KELAYAKAN USAHATANI DAN AGROINDUSTRI NILAM
Ermiati
1)dan Chandra Indrawanto
2)Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika
1)Jln. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111 Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain
2)Jln. Bethesda II, Mapanget, Manado 1004
I. PENDAHULUAN
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil atsiri yang menyumbang devisa lebih dari 50% dari total ekspor minyak atsiri Indonesia. Minyak nilam tidak dapat digantikan oleh produk sintetis dan Indonesia merupakan pemasok minyak nilam utama dalam perdagangan dunia dengan kontribusi sekitar 90%. Laju perkembangan kebutuhan minyak nilam relatif tidak tinggi, tetapi secara konsisten kebutuhan dunia menunjukkan peningkatan. Ekspor minyak nilam Indonesia tahun 2002 tercatat sebesar 1.295 ton dengan nilai US 22,5 juta dolar dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 4.984 ton dengan nilai 49, 5 juta dolar (Ditjenbun 2009). Hampir seluruh pertanaman nilam di Indonesia merupakan perkebunan rakyat yang melibatkan lebih dari 65.651 kepala keluarga petani (Ditjen Bina Produksi Peternakan 2007; Ditjebun 2011).
Harga minyak nilam di pasar lokal berkisar Rp 200.000-250 000,- per kg. Importir minyak nilam terbesar di dunia adalah Amerika Serikat (lebih dari 200 ton/tahun), disusul lima negara Eropa, masing Inggris (45-60 ton/tahun), Perancis, Swiss (40-50 ton/tahun), Jerman (35-40 ton/tahun) dan Belanda (30 ton/tahun) (http://arsip.pontianakpost.com dalam Sagala 2009). Produk minyak nilam dipergunakan dalam industri parfum, kosmetik, antiseptik dan insektisida, saat ini juga berkembang pemanfaatan nilam sebagai bagian dari aromaterapi.
Sampai tahun 2009 sentra produksi nilam di Indonesia, terdapat
di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darusalam, Sumatera
Selatan, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur dengan
total luas perkebunan 24.535 ha, luas panen 17.447 ha dengan produksi sebanyak 2.779 ton. Pada tahun 2011 mencapai 24 718 ha dengan luas panen 18.089 ha dan produksi 3,872 ton. Tetapi produktivitas nilam tersebut masih tergolong rendah, hasilnya rata-rata hanya 214 kg per ha per tahun dengan kadar minyak 1-2 % dari bahan kering (Ditjenbun 2009 dan 2011;
Ditjen Bina Produksi Peternakan 2007).
Rendahnya produktivitas dan mutu minyak atsiri antara lain disebabkan rendahnya mutu genetik tanaman, teknologi budidaya yang masih sederhana, gangguan hama penyakit serta pemanenan dan pasca panen yang belum tepat. Ada tiga jenis nilam di Indonesia, yaitu nilam aceh (Pogostemon cablin Benth), nilam jawa (Pogostemon heyneanus Benth) dan nilam sabun (Pogostemon hortensis Backer). Akan tetapi yang umum dibudidayakan adalah nilam aceh karena kadar minyaknya cukup tinggi, yaitu lebih dari 2%, disamping itu kualitas minyaknya juga lebih baik dibanding nilam lain (Ditjen Bina Produksi Peternakan 2007). Pada tahun 2005 Balittro telah melepas 3 varietas unggul nilam, yaitu varietas Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan yang semuanya dari jenis nilam aceh.
Penggunaan varietas unggul yang tepat, disertai dengan teknik budidaya yang baik, penanganan pasca panen dan pengolahan bahan yang sesuai, akan menghasilkan produksi minyak yang tinggi.
Teknologi budidaya dan pascapanen telah tersedia, namun teknologi
tersebut belum semuanya diadopsi oleh petani, mengingat proses alih
teknologi kepada petani memerlukan investasi yang tinggi, karena
keterbatasan modal, petani belum mampu mengadopsi seluruh teknologi
tersebut. Tulisan ini menyampaikan informasi tentang kelayakan usahatani
dan agro industri penyulingan nilam.
II. KELAYAKAN USAHATANI
Petani sebagai pelaksana mengharapkan produksi usahataninya besar agar memperoleh pendapatan yang besar pula. Untuk itu petani menggunakan tenaga, modal dan sarana produksinya sebagai umpan untuk mendapatkan produksi yang diharapkan. Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila usahatani tersebut dapat memenuhi kewajiban membayar bunga modal, alat-alat yang digunakan, upah tenaga kerja luar serta sarana produksi yang lain dan dapat menjaga kelestarian usahanya (Suratiyah 2006)
A. Analisis kelayakan finansial usahatani 3 varietas unggul nilam (Lhoseumawea, Tapak Tuan dan Sidikalang).
Hasil penelitian Indrawanto dan Syakir (2008), kelayakan finansial usahatani nilam varietas unggul Lhokseumawe, Tapak Tuan dan Sidikalang dengan skala produksi 1 ha, periode analysis 2 tahun (4 kali panen), discount factor 12% per tahun, harga terna kering Rp 3 000,-/kg (perbandingan bobot kering dengan basah 1:4), produksi terna, kadar minyak dan produksi minyak per kg per ha per tahun untuk masing-masing varietas (Tabel 1 dan 2).
Tabel 1. Produksi terna, kadar dan produksi minyak per kg per per tahun tiga varietas nilam
Varietas Produksi terna (kg kering/ha/thn)
Kadar minyak
(%)
Produksi minyak (kg.ha/tahun)
Lhokseumawe 11,087 3,21 356
Tapak Tuan 13,237 2.83 376
Sudikalang 10,902 2,89 315
Sumber: Indrawanto dan Syakir (2008)
B. Analisa Data
Untuk mengetahui kelayakan usahatani masing-masing varietas
dianalisis melalui pendekatan analisis Benefit Cost Ratio (B/C), Net Present
Value (NPV) dan Internal Rate Of Return (IRR) (Gittinger 1986; Kadariah et
al. 1988; Soetrisno 1982) dengan persamaan sebagai berikut:
B.1. Net Present Value (NPV) merupakan selisih antara benefit (penerimaan) dengan cost (pengeluaran):
NPV =
n
i
i
tCt Bt
1
( 1 )
Kriteria NPV, yaitu
(1). NPV > 0, berarti usahatani layak (2). NPV < 0, berarti usahatani tidak layak
(3). NPV = 0, berarti tambahan manfaat yang diterima sama dengan tambahan biaya yang dikeluarkan
B.2. Net Benefit/Cost Ratio (Net B/C rasio)
Merupakan perbandingan antara benefit bersih dengan biaya bersih.
Net B/C rasio =
n
t
t n
t
t
i Ct
i Bt
1 1