• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

4. DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

Tuan “X” memiliki sebuah Usaha Dagang “X” yang didirikan pada tahun 2004. Perusahaan ini bergerak di bidang usaha penjualan kosmetik dan alat-alat kecantikan. Kosmetik yang dijual di sini bermacam-macam, tetapi sebagian besar produk yang dijual berasal dari Cina dan Filipina. Tuan “X” tidak mengimpor barang-barang ini secara langsung, melainkan membelinya dari distributor- distributor di Jakarta.

Penjualan yang dilakukan oleh UD “X” ini hanyalah penjualan grosir dalam jumlah yang besar. Adapun jenis-jenis barang yang dijual antara lain:

1. sabun wajah;

2. krim-krim kecantikan wajah;

3. body lotion;

4. semir dan vitamin rambut;

5. alat-alat make up wajah; dsb.

Seiring berjalannya waktu, usaha dagang yang didirikan oleh Tuan “X”

tersebut semakin lama semakin berkembang. Oleh karena itu, Tuan “X” ingin melebarkan usaha dagang kosmetiknya tersebut lebih luas lagi. Pada tahun 2006 Tuan “X” mendirikan sebuah toko kosmetik di salah satu pusat grosir terbesar di Surabaya yang banyak dikunjungi oleh pelanggan dari Pulau jawa dan luar Pulau Jawa. Toko ini merupakan bagian dari UD “X” sehingga barang yang dijual di toko ini sama dengan barang yang dijual di UD “X”. Perbedaannya adalah penjualan yang dilakukan di toko ini adalah penjualan secara eceran dan grosir dalam jumlah yang tidak besar.

Tujuan dari pendirian toko ini adalah untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas lagi dan mendekatkan diri dengan pelanggan-pelanggan lain dari berbagai daerah, karena selama ini Usaha Dagang yang didirikan oleh Tuan “X”

sebelumnya hanya menjangkau pedagang-pedagang tertentu yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa. Oleh karena itu, Tuan “X” ingin usahanya tersebut lebih

(2)

Tuan “X” telah menjadi Wajib Pajak sejak lama, hanya saja Tuan “X”

belum pernah melaksanakan kewajiban perpajakannya dalam hal menghitung, melapor dan membayarkan pajaknya. Akan tetapi di dalam penulisan skripsi ini yang dibahas adalah perhitungan Pajak Penghasilan kurang atau lebih dibayar Tahun 2006 tanpa melihat sanksi-sanksi pajak yang mungkin timbul akibat Tuan

“X” tidak pernah melaksanakan kewajiban perpajakannya pada tahun-tahun sebelumnya.

Istri Tuan “X” memiliki sebuah home-industri parfum yang mulai didirikan sejak tahun 2006. Oleh karena usaha industri yang dimiliki oleh istri Tuan “X” ini masih merupakan usaha berskala kecil, maka segala proses produksi yang dilakukan dalam industri ini belum menggunakan alat-alat yang berteknologi tinggi, melainkan masih menggunakan alat-alat manual yang digerakkan oleh tenaga manusia. Dari usaha ini, istri Tuan “X” tidak melakukan pembukuan, melainkan hanya melakukan pencatatan secara sederhana. Penjualan yang didapat dari usaha ini pada tahun 2006 masih belum mencapai Rp 600 juta per tahun.

Dilihat dari keadaan keluarganya, Tuan “X” memiliki tiga orang anak.

Anak pertama berusia 19 tahun dan masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Surabaya. Sedangkan anak kedua dan ketiga berusia 13 tahun dan 7 tahun masih bersekolah di salah satu sekolah swasta di Surabaya. Tuan ”X’ tidak melakukan pisah harta dengan istrinya.

4.2 Deskripsi Data

Tuan “X” memiliki usaha yang kegiatan utamanya adalah penjualan kosmetik dan alat-alat kecantikan. Sebagai hasil dari kegiatan usaha ini akan diperoleh laba yang nantinya akan dikenakan pajak. Bagian ini akan menampilkan data-data yang diperoleh dari Tuan “X” yang berhubungan dengan usahanya dan usaha istrinya dalam rangka perhitungan Pajak penghasilan kurang atau lebih dibayarnya dan perencanaan Pajak Penghasilan terutangnya. Data yang akan ditampilkan antara lain adalah Laporan Laba Rugi komersial tahun dan Laporan Laba Rugi fiskal tahun 2006.

(3)

4.2.1. Kebijakan Perusahaan.

Dari wawancara yang dilakukan dengan bagian pembukuan, maka ada beberapa kebijakan yang diterapkan di dalam usaha Tuan “X” antara lain:

a. Penjualan merupakan penghasilan yang diperoleh dari penjualan kosmetik dan alat-alat kecantikan baik secara tunai maupun kredit.

b. Tuan “X” menggunakan metode rata-rata tertimbang (weighted average) dalam menghitung persediaannya.

c. Untuk menghitung penyusutan Tuan “X” menggunakan metode garis lurus (straight line).

4.2.2. Penyajian Laporan Laba Rugi Komersial

(4)

Tabel 4.1. Laporan Laba Rugi Komersial UD “X” Tahun 2006

UD “X”

Laporan Laba Rugi

periode 1 januari 2006 – 31 Desember 2006 (dalam rupiah)

PENJUALAN

HARGA POKOK PENJUALAN Persediaan awal

Pembelian Persediaaan akhir

TOTAL HARGA POKOK PENJUALAN LABA KOTOR

BIAYA USAHA

Biaya BBM, tol, dan parkir Biaya gaji

Biaya perawatan mobil Biaya perlengkapan Biaya konsumsi Biaya penyusutan

Biaya listrik, air dan telepon Biaya sewa stand toko Biaya retribusi stand toko Biaya bank

Biaya bunga pinjaman bank Biaya lain-lain

TOTAL BIAYA USAHA LABA USAHA

PENDAPATAN LAIN-LAIN Jasa giro dan bunga bank

TOTAL PENDAPATAN LAIN-LAIN LABA BERSIH USAHA

PENDAPATAN DI LUAR USAHA Pendapatan Sewa Toko

TOTAL PENDAPATAN DI LUAR USAHA PENGHASILAN TOTAL

3,874,333,969 13,472,027,528 (1,789,627,782)

52,171,570 314,828,000 20,894,300 19,783,050 22,292,000 41,639,300 38,871,977 70,000,000 1,788,000 6,207,777 73,117,016 190,047,753

6,397,635

25,000,000

17,251,572,270

15,556,733,715 1,694,838,555

851,640,743 843,197,812

6,397,635 849,595,447

25,000,000 874,595,447

(5)

Tabel 4.2 Daftar Penyusutan Komersial Aktiva Tetap UD “X” Tahun 2006 (dalam rupiah)

Jenis Aktiva

Tahun Perolehan

Harga Perolehan

Masa

Manfaat

Biaya Penyusutan

2004 2005 2006

Tanah dan Bangunan Kantor Juli 2004 20 tahun

- Tanah Rp146,900,000 - - -

- Bangunan Rp169,500,000 Rp4,237,500 Rp8,475,000 Rp8,475,000

Tanah dan Bangunan Gudang Juli 2004 20 tahun

- Tanah Rp245,700,000 - - -

- Bangunan Rp186,750,000 Rp4,668,750 Rp9,337,500 Rp9,337,500

Mobil Zebra Box Juli 2004 Rp40,644,000 5 tahun Rp4,064,400 Rp8,128,800 Rp8,128,800

Mobil Mitsubishi T 120 S Mei 2005 Rp49,500,000 5 tahun - Rp6,600,000 Rp9,900,000

Inventaris Kantor Juli 2004 5 tahun

- Meja Kantor ( 4 buah) Rp1,600,000 Rp160,000 Rp320,000 Rp320,000

- Komputer ( 2buah ) Rp11,500,000 Rp1,150,000 Rp2,300,000 Rp2,300,000

- Telepon dan Fax ( 4 buah ) Rp1,600,000 Rp160,000 Rp320,000 Rp320,000

- Air conditioner ( 1 buah ) Rp1,300,000 Rp130,000 Rp260,000 Rp260,000

Inventaris Toko Januari 2006 5 tahun

- Meja Kasir ( 1 buah ) Rp300,000 - - Rp60,000

- Etalase ( 10 buah ) Rp11,515,000 - - Rp2,303,000

- Telepon dan Fax ( 2 buah ) Rp1,175,000 - - Rp235,000

TOTAL PENYUSUTAN Rp14,570,650 Rp35,741,300 Rp41,639,300

(6)

Keterangan : a. Penjualan

Penjualan yang diperoleh merupakan penjualan tunai maupun kredit yang berasal dari penjualan barang di kantor dan toko.

b. Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Penjualan merupakan harga pokok barang yang dijual di UD dan Toko “X” yang meliputi:

- Persediaan awal Rp 3,874,333,969.-

- Pembelian Tahun 2006 Rp 13,472,027,528.- - Barang Tersedia Untuk Dijual Rp 17,346,361,497.-

- Persediaan Akhir (Rp 1,789,627,782).-

- Harga Pokok Penjualan Rp 15,556,733,715.- c. Biaya BBM, Tol dan Parkir

Biaya BBM, Tol dan Parkir merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kendaraan yang digunakan mengirim barang dan tagihan baik dalam kota maupun luar kota.

- BBM Rp 47,110,570.-

- Tol Rp 1,995,500.-

- Parkir Rp 3,105,500.-

d. Biaya gaji

Di dalam biaya gaji termasuk :

- Gaji karyawan Rp 194,828,000.-

- gaji pemilik Rp 120,000,000.-.

e. Biaya perawatan Mobil

Biaya perawatan mobil merupakan biaya pembelian oli dan servis mobil kantor dan mobil pribadi Tuan “X” yang digunakan untuk keperluan antar jemput anak-anak Tuan ”X” sendiri.

- Biaya perawatan mobil Tuan “X” Rp 8,355,000.- - Biaya perawatan mobil kantor Rp 12,494,300.-

(7)

f. Biaya perlengkapan

Biaya perlengkapan ini termasuk :

- biaya pembelian kaos dan seragam karyawan Rp 4,550,000.- - pembelian alat-alat tulis, aqua dan lainnya Rp 15,233,050.- g. Biaya konsumsi

Biaya konsumsi ini meliputi biaya catering untuk seluruh karyawan kantor dan toko serta pemberian uang makan bagi karyawan yang sedang mengirim barang ataupun menagih baik di dalam maupun luar kota.

h. Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan seperti yang tampak pada tabel 4.2 merupakan penyusutan aktiva tetap kantor dan toko dengan menggunakan metode garis lurus dan masa manfaat sesuai dengan kebijakan perusahaan.

i. Biaya Listrik, Air dan Telepon

Biaya-biaya listrik, air dan telepon merupakan :

- biaya listrik, air dan telepon kantor Rp 33,184,527.- - biaya listrik dan telepon toko Rp 5,687,450.- j. Biaya Sewa Stand Toko

Biaya sewa stand toko ini merupakan biaya sewa untuk 2 stand toko di Pasar Turi untuk 1 tahun yang masing-masing sebesar Rp 40,000,000.dan Rp 30,000,000.-.

k. Biaya Retribusi Stand Toko

Biaya retribusi stand toko meliputi :

- biaya retribusi stand Rp 1,326,000.-

- biaya retribusi pelataran stand Rp 462,000.-

(8)

l. Biaya Bank

Biaya bank ini meliputi:

- Biaya BG Rp 1,300,000.-

- Biaya administrasi giro Rp 420,000.-

- Biaya kliring Rp 3,921,777.-

- Biaya Materai Rp 18,000.-

- Biaya administrasi tabungan Rp 540,000.-

- Biaya ATM Rp 8,000.-

Rp 6,207,777.- m. Biaya Bunga Pinjaman Bank

Biaya bunga pinjaman bank merupakan pembayaran bunga pinjaman kepada BHI (Bank Harda Indonesia) atas pinjaman yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan.

n. Biaya Lain-Lain

Biaya lain-lain merupakan biaya kepentingan pemilik meliputi:

- Angsuran mobil Rp 70,401,600.-

- Angsuran toko Rp 104,844,000.-

- Biaya kartu kredit Rp 10,805,253.-

- Biaya pulsa handphone Rp 3,996,500.-

Rp190,047,353.-

Keterangan :

1.) Angsuran mobil ini merupakan angsuran mobil yang digunakan untuk keperluan antar jemput keluarga (terutama anak-anak Tuan “X”) dan tidak digunakan untuk keperluan usaha.

2.) Angsuran Toko ini merupakan pembayaran cicilan toko yang dibeli Tuan “X” pada tahun 2006 dan tidak digunakan untuk keperluan usaha.

3.) Biaya kartu kredit merupakan biaya yang digunakan untuk kepentingan pribadi Tuan “X”.

4.) Biaya pulsa handphone merupakan biaya pembelian pulsa untuk telepon seluler Tuan “X”.

(9)

o. Pendapatan Jasa Giro dan Bunga

Pendapatan jasa giro dan bunga merupakan pendapatan yang didapat dari rekening giro dan tabungan.

p. Pendapatan Sewa Toko

Pendapatan sewa toko ini didapat dari toko yang dimiliki oleh Tuan “X” yang disewakan selama 2 tahun sebesar Rp 25,000,000.-. Penyewa toko tidak memiliki NPWP.

Tabel 4.3. Data Penjualan Usaha Istri Tuan “X” Tahun 2006

Data Penjualan

Periode 1 januari 2006 – 31 Desember 2006 (dalam rupiah)

BULAN JUMLAH PENJUALAN

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

Rp 20,598,700 Rp 23,459,250 Rp 21,548,750 Rp 26,750,000 Rp 19,430,400 Rp 24,876,200 Rp 24,564,350 Rp 28,487,650 Rp 35,643,150 Rp 29,429,100 Rp 27,665,800 Rp 27,976,450

TOTAL Rp 310.429.800

(10)

4.3. Analisa Data dan Pembahasan

4.3.1. Penyajian Koreksi fiskal dan Laporan Laba Rugi Fiskal

Dalam menghitung Pajak Penghasilan terutang Wajib Pajak, maka terlebih dahulu harus dilakukan koreksi fiskal sesuai dengan Peraturan Perpajakan yang ada.

(11)

Tabel 4.4. Laporan Laba Rugi Fiskal UD “X” Tahun 2006 (dalam rupiah)

Komersial Koreksi Fiskal Ket PENJUALAN

HARGA POKOK PENJUALAN Persediaan awal

Pembelian Persediaan akhir

TOTAL HARGA POKOK PENJUALAN LABA KOTOR

BIAYA USAHA

Biaya BBM, tol, dan parkir Biaya gaji

Biaya perawatan mobil Biaya perlengkapan Biaya konsumsi Biaya penyusutan Biaya listrik, air, telepon Biaya sewa stand toko Biaya retribusi stand toko Biaya bank

Biaya bunga pinjaman bank Biaya lain-lain

TOTAL BIAYA USAHA LABA USAHA

PENDAPATAN LAIN-LAIN Jasa giro dan bunga bank

TOTAL PENDAPATAN LAIN-LAIN LABA BERSIH

PENDAPATAN DI LUAR USAHA Pendapatan sewa toko

TOTAL PENDAPATAN LUAR USAHA PENGHASILAN TOTAL

17,251,572,270

3,874,333,969 13,472,027,528 (1,789,627,782) 15,556,733,715 1,694,838,555

52,171,570 314,828,000 20,894,300 19,783,050 22,292,000 41,639,300 38,871,977 70,000,000 1,788,000 6,207,777 73,117,016 190,047,753 851,640,743 843,197,812

6,397,635 6,397,635 849,595,447

25,000,000 25,000,000 874,595,447

-

- - -

- (120.000.000)

(8,355,000) (4,550,000)

- (6,913,175)

- - - (2,286,000)

- (190,047,753)

(6,397,635)

-

17,251,572,270

3,874,333,969 13,472,027,528 (1,789,627,782) 15,556,733,715 1,694,838,555

52,171,570 194,828,000 12,539,300 15,233,050 22,292,000 34,726,125 38,871,977 70,000,000 1,788,000 3,921,777 73,117,016 0

515,697,261 1,179,141,294

0 0 1,179,141,294

25,000,000

1,204,141,294 a b c

d

e

f

g

(12)

Tabel 4.5 Daftar Penyusutan Fiskal Aktiva Tetap UD “X” Tahun 2006 (dalam rupiah)

Jenis Aktiva

Tahun Perolehan

Harga Perolehan

Masa Manfaat

Penyusutan Fiskal Tanah dan Bangunan

Kantor Juli 2004 20 tahun

- Tanah 146,900,000 -

- Bangunan 169,500,000 8,475,000

Tanah dan Bangunan

Gudang Juli 2004 20 tahun

- Tanah 245,700,000 -

- Bangunan 186,750,000 9,337,500

Mobil Zebra Box Juli 2004 40,644,000 8 tahun 5,080,500

Mobil Mitsubishi T 120 S Mei 2005 49,500,000 8 tahun 6,187,500

Inventaris Kantor Juli 2004

- Meja Kantor ( 4 buah) 1,600,000 4 tahun 400,000

- Komputer ( 2buah ) 11,500,000 4 tahun 2,875,000

- Telepon dan Fax ( 4 buah ) 1,600,000 4 tahun 400,000 - Air conditioner ( 1 buah ) 1,300,000 8 tahun 162,500

Inventaris Toko

Januari

2006

- Meja Kasir ( 1 buah ) 300,000 4 tahun 75,000

- Etalase ( 10 buah ) 11,515,000 8 tahun 1,439,375

- Telepon dan Fax ( 2 buah ) 1,175,000 4 tahun 293,750

TOTAL PENYUSUTAN 34,726,125

Koreksi fiskal : a. Biaya gaji

Biaya gaji dikoreksi positif sebesar Rp 120,000,000.- karena dalam biaya gaji terdapat pembayaran gaji kepada pemilik. Hal ini sesuai dengan Undang- Undang Pajak Penghasilan Pasal 9 ayat (1) huruf i, yaitu biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

b. Biaya Perawatan Mobil

Biaya perawatan mobil dikoreksi positif sebesar Rp 8,355,000.- karena dalam biaya perawatan mobil ini terdapat biaya perawatan mobil pemilik. Sesuai dengan Pasal 9 ayat (1) huruf i, maka biaya perawatan mobil pemilik ini

(13)

termasuk biaya untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak, sehingga tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

c. Biaya Perlengkapan

Biaya perlengkapan dikoreksi positif sebesar Rp 4,550,000.- karena di dalam biaya perlengkapan tersebut terdapat biaya yang digunakan untuk pembelian seragam karyawan kantor dan toko. Sesuai dengan ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf e bahwa pembelian seragam karyawan kantor dan toko ini teramsuk dalam pemberian natura sehingga tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan.

d. Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan dikoreksi positif sebesar Rp 6,913,175.- karena adanya perbedaan pengakuan masa manfaat aktiva menurut perusahaan dengan Peraturan Perpajakan yang diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Hal ini seperti yang tampak pada tabel 4.5 di mana biaya penyusutan menurut fiskal sebesar Rp 34,726,125.- sedangkan seperti tampak pada tabel 4.2, biaya penyusutan menurut komersial sebesar Rp 41,639,300.-.

Perbedaan ini disebabkan oleh antara lain:

1.) Perusahaan menggunakan metode garis lurus dengan masa manfaat 5 tahun untuk kendaraan, sedangkan menurut Peraturan Perpajakan kendaraan masuk ke dalam kelompok 2 dengan masa manfaat 8 tahun.

2.) Perusahaan menggunakan metode garis lurus dengan masa manfaat 5 tahun untuk inventaris kantor dan toko seperti meja, komputer, telepon dan fax, air conditioner, dan etalase toko, sedangkan menurut Peraturan Perpajakan inventaris kantor seperti meja, computer, telepon dan fax masuk ke dalam kelompok 1 dengan masa manfaat 4 tahun, dan air conditioner dan etalase toko masuk ke dalam kelompok 2 dengan masa manfaat 8 tahun.

e. Biaya Bank

Biaya bank dikoreksi positif sebesar Rp 2,286,000.- karena di dalam biaya bank ini terdapat biaya BG, biaya administrasi, biaya materai dan biaya ATM

(14)

Penghasilan bahwa segala biaya yang dikeluarkan untuk memelihara penghasilan yang pemajakannya bersifat final tidak boleh dibiayakan.

f. Biaya lain-lain

Biaya lain-lain dikoreksi positif sebesar Rp 188,049,103.- karena di dalam biaya lain-lain tersebut terdapat biaya angsuran mobil, toko, kartu kredit dan pulasa handphone yang seluruhnya tidak ada hubungannya dengan kegiatan usaha yang dilakukan oleh Tuan “X”, melainkan merupakan biaya untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 9 ayat (1) huruf i Undang-Undang Pajak Penghasilan.

g. Pendapatan Jasa Giro dan Bunga Bank

Pendapatan jasa giro dan bunga bank ini sudah dikenakan pemotongan PPh final sesuai dengan Pasal 4 ayat (2), sehingga atas pendapatan ini harus dikoreksi negatif sebesar Rp 6,397,635.-.

4.3.2. Perhitungan Penghasilan Neto Istri

Penghasilan neto istri didapat dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Berdasarkan KEP-536/PJ./2000, maka tarif persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto bagi jenis usaha industri parfum adalah sebesar 13 %. Dengan tarif tersebut maka akan diperoleh penghasilan neto sebagai berikut:

Tabel 4.6 Perhitungan Penghasilan Neto Usaha Istri Dengan Tarif Norma Penghitungan Penghasilan Neto Penghasilan Neto = Tarif Norma X Penghasilan Bruto = 13 % X Rp 310,429,800.- = Rp 40,355,874.-

(15)

4.3.3. Perhitungan PPh Pasal 25 Sebagai Kredit Pajak Tahun 2006

Tabel 4.7 Laporan Laba Rugi Fiskal UD “X” Tahun 2004 (dalam rupiah)

Komersial Koreksi Fiskal PENJUALAN

HARGA POKOK PENJUALAN Persediaan awal

Pembelian Persediaan akhir

TOTAL HARGA POKOK PENJUALAN LABA KOTOR

BIAYA USAHA

Biaya BBM, tol, dan parkir Biaya gaji

Biaya perawatan mobil Biaya perlengkapan Biaya konsumsi Biaya penyusutan

Biaya listrik, air, telepon kantor Biaya listrik, air, telepon rumah Biaya bank

Biaya bunga pinjaman bank Biaya lain-lain

TOTAL BIAYA USAHA LABA USAHA

PENDAPATAN LAIN-LAIN Jasa giro dan bunga bank

TOTAL PENDAPATAN LAIN-LAIN LABA BERSIH

7,526,985,620

- 9,528,458,721 (2,815,698,566) 6,712,760,155 814,225,645

30,256,180 120,892,500 8,156,200 20,548,150 9,256,250 14,570,650 22,145,708 6,852,400 3,649,556 60,548,111 21,027,050 317,902,755 496,322,710

2,584,650 2,584,650 498,907,270

-

- - -

- (45,000,000)

- - - (1,205,400)

- (6,852,400) (1,792,000)

- (20,019,775)

(2,584,650)

7,526,985,620

- 9,528,458,721 (2,815,698,566) 6,712,760,155 814,225,645

30,256,180 75,892,500 8,156,200 20,548,150 9,256,250 13,365,250 22,145,708

- 1,857,556 60,548,111

1,007,275 243,033,180

571,192,465

- - 571,192,465

(16)

Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 Tahun 2005 :

- Penghasilan Neto Fiskal Tahun 2004 Rp 571,192,465.-

- PTKP (K/3) (Rp 8,640,000.-)

- PKP Rp 562,552,465.-

- Pembulatan PKP Rp 562,552,000.-

- PPh Terutang :

5 % x Rp 25,000,000.- = Rp 1,250,000.- 10% x Rp 25,000,000.- = Rp 2,500,000.- 15% x Rp 50,000,000.- = Rp 7,500,000.- 25% x Rp 100,000,000.- = Rp 25,000,000.- 35% x Rp 362,552,000.- = Rp 126,893,200.-

Rp 163,143,200.-

- Kredit Pajak I -

- PPh Yang Harus Dibayar Sendiri Rp 163,143,200.- - Angsuran PPh Pasal 25 Tahun 2005 = Rp 163,143,200.- / 12 bulan

= Rp 13,595,267.-

(17)

Tabel 4.8 Laporan Laba Rugi Fiskal UD “X” Tahun 2005 (dalam rupiah)

Komersial Koreksi Fiskal PENJUALAN

HARGA POKOK PENJUALAN Persediaan awal

Pembelian Persediaan akhir

TOTAL HARGA POKOK PENJUALAN LABA KOTOR

BIAYA USAHA

Biaya BBM, tol, dan parkir Biaya gaji

Biaya perawatan mobil Biaya perlengkapan Biaya konsumsi Biaya penyusutan

Biaya listrik, air, telepon kantor Biaya listrik, air, telepon rumah Biaya bank

Biaya bunga pinjaman bank Biaya lain-lain

TOTAL BIAYA USAHA LABA USAHA

PENDAPATAN LAIN-LAIN Jasa giro dan bunga bank

TOTAL PENDAPATAN LAIN-LAIN LABA BERSIH

13,256,789,755

2,815,698,566 12,998,965,845 (3,874,633,969) 11,940,330,442 1,316,459,313

42,514,650 251,850,000 17,659,300 21,589,650 19,058,000 35,741,300 39,548,142 19,586,250 5,100,705 85,698,254 108,998,168 647,344,689 669,114,624

4,956,384 4,956,384 674,071,008

-

- - -

- (108,000,000)

- - - (4,885,800)

- (19,586,250)

(2,314,000) - (106,519,168)

(4,956,384)

13,256,789,755

2,815,698,566 12,998,965,845 (3,874,633,969) 11,940,330,442 1,316,459,313

42,514,650 143,850,000 17,659,300 21,589,650 19,058,000 30,855,000 (39,548,142) - 2,786,705 85,698,524

2,479,000 406,039,471

910,419,842

- - 910,419,842

(18)

Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 Tahun 2006 :

- Penghasilan Neto Fiskal Tahun 2005 Rp 910,419,842.-

- PTKP (K/3) (Rp 16,800,000.-)

- PKP Rp 893,619,842.-

- Pembulatan PKP Rp 893,619,000.-

- PPh terutang :

5% x Rp 25,000,000.- = Rp 1,250,000.- 10% x Rp 25,000,000.- = Rp 2,500,000.- 15% x Rp 50,000,000.- = Rp 7,500,000.- 25% x Rp 100,000,000.- = Rp 25,000,000.- 35% x Rp 693,619,000.- = Rp 242,766,650.-

Rp 279,016,650.-

- Kredit Pajak I -

- PPh Yang Harus Dibayar Sendiri Rp 279,016,650.- - Angsuran PPh Pasal 25 Tahun 2006 = Rp 279,016,650.- / 12 bulan

= Rp23,251,387.-

Perhitungan PPh Pasal 25 sebagai Kredit Pajak Tahun 2006 : - Januari - Februari = Rp 27,190,534.-

- Maret – Desember = Rp 232,513,870.- Rp 259,704,404.-

4.3.4. Perhitungan Pajak Penghasilan Lebih/Kurang Dibayar Tuan “X”

Dari data-data di atas, maka perhitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2006 Tuan “X” adalah sebagai berikut:

- Laba Bersih fiskal dari UD “X” Rp 1,204,141,294.- - Penghasilan Neto istri Rp 40,355,874.

- Penghasilan neto fiskal Tuan “X” Rp 1,244,497,168.- - PTKP (K/I/3):

1.) Diri Wajib Pajak Rp 13,200,000.- 2.) Menikah Rp 1,200,000.- 3.) Istri bekerja Rp 13,200,000.-

(19)

4.) Tanggungan (3) Rp 3,600,000.-

- Total PTKP (Rp 31,200,000.-)

- PKP Rp 1,213,297,168.-

- Pembulatan PKP Rp 1,213,297,000.-

- PPh terutang tahun 2006:

5% X Rp 25,000,000.- = Rp 1,250,000.- 10% X Rp 25,000,000.- = Rp 2,500,000.- 15% X Rp 50,000,000.- = Rp 7,500,000.- 25% X Rp 100,000,000.- = Rp 25,000,000.- 35% X Rp 1,013,297,000.- = Rp 354,653,950.-

Rp 385,903,950.-

- Kredit Pajak I -

- PPh yang harus dibayar sendiri Rp 385,903,950.- - Kredit Pajak II

PPh Pasal 25 (Rp 259,704,404.-)

- PPh Kurang Bayar Rp 126,199,546.-

Dari perhitungan yang telah dilakukan, maka besarnya PPh Kurang Bayar Tuan “X” pada tahun 2006 adalah sebesar Rp 126,199,546.-. Di dalam perhitungan tersebut diketahui bahwa Tuan “X” tidak memiliki kredit pajak I karena penghasilan Tuan ”X” tidak ada yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain sedangkan Kredit Pajak II diperoleh dari hasil perhitungan PPh Pasal 25 tahun sebelumnya.

Dari perhitungan di atas maka perhitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun 2007 adalah sebagai berikut :

- Penghasilan Neto Fiskal Rp 1,213,297,168 - Penghasilan tidak teratur (Rp 25,000,000.-)

- PKP Rp 1,188,297,168.-

- Pembulatan PKP Rp 1,188,297,000.-

(20)

- PPh terutang :

5 % x Rp 25,000,000.- = Rp 1,250,000.- 10% x Rp 25,000,000.- = Rp 2,500,000.- 15% x Rp 50,000,000.- = Rp 7,500,000.- 25% x Rp 100,000,000.- = Rp 25,000,000.- 35% x Rp 988,297,000.- = Rp 345,903,950.-

Rp 377,153,950.-

- Kredit Pajak I ( - )

- PPh yang harus dibayar sendiri Rp 377,153,950.- - Angsuran PPh Pasal 25 Tahun 2007 Rp 31,429,495 / bulan

Hasil analisa di atas menunjukkan bahwa Tuan “X” telah memiliki NPWP tetapi belum menghitung, membayar dan melaporkan PPhnya. Oleh karena itu, dengan penelitian ini diketahui bahwa pada tahun 2006 Tuan “X”

memiliki PPh kurang bayar sebesar Rp 126,199,546.-. Pajak Penghasilan ini harus dibayar paling lambat pada tanggal 25 maret 2007 dan dilaporkan paling lambat 31 maret 2007. Selain itu, angsuran PPh 25 yang harus dibayar Tuan “X” untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 31,429,495.- setiap bulannya. PPh 25 ini harus dibayar setiap bulan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.

4.3.5. Penerapan Perencanaan Pajak

4.3.5.1. Perubahan Bentuk Usaha UD menjadi CV

Salah satu penerapan perencanaan pajak bagi Tuan “X” adalah dengan perubahan bentuk usaha dari UD menjadi CV. Bentuk usaha CV ini merupakan bentuk usaha yang harus didirikan oleh dua orang atau lebih. Dalam kasus ini, Tuan “X” dapat mendirikan CV bersama dengan istrinya, akan tetapi apabila CV didirikan oleh suami-istri, maka harus ada pihak ketiga yang ikut dalam pendirian ini. Di dalam bentuk usaha CV ini nantinya usaha istri Tuan “X” dapat dibuatkan divisi sendiri, tetapi masih menjadi bagian dari CV sehingga penghasilan yang didapat dari usaha tersebut juga akan menjadi penghasilan CV.

(21)

Koreksi fiskal yang diperlukan dalam bentuk usaha CV ini tidak berbeda dengan bentuk usaha UD. Sehingga perhitungan Pajak Penghasilan terutang apabila bentuk usaha UD ini diganti menjadi bentuk usaha CV adalah sebagai berikut:

- Penghasilan neto divisi usaha Tuan “X” Rp 1,179,141,294.- - Penghasilan neto divisi usaha istri Rp 40,355,874.-

- Penghasilan total Rp 1,219,497,168.-

- PKP Rp 1,219,497,000.-

- PPh terutang tahun 2006:

10% X Rp 50,000,000.- = Rp 5,000,000.- 15% X Rp 50,000,000.- = Rp 7,500,000.- 30% X Rp 1,119,497,000.- = Rp 335,849,100.-

Rp 348,349,100.-

Sebelum adanya perencanaan pajak dengan perubahan bentuk usaha ini, maka jumlah PPh terutang adalah sebesar Rp 385,903,950.-.dan jumlah PPh terutang setelah adanya perencanaan pajak dengan perubahan bentuk usaha menjadi CV adalah sebesar Rp 348,349,100.- Jadi penghematan pajak yang diperoleh dengan adanya pelaksanaan perencanaan pajak ini sebesar Rp 37,554,850.-.

Hal ini disebabkan adanya perbedaan tarif tertinggi pada bentuk usaha UD dan CV di mana di dalam bentuk usaha UD, tarif PPh tertinggi adalah 35 % sedangkan dalam bentuk usaha CV, tarif PPh tertingginya adalah 30 %. Sehingga terdapat penghematan pajak dari tarif sebesar 5 %. Keuntungan lain yang akan didapat dari perubahan bentuk usaha ini adalah atas bagian laba yang diterima pemilik dari bentuk usaha CV ini nantinya bukan merupakan Objek Pajak Penghasilan, sehingga tidak perlu dikenakan pajak lagi. Akan tetapi kelemahan dari bentuk usaha CV apabila dilihat dari aspek perpajakannya yaitu tidak ada fasilitas pajak yang dapat diperoleh dari bentuk usaha CV ini, sehingga keuntungan yang diperoleh hanya berupa pembagian laba dan tarif Pajak penghasilan yang lebih rendah dibandingkan dengan bentuk usaha UD.

(22)

Selain itu, perubahan bentuk usaha dari UD menjadi CV juga harus memperhatikan perbedaan konsekuensi pajak yang mungkin timbul dari setiap bentuk usaha. Perbandingan aspek perpajakan bentuk usaha UD dan CV adalah sebagai berikut :

Tabel 4.9 Perbandingan Aspek pajak Bentuk Usaha UD dan CV

UD CV

1. Pemilik hanya melaporkan SPT 1770

2. SPT 1770 ditandatangani oleh Wajib Pajak sendiri

3. Wajib Pajak boleh memilih menggunakan pembukuan atau pencatatan

4. adanya pemotongan PTKP 5. Tidak diperbolehkan melakukan

witholding tax system

6. Tarif pajak yang digunakan tarif pajak orang pribadi

7. Bagian laba yang diterima dikenakan pajak

8. PPh penjualan atas tanah dan bangunan bersifat final

9. Fiskal Luar Negeri orang pribadi boleh menjadi kredit pajak

1. Wajib melaporkan SPT 1771 untuk badan dan pemilik SPT 1770 atau 1770 S

2. SPT 1771 ditandatangi oleh pengurus atau direksi

3. Wajib menggunakan pembukuan

4. Tidak ada pemotongan PTKP 5. Diperbolehkan melakukan

witholding tax system

6. Tarif pajak yang digunakan tarif pajak badan

7. bagian laba yang diterima pemilik bukan merupakan Objek PPh 8. PPh penjualan atas tanah dan bangunan bersifat tidak final 9. Fiskal Luar Negeri pemilik yang

tidak ada hubungannya dengan kegiatan usaha tidak boleh menjadi kredit pajak perusahaan.

(23)

4.3.5.2. Perubahan Bentuk Usaha UD menjadi PT

Perencanaan Pajak lainnya untuk Tuan “X” juga dapat dilakukan dengan perubahan bentuk usaha UD menjadi PT. Bentuk usaha PT ini tidak jauh berbeda dengan bentuk usaha CV. Bentuk usaha ini juga harus didirikan oleh dua orang atau lebih dan apabila didirikan oleh suami-istri maka harus ada pihak ketiga yang ikut serta dalam pendirian ini. Yang membedakan antara bentuk usaha PT dan bentuk usaha CV adalah dalam bentuk usaha PT, modal yang disetorkan terbagi atas saham, sehingga bagian laba yang nantinya dibagikan kepada pemegang saham PT ini dikenal dengan nama deviden, sedangkan dalam bentuk usaha CV tidak mengenal bentuk saham. Di dalam PT ini, usaha istri Tuan “X” juga dapat dibuatkan divisi sendiri tetapi masih menjadi bagian dari PT sehingga penghasilan dari usaha tersebut juga akan menjadi penghasilan PT.

Terdapat perbedaan koreksi fiskal antara bentuk usaha UD dengan PT.

Perbedaannya yaitu di dalam bentuk usaha UD, biaya gaji yang dibayarkan kepada pemilik/pemegang saham tidak dapat dibiayakan. Akan tetapi di dalam bentuk usaha PT, biaya gaji kepada pemilik/pemegang saham dapat dibiayakan.

Oleh karena itu, dengan perbedaan tersebut maka perhitungan Pajak Penghasilan terutang apabila bentuk usaha UD ini diganti menjadi bentuk usaha PT adalah sebagai berikut :

- Penghasilan neto divisi usaha Tuan “X” Rp 1,059,141,294.- - Penghasilan neto divisi usaha istri Rp 40,355,874.-

- Penghasilan total Rp 1,099,497,168.-

- PKP Rp 1,099,497,000.-

- PPh terutang tahun 2006:

10% X Rp 50,000,000.- = Rp 5,000,000.- 15% X Rp 50,000,000.- = Rp 7,500,000.- 30% X Rp 999,497,000.- = Rp 299,849,100.-

Rp 312,349,100.-

Sebelum adanya perencanaan pajak dengan perubahan bentuk usaha maka jumlah PPh terutang adalah sebesar Rp 385,903,950.- dan setelah

(24)

terutang adalah sebesar Rp 312,349,100.-. Jadi penghematan pajak yang diperoleh dengan adanya pelaksanaan perencanaan pajak ini adalah sebesar Rp 73,554,850..

Hal ini disebabkan karena di dalam bentuk usaha PT, gaji yang dibayarkan kepada pemilik atau pemegang saham boleh menjadi biaya. Selain itu adanya perbedaan tarif tertinggi antara bentuk usaha UD dan PT di mana dalam bentuk usaha UD, tarif tertinggi PPhnya adalah 35 % sedangkan dalam bentuk usaha PT, tarif tertinggi PPhnya adalah 30 %. Selain itu, dengan bentuk usaha PT dimungkinkan untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas PPh lainnya seperti pemotongan tarif pajak dan deviden dari PT lain yang bukan Objek PPh.

Akan tetapi, kerugian dari bentuk usaha PT adalah deviden yang diterima oleh pemegang saham merupakan Objek Pajak Penghasilan Pasal 23, sehingga atas deviden ini akan dikenakan pemotongan PPh Pasal 23. Dari perhitungan PPh terutang di atas akan dapat diketahui laba setelah pajaknya yaitu sebesar Rp 787,148,068.-. Apabila laba setelah pajak ini nantinya dibagikan kepada pemegang saham maka atas bagian laba ini harus dipotong PPh pasal 23 sebesar 15 %, yaitu sebesar Rp 118,072,210.-.

Perubahan bentuk usaha UD menjadi PT juga harus memperhatikan perbedaan aspek pajak yang mungkin timbul dari setiap bentuk usaha.

Perbandingan aspek pajak bentuk usaha UD dan PT adalah sebagai berikut :

Tabel 4.10 Perbandingan Aspek Pajak Bentuk Usaha UD dan PT

UD PT

1. Pemilik hanya melaporkan SPT 1770

2. Wajib Pajak boleh memilih menggunakan pembukuan atau pencatatan

3. Adanya pemotongan PTKP 4. Menggunakan tarif Pajak orang

pribadi

1. Wajib melaporkan SPT 1771 dan pemilik melaporkan SPT 1770 atau 1770 S

2. Wajib menggunakan pembukuan

3. Tidak ada pemotongan PTKP 4. Menggunakan tarif pajak badan

(25)

5. Tidak diperbolehkan melakukan witholding tax system

6. PPh atas penjualan tanah dan bangunan bersifat final

7. Fiskal Luar negeri pemilik dapat menjadi kredit pajak

8. Penghasilan deviden atas penyertaan saham di PT lain berapapun kepemilikan merupakan Objek PPh

9. Gaji yang dibayarkan kepada pemilik tidak boleh dibiayakan 10. Tidak terdapat fasilitas-fasilitas

pajak lainnya

5. Diperbolehkan melakukan witholding tax system 6. PPh atas penjualan tanah dan

bangunan bersifat tidak final 7. Fiskal Luar negeri pemilik yang

tidak berhubungan dengan kegiatan usaha tidak dapat menjadi kredit pajak

8. Penghasilan deviden atas

penyertaan saham di PT lain dengan kepemilikan paling rendah 25 % bukan merupakan Objek PPh 9. gaji yang dibayarkan kepada

pemilik boleh dibiayakan 10. Terdapat fasilitas-fasilitas pajak

berupa pemotonga tarif pajak, penyusutan dan amortisasi

dipercepat dan perpanjangan jangka waktu kompensasi kerugian untuk PT tertentu

4.3.5.3. Perbandingan Jumlah PPh yang Harus Disetorkan UD, CV, dan PT Perbandingan jumlah PPh yang harus disetorkan perusahaan sebelum perencanaan pajak dengan bentuk usaha UD dan setelah perencanaan pajak dengan perubahan bentuk usaha menjadi CV dan perubahan bentuk usaha menjadi PT adalah sebagai berikut:

(26)

Tabel 4.11. Rekapitulasi Jumlah PPh yang Harus Disetorkan UD, CV, dan PT

(dalam rupiah)

UD CV PT

- PPh terutang usaha - PPh Pasal 23

(atas pembagian laba usaha)

385,903,950.-

-

348,349,100.-

-

312,349,100.-

118,072,210.-

Jumlah Pajak yang harus disetorkan

385,903,950.- 348,349,100.- 430,421,310.-

Di antara kedua alternatif di atas, antara perubahan bentuk usaha menjadi CV dan perubahan bentuk usaha menjadi PT sama-sama akan menghasilkan jumlah PPh terutang dari usaha yang lebih kecil. Hal ini disebabkan karena bentuk usaha CV dan PT memiliki tarif pajak yang lebih rendah dibandingkan bentuk usaha UD. Selain itu, dalam bentuk usaha PT, gaji yang dibayarkan kepada pemilik atau pemegang saham boleh menjadi biaya.

Di dalam kasus Tuan “X” ini apabila dilihat dari pertimbangan jangka pendek dan aspek efisiensi beban pajaknya maka akan lebih menguntungkan apabila Tuan “X” merubah bentuk usahanya dari bentuk usaha UD menjadi CV karena selain menghemat beban pajak sebesar Rp 37,554,850.-, atas bagian laba yang diterima oleh pemilik bukan merupakan Objek Pajak Penghasilan sehingga nantinya tidak akan dikenakan pajak lagi.

Berbeda dengan bentuk usaha PT, meskipun dapat menghemat beban pajak lebih besar yaitu sebesar Rp 73,554,850.-, tetapi atas deviden yang diterima oleh pemegang saham merupakan Objek Pemotongan PPh Pasal 23 dan meskipun pemotongan ini nantinya dapat menjadi kredit pajak bagi Wajib Pajak, apabila deviden yang diterima oleh pemegang saham telah mencapai tarif tertinggi Wajib

(27)

Pajak orang pribadi maka akan tetap terjadi kurang bayar yang menyebabkan Wajib Pajak masih memiliki beban pajak yang harus dibayar.

Apabila dilihat dari pertimbangan jangka panjang bahwa usaha Tuan “X”

nantinya akan berkembang menjadi lebih besar maka akan lebih menguntungan jika Tuan ”X” merubah bentuk usahanya menjadi PT dikarenakan dengan bentuk usaha PT bayak keuntungan-keuntungan pajak lainnya yang bisa didapatkan yang tidak terdapat di bentuk usaha UD maupun CV, seperti misalnya apabila bentuk usaha PT memiliki kepemilikan daham di PT lain dengan kepemilikan paling rendah 25 % maka atas penghasilan deviden yang diterima nantinya bukan merupakan Objek PPh. Selain itu, khusus bagi PT yang go public dimungkinkan untuk mendapatkan fasilitas khusus berupa pemotongan tarif tertinggi Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan sebesar 5 % menjadi 25 %.

Akan tetapi perencanaan pajak melalui perubahan bentuk badan hukum ini tidak dapat dipaksakan, artinya semuanya harus kembali kepada kepentingan Wajib Pajak Tuan ”X” sendiri. Perubahan bentuk badan hukum dari UD menjadi CV atau PT bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Dalam perubahan ini, Tuan “X” harus dapat menemukan orang yang mau diajak bekerjasama atau bergabung dengan Tuan “X” untuk menjalankan suatu usaha. Dalam perkembangannya nanti, tentunya akan lebih susah bagi Tuan ”X” untuk mengelola perusahaannya yang baru apabila yang memiliki dua orang atau lebih karena segala jenis pengambilan keputusan dan segala proses usaha akan melibatkan kepentingan banyak pihak. Berbeda dengan bentuk badan hukum perusahaan perseorangan seperti yang dimiliki oleh Tuan ”X” saat ini karena segala pengambilan keputusan dan segala proses usaha hanya dijalankan oleh satu orang saja, yaitu Tuan ”X” sendiri.

Bentuk badan hukum perusahaan perseorangan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan bentuk badan hukum yang lain dalam hal perkembangan usaha.

Dengan bentuk perusahaan perseorangan, Tuan ”X” tetap dapat mengembangkan usahanya seperti misalnya membuka cabang-cabang usaha di kota-kota lain ataupun membentuk usaha baru. Bentuk badan hukum apapun yang nantinya akan

(28)

konsekuensi pajak dan segala kewajiban pajak yang mungkin timbul dari bentuk badan hukum tersebut.

Gambar

Tabel 4.1. Laporan Laba Rugi Komersial UD “X” Tahun 2006
Tabel 4.2 Daftar Penyusutan Komersial Aktiva Tetap UD “X” Tahun 2006  (dalam rupiah)  Jenis Aktiva  Tahun  Perolehan  Harga  Perolehan  Masa  Manfaat     Biaya  Penyusutan                 2004   2005  2006
Tabel 4.3. Data Penjualan Usaha Istri Tuan “X” Tahun 2006
Tabel 4.4. Laporan Laba Rugi Fiskal UD “X” Tahun 2006  (dalam rupiah)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian SAC Test dilakukan pada output dari setiap tahapan round algoritma kriptografi PRESENT mulai dari round ke-1 sampai round ke-31 dengan Kunci sebagai

Ketika menilai aspek teknis dan operasional seperti yang dipaparkan dalam 3.5.3 dan diidentifikasi bahwa permohonan tidak sesuai dengan standard Karakteristik Fisik yang

Kemudian keraf mendifinisikan ironi, sinisme, dan sarkasme dalam satu poin, hal itu mungkin dikarenakan ketiga gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa sindiran namun gaya

Takbir Organ yang Berperan Bahu Lengan Siku Jari tangan Elevasi Fleksi Fleksi Abduksi Digiti I... Takbir

Untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan terhadap keteguhan lentur (MoE) papan partikel yang dihasilkan dari limbah tandan kosong kelapa sawit, maka dilakukan

Sebagai lembaga pendidikan modern, madrasah dewasa ini memiliki visi dan misi baru yang lebih modernis daripada era awal kelahirannya, tidak hanya menyiapkan peserta didik

Dari segi pembangunan karakter dalam buku lebih banyak mengulas tentang Ainun sebagai istri yang religius dan aktif dalam pembangunan dan perkembangan organisasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kreativitas dengan hasil belajar prakarya dan kewirausahaan sebesar