• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Muspardi, 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Muspardi, 2014"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan ini akan diuraikan mengenai beberapa sub bab, yaitu latar belakang penelitian, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta struktur organisasi tesis. Berikut penjelasan mengenai sub bab yang menyusun bab pendahuluan tersebut.

A. Latar Belakang Penelitian

Surau sebagai salah satu institusi pendidikan Islam di Sumatera Barat kendatipun dianggap sebagai institusi pendidikan yang bersifat tradisional dan sudah sering dibicarakan serta masih hangat dan penting untuk dibicarakan. Dalam hemat saya, paling tidak ada tiga alasan yang melatar belakangi topik ini menarik untuk dikaji ulang. Pertama, telah di-mafhumi, keberadaan surau dalam masyarakat Minangkabau sebagai tempat penanaman nilai-nilai keagamaan, moral, etika, dan belajar baca tulis Al-Qur’an serta tempat pelaksanaan ibadah. Dihubungkan dengan perubahan dan perkembangan zaman dengan segala dampak negatifnya tehadap generasi muda sekarang. Ketika muncul permasalahan tentang memudarnya sikap, pemahaman dan pengamalan ajaran agama serta banyaknya generasi muda, yang tidak bisa baca tulis Al-Qur’an, terutama di Minangkabau, maka ada anggapan, bahwa mereka telah meninggalkan pendidikan surau; walaupun ada pula suatu apriori dan rasa sinis bahwa sistem pendidikan surau tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Andil besar surau bagi generasi masa lalu menjadi perbandingan untuk menilai keadaan generasi masa kini. Oleh karena itu, keinginan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan surau dalam sistem pendidikan di Minangkabau semakin diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai agama, moral, etika, disamping dibutuhkan pemikiran yang konstruktif dan inovatif dalam penataan kelembagaan.

Kedua, disamping sebagai lembaga keagamaan dan pendidikan, surau juga memiliki peran dan fungsi sosiokultural. Keluarga, kaum atau suku yang membangun surau, memanfaatkannya untuk tempat berkumpul, tempat tidur bagi

(2)

generasi muda, tempat musyawarah, belajar silat dan sebagainya. Disini akan ditemukan keterkaitan kejiwaan komunitas yang memanfaatkan surau dengan ragam peran yang ditampilkannya, sehingga proses dan interaksi sosial yang terjadi akan mengarah pada pembentukan watak dan kepribadian berdasarkan nilai dan norma adat Minangkabau. Kedua fungsi keagamaan dan sosiokultural ini bersinergi dalam kehidupan masyarakat.

Ketiga, ketika munculnya perbincangan tentang kelangkaan ulama dan pemikir besar Sumatera Barat yang mempunyai gagasan dan pemikiran tingkat nasional. Pro dan kontra dari tokoh-tokoh Sumatera Barat mencuat kepermukaan, untuk menanggapi perbincangan hangat ini. Muchtar Naim, misalnya, menguraikan dengan penuh simpatik akar-akar persoalan berdasarkan tinjauan historis-sosiologis pendidikan, Menurut Mochtar Naim, sistem pendidikan di Indonesia, salah satunya, lebih berorientasi pada mengejar pangkat dan kedudukan untuk memenuhi kehidupan duniawi ketimbang isi dan penguasaan materi yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan sekuleristik seperti ini pada dasarnya diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial Belanda di abad ke-19. Adapun sistem pendidikan surau lebih berorientasi pada substansi isi dan penguasaan materi pendidikan yang sarat nilai. Tentu, faktor ini tidaklah selalu dapat dijadikan alasan kenapa surau mulai dan harus dikaji kembali, karena dengan sifat kesederhanaan dan ketradisionalannya menuntut gandengan tangan kemodernan untuk “memproduksi” ulama dan pemikir besar, semisal Muhammad Jamil Jambek, Abdullaah Ahmad, Taher Jalaluddin, Abdul Karim Amrullah, K.H Agus Salim, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Hamka dan lain-lain (Nizar, S. et al, 2013: 2).

Seiring dengan spirit ketiga hal di atas, diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, sangat berpengaruh terhadap sistem ketatanegaraan Indonesia. Hal ini terjadi karena Undang-undang ini menganut azas desentralisasi dengan otonomi yang luas, nyata dan bertanggug jawab. Maksudnya, bahwa dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengurus dan mengatur rumah tangga daerahnya sendiri dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang

(3)

ada di daerah tersebut. Dengan terbukanya peluang melalui otonomi daerah ini, maka masyarakat Minangkabau bersama-sama pemerintah daerah Sumatera Barat serta DPRD menggagas untuk kembali ke bentuk pemerintahan nagari sebagai struktur pemerintahan terendah sebagai ganti dari struktur pemerintahan desa yang tidak berhasil memberdayakan masyarakat adat Minangkabau. Hal ini baru bisa di wujudkan setelah dibuatnya Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 9 Tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari, yang di sahkan pada tanggal 16 Desember 2000.

Berlakunya Peraturan Daerah Sumatera Barat Nomor 9 tahun 2000 memberi ruang untuk menghidupkan nilai-nilai budaya yang selama ini terpinggirkan lantaran penerapan sistem pemerintahan desa pada masa orde baru, dan setelah melalui persiapan yang cukup panjang, akhirnya sistem pemerintahan desa dapat diubah kembali menjadi sistem nagari. Sejalan dengan program kembalinya ke sistem pemerintahan nagari dari pemerintahan desa, pemerintah daerah Sumatera Barat juga mencanangkan program kembali ke surau agar nilai-nilai agama dan adat bisa dilestarikan. Berkaitan dengan hal itu cendikiawan Minangkabau Salmadanis dan Samad (2003:198) mengungkapkan bahwa:

Kembali ke surau semestinya dipahami bukan mengembalikan fungsi surau sama persis seperti zaman penjajahan dahulu, akan tetapi menjadikan surau sebagai pusat pembinaan umat dan menjadi salah satu tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang harus teguh melaksanakan prinsip musyawarah, yang pada dasarnya adalah pondasi mendasar dan utama dari adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa kembali ke surau yang dicanangkan oleh pemerintahan daerah Sumatera Barat seharusnya dapat menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan surau untuk diimplementasikan sesuai dengan realitas kehidupan saat ini. Di surau anak-anak Minang diajarkan berbagai pendidikan mulai dari pendidikan agama, pendidikan budaya, beladiri, berkomunikasi dan lainnya (Elfindri, dkk, 2010:229). Berdasarkan pendapat tersebut terdapat ciri khas nilai-nilai pendidikan surau ialah pandai mangaji, pandai mangecek dan pandai basilek, maksudnya taat beragama, pintar berkomunikasi dan terampil dalam ilmu beladiri.

(4)

Berdasarkan tiga ciri khas dari nilai-nilai pendidikan Surau di atas, saya melihat bahwa Perguruan Islam Ar-Risalah memiliki kesamaan dengan pola pendidikan surau. Hal ini tampak dari beberapa hal berikut, diantaranya : 1) Murid menginap di surau/sekolah, 2) Mendalami ajaran Islam dan ada pelajaran budaya Minang, 3) Berlatih keterampilan berkomunikasi dan 4) Belajar bela diri, serta 5) menghasilkan insan berprestasi. Berbekal semangat untuk mencari solusi terhadap permasalahan karakter bangsa kita, maka perlu meneliti sekolah atau lembaga pendidikan yang melakukan upaya pengintegrasian pendidikan karakter berbasis budaya bangsa.

Membangun karakter bangsa dengan mengembangkan karakter siswa melalui pendidikan karakter di sekolah semakin penting ditengah berbagai fenomena melemahnya karakter bangsa saat ini. Bila kita simak berita di media massa dan televisi serta melihat langsung dalam kehidupan masyarakat saat ini, sangat mudah kita temui seorang anak yang berani membantah bahkan melawan pada orang tuanya, tawuran antar pelajar, mencontek dalam ujian, suatu keluarga tidak peduli pada tetangganya, rakyat tidak lagi mau mengikuti para pemimpinnya, demikian juga pemimpin kurang mampu menangkap aspirasi rakyatnya dan berbagai fenomena lainnya.

Berdasarkan fenomena di atas dapat kita garis bawahi bahwa telah terjadi degradasi moral dan melemahnya karakter dari bangsa Indonesia yang disebabkan berbagai faktor. Untuk mengatasi permasalahan yang kompleks ini, semua komponen bangsa harus ikut bahu-membahu dan bersatu-padu, memberikan sumbangsih pemikiran berupa ide, gagasan, dan berbagai hasil penelitian untuk menghasilkan konsep yang komprehensif sebagai upaya untuk pemecahan masalah tersebut, sehingga negara yang adil, makmur dan sejahtera bisa segera di wujudkan.

Pada tahun 2010, Balai Penelitian dan Pengenbangan Kementrian Pendidikan Nasional merespons pentingnya wacana permasalahan moral dalam dunia pendidikan dengan grand tema, “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa”. Budaya yang dimaksud memiliki pengertian sebagai seluruh sistem berfikir, nilai, moral, norma, keyakinan (beliief) manusia yang dihasilkan

(5)

masyarakat. Sedangkan karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakininya dan digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang, bersikap dan bertindak (Kemendiknas, 2010 : 3).

Ada beberapa bentuk pengintegrasian pendidikan karakter dalam proses pendidikan yaitu pengintegrasian dalam pembelajaran di kelas, pengembangan budaya sekolah, kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat (Pusat Kurikulum, 2011:13). Suryabrata (2000) mengungkapkan bahwa corak kehidupan seseorang ditentukan oleh nilai kebudayaan mana yang dominan.

Bagi masyarakat di kota Padang, budaya yang dominan ialah budaya Minangkabau. Dengan begitu, bagi orang Minang bagaimana mereka mendidik karakter anak tentunya akan disesuaikan dengan budaya Minangkabau yang berlandaskan kepada ajaran Islam. Sebagaimana Yunus St, Majolelo (1981:1) menyatakan bahwa masyarakat Minang memiliki falsafah Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah yang bermakna bahwa Adat dan syara’ (agama) di Minangkabau, selalu bantu-membantu; adat menjalankan peraturan-peraturan yang sudah digariskan oleh syara’. Hal ini diperkuat dengan pepatah Minang yang mengungkapkan Syara’ mangato, Adat mamakai yang artinya : Apa yang di perintahkan oleh agama maka itulah yang harus dijalankan oleh adat.

Hal ini sejalan dengan panduan pendidikan karakter yang disusun oleh Pusat Kurikulum dan Buku (2011: 13) menyatakan bahwa :

Bahan pendidikan karakter yang dibuat dari pusat, sebagian masih bersifat umum dan belum mencirikan kekhasan daerah tertentu. Oleh karena itu diperlukan penyesuaian dan penambahan baik indikator maupun nilai itu sendiri berdasarkan kekhasan daerah. Selain itu juga perlu disusun strategi dan bentuk-bentuk dukungan untuk menggandakan dan menyebarkan bahan-bahan yang dimaksud (bukan hanya dikalangan persekolahan tapi juga di lingkungan masyarakat luas).

Dipilihnya salah satu kota di Sumatera Barat yaitu kota Padang sebagai tempat penelitian dikarenakan Kota Padang telah berupaya mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Surau yang bersumber pada ajaran Islam dalam kebijakan

(6)

pendidikannya. Dalam beberapa kebijakan pemerintah kota Padang menggalakan berbagai program untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan surau, diantaranya melalui program pesantren Ramadhan yang diwajibkan bagi murid SD/Sederajat kelas IV sampai kelas XII SMA/Sederajat, program wirid remaja dan didikan shubuh. Bukan hanya siswa melainkan guru juga harus terlibat menjadi pengawas sekaligus pembimbing di Mushollah/Masjid yang terletak di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Dari pengamatan saya masih belum terintegrasinya antara pendidikan sekolah dengan pendidikan di surau dan di masyarakat dengan baik.

Ada hal menarik di tengah upaya yang dilakukan pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan karakter, dimana di kota Padang terdapat sebuah Perguruan Islam Ar-Risalah yang terdiri dari SMP dan MA Boarding School yang terletak di Air Dingin RT 01 RW IX Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Walaupun baru berdiri tahun 2003 atau sekitar 11 tahun yang lalu, sekolah ini sangat diminati oleh siswa dan orang tua, karena sangat konsen sekali melakukan pembinaan karakter dan banyak juga para siswanya berprestasi dari berbagai bidang. Alumni perguruan ini telah banyak menorehkan prestasi dan melanjutkan studinya di perguruan tinggi favorit di dalam dan luar negeri. Sekolah ini juga telah meluluskan siswa yang memiliki moral yang baik serta hafidz Al-Qur’an yang telah ikut membina masyarakat dan lingkungan mahasiswa di tempat mereka tinggal dan kuliah.

Berdasarkan observasi awal, peneliti melihat program pendidikan karakter yang dilaksanakan di Perguruan Islam Ar-Risalah Padang telah diupayakan terintegrasi dalam pembelajaran, muatan lokal dan budaya sekolah. Seluruh aspek pendidikan dan lingkungan sekolah dari awal sampai akhir ditata sesuai amanat pendidikan budaya dan karakter bangsa demi terwujudnya generasi penuh berkah.

Integrasi nilai-nilai pendidikan surau yang diterapkan di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah bisa dipandang sebagai salah satu bentuk upaya penerapan kearifan lokal Minangkabau terhadap falsafah adat yang berbunyi adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Falsafah tersebut mengandung makna bahwa adat sebagai aturan yang dibuat dan dilestarikan oleh manusia Minangkabau

(7)

bersumber dari syara’ atau agama Islam yang sumber hukumnya dari Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT . Dari ungkapan ini dapat diketahui bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Islam. Hal ini juga berdampak pada pendidikan di Minangkabau yang tidak dapat terpisahkan dengan Islam. Jika kita menilik pada konteks pendidikan yang memiliki peranan penting dalam mentransformasikan nilai-nilai kebajikan yang diyakini oleh suatu generasi ke generasi berikutnya, maka lembaga pendidikan merupakan sarana yang strategis dan efektif bagi proses terjadinya transformasi kewarganegaraan dalam suatu komunitas sosial.

Pendidikan yang memasukkan nilai-nilai pendidikan surau sebagai bagian dari budaya lokal di dalamnya merupakan aplikasi konsep pendidikan sebagai proses sosio-kultural, yang menyatakan pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, pengintegrasian nilai-nilai pendidikan surau sudah seharusnya menjadi salah satu solusi untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Keberhasilan pengintegrasian budaya sebagai solusi permasalahan pendidikan telah dibuktikan oleh negara maju seperti Jepang yang terkenal dengan kizunanya yaitu mendidik dengan hati dan bersahabat, sehingga tercipta hubungan emosional yang kuat antara guru dan siswa. Hal itu menunjukkan kemodernan bila dipadukan dengan sebuah kearifan budaya menjadi suatu hal yang bernilai luar biasa.

Prestasi, manajemen sekolah serta karakter siswa di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah Padang yang telah diuraikan di atas, menarik untuk ditelusuri lebih jauh dan mendalam serta perlu dipelajari cara-cara sekolah tersebut mengelolah pengintagrasian nilai-nilai pendidikan surau yang kuat dengan nilai-nilai Islam untuk diintegrasikan dalam proses pembelajaran dan seluruh kegiatan sekolah tanpa mengurangi prestasi belajar siswa sehingga mampu membentuk sebuah pribadi yang jujur, cerdas, peduli dan tangguh dalam kondisi masyarakat kita sekarang yang cenderung bersifat hedonis, individualis dan materialistis.

(8)

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Wenny Liztia tahun 2011 tentang Internalisasi Nilai–Nilai dalam Proses Pembelajaran PKN di Perguruan Islam Ar-Risalah Kota Padang (Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang) :

Hasil penelitian di temukan bahwa upaya internalisasi nilai – nilai dalam proses pembelajaran PKN tidak berjalan sendiri, namun didukung oleh program dan mata pelajaran lain, untuk perencanaan yang dibuat guru seperti silabus dan RPP memiliki muatan nilai yang secara tidak langsung dapat dimaknai dari kompetensi dasar dan indikator yang ada. Sedangkan dalam proses pembelajaran upaya menginternalisasikan dilakukan melalui pendekatan cerita. Proses internalisasi tersebut dapat dibuktikan melalui lima pentahapan, yaitu tahap pemberian pengetahuan tentang nilai, tahap memahami nilai, tahap meneriman nilai, tahap bersikap dan tahap mengamalkan nilai- nilai. Untuk proses penilain pembelajaran dipengaruhi dari nilai sikap dan aktivitas selama diasrama.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis Integrasi Nilai-nilai Pendidikan Surau Dalam Transformasi

Kewarganegaraan Untuk Mengembangkan Karakter Siswa.

B. Identifikasi Permasalahan Penelitian

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diidentifikasi berbagai masalah yang ada berkaitan dengan integrasi nilai-nilai pendidikan surau yaitu sebagai berikut:

1. Surau sebagai lembaga pendidikan tradisional Minangkabau sangat berperan dalam menenamkan karakter kepada generasi muda Minang tempo dulu. Banyak ulama dan pemikir besar yang berasal dari Minangkabau seperti K.H. Agus Salim, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Hamka dan lain-lain, merupakan tokoh Minang dan tokoh bangsa Indonesia yang didik dan dilatih di surau. Namun, saat ini pendidikan surau tidak seperti dulu lagi, generasi muda Minang saat ini sudah merasa cukup belajar di surau sampai mampu membaca Al-Qur’an dan tata cara beribadah sholat saja. Sementara dahulu generasi muda Minang untuk mendalami ajaran Islam secara mendalam tidurpun di surau sehingga surau sangat berperan membentuk karakternya. Mengembalikan peran dan fungsi surau seperti tempo dulu tentu tidak mungkin dilakukan lagi

(9)

dan juga tidak cocok dengan kondisi saat ini, karena sudah banyak aspek kehidupan masyarakat Minangkabau yang berubah. Fenomena sekarang terlihat norma lama yang luhur mulai agak memudar, sementara tatanan baru belum juga terbentuk. Oleh karena itu perlu di gali nilai-nilai luhur dahulu yang bisa di integrasikan pada institusi pendidikan saat ini. Setidaknya sebagai langkah awal untuk melihat sejauh mana nilai-nilai pendidikan surau terintegrasi dalam pola pembinaan karakter siswa di Sekolah.

2. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal harusnya mampu melahirkan siswa yang cerdas dan berkribadian luhur. Kecendrungannya, dalam pelaksanaan pendidikan dikebanyakan sekolah terkesan lebih menitik beratkan pada penguasaan kognitif pada siswa ketimbang penanaman sikap. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya tawuran antar pelajar, siswa melawan pada gurunya, pelecehan seksual, curang ketika ujian dan berbagai bentuk tindakan yang mengindikasikan belum berhasilnya penanaman karakter kepada para siswa oleh sekolah. Oleh karena itu, perlu diteliti sekolah yang benar-benar melaksanakan pendidikan karakter dengan sunguh-sungguh dan memiliki prestasi baik akademik maupun non-akademik yang sudah di akui oleh masyarakat, agar dapat dijadikan sebagai model bagi sekolah lainnya. Sesuai dengan paparan dalam latar belakang di atas maka peneliti menilai SMP Perguruan Islam Ar-risalah pantas untuk diteliti lebih lanjut pembelajaran dan budaya sekolah di sekolah tersebut.

C. Perumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka fokus dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah integrasi nilai-nilai pendidikan surau dalam transformasi kewarganegaraan untuk mengembangkan karakter siswa di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah?

Dari rumusan masalah di atas, dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian :

(10)

b. Bagaimanakah pelaksanaan integrasi nilai-nilai pendidikan surau dalam pembelajaran PKn di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah ?

c. Bagaimanakah bentuk integrasi nilai-nilai pendidikan surau dalam muatan lokal mentoring yang diterapkan di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah?

d. Bagaimakanah pelaksanaan integrasi nilai-nilai pendidikan surau PKn dalam budaya sekolah di Perguruan Islam Ar-Risalah?

e. Kendala apa yang dihadapi dan upaya penyelesaian dalam pelaksanaan integrasi nilai-nilai pendidikan surau di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah?

D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan integrasi nilai-nilai pendidikan surau dalam tranformasi kewarganegaraan untuk mengembangkan karakter siswa di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah.

2. Tujuan Khusus

Adapun secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:

a. Mengetahui nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan surau. b. Mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan integrasi nilai-nilai pendidikan

surau dalam pembelajaran PKn di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah

c. Mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan integrasi nilai-nilai pendidikan surau dalam muatan lokal mentoring di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah. d. Mendeskripsikan dan mengananlisis pelaksanaan integrasi nilai-nilai

pendidikan surau dalam budaya sekolah di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah. e. Mengetahui kendala yang dihadapi dan upaya penyelesaian dalam pelaksanaan

integrasi nilai-nilai pendidikan surau di SMP Perguruan Islam Ar-Risalah

E. Manfaat Penelitian

Melalui berbagai kajian yang dilakakukan untuk menjawab berbagai masalah yang telah dirumuskan, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi pengembangan pendidikan kewarganegaraan

(11)

dalam dimensi kurikuler dan sosial-kultural dalam mengembangkan karakter siswa agar menjadi smart and good citizens. Adapun manfaat secara teoritis dan praktis tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

1. Manfaat secara teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberi konstribusi dalam mengembangkan dan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan surau dalam pembelaajran PKn, muatan lokal mentoring dan budaya sekolah. Selain dari pada itu, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal yang beragam di Indonesia untuk dilestarikan melalui institusi pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini juga dapat memberikan ragam khasanah dalam PKn terutama PKn dalam dimensi kurikuler dan sosial-kultural yang mengemban misi membangun karakter bangsa termasuk para siswa SMP sebagai warga negara hipotetik dan potensial untuk dikembangkan karakternya untuk mewujudkan kejayaan Indonesia.

2. Manfaat secara praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak dalam kaitannya dengan pengintegrasian nilai-nilai pendidikan dalam transformasi kewarganegaraan, yaitu sebagai berikut :

a. Bagi Siswa

Agar dapat memahami nilai-nilai pendidikan surau sebagai bagian dari kearifan lokal Minangkabau dalam dunia pendidikan. Sehingga dapat menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa mengembangkan karakternya menjadi warga negara yang lebih baik dan mampu melestarikan nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari budaya lokal, nasional maupun global.

b. Bagi Guru

Penelitian ini dapat membantu dalam mengembangkan manajemen pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksaanaan, dan evaluasi mengenai pendidikan karakter dalam PKn dengan berorientasi pada ketiga domain kompetensi kewarganegaraan yaitu: aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat membantu mengoptimalkan potensi siswa.

(12)

c. Bagi pengurus Yayasan dan Dinas Pendidikan

Sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, berupa pengembangan sistem pendidikan, dengan menerapkan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal untuk mewujudkan masyarakat yang berperadaban.

d. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan untuk mengkaji berbagai jenis kearifan lokal di daerah lain yang diterapkan dalam pembelajaran untuk mendukung program pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah.

F. Struktur Organisasi Tesis

Tesis ini terdiri dari lima bab. Pertama, Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi tesis. Kedua, Bab II merupakan kajian pustaka dan kerangka penelitian yang membahas mengenai nilai-nilai pendidikan surau, pendidikan kewarganegaraan, hakikat karakter, integrasi pendidikan karakter dalam kegiatan sekolah dan penelitian relevan serta paradigma penelitian. Ketiga, Bab III merupakan metode penelitian yang terdiri dari lokasi penelitian, subjek penlitian, pendektan dan metode penelitian, definisi konseptual, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan uji validitas data. Keempat, Bab IV berisi tentang deskripsi lokasi penelitian, deskripsi hasil penelitian dan menguraikan mengenai pembahasan terhadap hasil penelitian. Kelima, Bab V terdiri dari simpulan penelitian dan rekomendasi terhadap pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dan kepentingan dengan penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, perlu dilakukan penelitian untuk mengembangkan program perkuliahan IPBA Terintegrasi yang mengakomodasi

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai implementasi nilai- nilai toleransi pada

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah kemampuan berpikir kritis siswa SMA Nengeri 1

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “STUDI EKSPERIMENTAL VAPOR CARBURETOR

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Adakah pengaruh berbagai konsentrasi air

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah penelitian tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini: Apakah ada pengaruh dari latihan plyometrics

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, penulis menetapkan, bahwa yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Transformasi Nilai Kearifan

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: “Apakah