BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penyembuhan Luka Post Sectio Caesaria 1. Pengertian Luka Sectio Caesaria
a. Pengertian Sectio Caesaria
Sectio Caesaria secara umum adalah operasi yang dilakukan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dengan membuka dinding perut dan uterus (Wiknjosastro, 2005).
b. Luka
Luka adalah gangguan dalam kontinuitas sel-sel kemudian diikuti dengan penyembuhan luka yang merupakan pemulihan kontinuitas tersebut (Brunner dan Suddart, 2001). Pengertian luka sectio caesaria adalah gangguan dalam kontinuitas sel akibat dari pembedahan yang dilakukan untuk mengeluarkan janin dan plasenta, dengan membuka dinding perut dengan indikasi tertentu.
2. Klasifikasi Jenis Luka Sectio Caesaria
Menurut Wiknjosastro (2005), luka Sectio Caesaria dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Sectio Caesaria Transperitonealis Profunda
Merupakan pembedahan yang paling banyak dilakukan dengan insisi di segmen bawah uterus. Keunggulan pembedahan ini adalah perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak. Bahaya peritonitis tidak
besar. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya rupture uteri dikemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri, sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
b. Sectio Caesaria Klasik atau Sectio Caesaria Corporal
Merupakan pembuatan insisi pada bagian tengah korpus uteri sepanjang 10-12 cm dengan ujung bawah di atas batas plika vesiko uterine. Insisi ini dibuat hanya diselenggarakan apabila ada halangan untuk melakukan sectio caesaria transperitonealis profunda (misalnya melekat eratnya uterus pada dinding perut karena Sectio Caesaria yang dahulu, insisi di segmen bawah uterus mengandung bahaya perdarahan banyak berhubungan dengan letaknya plasenta pada plasenta previa).
Kekurangan pembedahan ini disebabkan oleh lebih besarnya bahaya peritonitis, dan kira-kira 4 kali lebih bahaya rupture uteri pada kehamilan yang akan datang. Sesudah Sectio Caesaria klasik sebaiknya dilakukan sterilisasi atau histerektomi.
c. Sectio Caesaria Ekstraperitoneal
Sectio Caesaria ini dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi puerperal, akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap infeksi, pembedahan Sectio Caesaria ini sekarang tidak banyak lagi dilakukan.
Pembedahan tersebut sulit dalam tehniknya.
3. Penyulit yang Biasa Terjadi pada Tindakan Operasi Sectio Caesaria Menurut Wiknyosastro (2005), penyulit yang biasa terjadi pada tindakan Operasi Sectio Caesaria antara lain :
a. Pada Ibu
1) Infeksi Purperalis
Pasien yang mengalami sectio caesaria karena plasenta previa karena perdarahan dan karena ketuban pecah dini resikonya lebih besar dari pada pasien yang mengalami sectio caesaria elektif.
2) Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteri uterina ikut terbuka atau karena uterina uteri.
3) Komplikasi-komplikasi lain, seperti luka kandung kemih, embolisme paru, komplikasi ini jarang terjadi.
4) Suatu komplikasi baru yang tampak kemudian, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya terjadi rupture uteri.
b. Pada Anak
Nasib anak yang dilahirkan dengan Sectio Caesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk medan sering kali terjadi peritoneum tidak dapat dihindarkan.
4. Komplikasi Luka a. Hematoma
Balutan dilihat terhadap perdarahan (hemoragi) pada interval yang sering selama 24 jam setelah pembedahan. Setiap perdarahan dalam jumlah yang tidak semestinya dilaporkan. Pada waktunya, sedikit perdarahan terjadi pada bawah kulit. Hemoragi ini biasanya berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan pembentukan bekuan didalam luka. Jika bekuan kecil, maka akan terserap dan tidak harus ditangani. Ketika lukanya besar dan luka biasanya menonjol dan penyembuhan akan terhambat kecuali bekuan ini dibuang. Proses penyembuhan biasanya dengan granulasi atau penutupan sekunder dapat dilakukan.
b. Infeksi
Stapihylococcuss Aureus menyebabkan banyak infeksi luka pasca operatif. Infeksi lainnya dapat terjadi akibat escherichia coli, proteus vulgaris. Bila terjadi proses inflamatori, hal ini biasanya menyebabkan gejala dalam 36 sampai 48 jam. Frekwensi nadi dan suhu tubuh meningkat, dan luka biasanya membengkak, hangat dan nyeri tekan, tanda-tanda lokal mungkin tidak terdapat ketika infeksi sudah mendalam.
c. Dehiscene dan Eviserasi
Dehicence adalah gangguan insisi atau luka bedah dan eviserasi adalah penonjolan isi luka. Komplikasi ini sering terjadi pada jahitan
yang lepas, infeksi dan yang lebih sering lagi karena batuk keras dan mengejan.
5. Proses Penyembuhan Luka
Menurut Moya, Morison (2003) proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi ke dalam 3 fase utama, yaitu:
a. Fase Inflamasi (durasi 0-3 hari)
Jaringan yang rusak dan sel mati melepaskan histamine dan mediator lain, sehingga dapat menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menyebabkan merah dan hangat. Permeabilitas kapiler darah meningkat dan cairan yang kaya akan protein mengalir ke interstitial menyebabkan oedema lokal.
b. Fase destruksi (1-6 hari)
Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami devitalisasi dan bakteri oleh polimorf dan makrofag. Polimorf menelan dan menghancurkan bakteri. Tingkat aktivitas polimorf yang tinggi hidupnya singkat saja dan penyembuhan dapat berjalan terus tanpa keberadaan sel tersebut.
c. Fase Proliferasi (durasi 3-24 hari)
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang bermigrasi. Fibroblas melakukan sintesis kolagen dan mukopolisakarida.
d. Fase Maturasi (durasi 24-365 hari)
Dalam setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel epitel pada pinggir luka dan sisa- sisa folikel membelah dan mulai berimigrasi di atas jaringan granulasi baru.
6. Tipe Penyembuhan Luka
Menurut Moya, Morison (2003) proses penyembuhan luka akan melalui beberapa intensi penyembuhan, antara lain:
a. Penyembuhan Melalui Intensi Pertama (Primary Intention)
Luka terjadi dengan pengrusakan jaringan yang minimum, dibuat secara aseptic, penutupan terjadi dengan baik, jaringan granulasi tidak tampak, dan pembentukan jaringan parut minimal.
b. Penyembuhan Melalui Intensi Kedua (Granulasi )
Pada luka terjadi pembentukan pus atau tepi luka tidak saling merapat, proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama.
Penyembuhan
c. Melalui Intensi Ketiga (Secondary Suture)
Terjadi pada luka yang dalam yang belum dijahit atau terlepas dan kemudian dijahit kembali, dua permukaan granulasi yang berlawanan disambungkan sehingga akan membentuk jaringan parut yang lebih dalam dan luas.
7. Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Sectio Caesaria Menurut Craven dan Hirnle (2000), yang mempengaruhi penyembuhan luka dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
a. Faktor Luka
1) Kontaminasi Luka
Tehnik pembalutan yang tidak adekuat, bila terlalu kecil memungkinkan invasi dan kontaminasi bakteri, jika terlalu kencang dapat mengurangi suplay oksigen yang membawa nutrisi dan oksigen.
2) Edema
Penurunan suplay oksigen melalui gerakan meningkat tekanan intersisial pada pembuluh darah.
3) Hemoragi
Akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati yang harus disingkirkan.
b. Faktor Umum 1) Usia
Makin tua pasien, makin kurang lentur jaringan.
2) Nutrisi
Pada penyembuhan luka kebutuhan akan nutrisi meningkat seiring dengan stress fisiologis yang menyebabkan defisiensi protein,
nutrisi yang kurang dapat menghambat sintesis kolagen dan terjadi penurunan fungsi leukosit.
3) Obesitas
Pada pasien obesitas jaringan adiposa biasanya mengalami avaskuler sehingga mekanisme pertahanan terhadap mikroba sangat lemah dan mengganggu suplay nutrisi kearah luka, akibatnya penyembuhan luka menjadi lambat.
4) Medikasi
Pada beberapa obat dapat mempengaruhi penyembuhan luka, seperti steroid, anti koagulan, anti biotik spektrum luas.
c. Faktor lokal 1) Sifat injuri
Kedalaman luka dan luas jaringan yang rusak mempengaruhi penyembuhan luka, bahkan bentuk luka.
2) Adanya infeksi
Jika pada luka terdapat kuman patogen penyebab infeksi, maka penyembuhan luka menjadi lambat.
3) Lingkungan setempat
Dengan adanya drainase pada luka. PH yang harusnya antara 7,0 sampai 7,6 menjadi berubah sehingga mempengaruhi penyembuhan luka. Selain itu, adanya tekanan pada area luka dapat mempengaruhi sirkulasi darah pada daerah luka.
8. Teknik pre operasi dalam mencegah Infeksi pada Proses Penyembuhan Luka Sectio Caesaria
a. Tehnik Aseptik
Selama satu abad terakhir, ilmu kedokteran mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan terpenting yang telah dicapai adalah kemajuan untuk memanipulasi atau melakukan pembedahan tubuh manusia tanpa kekhawatiran akan terjadinya infeksi. Dengan kemampuan ini, pembedahan terapi intravena, prosedur diagnostik invasif, penyuntikan obat-obatan, perawatan luka serta seluruh tindakan-tindakan pembedahan, bisa dikerjakan. Dasar dari kemampuan ini adalah sekumpulan cara yang dikenal sebagai teknik aseptik (Van Way III dan Buerk, 1990).
Tehnik aseptik didasarkan pada pengandaian bahwa infeksi berasal dari luar, yang kemudian masuk dalam tubuh. Untuk mencegah terjadinya infeksi, harus dipastikan bahwa setiap prosedur dikerjakan sedemikian rupa agar bakteri tidak dapat masuk. Prosedur dikerjakan di daerah yang steril di mana semua bakteri telah dimusnahkan, termasuk bakteri yang biasa menetap di kulit penderita. Semua instrumen, benang, serta cairan yang dipakai disucihamakan terlebih dulu. Tangan ahli bedah harus dibersihkan dari bakteri dan ditutupi dengan sarung tangan karet (Van Way III dan Buerk, 1990).
b. Mensucihamakan Kulit
Dalam keadaan normal di permukaan kulit teredapat bakteri karena itu kulit harus dibersihkan dari semua kotoran dan disucihamakan dengan larutan antiseptik. Dikenal beberapa larutan antiseptik antara lain:
1) Yodium
Merupakan salah satu antiseptik tertua yang masih dipakai.
Yodium merupakan antiseptik yang ampuh, yodium juga bersifat toksik dan dapat membakar kulit.
2) Yodofor
Merupakan kombinasi antara yodium dengan suatu molekul organik. Ia tersedia dalam bentuk larutan mengandung detergen yang digunakan untuk membasuh tangan.\
3) Alkohol
Banyak dipakai sebagai antiseptik untuk injeksi muskular, meski membersihkan kulit, ia tidak cukup membunuh bakteri.
Karena itu, kebiasaan mengusap kulit dengan alkohol sebelum menyuntik barangkali merupakan tindakan yang tidak perlu.\
4) Merkuri
Merupakan antiseptik yang cukup ampuh. Merkuri klorida bersifat toksik untuk kulit. Yang lebih efektif adalah senyawa- senyawa merkuri organik, di mana timerosol merupakan senyawa
yang paling sering dipakai. Senyawa-senyawa ini relatif nontoksik, tetapi sukar menembus kulit. Bersifat bakteriostatik, bukan bakterisit.
5) Chlorhexidine Gluconate
Chlorhexidine gluconate banyak dipakai karena bersifat bakterisit dengan aktivitas anti mikroba yang berlangsung secara terus menerus. Karena tidak mengiritasi, larutan ini sering digunakan untuk mensucihamakan tangan dan kulit daerah operasi.
6) Providon Iodin
Providon Iodin Adalah senyawa kompleks dari iodin dan providon, dikenal sebagai antiseptik halogen yang dapat mengadakan presipitasi protein dan merusak enzim kuman.
Larutan ini digunakan sebagai antiseptik kulit menjelang operasi.
Saat mensucihamakan kulit daerah operasi, prinsip yang utama adalah mulai dari tengah dan bekerja ke arah luar. Pada luka yang terkontaminasi, kulit di sekitarnya disucihamakan terlebih dahulu, baru kemudian lukanya. Daerah yang disucihamakan harus jauh lebih luas dari lapangan operasi yang disucihamakan.
9. Perawatan Luka Operasi
Luka perlu ditutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat diserap oleh kasa. Dengan menutup luka itu kita mencegah terjadinya
kontaminasi (kemsukan kuman), tersenggol, dan memberi kepercayaan pada pasien bahwa lukanya diperhatikan oleh perawat.
Sehabis operasi, luka yang timbul langsung ditutup dengan kasa steril selagiu dikamar bedah dan biasanya tidak perlu diganti sampai diangkat jahitannya, kecuali bila terjadi perdarahan sampai darahnya menembus diatas kasa, barulahdiganti dengan kasa steril. Pada saat mengganti kasa yang lama perlu diperhatikan tehnik asepsis supaya tidak terjadi infeksi. Jahitan luka dibuka setengahnya pada hari kelima dan sisanya dibuka pada hari keenam atau ketujuh (Oswari, 2005).
10. Status kesehatan yang mempengaruhi proses penyembuhan luka Sectio caesaria
a. Sectio caesaria pada ibu hamil yang menderita Diabetes Melitus
Keadaan ini tidak berbeda dengan kehamilan non diabetes.
Penatalaksanaan diabetes lebih mudah, karena pasien dapat makan karbohidrat peroral segera setelah periode pasca bedah ketika kebutuhan insulin menurun dengan tajam. Biasanya dipilih glukosa dan insulin intra vena untuk mengelola periode pra dan intra bedah dalam kasus sectio caesaria dibawah anestesi umum. Penderita Diabetes Melitus yang melahirkan Sectio caesaria baik sebagai prosedur yang direncanakan maupun tidak berada dalam peningkatan resilko intra uterin pasca bedah dan infeksi luka menurut Diamond dan rekan (1986) dikutip oleh Michael, (1996). Setiap perhatian perlu ditujukan untuk menghindarkan infeksi, dan resiko sangat tinggi,
pemberian antibiotika profilaksis merupakan hal yang sesuai (Michael, 1996).
b. Sectio caesaria elektif pada hipertensi kehamilan
Diagnosis preeklamsi berat sudah ditegakkan, kecendrungan untuk kelahiran janin segera. Beberapa kekhawatiran, antara lain serviks yang kurang siap sehingga induksi persalinan kurang berhasil, adanya perasaan darurat karena keparahan preeklamsi, dan perlunya mengkoordinasikan perawatan neonatal, mendorong sebagian dokter untuk menganjurkan sectio caesaria elektif (Cunningham, G, 2005).
B. Post Partum
1. Definisi Post Partum
Periode Post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ–organ reproduksi kembali kekeadaan normal sebelum hamil.
Periode ini juga disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan.
Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas, walaupun dianggap normal.(Bobak, 2004).
2. Menurut Bobak (2005), Perubahan fisiologis yang terjadi pada Ibu post Partum :
a. Sistem Reproduksi dan Struktur Terkait 1) Uterus
a). Proses Involusi
Proses kembalinya uterus kekeadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plesenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
b). Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intra uterin yang sangat besar.
c). Afterpains
Kondisi ini banyak terjadi pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang.
Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang awal puerperium.
2) Tempat Plasenta
Setelah palasenta dan ketuban dikeluarkan, kontraksi vaskuler dan trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium keatas menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan mencegah pembentukan jaringan parut yang menjadi karakteristik penyembuhan luka.
3) Lokea
Adalah rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir lokea mula-mula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat. Rabas ini mengandung bekuan darah kecil. Selama dua jam pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama mentruasi.
Lokea dibedakan menjadi tiga yaitu lokea rubra, lokea serosa, lokea alba.
4) Serviks
Sevik menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan, 18 jam pasca partum, servik memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali kebentuk semula.
5) Vagina dan Perineum
Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali bertahap keukuran sebelum hamil, 6 sampai 8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat. Mukosa tetap atropik pada wanita yang menyusui sekurang- kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali.
6) Topangan otot panggul
Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan dan masalah ginekologi dapat timbul dikemudian hari.
b. Sistem endokrin 1) Hormon plasenta
Dengan terjadi perubahan hormon yang menyebabkan penurunan hormone-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut.
2) Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui dampaknya berperan dalam menekan ovulasi.
c. Abdomen
Abdomen akan terlihat menonjol ketika wanita berdiri dihari pertama setelah melahirkan dan tampak seperti masih hamil.
Diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil.
d. Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil menyebabkan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan menurunkan fungsi ginjal selama masa post partum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah melahirkan.
Diperlukan kira-kira sampai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi pada ureter serta pelvis ginjal kembali kekeadaan sebelum hamil (Cunningham,1993).
e. Sistem Cerna 1) Nafsu Makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga diperbolehkan menkonsumsi makanan ringan. Dan setelah benar-
benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar.
2) Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot tratus cerna menetap selama aktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas kekeadaan normal.
3) Defekasi
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama 2 sampai 3 hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa past partum. Diare sebelum melahirkan, kurang makan, atau dehidrasi.
f. Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil (estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, prolaktin, kortisol dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini untuk kembali kekadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh ibu apakah menyusui atau tidak.
1) Ibu tidak menyusui
Payudara biasanya teraba nodular (ada wanita tidak hamil teraba granular). Nodularitas bersifat bilateral dan difus. Pada wanita tidak menyusui sekresi dan ekskresi kolostrum menetap selama beberapa hari pertama setelah melahirkan. Pada saat hari ke 3 atau ke 4 post partum bisa terjadi pembengkakan (engorgement).
Payudara teregang
(bengkak), keras, nyeri, bila ditekan dan hangat bila diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat).
2) Ibu yang menyusui
Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan). Tetapi kantong susu yang terisi berubah posisi dari hari kehari. Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yaitu kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Setelah laktasi dimulai, payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh.
Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan (tampak seperti susu krim) dapat dikeluarkan dari puting susu. Puting harus dikaji erektilitasnya, sebagai kebalikan dari inversi dan untuk menemukan apakah ada fisura atau keretakan.
g. Sistem Kardiovaskular 1) Volume Darah
Perubahan volume darah tergantung dari beberapa faktor, misal kehilangan darah selama melahirkan dan mobilitas serta
pengeluaran cairan eksravasular (edema fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang tepat tetapi terbatas.
2) Curah Jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat selama masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uero plasenta tiba-tiba kembali kesirkulasi umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran (Bobak, 2005).
3) Tanda-Tanda Vital
Beberapa tanda-tanda vital bisa terlihat, jika wanita dalam keadaan normal. Peningkatan kecil sementara, baik peningkatan tekanan darah sistol maupun diastol dapat timbul dan berlangsung selama sekitar empat hari setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005).
4) Varises
Varises ditungkai dan disekitar anus (hemoroid) sering dijumpai pada wanita hamil. Varises, bahkan varises vulva yang jarang dijumpai akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir. Operasi varises tidak dipertimbangkan selama masa hamil.
h. Sistem Neurologi
Perubahan neurologis selama puerporium merupakan kebalikan adaptasi neorologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan.
i. Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung secara terbalik pada masa post partum. Adaptasi ini mencakup hal-hal yang membantu elaksasi dan perubahan ibu akibat pembesaran rahim.
j. Sistem Integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat keamilan berakir. Hiperpigmentasi diareola dan diliniea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar tetapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan pembuluh darah seperti spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis biasanya berkurang sebagai respon terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakir. Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan. Rambut kasar yang timbul sewaku hamil biasanya akan menetap. Konsentrasi dan kekuatan kuku akan kembali pada keadaan sebelum hamil.
k. Sistem kekebalan
Kebutuhaan ibu untuk mendapatkan vaksinasi rubela atau untuk mencegah iso imunisasi yang ditetapkan.
Menurut Bobak (2004), adaptasi psikologis ibu post partum adalah sebagai berikut :
1) Fase Menerima (taking-in phase)
Fase dependen ialah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan kebanyakan orang tua sangat suka mengomunikasikannya. Fase ini terjadi selama 1 sampai 2 hari pertama setelah melahirkan, ketergantungan ibu sangat menonjol. Pada fase ini, ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi orang lain. Ibu memindahkan energi psikologisnya kepada anaknya. Di mana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Fase menerima berlangsung selama 2 sampai 3 hari.
2) Fase Dependent-Mandiri (fase taking hold)
Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Fase taking hold berlangsung kira-kira 10 hari.
3) Fase interdependent
Pada fase ini perilaku interdependent muncul, ibu dan keluarganya bergerak maju sebagai suatu sistem dengan para anggota keluarga saling berinteraksi. Hubungan antara pasangan, walaupun sudah
berubah dengan adanya seorang anak kembali menunjukkan banyak karekteristik awal. Fase interdependents (letting-go) merupakan fase yang penuh stress bagi orang tua. Kesenangan dan kebutuhan sering berbagi dalam masa ini. Tuntutan utama ialah menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal, tidak melibatkan anak. Pasangan ini harus berbagi kesenangan yang bersifat dewasa.
C. Konsep Status Gizi 1. Pengertian
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk dari variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, 2001).
2. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Menurut Supariasa (2001) penilaian status gizi secara langsung ada 4 yaitu:
a. Antropometri
Antopometri secara umum artinya ukuran tubuh nanusia.
Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur. Secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik
dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Pengukuran antropometri salah satunya Indeks Massa Tubuh (IMT) terdiri dari berat badan dan pengukuran linear terdiri dari tinggi badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar dada, LILA dan tinggi lutut. Beberapa indeks antropometri yaitu BB/U, TB/U, BB/TB, LILA/U. Adapun Penentuan status gizi berdasarkan IMT adalah :
Berat badan IMT = ⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯
(Tinggi Badan) (m)2
Kriteria :
Status gizi kurus tingkat berat : <17,0 Status gizi kurus tingkat ringan : 17,0-18,5 Status gizi normal : < 18,5-25,0 Status gizi gemuk tingkat ringan : > 25,0-27,0 Status gizi gemuk tingkat berat : > 27 b. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan- perubahan yang terjadiyang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervisial ephitelial tissues) seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau pada organ- organ yang dekat dengan permukaan tubuh yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tubuh.
Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinikal surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat
tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi.
Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
c. Biokimia
Penilaian stus gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macan jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain:
darah, urin, tinja dan juga beberapa jarinhgan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.
d. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan adalah test adaptasi gelap.
3. Penilaian status gizi secara tidak langsung
Menurut Supariasa, (2001) Penilaian status gizi secara langsung di bagi 3 yaitu:
a. Survei konsumsi makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran dengan konsumsi berbagai zat gizi pada masyasarakat, keluarga dan individu.
b. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kematian dan angka kesakitan akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
c. Faktor ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi disuatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.
Malnutrisi merupakan penyebab yang sangat penting dari kelambatan penyembuhan luka. Sejumlah indikator yaitu malnutrisi kalori /protein. Pentingnya pemantauan secara ketat terhadap berat
badan indikator malnutrisi lainnya pada pasien dengan cidera berat, setelah operasi besar, dan saat terdapat septikemia, sangat ditekankan (Moya, Morison, 2003) .
D. Kerangka Teori
Gambar 2.1
Sumber dari : Craven, R. F & Hirnle, C.J. (2000) dan Moya, Morison (2003).
E. Kerangka konsep
Gambar 2.2 kerangka konsep Faktor Pendukung yang
mempengaruhi proses penyembuhan luka
1. Faktor Luka
a. Kontaminasi Luka b. Edema
c. Hemoragi 2. Faktor Umum
a. Usia b. Status gizi c. Obesitas d. Medikasi 3. Faktor lokal
a. Sifat injuri b. Adanya infeksi c. Lingkungan setempat
Proses Penyembuhan Luka : - Fase Inflamasi
- Fase destruksi
- Fase Proliferasi, Fase Maturasi.
Status gizi ibu Proses penyembuhan luka post Sectio Caesaria
F. Variabel penelitian
Variabel dalam penelitian ini tediri dari variabel dependent (tergantung) dan variabel independent (bebas).
1. Variabel independent
Yang dimaksud dengan variabel independen dalam peneletian ini adalah status gizi ibu.
2. Variabel Dependent
Yang dimaksud dengan variabel dependent dalam penelitian ini adalah proses penyembuhan luka.
G. Hipotesa
Ada hubungan status gizi ibu terhadap penyembuhan luka post Sectio Caesaria di ruang Dewi Kunti RSUD Kota Semarang.