i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL, GAMBAR, BAGAN DAN GRAFIK ... ii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
RINGKASAN EKSEKUTIF ... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tugas dan Fungsi ... 2
1.3. Struktur Organisasi ... 11
1.4. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 11
1.5. Sarana dan Prasarana ... 16
1.6. Isu Strategis ... 20
BAB 2 PERENCANAAN KINERJA ... 21
2.1. Uraian Singkat Renstra ... 21
2.1.1. Visi dan Misi ... 22
2.1.2. Tujuan dan Sasaran Strategis ... 23
2.1.3. Program dan Kegiatan ... 25
2.2. Perjanjian Kinerja ... 26
2.3. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ... 27
2.4. Metode Pengukuran ... 29
2.5. Target Tahun Ini Menurut Renstra ... 32
BAB 3 AKUNTABILITAS KINERJA ... 36
3.1. Capaian Kinerja Organisasi... 36
3.2. Realisasi Anggaran ... 64
3.3. Efisiensi dan Efektivitas ... 67
BAB 4 PENUTUP ... 69
4.1 Permasalahan ... 69
4.2 Langkah ke Depan ... 72
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 76
ii
DAFTAR TABEL, GAMBAR, BAGAN DAN GRAFIK
Gambar 1. Direktur Jenderal Bina Konstruksi ... v
Gambar 2. Contoh Sasaran Kerja Pegawai Ditjen Bina Konstruksi ... 16
Gambar 3. Workshop Evaluasi LaKIP DJBK TA (2015) ... 41
Gambar 4. Kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM DJBK... 41
Gambar 5. Konstruksi Indonesia ... 42
Gambar 6. Kerja Sama dengan CIDB Malaysia ... 44
Tabel 1. Jumlah Pegawai DJBK per Unit Kerja ... 11
Tabel 2. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Golongan dan Ruang ... 12
Tabel 3. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 13
Tabel 4. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Usia ... 14
Tabel 5. Luas Tanah dan Bangunan Kantor Direktorat Jenderal Bina Konstruksi .... 17
Tabel 6. Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015 ... 27
Tabel 7. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015 ... 27
Tabel 8. Subkomponen Pencapaian Komponen Outcome ... 31
Tabel 9. Target dan Baseline Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015 ... 32
Tabel 10. Sasaran dan Indikator Kinerja Program berdasar Renstra ... 33
Tabel 11. Sasaran dan Indikator Program berdasar Perjanjian Kinerja ... 33
Tabel 12. Target Pencapaian Indikator Kinerja pada Rencana Strategis 2015-201934 Tabel 13. Range Pengukuran Kinerja ... 36
Tabel 14. Realisasi Target Outcome DJBK TA 2015 ... 38
Tabel 15. Target Outcome Antara Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi . 40 Tabel 16. Perbandingan Nilai LaKIP TA 2013 dan TA 2014 BP Konstruksi ... 40
Tabel 17. Komponen Outcome 1 Direktorat Jenderal Bina Konstruksi... 45
Tabel 18. Komponen Outcome 2 Direktorat Jenderal Bina Konstruksi... 47
Tabel 19. BUJK Subkualifikasi B2 Baru Tahun 2015 ... 49
Tabel 20. Daftar BUJK Kualifikasi Besar yang Mengalami Peningkatan Kinerja Tahun 2015 ... 51
Tabel 21. Komponen Outcome 1 Direktorat Jenderal Bina Konstruksi... 51
Tabel 22. Hasil Pengukuran Implementasi SMK3 ... 52
Tabel 23. Realisasi Target Indikator Program Outcome 3 Ditjen Bina Konstruksi .... 55
Tabel 24. Komponen Outcome 4 Direktorat Jenderal Bina Konstruksi... 56
Tabel 25. Kegiatan Direktorat Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi ... 56
Tabel 26. Jumlah SDM Berkompeten Tahun 2014 dan 2015 ... 60
Tabel 27. Komponen Outcome 5 Direktorat Jenderal Bina Konstruksi... 61
Tabel 28. Realisasi Sasaran Strategis Direktorat Jenderal Bina Konstruksi ... 64
Tabel 29. Alokasi Anggaran dan Realisasi pada Unit Kerja di lingkungan DJBK TA 2015 ... 64
Diagram 1. Jumlah Pegawai DJBK Per Unit Kerja ... 12
Diagram 2. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Golongan dan Ruang ... 13
Diagram 3. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 14
Diagram 4. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Usia ... 15
Diagram 5. Diagram SDM vs Anggaran DJBK ... 15
Diagram 6. Sebaran Neraca Aset Direktorat Jenderal Bina Konstruksi... 19
Diagram 7. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015 ... 29
iii
Diagram 8. Komposisi Outcome Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi ... 30
Diagram 9. Alokasi Anggaran dan Realisasi pada Unit Kerja ... 66
Bagan 1. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi ... 11
Bagan 2. Pemetaan Klasifikasi Barang Milik Negara ... 17
iv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Lampiran 2. Rencana Aksi Lampiran 3. Capaian T
1Lampiran 4. Capaian T
2Lampiran 5. Capaian T
3Lampiran 6. Capaian T
4Lampiran 7. Hasil Review LaKIP Tahun 2014 Badan Pembinaan Konstruksi oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum
Lampiran 8. Surat Penyesuaian Perjanjian Kinerja Eselon I TA 2015 Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Lampiran 9. Matriks Program dan Kegiatan Tujuan I Renstra Ditjen Bina Konstruksi 2015-2019
Lampiran 10. DIPA
Lampiran 11. DIPA APBN-P Lampiran 12. Dokumentasi
Lampiran 13. Sasaran Kinerja Pegawai (SKP)
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunia-Nya penyusunan “Laporan Kinerja Direktorat jenderal Bina Konstruksi tahun 2015” dapat diselesaikan. Laporan ini merupakan wujud pertanggungjawaban Direktorat Jenderal Bina Konstruksi dalam melaksanakan berbagai kewajibannya secara transparan dan akuntabel.
Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparansi, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (pengganti Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah). Dan dalam rangka pelaksanaan Perpres Nomor 29 Tahun 2014 tersebut, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menerbitkan Permen PAN & RB No 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, sebagai pedoman dalam penyusunan laporan kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi tahun 2015.
LaKIP ini juga merupakan perwujudan kewajiban Direktorat Jenderal Bina Konstruksi untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan melalui sistem pertanggungjawaban untuk periode TA 2015.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan LaKIP Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015 ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Jakarta, Januari 2016 Direktur Jenderal Bina Konstruksi
Ir. Yusid Toyib, M. Eng. Sc NIP 195708310986031003 Gambar 1. Direktur
Jenderal Bina Konstruksi
vi
RINGKASAN EKSEKUTIF
Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Tahun 2015 merupakan wujud akuntabilitas pencapaian kinerja dari pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2015-2019 yang telah ditetapkan melalui Perjanjian Kinerja Tahun 2015.
Dalam upaya merealisasikan good governance, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi telah melaksanakan berbagai program melalui unit kerjanya untuk mencapai sasaran serta mewujudkan visi dan misi Presiden yang telah dituangkan dalam Rencana Strategis Ditjen Bina Konstruksi. Adapun visi dan misi Direktorat Jenderal Konstruksi yang selaras dengan NAWACITA antara lain: membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, dan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Berangkat dari Rencana Strategis Kementerian PUPR 2015-2019 adalah:
“Mempercepat pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat secara terpadu dari pinggiran didukung industri konstruksi yang berkualitas untuk keseimbangan pembangunan antardaerah, terutama di kawasan tertinggal, kawasan perbatasan, dan kawasan pedesaan, dalam kerangka NKRI”.
Beberapa hal yang dapat disampaikan terkait program pembinaan konstruksi yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah sebagai berikut:
A. Tujuan dan Sasaran
Dalam upaya merealisasikan good governance, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi telah melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam rangka mendukung program pembinaan konstruksi. Adapun tujuan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi yang tertuang dalam Renstra DJBK 2015-2019 adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan kebijakan dan rencana pembinaan konstruksi dan investasi yang efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan;
2. Berperan aktif dalam mewujudkan penyelenggaraan konstruksi yang produktif, efisien dan efektif, serta berkelanjutan;
3. Berperan aktif dalam menciptakan pelaku, SDM, dan masyarakat konstruksi yang
unggul, mandiri, profesional, dan berdaya saing tinggi;
vii
4. Memelopori penciptaan informasi konstruksi dan terpenuhinya sumber daya konstruksi; dan
5. Mempelopori pengkajian, penyebarluasan, dan penerapan inovasi teknologi, investasi dan ekonomi konstruksi yang berkelanjutan.
Tujuan yang ingin dicapai oleh DJBK tersebut telah mengacu kepada sasaran strategis Ditjen Bina Konstruksi yang tertuang di dalam Renstra Kementerian PUPR 2015-2019 yaitu “Meningkatnya Kapasitas dan Pengendalian Kualitas Konstruksi Nasional”.
B. Kinerja Sasaran
Pencapaian sasaran strategis Ditjen Bina Konstuksi didukung oleh pencapaian sasaran-sasaran program yang telah dilaksanakan selama 1 tahun ini. Adapun pencapaian sasaran program Ditjen Bina Konstruksi TA 2015 adalah sebagai berikut:
1. Terhadap sasaran Meningkatnya kapitalisasi konstruksi oleh investor nasional telah tercapai peningkatan jumlah rasio kapitalisasi konstruksi oleh investor nasional dari 509 Triliun pada tahun 2014 menjadi 574 Triliun pada tahun 2015 atau meningkat sebanyak 12,77%.
2. Terhadap sasaran Meningkatnya persentase BUJK yang berkualifikasi besar telah tercapai peningkatan jumlah BUJK berkualifikasi B2 dari 139 BUJK pada tahun 2014 menjadi 184 BUJK pada tahun 2015 atau meningkat sebanyak 32,37%.
3. Terhadap sasaran Meningkatnya tertib penyelenggaraan konstruksi telah tercapai peningkatan persentase kenaikan tingkat tertib penyelenggaraan konstruksi dengan meningkatnya tertib sistem penyelenggaraan melalui penetapan lelang, meningkatnya tertib administrasi kontrak melalui kesesuaian kontrak dengan peraturan, meningkatnya tertib konstruksi berkelanjutan melalui tersedianya dokumen RK3K dan meningkatnya tertib manajemen mutu melalui tersedianya dokumen RMP dan RMK sebesar 4,12%.
4. Terhadap sasaran Meningkatnya SDM penyedia jasa konstruksi yang kompeten
telah tercapai peningkatan persentase SDM penyedia jasa konstruksi yang
kompeten dari 166.247 tenaga ahli berkompeten pada tahun 2014 menjadi
viii
243.367 tenaga ahli berkompeten pada tahun 2015 atau meningkat sebanyak 2,80%.
5. Terhadap sasaran Meningkatnya utilitas produk unggulan telah tercapai peningkatan persentase tingkat utilitas produk unggulan dengan kenaikan jumlah kapasitas produksi perusahaan beton pracetak dari 24 juta m
3pada tahun 2014 menjadi 25 juta m
3pada tahun 2015 atau setara dengan kenaikan 0,625%
tingkat utilitas produk unggulan. Selain itu, juga ditandai dengan meningkatnya jumlah nilai konstruksi total ekspor jasa konstruksi oleh BUJK Nasional dari 1,9 Triliun pada tahun 2014 menjadi 3,01 Triliun pada tahun 2015.
Adapun rincian ketercapaian target dari sasaran program Direktorat Jenderal
Bina Konstruksi per indikator program dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
ix
Renstra DJBK PK DJBK
a. Peningkatan total nilai Konstruksi yang diselesaikan 509 Triliun 574 Triliun
a. Peningkatan jumlah BUJK berkualifikasi B2 139 BUJK 184 BUJK
a Peningkatan tertib sistem penyelenggaraan melalui penetapan
lelang 110 proyek
b Peningkatan tertib administrasi kontrak melalui kesesuaian kontrak
dengan peraturan 49 proyek
c Peningkatan tertib konstruksi berkelanjutan melalui tersedianya
dokumen RK3K 34 proyek
d Peningkatan tertib manajemen mutu melalui tersedianya dokumen RMP
dan RMK 34 proyek%
218 proyek 227 proyek
a Peningkatan jumlah tenaga ahli bersertifikat 64,578 104,774 b Peningkatan jumlah tenaga terampil bersertifikat 101,669 138,593
a Peningkatan jumlah kapasitas produksi perusahaan beton pracetak 24 juta m3 25 juta m3 0.625% Beton pracetak=15%
Pengunaan beton
keseluruhan AP3I
b Peningkatan jumlah nilai konstruksi total ekspor jasa konstruksi oleh BUJK
Nasional 1,9 T 3,01 T 36.88% Dit. Bina Investasi Infrastruktur
Dit. Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
4% 4,13%
129 proyek
89 proyek Meningkatnya tertib
penyelenggaraan konstruksi 3
Total
8.00%
2.80% 2.754.160 orang adalah total Skilled Labour yang diharapkan pada
tahun 2019
Dit. Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi dan
Balai-Balai di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina
Konstruksi
5 Meningkatnya Utilitas Produk Unggulan
Persentase kenaikan tingkat utilitas produk unggulan
3% 1.50%
Persentase kenaikan tingkat tertib penyelenggaraan konstruksi
4 Meningkatnya SDM penyedia jasa konstruksi yang kompeten
Persentase kenaikan SDM penyedia jasa konstruksi yang kompeten
2% 1%
BPS, Subdit Statistik Konstruksi
2 Meningkatnya persentase BUJK yang berkualifikasi besar
Persentase kenaikan BUJK menjadi berkualifikasi besar
18% 9% 32.37% Dit. Bina Kelembagaan dan
Sumber Daya Jasa Konstruksi
% Realisasi
2015 Formulasi Sumber
1 Meningkatnya kapitalisasi konstruksi oleh investor nasional
Peningkatan rasio kapitalisasi konstruksi oleh investor nasional
3% 1.50% 12.77%
No. Sasaran Program Ditjen Bina Konstruksi (Renstra Ditjen Bina
Konstruksi) Indikator Program Baseline 2014 Realisasi 2015 Target 2015
574− 509 Triliun 509 Triliun 100%
(184 − 139) BUJK 139 BUJK 100%
243.367 − 166.247 orang 2.754.160 orang 100%
(3,01 − 1,9) T 3,01 T 100%
(227 − 218)
218 100
x
Kelima outcome Direktorat Jenderal Bina Konstruksi tersebut merupakan dasar untuk menjawab realisasi sasaran strategis yang termuat dalam LaKIP Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengenai “Meningkatnya Kapasitas dan Pengendalian Kualitas Konstruksi Nasional”. Adapun ketercapaian sasaran strategis dari Program Pembinaan Konstruksi adalah sebagai berikut:
C. Kinerja Keuangan
Dalam melaksanakan tujuan dan sasaran kinerja tersebut, Ditjen Bina Konstruksi didukung oleh pendanaan sebesar Rp722.899.986.000,- dengan capaian sebesar Rp582.395.252.000,- atau sekitar 80,56%. Jika dibandingkan dengan progres fisik yang mencapai 94,23%, maka dapat dilihat bahwa terjadi efisiensi anggaran dalam pelaksanaannya sehingga anggaran yang dikeluarkan berada di bawah pagu. Selain itu, pencapaian ini patut diapresiasi karena waktu kerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi yang baru efektif pada 6 bulan terakhir dapat melewati 50% dari target di awal tahun.
D. Kendala
Secara umum, hasil capaian kinerja sasaran yang ditetapkan telah tercapai sesuai dengan rencana yang ditetapkan walau masih terdapat kendala dan permasalahan yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Terjadinya perubahan bentuk Badan Pembinaan Konstruksi menjadi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi menyebabkan perubahan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal maupun setiap unit kerja yang berada dibawahnya.
2. Waktu pelaksanaan kegiatan yang hanya 6 bulan sejak perubahan organisasi, menjadikan semester akhir tahun 2015 menjadi masa transisi, sehingga penyerapan anggaran Direktorat Jenderal Bina Konstruksi tidak optimal.
Target Realisasi % Ketercapaian
Target
Target Renstra Kemen PUPR
Realisasi Renstra Kemen PUPR
1 Rasio kapitalisasi konstruksi oleh badan usaha nasional 3.00% 12.77% 425.67%
2 Tingkat BUJK yang berkualifikasi besar 25 45 180.00%
3 Tingkat penerapan manajemen mutu dan tertib penyelenggaraan konstruksi 8.00% 4.13% 51.63%
4 Persentase SDM konstruksi yang kompeten 2.00% 2.80% 140.00%
5 Persentase Utilitas Produk Unggulan 3.00% 0.625% 20.83%
163.63%
Sasaran Strategis Ditjen Bina Konstruksi (Renstra Kementerian
PUPR)
Indikator
Meningkatnya Kapasitas dan Pengendalian Kualitas
Konstruksi Nasional
TINGKAT PENGENDALIAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI NASIONAL
75.00%
xi
3. Terjadinya perubahan struktur organisasi menyebabkan berkurangnya SDM di tiap-tiap unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi.
4. Peningkatan tugas dan anggaran tidak diikuti dengan sumber daya manusia yang ada, dimana SDM Direktorat Jenderal Bina Konstruksi yang ada masih terbatas.
5. Kurangnya pemahaman pada setiap poin yang ada dalam agenda Reformasi Birokrasi serta pelaksanaan budaya kerja yang belum maksimal.
E. Rekomendasi
Berdasarkan kendala dan permasalahan yang dihadapi, berikut adalah beberapa rekomendasi yang disampaikan sebagai langkah perbaikan pada tahun anggaran berikutnya:
1. Meningkatkan pemahaman terhadap tusi yang baru, yang disebabkan perubahan organisasi dari badan menjadi direktorat jenderal.
2. Membuat timeline yang berhubungan dengan perencanaan, penganggaran, serta evaluasi untuk dapat digunakan setiap tahunnya.
3. Mengoptimalkan koordinasi internal di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi sehingga terjadi sinergi kegiatan antar direktorat dan memperkuat pencapaian outcome terkait pembinaan konstruksi.
4. Mensinergikan program dengan lingkungan eksternal baik dengan satminkal lain di Kementerian PUPR maupun dengan institusi pemerintah lainnya, serta masyarakat jasa konstruksi yang lebih luas.
5. Merekomendasikan review Rencana Strategis Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015-2019 terkait target per tahun outcome Direktorat Jenderal Bina Konstruksi.
Melalui Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LaKIP) Ditjen Bina Konstruksi Tahun
2015 ini, diharapkan menjadi suatu bahan perbaikan dalam perencanaan kegiatan
dan langkah Ditjen Bina Konstruksi dalam mencapai tujuan dan sasaran pada
Rencana Strategis Direktorat Jenderal Bina Konstruksi tahun 2015-2019.
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (pengganti Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, maka Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diwajibkan untuk menyusun Laporan AKIP, penetapan kinerja dan rencana tindak yang merupakan bagian dari komponen Sistem Akuntabilitas Kinerja (SAKIP). Adapun sistem kinerja dibangun dan dikembangkan bagi penyelenggara manajemen kinerja melalui upaya:
merencanakan, melaksanakan, mengukur dan mengevaluasi kinerja. Hal ini bertujuan untuk perbaikan kinerja secara berkesinambungan guna mendukung pencapaian tujuan dalam kerangka pemenuhan visi dan misi presiden.
Selain itu, berdasarkan Permen PAN dan RB Nomor 20 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Permen PAN dan RB Nomor 25 tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Evaluasi LAKIP, maka diperlukan adanya fasilitasi dalam penyusunan dokumen LAKIP dimana salah satu komponen penting yang perlu dianalisa adalah dokumen rencana aksi triwulanan. Berdasarkan hasil penilaian dan evaluasi oleh Kementerian PAN dan RB tahun 2014 terhadap LAKIP Badan Pembinaan Konstruksi, maka terdapat dua hal pokok yang memerlukan perhatian, yaitu: 1) Membuat perencanaan output yang sesuai dengan kemampuan/kebutuhan Badan Pembinaan Konstruksi untuk rencana 2015-2019; 2) Melaksanakan sinkronisasi output dan outcome Eselon II; dan 3) Melaksanakan evaluasi terhadap LaKIP Unit Kerja Eselon II yang berada dibawahnya.
Dalam rangka melengkapi dan menyempurnakan dokumen LaKIP dan PK
sebagaimana tersebut diatas, maka diperlukan kelengkapan dokumen Rencana Aksi
Unit Organisasi Eselon I di Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan
2 Perumahan Rakyat. Dokumen Rencana Aksi tersebut akan secara berjenjang mendukung Dokumen Rencana Aksi Kementerian PU.
1.2. TUGAS DAN FUNGSI
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2015 tentang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan jasa konstruksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
a. Perumusan kebijakan di bidang pembinaan penyelenggaraan, kelembagaan, dan sumber daya jasa konstruksi;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan penyelenggaraan, kelembagaan, dan sumber daya jasa konstruksi;
c. Pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan dan pengawasan penyelenggaraan jasa konstruksi yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah daerah;
d. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan jasa konstruksi;
e. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi di bidang pembinaan penyelenggaraan, kelembagaan, dan sumber daya jasa konstruksi;
f. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang pembinaan penyelenggaraan, kelembagaan, dan sumber daya jasa konstruksi;
g. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi; dan h. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Dalam melaksanakan ketentuan pada Pasal 53 Peraturan Presiden Nomor 15
Tahun 2015 tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
melakukan penataan organisasi dan tata kerja di Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat. Ketentuan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata
3 Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada Bab IX tentang Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, dijabarkan mengenai susunan organisasi di bawah Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Adapun Direktorat Jenderal Bina Konstruksi terdiri atas Unit Eselon II sebagai berikut:
A. Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada semua unsur organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal. Dalam melaksanakan tugasnya, Sekretariat Direktorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan kebijakan dan strategi, program jangka menengah, dan rencana kerja dan anggaran, serta evaluasi dan laporan kinerja pembinaan penyelenggaraan, kelembagaan, dan sumber daya konstruksi;
b. Pengelolaan urusan kepegawaian, organisasi, dan tata laksana;
c. Pengelolaan urusan administrasi keuangan, tata usaha, dan rumah tangga serta pengelolaan barang milik Negara Direktorat Jenderal; dan
d. Koordinasi dan penyusunan peraturan perundang-undangan, fasilitasi advokasi hukum dan pertimbangan hukum, pengolahan data serta penyelenggaraan komunikasi publik Direktorat Jenderal.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
34 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis, terdapat
lima (5) UPT di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. UPT tersebut antara
lain: Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi, Balai Sumber Daya Investasi, Balai
Pelatihan Konstruksi dan Peralatan, Balai Pelatihan Konstruksi dan Balai
Peningkatan Penyelenggaraan Konstruksi. Sampai pada akhir tahun 2015, terdapat
1 balai yaitu Balai Sumber Daya Investasi yang sudah ditiadakan. Unit Pelaksana
Teknis (UPT) tersebut bersifat mandiri dan melaksanakan tugas teknis operasional
tertentu dan/atau tugas teknis penunjang tertentu. Balai-balai tersebut berada di
bawah koordinasi Unit Kerja Eselon II. Adapun UPT yang berada di bawah
Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah sebagai berikut:
4 a. Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi
Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Bina Konstruksi melalui Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi dipimpin oleh seorang kepala. Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi berlokasi di Jakarta dan memiliki tugas melaksanakan bimbingan teknis, pelatihan keahlian dan fasilitasi uji kompetensi, menyangkut jasa konstruksi. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan program kerja;
b. Penyiapan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pelatihan;
c. Pelaksanaan bimbingan teknis;
d. Pelaksanaan pelatihan percontohan;
e. Koordinasi pelaksana pelatihan;
f. Fasilitasi uji kompetensi;
g. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik negara; dan
h. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
Selama pelaksanaannya Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi mengalami perubahan nama menjadi Balai Pengembangan Keahlian Konstruksi.
b. Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan
Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Bina Konstruksi melalui Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan dipimpin oleh seorang kepala. Berdasarkan jenis pelatihan, wilayah kerja Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan mempunyai 2 wilayah kerja, yaitu Pelatihan Konstruksi meliputi wilayah Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah, sdangkan Pelatihan Peralatan meliputi seluruh wilayah Indonesia.
Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan mempunyai tugas melaksanakan
bimbingan teknis, pelatihan keterampilan dan keahlian teknik konstruksi, serta
5 fasilitasi uji kompetensi. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan program kerja;
b. Penyiapan dan pemeliharaan prasarana dan sarana kantor;
c. Pelaksanaan bimbingan teknis;
d. Pelaksanaan pelatihan percontohan;
e. Fasilitasi uji kompetensi;
f. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik Negara; dan
g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
Selama pelaksanaannya, Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan berubah namanya menjadi Balai Peralatan Konstruksi.
c. Manajemen dan Pengendalian Pembinaan Jasa Konstruksi Daerah
Manajemen dan Pengendalian Pembinaan Jasa Konstruksi Daerah merupakan satuan kerja yang berada di bawah Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Manajemen dan Pengendalian Pembinaan Jasa Konstruksi Daerah bertanggungjawab langsung kepada Direktur Jenderal Bina Konstruksi melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Adapun tugas dari Manajemen dan Pengendalian Pembinaan Jasa Konstruksi Daerah adalah menjalankan fungsinya sebagai pelaksana kebijakan di bidang pemberdayaan dan pengawasan penyelenggaraan jasa konstruksi yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
B. Direktorat Bina Investasi Infrastruktur
Direktorat Bina Investasi Infrastruktur mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan investasi infrastruktur. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Bina Investasi Infrastruktur menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pembinaan pola investasi dan
pembiayaan infrastruktur, penyelenggaraan investasi infrastruktur, penyelesaian
6 permasalahan dan pengembangan mitigasi risiko investasi infrastruktur, serta pembinaan pasar infrastruktur;
b. Pelaksanaan, pengembangan, sinkronisasi dan koordinasi kebijakan dan strategi di bidang pembinaan pola investasi dan pembiayaan infrastruktur, penyelenggaraan investasi infrastruktur, serta pembinaan pasar infrastruktur;
c. Pelaksanaan koordinasi, advokasi, dan fasilitasi di bidang penyelesaian permasalahan dan pengembangan mitigasi risiko investasi infrastruktur;
d. Penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria penyelenggaraan investasi infrastruktur;
e. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pembinaan pola investasi dan pembiayaan infrastruktur, penyelenggaraan investasi infrastruktur, penyelesaian permasalahan dan pengembangan mitigasi risiko investasi infrastruktur, serta pembinaan pasar infrastruktur;
f. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi di bidang penyelenggaraan investasi infrastruktur dan pembinaan pasar infrastruktur;
g. Pelaksanaan fasilitasi pembinaan pengusahaan BUMN Perum di Kementerian;
dan
h. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat.
C. Direktorat Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
Direktorat Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan jasa konstruksi. Dalam menyelenggarakan tugasnya, Direktorat Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sistem penyelenggaraan jasa konstruksi, kontrak konstruksi, konstruksi berkelanjutan, dan manajemen mutu;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang sistem penyelenggaraan jasa konstruksi, kontrak konstruksi, konstruksi berkelanjutan, dan manajemen mutu;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang sistem
penyelenggaraan jasa konstruksi, kontrak konstruksi, konstruksi berkelanjutan,
dan manajemen mutu;
7 d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang sistem penyelenggaraan jasa konstruksi, kontrak konstruksi, konstruksi berkelanjutan, dan manajemen mutu;
e. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi di bidang sistem penyelenggaraan jasa konstruksi, kontrak konstruksi, konstruksi berkelanjutan, dan manajemen mutu;
dan
f. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat.
D. Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi
Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan kelembagaan dan sumber daya jasa konstruksi. Dalam menyelenggarakan tugasnya, Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pembinaan kelembagaan dan pembinaan perijinan, rantai pasok material dan peralatan konstruksi, teknologi konstruksi dan produksi dalam negeri, serta usaha jasa konstruksi;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan kelembagaan dan pembinaan perijinan, rantai pasok material dan peralatan konstruksi, teknologi konstruksi dan produksi dalam negeri, serta usaha jasa konstruksi;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan kelembagaan dan pembinaan perijinan, rantai pasok material dan peralatan konstruksi, teknologi konstruksi dan produksi dalam negeri, serta usaha jasa konstruksi;
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pembinaan kelembagaan dan pembinaan perijinan, rantai pasok material dan peralatan konstruksi, teknologi konstruksi dan produksi dalam negeri, serta usaha jasa konstruksi;
e. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi di bidang pembinaan kelembagaan dan pembinaan perijinan, rantai pasok material dan peralatan, teknologi konstruksi dan produksi dalam negeri, serta usaha jasa konstruksi; dan
f. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat.
8 E. Direktorat Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi
Direktorat Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kompetensi dan produktivitas konstruksi. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang standar, penerapan, pengembangan kompetensi profesi jasa konstruksi, dan produktivitas konstruksi;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang standar, penerapan, pengembangan kompetensi profesi jasa konstruksi, dan produktivitas konstruksi;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang standar, penerapan, pengembangan kompetensi profesi jasa konstruksi, dan produktivitas konstruksi;
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang standar, penerapan, pengembangan kompetensi profesi jasa konstruksi, dan produktivitas konstruksi;
e. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi di bidang standar, penerapan, pengembangan kompetensi profesi jasa konstruksi, dan produktivitas konstruksi;
dan
f. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat.
F. Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan
Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan penyelenggaraan jasa konstruksi. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kerja sama dan pemberdayaan penyelenggaraan jasa konstruksi;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama dan pemberdayaan penyelenggaraan jasa konstruksi;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang kerja sama dan pemberdayaan penyelenggaraan jasa konstruksi;
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang kerja sama dan
pemberdayaan penyelenggaraan jasa konstruksi;
9 e. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi di bidang kerja sama dan pemberdayaan
penyelenggaraan jasa konstruksi; dan f. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat.
Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bersifat mandiri dan melaksanakan tugas teknis operasional tertentu dan/atau tugas teknis penunjang tertentu dari Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan.
Berikut adalah UPT di lingkungan Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan:
a. Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi
Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur Jenderal Bina Konstruksi melalui Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan. Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi yang berlokasi di Jakarta dipimpin oleh seorang Kepala dan mempunyai tugas melaksanakan bimbingan teknis, pelatihan keahlian dan fasilitasi uji kompetensi, menyangkut jasa konstruksi. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan program kerja;
b. Penyiapan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pelatihan;
c. Pelaksanaan bimbingan teknis;
d. Pelaksanaan pelatihan percontohan;
e. Koorfinasi pelaksana pelatihan;
f. Fasilitasi uji kompetensi;
g. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik Negara; dan
h. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
b. Balai Pelatihan Konstruksi
Balai Pelatihan Konstruksi berada di bawah dan bertanggungjawab langsung ke Direktur Jenderal Bina Konstruksi melalui Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan. Balai Pelatihan Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan bimbingan teknis, pelatihan keahlian dan fasilitasi uji kompetensi. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Pelatihan Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan program kerja;
10 b. Penyiapan dan pemeliharaan prasarana dan sarana pelatihan;
c. Pelaksanaan bimbingan teknis;
d. Pelaksanaan pelatihan percontohan;
e. Fasilitasi uji kompetensi;
f. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik negara; dan
g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
c. Balai Peningkatan Penyelenggaraan Konstruksi
Balai Peningkatan Penyelenggaraan Konstruksi berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur Jenderal Bina Konstruksi melalui Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan. Balai Peningkatan Penyelenggaraan Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan sosialisasi, pelatihan dan fasilitasi pelayanan kegiatan dalam rangka peningkatan penyelenggaraan konstruksi yang mencakup bidang pemilihan penyedia barang/jasa, administrasi kontrak dan teknik konstruksi berkelanjutan, serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan program bagi dunia usaha jasa konstruksi. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Peningkatan Penyelenggaraan Konstruksi menyelenggarakan fungsi:
a. Pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data;
b. Penyusunan program kerja peningkatan penyelenggaraan konstruksi;
c. Pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan peningkatan penyelenggaraan konstruksi;
d. Pelaksanaan fasilitasi pelayanan kegiatan bidang pemilihan penyedia barang/jasa, administrasi kontrak, sistem manajemen mutu, sistem manajemen keselamatan konstruksi, sistem manajemen lingkungan serta teknik konstruksi berkelanjutan;
e. Pemeliharaan prasarana dan sarana;
f. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program;
g. Penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan Balai;
h. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik negara; dan
i. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
11 1.3. STRUKTUR ORGANISASI
Bagan 1. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
1.4. SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)
Direktorat Jenderal Bina Konstruksi memiliki total pegawai sebanyak 407 orang yang tersebar dalam 6 Unit Eselon II dan beberapa balai di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Adapun detail pegawai pada setiap unit adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah Pegawai DJBK per Unit Kerja
UNIT KERJA JUMLAH
Sekretariat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi 71
Direktorat Bina Investasi Infrastruktur 42
Direktorat Bina Penyelenggaraan Jasa Konstruksi 48 Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi 48 Direktorat Bina Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi 49
Direktorat Kerja Sama dan Pemberdayaan 29
Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah I Banda Aceh 10
Balai Sumber Daya Investasi 7
Balai Peningkatan Penyelenggaraan Konstruksi 6
12
UNIT KERJA JUMLAH
Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah II Surabaya 25 Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah III Banjarmasin 15 Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah IV Makassar 10 Balai Pelatihan Konstruksi Wilayah V Jayapura 14
Balai Pelatihan Konstruksi dan Peralatan 18
Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi 15
TOTAL 407
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
Diagram 1. Jumlah Pegawai DJBK Per Unit Kerja
Berdasarkan golongan dan ruang, sebaran personil Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Golongan dan Ruang
Golongan I/c II/a II/b II/c II/d III/a III/b III/c III/d IV/a IV/b IV/c IV/d Jumlah 3 15 5 18 3 37 172 56 43 26 22 6 1
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
13
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
Diagram 2. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Golongan dan Ruang
Jika dilihat dari sebaran golongan pegawai, sekitar 76% jumlah pegawai Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berada di golongan III dengan rincian sebagai berikut: golongan III/a sebanyak 37 orang (9%), golongan III/b sebanyak 172 orang (42%), golongan III/c sebanyak 56 orang (14%) dan golongan III/d sebanyak 43 orang (11%). Dominasi personil pada tingkat golongan ini, menunjukkan sumber daya Direktorat Jenderal Bina Konstruksi cukup untuk mendukung pencapaian kinerja dari target yang telah direncanakan.
Berdasarkan tingkat pendidikan, sebaran personil Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Tingkat Pendidikan
SD SLTP SLTA D2 SM/D3 S1/D4 S2 S3
5 2 68 0 20 180 128 4
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
14
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
Diagram 3. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Jika dilihat dari tingkat pendidikan pada tahun 2014, terjadi peningkatan pegawai dengan tingkat pendidikan S2 sekitar 31%. Jumlah saat ini, lebih dari 70%
dari total pegawai memiliki jenjang pendidikan SI/D4 dan S2, dimana sebagian besar merupakan staf potensial yang dapat dikembangkan lagi. Sedangkan, staf pendukung dengan tingkat pendidikan SLTA adalah 68 orang atau sekitar 17% dari total pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi.
Selain berdasarkan golongan dan ruang, serta tingkat pendidikan, data pegawai berdasarkan pada usia juga dapat menjadi cerminan dari tingkat produktivitas yang dapat dicapai Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Berikut merupakan sebaran pegawai Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berdasarkan usia:
Tabel 4. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Usia
< 20 20-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 > 60
0 5 83 99 35 34 31 73 47 0
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
15
Sumber: Data Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana (2015)
Diagram 4. Jumlah Pegawai DJBK Berdasarkan Usia
Terdapat dua kelompok besar usia pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, yaitu pada range usia 26-30 tahun sebesar 20% dan pada range usia 31-35 tahun sebesar 24%. Hal ini merupakan potensi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi dalam hal regenerasi di masa yang akan datang.
Diagram 5. Diagram SDM vs Anggaran DJBK
Pada grafik di atas, dapat dilihat mengenai pola antara SDM Direktorat
Jenderal Bina Konstruksi dengan anggaran setiap tahunnya. Berdasarkan
perbandingan tersebut, dapat dilihat bahwa rasio pembebanan anggaran per orang
semakin meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2014, rasio pembebanan adalah
pada angka 0,84. Sedangkan pada tahun 2015 menjadi 1,78. Hal ini menyebabkan
beban kerja di Direktorat Jenderal Bina Konstruksi juga semakin tinggi sebagai
16 konsekuensi dari berubahnya struktur organisasi dan naiknya pagu anggaran pada tahun 2015. Dalam menangani tantangan tersebut, penyusunan indikator kinerja individu telah diselaraskan dengan indikator kinerja organisasi sehingga dapat terciptanya pelaksanaan kegiatan yang efektif dan efisien. Adapun salah satu contoh indikator kinerja individu di lingkungan Ditjen Bina Konstruksi adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Contoh Sasaran Kerja Pegawai Ditjen Bina Konstruksi
Jika tidak terjadi penambahan SDM pada tahun-tahun berikutnya, diperkirakan pada tahun 2019 rasio pembebanan dapat menjadi 3,91. Hal ini berdampak kepada besarnya beban kerja pada masing-masing pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan terkait peningkatan kapasitas SDM agar dapat menunjang kinerja Ditjen Bina Konstruksi yang semakin strategis.
1.5. SARANA DAN PRASARANA
Sarana dan Prasarana Direktorat Jenderal Bina Konstruksi meliputi semua
Barang Milik Negara (BMN) yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau
17 berasal dari perolehan lainnya yang sah. Yang dimaksud dengan perolehan lainnya yang sah antara lain:
Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;
Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau
Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh ketentuan hukum tetap.
Klasifikasi BMN berdasarkan PMK 29/PMK.06 Tahun 2010 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Sumber: Bagian Keuangan dan Umum (2015) Bagan 2. Pemetaan Klasifikasi Barang Milik Negara
Salah satu aset sarana yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah bangunan kantor yang digunakan selama ini. Adapun luasan bangunan dan tanah keseluruhan aset Direktorat Jenderal Bina Konstruksi tertera pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Luas Tanah dan Bangunan Kantor Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
NO UNIT KERJA LUAS
TANAH (m
2)
LUAS BANGUNAN
(m
2) KETERANGAN 1 Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
Konstruksi 1.428 939,8 Gedung Utama
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
2 Direktorat Bina Investasi Infrastruktur 1.428 814,7 3 Direktorat Bina Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi 1.428 814,7
4 Direktorat Bina Kelembagaan dan
Sumber Daya Jasa Konstruksi 1.428 675
18
NO UNIT KERJA LUAS
TANAH (m
2)
LUAS BANGUNAN
(m
2) KETERANGAN 5 Direktorat Bina Kompetensi dan
Produktivitas Konstruksi 21.744 816 BMN DJBK
6 Direktorat Kerja Sama &
Pemberdayaan 802 802 Pinjam Pakai
DJBM 7 Balai Pembinaan Konstruksi Wil 1
Banda Aceh 17.000 3.185 Pinjam Pakai
UNSYIAH 8 Balai Teknologi dan Keahlian
Konstruksi 21.744 816 Pinjam Pakai
UNSYIAH 9 Balai Peralatan Konstruksi & Balai
Pembinaan Konstruksi Wil III Jakarta 53.760 14.795 Pinjam Pakai Balai Suratmo
10 Balai Pembinaan Konstruksi Wil IV Surabaya 20.000 10.110 BMN DJBK 11 Balai Pembinaan Konstruksi Wil V Banjarmasin 2.100 612 Pinjam Pakai
DJSDA 12 Balai Pembinaan Konstruksi Wil VI Makasar 150 150 Pinjam Pakai
Pusdiklat PU 13 Balai Pembinaan Konstruksi Wil VII Jayapura 6.054 3.798 Pinjam Pakai DJBM
14 Binjakonda 2.116 90 Pinjam Pakai
Wisma Karya
Sumber: Bagian Keuangan dan Umum (2015)
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa aset tanah dan bangunan yang merupakan milik Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah yang saat ini ditempati oleh Balai Pembinaan Konstruksi Wilayah IV Surabaya dengan luas tanah 20.000 m
2dan luas bangunan 10.110 m
2. Adapun luas bangunan dan tanah milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan diurus oleh Biro Umum masing-masing seluas 3.244,2 m
2dan 5.712 m
2. Sebagian besar unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi terutama yang berdomisili di daerah, masih meminjam-pakai tanah dan bangunan milik unit kerja lain seperti milik Direktorat Jenderal Bina Marga, Universitas Syiah Kuala, Balai Suratmo, Pusdiklat PU, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Wisma Karya dengan total luas bangunan 24.248 m
2dan luas tanah 103.726 m
2. Dapat disimpulkan bahwa lebih dari 65% luas bangunan yang ditempati unit kerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi masih dalam status pinjam-pakai.
Selain bangunan, sarana lain yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Bina
Konstruksi adalah aset pelatihan, dan pembinaan konstruksi. Adapun sebaran
neraca aset yang dimiliki Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berdasarkan Satuan
Kerja per tnaggal 30 Juni 2015 dapat dilihat pada diagram di bawah ini:
19
Sumber: Bagian Keuangan dan Umum, 2015
Diagram 6. Sebaran Neraca Aset Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
Dapat dilihat bahwa sebaran nilai aset paling besar berada di Balai Peralatan Konstruksi. Hal ini dikarenakan tugas balai tersebut untuk melaksanakan bimbingan teknis, pelatihan keterampilan dan keahlian teknik konstruksi sehingga perlu menyelenggarakan fungsi dalam penyiapan sarana dan prasarana kegiatan pelatihan konstruksi.
Dalam penyelenggaraan sarana dan prasarana di Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, terdapat beberapa permasalahan dalam penatausahaan Barang Milik Negara (BMN) para periode tahun 2015 ini. Permasalahan tersebut antara lain:
1. Terdapat beberapa unit Kendaraan Dinas Bermotor (KDO) dalam kondisi rusak berat namun belum selesai proses penghapusan.
2. Terdapat beberapa unit Kendaraan Dinas Bermotor (KDO) yang digunakan oleh pegawai non aktif (pensiunan) dan pegawai diluar Direktorat Jenderal Bina Konstruksi.
3. Pengadaan Kendaraan Dinas Bermotor (KDO) baru yang tidak memenuhi kriteria standar di dalam PMK No. 76/PMK.06/2015.
4. Temuan BPK terhadap laporan keuangan Kementerian Pekerjaan Umum pada tahun 2014 terdapat bukti penggunaan aset tanah oleh pegawai dan pensiunan tanpa didukung oleh bukti-bukti penggunaan yang sah.
5. Terdapat beberapa bangunan gedung milik Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
yang dibangun di atas tanah milik Satminkal lain.
20 6. Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Aset Negara (SIMAN) yang harus
terkoneksi dengan internet sehingga tidak terintegrasi dengan aplikasi SAIBA.
1.6. ISU STRATEGIS
Perubahan bentuk dari Badan Pembinaan Konstruksi menjadi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi merupakan isu strategis pada tahun 2015. Perubahan bentuk tersebut menyebabkan berubahnya struktur organisasi, tugas dan fungsi organisasi. Direktorat Jenderal Bina Konstruksi menjadi bersifat strategis serta lebih menuju ke arah perumusan kebijakan dan standardisasi teknis. Harapan masyarakat konstruksi yang besar terhadap Direktorat Jenderal Bina Konstruksi dalam melakukan pembinaan tidak hanya pada lingkup PUPR melainkan pada keseluruhan dunia konstruksi Indonesia memberi konsekuensi tanggung jawab yang besar pula khususnya terhadap pencapaian target organisasi.
Salah satu hal utama yang terjadi setelah perubahan bentuk organisasi
adalah adanya penambahan direktorat baru yaitu Direktorat Kerja Sama dan
Pemberdayaan. Tugas dari direktorat ini adalah melaksanakan penyiapan
perumusan dan pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan penyelenggaraan jasa
konstruksi. Selain perubahan bentuk, berubahnya alokasi anggaran pada masa
Triwulan I dari sebesar sebesar Rp422.899.986.000,-, menjadi Rp722.899.986.000,-
pada APBN-P membuat pelaksanaan kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
harus lebih diperkuat dengan adanya dukungan anggaran maupun SDM yang
berkompeten. Pada tahun 2015, merupakan tahun awal dalam pelaksanaan
Rencana Strategis Tahun 2015-2019. Hal ini menyebabkan tahun 2015 menjadi poin
awal dalam penentuan standar kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi dalam
lima tahun kedepan.
21 BAB 2
PERENCANAAN KINERJA
2.1. URAIAN SINGKAT RENSTRA
Rencana strategis merupakan hasil penurunan dari arah dan tujuan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi selama lima tahun ke depan, dimana Direktorat Jenderal Bina Konstruksi memposisikan diri sebagai “Pembina konstruksi dan investasi yang berintegritas tinggi, andal, dan kokoh”. Berdasarkan alur pengembangan yang telah dirumuskan sebelumnya, disusun rincian program strategis dan indikator serta target yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015-2019. Program dan indikator tersebut dijabarkan berdasarkan masing-masing misi, proses bisnis internal (pendukung), sumber daya untuk belajar dan tumbuh, dan perspektif finansial (anggaran) yang merupakan komponen-komponen yang bila disatukan secara sinergis maka akan membentuk sebuah bangunan utuh, yaitu Direktorat Jenderal Bina Konstruksi yang berintegritas tinggi, andal, dan kokol untuk mewujudkan tertib penyelenggaraan konstruksi, menuju konstruksi Indonesia yang unggul dan mandiri demi terwujudnya kenyamanan lingkungan yang terbangun.
Memperhatikan analisis situasi baik internal dan eksternal, maka tujuan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi pada tahun 2019 diwujudkan melalui pencapaian lima sasaran program sebagai berikut:
1. Meningkatnya kapitalisasi konstruksi oleh investor nasional;
2. Meningkatnya kinerja BUJK kualifikasi besar;
3. Meningkatnya penerapan manajemen mutu, K3, tertib pengadaan dan administrasi kontrak;
4. Meningkatnya SDM penyedia jasa konstruksi yang kompeten; dan 5. Meningkatnya utilitas produk unggulan.
Untuk mencapai sasaran tersebut diatas dan sejalan dengan meningkatnya
kompleksitas tantangan yang dihadapi, upaya yang harus dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Bina Konstruksi dalam mencapai sasaran tersebut juga harus meningkat,
baik dalam skala kuantitas maupun kualitasnya. Keberhasilan Direktorat Jenderal
Bina Konstruksi dalam menjawab tantangan yang dihadapi sangat tergantung dari
22 keberhasilannya dalam menyiapkan organisasi dan tata kelola Direktorat Jenderal Bina Konstruksi serta sumber daya yang diperlukan.
2.1.1. VISI DAN MISI
Berdasarkan arahan dari presiden, bahwa setiap kementerian memiliki fungsi operasional dalam mendukung pencapaian visi dan misi presiden yang tertuang di dalam Nawacita Presiden sebagai berikut:
1. Menghadirkan Kembali Negara Untuk Melindungi Segenap Bangsa Dan Memberikan Rasa Aman Pada Seluruh Warga Negara
2. Membuat Pemerintah Tidak Absen Dengan Membangun Tata Kelola Pemerintahan Yang Bersih, Efektif, Demokratis, Dan Terpercaya
3. Membangun Indonesia Dari Pinggiran Dengan Memperkuat Daerah-daerah Dan Desa Dalam Kerangka Negara Kesatuan
4. Menolak Negara Lemah Dengan Melakukan Reformasi Sistem Dan Penegakan Hukum Yang Bebas Korupsi, Bermartabat Dan Terpercaya
5. Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia
6. Meningkatkan Produktivitas Rakyat Dan Daya Saing Di Pasar Internasional 7. Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Dengan Menggerakkan Sektor-sektor
Strategis Ekonomi Domestik
8. Melakukan Revolusi Karakter Bangsa
9. Memperteguh Ke-bhineka-an dan Memperkuat Restorasi Sosial Indonesia
Unsur Nawacita Presiden yang difokuskan dalam program Pembinaan
Konstruksi adalah poin 3, 5, 6 dan 7. Selain itu, berdasarkan RPJMN 2015-2019,
Direktorat Jenderal Bina Konstruksi selaras dengan tertib penyelenggaraan,
produktivitas Badan Usaha, volume pengusahaan, penggunaan dan nilai tambah
dalam negeri, serta penguasaan pasar. Berdasar kepada Rencana Strategis
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, visi Kementerian adalah “Terwujudnya
Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang Handal dalam
Mendukung Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian
Berlandaskan Gotong Royong”. Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, sesuai
dengan program utamanya yaitu pembinaan konstruksi, berperan dalam
pengembangan konstruksi nasional, pembinaan penyelenggaraan konstruksi,
23 pembinaan produktivitas badan usaha dan sumber daya konstruksi, serta pemberdayaan tenaga kerja konstruksi dan masyarakat dalam rangka Mewujudkan terciptanya industri konstruksi yang mandiri, produktif dan berdaya saing dengan dilandasi iklim usaha yang sehat, sumber daya manusia yang kompeten dan menggunakan teknologi unggulan.
Adapun Misi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berangkat dari misi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat poin 4 yaitu:
“Mempercepat pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat secara terpadu dari pinggiran didukung industri konstruksi yang berkualitas untuk keseimbangan pembangunan antardaerah, terutama di kawasan tertinggal, kawasan perbatasan, dan kawasan pedesaan, dalam
kerangka NKRI”
2.1.2. TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS
Tujuan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berdasarkan Rencana Strategis DJBK 2015-2019 adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan kebijakan dan rencana pembinaan konstruksi dan investasi yang efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan;
2. Berperan aktif dalam mewujudkan penyelenggaraan konstruksi yang produktif, efisien dan efektif, serta berkelanjutan;
3. Berperan aktif dalam menciptakan pelaku, SDM, dan masyarakat konstruksi yang unggul, mandiri, profesional, dan berdaya saing tinggi;
4. Memelopori penciptaan informasi konstruksi dan terpenuhinya sumber daya konstruksi; dan
5. Mempelopori pengkajian, penyebarluasan, dan penerapan inovasi teknologi, investasi dan ekonomi konstruksi yang berkelanjutan.
Adapun indikator kinerja tujuan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
berdasarkan sasaran umum Rencana Strategis DJBK 2015-2019 adalah sebagai
berikut:
24 1. Tujuan 1
Terwujudnya Roadmap Pembinaan yang sesuai dengan perkembangan yang ada
Peningkatan penyelenggaraanpembinaan baik di pusat maupun di daerah
Peningkatan fungsi dan peran pembinaan melalui regulasi
2. Tujuan 2
Peningkatan investasi (konstruksi) infrastruktur yang katalis dan inovatif.
Peningkatan kinerja sistem penyelenggaraankonstruksiyang efisien dan efektif.
3. Tujuan 3
Dukungan rantai pasok konstruksi yang memadai
Peningkatan kapasitas LPJK yang kokoh dan mandiri
Peningkatan kompetensi SDM Konstruksi
Peningkatan kapasitas pembinaan yang menyeluruh dan merata
4. Tujuan 4
Dukungan rantai pasok konstruksi yang memadai
Tersedianya informasi konstruksi dan sumber daya konstruksi
Peningkatan kerjasama dan partisipasi stakeholder konstruksi untuk mendukung ketersediaan informasi konstruksi dan sumber daya konstruksi
Terbuka akses informasi konstruksi dan sumber daya konstruksi bagi seluruh stakeholder
5. Tujuan 5
Peningkatan kualitas Produk dan Layanan dengan pemberdayaan Litbang
Peningkatan kinerja Litbang melalui peningkatan fungsi dan peranan, kerjasama dan partisipasi stakeholder, dan sistem pengelolaan beserta pengadaan dalam menjalankan Litbang
Peningkatan kerjasama dan partisipasi stakeholder konstruksi untuk mendukung kegiatan litbang konstruksi
Tersebarnya informasi produk dan layanan
25 Sesuai dengan konsep restrukturisasi program dan kegiatan yang dimotori oleh Bappenas dan Kementerian Keuangan, masing-masing Unit Eselon I hanya memiliki dan bertanggungjawab atas satu program. Adapun sasaran strategis dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berdasarkan Rencana Strategis DJBK 2015- 2019 adalah “Meningkatnya Kapasitas dan Pengendalian Kualitas Konstruksi Nasional”.
2.1.3. PROGRAM DAN KEGIATAN
Sesuai program dan kegiatan yang dimotori oleh Bappenas dan Kementerian Keuangan, masing-masing Unit Eselon I hanya memiliki dan bertanggungjawab atas satu program. Satu-satunya program yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bina Konstruksi adalah Program Pembinaan Konstruksi dengan indikator kinerja outcome program adalah Meningkatnya Kapasitas dan Pengendalian Kualitas Konstruksi Nasional yang diukur dari tingkat pengendalian pelaksanaan konstruksi nasional. Program tersebut diukur berdasarkan sasaran program sebagai berikut:
1. Meningkatnya kapitalisasi konstruksi oleh investor nasional.
2. Meningkatnya persentase BUJK yang berkualifikasi besar.
3. Meningkatnya tertib penyelenggaraan konstruksi.
4. Meningkatnya SDM penyedia jasa konstruksi yang kompeten.
5. Meningkatnya utilitas produk unggulan.
Sasaran program dicapai dengan pengukuran indikator kinerja yang tertuang di dalam perjanjian kinerja. Pada Rencana Strategis Ditjen Bina Konstruksi TA 2015- 2019 sudah tidak memuat Indikator Kinerja Utama (IKU) dan diganti dengan indikator kinerja sasaran. Indikator kinerja sasaran Direktorat Jenderal Bina Konstruksi untuk menjawab sasaran program adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan rasio kapitalisasi oleh investor nasional.
2. Persentase kenaikan BUJK menjadi berkualifikasi besar.
3. Persentase kenaikan tingkat tertib penyelenggaraan konstruksi.
4. Persentase kenaikan SDM penyedia jasa konstruksi yang kompeten.
5. Persentase kenaikan tingkat utilitas produk unggulan.
26 Penetapan indikator kinerja kegiatan tersebut didasarkan pada perkiraan yang realistis dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta data pendukung yang terorganisir. Indikator kinerja dimaksud dibuat dengan memperhatikan kaidah-kaidah SMART : (1) spesifik dan jelas (Specific), (2) dapat diukur secara obyektif (Measurable), (3) dapat dicapai (Achievable), (4) relevan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai (Relevant), dan (4) tidak bias (Transparant).
Adapun kegiatan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi berjumlah 6 (enam) buah sesuai dengan jumlah Unit Eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, yaitu:
1. Penyelenggaraan Pelayanan Teknis dan Administrasi Pembinaan Jasa Konstruksi;
2. Pembinaan Investasi Infrastruktur;
3. Pembinaan Penyelenggaraan Konstruksi;
4. Pembinaan Kelembagaan dan Sumber Daya Jasa Konstruksi;
5. Pembinaan Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi; dan 6. Kerja Sama dan Pemberdayaan Jasa Konstruksi.
2.2. PERJANJIAN KINERJA
Perjanjian kinerja atau Penetapan Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi
adalah Rencana Kinerja pada tahun bersangkutan yang berasal dari Dokumen DIPA
(Dokumen Anggaran) dan Rencana Strategis Ditjen Bina Konstruksi TA 2015-2019
yang memuat sasaran strategis, indikator kinerja output dan target kinerja sesuai
dengan tujuan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi yang selaras dengan visi misi
Presiden yaitu NAWACITA sebagaimana tertuang dalam tabel di bawah ini:
27 Tabel 6. Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Bina Konstruksi TA 2015
Sumber: Perjanjian Kinerja DJBK (2015)