5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Implementasi BIM di Indonesia
Pemerintah atau organisasi top management (di Indonesia disebut PUPR) harus mempunyai peran yang besar dalam implementasi disebuah negara, mengganti dari metode konvensional dengan teknologi BIM bukanlah sebuah proses yang mudah, melainkan proses yang dilakukan dari waktu ke waktu, fase ke fase, seperti yang disebutkan sebelumnya, ada 4 level dari level implementasi BIM (level 0 – level 4). Implementasi di Indonesia berdasarkan Pengenalan Building Information Modeling (BIM) masih berada di tahap awal (level 1), yaitu penggunaan model 2 dimensi dan 3 dimensi dengan minim kolaborasi. Seperti di lansir di website BIM PUPR, pembuatan Rumah Sakit Darurat COVID-19 sudah menggunakan teknologi BIM, selain itu beberapa proyek berikut yang sudah menggunakan teknologi yang sama, berikut ini, Menara BNI Pejompongan, Apartemen Springwood Serpong, dan Apartemen Pertamina RU V Balikpapan.
2.1.2. Implementasi BIM di Negara lain
Sejak istilah BIM diperkenalkan oleh Simon Ruffle pada tahun 1980, BIM mulai diperkenalkan dan dipromosi di berbagai negara. Di Singapura sejak tahun 1977, BIM mulai dipromosikan dan diwajibkan untuk berbagai perizinan seperti sertifikasi keselamatan kebakaran dan persetujuan rencana pembangunan, BCA (Building Construction Authority) Singapura juga membuat berbagai panduan untuk proyek industri dan layanan berbasis elektronik (e-information system, pelelangan terkolaborasi berbasis e-submission and Integrated Plan Checking System) oleh CORENET (Khemlani, 2005).
Enam tahun berselang, pada tahun 2003, diinisiasi oleh GSA (US General Service Administration) pada program 3D-4D BIM, penggunaan BIM diharuskan bagi seluruh proyek bangunan publik di Amerika Serikat. Melalui Consensus-Based Standard serta Best Practice pengembangan lingkungan terbangun, diperkirakan
6 sudah 72% industri konstruksi yang ada sudah menerapkan BIM untuk menghemat anggaran. (BIM PUPR, 2018).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Prasetya, 2018), penelitian BIM merupakan salah satu faktor untuk mengetahui tingkat Implementasinya, di Negara ASEAN, implementasi BIM didominasi oleh Singapura dengan studi sebanyak 40 penelitian, dibandingkan Indonesia 1 penelitian dan Malaysia 9 penelitian. Kita juga dapat mengetahui tingkat implementasi BIM di Malaysia dalam industri konstruksi pada tahun 2013 di fase level 0 dan level 1 (Ali, et al., 2013; Sangadji, et al., 2019), tentunya pada saat ini sudah banyak perkembangan mengenai implementasi BIM di negara tersebut.
Building Information Modeling (BIM) merupakan representasi digital sebuah fasilitas secara fisikal dan fungsional. BIM adalah tempat untuk bertukar pengetahuan akan informasi sumber daya sebuah fasilitas tersebut, membuat base yang dapat diandalkan selama siklus hidup (life-cycle) (Smith, 2007).
2.1.3. Faktor Penghambat
Studi pustaka dari penelitian – penelitian sebelumnya untuk mengetahui teori dan tinjauan yang koheren dengan implementasi dan faktor penghambat implementasi BIM dirincikan sebagai berikut :
Gambar 2.1. Pemetaan faktor – faktor penelitian
Sumber : (Mieslenna, 2019)
2.1.4. Referensi Jurnal
Riset ini tidak terlepas dari referensi dan pengembangan oleh para peneliti sebelumnya, berikut referensi jurnal – jurnal yang dipakai oleh penulis.
7 Tabel 2.1. Referensi Jurnal
Nama Penulis Tahun Judul Kesimpulan
Cindy F.
Mieslenna &
Andreas Wibowo
2019
Mengeksplorasi Penerapan Building Information Modeling (BIM) pada Industri Konstruksi Indonesia dari Perspektif Pengguna
BIM sudah mulai diterapkan beberapa pelaku konstruksi walaupun masih terbatas. Terlepas dari faktor – faktor penghambat, potensi BIM untuk diterapkan sangatlah besar.
Nelson & Jane
Sekarsari 2019
Faktor yang Memengaruhi Penerapan Building Information Modeling (BIM) dalam Tahapan Pra Konstruksi Gedung Bertingkat
Faktor pendukung penggunaan teknologi BIM adalah, BIM dapat mendeteksi dan mencegah konflik lebih awal, BIM dapat membagikan informasi secara lengkap dan cepat, BIM mengefektifkan proses penetepan keputusan perencanaan dan desain, BIM dapat mengurangi risiko, BIM membangun sinergi antara stakeholder.
Faktor penghambatnya adalah ketergantungan keberhasilan proyek dengan pengguna BIM dan program yang digunakan tiap orang berbeda beda.
Wisnu A.
Prasetya 2018
Tinjauan BIM (Building Information Modeling) dalam Bidang ICT Konstruksi di Negara ASEAN
Implementasi BIM di negara ASEAN didominasi oleh Negara Singapura dengan banyaknya 40 hasil penelitian BIM yang diterbitkan selama setahun.
Raflis, Bambang E.
Yuwono, Ripsky Rayshanda
2018
Manfaat Penggunaan Building Information Modeling (BIM) pada Proyek Konstruksi sebagai Media Komunikasi Stakeholders
Penggunaan BIM memberikan manfaat sebagai media komunikasi kolaborasi stakeholders baik perusahaan kontraktor atau konsultan teknik di DKI Jakarta.
Rayendra &
Biemo W.
Soemardi
2014
Studi Aplikasi Teknologi Building Information Modeling untuk Pra Konstruksi
Penggunaan teknologi BIM memberi peluang bagi pelaksanaan konstruksi (kontraktor) terkait perencanaan pra- konstruksi khususnya perencanaan logistik konstruksi.
Chengke Wu, Bo Xu, Chao Mao, Xiao Li
2017 Overview of BIM Maturity Measurement Tools
Tidak ada alat pengaplikasi yang universal dan setiap alat mempunyai keunikan, kelebihan dan kekurangan tergantung penggunanya.
Bilal Succar 2010 Building Information Modeling Maturity Matrix
BIM Maturity Matrix memiliki 6 bagian, BIM fields and stages untuk mengukur kapabilitas dan tingkat implementasi, BIM competencies digunakan untuk menentukan langkah implementasi, Organisational Hierarchy untuk mengukur berdasarkan pasar, industry, disiplin, dan kualifikasi organisasi. Bagian 4 menjelaskan tentang lima level BIM maturity indeks.
Bagian 5 menjelaskan korelasi BIM Stages, competency sets, maturity level and organizational scales. Bagian terakhir menjelaskan Competency Granularity Filter.
8
Nama Penulis Tahun Judul Kesimpulan
Jane Sekarsari
& Handika Rizky Hutama
2016
Analisa Faktor
Penghambat Penerapan Building Information Modeling dalam Proyek Konstruksi
Faktor utama penghambat implementasi BIM pada proyek konstruksi gedung adalah manajemen yang kurang berpartisipasi dalam memberikan dorongan, pengembangan dan pengawasan.
Faizal Restu
Utomo 2019
Klasifikasi Faktor-Faktor Penghambat Dan Pendorong Adopsi Building Information Modeling (BIM) Di Indonesia
Faktor utama penghambat penerapan BIM adalah kurangnya pemahaman tentang BIM dan manfaatnya, kurangnya pengembangan kemampuan terhadap BIM, dan kurangnya Pendidikan dan pelatihan BIM.
Arman Kouch 2008
A Three-Step BIM Implementation
Framework for the SME Contractors
Tiga tahapan untuk menerapkan BIM yang dasar di kontraktor adalah pertama tahapan memahami, tahapan kedua adalah merencanakan, dan tahapan ketiga adalah melakukan uji coba.
A.
Alaghbandrad
& D. Forgues
2013
Development of a model to select BIM implementation strategy with respect to the BIM maturity level of an organization
Setiap perusahaan memiliki rencana dan strategi penerapan BIM yang berbeda beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rencana penerapan BIM. Informasi yang harus diidentifikasi terlebih dahulu adalah BIM Maturity Factors seperti skala organisasi, keuangan, regulasi dan ekspektasi klien, kemudian relasi dari faktor faktor tersebut, terakhir adalah mengumpulkan data dari ahli untuk menentukan kriteria dari pemilihan alatnya.
2.2. Landasan Teori
Building Information Modeling (BIM) merupakan representasi digital sebuah fasilitas secara fisikal dan fungsional. BIM adalah tempat untuk bertukar pengetahuan akan informasi sumber daya sebuah fasilitas tersebut, membuat base yang dapat diandalkan selama siklus hidup (life-cycle) (Smith, 2007).
Pengertian BIM berdasarkan ISO 19650 : 2019 adalah teknologi sebagai dasar yang handal untuk pengambilan keputusan berdasarkan representasi digital dari proses desain, konstruksi hingga operasi.
Prinsip BIM sendiri bukan hanya satu proses pembuatan model 3D saja, melainkan meliputi segala informasi yang diperlukan mulai dari proses perencanaan, proses perancangan, proses produksi, hingga proses konstruksi dan maintenance. (BIM PUPR, 2018; BIM PUPR, 2018). Para stakeholder saling bekerja sama bertukar informasi, berkolaborasi secara efisien sehingga kesalahan
9 dapat terminimalisir, proses konstruksi lebih cepat dan efisien, dan biaya yang lebih murah. Detailnya, BIM dibagi menjadi 7D, seperti gambar berikut.
Gambar 2.2. Dimensi BIM
Sumber: (BIM PUPR, 2018)
Dimensi 3D adalah yang paling umum digunakan oleh stakeholder sekarang ini, disebut juga model terkoordinasi, menampilkan informasi grafis dan nongrafis antara lain gambar, data dan informasi 3D, pra-fabrikasi BIM, data eksisting, analisis struktur, dan kondisi lapangannya.
Dimensi 4D sudah ditambahkan mengenai dimensi waktu atau penjadwalan, termasuk penjadwalan semua tahapan konstruksi, dari pekerja, luasan area, waktu, dan lain lain, sehingga akan meminimalisir kesalahpahaman mengenai penjadwalan.
Dimensi 5D menambahkan mengenai dimensi biaya, dari estimasi biaya konseptual sampai estimasi biaya detail (bahan, alat, volume, dll), perbedaan dengan metode konvensional adalah biaya proyek dapat diperbarui dan dimodifikasi seketika jika terjadi perubahan desain dan lainnya.
Dimensi 6D disebut juga sebagai iBIM atau BIM terintegrasi, dengan adanya pengaruh terhadap lingkungan, termasuk deteksi konflik alam yang mungkin terjadi berdasarkan pendekatan yang dilakukan oleh BIM nya.
Dimensi 7D pada dasarnya gabungan dari dimensi dimensi sebelumnya sehingga dapat dioptimalkan selama siklus hidupnya, mulai dari sistem pemeliharaan,
10 hingga pembongkaran. BIM dapat memuat banyak sekali informasi dan banyak jenis BIM dari software yang tersedia dengan fungsi – fungsi tertentu.
2.2.1. Software BIM
BIM adalah teknologi berbasis perangkat lunak yang digunakan untuk desain dan menghasilkan informasi yang diperlukan selama siklus hidup proyek. BIM terbagi berbagai macam jenis jenisnya, untuk arsitektural, teknikal, mekanikal, dll.
Tabel 2.2. Contoh Software BIM
Nama Produk Manufaktur Fungsi Utama Cadpipe HVAC AEC Design
Group 3D HVAC Modeling
Revit Architecture Autodesk 3D Architectural Modeling and Parametric Design
AutoCAD Architecture Autodesk 3D Architectural Modeling and Parametric Design
Revit Structure Autodesk 3D Structural Modeling and Parametric Design
Revit MEP Autodesk 3D Detailed MEP Modeling
Cadpipe Commercial Pipe
AEC Design
Group 3D Pipe Modeling
Dprofiler Beck Technology 3D Conceptual Modeling with realtime cost estimating
Bentley BIM Suite Bentley Systems
3D Architectural, Structural, Mechanical, Electrical, and Generative Components Modeling
ArchiCAD Graphisoft 3D Architecural Modeling Tekla Structures Tekla 3D Detailed Structural Modeling PowerCivil Bentley Systems Site Development
Vico Ofice Vico Software 5D Modeling which can be used to generate cost and schedule data Sumber: (Nelson & Sekarsari, 2019)
2.2.2. Manfaat BIM
BIM merupakan hasil kolaborasi antar kepentingan stakeholder selama siklus hidup proyeknya, selain menjadi efisien, BIM juga bermanfaat untuk kepentingan masing masing stakeholder, berdasarkan kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh (Raflis, et al., 2018) pada perusahaan besar penyedia jasa di DKI Jakarta, bahwa keuntungan aplikasi teknologi BIM adalah sebagai media komunikasi yang efektif untuk kolaborasi, poin poin penting kolaborasi seperti, integrasi data, desain, hingga presepsi stakeholder lebih mudah tercapai.
11 Owner adalah pemilik proyek atau pengguna jasa yang berperan sebagai salah satu stakeholder dari sebuah proyek, berdasarkan (Eastman, et al., 2008) BIM juga memberikan manfaat bagi owner pada saat pra konstruksi yaitu:
1. Konsep, kelayakan, dan desain
Sebelum pengguna jasa (owner) bekerja sama dengan penyedia jasa, penting untuk menentukan ukuran dari bangunan, kualitas bangunan, dan kebutuhan program yang meliputi batas biaya dan waktunya. Terkadang, untuk desain tertentu mengalami perubahan biaya yang signifikan setelah waktu berjalan karena keterlambatan maupun kendala yang terjadi. Model bangunan yang dibuat dengan BIM akan terhubung dengan database biaya dan waktu yang akan menjadi asisten dari pengguna jasa pada setiap detail tahapan untuk meminimalisir perubahan perubahan yang signifikan tersebut.
2. Peningkatan kekuatan dan kualitas
Pengembangan dari berbagai model yang dilakukan dengan BIM akan menghasilkan detail model bangunan dengan skema tujuan yang mungkin akan ditentukan atau perubahan fungsi yang diperlukan nantinya.
Desain pada saat tahapan pra konstruksi dengan menggunakan BIM juga memiliki berbagai manfaat, yaitu :
1. Visualisasi desain lebih akurat dan lebih cepat
Desain 3D dari software BIM dapat lebih cepat dihasilkan daripada model 2D dan juga bisa tervisualisasi sesuai dengan ekspektasi dimensi yang konsisten di setiap sudut pandang.
2. Otomatisasi minim koreksi saat ada perubahan desain
Jika objek dari desain dikontrol dari parametrik untuk memastikan kelayakan, makan model 3D baru bisa dibuat.
3. Menghasilkan model 2D yang sesuai dan sama disetiap tahapan perancangan
Gambar yang sesuai dan sama mampu diperoleh dari berbagai objek dan sudut pandang tertentu proyeknya. Hal ini akan mengurangi kemungkinan kesalahan saat membuat gambar dalam disiplin lainnya.
4. Kolaborasi multidisiplin desain lebih cepat
12 BIM memfasilitasi kerja serentak dari berbagai multidisiplin, hal ini akan mengurangi kesulitan dan waktu yang terpakai untuk mengkoordinasikan modelingnya.
5. Memudahkan pengecekan dan pengawasan desain
Teknologi BIM juga menawarkan visualisasi 3D beserta kuantitas dari area dan material yang akan direncanakan untuk lebih cepat dihasilkan dan lebih akurat dalam estimasi biaya.
6. Menghasilkan estimasi biaya selama tahapan desain
Estimasi biaya yang dihasilkan dari BIM dapat berupa data detail kuantitas sampai luasan atau area yang terkecil, hal ini berguna untuk menghasilkan estimasi biaya yang detail.
7. Meningkatkan efisiensi energi dan keberlanjutan
Menghubungkan model bangunan dengan analisis energi memberikan evaluasi dari penggunaan energi mulai dari tahapan desain.
Selain itu, BIM juga memiliki manfaat pada perencanaan pra konstruksi, khususnya perencanaan logistik konstruksi. Berdasarkan penelitian oleh (Rayendra & Soemardi, 2014; Underwood & I, 2011), kontraktor (penyedia jasa) dapat mengetahui informasi tentang sifat dan karakteristik dari sumber daya (manusia, material, peralatan) dalam pembuatan desain 3D termasuk representasi gerak atau perubahannya. Kesimpulan dalam penelitian oleh (Nelson & Sekarsari, 2019) mendefinisikan 5 manfaat dari penggunaan BIM bagi kontraktor, konflik atau kesalahan mampu dideteksi dan dicegah lebih awal, informasi dapat dibagikan secara lengkap dan cepat.
Tidak hanya sebatas tahapan pra konstruksi saja, BIM juga memberikan manfaat pada tahapan paska konstruksi dibandingkan dengan metode konvensional yang dilakukan sebagai berikut (Eastman, et al., 2008):
1. Pengelolaan dan pengoperasian fasilitas yang lebih baik.
Model bangunan dari BIM menyajikan berbagai sumber informasi (grafis dan spesifikasi) dari semua sistem yang digunakan bangunannya dimana akan digunakan untuk perlengkapan mekanikal, sistem control, dan berbagai kebutuhan. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan
13 desain yang akan digunakan dan memastikan seluruh sistem bekerja secara benar setelah proses konstruksi selesai.
2. Terintegrasi dengan fasilitas operasi dan sistem manajemen.
Model bangunan tersebut akan diperbarui setiap perubahan yang dilakukan selama tahapan konstruksi dengan akurat untuk mendukung monitoring langsung sistem kontrol termasuk sensor dan pengoperasian manajemen fasilitasnya dari database data yang ada.
2.2.3. Level Implementasi (Maturity Level)
Berdasarkan Panduan Adopsi BIM dalam Organisasi, 2018. Di beberapa negara, implementasi BIM dibagi menjadi beberapa tingkatan, antara lain:
1. Level 0 BIM
a. Belum ada kolaborasi.
b. Penggambaran & dokumentasi (drafting) menggunakan 2D CAD.
2. Level 1 BIM
a. Konseptual menggunakan model 2D dan desain model 3D untuk dokumentasi, perijinan, dan informasi konstruksi.
b. Sudah mengkolaborasikan informasi dan standar CAD dalam bentuk elektronik.
c. Memiliki standar sendiri untuk setiap disiplin dan pelaku.
3. Level 2 BIM
a. Berkolaborasi secara keseluruhan dalam sistem dan lingkungan masing masing, termasuk model atau obyek.
b. Mengkolaborasikan informasi dengan format yang ditetapkan misalnya IFC2 atau COBie3.
4. Level 3 BIM
a. Kolaborasi menyeluruh antara semua pihak menggunakan satu obyek (shared object) yang bisa dikerjakan & dimodifikasi langsung.
b. Disebut sebagai Open BIM.
14 Gambar 2.3. Level Implementasi (Maturity Level) BIM
Kemudian, seperti yang dijelaskan dalam BIM Analisis Matrix oleh (Succar, 2010), level implementasi BIM terbagi menjadi 5 level (level 0 sampai level 4).
Level ini akan menjadi dasar klasifikasi dalam penelitian ini dengan rincian sebagai berikut:
1. Level 0 (Pra BIM)
Pada level ini, ketergantungan pada model 2D untuk setiap tahapan konstruksi, di beberapa kondisi model 3D sudah terbuat dengan minim detail. Kuantiti dan biaya estimasi merupakan suatu dokumentasi terpisah yang tidak terhubung dengan model 2D ataupun 3D. Praktik kolaborasi antara stakeholders bukan sebuah prioritas dan alur kerja tidak tersinkronisasi.
Gambar 2.4. Ilustrasi Representasi Level 0 (Gambar Tangan)
Sumber: (Succar, 2010)
2. Level 1 (Modeling berbasis Objek)
Penerapan BIM terinisiasi dari model 3D hasil software, seperti ArchiCAD, Revit, Tekla. Level ini pengguna menghasilkan model sesuai disiplinnya masing-masing dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan
Level 3
Level 2
Level 1
Level 0
15 perawatan. Hasil basic data seperti volume beton, BoQ, tidak dapat dimodifikasi dari modelnya. Praktik kolaborasi sama dengan level 0, tidak ada perbedaan signifikan antara kolaborasi stakeholders.
Gambar 2.5. Ilustrasi Representasi Level 1 (3D Model hasil software)
Sumber: (Succar, 2010)
3. Level 2 (Modeling berbasis Kolaborasi)
Pada level ini, pengguna aktif kolaborasi dengan disiplin lainnya.
Kolaborasi terjadi dalam berbagai cara tergantung dari software yang digunakan. Contohnya, disiplin struktur menggunakan file format .RVT dari software Revit Structure, kemudian digabungkan dengan disiplin arsitektur dari software Revit Architecture dengan file format yang sama.
Level ini memungkinkan kolaborasi di setiap tahapan konstruksi, misalnya desain arsitektur (Revit Architecure) selanjutnya dihitung dalam dimensi 4D (estimasi waktu) menggunakan Primavera atau Ms. Project, kemudian dihitung dimensi 5D (estimasi biaya) menggunakan Rawlinsons atau Timberline.
Walaupun pada level ini sudah berkolaborasi namun belum dapat tersinkronisasi secara langsung. Pengaturan kontrak menjadi suatu hal penting dalam perubahan alur kerjanya.
16 Gambar 2.6. Ilustrasi Representasi Level 2 (Model berbasis kolaborasi)
Sumber: (Succar, 2010)
4. Level 3 (Integrasi berbasis Jaringan)
Pada level ini semua model sudah terkolaborasi menggunakan jaringan dan terkolaborasi di setiap Project Life Cycle. Jaringan terbuat seperti server, Cloud Computing, atau SaaS (Software as a Service). Level ini memungkinkan untuk mengembangkan fitur fasilitas, seperti kebijakan green building, prinsip lean constructiuon.
Gambar 2.7. Ilustrasi Representasi Level 3 (Integrasi berbasis Jaringan)
Sumber: (Succar, 2010)
5. Level 4 (Intergrated Project Delivery)_
Intergrated Project Delivery (IPD) dipopulerkan oleh American Institute of Architects California Council (AIA, 2007). Hal ini dapat menggambarkan jangka panjang dari teknologi, proses dan kebijakan dari BIM. IPD merupakan target utama dari implementasi BIM, BIM terkolaborasi dan tersinkronisasi secara real time.
17 Gambar 2.8. Ilustrasi Integrated Project Delivery
Sumber: (Succar, 2010)
2.2.4. Regulasi BIM
Seperti kebijakan mengenai pembangunan infrastruktur lainnya, sebagai sebuah teknologi yang baru, BIM harus memiliki kebijakan dan regulasinya sendiri, perkembangan mengenai teknologi yang luas cakupannya dan berkembang sangat pesat harus diatur dalam standar yang berlaku seperti SNI. Kementrian PUPR sebagai pemegang regulasi sektor industri konstruksi berdasarkan penyampaian pada Forum BIM National Strategy Workshop Jakarta tanggal 19-20 Maret 2019, sudah melakukan pengembangan untuk penerapan BIM di Indonesia dengan fokus utamanya pada fase adopsi adalah :
1. Pembentukan BIM Steering Committee sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah (Pioneer, Leader, dan Fasilitator) dalam implementasi BIM.
2. Penyediaan standar dan protokol BIM.
a. Mengembangkan standar BIM dan mengusulkan arahan untuk mengefektivitaskan implementasi BIM pada setiap tingkatan industri konstruksi (perusahaan, proyek, hingga industri).
b. Menyediakan standar templates dan guidelines BIM templates yang mencakup setiap disiplin ilmu.
c. Meningkatkan sistem pengelolaan data dan informasi BIM PUPR.
d. Menerapkan kebijakan “Kewajiban BIM” pada setiap infrastruktur PUPR.
e. Menerapkan teknologi BIM di setiap proyek milik pemerintah.
3. Peningkatan Kualitas
a. Menyempurnakan Panduan Adopsi BIM.
18 b. Mengadakan workshop BIM untuk Aparatur Sipil Negara PUPR dan
tenaga ahli.
c. Menerapkan kebijakan ‘Penggunaan BIM” untuk setiap proyek infrastruktur.
d. Berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk riset dan pengukuran BIM Maturity sebagai implementasi Roadmap BIM PUPR.
e. Menyediakan kurikulum BIM untuk mahasiswa bersama Kementrian Pendidikan & Kebudayaan.
f. Menyiapkan dan melengkapi kurikulum BIM untuk Politeknik PUPR (inspirasi dari BIM Academy Singapura).
4. Promosi BIM
a. Konferensi seperti Digital construction day, BIM conferences for sharing knowledges turut berkolaborasi bersama negara lain (BIM Singapura, BIM UK, dan sebagainya).
b. Mempersembahkan penghargaan (pahlawan konstruksi digital) bagi para pelopor BIM dari golongan pemerintah ataupun industri.
c. Mengadakan kompetisi perancangan berbasis BIM untuk mahasiswa.
2.2.5. Alur Penerapan BIM dalam Pembangunan Infrastruktur
Sebagai lembaga sah pengatur regulasi industry konstruksi, Kementrian PUPR telah membuat roadmap sebagai langkah untuk mengadopsi BIM secara keseluruhan dalam dunia konstruksi di Indonesia. Alurnya adalah sebagai berikut (BIM PUPR, 2018) :
1. Adopsi
a. Pemahaman Stakeholder tentang BIM.
b. Penyusunan Standar dan Protokol BIM.
c. Peraturan tentang kewajiban penerapan BIM, kebijakan pembiayaan, dan sebagainya.
2. Digitalisasi
a. Peningkatan fasilitas pendukung (cloud computing, storage, platform ERP).
b. Peningkatan basis data (library) BIM.
19 c. Pemantauan dan peninjauan proyek menggunakan Virtual Reality dan
Mixed Reality.
3. Kolaborasi
a. Penetapan dasar dan regulasi kolaborasi project.
b. Penyiapan program integrasi BIM seperti e-submission, Online Single Submission, Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung, dll.
c. Penerapan BIM secara menyeluruh setiap project dari 3D sampai 7D dengan prinsip Virtual Design and Lean Construction (VDC).
4. Integrasi
a. Integrasi BIM menyeluruh dalam proses konstruksi dari pelelangan sampai pemeliharaan.
b. Penyediaan program dan kebijakan untuk City Information Modeling (CIM).
Gambar 2.9. Alur Penerapan BIM
Sumber : PUPR, 2018