• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKAN. Belanda yaitu Strafbaar Feit. Strafbaar Feit terdiri dari 3 (tiga) kata yaitu straf,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKAN. Belanda yaitu Strafbaar Feit. Strafbaar Feit terdiri dari 3 (tiga) kata yaitu straf,"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKAN A. Konsep Hukum dan Dasar-dasar Hukum Pidana

a. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana berasal dari bahasa belanda yang dikenal dalam hukum Belanda yaitu “Strafbaar Feit”. Strafbaar Feit terdiri dari 3 (tiga) kata yaitu straf, baar,dan feit. Apabila diterjemahkan dengan bahasa belanda hukum straf berarti dapat sedangkan baar berarti boleh dan kata feit yang berarti tindak, peristiwa, pelanggaran atau perbuatan. Mengenai istilah Tindak Pidana (Strafbaar Feit), Pompe dalam buku SR. Sianturi menyatakan:

“Tindak Pidana adalah suatu pelanggaran kaidah (penggunaan ketertiban hukum) terhadap pelaku yang mempunyai kesalahan untuk pemidanaan adalah wajar untuk menyelenggarakan ketertiban hukum dan menjamin kesejahteraan umum.”

7

Kemudian dari beberapa pengertian tentang tindak pidana tersebut di atas dapat disamakan dengan istilah tindak pidana, peristiwa pidana atau delik.

Mengenai arti straf baar feit perlu juga diketahui pendapat para sarjana. Menurut Van Hamel, straf baar feit adalah kelakuan orang yang dirumuskan dalam wet, yang bersifat melawan hukum yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.

Menurut simon straf baar feitc adalah kelakuan atau hendeling yang diancam dengan pidana yang bersifat melawan hukum yang berhubungan dengan kesalahan

7 SR Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, Storia Grafika, Bandung, 2012, hlm. 47

(2)

oleh orang yang mampu bertanggungjawab.

8

Berdasarkan pernyataan diatas menurut Simons bahwa tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang bertetangan dengan undang- undang atau hukum yang secara sengaja ataupun tidak telah dilakukan oleh pelaku dan dapat dipertanggungjawabkan oleh undang-undang.

Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa didalam perbuatan pidana didapatkan adanya suatu kejadian tertentu, serta adanya orang-orang yang berbuat guna menimbulkan suatu akibat karena melanggar peraturan perundang- undangan yang ada, atau dapat diartikan pula tindak pidana merupakan perbuatan yang dipandang merugikan masyarakat sehingga pelaku tindak pidana itu harus dikenakan sanksi hukum yang berupa pidana.

b. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Dalam kita menjabarkan sesuatu rumusan delik kedalam unsur-unsurnya, maka yang mula-mula dapat kita jumpai adalah disebutkan sesuatu tindakan manusia, dengan tindakan itu seseorang telah melakukan sesuatu tindakan yang terlarang oleh Undang-undang. Tindak pidana biasanya disamakan dengan istilah delik, yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum. Delik tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut:

“Delik adalah perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pidana”

9

Setiap tindak pidana yang terdapat di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur- unsur yang terdiri

8 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta,1983, hlm 56

9 Depdikbud Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. ke-2 , Jakarta, Balai Pustaka, 1989. Hal.

219

(3)

dari unsur subjektif dan unsur objektif. Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Sedangkan unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan- keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus di lakukan.

10

Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana itu adalah:

1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau Culpa);

2. Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP;

3. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain;

4. Perasaan takut yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.

11

Unsur-unsur objektif dari sutau tindak pidana itu adalah:

a) Sifat melanggar hukum atau wederrechtelicjkheid;

b) Kualitas dari si pelaku, misalnya kedaan sebagai seorang pegawai negeri di dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu Perseroan Terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP;

10 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm 193

11 Ibid hlm. 193

(4)

c) Kausalitas yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.

12

c. Tinjauan Tentang Sifat Dapat Dipidananya Perbuatan.

Adapun menurut pendapat dari Pompe yang mengatakan bahwa perbuatan adalah suatu yang dapat dilihat dari luar dan diarahkan kepada suatu tujuan yang menjadi sasaran suatu norma-norma.

13

Perbuatan manusia yang positif maupun yang negatif untuk dapat dikatakan suatu tindak pidana harus memenuhi unsur- unsur sebagai berikut:

1. Perbuatan tersebut harus memenuhi undang-undang Setiap perbuatan manusia baik yang positif maupun yang negatif untuk dapat dikatakan tindakan pidana harus memenuhi apa yang dirumuskan oleh Undang- Undang.

2. Diancam dengan pidana

3. Perbuatan tersebut harus merupakan sifat melawan hukum Perbuatan manusia telah memenuhi rumusan undang-undang pidana tidak dapat dipidana,karena tidak bersifat melawan hukum.

4. Dilakukan dengan kesalahan

5. Orang mampu bertanggung jawab.

14

12 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm 194

13 Tri Andrisman, Asas-Asas dan Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, 2007 , hlm 97

14Sudarto , Hukum dan Hukum Pidana , Alumni, Bandung , 1990 , hlm 40

(5)

d. Pelaku yang dapat di Pidana

Pelaku adalah orang yang melakukan tindak pidana yang bersangkutan, dalam arti orang yang dengan suatu kesengajaan atau suatu tidak sengajaan seperti yang diisyaratkan oleh Undang-Undang telah menimbulkan suatu akibat yang tidak dikehendaki oleh Undang-Undang, baik itu merupakan unsur-unsur subjektif maupun unsur-unsur obyektif, tanpa memandang.

apakah keputusan untuk melakukan tindak pidana tersebut timbul dari dirinya sendiri atau tidak karena gerakkan oleh pihak ketiga

15

Melihat batasan dan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa orang yang dapat dinyatakan sebagai pelaku tindak pidana dapat dikelompokkan kedalam beberapa macam antara lain :

1. Orang yang melakukan (dader plagen)

Orang ini bertindak sendiri untuk mewujudkan segala maksud suatu tindak pidana.

2. Orang yang menyuruh melakukan (doen plagen)

Dalam tindak pidana ini perlu paling sedikit dua orang, yakni orangyang menyuruh melakukan dan yang menyuruh melakukan, jadi bukan pelaku utama yang melakukan tindak pidana, tetapi dengan bantuan orang lain yang hanya merupakan alat saja.

15 Barda Nawawi Arif , Sari Kuliah Hukum Pidana II. Fakultas Hukum Undip.1984,hlm: 37 diakses pada tanggal 25 november 2020 jam 19.50 WIB

(6)

3. Orang yang turut melakukan (mede plagen)

Turut melakukan artinya disini ialah melakukan bersama-sama. Dalam tindak pidana ini pelakunya paling sedikit harus ada dua orang yaitu yang melakukan (dader plagen) dan orang yang turut melakukan (mede plagen).

4. Orang yang dengan pemberian upah, perjanjian, penyalahgunaan kekuasaan atau martabat, memakai paksaan atau orang yang dengan sengaja membujuk orang yang melakukan perbuatan. Orang yang dimaksud harus dengan sengaja menghasut orang lain, sedang hasutannya memakai cara-cara memberi upah, perjanjian, penyalahgunaan kekuasaan atau martabat dan lain-lain sebagainya.

B. Tinjauan Umum Tentang Pencurian Dengan Kekerasan 1. Pengertian Pencurian

Pencurian merupakan perbuatan mengambil milik orang lain secara tidak sah atau melawan hukum. Orang yang mencuri barang yang merupakan milik orang lain disebut pencuri. Sedangkan pencurian sendiri berarti perbuatan atau perkara yang berkaitan dengan mencuri.

16

Menurut Pasal 362 KUHPidana pencurian adalah:

“Barang siapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak enam puluh rupiah”.

17

16 Moeljatno, 2003, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta, hlm 128

17Lihat Pasal 362 KUHP

(7)

Jadi perbuatan pencurian harus dianggap telah selesai dilakukan oleh pelakunya yakni segera setelah pelaku tersebut melakukan perbuatan mengambil seperti yang dilarang dalam untuk dilakukan orang di dalam Pasal 362 KUHPidana.

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencurian

Dalam hal mengenai unsur-unsur tindak pidana pencurian Sudikno mengatakan bahwa tindak pidana itu terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu :

a. Unsur bersifat objektif yang meliputi :

1) Perbuatan manusia, yaitu perbuatan yang positif ataupun negatif yang menyebabkan pidana.

2) Akibat perbautan manusia, yaitu akibat yang terdiri atas merusak atau membahayakan kepentingan-kepentingan umum, yang menurut norma hukum itu perlu adanya untuk dapat dihukum.

3) Keadaan-keadaan sekitar perbuatan itu, keadaan ini dapat terjadi pada waktu melakukan perbuatan.

4) Sifat melawan hukum dan sifat dapat dipidanakan perbuatan melawan hukum tersebut jika bertentangan dengan undang- undangan.

b. Unsur bersifat subjektif

Yaitu kesalahan dari orang yang melanggar ataupun pidana, artinya pelanggaran harus dapat dipertanggungjawabkan kepada pelanggar

18

Sejalan dengan hal tersebut, menurut R. Tresna dalam Martiman Prodjohamidjojo suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai suatu peristiwa pidana bila perbuatan tersebut sudah memenuhi beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut antara lain :

18 Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1999,hlm. 71

(8)

1) Harus ada perbuatan manusia

2) Perbuatan itu sesuai dengan apa yang dilukiskan dalam ketentuan hukum 3) Terbukti adanya noda pada orang yang berbuat

4) Perbuatan untuk melawan hukum

5) Perbuatan itu diancam hukuman dalam undang-undang.

19

Di samping itu Simon dalam Kanter dan Sianturi mengatakan bahwa tindak pidana itu terdiri dari beberapa unsur yaitu :

a) Perbuatan manusia (positif atau negatif, berbuat atau tidak berbuat atau membiarkan)

b) Diancam dengan pidana (strafbaar gestelde) c) Melawan hukum (enrechalige)

d) Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verbandstaand). Oleh orang yang mampu bertanggungjawab (toerekeningsvatbaar pers on).

20

3. Tindak Pidana Pencurian Dengan Kekerasan

Tindak pidana pencurian dengan kekerasan atau lazimnya dikenal di masyarakat dengan istilah perampokan. Sebenarnya istilah antara pencurian dengan kekerasan dan perampokan dari segi redaksional kedua istilah tersebut berbeda namun mempunyai makna yang sama, misalnya kalau disebutkan pencurian dengan kekerasan atau ancaman kekerasan sama halnya dengan merampok. Merampok juga adalah perbuatan jahat, oleh karena itu walaupun tidak dikenal dalam

19 Martiman Prodjohamidjojo, Memahami Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1997, hlm. 22

20 Martiman Prodjohamidjojo, Memahami Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1997, hlm. 22

(9)

KUHPidana namun perumusannya sebagai perbuatan pidana jelas telah diatur sehingga patut dihukum seperti halnya pencurian dengan kekerasan.

Pencurian dengan kekerasan bukanlah merupakan gabungan dalam artian gabungan antara tindak pidana pencurian dengan tindak pidana kekerasan maupun ancaman kekerasan, kekerasan dalam hal ini merupakan keadaan yang berkualifikasi, maksudnya adalah kekerasan adalah suatu keadaan yang mengubah kualifikasi pencurian biasa menjadi pencurian dengan kekerasan. Dengan demikian unsur-unsurnya dikatakan sama dengan Pasal 362 KUHPidana ditambahkan unsur kekerasan atau ancaman kekerasan.

Pencurian dengan kekerasan adalah pencurian yang disertai dengan kekerasan. Kekerasan yang dimaksud kekerasan pada orang, bukan berupa barang, dilakukan sebelum atau sesudah pencurian, bersama-sama dengan maksud untuk memudahkan atau menyiapkan agar pencurian ada kesempatan untuk melarikan diri. Pencurian dengan kekerasan, dijelaskan dalam Pasal 365 KUHP

21

yang menyatakan :

1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun, dihukum pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan terhadap orang, dengan maksud akan menyiapkan atau memudahkan pencurian itu atau jika tertangkap tangan (terpergok) supaya ada kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi kawannya yang turut melakukan kejahatan itu untuk melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu tetap ada ditangannya.

21Pasal 365 KUHP

(10)

2) Hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun, dijatuhkan :

a. Jika perbuatan itu dilakukan pada waktu malam hari di sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup. Jika perbuatan itu dilakukan dua orang bersama-sama atau lebih.

b. Jika sitersalah masuk ke tempat melakukan kejahatan itu dengan jalan membongkar atau memanjat, atau dengan jalan memakai kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

c. Jika perbuatan itu menjadikan ada orang mendapat luka berat. Hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun dijatuhkan apabila karena perbuatan itu ada orang mati.

3) Hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun dijatuhkan apabila karena perbuatan itu ada orang mati.

4) Hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun dijatuhkan, jika perbuatan itu menjadikan ada orang mendapatkan luka berat atau mati, dilakukan oleh dua orang bersama- sama lebih disertai pula oleh salah satu yang diterangkan dalam No. 1 dan 3.

Adapun pendapat para ahli mengenai pengeertian tentang kekerasan yaitu:

S.R. Sianturi, kekerasan adalah setiap perbuatan dengan menggunakan tenaga terhadap orang atau barang yang dapat dimasukkan dalam pengertian kekerasan yakni setiap pemakaian tenaga badan yang tidak terlalu ringan mendatangkan kerugian bagi si terancam atau mengagetkan yang dikerasi

22

22 S.R. Sianturi, 1986, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Alumni Ahaem- Petehean, Jakarta. Hlm : 15

(11)

R. Soesilo, melakukan kekerasan artinya, mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara tidak syah misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan lain sebaginya.

23

C. Asas- asas Dalam Proses Pemeriksaan di Penyidikan

Pada dasarnya asas dalam hukum acara pidana terdapat beberapa asas dalam melakukan penegakan hukum antara lain :

a. Asas legalitas.

Asas legalitas dalam hukum pidana dan hukum acara pidana adalah sesuatu yang berbeda. Dalam hukum pidana, asas legalitas dapat diartikan “tidak ada suatu perbuatan yang dapat dipidana tanpa ada peraturan yang mengaturnya (nullum delictum nulla poena sine lege poenali). Namun, dalam hukum acara pidana, asas legalitas memiliki makna setiap Penuntut Umum wajib segera mungkin menuntut setiap perkara. Artinya, asas legalitas lebih dimaknai setiap perkara hanya dapat diproses di pengadilan setelah ada tuntutan dan gugatan terhadapnya. Sedangkan penyimpangan terhadap asas ini dikenal dengan asas oportunitas yang berarti bahwa demi kepentingan umum, Jaksa Agung dapat mengesampingkan penuntutan perkara pidana.

b. Asas diferensiasi fungsional.

Asas ini menyatakan setiap aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana memiliki tugas dan fungsinya sendiri yang terpisah antara satu dengan yang lain

23 Ibid 17

(12)

c. Asas lex scripta.

Asas ini berarti hukum acara pidana yang mengatur proses beracara dengan segala kewenangan yang ada harus tertulis. Selain itu, asas ini juga mengajarkan bahwa aturan dalam hukum acara pidana harus ditafsirkan secara ketat.

24

Kitab Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengatur perlindungan terhadap keluhuran harkat serta maratabat manusia yang telah diletakan di dalam undang-undang, baik pada waktu pemeriksaan permulaan maupun pada waktu persidangan pengadilan. Terdapat asas-asas dalam hukum acara pidana yang menjadi patokan hukum sekaligus merupakan tonggak pedoman bagi instansi jajaran aparat penegak hukum dalam menerapkan pasal-pasal KUHAP.

Selain yang disebutkan diatas, terdapat beberapa asas dalam hukum acara pidana yang secara eksplisit juga diatut dalam KUHAP Indonesia, yaitu :

1) Asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan

Apabila mengacu pada KUHAP, terdapat beberapa pasal yang dapat diketegorikan sebagai perwujudan dari asas peradilan cepat, sederhana dan ringan, yaitu misalnya dalam Pasal 50 ayat (1) yang merumuskan:

“Tersangka berhak segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat diajukan kepada penuntut umum.”

24 Dr. Andihamzah S.H, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta:2008, hal : 39

(13)

Selain itu, Pasal 67 juga dapat dimaknai adanya asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan yaitu : “Terdakwa atau penuntut umum berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat.”

Implementasi lainnya terhadap asas peradilan cepat dapat terlihat dalam hal batas waktu penahanan yang dilakukan oleh penegak hukum. Penahanan merupakan suatu hak dari para penegak hukum untuk menahan seseorang yang telah berstatus “tersangka” atau “terdakwa” dengan alasan untuk memperlancar penyidikan. Pada dasarnya pengaturan mengenai batas waktu penahanan oleh penyidik adalah 20 hari dan dapat diperpanjang atas izin penuntut umum selama 40 hari yang diatur di dalam Pasal 24 ayat (1) dan (2) KUHAP. Apabila sampai batas waktu maksimal (60 hari) penyidik belum juga menyelesaikan penyidikannya, maka tersangka atau terdakwa harus segera dikeluarkan demi hukum dan tanpa syarat apapun. Begitu pula halnya apabila penahanan tersebut dilakukan oleh Penuntut Umum, Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung (MA).

25

2) Asas Praduga tak bersalah (presumption of innocence)

Asas ini mengandung makna setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan dihadapkan dipengadilan tidak boleh dianggap bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan bersalah serta telah

25 Dr. Andihamzah S.H, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta:2008, hal : 39

(14)

memperoleh kekuatan hukum tetap. Asas ini terdapat dalam Penjelasan Umum butir 3 c KUHAP yang disebutkan sebagai berikut : “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.”

26

3) Asas oportunitas

Asas Oportunitas merupakan suatu asas dimana penuntut umum tidak diwajibkan untuk menuntut seseorang jika penuntutannya akan merugikan kepentingan umum. Pada dasarnya asas ini merupakan penyimpangan terhadap asas legalitas. Artinya, demi kepentingan umum, asas legalitas tersebut dikecualikan. Dalam praktek, istilah asas oportunitas disebut dengan istilah “deponering”.

Asas ini tidak dapat digunakan secara sembarangan. Asas ini hanya berlaku jika kepentingan umum benar-benar dirugikan, selain itu tidak semua jaksa dapat memberlakukan asas ini. Artinya, hanya “Jaksa Agung” yang dapat melaksanakan asas ini sebagaimana diatur oleh Pasal 35 c UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan , yaitu sebagai berikut : “Jaksa Agung dapat menyampingkan perkara berdasarkan kepentingan umum.”

27

4) Pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum

26Dr. Andihamzah S.H, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta:2008, hal : 39

27 A.Z Abidin Frid, Sejarah dan Perkembangan Asas Opportunitas di Indonesia, Ujung Pandang: UNHAS, 1981. Hlm. 12

(15)

Asas pengadilan terbuka untuk umum memiliki makna yaitu menghendaki adanya bentuk transparansi atau keterbukaan dalam sidang peradilan pidana. Asas ini diatur dalam Pasal 153 ayat (3) KUHAP, yaitu :

“Untuk keperluan pemeriksaan hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau Terdakwanya anak-anak.”

5) Semua orang diperlakukan sama di depan hukum (equlity before the law).

Asas diperlakukan sama didepan hukum (equality before the law) adalah bentuk perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka hukum dengan tidak membedakan latar belakang sosial, ekonomi, keyakinan politik, agama, golongan, dan sebagainya. Maksud dari asas ini adalah di depan pengadilan kedudukan semua orang sama, maka mereka harus diperlakukan sama. Seseorang bersalah maka harus dihukum, sedangkan jika tidak bersalah, maka harus dibebaskan. Selain itu, walaupun seseorang mendapatkan suatu hukuman, tetapi hukuman yang diberikan haruslah sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya.

28

Penerapan asas ini dapat terlihat dalam penjelasan umum butir 3 a KUHAP yang menyebutkan : “Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka hukum dengan tidak mengadakan pembedaan perlakuan.”

29

Selain itu, terlihat juga dalam Pasal 4 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyebutkan :

28Dr. Andihamzah S.H, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta:2008, hal : 39

29butir 3 a KUHAP

(16)

“Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda- bedakan orang.”

30

6) Peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannnya dan tetap

Asas ini meunjukkan bahwa dalam pengambilan keputusan untuk menyatakan salah tidaknya terdakwa dilakukan oleh hakim karena jabatannya yang bersifat tetap. Sistem ini berbeda dengan sistem juri yang dimana kesalahan terdakwa ditentukan oleh suatu dewan yang mewakili golongan- golongan dalam masyarakat. Pada umumnya biasanya mereka awam terhadap ilmu hukum.

31

7) Tersangka/terdakwa berhak mendapat bantuan Hukum

Salah satu asas yang terdapat dalam KUHAP adalah bahwa tersangka dan terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum. Asas ini diatur dalam Pasal 64 s/d Pasal 74 KUHAP. Bantuan hukum yang dimaksud adalah hak untuk mendapatkan bantuan hukum dari seorang advokat/pengacara. Bantuan hukum tersebut dianggap penting, sebab dengan didampingi seorang advokat/pengacara, maka seorang tersangka dan terdakwa dapat diberikan penjelasan mengenai hak-haknya secara independen. Selain itu, menurut hukum apabila diancam hukuman mati atau pidana penjara diatas 5 (lima) tahun, maka seorang tersangka atau terdakwa wajib diberikan bantuan hukum dengan didampingi oleh seorang advokat/pengacara.

32

30 Pasal 4 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

31 Romli Atmasasmita, Bunga Rampai Hukum Acara Pidana, Bina Cipta, Jakarta, 1983. hlm.

30

32 Ibid. hal 20

(17)

8) Asas Akusator

Asas akusator mempunyai arti bahwa menempatkan kedudukan terdakwa sebagai subjek pemeriksaan, terdakwa tidak lagi dipandang sebagai objek. Sedangkan pemahaman dalam asas inkisitor, terdakwa dipandang sebagai objek pemeriksaan. Asas inkisitor ini sesuai dengan pandangan bahwa pengakuan tersangka merupakan alat bukti terpenting, sehingga untuk mendapatkan pengakuan tersangka sering digunakan tindakan kekerasan ataupun penganiayaan.

Asas akusatoir ini telah ditunjukan dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang berisi ketentuan untuk memberikan kebebasan kepada tersangka maupun terdakwa untuk mendapatkan penasehat hukumnya.Pasal 54 Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana menyebutkan bahwa : “Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum dari seorang atau lebih penasehat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tibgkat pemeriksaan, menurut tatcara yang ditentukan dalam undangundang ini.”

33

9) Asas pemberian ganti rugi dan rehabilitasi atas salah tangkap, salah tahan, dan salah tuntut (remedy and rehabilitation).

Apabila terdapat seseorang yang ditangkap, ditahan, dituntut, atau pun diadili tanpa alasan yang sah berdasarkan undang-undang dan atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti

33 Lihat Pasal 54 Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

(18)

rugi dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan konsekuensi sanksinya bagi para pejabat penegak hukum tersebut apabila dilanggar, dituntut, dipidana, dan atau dikenakan hukuman administrasi. Tersangka, terdakwa, terpidana atau ahli warisnya berhak menuntut ganti kerugian karena ditangkap, ditahan, dituntut, dan diadili tanpa alasan yang sah menurut undang-undang atau kekeliruan orangnya atau kekeliruan terhadap hukum yang diterapkan. Dapat diajukan dalam sidang praperadilan apabila perkaranya belum atau tidak dilimpahkan ke Pengadilan Negeri, tetapi apabila perkaranya telah diperiksa di Pengadilan Negeri maka tuntutan ganti kerugian dapat diajukan ke Pengadilan Negeri yang memeriksa perkara tersebut baik melalui penggabungan perkara maupun gugatan perdata biasa baik ketika perkara pidananya diperiksa maupun setelah ada putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap perkara pidana yang bersangkutan. Mengenai ganti rugi yang disebabkan oleh penangkapan atau penahanan dapat diajukan apabila terjadi.

34

D. Hak- hak Tersangka Dalam Proses Penyidikan

Perlindungan hukum merupakan hal yang sangat penting dalam tatanan masyarakat hukum dijelaskan oleh Barda Nawawi bahwa berkaitan dengan masalah perlindungan hukum ada 4 (empat) aspek dari perlindungan hukum yang perlu mendapat perhatian, yaitu;

34 Bambang Poernomo, Pola Teori dan Asas Umum Hukum Acara Pidana, Liberty, Yogyakarta, 1985. hlm.79

(19)

1. Masyarakat memerlukan perlindungan perbuata-perbuatan anti sosial yang merugikan dan membahayakan masyarakat.

2. Masyarakat memerlukan perlindungan terhadap sifat-sifat bebahaya seseorang.

3. Masyarakat memerlukan perlindungan terhadap penyalahgunaan sanksi / reaksi dari penegak hukum maupun dari warga masyarakat pada umumnya.

4. Masyarakat memerlukan perlindungan terhadap keseimbangan atau keselarasan berbagai kepentingan dan nilai yang terganggu sebagai akibat adanya kejahatan.

35

Terkait dengan masalah perlindungan hukum terhadap hak tersangka, maka dapat disimpulkan, bahwa perlindungan hukum terhadap hak tersangka adalah tempat berlindung bagi seseorang atau beberapa orang dalam memperoleh hak- haknya sebagai tersangka melalui ketentuan-ketentuan, kaidah-kaidah maupun peraturan-peraturan yang mengatur tata kehidupan masyarakat yang diakui dan diikuti oleh anggota masyarakat itu sendiri.

Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana (Pasal 1 butir 14 KUHAP). Sementara, Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan (Pasal 1 butir 15 KUHAP).

36

Tersangka dan terdakwa merupakan pihak yang diduga telah melakukan tindak pidana.

35 Bambang Poernomo, Pola Teori dan Asas Umum Hukum Acara Pidana, Liberty, Yogyakarta, 1985. hlm.79

36Lihat Pasal 1 KUHAP

(20)

Tersangka atau terdakwa belum tentu bersalah sehingga masih harus dibuktikan dulu kesalahannya di depan pengadilan.

Didalam proses penyidikan terhadap tersangaka, penyidik wajib melaksanakan perintah undang-undang untuk menjaga hak-hak tersangka sebagaimana telah diatur dalam UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP yang tertuang pada pasal 50 hingga pasal 68.

E. Tinjaun Umum Tentang Asas Praduga Tak Bersalah 1. Pengertian Asas Praduga Tak Bersalah.

Konsep Asas Praduga Tak Bersalah dan Pengaturannya di Indonesia. Asas praduga tak bersalah pada dasarnya merupakan manifestasi dari fungsi peradilan pidana (modern) yang melakukan pengambil alihan kekerasan atau sikap balas dendam suatu institusi yang di tunjuk oleh negara. Dengan demikian, semua pelanggaran hak yang dilakukan oleh seseorang harus diselesaikan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

37

Di dalam hukum positif Indonesia, asas praduga tak bersalah telah dirumuskan dalam Undang-undag Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-undang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang menegaskan bahwa,

“setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapakan di depan pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya

37 Heri Tahir, proses huku yang adil dalam sistem peradilan pidana di indonesia.

Yogyakarta:LaksBang PRESSindo, 2010 , hlm. 17

(21)

putusan pengadilan, yang menyatakan kesalahannya dann memperoleh kekuatan hukum tetap”

38

Sedangkan di dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), asas praduga tak bersalah tidak dicantumkan secara tegas, namun hanya tedapat dalam penjelasan umum butir 3 (c) KUHAP yang isinya: setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di hadapan sidang pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.

39

Selain itu, asas praduga tak bersalah diatur pula dalam Bab III Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01.PW.07.03 Tahun 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang isinya antara lain:

“Sebagian seseorang yang belum dinyatakan bersalah maka ia mendapatkan hak-hak seperi: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan, hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya, hak untuk diberitahu apa yang disangkakan/didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya, hak untuk menyiapkan pembelaannya, hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarga”

40

Sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah, maka seorang tersangka terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian, sebab penuntut umum yang

38 Undang-undag Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang- undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-undang Pokok- Pokok Kekuasaan Kehakiman diakses pada tanggal 25 november 2020

39 butir 3 (c) KUHAP

40 Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01.PW.07.03 Tahun 1982 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

(22)

mengajukan tuduhan terhadap terdakwa, maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenanakan oleh undang-undang.

Nico Keijzer menyatakan bahwa selama ini telah terdapat salah pengertian tentang asas praduga tak bersalah, antara lain si tersangka/terdakwa dianggap tidak besalah dalam arti kasus yang sebenarnya. Hal ini tentu saja akan bertentangan dengan dilakukannya penyidikan, penangkapan, dan penahanan. Pengertian asas praduga tak bersalah tidak berkaitan dengan peraturan-peraturan dan prosedur yang pokok dalam proses peradilan pidana. Dikatakan bahwa tersangka/terdakwa tidak/belum dianggap bersalah dan tidak harus membuktikan ketidakbersalahannya sendiri, tetapi akan ditentukan oleh pengadilan yang adil, yang memberi kesempatan kepada mereka untuk membela dirinya sendiri dan mereka ini harus di perlakukan sama sebagaimana orang yang tak bersalah. Salah pengertian lainnya adalah opini/pendapat yang membingungkan antara pengertian tentang seorang terdakwa diduga tidak bersalah (presumption of innocence), kemudian dibuktikan sehingga terbukti dia bersalah, dengan pengertian orang terdakwa diduga bersalah (presumption of guilty), kemudian di buktikan sehingga ia tidak bersalah.

41

Konsekuensi dianutnya asas praduga tak bersalah adalah seorang tersangka atau terdakwa yang dituduh melakukan suatu tindak pidana, tetap tidak boleh diperlakukan sebagai orang yang bersalah meskipun kepadanya dapat dikenakan penangkapan/penahanan menurut Undangundang yang berlaku. Jadi, semua pihak

41 Dikutip oleh Mien Rukmini, Perlindungan HAM melalui Asas Praduga Tak Bersalah dan Asas Persamaan Kedudukuan dalam Hukum pada Sistem Pradilan Pidana Indonesia. Bandung:

Alumni, 2007. hlm, 244-245

(23)

termasuk penegak hukum harus tetap menjungjung tinggi hak asasi tersangka/terdakwa.

Pengakuan terhadap asas praduga tak bersalah dalam hukum acara pidana yang berlaku di negara kita mengandung dua maksud yaitu :

a. Ketentuan tersebut bertujuan untuk memeberikan perlindungan dan jaminan terhadap seorang manusia yang telah dituduh melakukan suatu tindak pidana dalam proses pemeriksaan perkara supaya hak asasinya tetap di hormati.

b. Ketentuan tersebut memberikan pedoman kepada petugas agar membatasi tindakannya dalam melakukan pemeriksaan terhadap tersangka/terdakwa karena mereka adalah manusia yang tetap mempunyai martabat sama dengan yang melakukan pemeriksaan.

42

Menurut Packer, di samping asas praduga tak bersalah, dikenal pula praduga bersalah. Proses pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi dan jaksa merupakan indikator terpercaya kemungkinan bersalahnya seseorang. Artinya, apabila seseorang telah ditangkap dan diperiksa tanpa diketemukannya kemungkinan ketidakbersalahannya, atau bila suatu keputusan yang telah dibuat menunjukkan adanya bukti untuk membawanya kepada tindakan selanjutnya, maka semua Langkah berikutnya diarahkan kepada asumsi bahwa mungkin ia bersalah.

42 Heri Tahir, Proses Hukum yang Adil dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia, (Yogyakarta:Laksbang Pressindo, 2010), hlm. 87

(24)

Mardjono Reksodiputro berpendapat bahwa asas praduga tak bersalah adalah asas utama proses hukum yang adil (due process of law), yang mencakup sekurang- kurangnya:

a. perlindungan terhadap Tindakan sewenang-wenang dari pejabat negara.

b. bahwa pengadilanlah yang berhak menentukan salah tidaknya terdakwa

c. bahwa siding pengadilan harus terbuka (tidak boleh bersifat rahasia) d. bahwa tersangka dan terdakwa harus diberikan jaminan-jaminan

untuk dapat membela diri sepenuhnya

43

Yahya Harahap mengatakan bahwa dengan dicantumkannya praduga tak bersalah dalam penjelasan KUHP, dapat disimpulkan, pembuat Undang- Undang telah menetapkannya sebagai asas hukum yang melandasi KUHP dan penegakan hukum (law enforcement). Sebagai konsekuensi dianutnya asas praduga tak bersalah adalah seorang tersangka atau terdakwa yang dituduh melakukan suatau tindak pidana, tetap tidak boleh diperlakukan sebagai orang yang bersalah meskipun kepadanya dapat dikenakan penangkapan/penahanan menurut Undang- Undang yang berlaku. Jadi, semua pihak yang termasuk penegak hukum harus tetap menjunjung tinggi hak asasi tersangka/terdakwa.

44

43 Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia dalam Sistem Pradilan Pidana. Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia, 1995.hlm. 36

44 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Penyidikan dan Penuntutan. Jakarta: Sinar Grafika, 2004. hlm. 40

(25)

2. Prinsip- Prinsip Penerapan Asas Praduga Tak Bersalah

Prinsip pemeriksaan akusatur ditegakkan dalam segala tingkat peroses pemeriksaan. Untuk menopang asas praduga tak bersalah dan prinsip ankusiatur dalam penegakan hukum, KUHAP telah memberikan perisai- perisai kepada tersangka/terdakwa berupa seperangkat hak-hak kemanusiaan yang wajib dihormati dan dilindungi pihak aparat penegak hukum

Dengan perisai yang diakuai hak-hak yang diakui hukum, secara teoritis sejak semula tahap pemeriksaan, tersangka/terdakwa sudah mempunyai “posisi yang setaraf” dengan pejabat pemeriksa dalam kedudukan hukum, berhak menuntut perlakuan yang digariskan dalam KUHAP seperti yang dilihat pada bab VI, Prinsip penerapan asas praduga tak bersalah, meliputi:

a. Tersangka/terdakwa segera mendapatkan “pemeriksaan oleh penyidik” dan selanjutnya diajukan kepada penuntut umum.

b. Tersangka/ terdakwa segera diajukan ke pengadilan dan “segera diadili”

oleh pengadilan.

c. Tersangka/terdakwa berhak untuk “diberitahu dengan jelas” dengan bahasa yang dimengerti olehnya tentang “apa yang disangkakan” kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai.

d. Tersangka/terdakwa berhak untuk “diberitahuakan dengan jelas” dalam

bahasa yang dimegerti olehnya tentang apa yang “didakwakan” kepadanya,

yang tujuanya adalah untuk member kesempatan kepadanya

mempersiapkan pembelaan.

(26)

e. Tersangka/terdakwa berhak memberi keterangan “secara bebas” baik kepada penyidik pada taraf penyidikan maupun kepada hakim pada proses pemeriksaan di sidang pengadilan.

f. Tersangka/terdakwa berhak untuk setiap waktu “mendapatkan bantuan”

juru bahasa pada setiap tingkatan pemeriksaan, jika tersangka/terdakwa tidak mengerti Bahasa Indonesia. Tersangka/terdakwa berhak mendapatkan

“bantuan hukum” dari seseorang atau lebih penasihat hukum selama waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan.

g. Tersangka/terdakwa berhak memilih sendiri penasehat hukum yang disukainya bahkan mengenai bantuan penasehat hokum, bukan sematamata hak yang ada pada tersangka/terdakwa, akan tetapi dalam hal seperti yang ditentukan pada Pasal 56, guna memenuhi hak mendapatkan bantuan penasihat hukum, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat “wajib”

menunjuka penasihat hukum bagi tersangka/terdakwa, apabila dia tidak mampu menyediakan penasihat hukumnya.

h. Tersangka/terdakwa berhak mengunjugu dan “dikunjugi dokter” pribadinya selama ia dalam tahanan.

i. Tersangka/terdakwa berhak untuk “diberitahukan kepada keluarganya” atau orang yang serumah dengan dia atas penahanan yang dilakukan terhadap dirinya. Pemberitahuan itu dilakukan oleh pejabat yang bersangkutan.

j. Tersangka/terdakwa berhak menghubungi dan “menerima kunjugan” dati

pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau orang lain, guna

mendapatkan jaminan penagguhan penahanan atau bantuan hukum.

(27)

k. Tersangka/terdakwa berhak secara langsung atau dengan perantara penasehat hukumnya untuk menghubungi atau menerima kunjugan sanak keluarga, sekalipun hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan tersangka/terdakwa.

l. Tersangka/terdakwa berhak “mengirim surat” dan “menerima surat” setiap kali diperlukanya yang kepadanya dan dari: Penasihat hukumnya, Sanak keluarga. Untuk keperluan surat menyurat ini pejabat yang bersangkutan harus menyediakan peralatan yang diperlukan.

m. Surat-menyurat ini “tidak boleh diperiksa” oleh aparat penegak hukum, kecuali jika terdapat cukup alasan untuk menduga adanya penyalah gunaan surat-menyurat tersebut.

n. Tersangka/terdakwa berhak untuk diadili dalam sidang pengadilan yang

“terbuka untuk umum”.

o. Tersangka/terdakwa berhak untuk mengusahakan dan “mengajukan” saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya (saksi a de charge).

p. Tersangka/terdakwa “tidak dibebani kewajiban pembuktian”24. Penuntut

umumlah yang dibebani kewajiban membuktikan kesalahn teredakwa. Atau

penyidiklah yang berkewajiban bertugas mengumpulkan bukti-bukti yang

diperlukan membuktikan kesalahan tersangka.

(28)

q. Tersangka/terdakwa berhak menuntut “ganti rugi” dan “rehabilitasi’ atas setiap tindakan dan perlakuan penangkapan, penahanan, dan penuntutan yang tidak sah atau yang bertentangan dengan hukum.

45

F. Tinjauan Umum Tentang Penegakan Hukum 1. Pengertian Penegakan Hukum

Penegakan hukum adalah suatu usaha untuk menanggulangi kejahatan secara rasional, memenuhi rasa keadilan dan berdaya guna. Sebagai sesuatu alat guna menanggulangi kejahatan pada segala sarana sebagai reaksi yang bisa diberikan terhadap pelaku yang berbuat kejahatan, berupa sarana pidana maupun non hukum pidana, yang dapat di integrasikan satu dengan yang lainnya. Untuk menanggulangi kejahatan sarana pidana akan dipanggil, berarti akan dilaksanakan politik hukum pidana, yakni mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundangundangan pidana yang sesuai dengannkeadaan dan situasi pada suatu waktu dan untuk masa- masa yang akan datang.

46

Pengertian penegakan hukum dapat dirumuskan sebagai usaha melaksanakan hukum sebagaimana mestinya, mengawasi pelaksanaanya agar tidak terjadi pelanggaran, dan jika terjadi pelanggaran memulihkan hukum yang dilanggar itu supaya ditegakan kembali. Penegakan hukum dilakukan dengan cara penindakan hukum menurut urutan berikut:

47

45Pasal 50-66 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

46 Barda Nawawi Arief, 2002, Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 109

47 Abdulkadir Muhammad, 2006, Etika Profesi Hukum. PT. Citra Aditya Bakti., Bandung, Hlm. 115

(29)

a. Teguran peringatan untuk menghentikan pelanggaran dan tidak boleh mengulangi perbuatan itu lagi (percobaan).

b. Pembebanan kewajiban tertentu (ganti kerugian, denda).

c. Penyisihan dan pengucilan (pencabutan hak-hak tertentu).

d. Pengenaan sanksi badan (pidana penjara, pidana mati).

Penegakan hukum dapat menjamin kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum pada era modernisasi dan globalisasi saat ini dapat terlaksana dengan baik, apabila berbagai dimensi kehidupan hukum selalu menjaga keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara moralitas sipil yang didasarkan oleh nilai-nilai actual di dalam masyarakat beradab. Sebagai proses kegiatan yang meliputi beberapa pihak yaitu termasuk masyarakat dalam rangka pencapaian tujuan yaitu keharusan untuk melihat penegakan hukum pidana sebagai suatu sistem peradilan pidana. Penegakan hukum sendiri harus diartikan dalam kerangka tiga konsep, yaitu sebagai berikut :

a. Konsep penegakan hukum yang bersifat total (total enforcement concept) yang menuntut agar semua nilai yang ada di belakang norma hukum tersebut di tegakkan tanpa terkecuali.

b. Konsep penegakan hukum yang bersifat penuh (full enforcement concept) yang menyadari bahwa konsep total perlu dibatasi dengan hukum acara dan sebagainyaademi perlindungan kepentingan individual.

c. Konsep penegakan hukum actual (actual enforcement concept) yang

muncul setelah diyakini adanya diskresi dalam penegakan hukum karena

keterbatasan-keterbatasan, baik yang berkaitan dengan sarana dan

(30)

prasarana, kualitas sumber daya manusianya, kualitas perundangundangannya dan kurangnya partisipasi masyarakat.

2. Faktor- Faktor Penegakan Hukum

Penegakan hukum di Indonesia memiliki faktor guna menunjang berjalannya tujuan dari penegakan hukum tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum di Indonesia:

48

a. Faktor Hukum

Yang dimaksud dengan hukum adalah segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yaituuapabila hukum itu di langgaraakan mendapatkan sanksi yang tegas dan nyata.

49

Sumber lain menyebutkan bahwa hukum adalah seperangkat norma atau kaidah yang berfungsi mengatur tingkah laku manusia dengan tujuan untuk ketentraman masyarakat.

b. Faktor Penegak Hukum

Penegak hukum di Indonesia ada beberapa jabatan untuk membantu dan mengurus faktor-faktor penegakan hukum seperti Pejabat Kepolisian, Jaksa, Hakim dan Satpol PP agar maksud dari suatu hukum dapat berjalan dengan lancar dan adil. Mentalitas atau kepribadian petugas penegak hukum memainkan peranan yang sangat penting, untuk membantu suatu peraturan itu agar terlaksana dengan baik,

48 Soerjono Soekanto, 1983. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum. Raja Grafindo. Jakarta. Hlm 15.

49 Yulies Tina Masriani, 2004. PengantarHukum Indonesia. SinarGrafika. Jakarta. Hlm 13

(31)

c. Faktor Masyarakat

Secara bentuk masyarakat dapat dibedakan menjadi dua tingkat kedalaman yang berbeda.Pertama, masyarakat yang langsung dan spontan sedangkan yang kedua adalah masyarakat yang terorganisir dan direfleksikan. Masyarakat dengan pola yang spontan dinilai lebih kreatif baik secara pemikiran maupun pola tingkah laku sedangkan masyarakat yang terorganisir memiliki pola pikir yang baku dan banyak perencanaan yang disengaja.

50

d. Faktor Sarana dan Fasilitas

Tanpa adanya sarana dan fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegakan hukum akan berlangsung dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut antara lain yaitu mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup dan seterusnya. Kalau hal-hal itu tidak tepenuhi, maka mustahil penegakan hukum akan dapat tercapai tujuannya.

51

e. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan memiliki fungsi yang sangat besar bagi masyarakat dan manusia. Masyarakat memiliki kebutuahan dalam bidang materiil dan spiritual. Untuk memenuhi kebutuhannya sebagian besar dipenuhi kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Tapi kemampuan manusia sangat terbatas, dengan demikian kemampuan

50 Alvin S Johnson, 2004. Sosiologi Hukum. RinekaCipta. Jakarta. Hlm 194

51Soerjono Soekanto. Op.Cit. Hlm 37.

(32)

kebudayaan yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas dalam memenuhi segala kebutuhan.

52

52Ibid., hlm. 178.

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti akan melakukan penelitian terhadap dampak kepuasan kerja (job satisfaction), keadilan organisasi (organizational justice), dan pemberdayan karyawan (employee

Teori ini dikemukakan oleh Hegel, yang menyatakan bahwa hukum adalah perwujudan dari kemerdekaan, sedangkan kejahatan adalah merupakan tantangan kepada hukum

Dari hasil temuan itu kemudian dilakukan autopsi oleh tim forensik RS Bhayangkara Semarang dan hasilnya disebutkan ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban

Terdapat beberapa tahapan penelitian serta pengolahan data yang meliputi, pengolahan data pengamatan harian pasang surut, pengolahan data penurunan tanah, pembentukan

Dengan demikian, salah satu situasi yang ada adalah, tuntutan peningkatan daya saing untuk pasar internasional yang berusaha dipenuhi oleh perusahaan di Indonesia

diadakan seleksi berdasarkan emampuan akademik dan atau hasil verifikasi biodata ( Home Visit ) yang dilakukan oleh panitia. Jalur Bina Lingkungan ini merupakan salah

Selanjutnya setelah nama tokoh wayang tersebut diklik akan mengeluarkan pop up seperti yang ditunjukan Gambar 5b, pop up ini terdapat nama wayang, gambar wayang, serta info

1. Pastikan file gambar Print2CAD-PetaAdministrasiKecamatan.dwg hasil edit sudah terbuka di AutoCAD Map.. Pilih menu Map > Tools > Rubber Sheet atau bisa juga melalui