidur

Kapasitas Tempat Tidur adalah jumlah tempat tidur untuk pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit. Penilaian kapasitas Tempat Tidur menggunakan standar 10 tempat tidur/10.000 penduduk.

(20)

28. Hospital Disaster Plan

Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) adalah perencanaan Rumah Sakit dalam menghadapi situasi darurat atau rencana kontingensi, yang dimaksudkan agar RS tetap bisa berfungsi terhadap pasien yang sudah ada sebelumnya. 29. Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan

Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan adalah sumber daya manusia kesehatan dan non kesehatan yang dimobilisasi apabila terjadi kejadian bencana.

30. Emergency Medical Team (EMT)/Tim Darurat Medis

EMT adalah kelompok profesional di bidang kesehatan yang melakukan pelayanan medis secara langsung kepada masyarakat yang terkena dampak bencana atau kegawatdaruratan sebagai tenaga kesehatan bantuan dalam mendukung sistem pelayanan kesehatan setempat. 31. Public Health Rapid Response Team (PHRRT)/Tim Respon Cepat

Kesehatan Masyarakat

PHRRT adalah kelompok tenaga kesehatan masyarakat yang bertugas merespon cepat kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak bencana atau keadaan darurat.

32. Dokter Spesialis

Dokter Spesialis adalah dokter yang mengkhususkan diri dalam suatu bidang ilmu kedokteran tertentu. Penilaian ketersediaan dokter spesialis berdasarkan standar Jumlah total dokter spesialis/100.000 penduduk. Dinyatakan kurang apabila jumlah dokter spesialis <10 /100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥ 10 / 100.000 penduduk.

33. Dokter Umum

Dokter Umum adalah tenaga medis yang diperkenankan untuk melakukan praktik medis tanpa harus spesifik memiliki spesialisasi tertentu, hal ini memungkinkannya untuk memeriksa masalah-masalah kesehatan pasien secara umum untuk segala usia. Penilaian ketersediaan dokter umum berdasarkan standar Jumlah total dokter umum/100.000 penduduk. Dinyatakan kurang apabila jumlah dokter umum <40/100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥ 40/100.000 penduduk.

(21)

34. Perawat

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan. Penilaian ketersediaan perawat berdasarkan standar Jumlah total perawat/100.000 penduduk. Dinyatakan kurang apabila jumlah perawat <158/100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥158/100.000 penduduk.

35. Bidan

Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan kebidanan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku dan diberi izin secara sah untuk melaksanakan praktek. Penilaian ketersediaan bidan berdasarkan standar Jumlah total bidan/100.000 penduduk. Dinyatakan kurang apabila jumlah bidan <100/100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥100/100.000 penduduk.

36. Rencana Kontinjensi

Rencana Kontinjensi adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontinjensi atau yang belum tentu tersebut. Suatu rencana kontinjensi mungkin tidak selalu pernah diaktifkan, jika keadaan yang diperkirakan tidak terjadi. 37. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan

Segala upaya fasilitasi yang bersifat musyawarah, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah krisis kesehatan yang dihadapi, potensi untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan yang dimiliki, merencanakan dan melakukan penyelesaiannya dengan memanfaatkan potensi masyarakat setempat.

38. Simulasi/Gladi Penanggulangan Krisis Kesehatan

Simulasi/Gladi Penanggulangan Krisis Kesehatan adalah tindakan atau proses meniru penampilan tertentu atau bentuk ; pemodelan dari serangkaian masalah atau peristiwa yang dapat digunakan untuk mengajarkan seseorang bagaimana melakukan sesuatu.

(22)

39. Table Top Exercise (TTX)

TTX adalah latihan meja atau gladi ruang, melibatkan personil kunci membahas skenario simulasi dalam suasana informal yang dirancang untuk menguji kemampuan teoritis dari suatu kelompok untuk menanggapi situasi tertentu.

40. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan.

41. Standard Operating Procedure (SOP)

SOP yaitu suatu set instruksi (perintah kerja) terperinci dan tertulis yang harus diikuti demi mencapai keseragaman dalam menjalankan suatu pekerjaan tertentu.

42. Relawan Penanggulangan Bencana

Relawan adalah orang yang menyediakan tenaga dan waktunya untuk membantu upaya penanggulangan bencana dengan tanggung-jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela/tanpa pamrih membantu tenaga profesional.

43. Memorandum of Understanding (MoU)

MoU atau nota kesepahaman, adalah sebuah dokumen legal yang menjelaskan persetujuan antara dua belah pihak.

44. Public Safety Center (PSC)

PSC adalah Pusat pelayanan terpadu yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegawatdaruratan, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat di manapun berada. Merupakan ujung tombak pelayanan yang bertujuan untuk mendapatkan respon cepat (quick response) terutama pelayanan pra Rumah Sakit.

(23)

Bab II

PROFIL PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

(24)

2.1 Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang terletak di Jl. Abdul Hamid Tigaraksa Tangerang, telepon 021-5990535 dan fax 021-5990534. Dinas Kesehatan Ka-bupaten Tangerang memiliki website yaitu http://dinkes.tangerangkab.go.id/. Responden pada kegiatan ini adalah H. Toha, SKM, M.Si (Kepala Seksi SIPK, 081385166711) dan Sri Suryani, S.Kep (Pelaksana SIPK, 081294517587).

2.2 Karakteristik Wilayah Kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang mempunyai luas wilayah 959.60 km2. Batas-batas wilayah

yaitu :

• Sebelah Utara : Laut Jawa,

• Sebelah Timur : Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan DKI Jakarta,

• Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor dan Lebak, • Sebelah Barat : Kabupaten Serang dan Lebak.

Kabupaten Tangerang terdiri dari 29 Kecamatan, yaitu Balaraja, Cikupa, Cisauk, Cisoka, Curug, Gunung Kaler, Jambe, Jayanti, Kelapa Dua, Kemiri, Kosambi, Kresek, Kronjo, Legok, Mauk, Mekar Baru, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan, Sepatan Timur, Sindang Jaya, Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga, Tigaraksa. Jumlah penduduk di Kabupaten Tangerang adalah 3.584.770 jiwa.

Akses komunikasi pada umumnya lancar. Alat komunikasi yang dapat digunakan yaitu telepon, HP, fax, internet, telepon satelit, radio komunikasi Akses transportasi relatif mudah yaitu melalui darat. Jenis alat transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai tiap kecamatan yaitu mobil, sepeda motor. Sedangkan alat transportasi untuk mencapai ibu kota provinsi meliputi mobil, sepeda motor. Jarak dari ibu kota kabupaten/kota ke ibu kota provinsi yaitu kurang lebih 53 km (waktu tempuhnya sekitar 1-2 jam). Sedangkan jarak dari ibu kota kabupaten/kota ke RS rujukan terdekat yaitu 15 km dengan waktu tempuh 30 menit.

2.3 Ancaman Bencana di Kabupaten Tangerang

Jenis Ancaman Bencana yang ada di Kabupaten Tangerang yaitu banjir, gempa bumi, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang/badai, tsunami,

(25)

kebakaran, kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, Kejadian Luar Biasa (KLB) - penyakit, gagal teknologi, Kejadian Luar Biasa (KLB) - keracunan, wabah penyakit (epidemi - pandemi), konflik sosial atau kerusuhan sosial, aksi teror dan sabotase Selama 5 tahun terakhir, krisis kesehatan yang pernah dialami adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) – Keracunan dan banjir.

2.4 Kerentanan di Kabupaten Tangerang

Populasi kelompok rentan di Kabupaten Tangerang yaitu 654.397 jiwa atau 18,25% dari seluruh populasi. Proporsi kelompok rentan tersebut termasuk cukup karena rata-rata bila dibandingkan proporsi kelompok rentan nasional. IPM termasuk Tinggi (Bagus) yaitu 72,82. IPKM termasuk Di Atas Rata-rata (Bagus) yaitu 0,7561.

2.5 Kapasitas Kabupaten Tangerang

Dari 55 indikator kapasitas, sebanyak 21 indikator telah dipenuhi oleh Kabupaten Tangerang. Nilai tersebut termasuk Kategori Sedang. Rinciannya sebagai berikut :

Tabel 2.1

Rincian Penilaian Kapasitas

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 1. Kebijakan/Peraturan a. Kebijakan/Peraturan 1. Peraturan yang dibuat pemerintah kabupaten terkait penanggulangan bencana/Krisis Kesehatan

Tidak Ada Ada

2. Peraturan Kadinkes terkait penanggulangan bencana/Krisis Kesehatan Ada Ada

(26)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 3. Tersedia/SOP Mekanisme Koordinasi Terkait PKK

Tidak Ada Ada

b. Struktur Organisasi Penanggulangan Krisis Kesehatan 4. Pelaksanaan pertemuan koordinasi klaster kesehatan Sewaktu-waktu saja, bila terjadi bencana/ ada hal yang

penting Rutin, tidak hanya kalau terjadi bencana 5. Unit di Dinas Kesehatan yang memiliki tugas mengkoor-dinasikan upaya Penanggulangan Krisis Kesehatan Ada Ada 6. SK Klaster Kesehatan Kabupaten/Kota Ada Ada

c. Keterlibatan Institusi/Lembaga Non Pemerintahan dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan 7. Dinas Kesehatan telah mengidentifikasi institusi/lembaga non pemerintahan yang dilibatkan dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Sudah Sudah

(27)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 8. Dinas Kesehatan pernah mengadakan MoU dengan LSM/Instansi/ lembaga non pemerintah dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan Tidak Ya 2. Penguatan Kapasitas

a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan 9. Jumlah total seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan 1.119 Fasyan-kes/ 10.000 penduduk 1 Fasyan-kes/ 10.000 penduduk Sumber : a. Global Health Cluster Suggested Set Of Core Indicators And Benchmarks By Category (IASC) www. who.int b. Sphere handbook 2011 10. Jumlah Puskesmas 0.614 Puskes-mas/ 50.000 penduduk 1 Puskes-mas/ 50.000 penduduk 11. Jumlah Rumah Sakit 1.743 RS/250.000 penduduk 1 RS/ 250.000 penduduk 12. Kapasitas tempat tidur di RS 7.724 TT/ 10.000 penduduk 10 TT/ 10.000 penduduk

(28)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 13. Proporsi RS di Kab/Kota yang telah memiliki Tim Tanggap Darurat Bencana RS 2 dari 26 RS membentuk Tim Tanggap Darurat Bencana Tiap RS memben-tuk Tim Tanggap Darurat Bencana untuk membuat dan melak-sanakan manaje-men penang-gulangan Bencana Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 69 Tahun 2014 tentang Kewajiban RS dan Kewajiban Pasien 14. Dinkes memiliki Program yang berke-sinambungan untuk implementasi fasilitas pelayanan kesehatan aman bencana Tidak Memiliki Memiliki 15. Penilaian risiko fasyankes terhadap berbagai ancaman yang terjadi di wilayah tersebut Belum Ada Sama Sekali Ya, sebagian/ seluruh fasyankes telah dilakukan penilaian risiko

(29)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi b. Sumber Daya Manusia

16. Jumlah dokter spesialis 16.71 dokter spesi alis/ 100.000 pddk ≥10 dokter spesialis/ 100.000 pddk Peraturan Menteri Koordinator Kesejahteraan rakyat Nomor 54 Tahun 2013 tentang Rencana Pengem-bangan Tenaga Kesehatan tahun 2011-2025 17. Jumlah dokter umum 9.819 dokter umum/ 100.000 pddk ≥40 dokter umum/ 100.000 pddk 18. Jumlah bidan 35.567 bidan/ 100.000 pddk ≥100 bidan/ 100.000 pddk 19. Jumlah Perawat 68.345 perawat/ 100.000 pddk ≥158 perawat/ 100.000 pddk 20. Ketenagaan pada unit yang mengkoordinir upaya Penanggulangan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan 2 Orang S1 Kesehatan dan Orang S1 Non Kesehatan Minimal 2 orang S1 (minimal salah satunya S1 kese-hatan) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81 Tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan SDM Kesehatan di Tingkat Prov, Kabupaten/ Kota serta Rumah Sakit 21. Kepemilikan Tim RHA Tidak Memiliki Memiliki

(30)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 22. Kepemilikan Tim Penyelidikan Epidemiologi Memiliki Memiliki 23. Kepemilikan Tim Reaksi Cepat/ Tim Gerak Cepat/ Emergency Medical Team & PHRRT Memiliki Memiliki 24. Dinkes Kab/Kota telah memetakan/ mengidentifikasi tenagakesehatan yang siap untuk dimobilisasi pada saat bencana

Belum sama

sekali Sudah

c. Penanggulangan Krisis Kesehatan 25. SOP mekanisme

mobilisasi tim PKK

Tidak Ada Ada 26. Memiliki petugas yang terlatih manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan Memiliki Memiliki 27. Memiliki petugas yang terlatih teknis medis Penanggulangan Krisis Kesehatan Memiliki Memiliki 28. Memiliki petugas yang terlatih teknis non medis Penanggulangan Krisis Kesehatan

(31)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 29. Perencanaan peningkatan kapasitas SDM terkait PKK yang rutin dan berke-sinambungan Tidak Memiliki Memiliki 3. Peringatan Dini 30. Sistem Peringatan Dini Ya, sebagian/ seluruh ancaman bencana sudah ada sistem peringatan dininya Ya, sebagian/ seluruh ancaman bencana sudah ada sistem peringatan dininya 4. Mitigasi

a. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan 31. Fasilitasi kepada masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Tidak Melakukan Melaku-kan

b. Kapasitas untuk Memetakan Risiko Krisis Kesehatan 32. Peta/pemetaan kapasitas atau data kapasitas sumber daya yang dapat digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Tidak Memiliki Memiliki

(32)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 33. Peta/pemetaan kelompok rentan per kecamatan di kabupaten/kota Tidak Memiliki Memiliki 34. Peta/pemetaan jenis ancaman bencana per kecamatan di kabupaten/kota Tidak Memiliki Memiliki

a. Anggaran Pengurangan Risiko Bencana

35. Dinas Kesehatan mengalokasikan anggaran kegiatan pengurangan risiko Krisis Kesehatan Ya Ya b. Sistem Informasi 36. Data kejadian Krisis Kesehatan 5 tahun terakhir Ada Ada 37. Daftar kontak person lintas program dan lintas sektor terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana baik di tingkat Kabupaten maupun Provinsi

(33)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 38. Media informasi yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat untuk untuk meningkatkan kesadaran dalam kesiapsiagaan bencana

Tidak Ada Ada,

yaitu... 39. Sarana pengumpulan, pengolahan data dan penyampaian informasi terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Ada, yaitu Telepon, Laptop, Komputer, Internet Ada, yaitu... 40. Sistem pemantauan 24 jam

Tidak Ada Ada 5. Kesiapsiagaan

a. Rencana Penanggulangan Krisis Kesehatan dan standard operating procedure 41. Dinas Kesehatan menyusun rencana kontijensi bidang kesehatan Ada, yaitu Renkon renkon banjir, 2018, pusat krisis kesehatan Ada, yaitu Renkon... 42. Dinas Kesehatan melakukan TTX, Simulasi, Geladi Bencana Bidang Kesehatan berdasarkan rencana kontinjensi yang disusun Tidak Melakukan Melaku-kan

(34)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 43. SOP Penanganan Korban Bencana di Lapangan Tidak Memiliki Memiliki 44. SOP Pengelolaan

Obat dan Logistik Kesehatan Bencana. Tidak Memiliki Memiliki 45. SOP Pengelolaan Bantuan Relawan Tidak Memiliki Memiliki 46. SOP Pemantauan Kejadian Krisis Kesehatan Tidak Memiliki Memiliki 47. SOP Pelaporan Kejadian Krisis Kesehatan Tidak Memiliki Memiliki 48. SOP Sistem Rujukan Pada Kondisi Bencana Tidak Memiliki Memiliki 49. SOP Pelayanan Kesehatan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Tidak Memiliki Memiliki b. Pembiayaan Tanggap Darurat

50. Dinas Kesehatan memahami Dana Tak Terduga di BPBD Ya Ya 51. Dinas Kesehatan memahami DSP di BNPB Ya Ya c. Sarana Prasarana PKK 52. Sarana prasarana Penanggulangan Krisis Kesehatan Tidak Memiliki Memiliki

(35)

No Indikator Pencapaian Kriteria/ Standar Sesuai Standar Kurang dari Standar Keterangan/ Referensi 53. Penyediaan sarana prasarana telah menyesuaikan dengan jenis ancaman bencana di wilayahnya Tidak Ya 54. Sarana prasarana

telah mencukupi Tidak Ya

d. Public Safety Center

55. Pemerintah memiliki PSC 24 jam

(36)

3.1 Kesimpulan

a. Ancaman bencana di Kabupaten tangerang adalah banjir, gempa bumi, kekeringan, angin puting beliung, gelombang pasang/badai, tsunami, kebakaran, kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, Kejadian Luar Biasa (KLB) - Penyakit, gagal teknologi, Kejadian Luar Biasa (KLB) – keracunan, wabah penyakit (epidemi - pandemi), konflik sosial atau kerusuhan sosial, aksi teror dan sabotase.

b. Tidak ada kerentanan yang bermasalah.

c. Kapasitas Kabupaten Tangerang yaitu 38,18%, termasuk kategori Sedang dengan rincian :

Tabel 3.1.

Rekapitulasi Penilaian Indikator Kapasitas

No. Indikator Kapasitas Jumlah Indikator Sesuai Standar/Sudah Tersedia/Sudah Ada/ Sudah Melakukan

Kurang dari Standar/ Tidak Tersedia/Belum Ada/Belum Melakukan 1 Kebijakan/ Peraturan 8 4 4 2 Penguatan Kapasitas 21 9 12 3 Peringatan Dini 1 1 0 4 Mitigasi 10 3 7 5 Kesiapsiagaan 15 4 11 Jumlah 55 21 34 3.2 Rekomendasi

Berdasarkan penilaian asistensi di atas, ada beberapa rekomendasi yang per-lu ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Untuk melak-sanakan rekomendasi di atas, berikut adalah usulan pelaksanaan kegiatannya dalam tiga tahun ke depan.

Bab III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

(37)

Tabel 3.2.

Rekomendasi Peningkatan Kapasitas Kabupaten Tangerang Berdasarkan Tahun Kegiatan

NO Kegiatan Tahun

2020 2021 2022 1

Dinkes mengadvokasi pemerintah kabupaten/kota untuk membuat peraturan terkait penanggulangan bencana/ krisis kesehatan pada klaster kesehatan

√ √ √

2

Mensosialisasikan peraturan kadinkes terkait

penanggulangan bencana/krisis kesehatan pada klaster kesehatan

√ √ √

3 Menyusun SOP Mekanisme Koordinasi Terkait

Penanggulangan Krisis Kesehatan √ √ 4 Melakukan koordinasi klaster kesehatan secara rutin √ √ √ 5

Unit penanggung jawab Penanggulangan Krisis Kesehatan merencanakan program kegiatan upaya pengurangan risiko bencana

√ √ √

6

Menindaklanjuti SK klaster kesehatan yang ada dengan mengimplentasikan kegiatan Penanggulangan Krisis Kesehatan melalui sistem klaster

7

Melaksanakan koordinasi secara berkesinambungan dengan melibatkan institusi/lembaga non pemerintahan yang telah teridentifikasi dalam sistim klaster kesehatan

√ √ √

8 Membuat MoU dengan LSM/Instansi/lembaga non

pemerintah dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan √ 9 Advokasi dengan pemangku kepentingan untuk

ketersediaan jumlah Puskesmas sesuai standar √ √ 10

Advokasi dengan pemangku kepentingan untuk ketersediaan ketersediaan jumlah tempat tidur sesuai dengan kebutuhan

√ √

11

Melakukan pendataan RS di kab/kota yang telah miliki tim tanggap darurat bencana RS dan mengadvokasi untuk pembentukan tim tanggap darurat bencana di RS

√ √

12 Membuat program untuk implementasi fasyankes aman

bencana di wilayah kab/kota √

13

Mendorong/memfasilitasi fasyankes untuk melakukan penilaian risiko fasyankes terhadap berbagai ancaman yang terjadi di wilayah tersebut

(38)

NO Kegiatan Tahun 2020 2021 2022 14 Advokasi dengan pemangku kepentingan untuk

ketersediaan jumlah dokter umum sesuai standar √ 15 Advokasi dengan pemangku kepentingan untuk

ketersediaan jumlah bidan sesuai standar √ 16 Advokasi dengan pemangku kepentingan untuk

ketersediaan jumlah perawat sesuai standar √ 17 Membentuk Tim RHA melalui SK Kadinkes √

18 Melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas Tim

Penyelidikan Epidemiologi √

19 Melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas TRC/

TGC/EMT/PHHRT √ √

20 Melakukan pendataan dan pemetaan tenaga kesehatan

yang siap untuk dimobilisasi pada saat bencana √ √ 21 Membuat SOP terkait mekanisme mobilisasi tim

Penanggulangan Krisis Kesehatan √ 22

Melibatkan tenaga kesehatan yang telah terlatih manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan dalam upaya peningkatan kapasitas di kabupaten/kota

√ √ √

23

Melibatkan tenaga kesehatan yang telah terlatih teknis medis Penanggulangan Krisis Kesehatan dalam upaya peningkatan kapasitas di kabupaten/kota

√ √ √

24

Melibatkan tenaga kesehatan yang telah terlatih teknis non medis Penanggulangan Krisis Kesehatan dalam upaya peningkatan kapasitas di kabupaten/kota

√ √ √

25 Menyusun perencanaan program peningkatan kapasitas SDM terkait PKK yang rutin dan berkesinambungan √ 26 Mengadvokasi pihak-pihak terkait untuk membuat sistem

peringatan dini pada seluruh ancaman bencana √ √ √

27

Melakukan fasilitasi kepada masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan dengan koordinasi dari dinas kesehatan provinsi, dengan kegiatan minimal yaitu :

1) Sosialisasi Penanggulangan Krisis Kesehatan 2) Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support)

(39)

NO Kegiatan Tahun 2020 2021 2022 28

Membuat peta/pemetaan kapasitas atau data kapasitas sumber daya yang dapat digunakan untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan

√ 29 Membuat peta/pemetaan kelompok rentan per

kecamatan di kabupaten/kota √ 30 Membuat peta/pemetaan jenis ancaman bencana per

kecamatan di kabupaten/kota √ 31 Menggunakan alokasi anggaran pada kegiatan

pengurangan risiko krisis kesehatan √ √ 32 Menggunakan data kejadian krisis untuk perencanaan

program PRB √ √ √

33

Membuat daftar kontak person lintas program dan lintas sektor terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan akibat bencana baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi

34

Membuat media informasi yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat untuk untuk meningkatkan kesadaran dalam kesiapsiagaan bencana

√ √

35 Melakukan pemantauan dan menyampaikan informasi

terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan √ √ 36 Membuat sistem pemantauan 24 jam √ 37

Melakukan TTX, simulasi untuk uji coba renkon dan mengevaluasi rencana kontijensi bidang kesehatan berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota

√ √

38 Melakukan TTX, simulasi, geladi bencana bidang

kesehatan berdasarkan rencana kontinjensi yang disusun √ √ 39 Membuat SOP Penanganan Korban Bencana di Lapangan √

40 Membuat SOP Pengelolaan Obat dan Logistik Kesehatan

Bencana √

41 Membuat SOP Pengelolaan Bantuan Relawan √ 42 Membuat SOP Pemantauan Kejadian Krisis Kesehatan √ 43 Membuat SOP Pelaporan Kejadian Krisis Kesehatan √ 44 Membuat SOP Sistem Rujukan Pada Kondisi Bencana √ 45 Membuat SOP Pelayanan Kesehatan Untuk

(40)

NO Kegiatan Tahun 2020 2021 2022 46 Mensosialisasikan tentang penggunaan biaya tak terduga

di BPBD pada klaster kesehatan √ √ √ 47 Mensosialisasikan tentang penggunaan dana siap pakai

di BNPB pada klaster kesehatan √ √ √ 48

Merencanakan dan menetapkan kebijakan untuk penyediaan sarana prasarana Penanggulangan Krisis Kesehatan

49

Melengkapi sarana prasarana Penanggulangan Krisis Kesehatan sesuai cengan jenis ancaman bencana di wilayahnya

√ 50 Melakukan pendataan dan penilaian sarana prasarana

apakah telah mencukupi atau belum √ √ 51 Melakukan evaluasi PSC untuk peningkatan mutu

pelayanan √ √ √

Kesimpulan Hasil Rekomendasi:

1. Pada tahun pertama, Kabupaten Tangerang harus melakukan perencanaan program, pemetaan dan identifikasi meliputi ancaman dan kerentanan serta kapasitas, membuat kebijakan terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan. 2. Pada tahun kedua, membuat SOP dan mekanisme penanganan krisis

kesehatan, merumuskan tim RHA dan memperkuat kapasitas terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan.

3. Pada tahun ketiga, mendorong Kabupaten Tangerang untuk melakukan advokasi, melengkapi kapasitas pendukung, membuat system pemantauan dan menjalin memperkuat kerjasama dan jejaring dengan Lintas Sektor dalam hal mitigasi dan kesiapsiagaan.

4. Secara berkesinambungan, melaksanakan sosialisasi, koordinasi, dan advokasi terkait pengurangan risiko bencana serta dokumentasi terkait kejadian krisis kesehatan.

(41)

an : I. UMUM 1. Dinas Kesehatan : 2. Alamat (lengkap) : 3. Telepon : 4. Fax : 5. Website : 6. Email : 7. Responden : 1. Nama : Jabatan : No Hp : 2. Nama : Jabatan : No Hp :

II. GAMBARAN UMUM DAN AKSESIBILITAS WILAYAH

A. LUAS WILAYAH DAN JUMLAH PENDUDUK

1. Luas wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk kabupaten/kota dan kecamatan, jumlah dan kepadatan penduduk di kabupaten/ kota No Kode Wilayah URAIAN LUAS WILAYAH (m2) JUMLAH PENDUDUK TOPOGRAFI 1 Kabupaten/Kota 2 Kecamatan 3 4 5

__________________________________________

KUESIONER

DATA DALAM RANGKA KAJIAN KRISIS KESEHATAN

DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA

(42)

2. Batas wilayah : - Utara : - Selatan : - Barat : - Timur :

3. Jumlah Populasi Kelompok Rentan (balita, bumil, buteki, lansia dan penyandang disabilitas) ...

NO Kode

Wilayah URAIAN

JUMLAH POPULASI RENTAN

BAYI BALITA Ibu

Hamil Ibu Menyusui Lansia Penyandang Disabilitas 1 Kabupaten/ Kota 2 Kecamatan 3 4 5

4. Nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) kabupaten/kota …….. 5. Nilai IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat)

kabupaten/kota

B. AKSES KOMUNIKASI

6. Bagaimana akses komunikasi di Kabupaten? a. Lancar; b. Sulit; c. Tidak tentu.

Deskripsikan masing-masing jawaban

7. Alat komunikasi apa saja yang dapat digunakan? Telepon HP Fax Internet Telepon Satelit Radio Komunikasi

8. Bagaimana akses komunikasi ke Ibu kota Provinsi? a. Lancar; b. Sulit; c. Tidak tentu.

(43)

9. Apakah ada kerjasama antara Dinas Kesehatan dengan RAPI/ORARI dan masyarakat dalam hal pemanfaatan Radio Komunikasi? Bila ya mohon FC SK/surat kesepakatan kerja sama.

C. AKSES TRANSPORTASI

10. Bagaimana akses transportasi ke kecamatan dan Ibu kota Provinsi? (Mudah/Sulit)

Melalui: (Jawaban boleh lebih dari satu) Darat

Sungai Laut Udara

11. Jenis alat transportasi apa saja yang dapat digunakan untuk mencapai tiap kecamatan?(Jawaban boleh lebih dari satu)

Mobil Sepeda Motor Perahu Kapal Laut Pesawat Lainnya, Sebutkan ……….

12. Jenis alat transportasi apa saja yang dapat digunakan untuk mencapai Ibu kota Provinsi? (Jawaban boleh lebih dari satu)

Mobil Sepeda Motor Perahu Kapal Laut Pesawat Lainnya, sebutkan………..

13. Waktu tempuh dari Ibu kota Kabupaten/Kota Ibu Kota Provinsi………….

14. Jarak yang ditempuh dari Ibu Kota kabupaten/kota ke Ibu kota provinsi? (Dalam km)

(44)

15. Berapa jarak dan waktu tempuh dari Ibu kota Kabupaten ke Rumah Sakit Rujukan terdekat? (Dalam km)

III. KRISIS KESEHATAN

16. Jenis ancaman bencana di wilayah ini? (Jawaban boleh lebih dari satu)

Gempa Bumi Tsunami

Kebakaran Hutan dan Lahan Kegagalan Teknologi

Kekeringan Banjir

Banjir Bandang Erupsi Gunung Api Tanah Longsor Konflik Sosial

Angin Puting Beliung Kebakaran

Kecelakaan Transportasi Kecelakaan Industri KLB Keracunan KLB Penyakit

Aksi Teror dan sabotase

Gelombang ekstrim dan Abrasi Lainnya, sebutkan : ……… IV. FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN

17. Nama dan Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan?

NO JENIS FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN JUMLAH 1 Rumah Sakit

2 Puskesmas Perawatan 3 Puskesmas Non Perawatan 4 Klinik Swasta

(45)

18. Nama RS, jumlah Tempat Tidur dan BOR di tiap Rumah Sakit? No Nama RS TIPE RS Kapasitas Tempat Tidur Apakah sudah memiliki Hospital Disaster Plan/ Perencanaan Penanggulangan Bencana? BOR Apakah memiliki Tim Penang­ gulangan Bencana? (tunjukkan SK) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

V. SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN

19. Data ketenagaan pada unit yang mengkoordinir upaya Penanggulangan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan.

No Tingkat Pendidikan Jumlah

(1) (2) (3) 1. S2 Kesehatan 2. S2 non Kesehatan 3. S1/D4 Kesehatan 4. S1/D4 non Kesehatan 5. D3 Kesehatan 6. D3 non Kesehatan 7. SLTA Kesehatan 8. SLTA Umum 9. SLTP 10. SD 11. ...

20. Data jumlah tenaga Kesehatan di seluruh fasyankes di kabupaten/kota

NO JENIS SDM KESEHATAN JUMLAH 1 Dokter Spesialis

2 Dokter Umum 3 Perawat 4 Bidan

(46)

VI. KERANGKA HUKUM, MEKANISME KOORDINASI DAN STRUKTUR ORGANISASI TERKAIT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

A. KEBIJAKAN/PERATURAN TERKAIT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

21. a. Apakah Pemerintah Daerah pernah membuat Perda/SK Bupati terkait penanggulangan bencana/krisis kesehatan?

b. Bila ada, mohon disebutkan nomor, tahun dan judul Peraturan Daerah tersebut

22. a. Apakah Dinas Kesehatan pernah membuat kebijakan/peraturan terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan?

b. Bila ada, mohon disebutkan nomor, tahun dan judul Peraturan Dinkes tersebut

B. STRUKTUR ORGANISASI PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

23. a. Apakah Dinas Kesehatan memiliki unit kerja yang memiliki tupoksi sebagai koordinator dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan?

b. Bila “TIDAK” terletak di struktur, siapakah pelaksana koordinator Penanggulangan Krisis Kesehatan?

24. Apakah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota telah membentuk klaster kesehatan di wilayahnya? Bila “YA” agar menunjukkan SK Klaster Kesehatan. Bila “BELUM”, mengapa?

C. MEKANISME KOORDINASI PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

25. Pelaksanaan pertemuan koordinasi klaster kesehatan : Rutin, tidak hanya kalau terjadi bencana

Sewaktu-waktu saja, bila terjadi bencana/ada hal yang penting

26. Unit apa saja yang terlibat dalam pertemuan koordinasi tersebut?

(Jawaban boleh lebih dari satu) BPBD

Lintas program di Dinkes/koordinator sub-sub klaster kesehatan

Lintas sektor anggota klaster bencana LSM

(47)

Perguruan Tinggi Masyarakat Lembaga Usaha

Lainnya, sebutkan………

VII. KEPEMILIKAN TIM PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

27. Apakah Kab/Kota telah memiliki tim Penanggulangan Krisis Kesehatan? Bila tidak, mengapa?

28. Bila memiliki, Tim apa sajakah yang tersedia : (Jawaban boleh lebih dari satu)

Tim RHA

Tim Penyelidikan Epidemiologi

Tim Gerak Cepat (TGC) / Emergency Medical Team (EMT) dan

Public Health Rapid Response Team (PHRRT)

29. Apakah pembentukan tim tersebut telah ditetapkan dengan SK Kadinkes/Direktur RS/Bupati? Bila ya, mohon fotokopi SK. 30. Apakah tersedia SOP mekanisme mobilisasi Tim Gerak Cepat/

EMT dan PHRRT dan Tim RHA? Bila “TIDAK”, mengapa? Bila “YA” : Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu)

Jenis tenaga tiap tim

Waktu mobilisasi setelah kejadian bencana (a. 1 - 24 jam, b. 1 - 72 jam, c. lain-lain sebutkan……)

Mekanisme mobilisasi

Lainnya, sebutkan ………..

31. Apabila setiap Puskesmas telah memiliki tim medis untuk kedaruratan (Emergency Medical Team)? Bila ya, mohon disampaikan SK pembentukan Tim.

32. Apakah Dinkes Kabupaten/Kota telah memetakan/ mengidentifikasi ketersediaan tenaga-tenaga kesehatan yang siap untuk dimobilisasi pada saat bencana?

Ya, sudah ada data di seluruh fasyankes di wilayah kabupaten/ kota

Ya, sudah ada data di sebagian fasyankes, karena... Belum sama sekali, karena...

(48)

VIII. RENCANA PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

33. Apakah Dinas Kesehatan telah menyusun Rencana Kontinjensi Bidang Kesehatan? Bila TIDAK, Mengapa?

Bila jawaban “TIDAK”, maka lanjut pada pertanyaan No. 37. Bila jawaban “YA”, lanjut pada pertanyaan No. 34 – 36 berikut : 34. Apa judul dan tahun pembuatan rencana kontinjensi tersebut

dan sumber pembiayaan untuk penyusunannya?

35. Apakah rencana kontinjensi ini telah menjadi bagian dari perencanaan BPBD kab/kota?

36. Apakah Rencana Kontinjensi yang telah disusun : Sudah ditandatangani Bupati

Sudah ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan Masih sebatas Draft

(Mintakan soft copy atau hard copy dokumen rencana kontinjensi). 37. Apakah Dinas Kesehatan telah melakukan TTX, Simulasi, Gladi

Bencana Bidang Kesehatan berdasarkan rencana kontinjensi yang disusun? Bila ya, berapa kali dalam 5 tahun dan siapa penyelenggaranya?

38. Apakah dilakukan evaluasi setelah pelaksanaan gladi? Bila “TIDAK”, mengapa? Bila “YA, Apakah dilakukan revisi rencana kontinjensi setelah dievaluasi?

IX. STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) TERKAIT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

39. a. Apakah tersedia SOP mekanisme koordinasi terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan?

b. Bila “YA”, apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu)

mekanisme koordinasi pra krisis kesehatan mekanisme koordinasi saat krisis

mekanisme koordinasi pasca krisis kesehatan

c. Bila “TIDAK”, bagaimana pelaksanaan koordinasi dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan yang pernah dilakukan selama ini?

40. a. Apakah tersedia SOP Penanganan Korban Bencana di Lapangan?

(49)

b. Bila YA : Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu)

Jenis tenaga

Kompetensi tenaga

Struktur Organisasi (Penanggung Jawab) Tata laksana penanganan korban

Lainnya, sebutkan……….

c. Bila TIDAK, bagaimana mekanisme penanganan korban bencana di lapangan yang dilakukan selama ini

41. a. Apakah tersedia SOP Pengelolaan obat dan logistik kesehatan? b. Bila YA : Apakah SOP tersebut memuat : (jawaban boleh

lebih dari satu) Jenis tenaga

Kompetensi tenaga

Struktur Organisasi (Penanggung Jawab) Jenis obat dan logistik kesehatan

Mekanisme mobilisasi Alur permintaan kebutuhan Lainnya, sebutkan………

c. Bila “ TIDAK”, bagaimana mekanisme pengelolaan obat dan logistik kesehatan yang dilakukan selama ini?

42. a. Apakah tersedia SOP pengelolaan bantuan relawan?

b. Bila “YA”, Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu)

jenis relawan

kompetensi relawan jumlah relawan

CP yang harus dihubungi lainnya, sebutkan……….

c. Bila “TIDAK”, bagaimana mekanisme mobilisasi bantuan relawan yang dilakukan selama ini?

43. a. Apakah tersedia SOP pemantauan kejadian krisis kesehatan? b. Bila YA : Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh

lebih dari satu)

(50)

Struktur Organisasi (Penanggung Jawab) Jenis dan kompetensi petugas

Alat komunikasi yang digunakan (HP, televisi, telepon, fax, telepon satelit, internet, dll)

Lainnya, sebutkan………

c. Bila jawaban nomor 43 TIDAK, bagaimana mekanisme pelaksanaan pemantauan kejadian krisis kesehatan yang dilakukan selama ini?

44. a. Apakah tersedia SOP Pelaporan Kejadian Krisis Kesehatan? b. Bila “YA” : Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh

lebih dari satu)

Alur pelaporan berjenjang dari Dinkes Kab - Dinkes Prov - Kemenkes

Format pelaporan sesuai peraturan yang berlaku Struktur organisasi (Penanggung jawab)

Alat pengolah data yang digunakan (laptop, komputer, internet, dll), media penyebaran informasi (website, buletin, laporan, dll)

Lainnya, sebutkan …………..

c. Bila “TIDAK”, bagaimana mekanisme pelaporan kejadian krisis kesehatan yang dilakukan selama ini?

45. a. Apakah tersedia SOP sistem rujukan (pra RS – RS) apabila terjadi bencana dengan korban massal?

b. Bila “YA” : Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu)

Daftar RS Rujukan

Sarana prasarana/ambulans Jenis dan Kompetensi SDM Waktu tiba di lokasi kejadian Waktu rujukan

Jejaring antar RS

Call center

Lainnya, sebutkan ………

c. Bila “TIDAK”, bagaimana mekanisme sistem rujukan pada kejadian krisis kesehatan yang dilakukan selama ini?

(51)

46. a. Apakah tersedia SOP Pelayanan Kesehatan untuk penanggulangan krisis kesehatan?

b. Bila “YA”, apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu)

pelayanan kesehatan dasar pelayanan gizi kesehatan reproduksi kesehatan jiwa kesehatan lingkungan promosi kesehatan surveilans lainnya, sebutkan ……….

c. Bila “TIDAK”, bagaimana mekanisme pelayanan kesehatan pada kejadian krisis kesehatan yang dilakukan selama ini? X. PEMBIAYAAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

A. ANGGARAN PENGURANGAN RISIKO KRISIS KESEHATAN

47. a. Apakah Dinas Kesehatan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan pengurangan risiko krisis Kesehatan?

b. Bila “YA”, untuk program/kegiatan pengurangan risiko kesehatan apa saja anggaran tersebut digunakan? (Jawaban boleh lebih dari satu)

Peningkatan kapasitas petugas Sosialisasi dan advokasi kebijakan Penyusunan SOP/Pedoman/Juklak Gladi/Simulasi

Pengadaan sarana prasarana Pengadaan alat kesehatan Pengadaan obat

Lainnya, sebutkan………. c. Bila TIDAK, mengapa?

B. ANGGARAN SAAT TANGGAP DARURAT

48. Apakah Dinkes menerima DAK? Bila “ YA”, apakah digunakan untuk upaya pengurangan risiko krisis kesehatan?

(52)

49. Apakah Dinas Kesehatan telah mengetahui adanya Dana Siap Pakai (DSP) di BNPB dan Data Tak Terduga (DTT) BPBD yang dapat digunakan untuk penanganan masa tanggap darurat?

Memahami DSP Memahami DTT

XI. KETERLIBATAN INSTITUSI/LEMBAGA NON PEMERINTAHAN DALAM PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

50. Apakah Dinas Kesehatan telah mengidentifikasi institusi/ lembaga non pemerintahan yang dilibatkan dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan?

51. Apakah Dinas Kesehatan pernah mengadakan MoU dengan LSM/Intansi/Lembaga Non Pemerintah dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan? Bila Ya, Institusi/lembaga apa dan terkait kegiatan apa?

XII. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

52. a. Apakah Dinas Kesehatan/Puskesmas telah melakukan fasilitasi kepada masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan? b. Bila “YA” :

Dalam bentuk apakah kegiatan fasilitasi pemberdayaan masyarakat tersebut dilakukan? (Jawaban boleh lebih dari satu)

Analisa Risiko krisis kesehatan akibat Bencana Penyusunan Perencanaan Masyarakat dalam PKK Sosialisasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Pelatihan/Peningkatan Kapasitas terkait PKK

Table Top Exercise (TTX)

Simulasi/Gladi Penanggulangan Krisis Kesehatan Lainnya, sebutkan………..

Unsur/elemen masyarakat apa saja yang dilibatkan? (Jawaban boleh lebih dari satu)

(53)

Pramuka Pelajar Mahasiswa Ibu- ibu PKK Kader posyandu Lainnya, sebutkan……….. c. Bila “TIDAK”, mengapa?

XIII. PENINGKATAN KAPASITAS PETUGAS PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

53. Apakah Dinas Kesehatan memiliki petugas yang terlatih terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan?

NO UNIT

JUMLAH TENAGA KESEHATAN YANG PERNAH DILATIH JUMLAH Manajemen PKK Teknis Medis Teknis Non Medis 1 2

Bila TIDAK, mengapa?

54. Apakah Dinkes memiliki perencanaan peningkatan kapasitas SDM terkait PKK yang rutin dan berkesinambungan? Bila “YA”, apa saja program untuk melakukan hal tersebut?Bila “TIDAK”, Mengapa?

XIV. MANAJEMEN DATA DAN INFORMASI PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN (PRA, SAAT DAN PASCA)

55. Apakah tersedia data kejadian krisis kesehatan 5 tahun terakhir? 56. Data yang tersedia disimpan dalam bentuk apa? (Jawaban bisa

lebih dari satu)

Hard copy Soft copy Cloud

57. Apakah tersedia daftar kontak person lintas program dan lintas sektor terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun Provinsi?

(54)

Ya (lampirkan fotocopy atau softcopy data kontak personnya)

Tidak , alasannya... 58. Apakah tersedia media informasi yang dapat diakses oleh

seluruh masyarakat untuk untuk meningkatkan kesadaran dalam kesiapsiagaan bencana?

Bila Ya, dalam bentuk apa? (Jawaban boleh lebih dari satu) Website Buletin Buku Poster Leaflet Lainnya, sebutkan ………….

59. Apakah tersedia sarana pengumpulan, pengolahan data dan penyampaian informasi terkait penanggulangan krisis kesehatan? Berupa apa? (Jawaban boleh lebih dari satu)

Telepon Fax HP Telepon satelit Radio komunikasi Laptop Komputer Internet Lainnya, sebutkan………

60. Apakah Dinkes Kab/Kota sudah memiliki Sistem Pemantauan Krisis Kesehatan 24 jam?

XV. KAPASITAS UNTUK MEMETAKAN RISIKO KRISIS KESEHATAN

61. Apakah Dinas Kesehatan memiliki peta/pemetaan kapasitas atau data kapasitas sumber daya yang dapat digunakan untuk penanggulangan krisis kesehatan? (SDM, Sarana Prasarana) 62. Apakah Dinas Kesehatan memiliki peta/pemetaan kelompok

Referensi

Dokumen terkait

Analisis perbandingan brand loyalty minimarket Indomaret dan minimarket Alfamart dapat diketahui tidak memiliki perbedaan yang secara signifikan, bagaimana konsumen

Di zaman ini, Allah Ta’ala telah memberikan tanggung jawab kepada jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) agar mengamalkan secara hakiki perintah Allah Ta’ala ini dan senantiasa

Belum ada tanggal pasti yang diberikan, tetapi tampaknya Godzilla akan hadir di game Fall Guys mulai pekan

80% dari pelanggan kami adalah surau, masjid dan bangunan yang punya masalah audio visual.. Dan kami selesaikan

Dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, jurnal ini digunakan oleh fungsi akuntansi untuk mencatat harga pokok produk yang dijual...

Penggunaan garabarata dan tangga statis dapat digantikan dengan menggunakan esakalator portable, dimana eskalator tersebut dapat berpindah tempat dan memiliki sebuah sistem

Dari lima variabel yang diteliti hanya satu yang tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kehandalan (reliability) dengan kepuasan pasien di Instalasi Radiologi

Berdasarkan uraian dari berbagai teori dan hasil-hasil penelitian yang mendukung penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model