• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. dua variabel utama yang diutarakan oleh Grindle (1980). Pada hasil dan pembahasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. dua variabel utama yang diutarakan oleh Grindle (1980). Pada hasil dan pembahasan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

146 BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Implementasi kebijakan pendidikan inklusif pada penelitian ini dikaji berdasarkan dua variabel utama yang diutarakan oleh Grindle (1980). Pada hasil dan pembahasan penelitian ditemukannya beberapa masalah dalam mengimplementasikan program pendidikan inklusif, akan tetapi permasalahan tersebut tidak menghambat jalannya proses implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program pendidikan inklusif telah berjalan dengan baik sesuai dengan target sasaran yang hendak dicapai.

1. Content of Policy (Isi Kebijakan)

Dari sisi isi kebijakan, kepentingan kelompok sasaran dari masing-masing perguruan tinggi telah termuat secara baik didalam landasan peraturan perundang- undangan. Sedangkan dalam skala implementasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) menunjukkan nilai-nilai positif dari hasil penelitian ini.

Kepentingan kelompok sasaran dapat terakomodasi dengan baik dimana manfaat pendidikan inklusif dapat dirasakan oleh semua golongan tak terkecuali difabel.

Difabel bebas memilih jurusan dan dalam pemilihan jurusan dibantu oleh pendamping dari implementor kebijakan di UIN yakni Pusat Layanan Difabel (PLD).

Program-program yang dilaksanakan oleh PLD juga sangat mengakomodasi kebutuhan difabel sebagai contoh dalam program admisi PLD membantu peserta

(2)

147 ujian masuk dengan menyertakan pendamping ahli, disertai juga dengan konsultasi mengenai minat dan bakat difabel. Selain itu adanya program-program lain seperti perkuliahan yang didampingi oleh relawan, fasilitas yang ramah di seluruh geduing UIN SUKA dan peningkatan kapasitas mahasiswa difabel dengan mengadakan pelatihan, workshop maupun diskusi-diskusi berakaitan dengan isu-isu difabilitas.

Kewenangan PLD adalah untuk mengakomodasi difabel selama melakukan perkuliahan di UIN SUKA. Difabel yang sedang menempuh pendidikan akan menrima fasilitas-fasilitas dari PLD. Selain fasilitas, mahasiswa difabel bebas memberikan masukan kepada PLD mengenai kesulitan selama mengeyam pendidikan di UIN SUKA dan PLD juga memberikan evaluasi disertai langkah-langkah mengantisipasinya, misalnya saja seperti salah satu contoh kasus ada mahasiswa yang kesulitan dalam berbahasa Indonesia, maka PLD akan memberikan cuti untuk mahasiswa tersebut mendapatkan kursus lanjutan. PLD juga tak bisa berdiri sendiri, PLD membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar pendidikan inklusif dapat tercapai, misalnya ketika pintu di gedung lama yang tidak ramah maka PLD dapat menghubungi bagian Rumah Tangga untuk kemudian dicari solusinya. Contoh lain mengenai ujian masuk, PLD tidak memilik kewenangan mengenai lolos tidaknya calon mahasiswa, akan tetapi PLD memiliki hak untuk memberikan rekomendasi kepada lembaga admisi UIN untuk mempertimbangkan mengenai difabel yang telah melewati seleksi PLD.

Universitas Brawijaya (UB) mendapat respon positif sejak mengukuhkan diri sebagai perguruan tinggi inklusif. Memiliki Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD), UB

(3)

148 mengembangkan diri dengan membuka jalur seleksi masuk khsusus yaitu SPKPD (Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas). SPKPD memberikan magnet kuat bagi difabel yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan dengan PSLD yang kadang menjadi kewalahan karena calon mahasiswa yang lolos melebihi kouta 20 orang. PSLD memberikan pelayanan yang juga terbilang lengkap yakni berupa konseling, pendampingan dan tutorial (pelatihan). Konseling di isi oleh konselor profesional dengan maksud dapat mengatasi kendala-kendala yang ditemui oleh difabel selama menjalani perkuliahan di UB. Selain konseling, difabel juga mendapatkan pendampingan oleh relawan yang dilatih PSLD. Pelatihan untuk mengembangkan kemampuan acapkali juga dilaksanakan demi kemajuan pendidikan inklusif di Universitas Brawijaya. Di Brawijaya, PSLD memegang perananan vital sebagai implementor kebijakan pendidikan inklusif. Dengan kewenangan atas salah satu seleksi jalur masuk UB, PSLD memiliki kekuasaan untuk memutuskan lolos atau tidaknya mahasiswa. Lolos menjadi mahasiswa juga tidak serta merta dilepaskan begitu saja, PSLD akan melakukan pengawasan, evaluasi dan memberikan pelayanan berupa pendampingan selama perkuliahan, dengan begitu diharapkan semua kebutuhan difabel dapat terpenuhi.

Universitas Gadjah Mada (UGM) menganut sistem egaliter, egaliter disini mengacu kepada penyamarataan dalam hal kemampuan para calon mahasiswa.

Mahasiswa difabel dituntut agar mampu bersaing dengan mahasiswa non-difabel. Hal ini dibuktikan dengan adanya mahasiswa difabel dalam berbagai fakultas dan jurusan di UGM. Meskipun memiliki keterbatasan dalam sarana dan prasarana yang ada,

(4)

149 banyak mahasiswa difabel yang sukses di lingkup UGM. Sebagai contoh sukses adalah dengan dibentuknya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel. UKM ini dibentuk setelah adanya audensi dengan pihak rektorat/universitas, meskipun hanya berbentuk unit kegiatan mahasiswa UKM Peduli Difabel dapat memberikan intervensi yang mamp merubah kebijakan di UGM. Sebagai contoh, diskriminasi saat ujian masuk UGM disepakati dihapuskan setalah audensi UKM Peduli Difabel bersama seluruh dekan fakultas melakukan pertemuan. UKM Peduli Difabel diberi amanah sebagai lembaga pelaksana pendidikan inklusif di UGM. UKM mengemban misi untuk merangkul setiap elemen mahasiswa untuk berpartisipasi bagi perkembangan isu difabel di UGM. Melalui UKM, diharapkan kebutuhan-kebutuhan difabel akan terangkum dengan baik yang kemudian akan di angkat kedalam isu pengembangan pendidikan di UGM. Pada perkembangannya UKM melakukan berbagai macam cara agar isu difabel di UGM terangkat ke permukaan, dengan megadakan seminar-seminar baik yang bertaraf nasional maupun internasional. Untuk mencapai target itu, strategi UKM dalam melaksanakannya adalah dengan terus melakukan pembenahan dalam penyiaran informasi atas keberadaan difabel, pengangkatan isu difabel, audensi serta advokasi kebtuhan difabel mengenai aksesibilitas fisik maupun non-fisik di UGM.

2. Context of Implementastion (Lingkungan Implementasi)

Baik dari pembuat kebijakan, lembaga pelaksana dan kelompok sasaran mempunyai pengaruh yang besar terhadap implementasi kebijakan. Seluruh aktor tersebut dapat bekerja dengan baik apabila terjalin komunikasi yang sama. Di UIN

(5)

150 Sunan Kalijaga, power (kewenangan) PLD adalah sebagai lembaga pelaksana, dengan itu PLD berhak mengangkat pendamping sebagai salah satu bentuk pelayananya terhadap difabel. Difabel sebagai kelompok sasaran memiliki kepentingan (interest) untuk mendapatkan pendamping yang layak, PLD sebagai pelaksana berkepentingan memberikan pendamping yang kompoten, sementara pembuat kebijakan yaitu UIN sendiri yang memutuskan hal tersebut dengan cara menerbitkan SK Rektor. Strategi PLD sebagai lembaga pelaksana misalnya dalam merumuskan pendidikan yang inklusif PLD merangkul semua dosen yang terlibat dalam proses perkuliah difabel, dengan strategi FGD (Fokus Grup Discussion) pengalaman-pengalam mengajar akan disharingkan.

Tak jauh berbeda dari UIN Sunan Kalijaga, UB menerapkan hal yang hampir sama, akan tetapi PLD memiliki porsi yang cukup besar bagi penerimaan mahasiswa baru, PSLD memegang selesi khusus berikut penetapan lolos atau tidaknya, lebih jauh kewenangan PSLD dengan merekomendasikan pembangunan infrastruktur di UB. Untuk mengakali kekurangan dalam hal fasilitas PSLD menyiapkan Ramp portabel bagi fakultas yang tidak memiliki ramp selain itu juga memindahkan kelas ke lantai 1 juga dilakukan apabila tidak memungkinkan bagi tunadaksa untuk naik kelantai yang lebih tinggi.

UGM dengan UKM Peduli Difabel mengemban amanah untuk mendata mahasiswa difabel yang valid di UGM. Selain itu juga mendata apa yang dibutuhkan difabel sehingga rektorat dapat menentukan sikap apa yang harus dilakukan. Dalam hal ini Rektorat kemungkinan masih mencari model yang sesuai, oleh karena itu

(6)

151 masukan dari bawah seperti UKM sangatlah ditunggu kontribusinya. Untuk pembangunan sendiri masih dalam tahap perbaikan, diusahakan gedung-gedung baru sudah memiliki aksebilitas yang sesuai standar, sementara gedung lama seperti gedung rektorat untuk menjaga kelestarian bangunan diperlukan perencanaan, seperti pembangunan lift yang cukup lama.

Dari sisi karakteristik lembaga, Baik Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Brawijaya maupun Universitas Gadjah Mada memiliki struktur lembaga yang sama yaitu lembaga pendidikan tinggi. Ketiga-tiganya sama-sama menjalankan konsep pendidikan tinggi yang menganut tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Sebagai implemetor pendidikan inklusfif ketiganya memiliki perbedaan dalam menentukan lembaga pelaksana. UIN Sunan Kalijaga dengan Pusat Layanan Difabel, Universitas Brawijaya dengan Pusat Studi Layanan Difabel serta Universitas Gadjah Mada dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Peduli Difabe.

PLD UIN Sunan Kalijaga dipimpin oleh seorang kepala pusat dan didukung oleh sekelompok tenaga ahli yang mengelola program-program strategis diantaranya program kerjasama, riset dan publikasi, kajian, kerelawanan serta magang. PSLD UB memiliki struktur dari ketua, sekretaris dan memiliki dua divisi yaitu divisi kajian dan divisi pelayanan. Masing-masing divisi memilki sub bagian lagi. UKM Peduli Difabel beranggotakan mahasiswa UGM, ketuanya sendiri merupakan difabel. UKM ini mempunyai dosen pembimbing yang juga aktif dalam kegiatan sosial. Adapun struktur UKM terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara dan beberapa kordinator

(7)

152 yang diantaranya adalah kordinator advokasi komunikasi internal dan eksternal, PSDM serta riset dan penelitian.

Tidak selamanya yang sesuatu yang baik akan direspon positif begitu juga dengan implementasi pendidikan inklusif. Walaupun membawa pendidikan kearah yang lebih baik akan tetapi sambutan dari kelompok sasaran kadang tidaklah positif, seperti yang dialami UIN Sunan Kalijaga. Sejak 2007 sudah mengenalkan pendidikan inklusif dan pelayanan melalui satu pintu, akan tetapi karena beberapa faktor, difabel yang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga ada juga yang menolak menerima pelayanan.

Karena miss ini, kadang-kadang mahasiswa difabel yang bermasalah menjadi sulit terpantau, bahkan ketika ada masalah PLD juga tidak dapat berbuat apa-apa. Sisi positif juga tidak bisa dilupakan, bergabungnya mahasisa difabel dengan UKM-UKM yang telah ada akan membuat kultur inklusif di UIN, sebagai contoh tunanetra yang bergabung dalam UKM Karate. Kegiatan-kegiatan positif outbond, liburan ketempat rekreasi, games menjadi difabel, kesemuanya itu dilakukan oleh mahasiswa sendiri.

Kendala-kendala seperti yang PLD alami juga terjadi di tanah Universitas Brawijaya, tidak bergabungnya difabel dalam naungan PSLD menjadi kendala sendiri. Dilain pihak kepatuhan dari mahasiswa difabel yang dinaungi PSLD sangatlah baik, hal ini dapat terlihat dari hubungan baik yang terjalin diantara keduanya, pelaporan dan evaluasi akademik juga tertata dengan baik. Forum Mahasiswa Peduli Inklusi adalah UKM yang dibangun atas dasar insisiasi teman- teman difabel dan relawan, bahkan sekarang membuka kesempatan untuk mahasiswa umum bergabung karena statusnya yang setara dengan BEM seluruh UB. Apresiasi

(8)

153 oleh mahasiswa difabel adalah dengan adanya UKM yang diakui tidak hanya PSLD, proses pengenalan kultur inklusif diharapkan lebih baik lagi. Bagaimana dengan UGM? Pembentukan UKM adalah saran dari pihak rektorat, dengan UKM diharapkan jangkauan dari kepanjangan tangan rektorat ini mencapai level mahasiswa, akan tetapi ini juga menyisakan permasalahan, misalnya salah satu amanah rektorat dalam mendata validitas mahasiswa difabel menemui kesulitan.

3. Outcome (Hasil) a. Impact (dampak)

Bagi UIN Sunan Kalijaga pengaruh yang dirasakan dari sebelum dan sesudah kebijakan diterapkan dapat dilihat dari kelembagaan yang berkembang. PLD dulu adalah Pusat Studi dan dalam perjalananya untuk menguatkan pelayanan maka dirubah menajadi pusat layanan yang lebih berfokus, berkat ini UIN mendapat penghargaan inclusive awards yang diberikan kepada lembaga ataupun perseorangan yang memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan inklusif.

Perubahan yang terjadi bagi difabel sendiri adalah pendidikan sekarnag menjadi lebih ramah. Difabel yang dulunya berjuang secara mandiri dan hanya berbekal bantuan dari orang-orang yang peduli sekarang difasilitasi dengan memadai, maka dari itu semakin tahun makin banyak difabel yang mendaftar di UIN Sunan Kalijaga, makin banyak yang semangat untuk melanjutkan pendidikannya. Hal yang paling berubah adalah adanya sikap optimisme, hal yang jarang pada saat dimana diskriminasi masih kuat, karena dengan pendidikan, masa depan akan menjadi lebih baik lagi Dalam penerimaan lingkungan, mahasiswa UIN secara umunya suda

(9)

154 menyadari kehadiran difabel di tengah-tengah UIN. Akan tetapi hal ini juga membutuhkan waktu untuk bisa sadar akan sifat khusus mereka, misalnya parkir yang masih amburadul.

Dari sisi Universitas Brawijaya perubahan yang tampak adalah berkembangnya UB kearah inklusif. Sadar bahwa pendidikan itu milik semua orang, UB memberikan kesempatan yang sama bagi para difabel untuk meperoleh pendidikan tinggi. Dalam bidang keilmuan sendiri, sumbangsing PSLD dituangkan dalam penelitian jurnal-jurnal, penerimaan, pengembangan isu-isu difabel dan pembangunan infrastruktur yang mulai dibenahi. Bagi mahasiswa difabel, dibukannya jalur khusus difabel di UB adalah kabar gembira bagi mereka. Secara khusus bahan ada yang berhenti dari PTN di bandung dan pindah ke UB karena tertarik dengan UB. Perubahan dari lingkungan di UB yang paling dirasakan adalah semakin berbaurnya difabel dan para civitas akademika. Sarana dan prasarana juga mulai dibenahi, dan yang terpenting adalah perubahan tidak bisa berlangsung cepat, sehingga butuh waktu. Di UB sendiri kultur inklusif masih belum berkembang dengan baik, masih harus banyak mengangkat isu difabel lebih kepermukaan, menggandeng semua pihak adalah kuncinya.

Perubahan yang paling dirasakan Universitas Gadjah Mada adalah adanya penerimaan pemikiran-pemikiran perubahan. Pemikiran-pemekiran mahasiswa untuk membangun UGM yang ramah di apresiasi oleh UGM, langkah awalnya adalah dengan membentuk UKM. Melalui UKM Peduli Difabel, UGM mengharapkan munculnya ide-ide kreatif yang membangun UGM. Amanah ini

(10)

155 masih dilakukan oleh UKM, menyusun kebutuhan mahasiswa difabel di UGM, perbaikan dari sistem penerimaan/perkuliahan serta sarana dan prasarana. Tentu saja hal ini memerlukan waktu yang tidak sedikit, akan tetapi optimisme ini muncul sejak saat UKM Peduli Difabel Dibentuk. Bagi mahasiswa sendiri, perubahan yang muncul adalah adanya legalisasi gerakan mereka. Eksistensi difabel sangat jarang terdeksi di UGM, melalui UKM diharapkan isu-isu difabel mulai muncul kepermukaan. Dengan adanyanya UKM ini, difabel dapat ikut berorganisasi sesuai hati nurani mereka yang ingin berkontribusi kepada UGM. Lingkungan juga merespon positif, dari mahasiswa sendiri, terutama yang memang dekat dengan difabel. Dengan adanya difabel, simbol kampus kerakyatan akan semakin kental, mendapat pengetahuan dan khasanah praktek dalam ilmu sosial.

b. Acceptance (Penerimaan)

Menyikapi peraturan perundang-undangan yang ada, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Brawijaya maupun Universitas Gadjah Mada berusaha menjalankan amanah sesuai interpretasinya dan menelurkan kebijakannya masing-masing.

Sebagai perguruan Tinggi otonom, penerimaan ketiga lembaga tersebut terhadap perubahan kearah pengembangan keilmuaan dan pelayanan pendidikan tentu saja sangatlah terbuka, selama itu tidak mencedrai identitas asli dari tri dharma civitas akademika.

Sejauh ini yang menjadi kendala hanya pada penerimanaan difabel itu sendiri terhadap dirinya. Selama penelitian ini, baik UIN Sunan Kalijaga, Universitas Brawijaya maupun Universitas Gadjah Mada menunjukkan ada saja difabel yang

(11)

156 tidak mengakui dirinya difabel. Kekurangan dalam penerimaan ini pada akhirnya memunculkan rasa malu untuk bergabung dengan para pejuang pendidikan ini. Hal ini patut disayangkan karena kontribusi mereka sangat diharapkan, selain untuk membangkitkan kepekaan sosial dari lingkungan, tak jarang ide-ide dan saran pengembangan pendidikan dari perspectif berbeda sangat diperlukan.

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil simpulan diatas, maka dapat diberikan rekomendasi secara umum;

1. Diperlukannya Komitmen yang kuat dari seluruh aktor (stakeholders) yang terlibat dan terkait yang dilandasi oleh kerjasama, kebersamaan, keterkaitan dan akuntabilitas. Peningkatan intensitas sosialisasi dan penguatan kapasitas berkesinambungan baik melalui pelatihan, diskusi maupun FGD.

2. Orientasi pada pembentukan jaringan kerja (Net work) yang kuat dengan menggandeng seluruh aktor/stakeholders yang terkait, misalnya rektor, dekan, dosen, staf, mahasiswa dan orangtua mahasiswa. Selain itu juga NGO-NGO yang terlibat dalam isu yang berkaitan, tenaga profesional, pemerhati pendidikan, kepala daerah dan lain sebagainya.

3. Dalam tahap implementasi kebijakan, sebaiknya dipopulerkan dengan menggunakan model pendekatan sintesis (Hybried Theorities) oleh Sabatier dan Islamy, karena model pendekatan ini merupakan kombinasi atau sintesis dari dua posisi (top down dan buttom up).

(12)

157 Selanjutnya rekomendasi ini ditujukan secara khusus kepada;

1. UIN Sunan Kalijaga

Secara umum implementasi kebijakan pendidikan inklusif di UIN SUKA sangat bagus. Pembentukan pusat layanan merupakan langkah yang tepat, karena dengan lembaga satu pintu ini difabel akan mudah dilayani. PLD dapat mengakomodasi fasilitas yang ramah, meskipun kekurangan juga tetap ada. Sebagai contoh fasilitasi toilet khusus masih kurang, selain itu juga perlunya ada perbaikan tata letak ruang parkir dikarenakan masih banyaknya civitas akademika UIN SUKA yang tidak taat aturan perparkiran di lingkungan UIN SUKA. Selain itu juga jalur pendistrian, dengan trotoar yang tinggi sedikit mengahmbat mobilitas difabel.

Ketersedian buku-buku bahan perkuliahan juuga harus ditingkatkan.

2. Universitas Brawijaya

Secara umum impelementasi dari sisi admisi mengenai kebijakan pendidikan inklusif sangat baik dilakukan oleh UB. Hal yang mungkin harus dibenahi adalah dengan adanya perbaikan fasilitas, penataan ruang pendistrian, ketersediaan ramp, toilet serta ruang parkir akan sangat membantu difabel dalam mobilisasi di UB.

Isu-isu atas difabel juga harus lebih diangkat lagi dalam sasaran akademis di UB, hal ini mengacu pada sedikitnya informasi atas keberadaan difabel di UB, masih banyak civitas akademika yang belum mengetahui akan keberadaan PSLD ataupun difabel pada umumnya.

(13)

158 3. Universitas Gadjah Mada

UGM sejak lama telah menerima difabel, tapi seperti yang telah diutarakan di awal, suksesnya difabel semata-mata karena dirinya sendiri dan kepedulian orang disekitar. Sebagai perguruan tinggi tertua UGM sudah sepantasnya mengakomodasi semua keberagaman, karena pada sejarahnya UGM adalah perguruan tinggi rakyat. UGM sudah cukup ramah dengan tidak mensyaratkan sesuatu yang diskriminasi pada seleksi masuk, akan tetapi penyebaran informasi bahwa UGM terbuka bagi difabel sangatlah kurang dan perlu dibenahi sekali lagi.

Berbicara mengenai fasilitas UGM memang belum ramah secara keseluruhannya, keterlibatan difabel dalam pembuatan aksesibilitas fisik mungkin diperlukan, hal ini dikarenakan pembangunan aksesibilitas fisik yang telah ada belum mencapai kata “ramah”. Keterlibatan UKM serta kewenangan UKM harus diperkuat lagi, setidaknya UKM dapat melakukan berbagai macam kegiatan yang dirasa dapat mengembangkan pendidikan inklusif. Lebih jauh lagi, UGM setidaknya memerlukan sesuatu yang lebih dari sekedar UKM, hal ini diperlukan agar masuknya kebijakan menjadi satu pintu yang tentu akan lebih memudahkan.

Sebagai contoh UGM dapat membuat Sub Bagian yang mengurus bagian difabel dibawah Direktorat Kemahasiswaan, ini bisa dicontoh dari Kantor Urusan Internasional (KUI) yang menangai masalah mahasiswa internasional di UGM.

4. Penelitian Lanjutan

Berdasarkan analisis data dan kesimpulan maka dapat diberikan rekomendasi bagi penelitian selanjutnya; Pertama, Kelemahan penelitian ini ada pada waktu dan

(14)

159 lamanya penelitian serta luasnya lokasi penelitian, oleh sebab itu penelitian yang secara komprehensif dalam satu lokasi secara mendalam akan dapat membantu pembuatan model best practices implementasi pendidikan inklusif terutama untuk UGM. Kedua, kelemahan yang lain adalah keterbatasan kemampuan peneliti untuk membuat atau menyusun permasalahan penelitian sehingga hasil data yang diperloh kurang maksimal, oleh sebab itu diperlukannya penelitian lanjutan mengenai pendidikan inklusif di perguruan tinggi yang terkait menggunakan alat ukur index of inclusion. Kelemahan-kelemahan tersebut hendaknya dapat dihindari dengan memperdalam bidang keilmuan dalam hal ini studi mengenai kebijakan, sehingga teori yang digunakan juga tepat. Diharapkan dengan banyaknya penelitian mengenai pendidikan inklusif dapat menjadi masukan berharga bagi perkembangan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Dati penjelasan di atas bahwa hadis ini merupakan seruan kepada hamba Allah yang saat berpuasa manusia tidak hanya sekedar berpuasa dari makan dan minum saja, “ tapi

P"#$A%ASAN  7 0enurut saya seorang pedagang adalah suatu pekerjaan yang sangat penting dalam roda perekonomian kita "engan adanya pedagang, kita sebagai masyarakat sangat

Dalam gambar Tuak yang digambar oleh Arkan terdapat objek: satu telor besar yang bentuknya tidak bulat, tiga telor yang besarnya sedang berada di tengah, lima telor yang kecil

ekstraksi kobal, tembaga dan mangan dengan pengompleks DDC dalam kloroform dengan penopengan EDTA ditunjukkan pada gambar 9.. Hal ini dapat dikatakan bahwa hasil

bahwa berdasarkan hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk mengikatkan diri dalam Kesepakatan Bersama tentang Kerja Sama Pengawasan Obat dan Makanan, dengan ketentuan

[r]

Tabel 3.6 Tabel Uji Reliabilitas Detik.com Kategori Arah Opini Dari hasil perhitungan uji reliabilitas tiga pengkoding untuk kategori penampilan fisik, isi berita, dan arah opini

RONGGOT