PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI GUNA UNTUK
MENGOPTIMALKAN BIAYA OPERASIONAL DENGAN METODE
ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM
(DI CV. MUTIARA BAHARI SURABAYA)
SKRIPSI
Disusun oleh:
LUKI RAMADHAN
NPM 0732015012
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
J URUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
SKRIPSI
PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI GUNA UNTUK
MENGOPTIMALKAN BIAYA OPERASIONAL DENGAN
METODE ACTIVITY BASED COSTING
DI C V. MUTIARA BAHARI SURABAYA
Disusun Oleh :
LUKI RAMADHAN
0732015012/FE
Telah Dipertahankan Dihadapan Dan Diterima Oleh Tim Penguji Skripsi
Pada tanggal : 13 April 2012
Tim Penguji : Pembimbing :
Ir. Didi.Samanhudi.MT Ir. Handoyo.MT
NIP. 19580625 198503 1 001 NIP. 19570209 198503 1 003
Ir. Er lina.MT Dr s. Pailan Mpd
NIP. 19621126 198803 2 001 NIP. 19530504 198303 1 001
Ir. Handoyo.MT
NIP. 19570209 198503 1 003
Mengetahui,
Dekan Fakultas Teknologi Industr i
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur
PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI GUNA UNTUK
MENGOPTIMALKAN BIAYA OPERASIONAL DENGAN
METODE ACTIVITY BASED COSTING
DI C V. MUTIARA BAHARI SURABAYA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Jurusan Industri
Oleh :
LUKI RAMADHAN
0732015012
J URUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI NDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan
berkat rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan
skripsi ini dengan baik, walaupun terdapat beberapa beberapa kendala
dan sedikit keterlambatan waktu.
Penyusunan laporan ini berdasarkan pengamatan selama
Penelitian tugas akhir dengan kata-kata, informasi yang penyusun
peroleh dari pembimbing lapangan dan dari para
staf operasional
dilapangan dan Dosen Pembimbing skripsi, juga dari
literature
yang
ada.
Atas terselesainya pelaksanaan skripsi ini dan terselesainya
penyusunan laporan skripsi ini, maka penyusun menyampaikan rasa
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.
Ir. Sutiyono, MT selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri UPN “Veteran”
Jawa Timur.
2.
Dr. Ir. Minto Waluyo, MM, selaku Ketua Jurusan Teknik Indutri UPN
“Veteran” Jawa Timur.
3.
Drs. Pailan, Mpd, selaku Sekertaris Jurusan Teknik Indutri UPN “Veteran”
Jawa Timur.
4.
Ir. Handoyo, MT selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing saya
5.
Drs. Pailan, Mpd selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing saya
dalam menyelesaikan Laporan Skripsi ini.
6.
Semua Staf dan di CV. Mutiara Bahari Surabaya yang telah banyak membantu
selama penyusun melaksanakan Skripsi.
7.
Ibu dan seluruh keluargaku tersayang yang selalu senantiasa memberikan
bimbingan dan arahan kepada penulis.
8.
Teman-temanku yang berada di UPN “Veteran” Jawa Timur maupun di luar
kampus UPN, terima kasih atas semangat, doa dan bantuannya dalam
menyelesaikan laporan kerja praktek ini.
9.
Pihak-pihak lain yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung
terlibat dalam pembuatan atau penyelesaian laporan ini yang tidak dapat
disebutkan satu per satu.
Penyusun menyadari bahwa penulisan Laporan Skripsi ini masih jauh dari
sempurna, baik isi maupun penyajian.. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
membangun akan penyusun terima dengan senang hati.
Akhir kata semoga Laporan Skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak yang berkepentingan dan semoga Tuhan Yang Maha Esa
memberikan rahmat dan berkat kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan kepada penyusun, Amin.
Surabaya, Maret 2012
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... v
Daftar Tabel ... ix
Daftar Gambar ... x
Daftar Lampiran ... xi
Abstraksi ... xii
Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah... 3
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Asumsi-asumsi ... 3
1.5 Tujuan penelitian... 3
1.6 Manfaat Penelitian ... 4
1.7 Sistematika Penulisan ... 4
Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Manajemen ... 6
2.1.1 Peranan Akuntansi Manajemen ... 7
2.2 Konsep Biaya ... 7
2.2.1 Obyek Biaya ... 9
2.2.2 Penggolongan Biaya ... 9
2.3 Klarifikasi Biaya Dewasa Ini ... 13
2.5. Keterbatasan Cara Konvensional... 18
2.6 Definisi Activity Based Costing ... 19
2.6.1. Manfaat Penerapan Activity Based Costing ... 20
2.6.2. Klasifikasi Biaya ABC ... 22
2.6.3. pemilihan Cost Driver ... 24
2.6.4. Langkah-langkah Activity Based Costing ... 25
2.6.4.1. Tahap Pertama ... 26
2.6.4.2. Tahap Kedua ... 30
2.6.5. Keunggulan ABC Dibandingkan Dengan Sistem Tradisional ... 31
2.7. Ilustrasi Penentuan HPP ... 32
Bab III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 41
3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel ... 41
3.2.1. Identifikasi Variabel ... 41
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 42
3.4 Metode Analisis Data ... 43
3.4.1 Perhitungan BOP Berdasarkan Sistem Konvensional ... 43
3.5 Langkah-langkah Pemecahan Masalah ... 44
Bab IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data ... 50
4.1.1 Laporan Biaya Produksi ... 50
4.1.2 Data Biaya Bahan Baku Langsung ... 52
4.1.3 Data Biaya Tenaga Kerja Langsung ... 53
4.1.4 Data Jam Tenaga Kerja ... 54
4.1.5 Data Jam Mesin ... 55
4.2 Pengolahan Data ... 56 4.2.1 Menetapkan Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan
Metode Konvensional (HPP Konvensional)... 56 4.2.2 Menetapkan Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan
Metode Activity Based Costing (HPP ABC) ... 63 4.2.3 Perbandingan Simpangan Harga Pokok Produksi ... 75 4.3 Analisa dan Pembahasan ... 77
Bab V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 78 5.2 Saran... 79 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Laporan Biaya Produksi ... 51
Tabel 4.2 Biaya Total Bahan Baku Langsung ... 52
Tabel 4.3 Produksi Perbulan ... 52
Tabel 4.4 Biaya Bahan Baku Langsung ... 53
Tabel 4.5 Biaya Total Tenaga Kerja Langsung ... 53
Tabel 4.6 Biaya Total Tenaga Kerja Langsung Untuk Tiap Produk ... 54
Tabel 4.7 Data Jam Tenaga Kerja ... 54
Tabel 4.8 Data Jam Mesin ... 55
Tabel 4.9. Data Jumlah Set Up ... 55
Tabel 4.11 Biaya Bahan Baku Langsung Per Unit ... 57
Tabel 4.12 Data Biaya Tenaga Kerja Langsung ... 58
Tabel 4.13 Tarif BOP perunit Produk metode tradisional ... 59
Tabel 4.14 Biaya Overhead Pabrik Dibebankan perbulan ... 60
Tabel 4.15 HPP Konvensional perunit tiap produk... 61
Tabel 4.16 HPP perunit tiap Produk ... 62
Tabel 4.17 Peta Aktivitas Overhead ... 64
Tabel 4.18 Rasio Konsumsi Berdasarkan Volume Produk ... 65
Tabel 4.19 Rasio Konsumsi Berdasarkan Jam Tenaga Kerja ... 66
Tabel 4.20 Rasio Konsumsi Berdasarkan Jam Mesin ... 67
Tabel 4.21 Rasio Konsumsi Berdasarkan Jumlah Transportasi ... 68
Tabel 4.22 Cost Pool Homogen, Rasio Konsumsi dengan Cost Driver untuk Masing-masing Aktivitas Periode ... 68
Tabel 4.23 Pool Rate Kategori Periode Bulan Januari 2010... 70
Tabel 4.25 BOP Perunit dengan ABC Costing ... 72
DAFTAR GAMBAR
Ganbar 2.1 Hubungan antara elemen-elemen aktivitas ... 20 Gambar 2.2. Klasifikasi Level Aktivitas dan Cost Drivernya ... 28 Gambar 2.3. Klasifikasi Aktivitas Berdasar Level Aktivitas dan
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Laporan Biaya Produksi Periode Bulan Januari – Juni 2010
Lampiran II Tabel Cost Driver Untuk masing-masing aktivitas Periode Januari – Juni 2010 Lampiran III Tabel Cost Pool Untuk masing-masing aktivitas Periode Bulan
Januari – Juni 2010
ABSTRAKSI
Persaingan yang ketat antara perusahaan yang ada di sini mendorong
beberapa perusahaan untuk memenangkan atau paling tidak mempertahankan
posisinya agar dapat terus aktif dalam menjalankan usahanya. Keunggulan
kompetitif yang mencakup kualitas, waktu, biaya dan inovasi harus dimiliki oleh
setiap perusahaan yang ingin bersaing dalam pangsa pasar. Faktor biaya
merupakan tolak ukur keberhasilan dalam hal persaingan antara industri besar
maupun kecil, hal ini dapat dijelaskan bahwa biasanya konsumen langsung
membandingkan suatu produk serupa lainnya berdasarkan harga produk.
PT. X merupakan perusahaan yang memproduksi produk perhiasan. Bentuk
proses produksi didalam PT. X dijalankan secara kontinyu, dimana dalam
menentukan harga pokok produknya masih menggunakan sistem
konvensional
,
yaitu membebankan biaya pada pemakaian bahan baku dan pemakaian tenaga
kerja langsung pada produk, ditambah biaya
overhead
, kemudian dibagi dengan
jumlah produk yang dihasilkan. Untuk mengatasi terjadinya
distorsi
(penyimpangan) terhadap harga pokok produk,maka digunakan sistem
pembebanan biaya berdasarkan aktivitas atau
activity based costing
(ABC).
Activity Based Costing
(ABC) .
Perhitungan dengan menggunakan sistem
konvensional
memberi hasil
yang kurang akurat, oleh karena itu sangat mungkin untuk dilakukan perhitungan
dengan metode
Activity Based Costing
(ABC). Dengan menggunakan sistem ABC
diharapkan penentuan harga pokok produk lebih tepat dan proprosional, sehingga
didapat harga jual produk yang lebih kompetitif. Dengan tujuan adalah untuk
menentukan harga pokok produksi yang optimal (akurat) dan Untuk mengetahui
penyimpangan HPP perusahaan bila dibandingkan dengan HPP metode ABC.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa penetapan harga pokok produksi dengan menggunakan metode
Activity Based Costing
pada kenyataannya lebih akurat dan jelas dari pada biaya
konvensional
(tradisional). Kesalahan dalam melakukan perhitungan harga pokok
produksi akan memberikan dampak negatif bagi perusahaan. Untuk produk yang
overcosting
akan menyebabkan produk kalah bersaing dalam masalah harga di
pasaran dengan produk yang sejenis dari perusahaan lain, sehingga permintaan
semakin kecil dan susah untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Pada produk
yang
undercosting
akan menyebabkan perusahaan merugi karena harga pokok
produksinya lebih rendah dari harga pokok produksi yang sebenarnya. Hal ini
akan mengurangi laba yang akan diperoleh oleh produk tersebut.
Kata kunci : harga pokok produksi, aktivitas, akuntansi biaya
B AB I
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Persaingan yang ketat antara perusahaan yang ada disini mendorong
beberapa perusahaan untuk memenangkan atau paling tidak mempertahankan
posisinya agar dapat terus aktif dalam menjalankan usahanya. Keunggulan
kompetetif yang mencakup kualitas, waktu, biaya dan inovasi harus dimiliki oleh
setiap perusahaan yang ingin bersaing dalam pangsa pasar. Faktor biaya
merupakan tolak ukur keberhasilan dalam hal persaingan antara industri besar
maupun kecil, hal ini dapat dijelaskan bahwa biasanya konsumen langsung
membandingkan suatu penjualan serupa lainnya berdasarkan harga penjualan. Dan
di lain pihak perusahaan tidak akan kesulitan untuk berproduksi sesuai dengan
kualitas dan waktu yang di inginkan dengan memanfaatkan perkembangan
teknologi yang ada.
Ada beberapa strategi yang memegang peranan penting dalam peningkatan
daya saing perusahaan, antara lain meningkatan nilai yang diterima konsumen
baik dalam hal kualitas pelayanan yang memuaskan.
Sebagai perusahaan yang menerapkan strategi pemanufacturan yang baru
untuk mencapai keunggulan daya saing yang kuat, system akutansi juga harus
diubah untuk mengikuti perkembangan.
Strategi penetapan harga juga sangatlah penting bagi suatu perusahaan
apalagi dalam situasi sekarang saat ini. Sistem biaya ini berdasarkan aktivitas
kemudian ke berbagai produk, sistem ini menawarkan lebih dari hanya ketelitian
dari informasi mengenai harga produk
CV. MUTIARA BAHARI SURABAYA merupakan perusahaan yang
bergerak dibidang makanan. Selama ini perusahaan masih menggunakan
penentuan harga jual yang masih menggunakan sistem full costing, yaitu
membebankan biaya pada pembelian barang dan pemakaian tenaga kerja
langsung, ditambah biaya overhead, kemudian dibagi dengan jumlah penjualan
yang
dihasilkan.
Hal
ini
akan
mempengaruhi
perusaahaan
dalam
memperhitungkan biaya produksi, dengan demikian perusahaan memerlukan
sistem informasi akutansi yang mampu mengadakan informasi secara tepat.
Untuk mengatasi terjadinya
distory
(penyimpangan) terhadap harga pokok
penjualan, maka digunakan system pembebanan biaya berdasarkan aktivitas atau
Activity Based Costing ( ABC ). Activity Based Costing ( ABC ) merupakan
suatu system manajemen yang dapat digunakan untuk menciptakan efektifitas
kerja, melalui evaluasi terhadap aktifitas, konsep ABC ini mengakui bahwa biaya
disebabkan oleh aktifitas, sehingga usaha biaya produksi harus dengan
mengevaluasi kembali aktivitas yang ada.
Maka dari itu sangat diperlukan sekali sebuah wawasan untuk apat melihat
lebih maju lagi dan dapat mendeteksi biaya terperinci. Untuk mengatasi hal
tersebut diperlukan suatu metode pengalokasikan biaya overhead, yaitu dengan
1.2
Per umusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dibuat suatu perumusan masalah
sebagai berikut :
“Berapa harga pokok produksi pada produk makanan yang sebenarnya
dengan menggunakan metode Activity Based Costing System?”
1.3
Batasan Masalah
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih terarah diperlukan batasan
masalah, antara lain :
1.
Data yang digunakan baik dari data penjualan maupun keuangan yang
digunakan data bulan Januari sampai dengan Desember 2010
2.
Obyek penelitian meliputi : jenis makanan : Tempura (T1), Bintang(B2),
Bakso Tuna(BT3), Sukoi(S4)
1.4
Asumsi-asumsi
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
1.
Kebijakan pemerintah terutama dalam hal perekonomian tidak mengalami
perubahan
dan keadaan ekonomi berjalan stabil.
2.
Kalkulasi biaya penjualan total telah diidentifikasikan sesuai dengan
kebijakan manajemen perusahaan
1.5
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan harga pokok produksi
1.6
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penentuan harga penjualan ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagi Mahasiswa
Untuk dapat menerapkan teori yang diperoleh dibangku kuliah dengan
kenyataan yang berkaitan dengan penentuan harga pokok produksi di
perusahaan
2.
Bagi Perusahaan
§
Hasil penelitian ini akan memberikan informasi kepada manajemen
perusahaan dalam pengambilan keputusan terutama kebijaksanaan
yang berkaitan dengan penentuan harga pokok yang sudah ditetapkan
§
Dengan penelitian ini akan diketahui berbagai permasalahan yang
menjadi penyebab dari harga pokok produksi, sehingga menjadi
pertimbangan untuk melakukan perbaikan penentuan harga pokok
produksi
3.
Bagi Universitas
Sebagai bahan pertimbangan dan referensi bagi penelitian yang akan
1.7
Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan memahami pembahasannya, maka laporan ini secara
sistematika adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah,
perumusan masalah, batasan masalah, asumsi–asumsi, tujuan
penelitian, dan mananfaat penelitian yang digunakan, serta
sistematika penulisan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan diuraikan teori–teori yang berhubungan dan
berkenaan dengan topik–topik yang dibahas dan akan dipakai sebagai
dasar dalam menganalisa dan menyelesaikan masalah.
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang cara mendapatkan data, data apa
saja yang digunakan dalam perhitungan, bagaimana cara mengolah
data tersebut, hasil apa saja yang akan didapat setelah data tersebut
diolah.
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan mengenai rancangan susunan program
yang diguanakan untuk memecahkan permasalahan serta data – data
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari pembahasan dan saran
untuk perbaikan sistem informasi manajemen penggajian yang
digunakan perusahaan saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
B AB II
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1. Penger tian Akuntansi Manajemen
Pengertian akuntansi manajemen menurut Mulyadi (1999), dipandang
sebagai suatu sistem yang mengolah masukan berupa data operasi dan data
keuangan untuk menghasilkan keluaran berupa informasi akuntansi yang
dibutuhkan oleh pemakai.
Akuntansi manajemen dapat dipandang sebagai suatu system yang
mengolah masukan berupa data operasi dan data keuangan untuk menghasilkan
keluaran berupa data operasi dan data keuangan yaitu informasi akuntansi yang
dibutuhkan oleh pemakai.
Akuntansi manajemen dapat dipandang dari dua sudut, yaitu akuntansi
manajemen sebagai salah satu tipe. Akuntansi adalah merupakan suatu system
pengolahan informasi keuangan bagi kepentingan pemakai interen organisasi dan
akuntansi sebagai salah satu tipe informasi kwantitatif yang menggunakan uang
sebagai satuan ukur untuk membantu manajemen dalam pelaksanaan pengelolaan
perusahaan.
Akuntansi Manajemen menurut (Amin Widjaja Tunggal, 2000: 2) yaitu
ilmu yang berisi informasi akuntansi manajemen (keuangan, produksi, pemasaran,
personalia dan sebagainya) disediakan untuk membantu para pimpinan dalam
pengambilan keputusan tentang masa depan perusahaan dan dalam pengendalian
terhadap implementasi keputusan yang telah dibuat.
Peranan Akuntansi Manajemen berfungsi memberikan system informasi
manajemen yang tepat dan akurat,guna menentukan keputusan operasional dan
strategis yang menyangkut kinerja perusahaan serta untuk memproduksi keadaan
dimasa yang akan datang. Akuntansi Manajemen terutama ditujukan untuk
menyediakan informasi kepada para pengambil keputusan mengenai bagaimana
sumber-sumber yang dimiliki perusahaan harus di alokasikan. Akuntansi
Manajemen juga diharapkan mampu menghadapi perubahan-perubahan pada
lingkungan operasi perusahaan, sehingga perusahaan dapat tumbuh dan
berkembang.
2.2. Konsep Biaya
Konsep dan istilah-istilah biaya telah dikembangkan selaras dengan
kebutuhan para akuntan, ekonom, dan insinyur. Para akuntan telah mendefinisikan
biaya sebagai "Suatu nilai tukar, prasyarat, atau pengorbanan yang dilakukan guna
memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, prasyarat atau pengorbanan
tersebut pada tanggal perolehan dinyatakan dengan pengurangan kas atau aktiva
lainya pada saat ini atau dimasa mendatang.". ( Matz Usry, 1995 : 19).
Istilah "biaya" (Cost) seringkali digunakan dalam arti yang sama dengan
istilah "beban" (expense). Namun, "beban" dapat didefinisikan sebagai arus keluar
barang dan jasa, yang akan dibebankan atau ditandingkan (matched). Dengan
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan
uang, yang telah terjadi atau memungkinan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu
(Mulyadi, 1979 : 3).
2.2.1. Obyek Biaya
Obyek biaya (cost object) didefinisikan sebagai produk, kerja pesanan,
kontrak, proyek, departemen (atau bagian lain) organisasi, atau unit lainnya yang
merupakan "ruang lingkup" atau tujuan dari pengakumulasian dan pengukuran
biaya. Akumulasi semacam itu dalam sistem akuntansi biaya bersifat
multidimensional karena beragamnya aspek kebutuhan yang mendorong kita
untuk mengetahui, merencanakan, dan mengendalikan biaya. Misalnya, kita perlu
menentukan biaya dari setiap unit produk, tetapi juga perlu merencanakan dan
mengendalikan biaya yang menjadi tangung jawab masing-masing manajer, yaitu
biaya perdepartemen. Perancangan dan implementasi sistem akuntansi harus
menyediakan kerangka bagi obyek biaya yang beraneka ragam.
(Matz Usry, 1995 : 20)
2.2.2. Penggolongan Biaya
Menurut Mulyadi (1979 :7 s/d 14), Biaya dapat digolongkan menjadi :
a.
Penggolongan Biaya atas Dasar fungsi-fungsi Pokok dalam Perusahaan.
1. Biaya Penjualan
Contoh :, biaya tenaga kerja, biaya Overhead Perusahaan
2. Biaya Administrasi dan Umum
Biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan penyusunan
kebijaksanaan dan pengarahan perusahaan secara keseluruhan.
Contah : Gaji direksi, biaya-biaya bagian akuntansi dan personalia,
biaya rapat pemegang saham dan biaya telpon.
3. Biaya Pemasaran
Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan usaha untuk
memperoleh pesanan (Order Getting) dan memenuhi pesanan (Order
Filling).
Contoh : biaya iklan, biaya angkutan dari gudang perusahaan ke gudang
pembeli.
Biaya
Biaya Produksi
Biaya Pemasaran
Biaya Administrasi dan umum
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya Overhead pabrik
Biaya komersial
Gambar 2.1. : Skema Perincian Biaya
b.Penggolongan biaya atas dasar hubungan dengan sesuatu yang dibiayai
1. Biaya Langsung
Biaya yang terjadi yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya
sesuatu yang dibiayai.
Contoh : penjualan barang
2. Biaya tak langsung
Biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Contoh : biaya Overhead pabrik,biaya penyusutan mesin
c.Penggolongan biaya sesuai dengan tingkah lakunya. Dalam tahun
bungannya dengan perubahan volume kegiatan.
1.
Biaya tetap
Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan,tidak berpengaruh adanya
perubahan volume kegiatan dalam batas-batas tertentu
Ciri-ciri biaya tetap :
-
Jumlah keseluruhan yang tetap dalam rentang (renge) kekuatan
yang relevan
-
Penurunan biaya per unit bila volume bertambah dalam rentang
yang relevan
-
Dapat dibebankan kepada Departemen-departemen berdasarkan
keputusan manajemen atau menurut metode alokasi biaya
-
Tanggung jawab pengendalian lebih banyak dipikul oleh
manajemen eksekutif daripada oleh penyeliaan operasi.
Over head per usahaan tetap
-
Gaji eksekutif produksi
- Gaji satpam dan pesuruh pabrik
-
Penyusutan
- Pemeliharaan dan Reparasi
-
Amortisasi paten
- Bangunan dan tanahnya
-
Akuntansi aktiva tetap dan sewa Kewajiban
2.
Biaya Variabel
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan
perubahan volume kegiatan.
Ciri-ciri biaya variabel
Perubahan jumlah total dalam produksi yang sama dengan perubahan
volume.
-
Biaya perunit relatif konstan meskipun volume berubah dalam
rentang (range) yang relevan.
-
Dapat dibebankan kepada departemen operasi dengan cukup
mudah dan tepat.
-
Dapat dikendalikan oleh seorang kepala departemen tertentu.
Daftar berikut ini menunjukkan jumlah biaya Overhead yang
biasanya diklasifikasikan sebagai biaya variabel, sebagai berikut:
Over head Per usahaan Var iabel
Perbekalan (supplies)
Biaya penerimaan barang
Bahan bakar
Pengangkutan dalam gudang
Sumber tenaga
Royalty
Perkakas kecil
Upah lembur
3.
Biaya semi variabel.
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding
dengan perubahan volume kegiatan
Contoh lain dari biaya Overhead semi variabel adalah sebagai
berikut :
Over head Per usahaan semi var iabel
Kepenyeliaan (supervisi)
Pemeliharaan dan reparasi mesin
Pemeriksaan
dan peralatan pabrik
Jasa departemen penggajian Asuransi kerugian
Jasa departemen personalia Asuransi kesehatan dan kecelakaan
Jasa administrasi pabrik Pajak penghasilan
Jasa pengelolaan bahan Beban hubungan indusrial
dan persediaan
Pemanasan, penerangan dan
Jasa departemen lainnya sumber tenaga
d. Penggolongan biaya atas dasar waktu :
1.
Pengemasan modal (Capital Expenditure)
Biaya-biaya yang dinikmati oleh lebih dari satu periode akuntansi
Contoh : Biaya perbaikan yang jumlahnya ralatif besar ( dan
diperkirakan dengan perbaikan tersebut, umur ekonomis tempat dapat
diperpanjang) merupakan pengeluaran modal, karena biaya perbaikan
2.
Penggolongan penghasilan
Biaya-biaya yang hanya bermanfaat didalam periode akuntansi dimana
biaya tersebut terjadi
Contoh : biaya telepon, biaya komisi penjualan.
2.3. Klasifikasi Biaya Dewasa Ini
Dalam dekade terakhir ini komposisi biaya manufakturing mengalami
pergeseran pada awal abad ke-20, sekitar 50 % atau lebih dari total biaya
manufakturing merupakan biaya tenaga kerja langsung. Sebagai konsekuensinya,
sistem akutansi biaya di desain untuk memfokuskan pada pengukuran dan
pengendalian biaya tenaga kerja langsung. Adanya perubahan-perubahan dalam
bidang teknologi dalam lingkungan industri, pemakaian tenaga kerja manusia
banyak digantikan oleh mesin-mesin berteknologi tinggi. Dengan demikian biaya
tenaga kerja langsung hanyalah merupakan sebagian kecil dari komposisi total
biaya manufakturing. Sebaliknya peranan biaya overhead terus meningkat dengan
tajam dalam strukur biaya manufakturing. Dan sebagai konsekuensi dari
perubahan ini adalah sistem biaya yang dulu dibuat untuk aktivitas manufakturing
dengan komposisi biaya tenaga kerja langsung yang tinggi menjadi tidak sesuai
lagi. Sebab tujuan dari sistem biaya ini tidak lagi mengendalikan biaya bahan
baku dan tenaga kerja langsung, tetapi sistem biaya harus didesain untuk
memahami perilaku biaya overhad tersebut dan bagaimana cara pembebanannya
Metode Penentuan Harga Pokok Penjualan
Metode penentuan harga pokok pr oduksi menur ut Mulyadi (1999 : 18) adalah car a memper hitungkan unsur -unsur biaya ke dalam har ga pokok penjualan. Dalam
memper hitungkan unsur -unsur biaya ke dalam har ga pokok penjualan, terdapat dua pendekatan : full costing dan var iabel costing.
Full Costing
Full costing mer upakan penentuan har ga pokok pr oduksi yang memper hitungkan semua unsur biaya pr oduksi ke dalam har ga pokok penjualan yang terdir i dar i biaya bahan baku, biaya tenaga ker ja langsung, dan biaya over head pabr ik, baik yang ber per ilaku var iabel maupun tetap. Dengan demikian har ga pokok pr oduksi menur ut metode full costing ter diri dar i unsur biaya penjualan ber ikut ini :
Biaya bar ang penjualan xx
Biaya tenaga ker ja langsung xx
Biaya over head pabr ik var iabel xx
Biaya over head pabr ik tetap xx
Harga P okok Pr oduksi xx
Harga pokok pr oduksi yang dihitung dengan pendekatan full costing terdir i dar i unsur har ga pokok pr oduksi (biaya bahan baku, biaya tenaga ker ja langsung, biaya over head pabr ik var iabel, dan biaya over head pabrik t etap) ditambah dengan biaya nonpr oduksi (biaya pemasar an, biaya administr asi dan umum).
Var iabel Costing
Var iabel costing mer upakan metode penentuan har ga pokok pr oduksi yang hanya memper hitungkan biaya pr oduksi yang ber per ilaku var iabel ke dalam har ga pokok pr oduksi, yang ter dir i dar i biaya bahan baku, biaya tenaga ker ja langsung, dan biaya over head pabr ik var iabel. Dengan demikian har ga pokok pr oduksi menur ut metode var iabel costing ter dir i dar i unsur biaya pr oduksi berikut ini :
Biaya bar ang penjualan xx
Biaya tenaga ker ja langsung xx
Biaya over head pabr ik var iabel xx
Harga pokok pr oduksi xx
Harga pokok produksi yang dihitung dengan pendekatan variabel costing terdiri
dari unsur harga pokok produksi variabel (biaya barang penjualan, biaya tenaga
kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel) ditambah dengan biaya
nonproduksi variabel (biaya pesaran variabel dan biaya administrasi dan umum
variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap,
biaya administrasi dan umum tetap).
Sistem Tradisional
Sistem tradisional berasumsi bahwa produklah yang menyebabkan biaya sehingga
sehingga jika volume produksi semakin besar maka biaya yang dikeluarkan
semakin besar.
Ada dua macam metode sistem tradisional yang digunakan untuk pengalokasian
biaya overhead (Hansen, 1997 : 30) yaitu :
Plant Wide rates
Pada metode ini langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Biaya overhead dialokasikan ke dalam suatu kumpulan biaya yang besar, sehingga
menggunakan pengarah tunggal atau
single driver
, biasanya yang digunakan
sebagai pengarah
single driver
ini adalah jam tenaga kerja langsung.
Dari perhitungan biaya overhead tersebut kemudian dilakukan pengalokasian
biaya ke dalam setiap produk.
Pengalokasian secara Departemen
Dalam pengalokasian secara departemen ini, dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
Setiap biaya overhead yang ada dialokasikan ke tiap departemen produksi,
sehingga terbentuk kumpulan biaya overhead dari tiap departemen.
Kemudian kumpulan biaya overhead dari tiap departemen produksi, sehingga
terbentuk kumpulan biaya overhead dari tiap departemen.
Kemudian kumpulan biaya overhead dari tiap departemen ini kemudian
dialokasikan ke tiap-tiap produk yang ada.
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pengalokasian biaya
overhead dengan menggunakan metode tradisional baik pada pada plant wide rate
perhitungan biaya produksi yang berbeda pula. Hal ini disebabkan karena adanya
distorsi atau penyimpangan biaya produksi pada metode plant wide rate, karena
metode ini berasumsi bahwa semua biaya overhead secara langsung berhubungan
dengan satu aktivitas saja.
Hal-hal pada metode plant wide rate ini yang menyebabkan terjadinya distorsi
atau penyimpangan adalah :
Perbedaan sumber daya (resources) untuk setiap produk.
Penggunaan resources untuk setiap produk.
Sehingga kita tidak dapat beranggapan bahwa semua produk tersebut mempunyai
aktivitas dan sumber yang sama. Pada pengalokasian biaya pada departemen juga
menimbulkan distorsi atau penyimpangan. Hal-hal yang menyebabkan distorsi
tersebut adalah sebagai berikut :
Adanya perbedaan batch aktivitas dan ukuran setiap jenis produk yang berbeda.
Adanya perbedaan antara aktivitas dengan atribut produk untuk produk-produk
yang berbeda.
Sehingga dapat disimpulkan terjadi distorsi atau penyimpangan pada penggunaan
metode tradisional ini.
Adanya distorsi atau penyimpangan terhadap harga pokok produk tersebut jika
tidak dilakukan perbaikan maka akan menimbulkan pengambilan keputusan yang
salah, yang dapat merugikan perusahaan karena kesalahan dalam menggunakan
strategi.
Sistem biaya konvensional dirancang berdasarkan kondisi teknologi
manufaktur pada masa lalu. Sistem biaya ini dianggap sudah usang, tidak dapat
dihadapi problem yang dihadapi oleh perusahaan modern, misalnya menjawab
kebutuhan pengambilan keputusan strategi perusahaan dan memberi pemecahan
yang baik.
Dalam sistem biaya konvensional, biaya yang timbul sebagai pemakaian
sumber daya yang dialokasikan pada produk berdasarkan tenaga kerja langsung,
Dengan demikian akuntansi biaya tradisional yang hanya menitik beratkan pada
biaya produksi pada fase penjualan tidak lagi mampu menghasilkan biaya yang
relevan dengan kebutuhan perusahaan yang bersaing secara global. Tetapi dengan
adanya perkembangan teknologi penggunaan sumber daya dan aktivitas dalam
proses produksi tidak lagi tergantung pada volume penjua
lan. Akibatnya pengalokasian biaya dengan sistem biaya konvensional mengalami distorsi, sehingga dalam menetapkan harga pokok produk kurang tepat bagi masing-masing produk.Dalam menghitung biaya penjualan ber dasar kan biaya konvensional,
pembebanan biaya bahan langsung dan tenaga k er ja langsung dapat
langsung ditelusur i sampai ke suatu pr oduk. Sedang pembebanan biaya
over hea d pabr ik ke dalam unit produksi, dalam beber apa hal mer upakan
tugas yang sulit kar ena biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak dapat
secar a langsung k e suatu pr oduk, dan biaya ini ter dir i dar i biaya yang tidak
sejenis yang meliputi biaya biaya var iabel dan biaya tetap.
2.4. Definisi Activity Based Costing
Hongr en Char les T. (1993 : 939) Activity Based Costing adalah suatu
pendekatan kalkulasi biaya yang memfokus pada aktivitas sebagai obyek
biaya yang fundamental. ABC menggunakan biaya dar i aktivitas ter sebut
sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya ke obyek biaya yang lain seperti
pr oduk, jasa, atau pelanggan. Sedangkan menur ut Hansen Don R. (1997 :
244) Activity Base Costing adalah suatu sistem kalkulasi biaya yang per tama
kali menelusur i biaya ke aktivita s dan k emudian k e produk, dan menur ut
Gar r ison Ray H. (1991 : 96) Activity Based Costing didefinisikan sebagai
suatu metode kalkulasi biaya yang menciptakan suatu k elompok biaya untuk
setia p kejadian atau tr ansak si (aktivita s) dalam suatu or ganisasi yang
ber laku sebagai pemacu biaya. Biaya over head k emudian dialoka sikan ke
pr oduk dan jasa dengan dasar jumlah dar i kejadian atau tr ansaksi ter sebut
yang pr oduk atau jasa yang dihasilkan. Sedang menur ut Supr iyono ABC
(1994 : 30) adalah suatu sistem yang memusatkan pada aktivitas-aktivitas
sebagai obyek biaya yang pokok dan menggunakan biaya aktivitas-aktivita s
ter sebut sebagai “blok-blok bangunan” untuk mengkompilasi biaya
obyek-obyek biaya lainnya.
Dar i pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa obyek biaya seperti
pr oduk atau jasa mengkonsumsi sejumlah aktivitas ter tentu, sehingga dapat
dik etahui aktivitas-aktivitas apa saja yang mendukung suatu pr oduk.
Sedangkan aktivita s-aktivita s ter sebut juga mengkonsumsi sejumlah sumber
daya yang ter tentu pula, sehingga dapat dik etahui sumber daya apa saja
akan dapat ditelusur i k e aktivitas dan kemudian k e produk atau jasa. Secar a
logika model Activity Based Costing digambar kan sebagai ber ikut :
Gambar 2.1 : Model Activity Based Costing seca ra logika
logika
2.4.1.
Manfaat Penerapan Activity Based Costing
Car a menghitung dengan menggunakan
Activity Based Costing
dihar apkan akan member ikan manfaat yang lebih besar bagi manajemen
dan bagi per usahaan. Adapun manfaat menurut A. Widjaja Tunggal (2000 :
32) antar a lain sebagai ber ikut :
1.
Suatu kajian
Activity Based Costing
dapat menyak inkan manajemen
bahwa mer eka har us mengambil suatu langkah untuk lebih competitive.
Sebagai hasilnya, mer eka dapat ber usaha untuk meningkatkan mutu
secar a simultan sambil memfokuskan pada pengurangan biaya. Analisis
biaya dapat menyor oti secar a benar -benar bagaimana mahalnya proses
manufactur ing. Pada gilir annya dapat memacu aktifitas untuk
mer eor ganisasi pr oses, memper baiki mutu dan pengur angan biaya.
Produk atau Jasa Aktivitas Sumber Daya
2.
Manajemen akan ber a da pada posisi untuk melakukan penawar an
kompetitif yang wajar .
3.
Dengan analisis biaya yang diper baiki, manajemen akan dapat
melakukan analisis yang lebih akur at mengenai volume yang diper lukan
untuk mencapai impas (
break over
) atas pr oduk yang ber volume r endah.
4.
Dengan analisis data dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat
mulai mer ekayasa kembali (
re-engineer
) proses manufactur ing untuk
mencapai pola keluar an mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.
5.
Semak in banyak over head yang ditelusur i ke pr oduk . Dalam pabr ik
moder n ter dapat sejumlah aktifitas non lantai pabr ik yang ber kembang.
6.
Activity Based Costing
member i per hatian pada selur uh aktivita s sehingga
melakukan kalkulasi biaya produk diluar dasar lantai pabr ik yang
tr adisional.
7.
Dalam masalah pembebanan biaya,
Activiy Based Costing
menawarkan
akurasi biaya yang lebih tinggi sehingga meniadakan subsidi silang dan
ber ar ti juga tidak ada lagi pr oduk ter subsidi.
8.
Dalam masalah biaya yang r elevan (
relevan cost
) yaitu biaya masa depan
yang ber ubah diantar a alter natif,
Activity Based Costing
akan dapat
membantu dalam mengambil keputusan untuk :
•
Menerima atau menolak alter natif
•
Membuat atau membeli suatu pr oduk
9.
Dalam ukuran per for ma (
Performince Measures
),
Activity Based Costing
dapat membuat analisis aktivitas untuk mengidentifikasi biaya ber nilai
ta mbah (
Value Added Cost
) dan biaya tidak ber nilai tambah (
Non Value
Added Cost
) Selanjutnya biaya yang tidak ber nilai tamba h dapat
dikurangi dengan car a :
•
Menghilangkan suatu aktivitas (
activity elimination
)
•
Menyeleksi suatu aktivitas (
activity selection
)
•
Mengurangi suatu aktivitas (
activity reduction
)
•
Membagi suatu aktivitas (
activity sharing
)
2.4.2.
Klasifikasi Biaya ABC
Dengan menggunakan sistem tr adisional, biaya var iabel adalah biaya
yang ber ubah sesuai dengan volume penjualan. Contohnya ter masuk :
mater ial langsung, biaya tenaga listr ik (
Power Costs
) dan sebagainya.
Biaya tetap adalah biaya yang tidak ber ubah sesuai dengan volume
pr oduksi. Biaya tetap ter masuk mayor itas dar i biaya over head.
Dengan menggunakan sistem ABC, Kaplan dan Cooper (1991 : 321)
menganjur kan mengklasifikasi biaya over head dengan car a yang ber beda.
Mereka mengusulkan :
1.
Biaya Var iabel J angka Pendek (
short-term variabel costs
)
Ini adalah biaya-biaya yang ber var iasi sesuai dengan volume pr oduksi
dan mer upakan biaya-biaya yang juga dik lasifikasikan sebagai var iabel
listr ik (
power costs
). Biaya ini ber var iasi dengan hubungan langsung
ter hadap volume pr oduk si, dinyatakan sebagai jam mesin.
Disar ankan bahwa biaya over head var iabel jangka pendek ditelusur i
ke produk dengan menggunakan pemacu biaya yang ber hubungan dengan
volume pr oduksi (
production volume related cost drivers
) yang tepat.
Contohnya ter masuk : jam tenaga ker ja, jam mesin, biaya mater ial langsung
atau bobot. Tidak seper ti sistem tr adisional, yaitu hanya satu atau dua basis
penyer apan (
asorption bases
) digunaka n. ABC mengak ui bahwa ter dapat
beber apa pemacu biaya pada kapan saja. J am tenaga kerja digunakan
dalam propor si yang ber beda oleh produk. Dalam kebanyakan organisasi,
hanya ter dapat suatu propor si yang ber beda oleh produk. Dalam
kebanyakan or ganisasi, hanya ter dapat suatu pr opor si over hea d yang kecil
yang dapat diklasifikasikan sebagai biaya var iabel jangka pendek.
2.
Biaya Var iabel J angka Panjang (
long-term variabel costs
)
Ter dapat biaya over head yang tidak ber var iasi dengan volume
pr oduksi, akan tetapi ber var iasi dengan tolak ukur aktifitas yang lain.
Contohnya, biaya untuk aktifitas pendukung, seperti penanganan
per sediaan, penjadwalan produksi,
Set up
dan sebagainya adalah tetap
dalam jangka pendek, akan tetapi ber var iasi dalam jangka panjang sesuai
dengan kisaran (
range
) dan kompleksitas pr oduk yang dipr oduksi. ABC
mensyar atkan biaya ini ditelusur i ke produk ber dasar kan pemacu biaya
pendukung dapat digolongkan sebagai biaya var iabel jangka panjang dan
dengan demikian ditelusur i ke produk dengan menggunakan pemacu biaya
yang tepat. Dalam sistem tr adisional, kebanyakan biaya ini dik lasifikasikan
sebagai biaya tetap.
3.
Biaya Tetap (
fixed costs
)
Dengan menggunakan ABC, biaya-biaya ini diklasifikasikan sebagai
biaya yang tidak ber var iasi, dalam per iode wak tu ter tentu dengan setiap
indikator aktivitas. Contohnya adalah gaji Dir ektur Pengelola. Penelitian
oleh Kaplan dan Coope
r
mengusulkan bahwa biaya-biaya ini mer upakan
pr opor si yang r elatif k ecil dar i biaya total.
2.4.3.
Pemilihan Cost Driver
Hal ter penting lainnya adalah mengenai per timbangan untuk memilih
cost dr iver kar ena cost dr iver mempunyai per anan penting dalam Activity
Based Costing. Menur ut A.Widjaja Tunggal (2000 : 87) cost dr iver
setidaknya ada dua faktor yang har us diper timbangkan yaitu :
1.
Biaya Pengukuran (
Cost Measurement
)
Dalam sistem Activity Based Costing banyak cost dr iver yang dapat
dipilih dan digunaka n. Namun lebih disukai memilih cost dr iver yang
menggunakan infor masi yang telah ter sedia. Infor masi yang tidak ter sedia
dalam sistem yang ada har us dihasilkan, yang akan meningkatkan biaya
sistem infor masi per usahaan. Suatu kelompok biaya yang homogen
setia p cost dr iver har us dipilih. Pilihan ini meminimalkan biaya penguk uran
(
cost measurement
). Misalnya biaya pengendalian mutu dan biaya penyiapan
mesin dan per alatan (
set up cost
) ditempatkan dalam kelompok yang sama,
member ikan pilihan menggunakan baik ja m inspeksi atau jumlah
productions run
sebagai cost dr iver . Apabila kuantitas dar i kedua cost dr iver
yang digunakan oleh kedua produk telah dihasilkan oleh sistem infor masi
per usahaan, maka apa yang ter pilih tidaklah penting. Namun asumsikan
bahwa jam inspeksi menur ut pr oduk tidak ditelusur i, akan tetapi data untuk
productions run
ter sedia. Dalam keadaan demik ian,
productions run
dapat
dipilih sebagai cost dr iver , menghindar i kebutuhan untuk menghasilkan
suatu infor masi biaya tambahan.
2.
Tingkat Kor elasi (
Degree of Correlation
)
Tingkat kor elasi antar a cost dr iver dan konsumsi over head actual.
Str uktur infor masi yang ada dieksploitasi dengan car a yang lain untuk
meminimalkan biaya untuk memper oleh kuantitas cost dr iver .
Kadang-kadang mungk in untuk menggantikan suatu cost dr iver yang secar a
langsung mengukur konsumsi ter sebut. Misalnya jam inspeksi dapat
digantikan oleh sejumlah inspek si aktual yang ber hubungan dengan setiap
pr oduk, angka ini tampak lebih dik etahui. Sudah tentu penggantian ter sebut
ber laku apabila jam yang digunakan per -inspeksi adalah cukup stabil untuk
setiap pr oduk.
Tahap-tahap dalam mengimpletasikan
Activity Based Costing
System
adalah sebagai ber ikut menur ut Hansen dan Mowen (1997 : 148) dan A.
Widjaja Tunggal (2000 : 90)
2.4.4.1.Tahap Pertama
Pada tahap per tama penentuan har ga pokok pr oduksi ber dasarkan
aktivita s meliputi empat langkah sebagai ber ikut :
1.
Mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas dan
biaya-biaya yang ter kait. Pada tahap ini biaya dar i masing-masing
aktivitas dikelompokkan ke dalam suatu
cost pool
(kelompok biaya).
Identifikasi aktivitas-aktivitas yang luas dikelompokkan k e dalam empat
kategor i aktivitas yaitu :
a.
Aktivitas-aktivitas ber level batch
Aktivita s-aktivita s ber level batch (
batch-level actvities
) adalah
aktivitas yang dik er jakan setiap kali suatu batch pr oduk diproduksi,
besar kecilnya aktivitas ini dipengar uhi oleh jumlah batch pr oduk yang
dipr oduksi. Contoh aktivitas yang ter masuk kedalam ini adalah aktivitas
setup, aktivitas pengelolaan bahan (ger akan bahan dan or der pembelian),
aktivitas inspeksi.
b.
Aktivitas-aktivitas ber level pr oduk
Aktivita s-aktivita s ber level pr oduk (
Product level activities
) atau
aktivitas penopang produk (
product sustaining activities
) adalah aktivitas
oleh per usahaan. Ak tivitas ini mengkonsumsi masukan untuk
mengembangkan produk atau memungkinkan pr oduk diproduk si dan
dijual. Aktivitas ini dapat dilacak pada produk secar a individual, namun
sumber -su mber yang dikonsumsi oleh aktivitas ter sebut tidak
dipengar uhi oleh jumlah produk atau batch pr oduk yang diproduksi.
Contoh aktivitas yang ter masuk dalam kelompok ini adalah aktivitas
penelitian dan pengembangan produk, per ekayasaan pr oses, spesifikasi
pr oduk, per ubahan per ekayasaan dan peningka tan produk.
c.
Ak tivita s-aktivita s ber level fasilitas
Ak tivitas ber level fa silitas (
facility-level activities
) adalah meliputi
aktivita s untuk menopang pemanufakturan secar a umum yang
diper lukan untuk menyediaka n fasilitas atau kapasitas pabr ik untuk
mempr oduksi produk namun banyak sedikitnya aktivita s ini tidak
ber hubungan dengan volume atau bauran pr oduk yang diproduksi.
Ak tivita s ini dimanfaatkan secar a ber sama oleh ber bagai jenis produk
yang ber beda. Contoh aktivitas ini mencakup misalnya : Manajemen
pabr ik, pemelihar aan bangunan, keamanan, per ta manan (landscaping),
pener a ngan pabr ik k eber sihan, pajak bumi dan bangunan (PBB), ser ta
depr esiasi pabr ik. Aktivitas manajemen pabr ik ber sifat administratif,
misalnya aktivita s pengelolaan pabr ik, kar yawan dan akuntansi untuk
pabr ik.Untuk memper mudah penjelasan dalam pengelompoka n aktifitas
maka digambar kan suatu bagan oleh Cooper dan Kaplan (1991 : 270)
Plant management
Building maintenance Secur ity and landscaping
Pr ocess engineer ing Pr oduct spesification Engineer ing change notice Pr oduct enhancement
Set up
Mater ial movement
Pur chase or der Inspection Dir ect labour Mater ial Machine hour Ener gy
Gambar 2.3 Klasifikasi Level Aktivitas dan Cost Dr iver nya
2.
Menentukan
cost driver
untuk masing-masing aktivitas
Pemicu biaya (
cost driver
) adalah setiap faktor yang menyebabkan
per ubahan dalam biaya suatu aktivitas. Beber apa contoh
cost driver
adalah jumlah jam mesin, jumlah unit produk si dan sebagainya.
3.
Menentukan
cost pool homogen
Setelah menentukan
untuk setiap biaya dar i aktivitas over head,
kemudian akan diper iksa apakah
cost pool
pada setiap kategor i aktivitas
ada yang homogen atau tidak. Kelompok biaya homogen (
homogen cost
pool
) adalah sekumpulan biaya over head yang ter hubungka n secar a logis
Facility Sustaning
Activity
Product Sustaning
Activity
Unit Level Batch Level
dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan ber bagai macam biaya
ter sebut dapat diter angkan oleh
cost driver
tunggal. J adi agar dapat
dimasukkan ke dalam suatu kelompok biaya yang homogen, aktivita
s-aktivitas
overhead
har us dihubungkan secar a logis dan mempunyai r asio
konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi adalah
pr opor si masing-masing aktivitas yang dikonsumsi untuk setiap produk.
Rasio ter sebut dihitung dengan car a membagi jumlah suatu aktivitas
yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah selur uh aktivitas.
Pengelompokan aktivitas ber dasarkan level aktivitas yang sama maupun
dengan ber dasarkan
cost driver
yang sama menur ut Hansen dan Mowen
(1997 : 15 )
Aktivita s Individu
A1 A2 A3
A4
A5 A6
Menyar ing aktivitas
Unit level Batch level Pr oduct level Facility level
Filter dr iver Filter dr iver Filter dr iver Filter dr iver
1 2
3 4
5 6
7
Homogenus cost pool
Gambar 2.4 Klasifikasi Aktivitas Ber dasa r Level Aktivitas
dan Cost Dr iver Ya ng Sama
4.
Menentukan
pool rate
untuk masing-masing
cost pool
Tar if kelompok (
pool rate
) adalah tar if biaya over head per unit
cost driver
yang dihitung untuk suatu kelompok aktivitas (
cost pool
).
PR = A : B
Dimana : PR =
Pool rate
A
=
Homogenous cost pool
B
=
Cost driver
ter tentu untuk semua produk
2.6.4.2. Tahap Kedua
Tahap kedua ini menelusur i dan membebankan biaya tiap
cost pool
ke produk.J adi biaya untuk setiap kelompok biaya
overhead
dilacak
keber bagai jenis produk. Hal ini dilaksanakan dengan menggunakan dengan
menggunakan tar if kelompok yang dikonsumsi oleh setiap pr oduk. Uk uran
ini mer upakan penyeder hanaan k uantitas
cost driver
yang digunaka n oleh
setia p produk.
Keter angan : Tar if kelompok adalah tar if biaya over head per unit cost
dr iver yang dihitung untuk suatu kelompok
aktivitas.
Overhead yang dibebankan = Tarif kelompok x unit – unit cost driver yang digunakan
BOP Per unit =
uksi
YangDiprod
JumlahUnit
oduk
Jenis
TotalBOP
/
Pr
Biaya Barang Langsung
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya Overhead Pabrik
Harga Pokok Produksi +
+ =
2.4.5.
Keunggulan ABC Dibandingkan Dengan Sistem Tradisional
Menur ut A. Widjaja Tunggal (2000 : 26) keunggulan ABC dibanding
system tr adisional adalah :
1.
ABC
menggunakan
aktivita s-aktivita s
sebagai
pemacu
untuk
menentukan ber apa besar setiap over head tidak langsung dar i setiap
pr oduk mengkonsumsikan. Sistem tr adisional mengalokasi over head
secar a
arbire
ber dasar kan satu atau dua basis alokasi yang non
r epr esentatif, dengan demikian gagal menyer ap konsumsi over head yang
benar menur ut produk individual.
2.
ABC membagi konsumsi over head k edalam empat kategor i : unit, batch,
pr oduk, dan penopang fasilitas. Sistem tr adisional membagi biaya
over head kedalam unit dan yang lain. Sebagai akibatnya ABC
mengkalkulasi konsumsi sumber daya, tidak semata-mata pengeluar an
organisional. ABC memfokus pada sumber biaya, tidak hanya dimana
sumber biaya ter ja di. Ini mengakibatkan lebih ber guna untuk
pengambilan keputusan. Manajemen dapat mengik uti bagaimanabiaya
timbul dan menemukan car a-car a untuk mengur angi biaya.
3. Fokus ABC adalah pada biaya, mutu, dan faktor waktu. Sistem
tr adisional ter utama memfokus pada kiner ja keuangan jangka pendek,
seper ti laba, dengan cukup akurat. Apabila sistem tr adisional digunakan
untuk penetapan har ga dan untuk mengidentifikasi produk yang
2.5.Ilustr asi Penentuan HPP
PT. ABC mempunyai suatu perusahaan yang menjual dua jenis produk alat tulis yang berkualitas tinggi, yaitu alat tulis jenis A dan alat tulis jenis B. Data kalkulasi biaya ada di bawah ini :
Tabel 2.1. Data Kalkulasi Biaya
Produk 2 Produk 1 Jumlah
- Unit yang dihasilkan pertahun - Jumlah putaran produksi (production
Runs) - Jam inspeksi - Jam kilowatt (kwh)
- Biaya utama (bahan langsung dan upah langsung) 20.000 40 1.600 10.000 100.000 100.000 60.000 2.400 50.000 500.000 120.000 100 4.000 60.000 600.000
Data Departemental Departemen Departemen Jumlah
- Jam tenaga kerja langsung Pruduk1 Pruduk2 8.000 152.000 32.000 48.000 40.000 200.000
Jumlah 160.000 80.000 240.000
- Jam mesin : Pruduk1 Pruduk2 8.000 32.000 12.000 68.000 20.000 100.000
Jumlah 40.000 80.000 120.000
- Biaya Operasional : Biaya transportasi Pengendalian mutu Tenaga Listrik Pemeliharaan 96.000 74.000 28.000 26.000 96.000 74.000 140.000 130.000 192.000 148.000 168.000 156.000
Menghitung tarif pabrik secara keseluruhan (plant wide rate) dengan membagi overhead total dengan jam mesin total menghasilkan tarif overhead berikut : Tarif overhead secara
keseluruhan =
000
.
120
000
.
664
Rp
Rp
Dengan menggunakan tarif dan informasi lain dari tabel 2.1. biaya unit setiap dapat dikalkulasi, seperti dalam tabel 2.2. dibawah ini :
Tabel 2. 2. Per hit ungan biaya unit : Tar if over head pabr ik secar a
pr oduk keselur uhan
Pr oduk A
Biaya ut ama
Rp 100.000
Biaya over head 20.000 unit x Rp 5,53
Rp 110.600
Rp 210.600
Biaya per unit =
unit
Rp
000
.
20
600
.
210
= Rp 10,53
Pr odukk B
Biaya ut ama
Rp 500.000
Biaya over head 20.000 unit x Rp 5,53
Rp 553.600
Rp 1.053.000
Biaya per unit =
unit
Rp
000
.
100
000
.
053
.
1
= Rp 10,53
•
Ta r if Fun dam en ta l
Dengan menggunakan jam tenaga kerja untuk Departemen 1 dan jam mesin untuk Departemen 2 pada tabel 2.2. menghasilkan tarif departemental berikut ini :
Tarif departemen 1 = Rp jamtenaga ja
Rp Rp
ker
/
,
.
.
4
1
000
160
000
224
=
Tarif departemen 2 =
5
,
5
/
sin
000
.
80
000
.
440
me
jam
Rp
Rp
Rp
=
Dengan menggunakan tarif diatas dan data dari tabel 2.2. perhitungan biaya unit untuk setiap produk disajikan dalam tabel 2.3. sebagai berikut :
Tabel 2.3. Perhitungan biaya unit dengan tarif departemental
Pr oduk A
Biaya ut ama
Rp 100.000
Biaya over head :
Depar t emen 1 : 8.000 j am x Rp 1,4 = Rp 11.200
Depar t emen 2 : 12.000 j am x Rp 5,5 = Rp 66.000
Rp
77.200
Rp 177.200
Biaya per unit =
unit
Rp
000
.
20
200
.
177
= Rp 8,86
Pr oduk B
Biaya ut ama
Rp
500.000
Biaya over head :
Depar t emen 1 : 152.000 j am x Rp 1,4 = Rp 212.800
Depar t emen 2 : 68.000 j am x Rp 5,5 = Rp 374.000
Rp
586.800
Rp 1.086.800
Biaya per unit =
unit
Rp
000
.
100
800
.
086
.
1
= Rp 10,87
• Tar if over head pabr ik secar a keselur uhan vs tar if Depar temental
hubungan yang mendasar i, kar ena pupuk B menggunakan sedikit
f akt or -f akt or t er j adinya over head, sedangkan pupuk A
menggunakan banyak j asa demikian.
•
Diver sit as Pr oduk (Pr oduct Diver sit y)
Apabila pr oduk mengkonsumsi akt ivit as over head dalam pr opor si
yang
ber beda, suat u per usahaan mempunyai diver sit as pr oduk.
Pr opor si dar i semua akt ivit as over head yang dikonsumsi baik oleh
pupuk A dan pr oduk B dihit ung dan disaj ikan dalam t abel 2.4.
dibawah ini :
Tabel 2. 4. Diver sit as Pr oduk : Pr opor si konsumsi
Akt ivit as Over head
Ket er anga
n
Pr oduk A
Pr oduk B
Tolok Ukur
Konsumsi
-
Set up
-
Pengendalian
Mut u
-
Tenaga list r ik
-
Pemelihar aan
(1)
(2)
(3)
(4)
0,40
0,40
0,17
0,17
0,60
0,60
0,83
0,83
Put ar an
J am
I nspeksi
J am
Kilowat t
J am Mesin
Ket er angan:
1.
40/ 100 (Pr oduk A) dan 60/ 100 (Pr oduk B)
2.
1.600/ 4.000 (Pr oduk A) dan (Pr oduk B)
3.
10.000/ 60.000 (Pr oduk A) dan (Pr oduk B)
4.
20.000/ 120.000 (Pr oduk A) dan (Pr oduk B)
Kalkulasi biaya Act ivit y Based Cost ing unt uk memper baiki sit uasi
t er sebut :
j umlah pemacu biaya yang ber basis volume t ipikal dalam sist em
konvensional.
•
Pr osedur Tahap Per t ama
Dalam kalkulasi biaya ber basis akt ivit as t ahap per t ama, biaya
over head dibagi ke dalam kelompok biaya yang homogen (homogeneous
cost pools). Suat u kelompok biaya yang homogen mer upakan suat u
kumpulan dar i biaya over head, yait u var iasi biaya dapat dij elaskan oleh
sat u pemacu biaya. Akt ivit as-akt ivit as over head adalah homogen
apabila mer eka mempunyai r asio konsumsi yang sama unt uk semua
pr oduk.
Apabila suat u kelompok biaya t elah didef inisikan, biaya per unit dar i
pemacu biaya dihit ung unt uk kelompok biaya t er sebut . I ni dinamakan
t ar if kelompok (pool r at e). Dengan demikian, t ahap per t ama
menghasilkan 2 keluar an :
1.
Sekumpulan kelompok biaya yang homogen, dan
2.
Suat u t ar if kelompok (pool r at e)
Tabel 2. 5. kalkulasi biaya ber basis akt ivit as : Pr osedur t ahap
per t ama
Kelompok 1 :
Biaya set up
= Rp 192.000
Biaya pengendalian mut u
= Rp 148.000
Biaya t ot al
= Rp 340.000
Put ar an Penj ualan (pr oduct ion r uns)
= Rp 100
Tar if kelompok (biaya per “put ar an”) =
100
000
.
340
Rp
Rp
= Rp 3.400
Kelompok 2:
Biaya t enaga list r ik
= Rp 168.000
Biaya pemelihar aan
= Rp 156.000
Biaya t ot al
= Rp 324.000
J am mesin
= 120.000
Tar if kelompok (biaya per j am mesin) =
unit
Rp
000
.
120
000
.
324
= Rp 2,7
•
Pr osedur Tahap kedua
Dalam t ahap kedua ini biaya set iap kelompok dit elusur i ke
pr oduk. I ni dilakukan dengan menggunakan t ar if kelompok (pool r at e)
yang dihit ung dalam t ahap per t ama dan t olak ukur dar i j umlah sumber
daya yang dikonsumsi oleh set iap pr oduk. Tolok ukur ini mer upakan
kuant it as pemacu biaya yang digunakan oleh set iap pr oduk. Dalam
cont oh ini, t olok ukur t er sebut mer upakan j umlah put ar an pr oduksi
(pr oduct ion r uns) dan j am mesin yang digunakan set iap pr oduk. Dengan
demikian over head yang dibebankan dar i set iap kelompok biaya ke
set iap pr oduk dihit ung sebagai ber ikut :
Over head yang dibebankan = t ar if kelompok x unit pemacu biaya
yang digunakan.
Pada t abel 2.5. t ar if unt uk kelompok ini adalah 3400 per pr oduct ion
r uns. Dan t abel 2.3. pupuk A menggunakan 40 pr oduct ion r uns. I ni
ber ar t i, over head yang dibebankan dar i kelompok biaya per t ama adalah
Rp 136.000 (40 x 3.400).
Pembebanan yang sama dilakukan unt uk kelompok biaya yang lain
dan unt uk pr oduk yang lain (unt uk kedua kelompok biaya). Biaya
Tot al ini kemudian dibagi dengan j umlah unit yang dihasilkan.
Hasilnya adalah biaya over head per unit . Dengan menambahkan biaya
over head per unit ke biaya ut ama per unit menghasilkan biaya
manuf akt ur ing per unit . Dalam t abel 2.6. ber ikut ini, biaya
manuf akt ur ing per unit dihit ung dengan menggunakan Act ivit y Based
Cost ing :
Tabel 2. 6. Kalkulasi biaya ber basis akt ivi t as (ABC) biaya unit
pr osedur t ahap ke dua
Pr oduk A
Over head
Kelompoik 1 = 40 x Rp 3.400
= Rp 136.000
Kelompok 2 = 20.000 x Rp 2,70
= Rp 54.000
Biaya over head t ot al
= Rp 190.000
Biaya ut ama
= Rp 100.000
Biaya manuf akt ur ing t ot al
= Rp
290.000
Unit yang dihasilkan
= Rp 20.000
Biaya unit =
000
.
20
000
.
290
Rp
= 14,50
Pr oduk B
Over head
Kelompoik 1 = 60 x Rp 3.400
= Rp
204.000
Kelompok 2 = 100.000 x Rp 2,70
= Rp 270.000
Biaya over head t ot al
= Rp
474.000
= Rp 500.000
= Rp 974.000
Unit yang dipr oduksi
= Rp 100.000
Biaya unit =
000
100
000
974
.
.
Rp= 9,74
Per bandingan Biaya Pr oduk
yang benar , yait u biaya yang paling t epat diant ar a ket iga yang disaj ikan
dalam t abel 2.7. ber ikut :
Tabel 2. 7. per bandingan biaya unit
Pr oduk A
Pr oduk B
-
Konvensional
a.
Tar if pabr ik secar a keselur uhan
b.
Tar if depar t ement al
-
Biaya ber basis akt ivit as (Act ivit y
Based Cost )
Rp 10,53
Rp 8,86
Rp 14,50
B AB III
BAB III
METODE PENELITIAN