BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI 1. Osteoarthritis
a. Definisi
Osteoarthritis adalah penyakit yang mengganggu homeostasis pada metabolisme kartilago sehingga struktur proteoglikan pada kartilago menjadi rusak, hal ini disebabkan karena beberapa faktor misalnya usia, kinerja sendi yang berlebihan, obesitas, defek anatomik, stress kimia atau mekanis, genetik serta humoral (Arismunandar, 2015).
Osteoarthritis merupakan kelainan kronis pada sendi karena tidak seimbangnya proses sintesis dan degradasi pada sel-sel sendi, matriks ekstraseluler, dan tulang subkondral yang terjadi pada usia tua (Sjamsuhidajat et al., 2011).
Gambar 2.1.
Lutut Normal dan Lutut Osteoarthritis (Kuntono, 2011)
b. Etiologi
Osteoarthritis dibagi menjadi dua menurut etiopatogenesisnya, yaitu osteoarthritis primer dan osteoarthritis sekunder. Osteoarthritis primer lebih sering terjadi daripada osteoarthritis sekunder.
Osteoarthritis primer yang sering disebut osteoarthritis idiopatik yaitu osteoarthritis yang tidak diketahui penyebabnya dan tidak ada kaitannya dengan penyakit sistemik ataupun inflamasi, sedangkan osteoarthritis sekunder biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti pemakaian sendi yang berlebih dalam bekerja, olahraga berat, adanya riwayat cedera sendi, penyakit sistemik, serta inflamasi (Davey, 2015).
c. Epidemiologi
Osteoarthritis merupakan penyakit yang cukup menjadi perhatian bagi warga negara Amerika. Prevalensi osteoarthritis di Amerika lebih besar dari pada prevalensi di negara lain. The National Arthritis Data Workgroup (NADW) pada tahun 2005 memperkirakan orang yang menderita osteoarthritis di Amerika sekitar 27 juta orang dan pada usia di atas 18 tahun. Pada tahun 2007 hingga 2009 prevalensinya bertambah menjadi sebanyak 50 juta jiwa yang terdiagnosis osteoarthritis (Murphy and Helmick, 2012).
Di kawasan Asia, negara China dan India menjadi 2 negara teratas epidemiologi osteoartrhitis yaitu mencapai angka 5.650 dan 8.145 jiwa terdiagnosis osteoarthritis (Fransen et al., 2011). Di Indonesia berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, ketika dilakukan wawancara kepada orang dengan usia lebih dari 15 tahun ditemukan rata-rata prevalensi penyakit sendi sebesar 24,7%. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi provinsi prevalensi osteoarthritis tertinggi dengan persentase sebesar 33,1% dan Riau merupakan provinsi dengan prevalensi osteoarthritis terendah yang hanya 9%, (Riskesdas, 2013).
d. Faktor Risiko
Osteoarthritis adalah suatu penyakit kompleks yang memiliki 2 faktor risiko utama, yaitu faktor dasar umum yang meliputi usia, jenis kelamin, obesitas, riwayat keluarga dan faktor lokal akibat beban mekanis yang tidak normal pada persendian tertentu (Melnic, 2014)
Faktor risiko osteoarthritis antara lain : 1) Usia
Faktor risiko yang dapat menyebabkan osteoarthritis menurut Heijink et al (2012), yaitu akibat penuaan dan adanya perubahan pada sistem muskuloskeletal yang kemudian ditambah adanya faktor instrinsik dan ekstrinsik. Menurut Kwoh (2012), meningkatnya prevalensi dan insidensi osteoathritis yang terjadi pada lansia merupakan akibat perubahan biologi yang terjadi karena penuaan.
2) Jenis Kelamin
Osteoarthritis lutut dan mayoritas sendi lebih sering terjadi pada wanita, sedangkan osteoarthritis tangan lebih sering pada pria.
Osteoarthritis lutut pada wanita lebih parah diabndingkan pada pria, terutama yang cukup signifikan adalah pada wanita postmenopause.
Hal ini dikarenakan efek dari penurunan esterogen yang berpengaruh pada kartilago. Faktor anatomi juga cukup berpengaruh yakni femur yang lebih sempit, patella lebih tipis, sudut quadriceps lebih tinggi, dan perbedaan ukuran kondilus tibial (Hame and Alexander, 2013).
3) Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik yang dilakukan seseorang seperti berdiri lama lebih dari 2 jam pada setiap hari, berjalan cukup jauh sekitar 2 jam setiap harinya, mengangkat beban berat (10 sampai 50 kilogram setiap minggu selama 10 kali atau lebih), mendorong benda yang beratnya sekitar 10 sampai 50 kilogram setiap minggu selama 10 kali atau lebih), serta melakukan aktivitas sehari-hari seperti naik
turun tangga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya osteoarthritis (Erminawati, 2017).
4) Obesitas
Obesitas berakibat pada peningkatan beban sendi yang cukup berat sehingga dapat menjadi salah satu penyebab osteoarthritis. Ketika tubuh menahan beban yang berlebihan, hal itu dapat mempercepat perusakan kartilago. Terdapat juga faktor predisposisi akibat postur yang buruk dan cara berjalan yang tidak sehat pada orang dengan obesitas. Bahkan pada orang dengan IMT
>36, terjadi peningkatan 4 kali lebih besar terkena osteoarthritis dibandingkan orang yang memiliki IMT normal. Penelitian di University College London mengungkapkan dalam jurnal Public Health Nutrition, bahwa obesitas dapat menambah resiko diabetes dan hipertensi yang dapat meningkatkan inflamasi pada sendi akibat peningkatan glukosa darah dan level imun (Li et al., 2018).
5) Pekerjaan, dan Olahraga
Pemakaian sendi yang berlebihan dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan kerusakan sendi melalui mekanisme pengikisan pada proses degenerasi. Pekerjaan berat ataupun beberapa pekerjaan yang lebih menggunakan satu sendi secara terus menerus juga dapat mengakibatkan peningkatan risiko osteoarthritis. Pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan tingkat risiko osteoarthritis di antaranya adalah petani ( OA panggul ) serta buruh tambang ( OA lutut dan OA vertebra ). Osteoarthritis juga berhubungan dengan beberapa olahraga tertentu yang sering menimbulkan cedera sendi seperi lari marathon ( OA panggul ) dan sepak bola ( OA lutut dan panggul ). Selain itu, terdapat beberapa aktivitas yang dapat menjadi predisposisi osteoarthritis cedera traumatik ( misalnya robeknya meniscus serta ketidakstabilan ligament ) yang berdampak pada persendian (Allen and Golightly, 2015).
e. Patofisiologi
Pada awalnya osteoarthritis dihubungkan dengan kerusakan pada rawan sendi. Namun penelitian – penelitian terbaru mengungkapkan bahwa osteoarthritis tidak hanya mencakup kartilago sendi akan tetapi meliputi keseluruhan sendi yakni kartilago sendi, tulang subkondral, membrane synovial, dan meniskus. Osteoarthritis juga merupakan penyakit dengan etiologic multifactorial dan memiliki mekanisme patologi yang kompleks (Man and Mologhianu, 2014).
1) Kartilago
Beberapa komponen yang membentuk kartilago yaitu terdiri dari matriks ekstrasel, komposisi predominan kolagen tipe II dan proteoglikan. Pada kondisi normal, matriks-matriks ekstrasel akan mengalami remodelling yang dinamis sehingga terjadi keseimbangan antara degradasi dan aktivasi sintesis enzim yang menjaga volume kartilago tetap stabil. Pada kartilago yang mengalami osteoarthritis, kondrosit tidak mampu mempertahankan homeostasis antara degradasi matriks ekstrasel dan sintesis enzim (Heijink et al., 2012).
Trauma maupun kenaikan aktivitas enzimatik yang disebabkan oleh inflamasi mengakibatkan mikrofraktur sehingga menimbulkan pembentukan partikel “wear” (Wang et al., 2014).
Partikel-partikel tersebut akan mempengaruhi kondrosit mengeluarkan enzim degradatif yang akan merusak kolagen dan proteoglikan. Kolagen dan proteoglikan yang rusak tersebut akan difagosit oleh makrofag- makrofag lokal dan menghasilkan sitokin pro-inflamasi (TNFα, IL-1, dan IL-6). Sitokin-sitokin pro-inflamasi yang terbentuk akan berikatan dengan reseptor yang terdapat pada kondrosit, sehingga kondrosit akan mengeluarkan MMP yang akan mendegradasi semua komponen matriks ekstraseluler (Rose and Kooyman, 2016). Selain itu, akan terjadi inhibisi dalam produksi
kolagen tipe 2. Sebagai akibatnya, akan terjadi degradasi dari kartilago (Man and Mologhianu, 2014).
Faktor penuaan juga berperan dalam kerusakan kartilago pada penderita osteoarthritis. Telomer yang memendek dan mengalamu disfungsi mitokondria akibat kerusakan oksidatif akan menyebabkan disfungsi kondrosit (Mobasheri and Batt, 2016).
Diawali dengan perubahan degeneratif pada kartilago yang berakibat pada melunaknya kartilago serta terbentuknya zona fibrilasi pada lapisan superfisial, fisura, dan penipisan kartilago.
Perubahan - perubahan ini meningkat seiring dengan berjalannya waktu hingga tulang subkondral terbuka sepenuhnya (Man and Mologhianu, 2014).
2) Tulang Subkondral
Tulang subkondral terdiri atas beberapa lapisan subchondral bone plate yang terdiri dari cortical bone, tulang trabekula, dan bone marrow space. Di antara tulang subkondral dan kartilago sendi terdapat kartilago terkalsifikasi (Goldring, 2010). Masih tidak jelas apakah perubahan pada kartilago sendi yang mendahului atau akibat dari adaptasi sekunder biomekanik yang disebabkan perubahan pada kartilago. Bagaimanapun, kedua proses tersebut berkaitan erat, dilihat dari meningkatnya cartilage oligomeric matrix protein (COMP) dan bone sialoprotein (BSP) pada awal osteoarthritis (Schmitz, 2014).
Tulang subkondral dimodifikasi melalui dua proses yaitu bone remodelling dan bone modelling. Saat bone remodelling, tulang diserap untuk membentuk tulang yang baru. Sedangkan saat bone modelling, terjadi perubahan struktur pada tulang yang sudah ada (Goldring and Goldring, 2010).
Pada osteoarthritis terjadi beberapa perubahan pada tulang subkondral yaitu terjadi perubahan sklerotik, lesi pada sumsum tulang, kista pada tulang, peningkatan ketebalan subchondral bone
plate, perubahan struktur pada tulang trabekula, dan pembentukan osteofit (Man and Mologhianu, 2014).
Sebelum terjadi osteoarthritis, terjadi absorbsi tulang sehingga menyebabkan hilangnya jaringan trabekula yang ditandai dengan meningkatnya cross- linked N telopeptide dan C- telopeptide, tetapi peningkatan ini tidak spesifik pada osteoarthritis (Davis et al., 2007)
Pada tahap selanjutnya, terjadi remodelling pada tempat yang terjadi kerusakan kartilago. Kemudian pada tahap akhir dapat terjadi nekrosis tulang. Ketika sudah terjadi kerusakan kartilago secara total, cairan sinovial dapat memasuki sumsum tulang dan akan menimbulkan kista (Schmitz, 2014).
3) Membran Sinovial
Matriks ekstraseluler pada kartilago yang terdegradasi akan menghasilkan partikel “wear” dan neoantigen spesifik. Kedua material tersebut akan difagosit oleh makrofag di cairan sinovial.
Makrofag akan mengeluarkan mediator inflamasi, ditambah dengan mikrokristalisasi dan stres mekanis yang abnormal, akan menimbulkan sinovitis (Martel-pelletier and Pelletier, 2010).
Peningkatan angiogenesis dicurigai dapat meningkatkan inflamasi yang berkaitan dengan nyeri pada osteoarthritis.
Makrofag akan menghasilkan stimulating factors yang akan berikatan pada sel endotel dan fibroblas. Sel endotel dan fibroblas akan menghasilkan basic fibroblast growth factor (bFGF ), vascular endothelial growth factor (VEGF), dan beberapa faktor lain yang akan menyebabkan pembentukan pembuluh darah baru.
Angiogenesis biasanya terjadi pada keadaan yang kronis dan mungkin terjadi pada semua derajat osteoarthritis (Bonnet and Walsh, 2005).
4) Meniskus
Meniskus berfungsi untuk transmisi beban, absorbsi guncangan, stabilisasi, nutrisi, lubrikasi sendi, dan propiosepsi.
Selain itu, juga berfungsi untuk menurunkan stres kontak dan meningkatkan luas area kontak pada lutut sehingga menjadi lebih stabil (Fox et al., 2012).
Pada meniskus yang osteoarthritis, akan terjadi robek, fisura, fragmentasi, maserasi, dan kerusakan total. Kerusakan kolagen tipe 1 terjadi secara berangsur-angsur pada permukaan, zona tengah, dan zona dalam. Sedangkan kerusakan kolagen tipe 2 terjadi di semua zona secara bersamaan (Sun et al., 2012).
f. Diagnosis
Gejala osteoarthritis pada umumnya terjadi ketika usia dewasa, ditandai dengan gejala seperti kaku sendi di pagi hari atau setelah istirahat. Terjadi pembengkakan sendi dan tulang serta terdapat krepitasi ketika digerakkan, biasanya disertai adanya keterbatasan gerak sendi. Lebih banyak kejadian tidak ditemukan peradangan atau hanya terdapat peradangan yang ringan. Banyak sendi yang dapat terjadi osteoarthritis, terutama sendi lutut, jari-jari kaki dan tangan, tulang punggung dan panggul (Indonesian Rheumatology Association, 2014).
Diagnosis osteoarthritis dilakukan dengan beberapa pemeriksaan, yaitu:
1) Anamnesis
a) Nyeri yang berangsur-angsur (onset gradual).
b) Tidak disertai adanya inflamasi (kaku sendi, bila disertai inflamasi maka terdapat perabaan hangat, bengkak yang minimal, dan tidak disertai kemerahan pada kulit).
c) Tidak terdapat gejala sistemik.
d) Nyeri ketika beraktivitas.
e) Sendi yang sering terkena: sendi tangan: proksimal interfalang
(PIP), distal interfalang (DIP), dan carpo-metacarpal (CMCI), sendi kaki: metatarsofalang (MTP) pertama. Sendi lain: lutut, V. servikal, lumbal, dan hip.
f) Faktor risiko penyakit : - Usia.
- Riwayat keluarga.
- Obesitas
- Aktivitas fisik yang berat.
- Riwayat trauma sebelumnya atau adanya deformitas.
g) Penyakit yang menyertai, sebagai pertimbangan dalam pilihan terapi :
- Ulkus peptikum, penyakit liver.
- Penyakit ginjal.
- Penyakit kardiovaskular (hipertensi, penyakit jantung iskemik, stroke, gagal jantung).
- Asma bronkhial.
h) Faktor-faktor lain yang mempengaruhi keluhan nyeri dan fungsi sendi:
- Nyeri malam hari (night pain).
- Gangguan aktivitas sehari-hari.
- Kemampuan berjalan.
- Lain-lain: risiko jatuh, isolasi sosial, depresi.
- Derajat nyeri (skala nyeri yang dirasakan pasien).
2) Pemeriksaan Fisik a) Menentukan IMT.
b) Memperhatikan gaya berjalan.
c) Tanda kelemahan/atrofi otot.
d) Tanda-tanda inflamasi/efusi sendi.
e) Lingkup gerak sendi (ROM).
f) Nyeri gerak.
g) Krepitasi.
h) Deformitas.
i) Keterbatasan gerak sendi.
j) Nyeri tekan sendi dan periartikular.
k) Penonjolan tulang.
l) Pembengkakan jaringan lunak.
m) Instabilitas sendi.
3) Pendekatan untuk menyingkirkan diagnosis penyakit lain a) Terdapat infeksi.
b) Terdapat fraktur.
c) Tanda keganasan.
d) Tanda rheumatoid arthritis.
e) Diagnosis banding yang menyerupai penyakit OA.
f) Inflammatory arthropaties.
g) Artritis Kristal.
h) Sindroma nyeri pada soft tissue.
i) Nyeri penjalaran dari organ lain (referred pain).
j) Penyakit lain dengan manifestasi artropati (penyakit neurologi).
4) Pemeriksaan penunjang
a) Tidak ada pemeriksaan darah khusus pada diagnosis OA.
Pemeriksaan darah membantu berfungsi untuk menyingkirkan diagnosis lain dan monitor terapi.
b) Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk klasifikasi diagnosis.
5) Perhatian khusus terhadap gejala klinis dan faktor yang dapat mempengaruhi pilihan
a) Menyingkirkan diagnosis banding.
b) Pada kasus dengan diagnosis yang meragukan, sebaiknya dikonsulkan pada ahli reumatologi untuk menyingkirkan diagnosis lain yang menyerupai OA. Umumnya dilakukan artrosentesis diagnosis.
c) Tentukan derajat nyeri dan fungsi sendi.
d) Perhatikan dampak penyakit pada status sosial seseorang.
e) Perhatikan tujuan terapi yang ingin dicapai, harapan pasien, mana yang lebih dipilih oleh pasien, bagaimana respon pengobatannya.
(Indonesian Rheumatology Association, 2014).
2. Klasifikasi Osteoarthritis
Osteoarthritis dapat dibagi berdasarkan beberapa klasifikasi sesuai dengan kriteria masing-masing, antara lain :
a. Klasifikasi Kellgren-Lawrence
Derajat osteoartritis dapat ditentukan berdasarkan keadaan radiologis pada sendi. Untuk mengklasifikasikan derajat osteoarthritis terdapat beberapa skala yang digunakan. Skala klasifikasi yang paling umum digunakan dalam penentuan derajat osteoarthritis sendi lutut adalah sistem klasifikasi Kellgren-Lawrence. Sistem klasifikasi ini menggolongkan osteoartritis sendi lutut menjadi derajat 0 sampai dengan derajat 4, dengan derajat 0 menandakan tidak terdapat osteoartritis dan derajat 4 menandakan terdapat osteoartritis derajat berat (Jonathan et al., 2021).
Klasifikasi osteoarthritis berdasarkan kellgren dan lawrence yaitu :
i. Grade 0 : Normal, tidak ada tanda osteoarthritis.
ii. Grade 1 : Ragu-ragu, tidak terlihat adanya osteofit.
iii. Grade 2 : Ringan, terdapat osteofit dengan celah atau ruang antar sendi masih normal.
iv. Grade 3 : Sedang, terdapat osteofit sedang dan ruang antar sendi telah terjadi penyempitan.
v. Grade 4: Berat, osteofit besar, tidak terlihat celah sendi dengan sklerosis tulang subkondral.
Gambar 2.2.
Klasifikasi Grade Osteoarthritis Kellgren-Lawrence (Vashishtha and Acharya, 2021)
American College of Rheumatology dalam Wolf dan Pfleger, (2003) mengklasifikasi tingkat keparahan osteoarthritis berdasarkan kesehatan :
i. Derajat 0 : Pasien tidak merasakan tanda dan gejala.
ii. Derajat 1 : Pasien merasakan nyeri saat beraktifitas berat, masih bisa ditangani dengan cara mengistirahatkan sendi.
iii. Derajat 2 : Kaku pagi hari, krepitasi dan timbulnya osteofit.
iv. Derajat 3-4 : Terdapat osteofit berupa tanda celah antar sendi, perubahan anatomis tulang, nyeri dirasakan setiap hari, kaku sendi pada pagi hari, krepitasi.
b. Berdasarkan Patogenesis
Osteoarthritis diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu osteoarthritis primer sekunder. Osteoartritis primer yang diakibatkan oleh fenomena penuaan, sedangkan osteoartritis sekunder terjadi pada individu yang
berusia lebih muda akibat beberapa kelainan misalnya kelainan pertumbuhan, endokrin, metabolik, inflamasi, dan imobilisasi yang lama (Jonathan et al., 2021).
Menurut Erminawati (2017), klasifikasi osteoarthritis berdasarkan patogenesisnya :
i. Osteoarthritis primer
Osteoarthritis primer yang sering disebut osteoarthritis idiopatik yaitu osteoarthritis yang tidak diketahui penyebabnya dan tidak ada kaitannya dengan penyakit sistemik ataupun inflamasi,
ii. Osteoarthritis sekunder
Osteoarthritis sekunder disebabkan oleh beberapa faktor seperti pemakaian sendi yang berlebih dalam bekerja, olahraga berat, adanya riwayat cedera sendi, penyakit sistemik, serta inflamasi
c. Berdasarkan Lokasi
Menurut Ketut (2012) berdasarkan daerah yang sering terkena osteoarthritis dibagi menjadi :
i. Panggul
Penjepitan pada rongga sendi panggul yang menjadi aspek utama untuk menopang berat badan secara keseluruhan yang ditandai terdapatnya osteofit pembentukan tulang baru.
ii. Tulang Belakang
Penjepitan pada bagian rongga discus, sehingga terjadi pembentukan tulang baru antar vertebral sehingga menyebabkan terjepitnya saraf atau terjadi kompresi osteofit pada intervertebral.
iii. Lutut
Kompresi pada sendi lutut disertai dengan rongga sendi yang kehilangan bagian femurotibial. Penopang berat badan yang paling besar tekanannya terdiri dari komponen
medial, menjadi komponen yang paling awal terjadi penjepitan, serta mengakibatkan perubahan yang dapat membentuk tulang baru.
d. Kriteria American College Rheumatology (ACR)
Pada klasifikasi berdasarkan American College Rheumatology (ACR) khusus membagi tentang osteoarthritis lutut berdasarkan beberapa kriteria, antara lain :
i. Kriteria klinis :
Didapatkan nyeri sendi lutut serta terdapat minimal 3 dari 6 poin di bawah ini :
1. Terjadi krepitasi saat gerakan aktif
2. Terdapat kaku sendi kurang dari 30 menit 3. Usia di atas 50 tahun
4. Pembengkakan tulang sendi lutut 5. Nyeri tekan
6. Tidak terdapat perubahan suhu pada synovium.
(Spesifisitas 69%, Sensitivitas 95%).
ii. Kriteria klinis dan radiologis :
Didapatkan nyeri sendi lutut, terlihat adanya osteofit serta terdapat minimal 1 dari 3 poin di bawah ini :
1. Terdapat kaku sendi kurang dari 30 menit 2. Usia di atas 50 tahun
3. Terdapat krepitasi
(Spesitivitas 86%, Sensitivitas 91%).
iii. Berdasarkan kriteria klinis dan laboratoris :
Didapatkan nyeri sendi lutut serta terdapat minimal 5 poin dari 9 poin berikut ini :
1. Usia di atas 50 tahun
2. Terdapat kaku sendi kurang dari 30 menit 3. Krepitasi
4. Nyeri tekan
5. Pembengkakan tulang
6. Tidak terdapat perubahan suhu pada sinovium sendi terkena
7. LED kurang dari 40 mm/jam 8. RF kurang dari 1:40
9. Analisis pada cairan sinovium sesuai osteoarthritis (Sensitivitas 92% dan spesifisitas 75%).
Catatan :
LED=Laju Endap Darah; RF= Rheumatoid Factor (Indonesian Rheumatology Association, 2014)
3. Pekerjaan a. Definisi
Pekerjaan diartikan sebagai tugas ataupun sebuah rutinitas yang dilakukan oleh seseorang, di mana hal itu juga dilakukan untuk mendapatkan nafkah serta menghidupi kehidupan baik itu diri sendiri maupun keluarga. Macam-macam lapangan pekerjaan mayoritas berhubungan dengan status social ekonomi pada masing-masing individu, keluarga serta masyarakat (Notoatmojo, 2003).
Menurut Wiltshire (2016), sebuah pekerjaan didefinisikan menjadi sebuah konsep dengan berbagai sinonim dan definisi antara lain :
1) Pekerjaan lebih mengarah pada kepentingan suatu aktivitas, sehingga memerlukan waktu dan tenaga yang kemudian memperoleh imbalan yang sesuai.
2) Pekerjaan adalah suatu keterampilan dan kemampuan tertentu.yang perlu untuk ditingkatkan seiring dengan beban kerja ataupun tingkat kesulitan kerja.
3) Pekerjaan merupakan suatu cara selain hanya sekedar mencari nafkah yang digunakan untuk mempertahankan kedudukan.
4) Pekerjaan merupakan "kegiatan sosial” ketika individu atau kelompok memiliki usaha ataupun tujuan selama waktu dan ruang tertentu, dengan mengharapkan diberikan sebuah penghargaan (atau dalam bentuk lain), atau bisa juga tanpa mengharapkan sebuah imbalan, tetapi memilik rasa kewajiban terhadap orang lain.
Bekeja dapat didefinisikan menjadi dua konteks Sosiokultural dan ekonomi politik. Untuk konteks sosiokultural definisi bekerja adalah sebuah kewajiban moral pada setiap individu agar dapat berkontribusi ataupun berperan besar terhadap kesejahteraan bagi keluarga. Sedangkan definisi pada konteks ekonomi politik, bekerja dilakukan untuk ajang promosi sehingga setiap individu dapat menunjukkan status dan penghasilan yang tinggi (Westwood and Johnston, 2012).
b. Klasifikasi
Menurut Santoso (2004), klasifikasi pekerjaan dibedakan menjadi tiga jenis antara lain pekerjaan ringan, pekerjaan sedang dan pekerjaan berat. Penggolongan pekerjaan atau beban kerja meliputi :
1) Pekerjaan Ringan
Dokter, perawat, guru, pekerja kantor, pekerjaan rumah tangga (menggunakan bantuan mesin).
2) Pekerjaan Sedang
Mahasiswa, pekerja toko, pekerja industri ringan, petani (dengan bantuan mesin), buruh bangunan, pekerjaan rumah tangga (tanpa menggunakan bantuan mesin).
3) Pekerjaan Berat
Kuli angkat dan angkut, pekerja tambang, tukang besi, petani tanpa mesin, tukang kayu (tanpa menggunakan mesin), penari dan atlit.
B. Kerangka Pemikiran
Keterangan :
: Diteliti : Tidak Diteliti
Gambar 2.3. Skema Kerangka Pemikiran
Osteoarthritis - Aktivitas Fisik - Obesitas - Usia
- Jenis Kelamin
Diagnosis
Radiologi Klinis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
- Nyeri - Kaku Sendi - Krepitasi
Foto Rontgen
Derajat Osteoarthritis
Skor Kellgren- Lawrence Pekerjaan
C. Hipotesis
Terdapat hubungan positif antara tingkat riwayat pekerjaan dengan peningkatan derajat osteoarthritis pada wanita usia di atas 65 tahun.