• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 OBJEK PENELITIAN. merupakan penggabungan dari tiga unit kantor sebelumnya yaitu Kantor Pelayanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 3 OBJEK PENELITIAN. merupakan penggabungan dari tiga unit kantor sebelumnya yaitu Kantor Pelayanan"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

43 BAB 3

OBJEK PENELITIAN 3.1 Latar Belakang Objek Penelitian

3.1.1 Sejarah KPP Pratama Serpong

Penelitian dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Serpong yang merupakan penggabungan dari tiga unit kantor sebelumnya yaitu Kantor Pelayanan Pajak, Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak, dan Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. KPP Pratama Serpong yang dahulu bernama KPP Serpong yang berdiri tahun 1994, berkedudukan di Jalan Raya Serpong Blok 405 No.4 Sektor VIII/BSD, Tanggerang 15310. KPP Pratama Serpong sebagai salah satu ujung tombak pelayanan prima kepada Wajib Pajak di wilayah Kanwil DJP Banten sebagaimana telah menjadi komitmen Direktorat Jenderal Pajak.

Berdasarkan peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

55/PMK.01/2007, pada tanggal 31 Mei 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang bertujuan untuk menerapkan struktur organisasi baru guna mendukung dan meningkatkan efektifitas dan efisiensi sistem administrasi perpajakan. Implementasi dari proses ini dilakukan dengan modernisasi Kantor Wilayah DJP Banten dan mendirikan kantor pelayanan pajak modern dengan nama Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serpong.

Modernisasi administrasi perpajakan berorientasi pada menciptakan pelayanan yang prima dan pengawasan yang lebih baik kepada Wajib Pajak guna melaksanakan Good Govenance. Dengan orientasi tersebut diharapkan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serpong mampu mewujudkan tujuannya untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak didalam memenuhi kewaiban perpajakannya,

(2)

44 meningkatkan kepercayaan Wajib Pajak terhadap administrasi perpajakan dan meningkatkan produktivitas pegawai pajak itu sendiri.

Dengan administrasi yang baru Kantor Pelayanan Pajak Pratama sebagai ujung tombak pelayanan kepada Wajib Pajak mampu menjalankan fungsinya sebagai penyuluhan, pelayanan, sekaligus pembina yang melakukan pengawasan kepada Wajib Pajaknya, sehingga mampu mewujudkan komunikasi yang lebih baik antara DJP dan Wajib Pajak, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak.

3.1.2 Visi, Misi, Motto KPP Pratama Serpong a. Visi Direktorat Jenderal Pajak

Menjadi Institusi pemerintah yang menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme tinggi.

b. Misi Direktorat Jenderal Pajak

Menghimpun penerimaan pajak negara berdasarkan Undang-Undang Perpajakan yang mampu mewujudkan kemandirian pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui sistem administrasi perpajakan yang efektif dan efisien.

c. Motto KPP Pratama Serpong

Mewujudkan masyarakat sadar dan peduli pajak.

(3)

45 3.1.3 Struktur Organisasi KPP Pratama Serpong

Gambar 3.1

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. KPP Pratama Serpong mempunyai susunan dan tugas organisasi masing-masing adalah sebagai berikut :

1. Sub Bagian Umum

Melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha dan rumah tangga.

2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi

Melaksanakan pengumpulan, pencarian, dan pengelohan data, pengamatan potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi e- SPT dan e-Filing, serta penyiapan laporan kinerja.

3. Seksi Pelayanan

Melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan

(4)

46 pengelolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, pelaksanaan ektensifikasi serta melakukan kerjasama perpajakan.

4. Seksi Pengawasan dan Konsultasi

Melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan bagi Wajib Pajak, penyusunan profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, melakukan rekonsilasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, serta melakukan evaluasi hasil banding.

5. Seksi Pemeriksaan

Menyusun rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, menerbitkan dan menyalurkan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak, serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya.

6. Seksi Penagihan

Melakukan urusan piutang pajak penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan piutang pajak serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

7. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan

Melaksanakan urusan pengamatan potensi perpajakan, pendataan Objek dan Subjek Pajak, dan penilaian Objek Pajak dalam rangka ekstensifikasi.

8. Kelompok Jabatan Fungsional

Melakukan pemeriksaan pajak. yang meliputi:

a. Pemeriksaan Lengkap b. Pemeriksaan Sederhana,dan

c. Pemeriksaan dalam rangka penagihan

(5)

47 3.1.4 Wilayah Kerja KPP Pratama Serpong

Wilayah kerja Kantor Pelayanan Pratama Serpong menepati area tanah seluas 2000 m2 dan gedung seluas 3.743 m2, terdiri atas dua lantai. Berdasarkan Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 55/PMK.01./2007 tanggal 31 Mei 2007 memiliki wilayah kerja meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Pondok Aren 2. Kecamatan Pamulang 3. Kecamatan Serpong 4. Kecamatan Ciputat

Seiring dengan adanya pemekaran wilayah Kabupaten Tanggerang berdampak terhadap wilayah kerja KPP Pratama Serpong dari 4 kecamatan menjadi 7 kecamatan yaitu:

1. Kecamatan Serpong 2. Kecamatan Serpong Utara 3. Kecamatan Ciputat 4. Kecamatan Setu

5. Kecamatan Ciputat Timur 6. Kecamatan Pamulang 7. Kecamatan Pondok Aren

(6)

48 Gambar 3.2

Peta Wilayah Kerja KPP Pratama Serpong

Tabel 3.1

Data Kependudukan Wilayah KPP Pratama Serpong

No. Nama Kelurahan

Luas Wilayah

(km)

Jumlah KK

Non Miskin

Jumlah Penduduk

WPOP

1 Serpong 2,402 46.135 43.905 159.278 27.774 2 Serpong Utara 1.782 44.231 42.940 141.155 27.504 3 Pondok Aren 2,982 84.102 80.706 331.662 53.662 4 Ciputat 1,832 58.219 55.018 222.583 33.290 5 Ciputat Timur 1,542 53.678 51.347 202.652 33.435 6 Pamulang 2,682 91.699 85.989 353.889 56.635 7 Setu 1,482 21.012 19.123 75.060 5.786 Total 14,72 399.076 379.028 1.486.279 238.086 Sumber Monografi Fiskal 2012

Berdasarkan data monografi fiskal pada tahun 2012 tersebut, luas wilayah yang dibawahi KPP Pratama Serpong cukup luas dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Dengan banyak jumlah penduduk tersebut dapat diindikasikan ada banyak Wajib Pajak potensial yang mungkin saja belum terdaftar. Hal ini hendaknya

(7)

49 menjadi perhatian bagi pelaksana kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak untuk melaksanakan kegiatan ekstensifikasi diwilayah yang dibawahi KPP Pratama Serpong

3.1.5 Tugas dan Fungsi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Serpong Tugas KPP Pratama yang termasuk didalamnya KPP Pratama Serpong yaitu melaksanakan penyuluhan, pelayanan, dan pengawasan Wajib Pajak dibidang Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Tidak Langsung Lainnya, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dalam wilayah wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam melaksanakan tugas diatas, KPP Pratama termasuk KPP Pratama Serpong menyelenggarakan fungsi yaitu :

a) Pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, pengamatan potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, serta penilaian Objek Pajak Bumi dan Bangunan,

b) Penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan,

c) Pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya,

d) Penyuluhan perpajakan,

e) Pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, f) Pelaksanaan ekstensifikasi,

g) Penatausahaan piutang pajak dan pelaksanaan penagihan pajak, h) Pelaksanaan pemeriksaan pajak,

i) Pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak,

(8)

50 j) Pelaksanaan konsultasi perpajakan,

k) Pelaksanaan intensifikasi, l) Pembetulan ketetapan pajak,

m) Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan

n) Pelaksanaan administrasi kantor.

3.1.6 Sistem Administrasi Perpajakan Modern

Penerapan sistem administrasi perpajakan modern akan membawa konsekuensi terjadinya perubahan yang mendasar baik menyangkut aspek strukur organisasi maupun implementasi pelayanan kepada Wajib Pajak. Struktur organisasi yang baru dirancang berdasarkan fungsi, bukan perjenis pajak lagi. Selain itu struktur organisasi yang baru ini relatif lebih ramping mengingat fungsi pemeriksaan, yang selama ini dilaksanakan oleh baik Kantor Pelayanan Pajak (KPP) maupun oleh Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karikpa), dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) saja.

Perbaikan mutu pelayanan yang berkesinambungan yang diberikan kepada Wajib Pajak merupakan satu hal yang mutlak harus dilakukan. Untuk menjembatani antara KPP dengan Wajib Pajak serta pengoptimalan fungsi bimbingan, konsultasi dan pembinaan kepada Wajib Pajak maka ditunjuk Account Representative (AR).

AR adalah pegawai yang ditunjuk sebagai liaison officer antara KPP dengan Wajib Pajak yang bertanggung jawab dan berwenang untuk memberikan pelayanan secara langsung, edukasi, asistensi serta mendorong dan mengawasi pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak.

(9)

51 Berbagai fasilitas kemudahan dan kenyamanan pelayanan kepada Wajib Pajak diberikan dengan memanfaatkan perkembangan dan kemajuan Teknologi Informasi. Berbagai fasilitas tersebut antara lain Website, Call Centre, Complaint Centre, e-filling, e-SPT, One-Line Payment dan sebagainya. Untuk memudahkan pelayanan dan pengawasan terhadap Wajib Pajak serta meningkatkan produktivitas aparat, kantor ini akan didukung sepenuhnya oleh sistem administrasi yang berbasis komputer.

Dalam rangka menjamin terwujudnya profesionalisme dan objektifitas kinerja pemeriksaan hanya dilakukan oleh KPP saja, kecuali pemeriksaan bukti pemulaan dan keberatan akan dilaksanakan oleh Kanwil DJP Banten. Dengan demikian terjadi pemisahan fungsi kerja yang sangat mendasar antara unit yang melakukan fungsi pemeriksaan dan/atau penetapan dengan unit yang melakukan fungsi penyelesaian keberatan.

Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menjalankan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Kanwil DJP Banten beserta unit-unit dibawahnya menerapkan perangkat dan sistem untuk mendukung terciptanya Good Governance. Perangkat yang tersedia yaitu kode etik, kerjasama dengan Inspektorat Jenderal Departemen keuangan untuk meningkatkan intensitas dan efektifitas pengawasan, konsolidasi internal secara berkesinambungan. Disamping itu pegawai yang ditempatkan dilingkungan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serpong telah memenuhi standar atau kualifikasi terntentu berdasarkan beberapa tahapan seleksi yang dilakukan secara ketat.

(10)

52 3.2 Gambaran Seksi Ekstensifikasi di KPP Pratama Serpong

Kegiatan esktensifikasi perpajakan yang dilaksanakan oleh KPP Pratama Serpong melalui Seksi Ekstensifikasi mempunyai sumber daya manusia yang berjumlah

a) Kepala Seksi Ekstensifikasi terdiri dari 1 orang b) Fungsional Penilai terdiri dari 1 orang

c) Pelaksana Seksi terdiri dari 4 orang

Tugas seksi ekstensifikasi perpajakan yang dilaksanakan oleh KPP Pratama Serpong yaitu :

1. Pemprosesan dan penatausahaan dokumen masuk di seksi ekstensifikasi perpajakan.

2. Pendaftaran objek pajak baru dengan penelitian kantor.

3. Pendaftaran objek pajak baru dengan penelitian lapangan.

4. Penerbitan surat himbauan untuk ber-NPWP.

5. Pencarian data dari pihak ketiga dalam rangka pembentukan dan pemuktahiran bank data perpajakan.

6. Pencarian data potensi perpajakan dalam rangka pembuatan monografi fiskal.

7. Pelaksanaan penilaian objek PBB.

8. Pembentukan/Penyempurnaan ZNT/NIR.

9. Penyelesaian mutasi seluruhnya objek dan subyek pajak PBB.

10. Penyelesaian mutasi sebagaian objek dan subjek pajak PBB.

11. Penyelesaian pemohonan penundaan pengembalian SPOP.

12. Penerbitan daftar norminatif untuk usulan SP3 PSL Ekstensifikasi.

(11)

53 Tugas dari Seksi Ekstensifikasi itu sendiri yaitu untuk membantu tugas kepala kantor mengkoordinasikan pelaksanaan dan penata usahaan pengamatan potensi perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, penilaian objek pajak dan kegiatan ekstensifikasi perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Maka dari itu ekstensifikasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam sistem perpajakan. Keberhasilan ekstensifikasi akan menentukan keberhasilan kinerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam mengamankan penerimaan baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Oleh karena itu program ekstensifikasi di KPP Pratama Serpong harus dilaksanakan dengan intensif dan didukung dengan sumber daya kompeten, yang mempunyai integritas tinggi, sistem yang baik, mudah dan memadai, prosedur yang jelas dan transparan, sarana prasarana lain yang menunjang kegiatan ekstensifikasi.

3.2.1 Ruang Lingkup Kegiatan Ekstensifikasi Pajak di KPP Pratama Serpong

Peningkatan penerimaan pajak memegang peranan strategis karena akan meningkatkan kemandirian pembiayaan pemerintah. Berbagai kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak terus digulirkan. Salah satu langkah yang dilakukan dalam meningkatkan penerimaan pajak, yakni melalui program ekstensifikasi Wajib Pajak yang merupakan upaya untuk meningkatkan penerimaan pajak dengan cara meningkatkan jumlah Wajib Pajak terdaftar.

Pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak yang diatur dalam Surat Edaran Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.9/2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Wajib Pajak dan Intensifikasi Pajak, yang dimaksud dengan ekstensifikasi adalah kegiatan yang berkaitan dengan penambahan jumlah Wajib Pajak terdaftar dan perluasaan objek pajak dalam administrasi DJP. Ruang lingkup kegiatan

(12)

54 ektensifikasi Wajib Pajak yang dilaksanakan oleh KPP Pratama Serpong ini menitik beratkan pada kesadaran dan peningkatan jumlah Wajib Pajak yang dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan jumlah NPWP ( Nomor Pokok Wajib Pajak) kepada Wajib Pajak Orang Pribadi yang berstatus karyawan serta orang pribadi yang memiliki kegiatan usaha ataupun yang bertempat tinggal dilokasi perumahan dan pemberian NPWP kepada Wajib Pajak Orang Pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan melebihi batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak di wilayah KPP Pratama Serpong ini dirasakan cukup berpotensi untuk menjaring lebih banyak lagi sumber- sumber penerimaan pajak karena berada didalam suatu kawasan yang cukup strategis dimana berada diwilayah perkantoran, perumahan, pusat perbelanjaan ataupun ruko- ruko dan pula berada didalam wilayah yang cukup padat penduduk.

Kegiatan ekstensifikasi yang dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Serpong melalui Seksi Ekstensifikasi Perpajakan. Tugas Seksi Ekstensifikasi Perpajakan adalah melakukan pengamatan potensi perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak dan penilaian objek pajak dalam rangka ekstensifikasi. Dasar peraturan yang dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Serpong memfokuskan pada:

a. PER-16/PJ/2007 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Orang Pribadi yang berstatus sebagai pengurus, komisaris, pemegang saham/

pemilik dan pegawai melalui pemberi kerja/bendaharawan pemerintah.

b. PER-116/PJ/2007 tentang Ekstensifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi melalui pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan.

(13)

55 Dengan menjalankan kegiatan ekstensifikasi yang maksimal yang mengacu pada peraturan-peraturan yang ada diharapkan semakin banyak Wajib Pajak yang terdaftar dan memiliki NPWP dengan begitu lebih banyak pelung untuk meningkatkan penerimaan pajak.

3.2.2 Unit Organisasi KPP Pratama Serpong

Dalam melakukan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Serpong memiliki prosedur yang harus dilakukan terkait upaya ekstensifikasi tersebut dimana prosedur ini didasarkan pada Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-06/PJ.9/2001 mengenai pelaksanaan ekstensifikasi Wajib Pajak dan intensifikasi pajak. Unit organisasi yang melaksanakan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak adalah :

1. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) serta Kantor Penyuluhan Pajak yang berada diluar kota kedudukan KPP.

2. Dalam hal kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak dan intensifikasi pajak dimaksudkan untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, Kepala KPP dapat menunjuk petugas pada seksi PPh, seksi PPN dan pajak tidak langsung lainnya di KPP untuk diperbantukan pada seksi PDI dan atau Kantor Penyuluhan Pajak.

3. Khusus untuk pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak dan intensifikasi pajak dalam tahun 2001, dilakukan oleh Tim atau Satuan Tugas yang dikoordinir oleh Kepala KPP dengan pengarahan dan pengawasan oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) DJP.

(14)

56 Petugas pelaksana yang melaksanakan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak dan intensifikasi pajak adalah Petugas yang memenuhi kualifikasi sebagai pelaksana kegiatan ekstensifikasi wajib pajak dan intensifikasi pajak, meliputi:

1. Petugas yang ditunjuk oleh Kepala KPP.

2. Petugas Kantor Penyuluhan Pajak yang ditunjuk oleh Kepala KPP.

3. Petugas lain yang ditunjuk oleh Kakanwil DJP.

3.3 Pelaksnaan Kegiatan Ekstensifikasi Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serpong

Sesuai dengan tujuan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak yaitu untuk menambah jumlah Wajib Pajak, maka perioritas utama kegiatan ekstensifkasi ditunjuk untuk menambah jumah Wajib Pajak terdaftar. Sistem dan prosedur ekstensifikasi Wajib Pajak yang dilaksanakan oleh KPP mengacu dan berpedoman pada 2 (dua) aturan pelaksanaan ekstensifikasi Wajib Pajak yaitu PER-16/PJ/2007 dan PER-116/PJ/2007. Sasaran utama kedua Peraturan Direktorat Jenderal Pajak ini adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang berstatus sebagai karyawan dan non karyawan (pengusaha dan pemilik tempat usaha di pusat perdagangan dan atau pertokoan) mengenai kewajiban memiliki NPWP. Berikut ini penulis akan menjelaskan program-program ekstensifikasi yang telah dilaksnakan oleh KPP Pratama Serpong.

3.3.1 Program Kegiatan PER-16/PJ/2007

Program ekstensifikasi Wajib Pajak yang dilakukan KPP Pratama Serpong yaitu mengacu pada peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-16/PJ/2007 yang berisi tentang pemberian nomor pokok wajib pajak orang pribadi yang berstatus sebagai pengurus, komisaris, pemegang saham/pemilik dan pegawai melalui pemberi

(15)

57 kerja/bendaharawan pemerintah. Pelaksanaan ekstensifikasi melalui pemberi kerja dilakukan dengan cara melakukan himbauan atau dengan memberikan surat pemberitahuan kepada setiap perusahaan yang terletak di wilayah kerja KPP Pratama Serpong untuk membuat Daftar Nominatif atau dengan melakukan pengisian e- NPWP. Dari daftar nominatif dan melalui pengisian e-NPWP yang dibuat oleh perusahaan dapat dilihat potensi Wajib Pajak baru, yaitu para karyawan yang memiliki penghasilan diatas PTKP tetapi belum ber-NPWP. Maka terhadap karyawan yang sudah memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak tetapi belum memiliki NPWP, maka secara otomatis dibuatkan NPWP oleh KPP Pratama Serpong.

Pelaksanaan kegiatan ekstensfikasi Wajib Pajak berdarsarkan PER- 16/PJ/2007 yang dilaksanakan oleh KPP Pratama Serpong telah diukur dari pencapaian hasil penambahan jumlah NPWP baru dibandingkan dengan target yang ditetapkan. Berikut adalah daftar target dan realisasi penambahan NPWP baru selama tahun 2010-2012:

Tabel 3.2

Target dan Realisasi Hasil Kegiatan Ekstensifikasi PER-16/PJ/2007

Tahun 2010-2012

Tahun Rencana Realisasi Persentase

2010 9.000 10.061 112%

2011 6.000 6.560 109%

2012 4.500 4.726 105%

Sumber seksi ekstensifikasi KPP Pratama Serpong

(16)

58 Grafik 3.1

Hasil Pelaksanaan Kegiatan PER-16/PJ/2007

Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak berdasarkan kegiatan PER-16/PJ/2007 yang dilaksankan oleh KPP Pratama Serpong pada tahun 2010 sampai 2012 telah berhasil dijalankan.

Hal ini terlihat dari tercapainya target penambahan jumlah Wajib Pajak baru bahkan jumlahnya melebihi target yang ditetapkan.

3.3.2 Program PER-116/PJ/2007

Dalam pelaksanaan PER-116/PJ./2007 KPP Pratama Serpong melakukan upaya dalam pembentukan basis data yaitu dengan kegiatan pendataan seluruh objek PPB di wilayah kerja KPP Pratama Serpong. Pembentukan basis data ini bertujuan untuk menentukan lokasi ekstensifikai dan jumlah Objek Pajak yang akan diekstensifikasi dilakukan melalui penentuan property base yaitu dengan melihat besaran NJOP berdasarkan unit tempat usaha, perumahan dan unit apartmen. NJOP atas kepemilikan objek PBB untuk perumahan dan tempat usaha yang menjadi sasaran ekstensifikasi Wajib Pajak adalah untuk bumi dan bangunan paling rendah Rp300.000.000,00 sedangkan untuk bangunan paling rendah Rp700.000,00 per m2. Adapun untuk apartemen ditetapkan NJOP bumi dan bangunan paling rendah Rp150.000.00,00

(17)

59 Proses ekstensifikasi WP OP ini dimulai dari tahap perencanaan dengan pembuatan rencana kerja kegiatan. Rencana kerja ini dibuat berdasarkan data intern yang dimiliki oleh KPP serta dapat berasal dari instansi lain seperti Ijin Membangun Bangunan (IMB) dan Laporan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Berdasarkan data tersebut dilakukan penentuan potensi pajak yang direncanakan dapat digali yang dituangkan dalam rencana kerja kegiatan. Dalam proses pelaksanaan lapangan ini terkait tidak hanya dari petugas pajak tapi juga terkait dengan masyarakat sebagai Wajib Pajak. Petugas menyampaikan formulir SPOP, LSPOP dan LPOP yang harus diisi dan dikembalikan oleh Wajib Pajak. Oleh karena itu petugas dan Wajib Pajak mempunyai peran dalam kelancaran dan pengoptimalan kegiatan ekstensifikasi pada tahap ini.

Pelaksanaan kegiatan ekstensfikasi Wajib Pajak berdarsarkan PER- 116/PJ/2007 yang dilaksanakan oleh KPP Pratama Serpong telah diukur dari pencapaian hasil penambahan jumlah NPWP baru dibandingkan dengan target yang ditetapkan. Berikut adalah daftar target dan realisasi penambahan NPWP baru selama tahun 2010-2012:

Tabel 3.3

Target dan Realisasi Hasil Kegiatan Ekstensifikasi PER-116/PJ/2007

Tahun 2010-2012

Tahun Rencana Realisasi Persentase

2010 1.500 714 48%

2011 650 425 65%

2012 - - -

Sumber seksi ekstensifikasi KPP Pratama Serpong

(18)

60 Grafik 3.2

Hasil Pelaksanaan Kegiatan PER-116/PJ/2007

Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa kegiatan esktensifikasi Wajib Pajak berdasarkan kegiatan PER-116/PJ/2007 yang dilakukan oleh KPP Pratama Serpong pada tahun 2010 sampai 2012 belum mencapai target yang ditetapkan, hasilnya belum maksimal. Hal ini disebabkan penetapan target untuk kegiatan PER- 116/PJ/2007 terlalu tinggi, dan ternyata sebagian besar objek PBB sudah terdata oleh KPP Pratama Serpong pada tahun sebelumnya.

3.4 Hambatan atau Kendala dalam Pelaksanaan Ekstensifikasi Wajib Pajak di KPP Pratama Serpong

Dalam kenyataan atau prakteknya dilapangan seksi ekstensifikasi menemukan banyak kesulitan atau hambatan dalam melaksanakan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak maupun yang berhubungan dengan data yang dipergunakan. Adapun permasalahan-permasalahan yang dijumpai oleh seksi Ekstensifikasi Wajib Pajak adalah sebagai berikut :

1. Terbatasnya Sumber Daya Manusia 2. Data Tidak Lengkap

3. Rendahnya tingkat kesadaran Wajib Pajak

(19)

61 4. Kurangnya kerja sama pihak ketiga

3.5 Upaya untuk mengatasi Hambatan atau Kendala dalam Pelaksanaan Ekstensifikasi Wajib Pajak di KPP Pratama Serpong

Dalam menghadapi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan ekstensifikasi wajib pajak, beberapa upaya yang dilakukan KPP Pratama Serpong:

1. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia.

2. Menggalangkan penyuluhan ataupun sosialisasi mengenai pajak.

3. Melakukan kerjasama dengan pihak ketiga.

4. Memperluas sumber data mencari informasi sebanyak-banyaknya.

3.6 Desain Penelitian

3.6.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, yakni berupa ungkapan, kata-kata, dan kalimat. Selanjutnya sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Data Primer

Merupakan sumber-sumber data yang memberikan data secara langsung dari tangan pertama, maksudnya data diperoleh dari lapangan baik melalui pengamatan maupun wawancara, termasuk ke dalam data ini adalah objek dari hasil penelitian, dalam penelitian ini sumber data primer diperoleh dari wawancara dengan pegawai KPP Pratama Serpong, khususnya seksi Ekstensifikasi dan seksi PDI.

2. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah diolah dan diperoleh langsung dari objek penelitian. Data sekunder bisa diperoleh

(20)

62 dengan cepat dan mudah karena sudah tersedia, misalnya di perpustakaan, di internet, dan data dari KPP Pratama Serpong.

3.6.2 Metode Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data yang dilakukan:

1. Teknik Dokumentasi yaitu dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan data yang berhubungan dengan objek penelitian.

2. Teknik Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan cara komunikasi langsung dengan pihak-pihak yang ada hubungannya dengan objek penelitian yaitu dengan pegawai KPP Pratama Serpong, khususnya seksi Ekstensifikasi dan seksi PDI.

3. Studi Kepustakaan yaitu mencari dan menelah landasan teori dengan menggunakan buku wajib dan buku pendukung dari topik yang dibahas, buku tentang peraturan – peraturan perpajakan yang relevan dengan penelitian, serta dokumen lain yang dapat mendukung kelengkapan data yang diperlukan dalam objek penelitian ini.

3.6.3 Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini metode analisis data yang penulis pakai adalah metode analisis data kualitatif. Lalu menggunakan metode analisis deskriptif yakni dengan melihat data jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi dari tahun yang satu ketahun yang lainnya. Serta memberikan gambaran mengenai pengaruh kegiatan ekstensifikasi pajak terhadap peningkatan penerimaan Wajib Pajak Orang Pribadi yang dilakukan di KPP Pratama Serpong sehingga dapat diketahui hasil dari kegiatan ekstensifikasi melalui penyuluhan, penyisiran, kerjasama dengan instansi apakah ada pengaruh

(21)

63 terhadap jumlah wajib pajak terdaftar di KPP yang ditinjau. Dengan menggunakan metode deskriptif maka peneliti dapat menggambarkan dan menganalisa menganalisis, dan menginterprestasikan data yang diperoleh untuk memberikan gamabaran yang jelas dan akurat dari perumusan objek penelitian.

3.6.4 Metode Penyajian Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan penyajian data dengan menggunakan bagan atau gambar,tabel, dan grafik disertai dengan penjelasannya agar mudah dipahami dan dimengerti. Bagan atau gambar ini dibuat untuk menjelaskan hubungan pekerjaan yang satu dengan yang lain, dan juga untuk menggambarkan secara visual susunan dan struktur yang ada pada instansi tersebut.

Sedangkan penyajian data dengan menggunakan tabel merupakan penyajian yang banyak digunakan untuk menampilkan hasil penelitian, karena lebih efisien dan cukup mudah untuk dipahami. Tabel merupakan daftar yang berisi sejumlah besar data informasi yang biasanya berupa kata-kata atau bilangan yang disusun secara bersistem urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas. Selain tabel, penyajian data dalam penelitian ini juga ditampilkan dengan menggunakan gambar dan grafik, agar lebih mudah untuk dipahami.

Referensi

Dokumen terkait

• Investment bankers are in touch with potential foreign investors and know what they currently require, and can also help navigate the numerous institutional and. regulatory

Berdasar temuan pada penelitian deskripsi level kemampuan siswa SMP dengan kepribadian introvert berdasarkan taksonomi SOLO, peneliti berharap guru dapat menggunakan

Dalam penelitian ini terdapat variabel dependen, variabel independen, dan variabel kontrol.Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat pembayaran dividen tunai

Dari Tabel 4.3, dapat disimpulkan bahwa  pada kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal sedang, peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang

jasa pemeliharaan dan perawatan kenda it. Lantas Polda NTB tahun anggaran 201 elang Ulang) metode pascakualifikasi mela ) versi 4.1.1 untuk paket pengadaan sebaga. rjaan :

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan bimbingan karir di Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah 3 Banjarmasin meliputi faktor guru Bimbingan dan Konseling,

Subjek dari penelitian ini terdiri dari tiga orang, dengan rentang usia 18-24 tahun, aktif menggunakan Path, dan tergabung ke dalam satu kelompok pertemanan

Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dan memberikan dorongan semangat selama penulis menyelesaikan tugas