• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Objek Penelitian Vivanews

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Objek Penelitian Vivanews"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Objek Penelitian 1.1.1 Vivanews

Vivanews adalah portal berita dalam jaringan atau online yang dikelola oleh PT. Viva Media Baru yang merupakan anak perusahaan PT Visi Media Asia Tbk. Selain Vivanews, PT Visi Media Asia Tbk juga membawahi dua unit usaha penyiaran, yaitu PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) dan PT Lativi Media Karya (tvOne). Presiden Komisaris dari PT Visi Media Asia adalah Anindya Bakrie.

Menurut data yang diperoleh dari viva.co.id, Situs berita ini diluncurkan pada tanggal 17 Desember 2008. Pemberitaannya mencakup masalah politik, bisnis, nasional, metro, dunia, saintek, sport, otomotif, sorot, wawancara, dan fokus. Selain memberikan berita yang dilaporkan oleh wartawan, situs ini juga menerima informasi dari pembacanya yang berminat melaporkan berita melalui fitur U-Report. Vivanews juga dibuat untuk dapat diakses melalui telepon seluler, computer tablet, dan PDA. Sedangkan tampilannya, situs ini menggabungkan teks, foto, video, dan suara.

Diakses pada (http://news.viva.co.id/pages/tentangkami/) (2 Juni 2012, 09:25 WIB).

Pada tahun 2012, Vivanews menempati posisi ke-17 dalam daftar situs yang paling banyak dikunjungi di Indonesia.

Sedangkan pada peringkat situs teratas dunia, Vivanews

(2)

2 menempati posisi ke 1.143 versi Alexa.com. Diakses pada (http://www.alexa.com/search?q=vivanews+forum&r=topsites_ind ex&p=bigtop.) (7 Juni 2012, 20:40 WIB)

Menurut data Effective Measure pada 30 April 2011, situs portal berita ini berhasil menempatkan diri menjadi situs online terdepan di Indonesia dengan memperoleh lebih dari 7 juta penguna. Diakses pada

(http://www.suarapembaruan.com/ekonomidanbisnis/listing- november-viva-patok-harga-ipo-rp-280-305/12768.) (5 Juni 2012, 13:25 WIB)

1.1.2 Berita pada situs Vivanews tentang Banjir Lumpur di Sidoarjo

Setiap media tentu saja memiliki aturan dan prinsip sendiri- sendiri dalam menuliskan judul berita. Kekhasan prinsip di dalam merumuskan judul berita itulah yang pada gilirannya akan membuat media yang bersangkutan dapat diterima oleh pasar dengan baik atau tidak.

Penelitian ini akan membahas berita banjir lumpur di Sidoarjo, khususnya pada bulan April dan Mei tahun 2012.

Alasannya adalah karena tepat pada bulan ini terjadi demo oleh masyarakat korban banjir lumpur dan mahasiswa. Pada bulan April demo terjadi di depan kantor Gubernur Surabaya, Jawa Timur.

Sedangkan pada bulan Mei, demo terjadi di Universitas Jendral Sudirman, Purwekerto. Seperti yang kita ketahui, awalnya banjir lumpur ini terjadi pada bulan Mei. Sehingga bulan ini dijadikan

(3)

3 sebagai peringatan musibah tersebut dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat dan mahasiswa. Oleh karena itu, peneliti ingin melihat seperti apa pemberitaan yang muncul di Vivanews terkait masalah tersebut.

Berita pada situs Vivanews bulan April dan Mei tahun 2012 dengan judul sebagai berikut:

TABEL 1.1

BERITA BANJIR LUMPUR DI SIDOARJO

No Hari Tanggal Judul Link

1 Rabu 18 April 2012

BPLS:

Minarak Lapindo Bayar Rp. 2,9

Triliun

http://bisnis.news.viva.co.id/

news/read/305328-tangani- lumpur--minarak-lapindo-

bayar-rp2-9-t

2 Selasa 1 Mei 2012

Aburizal Bakrie Temui

Demonstran

http://politik.news.viva.co.id /news/read/309398-aburizal- bakrie-temui-demonstran 3 Kamis 3 Mei

2012

Aburizal:

Masalah Lumpur Sidoarjo Tuntas 2012

http://politik.news.viva.co.id /news/read/310225-aburizal- -masalah-lumpur-sidoarjo-

tuntas-2012

4 Selasa 29 Mei 2012

6 Tahun Lumpur Sidoarjo, Ini

Penjelasan Istana

http://nasional.news.viva.co.

id/news/read/318632-enam- tahun-lumpur-sidoarjo

(4)

4 1.2 Latar Belakang Penelitian

Industri media di Indonesia sudah berkembang sejak akhir tahun 1980an. Perkembangan bisnis media mulai terlihat jelas pada saat era reformasi. Dalam lima belas tahun terakhir ini, pertumbuhan industri media di Indonesia didorong oleh kepentingan modal yang mengarah pada pemusatan kepemilikan. Pemusatan kepemilikan ini terlihat dari dua belas kelompok media besar yang mengendalikan hampir semua kanal media di Indonesia, termasuk didalamnya media cetak dan media online. Kelompok media tersebut adalah MNC Group, Kelompok Kompas Gramedia, Elang Mahkota Teknologi, Visi Media Asia, Grup Jawa Pos, Mahaka Media, CT Group, BeritaSatu Media Holdings, Grup Media, MRA Media, Femina Group dan Tempo Inti Media (Nugroho, 2012: 4).

Ilmuwan komunikasi, Wilbur Scramm, menyebut media massa sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Namun, kecendrungan belakangan ini memperlihatkan media telah menjadi industri atau institusi ekonomi. (Herman dan Chomsky, 2009:

6) di dalam buku Ekonomi Media mengemukakan bahwa “media massa telah menjadi industri, yaitu sebagai mesin atau pabrik penghasil berita (news manufacture) yang sangat efektif dan mendatangkan keuntungan besar dari sisi ekonomi.” Oleh karena itu, banyak pengusaha besar yang menanamkan modalnya dalam bisnis media massa seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. (Ks, 2009: 5) di dalam buku Ekonomi Media juga berpendapat bahwa “terjunnya pengusaha besar tersebut dalam industri media akhirnya memunculkan fenomena konglomerasi media.”

(5)

5 Grup MNC sebagai salah satu kelompok media besar memiliki tiga stasiun televisi termasuk 20 jaringan televis lokal dan 22 jaringan radio dibawah anak perusahaan mereka, Sindo Radio. Grup Jawa Pos memiliki 171 perusahaan media cetak, termasuk didalamnya Radar Grup. Kompas, salah satu surat kabar paling berpengaruh di Indonesia memiliki KompasTV, disamping dua belas stasiun radio dan 89 perusahaan media cetak lainnya. Contoh lain adalah Visi Media Asia;

merupakan grup media yang memiliki dua saluran televisi yaitu ANTV dan tvOne, serta media online yakni Vivanews.

Dalam menjelaskan tentang pemusatan kepemilikan media tersebut, (Gollding dan Murdoch, 2000: 71) menyatakan “media as a political vehicle, tend to be controlled by conglomerates and media barons who are becoming fewer in number but through acquisition, controlled the larger part of the world’s mass media and mass communication” atau dengan kata lain media sebagai kendaraan politik cenderung dikendalikan oleh hanya beberapa orang konglomerat dan baron media, tetapi melalui akuisisi mereka mampu mengontrol media massa dunia dan komunikasi masa secara lebih luas.

(6)

6 GAMBAR 1.1

PETA KEKUASAAN MEDIA

Sumber: Usman Ks. Peta Kekuasaan Media. Ekonomi Media, 2009: 26

Dennis McQuail, yang dikenal sebagai ilmuwan komunikasi, bahkan menempatkan media massa sebagai industri atau institusi ekonomi sebagai dalil pertama yang mendasari bukunya Mass Communication Theory (1987). (McQuail, 2009: 7) di dalam buku Ekonomi Media mengemukakan bahwa “ media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa, serta ikut menghidupkan industri lain yang terkait;

media massa juga merupakan industri tersendiri yang memiliki Surya Citra

Media SCTV

Indosiar

MNC RCTI

Global TV

TPI

Koran Seputar Indonesia

Transcorp TransTv

Trans7

Bakrie Group

ANTV

tvOne

Vivanews

Gen FM

Media Grup

Media Indonesia

MetroTV

(7)

7 peraturan atau regulasi dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat atau institusi sosial lainnya.”

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, jumlah media massa di Indonesia bertambah banyak, namun kepemilikan media hanya pada segelintir orang. Kondisi ini tidak terjadi di Indonesia saja, Craig (2000: 64) menjelaskan di tingkat global, bahwa “semakin banyak jumlah media massa di dunia, semakin sedikit jumlah mereka yang memiliki media.”

Masalah pemusatan kepemilikan ini adalah terletak pada efek, yaitu saat sistem produksi budaya massa, informasi, kekuatan ekonomi, bahkan penentu opini publik atau politik terkonsentrasi secara vertikal maupun horizontal hanya pada beberapa orang.

Konsentrasi Vertikal adalah perluasan siklus produk dan pelayanan dari produksi menjadi distribusi. Contoh nya adalah perusahaan besar televisi yang tidak hanya menguasai media televisi tetapi juga menguasai media cetak dan radio. Sedangkan konsentrasi horizontal maksudnya adalah konsentrasi antara perusahaan yang menempati posisi yang sama dalam berbagai sektor. Contohnya adalah perusahaan besar berada pada area media yang sama, biasanya pers, radio, dan televisi yang mengontrol beberapa chanel.

Pemusatan kepemilikan media tersebut menjadikan media sebagai sarana informasi yang tidak lagi bebas dan independen, tetapi memiliki keterkaitan dengan realitas sosial, ada berbagai kepentingan didalamnya. Disamping kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara, didalam media massa juga terdapat kepentingan orang lain;

misalnya kepentingan kapitalisme pemilik modal, kepentingan

(8)

8 keberlangsungan lapangan kerja bagi karyawan dan sebagainya.

Mengutip Garnhan di dalam buku Ekonomi Media, (McQuail, 2009: 6) menyebutkan bahwa “kualitas pengetahuan tentang masyarakat yang diproduksi oleh media, sebagian besar dapat ditentukan oleh transaksi berbagai ragam isi dalam kondisi yang memaksakan perluasan pasar dan juga ditentukan oleh kepentingan ekonomi para pemilik media.”

Dalam kondisi dan posisi seperti ini, media massa tidak mungkin berdiri statis di tengah-tengah, namun akan bergerak dinamis diantara beberapa kepentingan yang ada didalamnya. Kenyataan seperti ini menyebabkan timbulnya bias berita di media massa. Bias berita yang dimaksud adalah berita yang tidak seimbang, atau bahkan memihak kelompok sosial tertentu. Mengenai bias berita, Graeme Burton (2000:

58) mengatakan bahwa “berita yang tidak bias, berimbang, dan imparsial atau tidak berpihak adalah bagian dari ideologi berita.”

Atribut-atribut tertentu dari media dapat mengkondisikan pesan- pesan yang dikomunikasikan. Sebagaimana dikatakan oleh Marshall McLuhan, “the medium is the message,” medium itu sendiri merupakan pesan. Apa-apa yang dikatakan ditentukan secara mendalam oleh medianya. (Sobur, 2009: 37)

Bias media tersebut disebut juga dengan framing. “Framing adalah sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas”

(Sudibyo, 1999: 23).

(9)

9 Konsep media framing secara sederhana menjelaskan bahwa pemberitaan media sering mereduksi atau mendistorsi sebuah fakta yang sesungguhnya rumit dan bertingkat-tingkat. Reduksi fakta dilakukan dengan menyeleksi dan menonjolkan aspek tertentu saja dari fakta, sambil menghilangkan atau mengaburkan aspek lain yang tidak kalah penting. Melalui framing, yang disajikan kepada publik bukan fakta itu sendiri, melainkan penggalan atau sekuel fakta yang pasti tidak lengkap dan dapat mendistorsi persepsi khalayak.

Hal ini bisa dilihat dari perkembangan pers mulai dari era orde baru hingga kini, pers mengalami banyak perubahan khususnya dari segi kebebasan berbahasa. Pasca Orde Baru berkuasa yaitu Mei 1998, semangat kebebasan menjadi sebuah dasar berdirinya kekuasaan. Hal ini sejalan dengan amanat pasal 2 UU Pokok Pers 40/ 1999 yang menyatakan kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hokum. Pers pada masa reformasi tidak lagi mendapat campur tangan pemerintah, namun dikontrol oleh masyarakat. Namun dalam konteks liberalisasi industri, pers memiliki kebebasan yang relatif belum terlindungi dari intervensi politik penguasa dan penetrasi kepentingan modal seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

(Sumadiria, 2008: 26)

Media pada saat orde baru sangat berbeda dengan media pada era reformasi, hal ini karena saat ini media bebas mengembangkan model pemberitaan sesuai dengan keinginannya. Namun, kata bebas ini pada perkembangannya bisa bermakna lain karena bagaimanapun, media bukan entitas yang benar-benar otonom dan mandiri.

(10)

10 Seperti yang telah dibahas sebelumnya, media bukan entitas yang mandiri dan otonom. Media berada dibawah pengaruh kepemilikan dan faktor lainnya. Hal ini berhubungan pada perubahan dramatis dalam level teks isi media, dimana berkaitan dengan produksi teks media.

Bagaimana perilaku media dalam menyajikan informasi sebaik mungkin pada khalayak adalah pertanyaan yang berhubungan dengan masalah perubahan level teks isi media tersebut. Contoh kasus pada pemberitaan tertentu, media yang satu menonjolkan sisi atau aspek tertentu, sedangkan media lain meminimalisir, bahkan menutup isi atau aspek tersebut. Perbedaan tendensi setiap media dalam pemberitaan atas peristiwa yang sama lazim disebut dengan frame atau bingkai media (Eriyanto, 2002: 5)

Pemilihan judul berita, struktur berita, atau keberpihakan adalah implikasi dari seperangkat asumsi tertentu sebagai kecendrungan wartawan media massa. Melalui penggunaan bahasa sebagai sistem simbol yang utama, para wartawan mampu menciptakan, memelihara, mengembangkan, dan bahkan meruntuhkan suatu realitas.

Implikasinya adalah aksen tertentu seperti penekanan, penajaman, pelembutan, pengagungan, pelecehan, pembelokan, pengaburan, dan lainnya.

Persepsi kewartawanan erat kaitannya dengan asumsi persepsi setiap orang atau kelompok yang aktif dan selektif dalam memahami lingkungannya dan masing-masing memiliki persepsi yang berbeda atas suatu masalah, seberapa kecilpun perbedaan tersebut. Dengan melewati proses seleksi dan reproduksi, berita sebenarnya merupakan laporan peristiwa yang artificial, tetapi dapat diklaim objektif oleh pers

(11)

11 untuk mencapai tujuan ideologis dan bisnis. Berita tidak hanya menyampaikan tetapi juga menciptakan makna. (Sobur, 2009: 89)

Tidak ada kebenaran tunggal, kebenaran selalu relatif. Realitas media merupakan serangkaian fakta yang dipilah, diseleksi, dan dibingkai sedemikian rupa untuk menghadirkan suatu rangkaian imaji yang utuh menurut para pekerja media tersebut tentang suatu peristiwa.

Hall (Wibowo, 2010: 122) mengemukakan bahwa “realitas tidaklah secara sederhana dapat dilihat sebagai satu set fakta, tapi hasil dari ideologi atau pandangan tertentu.” Pada saat yang bersamaan pula, realitas media merupakan usaha menyampaikan salah satu versi kebenaran tentang sebuah peristiwa, yang karena keterbatasan ruang, waktu, dan kepentingan politik tertentu terpaksa mengabaikan versi kebenaran yang lain.

Dalam pemberitaan yang menyangkut suatu persoalan yang masih menjadi perdebatan atau kontraversial, media kerap ikut menerima satu pandangan lain dan menolak pandangan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari pendefinisian persoalan tersebut. Musibah banjir lumpur di Sidoarjo adalah satu diantara sekian banyak persoalan yang kontraversial yang diberitakan oleh media massa.

Banjir lumpur di Sidoarjo adalah permasalahan lumpur panas yang terjadi pada tahun 2006. Banjir lumpur panas tersebut terjadi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan itu terjadi tepat pukul 22.00 WIB pada hari Senin, 29 Mei 2006, hanya berselang dua hari setelah terjadinya gempa di Kabupaten Bantul, Yogyakarta dan Klaten di Jawa Tengah. Semburan terjadi sekitar 150 m dari bibir sumur BJP-1 dengan ketinggian sekitar 50 meter. Lumpur panas yang menyembur dari perut

(12)

12 bumi tersebut mendapat perhatian dari banyak pihak. Pada kasus ini, Lapindo merupakan operator sumur BJP-1.Masyarakat lebih mengenal musibah ini dengan kata Lumpur Lapindo. Istilah ini sendiri muncul karena keterlibatan PT Lapindo Brantas Inc sebagai operator pengeboran minyak di area terjadinya bencana. Ada beragam dugaan penyebab musibah lumpur tersebut, diantaranya adalah kesalahan akibat aktivitas pengeboran dan dugaan lain adalah murni bencana alam. Kedua pendapat ini muncul pada isi pemberitaan media massa perihal wacana Lumpur Lapindo. Diakses pada

(http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo.) (4 Juni 2012, 10:25 WIB)

Menurut Stallings di dalam jurnalnya yang berjudul Weberian Political Sociology and Sociological Disaster Studies, Ada semacam kesepakatan umum di kalangan ahli sosiologi bencana bahwa di kalangan ahli sosiologi bencana bahwa di masa depan situasi luar biasa yang dipicu oleh kegagalan teknologi akan semakin sering terjadi.

Jumlah bencana yang melibatkan antara alam dan teknologi akan semakin meningkat. Selain itu mereka berpendapat ulah manusia juga akan semakin dikenali sebagai penyebab atas apa yang secara tradisional dianggap sebagao akibat fenomena alam.

Kontroversi seputar fakta penyebab banjir lumpur di Sidoarjo ini, mengembangkan isu konspirasi antara Negara (pemerintah) dan pihak pengusaha (korporasi). Melalui berita yang dimuat pada situs Tempo, diketahui bahwa melalui pemberlakuan Perpres No.14 tahun 2007 hingga keputusan Sidang Paripurna DPR pada 19 Februari 2008, masalah ini diselesaikan menggunakan APBN.

(13)

13 Media massa merupakan sebagai tempat bertemunya berbagai pihak yang berkepentingan dengan pokok persoalan. Lewat strategi wacana, sebuah media massa menentukan posisi dan perannya atas sebuah klaim kebenaran sebuah peristiwa dalam suatu wacana.

“Pembuatan berita di media pada dasarnya tidak lebih dari penyusunan realitas-realitas sehingga membentuk sebuah cerita.” Tuchman (Sobur, 2009: 88). Pada studi media massa, untuk menafsirkan teks pemberitaan dalam situs berita Vivanews bulan April dan Mei tahun 2012, digunakan pendekatan kritis dengan metode riset analisis framing.

Melalui pendekatan kritis penulis akan menganalisis berita-berita banjir lumpur panas yang di produksi oleh Vivanews dengan lebih komprehensif dan kontekstual. Bagaimana dan dengan cara apa musibah banjir lumpur di Siodarjo diberitakan, menjadi fokus studi atau penelitian pada muatan, nuansa, dan konstruksi makna yang tersembunyi (laten) dalam teks yang dikaji.

Situs berita online yang berada dibawah kepemilikan Bakrie &

Brothers; pihak yang diduga bertanggung jawab atas bencana lumpur ini sempat membahas bencana itu dari sudut pandang geologi dan teknologi pertambangan. Sudut pandang ini dapat menambah pengetahuan khalayak tentang aspek-aspek saintifis dari bencana ini.

Namun, pembahasan aspek saintifis bencana lumpur ini ditakutkan dalam prakteknya dapat menggusur aspek lain yang lebih kontekstual dan relevan: aspek perlindungan hak-hak korban, etika korporasi, serta frame lingkungan hidup.

(14)

14 Media framing memudahkan orang memahami sesuatu masalah secara instan. Namun reduksi fakta yang terjadi bisa menyesatkan khalayak. Aspek-aspek human error dan kecerobohan industrial jelas tidak bisa dikesampingkan begitu saja dalam pembahasan tentang masalah banjir lumpur panas di Sidoarjo ini.

Masalah banjir lumpur panas ini mungkin selesai dengan keputusan pemerintah yang menilai tidak ada kesalahan korporasi.

Sehingga dalam hal ini Negara menjadi penanggung jawab segala kerugian yang diderita. APBN tahun 2012 digunakan untuk penanggulangan dan penggantian kerugian korban. Hal ini tentunya semakin menambah beban dan hutang Negara, yang diketahui setengahnya adalah hutan yang dibuat oleh pihak swasta. Diakses pada (http://www.tempo.co/read/news/2009/09/09/058197138/Dampak- Lumpur-Lapindo-Dibiayai-APBN.) (3 Juni 2012, 18:10 WIB)

Permasalahan banjir lumpur panas terkait pemberitaannya di Vivanews menarik untuk diteliti. Contoh sederhana adalah penggunaan istilah “lumpur Lapindo” dan “lumpur Sidoarjo.” Pengamat media massa dari Universitas Airlangga, Surabaya Yayan Sakti Suryandaru menilai media massa tidak konsisten dalam pemberitaan mengenai banjir lumpur panas di Sidoarjo. Diakses pada

http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_detail/518/Lapindo-Mud-Flow- or-Sidoarjo-Mud-Flow-.html (24 Oktober 2012, 15: 15 WIB)

Beberapa media massa seperti surat kabar dan majalah mengistilahkan kata “lumpur Sidoarjo” untuk menunjuk peristiwa ini.

Termasuk situs berita online Vivanews yang dari awal tetap menggunakan istilah “lumpur Sidoarjo”. Hal ini dilakukan untuk

(15)

15 meminimalisir efek negatif terhadap citra Bakrie sebagai pemilik media Vivanews. Selain itu, penggunaan frasa ini juga dilakukan untuk membangun persepsi di masyarakat bahwa masalah ini adalah murni bencana alam bukan akibat kesalahan korporasi. Pembingkaian dan penetapan sudut pandang situs berita ini melibatkan peneliti pada penelitian isi teks media mengenai wacana lumpur Lapindo. Perhatian utama difokuskan pada bahasa dengan melihat pemakaian kata, labelisasi, dan gaya bertutur atau berkisah (story telling) pada pemberitaan musibah banjir lumpur panas di Sidoarjo ini.

Etika bahasa jurnalistik, mengajarkan kepada jurnalis atau siapapun pengelola media massa untuk tidak keluar dari koridor yuridis, sosiologis, dan koridor etis. Koridor yuridis, untuk pers sudah diatur dalam UU Pokok Pers No. 40/ 1999, dan untuk media penyiaran radio dan televisi sudah diatur dalam UU Pokok Penyiaran No.

32/2002. Koridor sosiologis, sudah dibakukan dalam enam landasan pers Nasional. Koridor etis, untuk sebagian sudah dibakukan dalam berbagai ketentuan dan pedoman baku seperti kode etik jurnalistik dan kode praktik media massa. Tetapi, untuk sebagian lagi, senantiasa melekat dalam kebijakan redaksional media dan pegangan personal- spiritual setiap jurnalis (Sumadiria, 2005: 51-53)

Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan apakah ada orientasi yang berbeda terhadap fakta seputar lumpur panas di Sidoarjo.

Orientasi ini tergambar pada cara melihat yang berbeda terhadap realitas yang dijadikan berita dan berpengaruh pada hasil akhir dari konstruksi realitas atau framing yang dibangun dari kenyataan yang sama.

(16)

16 1.3 Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah: “Bagaimanakah Vivanews sebagai media yang berada di dalam PT Visi Media Asia (Bakrie Grup) membingkai berita tentang masalah banjir lumpur panas di Sidoarjo pada bulan April dan Mei Tahun 2012?”

1.4 Tujuan penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana situs berita online Vivanews membingkai berita tentang masalah banjir lumpur di Sidoarjo pada bulan April dan Mei Tahun 2012.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Aspek Teoritis

Untuk menambah kajian dalam bidang ilmu komunikasi terutama yang menggunakan metode kualitatif pada umumnya, dan analisis framing pada khususnya. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang strategi yang digunakan media dalam membingkai realitas sosial mengenai kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo.

(17)

17 2. Aspek Praktis

a. Dapat menjadi referensi bagi mahasiswa ilmu komunikasi yang tertarik dengan penelitian analisis teks media khususnya yang menggunakan metode analisis framing.

b. Dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi jurnalis serta institusi media massa, khususnya Vivanews dalam mengkonstruksi berita dan menyampaikan informasi kepada khalayak.

1.6 Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika penelitian yang dipakai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bab I. Pendahuluan

Pada bab ini peneliti menyampaikan objek penelitian, latar belakang penelitian, fokus penelitian, maksud dan tujuan penelitian, serta kegunaan penelitian.

Bab II. Tinjauan Pustaka

Pada bab ini peneliti mengemukakan teori yang menjadi dasar dalam penelitian. Dalam penjabaran teori ini, peneliti menjelaskan tentang pendekatan yang akan dipakai oleh peneliti dalam penelitian ini. Peneliti juga menjelaskan definisi analisis framing, aspek-aspek yang terdapat didalamnya, efek framing dan model analisis framing yang akan dipakai dalam penelitian ini, juga teori yang berkaitan

(18)

18 dengan ideologi media massa. Lebih lanjut peneliti akan mengkaitkan semua teori-teori dasar yang dipakai dalam penelitian ini.

Bab III. Metode Penelitian

Pada bab ini, peneliti menjabarkan definisi konseptual dari penelitian ini. Selanjutnya dalam bab ini peneliti juga menjelaskan jenis penelitian yang akan dilakukan, sumber data yang akan digunakan, metode pengumpulan data, dan juga teknik analisis data yang akan dipakai oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini. Dalam bab ini peneliti juga mengemukakan tentang tinjauan umum Vivanews yang menjadi objek penelitian skripsi ini.

Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab ini memuat tentang karakteristik responden, hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian tentang pemberitaan lumpur Lapindo pada situs berita online Vivanews yang menggunakan metode analisis framing.

Bab V. Simpulan dan Saran

Bab ini berisi hasil penelitian dalam bentuk kesimpulan dan saran dari peneliti.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis dapat mengidentifikasi pertanyaan penelitian yang akan dijawab. Pertanyaan penelitian tersebut

Berdasarkan latar belakang serta identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah pengaruh latar

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, saya sebagai penulis memutuskan focus penelitian tentang strategi penciptaan social media melalui instagram yang

Berdasarkan dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengurus BKPRMI Kota

Berdasarkan fenomena dan latar belakang yang sudah diuraikan oleh penulis terhadap fenomena diatas berdasarkan data yang diberikan oleh perusahaan, maka penulis bermaksud

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah yang akan menjadi fokus penelitian penulis yaitu pengaruh Current Ratio

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa identifikasi masalah dalam penelitian ini berkaitan dengan arti

Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka fokus penelitian ini adalah Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan