BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Begonia
Nama Begonia diberikan oleh seorang pastor yang juga ahli botani, Charles Plumier (Efendi & Maryanti, 2017). Ekpedisi yang dia lakukan disponsori oleh Michel Begon, yaitu Gubernur Prancis di daerah Santo Domingo, Brasil yang juga merupakan seorang ahli botani (Zhang, 2010). Plumier memberikan penghargaan kepada Michel Begon dengan memberikan sebuah nama tumbuhan yang baru dia temukan dengan nama Begonia (Satyanti & Siregar, 2012). Begonia diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok, yaitu kelompok rhizomatus, rex, basket, semperflorens.
Klasifikasi Begonia menurut Suryani (2014), yaitu:
Kingdom : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Violales Famili : Begoniaceae Genus : Begonia 2.1.1 Morfologi Begonia
Begonia merupakan jenis tumbuhan herba baik herba tegak atau menjalar, berperawakan kecil, akar serabut dan tunggang, batang sukulen kadang ditemukan berkayu terutama pada pangkal, batang mengandung air, daunnya tunggal (Efendi, 2018), letak daun tersebar dan bentuk daunnya asimetris (begoniifolia) (Girmansyah, 2010). Bentuk daun begonia sangat beragam, antara lain oval, menjari, berbentuk seperti terompet, berumbai-umbai. Ukuran daunnya ada yang besar, sedang, dan kecil. Permukaan daun Begonia ada yang datar, berkerut, berbulu, licin, dll. Motif daunnya juga bermacam-macam, ada yang polos, bercak- bercak, bergaris, bermotif lurik seperti batik, atau totol-totol.
Gambar 2. 1 Begonia robusta
Gambar 2. 2 Macam-macam Begonia (Sumber: Siregar, 2008)
Begonia memiliki daun bervariasi, hijau, perak, merah, abu-abu, ungu.
Ketebalan daunnya juga beragam seperti agak tebal hingga tebal (Siregar, 2008).
Begonia umumnya berbunga majemuk, namun ada pula yang tidak memiliki bunga.
Bunganya muncul di ketiak daun (axillaris) atau diujung batang. Begonia ada yang memiliki bunga tak terbatas dan ada yang terbatas. Warna bunga Begonia biasanya putih, pink, kuning, atau yang lainnya (Siregar, 2008). Masa berbunga pada Beginia dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok yang berbunga sepanjang tahun, kelompok yang berbunga semusim, kelompok yang jarang berbunga, dan kelompok yang tidak berbunga.
2.1.2 Habitat Begonia
Begonia tumbuh dengan baik di tempat-tempat lembab, tanah berhumus, dan
di tempat yang sedikit ternaungi (Munawaroh & Siregar, 2018). Tumbuhan
Begonia dapat ditemukan pada perbukitan dan hutan hujan tropik dataran rendah
hingga pegunungan berketinggian sampai 2.400 m dpl (Pandikumar, Babu, &
Ignacimuthu, 2010). Begonia juga banyak yang ditanam sebagai tanaman hias dan dapat tumbuh subur bila ditanam menggunakan media dedaunan yang lembab.
2.1.3 Manfaat Begonia
Pada umumnya Begonia digunakan sebagai tanaman hias, namun beberapa Begonia ynag berakar rimpang dapat digunakan sebagai obat demam dan sifilis (Siregar, 2008). Beberapa jenis Begonia dapat berpotensi sebagai tanaman obat dan tak jarang juga ada jenis Begonia digunakan sebagai bahan pangan untuk dikonsumsi contohnya sebagai lalapan, campuran bumbu masak atau penghilang dahaga (Siregar, 2017). Senyawa flavonoid yang terkandung pada Begonia memiliki peranan dalam menghambat sel kanker T47D dan sel HeLa (Ritna, Anam,
& Khumaidi, 2016).
2.1.4 Keragaman Jenis Begonia
Keragaman jenis begonia diperkirakan lebih dari 1.600 jenis yang tersebar dikawasan tropis dan sub tropis di dunia (Nurrani, 2013). Di Indonesia keanekaragaman genus Begonia diperkirakan mencapai lebih dari 250 jenis.
Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, setidaknya 57 jenis baru berhasil ditemukan.
Jumlah tersebut masih terus meningkat ditambah dengan eksplorasi di berbagai kawasan Indonesia (Efendi & Maryanti, 2017). Tingkat tertinggi penemuan genus ini berada di daerah Papua karena di sana masih banyak ditemukan hutan. Di Bali terdapat Rumah Begonia, di Bogor terdapat “Bogor Botanic Garden”, Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Cibodas. Beberapa tempat ini memiliki koleksi Begonia lebih dari 20 jenis dan berasal dari seluruh daerah di Indonesia.
Beberapa jenis begonia yang sudah ditemukan di Pulau Jawa, antara lain (Efendi, Azizah, Supriyatna, & Destri, 2017):
a. Begonia cucullata Willd. Tinggi mencapai 50 cm. Batang tegak, beruas, gundul, panjang ruas mencapai 12 cm. Daun tunggal, berseling, perlekatan tulang daun basifik, tepi daun rata, ujung membulat, tulang daun menjari.
Pembungaan muncul di ketiak daun. Bunga jantan memiliki empat tenda bunga
saling bebas, tenda bunga bagian dalam berukuran lebih kecil dibandingkan
dengan tenda bunga bagian luar. Bunga betina dengan lima tenda bunga, saling
bebas, bakal buah berjumlah tiga ruang, plasentasi aksilar dengan percabangan plasenta dua per lokul, tangkai kepala putik tiga, bebas atau sedikit melekat, bercabang satu
b. Begonia isoptera Dryand. Herba menahun, tegak lurus, tinggi mencapai 1 m.
Batang beruas, gundul, panjang ruas 1 – 1,6 cm. Daun tunggal, berseling, bentuk bundar telur sampai oblong, panjang daun 4 – 7 cm, lebar daun 1,8 – 3 cm, tangkai daun 0,4 – 0,6 cm, perlekatan tulang daun basifik, pertulangan daun menjari, daun berwarna hijau dengan bercak putih. Pembungaan muncul di ketiak daun, bunga jantan terletak lebih atas dibandingkan dengan bunga betina. Bunga jantan memiliki dua tenda bunga, berwarna putih, membulat di bagian ujung. Bunga betina berjumlah dua kuntum pada setiap perbungaan, tenda bunga berjumlah tiga, saling bebas, ujung tumpul.
c. Begonia robusta. Herba menahun. Batang merah, berbulu rapat, tinggi mencapai 1 m. Stipula persisten, tepi rata, berambut berwarna merah. Daun tunggal, berseling, permukaan atas daun berambut merah, tepi daun rata, tulang daun menjari. Daun berukuran besar, panjang daun mencapai 30 cm, lebar daun 15 – 21 cm. Perbungaan bunga muncul di ketiak daun. Bunga jantan memiliki empat helai tenda bunga saling bebas. Bunga betina memiliki lima helai tenda bunga saling bebas.
d. Begonia longifolia. Herba menahun, tegak. Batang gundul, berwarna hijau dengan bercak putih, tinggi batang 150 – 175 cm. Stipula menyegi tiga sempit, persisten, menyegi tiga sempit, panjang 0,5 – 2,7 cm, rata. Daun tunggal, berseling, panjang daun 4 – 13 cm, lebar daun 0,7 – 7,2 cm, tepi daun bergerigi, semakin besar ukuran daun maka gerigi sisi daun semakin tumpul.
Pembungaan muncul di ketiak daun, tangkai pendek. Bunga jantan memiliki empat helai tenda bunga, saling lepas, berwarna putih dan tepi rata. Bunga betina memiliki enam helai tenda bunga, berwarna putih, bentuk bulat telur, tangkai putik dan kepala putik kuning.
e. Begonia multangula. Batang hijau kadang dengan sedikit warna merah,
berbulu putih sangat pendek, tumbuh tegak, tinggi mencapai 1,5 m. Stipula
persisten, tepi rata. Daun tunggal, berseling, asimetris, panjang daun 24 – 26
cm, lebar daun 19 – 21 cm, tepi daun berlekuk dangkal hingga mencapai setengah lebar daun, ujung daun dangkal, tulang daun menjari, permukaan daun gundul atau dengan sedikit bulu. Perbungaan muncul di ketiak daun.
Bunga jantan memiliki empat helai tenda bunga, saling bebas. Bunga betina memiliki lima tenda bunga, saling bebas, putih. Bakal buah memiliki tiga ruang, tipe plasentsi bercabang dua.
f. Begonia multangula Bl. Batang merah, tegak, tinggi mencapai 1 m, lebih ramping dibandingkan dengan B. multangula variasi 1. Stipula persisten, tepi rata. Daun tunggal, berseling, asimetris, panjang daun 22 – 30 cm, lebar daun 15 – 20 cm. Helaian daun gundul atau dengan bulu jarang. Permukaan atas berwarna keperakan sedangkan helaian bawah berwarna merah. Tepi daun berlekuk mencapai setengah lebar daun, tulang daun menjari, permukaan daun gundul atau dengan sedikit bulu. Perbungaan muncul di ketiak daun. Bunga jantan memiliki empat tenda bunga empat saling bebas. Bunga betina memiliki 5 helai tenda bunga saling bebas, berwarna putih.
Gambar 2. 3 Jenis Begonia Di KR Cibodas Sumber: (Efendi, Azizah, et al., 2017)
2.2 Hubungan Kekerabatan
Kekerabatan dalam sistematik tumbuhan dapat diartikan sebagai pola hubungan antar kelompok tumbuhan berdasarkan ciri-ciri tertentu dari masing- masing kelompok tersebut (Pangestu, Aziz, & Dewi, 2014). Semakin tinggi kemiripan ciri morfologi dari spesies yang dibandingkan, semakin dekat jarak
euclideannya. Hal ini berarti kedua spesies tersebut memiliki hubungan yang erat(Rahmawati, Hasanuddin, & Nurmaliah, 2016).
Berdasarkan jenis data untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan antara dua kelompok tumbuhan, maka dapat dibedakan atas kekerabatan fenetik dan kekerabatan filogenetik (filetik).
2.2.1 Hubungan Fenetik
Menurut Sukarsa, Bhagawati, & Priyono (2013,) fenetik merupakan suatu metode yang menggunakan seluruh bagian organisme untuk menentukan hubungan. Nurchayati (2010), menambahkan bahwa kekerabatan fenetik ditentukan dengan menerapkan metode numerik, yang dilakukan dengan menggunakan analisis kelompok. Parameter yang digunakan untuk menunjukkan hubungan fenetik antar tumbuhan adalah karakteristik yang muncul pada tumbuhan (Nurchayati, 2010). Metode fenetik didasarkan pada kesamaan karakter secara fenotip meliputi morfologi, anatomi, embriologi, atau fitokimia (Nurchayati, 2010).
Penentuan hubungan kekerabatan fenetik secara kualitatif ditentukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki oleh masing-masing takson dengan menggunakan sejumlah persamaan karakter (morfologi, anatomi, embriologi, palinologi, sitologi, kimia, biologi reproduksi, ekologi dan fisiologi).
Istilah fenetik pertama kali dikemukakan oleh Cain dan Harrison tahun 1960
bertujuan untuk menunjukkan hubungan kekerabatan dengan menggunakan ciri
yang sama. Makin besar persamaan di antara makhluk hidup, makin dekat
hubungan yang ada, semakin sedikit persamaanya akan semakin jauh hubungan
kekerabatan makhluk hidup (Fitriana, 2014).
2.2.2 Hubungan Filogenik
Filogenik ialah penunjuk hubungan kekerabatan yang didasarkan pada nilai evolusi dari masing-masing karakter (Sukarsa, Bhagawati, & Priyono, 2013).
Kekerabatan filogenetik dilihat dari susunan genetiknya. Filogenetik merupakan pengklasifikasian yang bermanfaat untuk menghubungkan kekerabatan kelompok pada tumbuhan (Tjitrosoepomo, 2010) selain itu Rahmawati et al (2016), menjelaskan bahwa kekerabatan filogenik mengacu pada hipotesis evolusi.
2.3 Taksonomi
2.3.1 Taksonomi dan Klasifikasi
Tumbuhan yang ada di alam ini mempunyai jumlah yang beranekaragam sehingga menimbulkan kesadaran manusia untuk menyederhanakan obyek studi melalui klasifikasi, identifikasi dan pemberian nama yang tepat untuk setiap kelompok tumbuhan dengan memanfaatkan karakter yang terdapat pada setiap tumbuhan, dan menggolongkannya ke dalam kelompok-kelompok tertentu.
Kesadaran manusia untuk menyederhanakan obyek studi tersebut kemudian melahirkan cabang ilmu hayat yang sekarang disebut taksonomi (Nurchayati, 2010). Taksonomi berasal dari bahasa Yunani “Takson” artinya kelompok atau unit dan “nomos” yang berarti hukum, dengan demikian taksonomi adalah hukum ynag digunakan untuk menggolongkan makhluk hidup (Hassanudin, 2018). Menurut (Wijayanti et al., 2015) taksonomi didasarkan pada persamaan dan perbedaan antar spesies yang di deskripsikan dari variasi morfologinya, sedangkan klasifikasi merupakan suatu proses pengaturan tumbuhan dalam tingkat tertentu berdasarkan kesamaan atau ketidaksamaan dengan tujuan untuk menyederhanakan objek yang diamati serta mencari kesamaan dalam keanekaragaman.
Tumbuhan yang berkerabat dekat mempunyai anatomi, morfologi dan proses
fisiologi yang mirip (Fitriana, 2014). Karakterisasi sifat morfologi merupakan cara
determinasi yang paling akurat untuk menilai sifat agronomi dan klasifikasi
taksonomi tanaman. Lebih lanjut Fitriana (2014), menyebutkan hubungan
kekerabatan antar jenis tanaman dapat dianalisis untuk menentukan sejauh mana
ketidak miripannya dengan cara menghitung koefisien korelasi, indeks kemiripan,
jarak taksonomi, dan dapat pula dengan menggunakan analisis kelompok. Secara umum semua cara pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kemiripan antar jenis tanaman yang dibandingkan berdasarkan sejumlah karakter (Fitriana, 2014).
2.3.2 Perkembangan Sistem Klasifikasi dalam Taksonomi Tumbuhan Seiring dengan perkembangan jaman dan ilmu pengetahuan serta teknologi saat ini, ilmu taksonomi terus mengalami kemajuan dari masa ke masa.
Perkembangan sistem klasifikasi menurut Tjitrosoepomo (2010) terdiri dari 1) Periode tertua di zaman pra sejarah yaitu dengan cara memilah-milah tumbuhan yang berguna dan tidak; 2) Periode Sistem Habitus. Periode ini terjadi sekitar abad ke-4 hingga ke-17 yang mana pengklasifikasian tumbuhan didasarkan pada habitus seperti pohon, semak, perdu, dan ternak; 3) Periode Sistem Numerik. Periode sistem numerik terjadi pada awal abad ke-18 yang ditandai dengan sistem pengklasifikasian yang didasarkan pada pengambilan kesimpulan mengenai hubungan kekerabatan antar tumbuhan, pada periode ini ilmuwan yang paling menonjol adalah Carolus Linnaeus; 4) Sistem Klasifikasi Kontemporer. Periode ini terjadi abad ke-20 muncul metode baru dalam taksonomi tumbuhan dengan menggunakan data melaui komputer.
2.3.3 Pengertian Taksimetri
Taksonomi numerik atau taksimetri merupakan metode evaluasi kuantitatif
mengenai kemiripan sifat antar spesies dan penataan golongan-golongan itu melalui
suat analisis yang dikenal sebagai analisis kelompok atau cluster analysis
(Wijayanti et al., 2015). Tujuan dari taksimetri menurut Tjitrosoepomo (2010)
sebagai penunjuk hubungan kekerabatan suatu kelompok tumbuhan ataupun
hewan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan (Wijayanti et al., 2015) yang
menambahkan tujuan dari taksimetri adalah untuk menentukan jauh dekatnya suatu
hubungan kekerabatan antara dua takson tumbuhan secara kuantitatif dengan
menggunakan analisis kelompok.
2.3.4 Langkah-Langkah dalam Taksimetri
Langkah-langkah dalam taksimetri menurut Abler (1987) dalam Wijayanti et al., (2015), antara lain yang pertama pemilihan obyek studi, dilakukan dengan memperhatikan Operasional Taksonomi Unit (OTU). Kedua, pemberian kode pada ciri tumbuhan yang digunakan. Ciri hanya ada dua tingkat yaitu jika karakter dimiliki oleh spesies ditandai dengan angka 1, dan jika tidak dimiliki oleh spesies ditandai dengan angka 0 seperti yang tertera pada Lampiran 1. Ketiga, analisis kelompok (Cluster Analysis), yaitu pengelompokan OTU yang sama kedalam satu kelompok yang disebut dengan fenon. Keempat, penataan secara hierarki dalam bentuk diagram yang disebut dengan dendogram, dan yang kelima adalah diskriminasi untuk menentukan ciri konstan yang dilihat dari nilai terbanyak.
2.4 Sumber Belajar
2.4.1 Pengertian Sumber Belajar
Keberagaman jenis yang terdapat pada tanaman Begonia dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber belajar bagi dunia pendidikan khususnya sebagai penunjang proses kegiatan belajar mengajar di sekolah terutama untuk peserta didik SMA kelas X. Astuti (2011) menyebutkan bahwa sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan dalam proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar, sumber belajar bertujuan untuk mentransmisikan rangsangan sebagai informasi kepada peserta didik (Permana et al., 2020). Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang mengandung informasi dan dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai tujuan belajar. Sumber belajar tidak hanya di dapat dari buku saja, namun lingkungan yang ada di sekitar dapat dipertimbangkan sebagai sumber belajar (Astuti, 2011)
2.4.2 Klasifikasi Sumber Belajar
Berbagai pendapat mengenai pengertian sumber belajar menunjukkan bahwa
sumber belajar memiliki makna yang sangat luas. Menurut Mulyasa (2003) dalam
(Astuti, 2011) membagi sumber belajar ke dalam 7 jenis yaitu.
1. Manusia (People) adalah orang yang menyampaikan pesan secara langsung, seperti guru konselor dan administrator, yang diniati khusus dan disengaja untuk kepentingan belajar.
2. Bahan (Materials) adalah segala sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, misalnya film pendidikan, peta, grafik, buku paket, dan sebagainya.
3. Lingkungan (Setting) adalah ruang dan tempat-tempat di mana sumber dapat berinteraksi dengan peserta didik, misalnya perpustakaan, laboratorium, ruang micro teaching, dan sebagainya.
4. Alat dan Peralatan (Tool and Equipment) adalah sesuatu yang digunakan untuk menyampaikan pesan perangkat keras yang digunakan untuk menyampaikan pesan, misalnya LCD, komputer, tape recorder, dan sebagainya.
5. Aktivitas (Aktivity) adalah sumber belajar yang biasanya merupakan kombinasi antar suat teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, misalnya simulasi dan karya wisata.
6. Pesan (Message) adalah pelajaran atau informasi yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti, dan data.
7. Teknik (Technic) adalah prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang, serta lingkungan untuk menyampaikan pesan, misalnya belajar sendiri, simulasi, permainan, demonstrasi, kuliah, ceramah, dan tanya jawab.
2.4.3 Manfaat Sumber Belajar
Penggunaan sumber belajar sebagai faktor penunjang keberhasilan
pembelajaran perlu memperhatikan manfaat yang diperoleh. Manfaat sumber
belajar menurut Lasa (2007) dalam Astuti (2011), yaitu meningkatkan produktivitas
pembelajaran serta membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik
sehingga dapat lebih banyak mengembangkan gairah peserta didik, memberikan
kemungkinan pembelajaran yang sifatnya individual serta memberikan kesempatan
bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya, memberikan
dasar yang lebih ilmiah melalui perencanaan program pembelajaran yang lebih
sistematis dan pengembangan bahan ajar yang dilandasi oleh penelitian,
memantapkan pembelajaran dengan cara meningkatkan kemampuan sumber belajar melalui penyajian informasi serta bahan secara lebih kongkrit, memungkinkan belajar secara seketika yaitu mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realita yang sifatnya kongkrit, memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung, dan memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas dengan cara menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografi. Pemahaman terhadap manfaat sumber belajar sangat penting bagi guru dan peserta didik (Astuti, 2011).
2.4.4 Pemanfaatan Hasil Penelitian sebagai Sumber Belajar Biologi
Proses dan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber belajar, oleh karena itu perlu dipertimbangkan makna penelitian sebagai sumber belajar dengan jelas. Syarat-syarat sumber belajar antara lain (Djohar, 1987):
1. Kejelasan potensi
Objek Begonia yang saat ini belum banyak diteliti dan diklasifikasikan akan sangat bermanfaat sebagai sumber belajar karena dapat menambah wawasan para peserta didik. Begonia memiliki variasi jenis dengan morfologi mulai dari batangnya, daunnya, bunganya berbeda-beda. Memungkinkan untuk dipelajari, diamati untuk dilihat hubungan kekerabatannya dengan taksimetri.
Mempelajari hal ini berarti siswa dilatih untuk berinteraksi dengan alam khususnya tumbuhan di sekitarnya.
2. Kejelasan sasaran
Sasaran pengamatan dalam penelitian ini meliputi klasifikasi Begonia dilihat dari morfologinya menggunakan metode taksimetri.
3. Kesesuaian dengan tujuan belajar
Melakukan penelitian ini berarti melibatkan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik karena kegiatan ini tidak lepas dari aktivitas observasi,
merumuskan masalah, menentukan tujuan, menyatakan hasil, membuat
kesimpulan dan sebagainya. Pengamatan morfologi tananam pada genus
Begonia dan mengklaster kedekatan hubungan dengan analisis fenetik setelah
itu dilakukan dendogram, mendukung KD 4.3 Menyusun kladogram
berdasarkan prinsip-prinsip klasifikasi makhluk hidup.
4. Kejelasan informasi yang dapat diungkap
Informasi yang dapat diungkap dari penelitian ini adalah berupa fakta yang dapat dikembangkan menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat maupun pelajar. Informasi tersebut berupa hubungan kekerabatan genus begonia yang ada di Kota Batu. Konsep yang diperoleh dapat digunakan untuk mengisi pokok bahasan Klasifikasi Tumbuhan.
5. Kejelasan pedoman eksplorasi
Pengamatan terhadap studi kekerabatan Begonia menggunkan metode taksimetri dapat dilakukan oleh peserta didik dibangku SMA kelas X dengan pedoman pada petunjuk kerja yang telah dimodifikasi. Peserta didik juga dapat menggunakan metode ini untuk menambah wawasan tentang genus Begonia yang ditemukan di sekelilingnya.
6. Kejelasan perolehan yang diharapkan
Beberapa hal yang dapat diperoleh sebagai sumber belajar adalah:
a. Pengembangan keterampilan melalui pengamatan, ketepatan, dan kelengkapan pengumpulan data.
b. Pengembangan sikap teliti, disiplin, jujur, tekun, dan bekerja tuntas ketika sedang melakukan identifikasi atau praktikum lain yang berhubungan dengan klasifikasi tanaman.
Peserta didik mampu mengoptimalkan potensi panca inderanya untuk berinteraksi dengan lingkungan (Permana et al., 2020). Kegiatan pengamatan, identifikasi dan klasifikasi tumbuhan dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif (pengetahuan) sebagian besar di tentukan oleh indra penglihatan (Ainus, Maula, &
Ulfah, 2016), dengan kegiatan klasifikasi ini siswa dapat menambah
pengetahuannya tentang tumbuhan yang ada disekitarnya. Kemampuan afektif
(sikap) dapat dikembangkan melalui sikap mereka peduli terhadap lingkungan,
serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap yang dituntut pada KD
pembelajaran. Kemampuan psikomotorik (keterampilan) dapat terlihat dengan
adanya kegiatan klasifikasi dan pembuatan dendogram tanaman, sehingga secara
tidak langsung siswa dapat memahami ciri-ciri tumbuhan yang satu dengan lainnya (Permana et al., 2020).
2.4.5 Sumber Belajar Buku Panduan Praktikum Berbasis E-Modul
Modul elektronik (e-modul) merupakan modifikasi dari modul konvensional dengan memadukan pemanfaatan teknologi informasi, sehingga modul yang ada dapat lebih menarik dan interkatif. e-Modul dapat menambahkan fasilitas multimedia (gambar, animasi, audio dan video) di dalamnya. Kita juga dapat menambahkan fasilitas tes atau evaluasi interaktif sehingga siswa lebih dapat berinteraksi dengan sumber belajarnya (Arsal et al., 2019). Kelebihan e-modul dibandingkan dengan modul cetak adalah sifatnya yang interaktif, memudahkan dalam navigasi, dapat menampilkan atau memuat gambar, audio, video dan animasi serta dilengkapi tes formatif yang memungkinkan umpan balik otomatis dengan segera (Syafriah, 2012). Menurut Qiang (2020) bahwa pembelajaran dengan video tutorial praktikum mampu memudahkan mahasiswa dalam mempelajari dan meningkatkan pengetahuan tentang teknik pemisahan metode kromatografi tanpa harus belajar secara langsung di laboratorium. Selain itu, Nugroho & Puspitasari (2019) juga menyatakan terdapat peningkatan hasil belajar dan perubahan tingkah laku kearah yang lebih positif setelah diberikan modul praktikum pencemaran lingkungan yang dikolaborasikan dengan penayangan video pembelajaran pada saat perkuliahan berlangsung.
Peserta didik saat ini sangat antusias dengan segala sesuatu yang berbau dengan teknologi modern. Penggunaan media pembelajaran sebagai teknologi informasi dalam proses pembelajaran sudah menjadi kebutuhan sekaligus tuntutan diera globalisasi sehingga dalam hal ini dapat menciptakan kualitas manusia yang tidak hanya bergantung melalui transfer ilmu secara verbal (Puspita, Nazar, Hanum, &
Reza, 2021). Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran akan
menciptakan proses pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi peserta didik
(Nugroho & Puspitasari, 2019). Modul elektronik memudahkan peserta didik untuk
mempelajari tiap materi yang ada di dalamnya tanpa harus dibawa seperti buku,
peserta didik cukup mengunduh modul elektronik yang dikembangkan pada hp
yang mereka miliki.
2.5 Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2. 4 Kerangaka Konseptual