KETAHANAN TIGA STRAIN UDANG GALAH Macrobrachium
rosenbergii TERHADAP SURFAKTAN DETERGEN ALKYL SULFATE
SITI NUR AZIZAH
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
KETAHANAN TIGA STRAIN UDANG GALAH Macrobrachium
rosenbergii TERHADAP SURFAKTAN DETERGEN ALKYL SULFATE
adalah benar merupakan hasil karya sendiri yang belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian belakang skripsi ini.
Bogor, Januari 2010
Siti Nur Azizah C14050302
RINGKASAN
SITI NUR AZIZAH. C14050302. Ketahanan Tiga Strain Udang Galah Macrobrachium rosenbergii terhadap Surfaktan Detergen Alkyl Sulfate.
Dibimbing oleh Eddy Supriyono dan Kukuh Nirmala.
Udang galah Macrobrachium rosenbergii adalah komoditas perikanan air tawar yang banyak dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis penting. Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap udang galah maka perlu diadakan suatu upaya untuk memperluas usaha budidaya. Namun pada akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pencemaran lingkungan perairan sehingga dapat menurunkan kualitas air untuk kegiatan budidaya. Salah satu sumber pencemaran perairan berasal dari detergen yang merupakan limbah rumah tangga maupun industri. Bahan aktif detergen telah diketahui dapat mengganggu kesehatan hewan dan manusia antara lain gangguan respon imun pada marmot, dapat merusak insang ikan meskipun hanya pada konsentrasi 5 ppm. Sebagaimana diketahui bahwa kepekaan terhadap zat beracun dapat sangat bervariasi antara jenis yang satu dengan jenis yang lainya dan antara individu yang satu dengan individu lainnya di dalam satu jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas surfaktan
Alkyl Sulfate (AS) terhadap strain udang galah yang berbeda serta menentukan strain yang paling unggul.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2009 hingga Agustus 2009 di Laboratorium Lingkungan dan Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hewan uji yang digunakan adalah udang galah strain hybrid (hasil persilangan strain Kalimantan dan strain Sulawesi) dengan bobot rata-rata 0,032±0,007 g; strain Sukabumi dengan bobot rata 0,046±0,018 g; dan strain Kalimantan dengan bobot rata-rata 0,079±0,01g yang berasal dari UPT Udang Galah Cisolok, Pelabuhan Ratu. Udang dipelihara pada akuarium berukuran 20x20x20 cm. Pada pemeliharaan pasca uji akut, udang diberi pakan secara at satiation. Pakan yang diberikan berupa pelet tenggelam dengan kadar protein 30 %. Terdapat 5 perlakuan yaitu K (konsentrasi AS 0 mg/l), A (konsentrasi AS 8,41 mg/l ), B (konsentrasi AS 14,14 mg/l ), C (konsentrasi AS 23,77 mg/l ), D (konsentrasi AS 39,96 mg/l ). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Analisa data dilakukan dengan menggunakan program MINITAB 14 dan SAS 9.1.
Hasil pemaparan surfaktan AS saat uji akut 96 jam terhadap udang galah
strain hybrid, strain Sukabumi dan strain Kalimantan memberikan respon yang
berbeda antara strain satu dengan lainnya.. Hasil uji akut 96 jam dan pemeliharaan udang galah selama 30 hari didapatkan bahwa perbedaan konsentrasi Alkyl Sulfate AS memberikan pengaruh yang nyata pada tingkat kematian (MR) dan laju pertumbuhan bobot harian(SGR) (P>0,05). Namun perbedaan strain hanya memberikan pengaruh yang nyata pada laju pertumbuhan bobot harian (SGR) sedangkan untuk tingkat kematian (MR) tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05). Berdasarkan nilia LC50 96 jam, dan nilai laju
paling tinggi sedangkan udang galah strain Kalimantan memiliki ketahan yang paling rendah terhadap pemaparan surfaktan detergen alkyl sulfate.
KETAHANAN TIGA STRAIN UDANG GALAH Macrobrachium
rosenbergii TERHADAP SURFAKTAN DETERGEN ALKYL SULFATE
SITI NUR AZIZAH
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Ketahanan Tiga Strain Udang Galah Macrobrachium
rosenbergii Terhadap Detergen Surfaktan Alkyl Sulfate
Nama Mahasiswa : Siti Nur Azizah
Nomor Pokok : C14050302
Disetujui,
Komisi Pembimbing
Dr. Eddy Supriyono Dr. Kukuh Nirmala
NIP 196302121989031003 NIP 196106251987031001
Diketahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prof. Dr. Indra Jaya NIP 19610410198601100
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur tiada hentinya Penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Skripsi ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2009 sampai dengan Agustus 2009, dengan judul “Ketahanan Tiga Strain Udang Galah Macrobrachium rosenbergi Terhadap Surfaktan Detergen Alkyl
Sulfate. ”
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ayahanda, Ibunda, adikku, dan keluarga besar tercinta atas doa, semangat dan dukungannya selama penulis menyelesaikan skripsi.
2. Bapak Dr. Eddy Supriyono selaku pembimbing skripsi dan pembimbing akademik yang telah membimbing penulis sejak awal perkuliahan di BDP sampai dengan penyelesaian skripsi.
3. Bapak Dr. Kukuh Nirmala selaku pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sampai penyelesaian skripsi.
4. Bapak Dr. Odang Carman selaku dosen penguji tamu.
5. Pak Jajang, Pak Ranta, Bang Abe, Pak Aam, Pak Mar, Mbak Yuli, Kang Asep atas kerjasamanya yang baik dalam menyelesaikan skripsi.
6. Temen-teman BDP’42, khususnya enviromentalist (Dina, Vika, Lina, Yeni, Esse, Wulan, Wolfi, Fahirus, Sandre, Adhi, Arman, Rizki) terima kasih atas bantuan dan semangatnya, sahabat seperjuangan (Majek, Bunda, Wastu, Wanya, Mb Nita, Ratna, Nadew, Tyas, Dewi, Icha, Uyung, Tante, Angga, Zeze, Pay, Batang, Dowe, Tunggul, Wika, Johan, Angga, Asep dan Harry) terimakasih atas kebersamaan dan bantuan yang telah diberikan. S2 (Pak Limin, Mb Ami, Ka Riza dan Mb Mirna) terimakasih atas bantuannya dan kerjasamanya. Nasyaer’s (Uvi, nisa, Zaky, Amel, Yupi, Kokom Ida) Raihana (Yuli, Giga, Nola, Mb ipik, Mb Rika, Kasih, Nisa, Ratna,) terima kasih atas keceriaan, kehangatan dan uluran tangan kalian selama ini.
7. Kakak-kakakku di BEM KM kabinet Totalitas Perjuangan (Ka Gema, Ka Fahmi, Ka Eka, Mb Yuyun, Mb Cici, Mb Melput, Mb Nidi) terima kasih atas kebersamaan, nasihat dan arahan selama saya menjadi staff.
8. Sabahat seperjuangan di BEM KM kabinet GEMILANG (Ka wahyu, Bowo, Gadiz, Rian, Murni, Panji, Rusdi, Adnan, Indri, Ika, Ratna S, Ratna P, Lisma, Irul, Nurdi, Ahsan, Yuda, Lela, Rifa) terima kasih atas persaudaraan, kebersamaan dan semangat yang telah diberikan.
9. Jakdaers (Tiwi, Vita, Udin, Bayu, Nurman, Herman, Ciciw, Harry, Adi, Ricky) terima kasih kalian telah berjuangan bersama untuk menyelesaikan amanah di Jakda.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan juga semua pihak yang membutuhkan. Terima kasih.
Bogor, Januari 2010
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Karawang tanggal 4 Juli 1986 dari Ayah Ucu Abdullah Rahmat dan Ibu Mimin Aminah. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah SDN Gembongan 03 dan lulus tahun 1999, kemudian melanjutkan ke Mts Al-Ahliyah Bakan Maja, Cikampek dan lulus pada tahun 2002. Penulis melanjutkan pendidikan mengah atas di MAN Babakan Ciwaringin, Cirebon dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah melakukan praktek lapang di Loka Riset Pemulian dan Tekologi Budidaya Air Tawar Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Penulis menjadi asisten mata kuliah Dasar-Dasar Akuakultur dan Kualitas Air dan Tanah semester ganjil tahun 2009. Selain itu penulis juga aktif di organisasi Kemahasiswaan antara lain : menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) bagian divisi Pengembangan Sumberdaya Manusia periode 2006-2007 dan 2007-2008, staff Departemen Kajian Strategis Daerah BEM KM IPB periode 2007-2008, dan Sekertaris Kementerian Kebijakan Daerah BEM KM IPB periode 2008- 2009. Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul “Ketahanan Tiga Strain Udang Galah Macrobrachium rosenbergii Terhadap Surfaktan Detergen Alkyl Sulfate”.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ………... viii
DAFTAR ISI ……… x
DAFTAR TABEL………... xii
DAFTAR GAMBAR ……… xiii
DAFTAR LAMPIRAN ……… xiv
I. PENDAHULUAN ………. 1
1.1 Latar Belakang ………... 1
1.2 Tujuan………... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA………. 4
2.1 Udang Galah Macrobrachium rosenbergii. ………. 4
2.2 Surfaktan Detergen ………... 5
2.3 Alkyl Sulfate………. 6
2.4 Pengaruh Surfaktan Detergen terhadap Organisme Perairan………. 8
2.5 Perbedaan Strain dan Ketahanannya……… 9
2.6 Histopatologi………. 10 2.7 Kualitas Air………... 11 2.7.1 Suhu ………. 11 2.7.2 Oksigen Terlarut………... 12 2.7.3 Nilai pH ……….. 13 2.7.4 Kesadahan……….. 13 2.7.5 Alkanitas………. 13 2.7.6 Amonia……… 14
III. BAHAN DAN METODE………... 15
3.1 Waktu dan Tempat……… 15
3.2 Metode Penelitian………. 15
3.2.1 Prosedur Penentuan Kurva Standar Alkyl Sulfate……….. 15
3.2.2 Uji Mencari Nilai Kisaran (RTF)……… 16
3.2.3 Uji Akut……….. 17
3.2.4 Pemeliharaan Pasca Uji Akut ………..……… 18
3.3 Parameter ………. 18
3.3.1 Mortalitas……… 18
3.3.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian ...……….. 19
3.3.3 Tingkah Laku…………... 19
3.3.4 Kualitas Air………. 19
3.4 Analisa Data ……… 19
3.5 Rancangan Percobaan ……… 21
IV HASIL DAN PEMBAHASAN……… 22
4.1 Hasil………... 22
4.1.1 Kurva Standar……… 22
4.1.2 Uji Mencari Nilai Kisaran (Range Finding Test)... 22
4.1.3 Uji Akut………. 23
4.1.3.1 Mortalitas……… 23
4.1.3.2 Kualitas Air………..…….. 25
Sulfate………..
4.1.4.1 Laju Pertumbuhan Bobot Harian………. 27
4.1.4.2 Histologi……….. 28 4.1.4.3 Kualitas Air……….. 30 4.2 Pembahasan……….. 31 4.2.1 Uji Akut………. 31 4.2.1.1 Mortalitas……… 31 4.2.1.2 Tingkah Laku………. 33 4.2.1.3 Kualiatas Air……… 34
4.2.2 Kondisi Udang Galah Pasca Uji Aut Pada Media Tanpa Alkyl Sulfate………. 36
V. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 38
5.1 Kesimpulan ……….. 38
5.2 Saran………... 38
VI. DAFTAR PUSTAKA………. 39
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1 Parameter kualitas air media uji, alat yang digunakan serta cara
peneraannya... 19
2 Mortalitas udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan strain
Kalimantan saat uji akut 96 jam... 23 3 Parameter kualitas air pada saat uji akut 96 jam... 25
4 Pertumbuhan udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan strain
Kalimantan selama 30 hari... 27 5 Parameter kuaitas air selama penelitian... 30
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1 Udang galah Macrobrachium rosenbergii... 4
2 Grafik kurva standar Alkyl Sulfate ... 22
3 Grafik mortalitas udang galah pada uji akut 96 jam... 23
4 Pengamatan SR pada konsentrasi AS 14,14 mg/l... 24
5 Pengamatan SR pada konsentrasi AS 23,77 mg/l... 24
6 Pengamatan SR pada konsentrasi AS 39,96 mg/l... 24
7 Grafik nilai LC50 AS pada jam pengamatan tertentu ... 25
8 Residu AS pada media strain hybrid... 26
9 Residu AS pada media strain Sukabumi... 26
10 Residu AS pada media strain Kalimantan... 26
11 Grafik pertumbuhan bobot harian udang galah... 27
12 Histologi hepatopankreas pada konsentrasi 0 mg/l... 28
13 Histologi hepatopankreas pada konsentrasi 8,41 mg/l... 28
14 Histologi hepatopankreas pada konsentrasi 14,14 mg/l... 28
15 Histologi hepatopankreas pada konsentrasi 23,77 mg/l... 28
16 Histologi hepatopankreas pada konsentrasi 39,96 mg/l... 28
17 Histologi insang pada konsentrasi 0 mg/l... 28
18 Histologi insang pada konsentrasi 8,41 mg/l... 29
19 Histologi insang pada konsentrasi 14,41 mg/l... 29
20 Histologi insang pada konsentrasi 23,77 mg/l... 29
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1 Hasil pengukuran Alkyl Sulfate dengan metode MBAS ... 43
2 Data mortalitas udang galah selam uji akut... 44
3 Hasil pengamatan tingkah laku udang galah saat uji akut... 46
4 Data sensus bobot udang galah selama 30 hari... 49
5 Analisa data kematian... 52
6 Uji lanjut Duncan... 53
7 Analisa data pertumbuhan... 54
8 Uji lanjut duncan... 55
9 Tabel probit... 56
10 Tabel contoh perhitungan LC50... 56
11 Hasil uji anova... 57
12 Hasil uji asumsi data laju pertumbuhan bobot harian... 59
13 Hasil uji asumsi data kematian... 65
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Udang galah Macrobrachium rosenbergii adalah komoditas perikanan air tawar yang merupakan salah satu kekayaan perairan Indonesia dan banyak dibudidayakan. Selain mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainya juga mempunyai nilai ekonomis penting karena sangat digemari konsumen baik di dalam maupun di luar negeri terutama di Jepang dan beberapa negara Eropa (Anonimous, 2004). Harga udang galah konsumsi ukuran 20–30 ekor/kg di pasar lokal dapat dijual dengan harga Rp35.000,00–Rp50.000,00/kg (Purbani, 2006). Dari produksi total perikanan budidaya secara nasional pada 2004 sebesar 1,48 juta ton, 488.000 ton di antaranya dihasilkan oleh perikanan budidaya air tawar. Produksi perikanan budidaya air tawar masih didominasi oleh komoditas ikan mas (187.000 ton), nila (98.000 ton), lele (56.000 ton), dan patin (24.000 ton), produksi udang galah baru mencapai 290 ton sedangkan permintaannya mencapai 10.500 ton (Purbani, 2006).
Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap udang galah maka perlu diadakan suatu upaya untuk memperluas usaha budidaya. Usaha budidaya yang diharapkan yaitu budidaya yang handal serta manajemen yang efisien. Teknologi budidaya udang galah mencakup tiga komponen utama yaitu teknologi pembenihan, pendederan dan pembesaran. Keberhasilan pembudidayaan udang galah sangat ditentukan oleh faktor lingkungan. Namun pada akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pencemaran lingkungan perairan sehingga dapat menurunkan kualitas air untuk kegiatan budidaya. Salah satu sumber pencemaran perairan berasal detergen yang merupakan limbah rumah tangga maupun industri. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kompas tahun 2007 disebutkan bahwa kuantitas detergen yang diserap pasar mencapai 300.000-400.000 ton per tahun (Anonimous, 2007).
Deterjen adalah suatu bahan kimia organik sintesis yang dapat bereaksi dengan air dan menyebabkan pembentukan busa dan pengaruh lainnya yang memungkinkan untuk membersihkan atau mencuci baik dalam industri maupun untuk tujuan rumah tangga. Detergen umumnya mengandung bahan-bahan yang dapat dikelompokkan menjadi surface- active agent atau surfaktan, builders atau zat pembangun, dan additive substances atau bahan tambahan (Connel dan Miller, 1995).
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar terdapat empat katagori surfaktan yaitu anionik, kationik, nonionik dan amphoterik (Anonim, 2008). Sodium Dodecyl Sulfate atau Sodium Lauryl Sulfate atau Alkyl Sulfate (AS) adalah surfaktan anionik yang biasa digunakan dalam banyak produk untuk keperluan rumah tangga dan industri seperti pada bahan-bahan kebutuhan mandi dan mencuci, alat-alat mandi, kosmetik dan obat-obatan (Berlianti, 2005).
Bahan aktif detergen telah diketahui dapat mengganggu kesehatan hewan dan manusia antara lain gangguan respon imun pada marmot, dapat merusak insang ikan meskipun hanya pada konsentrasi 5 ppm (Rizt et al., 1992 dalam Mukti 2006). Pada manusia dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, kerusakan ginjal dan empedu, selain itu surfaktan anionik dapat menyebabkan gangguan kontraksi pada otot. Menurut Supriyono et al.,(1998) dalam Berlianti (2005) surfaktan C12 LAS yaitu termasuk kedalam surfaktan anionik pada
konsentrasi akut 12 mg/l menyebabkan warna hitam pada insang, fusi dan kondensasi pada ujung filamen insang sekunder, serta nekrosis pada sel epitel insang udang kuruma (Penaeus japonicus). Sedangkan pada konsentrasi 0,75 mg/l bagian-bagian distal dari filamen insang menunjukkan tonjolan dan kebanyakan kasus menjadi atropia. Pada konsentrasi sub kronis 0,042 mg/l surfaktan C12 LAS
menyebabkan tonjolan dan nekrosis pada ujung-ujung filamen insang sekunder, dekromatisasi nukleus dan cluody swelling pada sel epitel insang (Supriyono et
Indonesia mempunyai kekayaan hayati yang bernilai untuk strain udang galah, mulai dari perairan di Sumatera, Kalimantan, Jawa sampai Sulawesi (Ali dan Gunawan, 2008 dalam Putri, 2009). Setiap strain akan mempunyai respon yang berbeda terhadap lingkungannya. Misalnya pada pH asam, udang galah
strain Sulawesi lebih dapat bertahan hidup dan tumbuh dibandingkan udang galah strain jenerik (Putri, 2009). Koeman (1987) menyatakan bahwa kepekaan
terhadap zat beracun dapat sangat bervariasi antara jenis yang satu dengan jenis yang lainya dan antara individu yang satu dengan individu lainnya di dalam satu jenis. Oleh karenanya perlu diadakan suatu penelitian mengenai ketahan strain udang galah yang berbeda terhadap surfaktan detergen Alkyl Sulfate (AS).
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas surfaktan Alkyl Sulfate (AS) terhadap strain udang galah yang berbeda serta menentukan strain yang paling tahan terhadap Alkyl Sulfate.
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Udang Galah
Udang galah Macrobrachium rosenbergii atau dikenal juga sebagai Giant
Freshwater Shrimp merupakan salah satu jenis Crustacea, dari famili
Palaemonidae yang mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya. Klasifikasi udang galah menurut Holithuis (1950) dalam Hadie dan Hadie (1993) adalah sebagai berikut :
Filum : Arthropoda Kelas : Crustacea
Ordo : Decapoda
Famili : Palaemonidae Sub Famili : Palaemoninae Genus : Macrobrachium
Spesies : Macrobrachium rosenbergii
Tubuh udang galah terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala dan dada (cephalothorax), tubuh (abdomen), dan ekor (uropoda). Udang galah mempunyai ciri khusus dibandingkan dengan udang tawarnya lainnya. Ciri-cirinya yaitu (1) kedua kakinya tumbuh dominan, (2) mempunyai rosrtum panjang, langsing dan berbentuk seperti pedang, (3) pada carapas (cangkang) udang muda terdapat garis secara horizontal dan pada badan terdapat bintik hitam, dan (4) tubuh udang galah berwarna biru kehijauan (Suhendra dan Paryono, 2004).
Udang galah mempunyai dua habitat di dalam kehidupannya. Pada stadia larva hidup di air payau, sedangkan setelah menjadi dewasa hidup di air tawar. Daur hidup udang galah dimulai dari telur-telur yang sudah dibuahi dan dierami oleh induknya selama 19–21 hari dan menetas menjadi larva (Ling, 1969 dalam Roslani, 2007). Larva yang baru menetas ini memerlukan air payau sebagai tempat kehidupannya. Apabila larva tidak berada di lingkungan air payau selama 3-5 hari semenjak menetas, maka larva tersebut akan mati (Mulyo, 1987 dalam Roslani, 2007). Apabila larva yang baru menetas itu menemukan lingkungan hidup yang cocok, maka larva akan dapat tumbuh menjadi pasca larva (benih). Untuk mencapai tingkatan pasca larva, larva tersebut harus memenuhi 11 tahap perkembangan larva dan pada setiap tahap terjadi pergantian kulit (moulting) dengan perubahan struktur morfologinya (metamorfosa) (Roslani, 2007).
Frekuensi pergantian kulit pada udang galah galah berbeda-beda tergantung pada umur, jumlah dan kualitas pakan serta lingkungan hidupnya. Biasanya pergantian kulit terjadi setiap 20-40 hari sekali. Udang galah muda pertumbuhannya lebih pesat, sehingga proses pergantian kulitnya juga lebih cepat dibanding udang dewasa (Suhendra dan Paryono, 2004). Pada waktu terjadi pergantian kulit (moulting), udang galah bersifat kanibal atau memangsa sesamanya. Udang yang moulting kondisi tubuhnya lemah sehingga menjadi mangsa udang lainnya yang tidak sedang moulting (Suhendra dan Paryono, 2004).
2.2 Surfaktan Detergen
Deterjen adalah suatu bahan kimia organik sintesis yang dapat bereaksi dengan air dan menyebabkan pembentukan busa dan pengaruh lainnya yang memungkinkan untuk membersihkan atau mencuci baik dalam industri maupun untuk tujuan rumah tangga. Detergen umumnya mengandung bahan-bahan yang dapat dikelompokkan menjadi surface-active agents atau surfaktan, builders atau zat pembangun, dan additive substances atau bahan tambahan (Connel dan Miller, 1995).
Surfaktan, khususnya rantai alkyl C12-C18 mempunyai rantai molekul yang
panjang dimana salah satu ujungnya yaitu kepala berupa polar radikal yang larut dalam air atau hidrofolik, sedangkan ujung lainnya yaitu ekor berupa non polar
hidrokarbon yang tidak larut dalam air atau hidrofobik tetapi larut lemak atau lipofilik. Molekul ini terkonsentrasi pada permukaan yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan untuk memungkinkan partikel pada bahan-bahan yang dicuci terlepas dan mengapung atau terlarut dalam air (Effendi, 2003). Zat pembangun (builders) sebagian besar berupa garam inorganik atau katalis yaitu fosfat dan sodium tripolifosfat yang berfungsi untuk mengefektifkan daya kerja surfaktan, sedangkan bahan tambahan berupa silikat, sodium sulfat, sodium perborat, enzim dan lain-lain (Anonimous, 2008a)
Karakteristik surfaktan adalah adanya dua grup yang memiliki struktur yang tidak serupa dalam satu molekul. Dua grup yang berlawananan dalam surfaktan yaitu hidrofobik (tidak suka air) dan hidrofilik (suka air), lipofobik (tidak suka lemak), dan lipofilik (suka lemak), aleofobik (tidak suka minyak) dan aleofilik (suka minyak), serta lyofobik (tidak suka pelarut) dan lipofylik (suka pelarut). Terminal polar dan non polar digunakan untuk menandakan grup yang terlarut dan tidak terlarut dalam air (Lynn dan Borry, 1997 dalam Berlianti, 2005).
Secara umum surfaktan dikelompokkan berdasarkan pembentukan ionnya dalam air (Swern, 1997 dalam Sufriyani, 2006) yaitu : (1) Surfaktan anionik, merupakan surfaktan yang gugus hidrofiliknya bermuatan negatif (anion), misalnya ester sulfonat dan alkohol sulfate. (2) Surfaktan kationik, merupakan surfaktan yang memiliki gugus hidrofilik berupa ion bermuatan positif (kation), misalnya senyawa amonium kuaterner. (3) Surfaktan nonanionik, merupakan surfaktan yang tidak memiliki muatan pada gugus hidrofiliknya, misalnya alkohol etoksilat dan ester asam lemak-karbohidrat.(4) Surfaktan amfoterik merupakan surfaktan yang memiliki muatan positif sekaligus muatan negatif pada molekul yang sama, seperti pada asam amino.
2.3 Alkyl Sulfate (AS)
Pada kebanyakkan surfaktan anionik, kepala polar yang larut dalam air dapat berupa carboxylate, sulfate, sulfonate, atau phosphate (Linn dan Borry, 1997 dalam Berlianti, 2005). Alkyl sulfate merupakan surfaktan anionik yang umumnya dipakai dalam industri pembuatan shampoo, pasta gigi, obat, kosmetik, dan bahan-bahan keperluan mencuci dan mandi. Alkyl sulfate yang biasa
digunakan dalam produk-produk pasar tersebut biasanya mempunyai rantai alkyl yang panjang, yaitu C12-C18 (Permatasari, 2000).
Penggunaan utama AS yang terdaftar pada HSDB adalah sebagai surfaktan untuk pengemulsi, prosesing logam, detergen dan shampoo, pembius, krim penghilang noda, lotion, obat-obatan, pasta gigi, whipping, dan surfaktan makanan (Nicnas, 2003 dalam Berlianti, 2005). Contoh spesifik lainnya dalam penggunaan AS dilaporkan adalah dalam preparasi sampel darah dalam perhitungan sel darah, elektrophoresis dan pendugaan berat molekul protein, preparasi sampel kandungan serat fibre dalam makanan, karakterisasi kandungan ammonium, industri electroplating (nikel dan zinc), komestik pembersih, food additive
adjuvant dalam insektisida, bahan penghapus varnish dan cat, contoh surfaktan
dalam tes tokditologi pada hewan akuatik dan mamalia (NICAS, 2003 dalam Berlianti, 2005).
Surfaktan AS memiliki banyak struktur dengan nama-nama seperti sodium
lauryl sulfate (SLS), sodium dedocyl sulfate (SDS), sulfuric acid , monodedocyl ester, sodium salt, lauryl sadium sulfate, sodium N-dedocyl sulfate, lauryl sulfate sodium salt, dan lain-lain sampai mencapai lebih 100 sinonim (NICAS, 2003 dalam Berlianti, 2005).
Prat dan Giruad (1961) dalam Connel dan Miller (1995) menyatakan bahwa molekul surfaktan pada batas antar fase udara air dapat mencegah perpindahan oksigen, pengaruh ini bertambah dengan bertambahnya panjang rantai alkyl. Pada gugus alkyl, jenis strukturnya banyak yang berbeda dan terdapat sejumlah informasi yang tersedia mengenai pengaruh jenis struktur ini terhadap biodegradasi sebaiknya gugus alkyl yang berantai lurus relatif mudah didegradasi.
AS pada mamalia seperti tikus, kelinci, dan manusia dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, saluran gastro-intestinal, dan saluran pernafasan. Dalam laporan NICAS (2003) dalam Berlianti (2005) AS tidak bersifat karsinogenik dan genotoksik, tetapi berpengaruh negatif terhadap reproduksi. Sebuah laporan Anonimus (1995) dalam Berlianti (2005) menyatakan bahwa SLS (sodium lauryl
sulfate) dapat menyebabkan efek mutagenik, dan dapat masuk ke tubuh melaui
Pada tikus nilai letal dosis (LD50) SLS adalah 0,8-110 g/Kg. Bahan-bahan
dengan formula yang mengandung 15 % SLS dapat menyebabkan depresi, stress respirasi, diarrhea, dan kematian pada hewan uji. Pada tes akut akular, 10 % SLS menyebabkan kerusakan kornea pada mata kelinci yang disebabkan adanya iritasi. Sedangkan tes akut iritasi kulit, 0,5-10% SLS menyebabkan iritasi kulit, 10-30% SLS menyebabkan iritasi dan korosif pada kulit. Pada manusia, konsentrasi 0,1-10% SLS dapat menyebabkan iritasi kulit. Sebuah riset menunjukkan bahwa SLS dapat memasuki dan meninggalkan residu di jantung, hati, paru-paru, dan otak melalui kontak dari kulit. Selain itu, SLS juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh terutama didaerah sekitar kulit karena adanya denaturasi protein (Journal of The American College of Toxycology, 1983 dalam NHIC, 2003
dalam Berlianti, 2005). Pada mamalia, masuknya SLS ke dalam tubuh dapat
mengganggu kestabilan hormon estrogen yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti menopausal symptoms dan menurunnya fertilitas. SLES (Sodium Laureh Sulfate) memiliki daya iritasi yang lebih rendah dibandingkan SLS, namun SLES tidak dapat dinetralkan dihati sehingga menimbulkan efek yang lebih lama (NHIC, 2003b dalam Berlianti, 2005).
2.4 Pengaruh Surfaktan Detergen terhadap Organisme Perairan.
Pencermaran menyebabkan makhluk hidup melakukan berbagai reaksi, mulai dari pengaruh yang sangat kecil seperti perubahan tingkah laku sampai berkurangnya pertumbuhan dan kematian (Connel dan Miller, 1995).
Dengan banyaknya zat pencermar yang ada di dalam air limbah, maka akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut di dalam air limbah. Dengan demikian akan menyebabkan terganggunya kehidupan biota di dalam air yang membutuhkan oksigen, yang dalam hal ini akan mengurangi perkembangannya bahkan dapat menyebabkan kematian.
Penelitian Abel (1974) dalam Darmono (2003), terhadap ikan zebra (Branchydanio rerio) mendapatkan bahwa pada kondisi normal (tanpa detergen) ikan lebih cepat mengkonsumsi makanan yang diberikan, sedangkan pada kondisi perlakuan (diberi detergen) lebih lambat mengkonsumsi makanan yang diberikan, dikarenakan syaraf penerima rangsangan makanan/kemoreseptor menjadi rusak.
Pengaruh kronis surfaktan detergen pada ikan adalah hilangnya nafsu makan, menganggu respirasi, menghambat pertumbuhan, menghambat perkembangan telur, dan daya hidup larva rendah. Akibat detergen pada kondisi tinggi menyebabkan terjadinya peningkatan frekuensi pernafasan dua sampai tiga kali dari keadaan normal kemudian terjadi kerusakan sistem respirasi, yaitu pada ephitelium insang. Ikan akan kehilangan keseimbangan dan sulit untuk bernafas (Metelev et al., dalam Berlianti, 2005).
Surfaktan dapat memecahkan sel dan dapat berinteraksi dengan protein dan memasuki membran permeabel (Suriyono et al., 1998 dalam Berlianti, 2005) sifat permeabel sel yang terganggu akan menyebabkan proses osmoregulasi dan pertukaran gas juga terganggu (Effendi, 2003). Surfaktan dalam konsentrasi tertentu dapat mendenaturasi protein sehingga akan merusak beberapa sistem enzim dan hormon (Abel, 1974 dalam Berlianti, 2005).
2.5 Perbedaan Strain dan Ketahanannya
Strain adalah ras, keturunan, keluarga (Anonim, 2008b). Pembedaan antar spesies dapat ditentukan dari ciri morfologi. Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar dari suatu organisme. Variasi dapat dipertimbangkan sebagai indikator perbedaan genetik antar spesies, strain, jenis kelamin ataupun populasi (Hadie el al., 2002).
Penentuan strain baru dapat dibedakan berdasrkan lokasi asal ditemukannya dan hasil persilangan. Berdasarkan asal lokasi, Indonesia mempunyai kekayaan hayati yang bernilai untuk strain udang galah, mulai dari perairan di Sumatera, Kalimantan, Jawa sampai Sulawesi (Ali dan Gunawan, 2008
dalam Putri, 2009). Berdasarkan hasil persilangan, strain diperoleh dari
mengawin silangkan antar strain asal lokasi tersebut. Misalnya udang galah GIMacro (Genetics Improvement of Macrobrachium rosenbergii) merupakan hasil perbaikan genetik dari persilangan antara tiga populasi udang galah yang berasal dari Kali Pucang, Tanjung Kait dan Sungai Musi (Trobos, 2006).
Setiap strain akan mempunyai respon yang berbeda terhadap lingkungannya. Misalnya pada pH asam, udang galah strain Sulawesi lebih dapat bertahan hidup dan tumbuh dibandingkan udang galah strain jenerik (Putri, 2009).
Contoh lain adalah ikan lele sangkuriang mempunyai keunggulan yang lebih baik daripada lele dumbo. Lele sangkuriang memiliki fekunditas 33,33 % lebih tinggi dibandingkan lele dumbo dan umur pertama matang gonad yang lebih tua. Pertumbuhan benih lele sangkuriang pada pemeliharaan umur 5-26 hari menghasilkan laju pertumbuhan harian 43,57 % lebih tinggi sedangkan pada pemeliharaan umur 26-40 hari 14,61 % lebih tinggi (Sunarma, 2007).
2.6 Histopatologi
Histologi merupakan ilmu yang mempelajari susunan sel, jaringan atau organ yang menyusun suatu makhluk hidup. Perubahan pada histologi hewan sebenernya dapat menunjukan suatu kejadian atau peristiwa yang sedang atau telah dialami oleh suatu makhluk hidup. Sedangkan Anonim (2000) menjelaskan bahwa histologi adalah badang biologi yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail menggunakan mikroskop pada sedian jaringan yang dipotong tipis. Sedangkan histopatologi adalah ilmu yang mempelajari pengamatan sel, jaringan atau organ makhluk hidup (hewan) di bawah mikroskop untuk melihat diagnosa suatu penyakit. Bidang biologi ini berguna untuk keakuratan diagnosis tumor dan berbagai penyakit lain yang sampelnya memerlukan pemeriksaan histologis. Sinderman (1879) dalam Permana (2009) mengungkapkan bahwa histologi juga dapat digunakan untuk melacak keberadaan bahan toksik dalam perairan.
Berkaitan dengan adaptasi terhadap perubahan kondisi perairan akan menyebabkan perubahan pada histologinya. Perubahan tersebut dapat berupa:
a. Agnesis, pada kondisi ini jaringan/organ tidak terbentuk/absent. Contoh: salah satu ginjal tidak terbentuk saat lahir.
b. Aplasia, ditemukan pada jaringan/organ yang telah terbentuk, tetapi mempunyai ukuran yang terlalu kecil dengan normalnya. Contoh: tidak terbentuknya lumen dari usus. Penyebabnya dapat karena faktor hereditas, kematian sel pada stadium embrional atau keracunan obat atau bahan toksik dalam air.
c. Hipoplasia (pertumbuhan yang tidak sempurna): keadaan yang ditemukan pada organ atau bagian terentu dari tubuh yang gagal untuk berkembang sampai mencapai ukuran/struktur normalnya. Penyebabnya hampir sama
dengan Aplasia dan dapat pula disebabkan oleh gangguan aliran darah ke jaringan yang terkena.
d. Atrofi, suatu penurunan dalam jumlah/ukuran dari jaringan tertentu yang telah mencapai pertumbuhan dan ukurannya yang normal. Penyebab: gangguan pemberian makanan ke daerah yang terserang. Gangguan inervasi syaraf/pembuluh darah, nekrosis, dan adanya tekanan dalam tubuh.
e. Hipertropi, merupakan adanya peningkatan pada komponen sel dalam jaringan atau sel. Ini biasanya terjadi pada sel-sel yang tidak dapat membelah.
f. Hyperplasia, merupakan penambahan jumlah sel dalam jaringan dan ini terjadi pada jaringan atau organ yang tidak pernah normal.
g. Nekrosis, merupakan jenis kematian sel irevesibel yang terjadi ketika terdapat luka berat atau lama hingga suatu saat sel tidak dapat beradaptasi atau memperbaiki diri.
2.7 Kualitas Air
Kualitas air didefinisikan sebagai kelayakan suatu perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme akuatik yang nilainya dinyatakan dalam kisaran tertentu (Boyd, 1982). Adapun beberapa parameter kualitas air yang mempengaruhi kehidupan organisme perairan antara lain suhu, oksigen terlarut, nilai pH, kesadahan, alkanitas, dan amonia.
2.7.1 Suhu
Suhu air merupakan variabel lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan, reproduksi, dan kelarutan gas-gas pada lingkungan perairan. Suhu juga berpengaruh terhadap nafsu makan organisme perairan (Wardoyo, 1975
dalam Mukti, 2006).
Umumnya toksisitas bahan pencemar akan bertambah dengan meningkatnya suhu. Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu akan mempercepat reaksi kimia yang terjadi di dalam air. Swedmark et al., (1971)
marrhua dan beberapa invertebrata laut lebih besar pada suhu 15-170C daripada suhu 6-80C pada LC50-96 jam.
Kecepatan respirasi dan metabolisme organisme air juga memperlihatkan peningkatan dengan naiknya suhu yang selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Peningkatan 100C suhu peraiaran dapat meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 2-3 kali lipat. Peningkatan suhu ini diikuti dengan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam perairan, sehingga keberadaan oksigen di perairan kadangkala tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen untuk organisme akuatik dalam hal ini melakukan proses metabolisme dan respirasi (Effendi, 2003). Menurut Hadie (1985) suhu optimal bagi perkembangan hidup udang galah adalah berkisar 29-310C. Pada kisaran tersebut konsumsi aksigen cukup tinggi sehingga nafsu makan udang tinggi dan pada suhu dibawah 200C nafsu makan udang menurun (Wardoyo, 1997 dalam Mukti,2006).
2.7.2 Oksigen Terlarut
Oksigen adalah salah satu gas yang ditemukan larut dalam air. Kadar oksigen terlarut di perairan alami bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan dari atmosfir. Kadar oksigen berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, ketingian dan berkurangnya tekanan atmosfir.
Kadar oksigen terlarut di perairan untuk pertumbuhan yang normal bagi udang yaitu berada pada kisaran 4-7 mg/l (Saprillah, 2000 dalam Mukti, 2006). Lebih lanjut dinyatakan bahwa udang telah memperlihatkan gejala abnormal, dengan berenang kepermukaan pada kadar oksigen terlarut 2,1 mg/l pada suhu 300C, dan pada kadar 3 mg/l walaupun tidak memperlihatkan gejala abnormal tetapi masih dibawah kondisi optimum, sehingga dalam jangka panjang akan mempengaruhi laju pertumbuhan udang. Boyd (1982) menyatakan bahwa, kandungan oksigen terlarut yang dapat menunjang kehidupan udang secara normal dan baik untuk pertumbuhan adalah 5 mg/l sampai konsentrasi jenuh. Lebih lanjut dinyatakan bahwa untuk kandungan oksigen terlarut yang kurang dari 1 mg/l dapat menyebabkan kematian jika berlangsung selama beberapa jam dan untuk kisaran oksigen terlarut antara 1-5 mg/l akan menganggu pertumbuhan jika berlansung secara terus-menerus. Menurut Hynes (1974) dalam Mukti (2006) menyatakan bahwa pada perairan yang mengandung detergen, suplai oksigen
secara difusi dari udara sangat lambat sehingga kadar oksigen di dalam perairan menurun.
2.7.3 Nilai pH
Perairan dengan kandungan pH sebesar 5-9 dapat menunjang kehidupan organisme perairan secara normal (Boyd, 1982). Perubahan nilai pH berpengaruh terhadap laju reaksi kimia serta tekanan osmosis yang terjadi diperairan dan tubuh udang (Wardoyo, 1997 dalam Mukti, 2006). Menurut Wardoyo (1997) dalam Mukti (2006), nilai pH yang ideal untuk udang berkisar 6,8-9, sedangkan pH air dengan kisaran antara 4,5-6 dan 9,8-11 dapat menyebabkan terganggunya metabolisme udang. Lebih lanjut dinyatakan, bahwa pada pH < 4,0 dan >11,0 dapat menyebabkan kematian pada udang. Kandungan nilai pH juga berkaitan dengan karbondioksida dan alkalinitas (Effendi, 2003).
2.7.4 Kesadahan
Kesadahan adalah gambaran kation logam divalen (valensi dua) (Effendi, 2003). Swingle (1968) dalam Mukti (2006) menyatakan bahwa kesadahan yang kurang dari 15 mg/l CaCO3 equivalen, akan menyebabkan pertumbuhan
organisme perairan menjadi lambat dan bahkan akan menyebabkan kematian. Kesadahan yang berkisar antara 20-150 mg/l CaCO3 ekuivalen dalam perairan
merupakan yang baik untuk menunjang kehidupan organisme perairan (Lelono, 1986 dalam Mukti, 2006). Daya racun ABS akan meningkat pada periaran yang memiliki kesadahan yang tinggi, sedangkan sodium lauryl sulfate akan meningkat pada kesadahan yang rendah (Henderson et al., dalam Abel, 1974 dalam Mukti, 2006).
2.7.5 Alkalinitas
Alkalinitas adalah konsentrasi total dari unsur basa-basa yang terkandung dalam air dan biasa dinyatakan dalam mg/l atau setara dengan kalsium karbonat (CaCO3) (Kordi dan Tancung, 2007 dalam Putri, 2009). Konsentrasi total
alkalinitas erat hubungannya dengan total kesadahan air. Karena kesadahan atau konsentrasi ion-ion logam bervalensi 2 seperti Ca2+ dan Mg2+ dipasok dari lapisan tanah dengan HCO3- dan CO32- yang merupakan unsur pembentuk total
alkalinitas. Menurut Zaidi (2007) dalam Putri (2009), total alkalinitas tidak boleh lebih dari 180 mg/l CaCO3.
2.7.6. Amonia
Amonia-nitrogen di dalam perairan terdapat dalam bentuk terionisasi dan tidak terionisasi (anionik) (Boyd, 1982). Amonia anionik adalah toksik bagi ikan dan daya toksiknya meningkat sejalan dengan menurunnya kadar oksigen terlarut. Spotte (1970) dalam Mukti (2006) menyatakan bahwa selain oksigen terlarut, pH air juga mempengaruhi daya racun amonia nitrogen (NH3-N) terhadap ikan, yaitu
toksisitas NH3-N meningkat sejalan dengan meningkatnya pH air.
Dalam pemeliharaan udang galah, menurut New (2002) dalam Putri, 2009 total amonia tak terionisasi (NH3-N) tidak boleh melebihi 0,3 mg/l. Pengaruh
langsung dari kadar amonia tinggi yang belum mematikan ialah rusaknya jaringan insang, yaitu lempeng insang membengkak sehingga fungsinya sebagai alat pernapasan akan terganggu selanjutnya dalam keadaan kronis ikan dan udang tidak lagi hidup normal (Kordi dan Tancung, 2007 dalam Putri, 2009).
III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanankan pada bulan Juni 2009 sampai dengan Agustus 2009. Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Lingkungan dan Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
3.2 Metode Penelitian
3.2.1 Prosedur Penentuan Kurva Standar Alkyl Sulfate (AS)
Pembuatan kurva standar ini bertujuan untuk mencari hubungan antara absorban yang terukur dengan konsentrasi AS yang dianalisa menggunakan metode MBAS (Methylen Blue Active Substances) sehingga mempermudah pada saat pengukuran kadar perlakuan, yaitu dengan memasukkan ke dalam persamaan linear yang terbentuk.
Menurut APHA (1975) dalam Berlianti (2005), prosedur kerja metode MBAS adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan larutan stok AS
AS ditimbang 0,05 g, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukuran 50 ml dan ditambahkan akuades sampai tanda tera, lalu dikocok supaya melarut. Stok AS disimpan dalam suhu ruangan dan tidak terkena cahaya. Stok yang dibuat harus digunakan dalam waktu sebelum 12 jam penggunaan. Kemurnian AS adalah 98 %.
2. Pembuatan larutan standar
Larutan stok AS diambil 1 ml dan ditempatkan pada labu ukur 100 ml, kemudian ditambahkan akuades sampai tanda tera. Larutan dikocok supaya melarut.
3. Pembuatan reagen MB
MB sebanyak 100 mg dilarutkan dalam 100 ml akuades, lalu diambil sebanyak 30 ml dan dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 ml. Kemudian ditambahkan 500 ml akuades, 6,8 ml H2SO4 pekat, 50 g NaH2PO4H2O.
Larutan ini dikocok sampai tercampur kemudian diencerkan sampai 1000 ml.
4. Pembuatan larutan pencuci
Sebanyak 6,8 ml H2SO4 pekat ditambahkan ke dalam 500 ml akuades di
dalam labu ukur 1000 ml lalu ditambah 50 g NaH2PO4H2O dan dikocok
sampai tercampur, kemudian diencerkan sampai 1000 ml. 5. Prosedur kerja MBAS
Larutan standar dimasukkan kedalam labu pemisah (separatory funnel) masing-masing sebanyak 1, 5, 9, 13, dan 20 ml. Kemudian masing-masing larutan standar tersebut diencerkan dengan akuades sampai 50 ml. Lalu ditetesi dengan indikator phenol pthalin (pp) 1 tetes dan NaOH 1 N sebanyak 1 tetes. Setelah itu ditambahkan H2SO4 1 N hingga berubah
warna dari merah muda menjadi bening. Selanjutnya ditambahkan 5 ml kloroform dan reagen MB 12,5 ml. Kemudian dikocok selama 30 detik dan didiamkan hingga terjadi pemisahan dimana klorofom akan berada dibagian bawah. Kemudian klorofom tersebut dialirkan ke dalam labu pemisah kedua. Metode ini dilakukan sampai 3 kali dengan menggunakan 5 ml klorofom.
Hasil ekstraksi dengan klorofom pada labu pemisah pertama dicampurkan ke dalam labu pemisah kedua. Kemudian ditambahkan 25 ml larutan pencuci dan dikocok selama 30 detik. Didiamkan sebentar sampai terjadi pemisahan, kemudian ekstraksi klorofom dialirkan kedalam labu ukur 50 ml dengan menggunakan corong yang telah dilapisi glass wool sebagai penyaring. Ekstraksi larutan pencuci dilakukan sebanyak dua kali dengan menggunakan 5 ml klorofom kedalam labu ukur tadi. Selanjutnya glass wool yang terdapat dicorong dibilas dengan klorofom yang dialirkan ke labu ukur tadi sampai tada tera dan nilai absorbannya dapat diketahui dengan pengukuran ke spektofotometer pada panjang gelombang 625 nm.
3.2.2 Uji Mencari Nilai Kisaran (Range Finding Test)
Uji mencari nilai kisaran ini dilakukan untuk mencari dan menentukan kadar ambang atas dan ambang bawah yang digunakan dalam uji toksisitas (akut) terhadap udang galah. Kadar ambang atas adalah kadar yang menyebabkan
kematian hewan uji relatif lebih dari 95 % hewan uji dalam waktu dedah tertentu sedangkan ambang bawah adalah konsentrasi yang menyebabkan kelangsungan hidup hewan uji relatif lebih dari 95 % dalam waktu dedah tertentu.
Uji mencari nilai kisaran dapat dilakukan dengan cara memasukkan 10 ekor udang galah dalam akurium berisi 4 liter air yang telah diaerasi beberapa hari sebelumnya, dan ketika sedang dilakukan uji air media tidak diaerasi lagi. Konsentrasi AS yang digunakan adalah 0; 4; 14; dan 34 mg/l. Ganti air dilakukan sebanyak 100 % setiap 12 jam. Untuk pengamatan udang yang mati dilakukan pada jam ke 0, 2, 4, 6, 12, 24 dan seterusnya 24 jam hingga jam ke-96.
Dari nilai mortalitas yang didapat melalui uji mencari nilai kisaran dapat diketahui ambang atas dan ambang bawah yang dapat menentukan kisaran konsentrasi pada toksisitas (akut).
3.2.3 Uji Akut
Uji akut bertujuan untuk mengetahui kemampuan larutan AS dalam hal mematikan hewan uji. Toksisitas bahan uji dinyatakan dalam Median Lethal
Concentration (LC50), yaitu kadar bahan uji yang mematikan 50 % hewan uji
selama waktu dedah tertentu.
Uji akut dilakukan dengan menggunakan empat kadar bahan uji dalam selang ambang atas dan ambang bawah yang diperoleh dari persamaan (1) dan (2) serta satu perlakuan sebagai kontrol (kadar bahan uji 0 mg/l). Setiap perlakuan diulang dua kali. Persamaan (1) dan (2) adalah persamaan yang biasa digunakan untuk mencari nilai tertentu dalam interval geometris. Adapun persamaannya adalah :
Log N/n = k (log a/n)………..(1) a/n = b/a = c/b = d/c………(2) Dimana :
N = Konsentrasi ambang atas n = Konsentrasi ambang bawah
k = Jumlah interval konsentrasi yang di uji antara konsentrasi ambang atas dan ambang bawah
Dengan menggunakan persamaan (1) diperoleh kadar terkecil (a mg/l). Selanjutnya dapat diperoleh nilai kadar berturut-turut sebesar b, c, dan d mg/l dengan menggunakan persamaan (2).
Pada uji ini akuarium diisi air tandon dan larutan AS berdasarkan konsentrasinya yaitu 0; 8,41; 14,14; 23,77; 39,96 mg AS/l. Setelah itu baru dimasukkan udang galah sebanyak 10 ekor dengan masing-masing dua kali ulangan. Pengamatan dilakukan pada jam ke 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 24, 36, 48, 60, 72, 84 dan 96 setelah hewan uji dimasukkan ke dalam wadah uji. Dalam uji ini diamati tingkah laku dan mortalitas post larva udang galah.
Ganti air dilakukan sebanyak 100 % dengan selang waktu 12 jam. Sampel air diambil satu kali sebelum dan sesudah ganti air selama uji akut berlangsung. Selama uji akut udang tidak diberi makan.
3.2.4 Pemeliharaan Pasca Uji Akut
Pemeliharaan pasca uji akut yaitu pemeliharaan udang galah pasca uji akut pada media air biasa. Pemeliharaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan surfaktan pada uji akut terhadap pertumbuhan post larva udang galah.
Pemeliharaan ini dilakukan selama 30 hari pada udang yang telah terpapar surfaktan pada saat uji akut. Selama pemeliharaan udang diberi pakan pellet dengan kadar protein 30 % secara at satiation. Sampling pertumbuhan dan pengukuran kualitas air dilakukan pada hari ke 0, 10, 20 dan 30. Pada akhir pemeliharaan dilakukan pembuatan preparat untuk uji histopatologi.
3.3 Parameter
3.3.1 Mortalitas (Derajat Kematian)
Mortalitas post larva adalah persentase dari perbandingan antara jumlah udang galah yang mati dengan jumlah udang galah yang diamati. Menurut Effendi, 1979 dalam Berlianti, 2005 mortalitas didapatkan dengan rumus berikut :
Mortalitas = Jumlah udang yang mati x 100 % Jumlah total udang yang diamati
3.3.2 Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Pengukuran bobot udang dilakukan per ekor dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,01 g. Pengamatan dilakukan setiap 10 hari. Laju pertumbuhan harian dihitung dengan menggunakan rumus :
Keterangan : α = Laju pertumbuhan harian (%)
Wt = Bobot rata-rata udang pada saat akhir (g) Wo = Bobot rata-rata udang pada saat awal (g) t = Lama pemeliharaan (hari)
(Zonnevelt et al., 1991 dalam Putri 2009)
3.3.3 Tingkah Laku
Pengamatan tingkah laku dilakukan pada saat uji akut dengan membandingkan tingkah laku antara udang pada akuarium perlakuan dengan udang pada akuarium kontrol. Pengamatan dilakukan dengan melihat aktivitas udang, cara udang berenang, dan posisi udang pada kolom air.
3.3.4 Kualitas Air
Parameter kualitas air media uji ditera dengan cara disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Parameter kualitas air media uji, alat yang digunakan dan cara
peneraannya.
Parameter Alat Cara Peneraan
Suhu (0C) Termometer Pembacaan skala
DO (mg/l O2) DO- meter Pembacaan skala
Kesadahan (mg/l CaCO3) Peralatan titrasi Metode titrimetrik
pH PH-meter Pembacaan skala
NH3 (mg/l NH3) Spektofotometer Metode Phenate
Alkalinitas Peralatan titrasi Metode titrimetrik
Residu Surfaktan (mg/l) Spektofotometer Metode MBAS
3.4 Analisis Data
Metode yang digunakan untuk analisis data hasil pengujian toksisitas untuk menentukan LC50 dilakukan dengan metode analisa probit (Finney, 1971 dalam
1. Data perlakuan, jumlah udang galah yang di uji dan jumlah kematian kumulatif udang galah disusun dalam suatu daftar dan data perlakuan (kadar) ditransformasikan ke dalam logaritma, apabila diperoleh nilai transformasi yang negatif maka kadar ditambah n.
2. Bila terdapat kematian pada kontrol, dan harus dikoreksi dengan rumus Aboot berikut ini : Ai = X 100%
Dimana : Ai = Persentase kematian setetelah dikoreksi A = Persentase kematian tercatat pada perlakuan C = Persentase kematian tercatat pada kontrol
3. Nilai probit empiris ditentukan dari angka mortalitas setelah dikoreksi dengan menggunakan tabel transformasi probit Blis dalam Finney (1971)
4. Probit harapan, ditentukan dengan memplotkan nilai-nilai probit empiris terhadap logaritma kadar kemudian dicari persamaan regresinya.
5. Probit kerja (Y) dan koefisien bobot ditentukan dengan menggunakan Tabel koefisien bobot dan nilai-nilai probit. Dengan menggunakan rumus :
Y = Yo + KP Dimana : Y = Probit kerja K = Probit kerja P
Yo= Faktor Probit kerja Yo P = Persentase kematian
6. Nilai bobot (w) ditentukan dengan mengalikan koefisien bobot dengan jumlah hewan uji yang mati.
7. Tentukan nilai wx, wy, wx2, wy2 dan wxy serta menghitung nilai-nilai dari :
x = y =
b =
Dimana : x = Peubah bebas dalam pencarian nilai LC50
y = Peubah tak bebas dalam pencarian nilai LC50
b = intersep
8. Hubungan mortalitas hewan uji (dalam probit y) dan kadar (dalam logaritma x) diduga oleh persamaan regresi garis dengan rumus :
y = (y – bx) + bx
9. Untuk koreksi, dihitung nilai y. Apabila nilai y dengan probit harapan selisihnya kurang dari 0,2 maka perhitungan sudah benar.
10. Nilai x dihitung dengan memasukkan y = 5 dalam persamaan garis regresi diatas. Antilog nilai x adalah LC50.
11. untuk penentuan ambang atas dan ambang bawah dilakukan berdasarkan metode Finney (1971) :
m1 = m- 1,96V m2 = m + 1,96V
Dimana : Antilog m1. Nilai konsentrasi ambang bawah LC50
Antilog m2. Nilai konsentrasi ambang atas LC50
3.5 Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial). Data mortalitas dan laju pertumbuhan bobot harian dianalisis dengan anova dan jika berbeda maka dilakukan uji lanjut menggunakan uji Duncan mengunakan SAS 9.1 dan Minitab 14.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Kurva Standar
Berdasarkan percobaan yang dilakukan untuk mendapatkan nilai kurva standar, didapatkan bahwa semakin besar konsentrasi AS dalam akuades maka nilai absorban methylene blue terukur semakin tinggi. Kurva standar AS dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Grafik kurva standar Alkyl sulfate
Berdasarkan nilai absorban methylene blue pada Gambar 2 didapatkan nilai persamaan linear Y= 0,072x+0,257. Persamaan linear ini digunakan untuk mengukur konsentrasi residu surfaktan pada saat uji akut
4.1.2 Uji Mencari Nilai Kisaran (Range Finding Test)
Berdasarkan percobaan mencari nilai kisaran, didapatkan bahwa pada konsentarsi terendah yaitu 4 mg/l terjadi kematian sebesar 0 %, sedangkan konsentrasi tertinggi yaitu 34 mg/l terjadi kematian sebesar 99 %. Dari data tersebut diambil nilai konsentrasi AS dengan nilai ambang bawah 5 mg/l dan ambang atas 40 mg/l untuk menjadi nilai ambang pada saat uji akut. Dari nilai ambang bawah dan ambang atas tersebut maka didapatkan nilai-nilai konsentrasi AS untuk uji akut yaitu 8,41 mg/l; 14,14mg/l; 23,77 mg/l; dan 39,96 mg/l. Untuk contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 14.
4.1.3 Uji Akut
Berdasarkan uji akut yang dilakukan, ditemukan bahwa derajat kematian udang galah hybrid, udang galah Sukabumi dan udang galah Kalimantan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentasi AS.
4.1.3.1 Mortalitas
Hasil pengamatan mortalitas selama uji akut 96 jam pada udang galah hybrid, udang galah Sukabumi dan udang galah Kalimantan ditunjukkan pada Gambar 3 dan Tabel 2.
Gambar 3 Mortalitas udang galah pada uji akut 96 jam
Tabel 2 Mortalitas udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan strain Kalimantan saat uji akut
Konsentrasi
Mortalitas (%)
Hybrid Sukabumi Kalimantan
0 mg/l 5±7,1 a x 0±0 a x 0±0 a x
8,41 mg/l 0±0 a x 0±0 a x 0±0 a x
14,14 mg/l 5±7,1 a x 5±7,1 a x 25±35,4 a x
23,77 mg/l 70±28,3 b x 20±14,1 b x 80±0 b x
39,96 mg/l 80±28,3 b x 55±35,4 b x 80±0 b x
Keterangan : nilai yang diikuti oleh huruf superscript yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05).
Hasil uji Duncan memperlihatan bahwa tingkat kematian pada konsetrasi AS 23,77 mg/l dan 39,96 mg/l memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap
kontrol (0 mg/l). Namun perbedaan strain udang galah tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05).
Pengamatan tingkat kelangsungan hidup udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan strain Kalimantan jam ke 24, 48, 72 dan 96 pada konsentrasi 14,14 mg/l, 23,77 mg/l dan 39,96 mg/l dapat dilihat pada Gambar 4, 5 dan 6.
Gambar 4 Pengamatan SR pada konsentrasi AS 14,14 mg/l
Gambar 5 Pengamatan SR pada konsentrasi AS 23,77 mg/l
Gambar 6 Pengamatan SR pada konsentrasi 39,96 mg/l
Berdasarkan analisa probit (Finney, 1971) pada Gambar 7 didapatkan nilai LC50 strain Hybrid dan strain Sukabumi pada jam ke 96 masing-masing adalah
34,67 mg/l dan 57,54 mg/l. Sedangkan LC50 strain Kalimantan pada jam ke 24,
48, 72 dan 96 berturut-turut yaitu 87,90 mg/l, 37,49 mg/l, 29,44 mg/l dan 28,18 mg/l.
Gambar 7 Grafik nilai LC50 AS pada jam pengamatan tertentu
4.1.3.2. Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diamati pada uji akut 96 jam ini meliputi suhu, kandungan oksigen terlarut, pH, kesadahan, alkalinitas, amoniak dan residu Alkyl
sulfate untuk strain hybrid, Sukabumi dan Kalimantan. Pengukuran semua
parameter kualitas air ini dilakukan sebelum dan sesudah ganti air pada saat uji akut. Hasil pengamatan terhadap parameter kualitas air dapat dilihat pada Tabel 3 dan grafik seperti pada Gambar 8, 9 dan 10.
Tabel 3 Parameter kualitas air pada uji akut 96 jam
Parameter Hybrid Sukabumi Kalimantan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Suhu (0C) 25,9-26,3 25,6-26,3 26,2-26,8 26,2-26,2 26,2-26,8 26,2-26,6 DO (mg/l) 4-6,5 5,6-6,3 4-5,4 5,3-5,5 3,64-6,83 7,12-7,34 pH 6,25-7,39 6,9-7,7 6,6-7,05 7,19-7,44 6,78-7,18 6,78-7,18 Kesadahan (mg/l CaCO3) 30,55-39,28 26,18-39,28 30,55-39,28 30,55-39,28 30,55-39,28 30,55-39,28 Alkanititas (mg/l CaCO3) 8-16 8-16 8-20 8-20 8-16 16-20 Amonia (mg/l) 0,001-0,0033 0,0007-0,0063 0,0002-0,0018 0,003-0,01 0,0002-0,008 0,0005-0,007
Gambar 8 Residu AS pada media strain hybrid
Gambar 9 Residu AS pada media strain Sukabumi
Gambar 10 Residu AS pada media strain Kalimantan
4.1.4 Kondisi Udang Galah Pasca Uji Akut pada Media Tanpa Alkyl Sulfate Kondisi udang galah pasca uji akut per perlakuan ditujukan melalui pengamatan parameter laju pertumbuhan bobot harian, histopatologi insang dan hepatopankreas.
4.1.4.1 Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh data mengenai laju pertumbuhan bobot harian (%) udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan
strain Kalimantan yang ditujukkan pada Gambar 11 dan Tabel 4.
Gambar 11 Laju pertumbuhan bobot harian udang galah
Tabel 4 Pertumbuhan udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan strain Kalimantan selama 30 hari
Konsentrasi
Pertumbuhan (%)
hybrid Sukabumi Kalimantan
0 mg/l 6,99±0,27a x 6,91 ± 0,97a x 5,12 ± 0,89a x 8,41 mg/l 5,19±0,10ab x 6,59 ± 1,22ab x 4,68 ± 0,46ab x 14,14 mg/l 5,15±1,50ab x 5,74 ± 0,42ab x 4,62 ± 0,51ab x 23,77 mg/l 5,59±1,74b x 5,91 ± 1,48b x 3,37 ± 0,97b x 39,96 mg/l 1,40±0,00b y 4,47 ± 0,09b x 3,40± 0,00b x Keterangan : nilai yang diikuti oleh huruf superscript yang sama menunjukkan tidak ada
perbedaan yang nyata (P>0,05).
Pertumbuhan bobot harian pada udang galah pada strain hybrid, strain Sukabumi dan strain Kalimantan dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil uji Duncan memperlihatkan bahwa perlakuan konsentrasi AS 23,77 mg/l dan 39,96 mg/l memberikan pengaruh yang nyata. Pada perlakuan konsentrasi AS 39,96 mg/l
perbedaan strain memberikan pengaruh yang nyata. Namun pada konsentrasi lainya perbedaan strain tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05).
4.1.4.2 Histologi
Hasil pengamatan histopatogi hepatopankreas dan insang dapat dilihat pada Gambar 12-21.
Gambar12 Histologi hepatopankreas Gambar13 Histologi hepatopankreas
pada konsentrasi AS 0 mg/l pada konsentrasi AS 8,41 mg/l
Gambar 14 Histologi hepatopankreas pada Gambar 15 Histologi hepatopankreas
konsentrasi AS 14,41 mg/l pada konsentrasi AS 23,77 mg/l
Gambar 16 Histologi hepatopankreas pada Gambar 17 Histologi insang pada konsentrasi AS 39,96 mg/l konsentrasi AS 0 mg/l c d 10μm 10μm 10μm 10μm 10μm 10μm a b
Gambar 18 Histologi insang pada Gambar 19 Histologi insang pada konsentrasi AS 8,41 mg/l konsentrasi AS 14,14 mg/l
Gambar 20 Histologi insang pada Gambar 21 Histologi insang pada konsentrasi AS 23,77 mg/l konsentrasi AS 39,96 mg/l
Keterangan :
a : Edema = suatu akumulasi cairan yang abnormal di dalam rongga- rongga tubuh atau didalam ruang-ruang interstitial dari jaringan dan organ.
b : Edema = suatu akumulasi cairan yang abnormal di dalam rongga- rongga tubuh atau didalam ruang-ruang interstitial dari jaringan dan organ.
c : hipertropi = bertambahnya ukuran atau volume dari suatu bagian tubuh karena suatu peningkatan ukuran dari sel-sel individu. d : lyisis = pecahnya sel
e : deskuamasi = terlihat dengan epitel insang yang lepas dari organ.
f : telangiektasis = terlihat pada ujung lamela sekunder yang membesar dan membulat sehingga terlihat seperti gelembung balon.
g : hipertropi = bertambahnya ukuran atau volume dari suatu bagian tubuh karena suatu peningkatan ukuran dari sel-sel individu. h : hyperplasia = lamela sekunder insang yang mengalami penebalan
I : hipertropi = bertambahnya ukuran atau volume dari suatu bagian tubuh karena suatu peningkatan ukuran dari sel-sel individu.
f g h 10μm 10μm 10 μm 10μm e i
4.1.4.3. Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur selama pemeliharaan meliputi suhu, kandungan oksigen terlarut, pH, kesadahan, alkalinitas, dan TAN untuk strain
hybrid, Sukabumi dan Kalimantan. Pengukuran semua parameter kualitas air ini
dilakukan setiap 10 hari sekali. Hasil pengukuran terhadap parameter kualitas air disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Parameter kualitas air selama penelitian
Parameter
Kualitas air
strain hybrid strain Sukabumi strain Kalimantan
Suhu (0C) 27,1-28,4 27,6 - 29,1 27,1-28,1 DO (mg/l) 5,5-8,22 5,43-7,30 6,22-8,80 pH 7,45-7,83 7,57-7,54 6,94-8,2 TAN 0,075-0,08 0,15-0,16 0,18-0,6 Kesadahan (mg/l CaCO3) 119-134 186-223 179-216 Alkanitas (mg/l CaCO3) 14-26 18-40 24-48
4.2 Pembahasan 4.2.1 Uji Akut 4.2.1.1 Mortalitas
Uji akut adalah uji tunggal yang dilakukan atas suatu zat kimia yang ada kaitannya dengan kepentingan biologi (Loomis, 1978). Uji akut terdiri atas pemberian suatu zat kimia kepada hewan uji dalam waktu yang relatif pendek dengan dosis atau kadar yang relatif tinggi. Sebagian besar penelitian ini dirancang untuk menentukan dosis letal median (LC50) toksikan. LC50
didefinisikan sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik diharapkan akan membunuh 50 % hewan uji. Pengujian ini juga dapat menunjukan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya, serta memberikan petunjuk tentang dosis yang sebaikanya digunakan dalam pengujian yang lebih lama (Lu, 2006).
Hasil uji akut pemaparan Alkyl sulfate (AS) selama 96 jam terhadap tingkat kematian udang galah strain hybrid, strain Sukabumi dan strain Kalimantan pada Tabel 1 didapatkan bahwa tingkat kematian (MR) udang galah terendah yaitu pada konsentrasi AS 0 mg/l untuk strain hybrid sebesar 5±7,1 %;
strain Sukabumi 0±0 % dan strain Kalimantan 0±0 %. Sedangkan yang tertinggi
yaitu pada konsentasi 39,96 mg/l untuk udang galah strain hybrid sebesar 80 ±28,3 %; strain Sukabumi 55±35,4 %; dan strain Kalimantan 80±0%. Berdasarkan analisis statistik diperoleh bahwa konsentrasi 23,77 mg/l dan 39,96 mg/l memberikan pengaruh yang nyata terhadap kontrol namun perbedaan strain tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat kematian (P>0,05), meskipun demikian strain Sukabumi memiliki kecenderungan lebih tahan dibandingankan strain hybrid dan strain Kalimantan.
Pengukuran nilai kematian dengan mengukur nilai LC50-96 jam seringkali
digunakan untuk mencari tingkatan aman dari kontak dengan racun, misalnya 1% dari nilai LC50-jam, yang dapat berfungsi sebagai kriteria kualitas air untuk racun
(Connel dan Miller, 1995). Berdasarkan hasil pengamatan, besarnya nilai LC50-96
jam pada strain hybrid adalah 34,67 mg/l dengan ambang bawah 33,48 mg/l dan ambang atas 35,88; strain Sukabumi 57,54 mg/l dengan ambang bawah 56,32 mg/l dan ambang atas 58,75, strain Kalimantan 28,18 mg/l dengan ambang bawah 26,97 mg/l dan ambang atas 29,39 mg/l.
Perbedaan nilai LC50 pada masing-masing strain sesuai dengan pernyataan
Carlson (1987) bahwa setiap strain akan memiliki respon yang berbeda terhadap polutan atau zat toksik. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Clemens
et al.(1979); Hill et al. (1975) dalam Carlson (1987) didapatkan bahwa toksisitas
kloroform empat kali lebih resisten pada tikus strain C57BL/6J dibandingkan dengan tikus strain DBA/2J. Hal ini disebabkan karena kerja dari salah satu gen
intermediate inheritance atau multifactorial genetic control over chloroform toxicity (Carlson, 1987).
Kelenturan fenotif adalah kemampuan suatu individu atau genotif untuk menghasilkan lebih dari satu alternatif bentuk morfologi, status fisiologis dan atau tingkah laku sebagai respon terhadap perubahan kondisi lingkungan (West-Eberhard, 1989; Noor, 1996 dalam Hadie et al., 2004). Sultan (1987) dan Taylor & Aarssen (1988) dalam Hadie et al., (2004) mendefinisikan kelenturan fenotip sebagai variasi ekspresi fenotip dari suatu genotip sebagai respon terhadap kondisi lingkungan tertentu, dan dapat meningkatkan kemampuan individu untuk tetap bertahan hidup dan bereproduksi pada kondisi lingkungan tersebut. Udang galah
strain Sukabumi diduga telah meiliki kelenturan fenotip yang tinggi karena
berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan strain ini memilki ketahan yang lebih tinggi terhadap paparan surfaktan AS dibandingkan dengan udang galah
strain lainnya yaitu hybrid dan strain Kalimanatan. Koeman (1987) menyatakan
bahwa kepekaan terhadap zat beracun dapat sangat bervariasi anatara jenis yang satu dengan jenis yang lainya dan antara individu yang satu dengan individu lainnya di dalam satu jenis. Pada umumnya hal ini didasarkan pada perbedaan yang mendasar dalam anatomi dan fisiologi jenis dan pada variabilitas dalam sifat keturunan dan kondisi individu dalam satu jenis. Selain itu hal ini diduga udang galah strain Sukabumi memiliki daya adaptasi genetik. Sebagaimana diketahui bahwa perairan di pulau Jawa termasuk perairan Pelabuhan Ratu memiliki tingkat pencemaran yang tinggi dibandingkan dengan perairan yang ada di Sulawesi maupun Kalimantan. Connel dan Miller (1995) menyatakan bahwa dalam sistem yang tercemar, makhluk hidup terseleksi terhadap toleransi, yang dapat menyebabkan adaptasi genetik. Setelah beberapa waktu dengan generasi selanjutnya yang menjadi lebih toleran terhadap kondisi pencemaran.