METABAHASA
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
METABAHASA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Journal homepage: http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metabahasa/index
Journal Email: [email protected] PISSN: 2656-5315 EISSN: 2656-5579
ETOS KERJA TENAGA PENDIDIK DAN KEPENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN PESERTA DIDIK
TAKRONI Universitas Majalengka Email: [email protected]
YAYAT HIDAYAT Universitas Majalengka Email: [email protected]
ABSTRACT
The aim of this study is to get an overview and simultaneously analyze the work ethic of teachers and education personnel in improving student intelligence in SDN Lamarantarung III Cantigi Indramayu District. The research in this thesis, carried out using a qualitative method that puts the researcher as tile and main instrument of research. The study was conducted by observation, interview and interviews with all the elements associated with the object of research studies in SDN Lamarantarung III Cantigi Indramayu District. Based on research methods in question, the results are as follows: (1) The educators (teachers) in SDN Lamarantarung III has acted and worked in accordance with religious norms, legal, social, and national culture, showing personal example, showing a mature person, work ethic, high level of responsibility, a sense of pride in being an educator (teacher) and uphold the code of ethics of the teaching profession. This shows that the work ethic of educators in SDN Lamarantarung III has been as expected. (2) The education personnel in SDN Lamarantarung III consistently and consequently carry out various tasks an function as set forth in the laws relating to education personnel such as: administration student, personnel, finance, infrastructure, administration, public relations and schools as well as with the administration of the curriculum. (3) In connection with the intelligence of the students at SDN Lamarantarung III, in this study focused on students' interpersonal intelligence observed in good behavior during the learning activities as well as during intermission. Interpersonal intelligence learners in SDN Lamarantarung III has been as expected. This is evident from their ability in terms of: (a) understand and communicate effectively both in the form of verbal or non-verbal; (B) able to actively interact with peers and teachers; (C) are able
Article Received: 01 Januari 2020, Review process: 10 Januari 2020, Accepted: 20 Januari 2020, Article published: 30 Januari 2020
to influence the opinions and actions of peers as well as to mediate in the conflict; (D) have the skills to work in a group; (E) recognize and use a variety of ways to connect (f) sensitive to the feelings, motivation and mental state of a person; (G) establish and maintain a relationship; and (h) tend to be active to know the latest things. (4) The work ethic of teachers and in SDN Lamarantarung III in enhancing the intelligence of students in the high category. It is known from the totality of the teachers and the work regardless of the status of the work that he shook. The work ethic is the basis for improving the ability of a person working in the works
Keywords: Work Ethic, Teachers, Personnel, Student Intelligenc.
ABSTRAK
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan sekaligus menganalisis etos kerja pendidik dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik di SDN Lamarantarung III Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu. Penelitian dalam tesis ini, dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang menempatkan peneliti sebagai tile dan instrumen utama penelitian. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan interview dengan semua elemen yang terkait dengan objek kajian penelitian di SDN Lamarantarung III Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu. Berdasarkan metode penelitian dimaksud, diperoleh hasil sebagai berikut: (1.) Para pendidik (guru) di SDN Lamarantarung III telah bertindak dan bekerja sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional, menunjukkan pribadi yang teladan, menunjukkan pribadi yang dewasa, memiliki etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi pendidik (guru) dan menjunjung tinggi kode etik profesi guru. Hal ini menunjukkan bahwa etos kerja pendidik di SDN Lamarantarung III telah sesuai dengan yang diharapkan. (2) Tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III secara konsisten dan konsekuen melaksanakan berbagai tugas an fungsinya sebagaimana termaktub dalam undang-undang berkaitan dengan tenaga kependidikan seperti: administrasi kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana prasarana, administrasi hubungan masyarakat dan sekolah serta melaksanakan administrasi kurikulum. (3) Berkaitan dengan kecerdasan siswa di SDN Lamarantarung III, dalam penelitian ini di fokuskan pada kecerdasan interpersonal siswa yang diamati dalam tingkah laku baik selama kegiatan pembelajaran maupun selama waktu istirahat. Kecerdasan interpersonal peserta didik di SDN Lamarantarung III sudah sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka dalam hal: (a) mengerti dan berkomunikasi dengan efektif baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal; (b) mampu berinteraksi secara aktif dengan teman sebaya maupun dengan guru; (c) mampu mempengaruhi pendapat dan tindakan teman sebaya serta menjadi penengah dalam konflik; (d) memiliki keahlian bekerja dalam kelompok; (e) mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan (f) peka terhadap perasaan, motivasi dan keadaan mental seseorang; (g) membentuk dan mempertahankan suatu hubungan; dan (h) cenderung aktif mengetahui hal-hal terbaru. (4) Etos kerja pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini diketahui dari totalitas para pendidik dan tenaga kependidikan dalam bekerja tanpa memandang status pekerjaan yang dia jabat. Etos kerja merupakan dasar untuk meningkatkan kemampuan bekerja seseorang dalam bekerja.
Kata Kunci: Etos Kerja, Pendidik, Tenaga Kependidikan, Kecerdasan Peserta Didik
PENDAHULUAN
Pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia. Keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah pelaksanaannya yaitu para pendidik khususnya guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Sebagai pendidik secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi. (Sudjana, 1996:2).
Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: (1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. (2) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (3) Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik tertentu. Atau latar belakang keluarga, status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran (4) Menjunjung tinggi perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika dan (5) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Muchtar Buchari (2004:73) mengatakan bahwa upaya-upaya untuk meningkatkan mutu akademik suatu lembaga ilmiah akan selalu terjalin dengan usaha-usaha untuk meningkatkan semangat profesionalisme, sedangkan upaya untuk meningkatkan semangat profesionalisme sangat dipengaruhi upaya peningkatan etos kerja.
Prestasi belajar merupakan sasaran dan tujuan yang selalu diharapkan baik siswa maupun guru. Sebab tolak ukur keberhasilan guru bukan penyelesaian dari suatu materi akan tetapi kemampuan untuk memahami materi tersebut, di samping hasil akhir dari proses belajar yaitu hasil belajar dengan baik maka suatu pertanda keberhasilan guru dalam menjalankan tugasnya. Bila hal tersebut dapat disadari semua guru, maka pencapaian prestasi belajar dapat diperoleh dengan maksimal.
Sebab profesionalitas guru yang didasari oleh etos kerja merupakan salah satu jalan untuk dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa.
Dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 dalam Pasal 1 nomor 1, dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk mewujudan hal tersebut di atas, sekolah harus dibangun sedemikian rupa sehingga guru tidak hanya menstransfer isi kurikulum, tetapi lebih dari itu, menciptakan bagaimana proses pembelajaran dapat memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan para siswa. Dengan demikian hal tersebut dapat menopang bagi kehidupan mereka di tengah-tengah masyarakat dan dunia kerja.
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Peneliti menganggap bahwa etos kerja guru sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik, sebab tanpa etos kerja yang tinggi, mustahil tujuan pendidikan yang telah dikemukakan sebelumnya akan tercapai. Karena itu, dalam kaitannya dengan masalah prestasi belajar siswa, maka diperlukan adanya etos kerja guru agar dapat tercapai output pendidikan yang maksimal.
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti berusaha meneliti bagaimana etos kerja tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik di SDN Lamarantarung III Kabupaten Indramayu.
METODOLOGI
Penelitian ini berupaya untuk mengetahui, dan menelaah tentang etos kerja tenaga pendidik dan kependidikan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik di SDN Lamarantarung III Kabupaten Indramayu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau pemetaan lisan dari orang- orang atau perilaku yang dapat diamati, yang sesuai dengan keadaan sebenarnya atau (Naturalistic Inquiry) (Jamali, 2011:97). Hal ini sesuai dengan pendapat Denzin dan Lincoln yang mangatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada (Lexy J. Moleong, 2006:5).
Penelitian kualitatif menurut Donal Ary (2002:424-425), memiliki enam ciri yaitu:
1. memperdulikan konteks dan situasi (concern of context), 2. berlatar alamiah (natural setting), 3. manusia sebagai instrumen utama (human instrument), 4. data bersifat deskriptif (descriptive data), 5. rancangan penelitian muncul bersamaan dengan pengamatan (emergent design), 6. analisis data secara induktif (inductive analysis).
Studi ini menggunakan studi kasus untuk mendiskripsikan etos kerja tenaga pendidik dan kependidikan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik di SDN Lamarantarung III Kabupaten Indramayu.
Etos kerja tenaga pendidik dan kependidikan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik merupakan gejala sosial (social action) yakni interaksi antara tenaga pendidik dan kependidikan dalam hal ini guru dan pegawai serta siswa sehingga dalam konteks ini peneliti memahami proses tersebut dengan menggunakan sudut pandang persepsi emik, yang menurut Moeleong adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami suatu fenomena yang berangkat dari dalam (internal atau domestik).
Sasaran studi ini adalah perilaku atau tindakan- tindakan, kebijakan- kebijakan yang dipergunakan dan diambil oleh tenaga pendidik dan kependidikan dalam mengelola interaksi dengan peserta didik secara psikologis. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pendekatan penelitian kualitatif yang sesuai adalah fenomenologic naturalistic (Lexy J. Moleong, 2006:58).
Penelitian ini mengandung 2 validitas, yaitu validitas internal dan eksternal.
Validitas internal terkait dengan tingkat pengaruh perlakuan (treatment) atribut yang ada terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa, yang didasarkan atas ketepatan prosedur dan data yang dikumpulkan serta penarikan kesimpulan. Sedangkan validitas eksternal terkait dengan dapat dan tidaknya hasil penelitian ini untuk digeneralisasikan pada subjek lain yang memiliki kondisi dan karakteristik yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendidik dan tenaga kependidikan memiliki tanggungjawab dan peran masing- masing dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Namun, keduanya tidak dapat dipisahkan, karena satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan yang cukup erat.
Para pendidik membutuhkan tenaga kependidikan agar membantu mereka khususnya berkaitan dengan administrasi profesionalnya sebagai pendidik di sekolah. Pendidik dan tenaga kependidikan harus dapat memberikan tauladan yang baik untuk selalu dicontoh dan ditiru oleh seluruh peserta didik di sekolahnya. Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik sehingga menuntut elemen pendidikan termasuk di dalamnya pendidik dan tenaga kependidikan untuk bertindak sebagai pelatih.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas tadi, maka sebenamya pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses pendidikan, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa/ anak bangsa ke taraf yang di cita-citakan. Setiap rencana kegiatan pendidik dan tenaga kependidikan harus dapat didudukkan dan dibenarkan semata- mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan pofesi dan tanggung jawabnya.
Para pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III harus mampu berprilaku baik untuk mencitrakan nama baik sekolah. Mencitrakan nama baik sekolah bukan hanya menjadi kewajiban dari kepala sekolah ataupun guru- gurunya saja, namun sudah menjadi tanggung jawab bersama agar sekolah tersebut menjadi sekolah yang terbaik dari segi pembelajaran, kualitas, dan prestasi siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, pihak sekolah berusaha untuk memacu peserta didik dalam berprestasi pada saat mengikuti perlombaan yang diadakan oleh sebuah instansi atupun sekolah- sekolah tetangga. Dalam mengikutsertakan peserta didik untuk mengikuti perlombaan yang diadakan, sekolah telah memiliki guru-guru pembimbing dalam setiap bidangnya masing-masing.
Para pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu bertingkah laku sopan dalam berbicara, berpenampilan, dan berbuat terhadap semua peserta didik, orang tua, dan teman sejawat. Berdasarkan pengamatan terlihat bahwa guru AS, MR, JR, SY dan DH menggunakan bahasa yang santun dalam berkomunikasi dengan teman sejawat, peserta didik, dan juga warga sekolah. Pendidik dan tenaga kependidikan menggunakan bahasa yang lembut jika berkomunikasi dengan peserta didik dan juga guru terlihat bersikap terbuka dengan peserta didik, misalnya ketika bertemu dengan guru, siswa bertegur sapa kemudian menyalami guru tersebut, sehingga terlihat keakraban antara guru dan siswa. Interaksi antara guru dan siswa lebih banyak terjadi pada saat proses pembelajaran.
Di Sekolah Dasar Negeri Lamarantarung III para pendidik dan tenaga kependidikan memiliki tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu faktor yang mempunyai peranan penting karena merupakan mesin penggerak bagi segenap sumber daya sekolah. Betapa pentingnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di dalam mencapai keberhasilan suatu sekolah. Biasanya pada sekolah yang berhasil orang akan selalu mengatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan adalah kunci keberhasilan sekolah itu. Untuk dapat melaksanankan tugas yang baik serta dapat memainkan peranannya demi keberhasilan sekolah mereka perlu memiliki etos kerja yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan etos kerja pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III secara garis besar dikatakan baik. Ini terlihat dari hasil wawancara penilaian dari Kepala Sekolah SDN Lamarantarung III Kabupaten Indramayu.
Para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah harus menjadikan kerja sebagai kebutuhan sehingga jika tidak bekerja ada yang kurang dari dirinya. Jika pendidik dan tenaga kependidikan sudah menganggap kerja sebagai suatu kebutuhan diasumsikan pendidik dan tenaga kependidikan suka bekerja keras sehingga tak ada tugas yang tak terselesaikan.
Secara umum etos kerja pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik termasuk dalam kategori baik. Hal ini diketahui dari totalitas para pendidik dan tenaga kependidikan dalam bekerja tanpa memandang status pekerjaan yang dia jabat. Etos kerja merupakan dasar untuk meningkatkan
kemampuan bekerja seseorang dalam bekerja. Mencermati pendapat diatas jelaslah bahwa etos kerja merupakan hal yang sangat prinsip bagi seseorang dalam bekerja.
Sebab apabila seseorang bekerja tanpa dilandasi oleh etos kerja yang baik diasumsikan pekerjaan yang dihasilkan tidak memuaskan.
Sebagai pondasi dalam bekerja dan menunjukkan etos kerja yang tinggi diantara pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu dilakukan dengan menghargai dan mempromosikan prinsip-prinsip Pancasila sebagai ideologi dan etika bagi semua warga negara Indonesia. Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup bangsa indonesia (Kaelan, 2010:30).
Di lingkungan sekolah, menghargai dan mempromosikan prinsip-prinsip Pancasila sebagai ideologi dan etika bagi semua warga negara Indonesia, dilakukan oleh para guru dan tenaga kependidikan agar anak-anak menghargai dan mencintai bangsa Indonesia sesuai dengan butir-butir Pancasila.
Sebelum mengawali pembelajaran, guru membiasakan peserta didik untuk berdo’a terlebih dahulu. Hal ini merupakan perwujudan sila pertama dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dan juga sejalan dengan pendapat Ridjin (2012:87) yang menyatakan bahwa manusia wajib bersyukur kepada Tuhan yang maha Esa yang diwujudkan melalui ibadah, upacara religius, do’a, samadi, refleksi, dan lain-lain. Guru yang membiasakan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah seperti upacara bendera, kultum dan kegiatan lainnya merupakan perwujudan dari Sila Persatuan Indonesia yaitu cinta bangsa Indonesia (Ridjin, 2012:194).
Kerjasama harus diterapkan dalam menjalin hubungan antarguru dan tenaga kependidikan agar tercipta hubungan yang harmonis, selaras, dan kesejahteraan.
Kegiatan- kegiatan kerjasama yang telah diterapkan dalam lingkungan SDN Lamarantarung III merupakan perwujudan dari sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini sejalan dengan oleh Kaelan (2010:32) bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap lingkungannya.
Pendidik dan tenaga kependidikan saling mengormati dan menghargai teman
sejawat sesuai dengan kondisi dan keberadaan masing-masing. Pendidik dan tenaga kependidikan telah menerapkan 3S (senyum, sapa dan salam) dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Senyum, sapa dan salam adalah bentuk komunikasi pertama yang dilakukan oleh guru jika bertemu dengan teman sejawat yang baru dilihatnya. Komunikasi yang dilakukan merupakan komunikasi yang dibangun untuk memelihara hubungan antar teman sejawat.
Dengan adanya hubungan yang terjalin tersebut, diharapkan terjadi semangat kekeluargaan dan kestiakawanan sosial. Hal ini juga dipertegas oleh Satori (2008:521) bahwa ada tiga sifat dalam hubungan yang terjalin antarguru, yaitu: (1) akademis, misalnya guru saling berkonsultasi dalam membahas materi pelajaran, (2) referal rujukan yang berarti guru meminta bantuan kepada guru yang lain apabila guru tidak dapat menangani peserta didiknya yang mengalami masalah psikologis, dan (3) hubungan pribadi, yang berarti ketika guru menghadapi persoalan pribadi yang tidak dapat diselesaikannya sendiri maka ia menceritakan dan mendiskusikan masalah itu kepada guru lain yang dapat dipercaya.
Pendidik dan tenaga kependidikan memiliki rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Rasa persatuan dan kesatuan harus ada didalam diri dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menciptakan rasa bangga terhadap bangsa dan negara. Pendidik dan tenaga kependidikan telah mimiliki rasa persatuan dan kesatuan Indonesia yang diwujudkan dengan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin, mengikuti kultum setiap hari Jum’at, dan mengikuti kegiatan-kegiatan lainnya yang diadakan oleh sekolah. Selanjutnya Ridjin (2012:130) menyatakan bahwa dalam mencapai persatuan Indonesia didukung oleh faktor- faktor: (1) Bhineka Tunggal Ika, (2) nasionalisme, (3) pengalaman perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan (4) wawasan nusantara.
Pendidik dan tenaga kependidikan mempunyai pandangan yang luas tentang keberagaman bangsa Indonesia. Keberagaman bangsa Indonesia khususnya di lingkungan SDN Lamarantarung III tidak menjadi penghambat baik dalam proses pembelajaran maupun di lingkungan sekolah. Pendidik dan tenaga kependidikan tidak membeda-bedakan peserta didik yang satu dengan yang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Sejalan dengan ini, Christine (2009:39) menyatakan bahwa guru yang hebat adalah guru yang dapat membuat siswa istimewa dengan memberikan pujian, kekaguman, dorongan dan bantuan yang setara pada semua siswa.
Pendidik dan tenaga kependidikan berprilaku baik untuk mencitrakan nama baik sekolah. Mencitrakan nama baik sekolah bukan hanya menjadi kewajiban dari kepala sekolah ataupun guru-gurunya saja, namun sudah menjadi tanggung jawab bersama agar sekolah tersebut menjadi sekolah yang terbaik dari segi pembelajaran, kualitas, dan prestasi siswa. Pendidik dan tenaga kependidikan telah mencitrakan dan mengembangkan nama baik sekolah dengan membimbing dan mendampingi peserta didik dalam mengikuti perlombaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Kusmayadi (2010:3) bahwa sebuah sekolah yang baik harus memaksimalkan potensi kecerdasan intrapersonal dan juga kecerdasan interpersonal guru, sehingga dengan memaksimalkan potensi tersebut guru bisa membuat kultur sekolah yang baik.
Pendidik dan tenaga kependidikan bertingkah laku sopan dalam berbicara, berpenampilan, dan berbuat terhadap semua peserta didik, orang tua, dan teman sejawat. Pendidik dan tenaga kependidikan menggunakan bahasa yang lembut jika berkomunikasi dengan peserta didik, teman sejawat, dan orang tua. Guru lebih intensif berkomunikasi dengan siswa dalam proses pembelajaran. Menurut Sardiman (2010:147) hubungan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran merupakan faktor penentu keberhasilan peserta didik itu sendiri. Selanjutnya Kusmayadi (2010:34) menyatakan bahwa komunikasi dalam proses pembelajaran bukan hanya berbicara secara verbal, melainkan juga secara nonverbal yang berarti apa yang diucapkan guru sesuai dengan gerak-gerik tubuhnya.
Penampilan seorang guru sangat dipengaruhi oleh karisma guru. Menurut Kusmayadi (2010:60) karisma adalah citra diri yang sangat positif, sehingga dengan karisma ini siswa dapat mengaguminya dan menyeganinya hanya dengan melihat wajah dan penampilannya. Dalam bertingkah laku dan berbuat terhadap orang tua, guru menjalin hubungan yang baik dengan orang tua peserta didik. Ini dibuktikan dengan kepercayaan orang tua terhadap guru dalam memberikan les tambahan kepada anaknya dan les tambahan ini merupakan permintaan dari orang tua.
Pendidik dan tenaga kependidikan mampu mengelola pembelajaran yang membuktikan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan dihormati oleh peserta didik, sehingga peserta didik selalu memperhatikan dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Majid (2008:11) pengelolaan pembelajaran merupakan suatu proses penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajara. Guru terlibat secara mendalam di dalam bebagai
kegiatan dalam proses pembelajaran seperti menjelaskan, merumuskan, membuktikan, menyimpulkan, dan menklarifikasikan, sehingga guru bukan hanya sekedar metransfer ilmu, melainkan membantu peserta didik dalam menterjemahkan semua aspek tersebut ke dalam prilaku-prilaku yang berguna dan bermakna. Hal ini sejalan dengan pendapat Wahyudi (2012:14) yang menyatakan bahwa tugas guru selain menyampaikan ilmu pengetahuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu juga sebagai perantara aktif akan nilai-nilai dan norma-norma susila yang tinggi dan luhur untuk bekal bermasyarakat.
Dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang guru, maka guru harus mengelola pembelajaran yang efektif agar materi yang disampaikan menjadi bermakna bagi peserta didik. Menurut Koswara (2008:103) pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang tidak hanya semata-mata memberikan dampak intruksional melainkan juga memberikan dampak pengiring positif. Dalam pembelajaran, siswa akan mengalami perubahan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dimyati (2009:174) bahwa proses pembelajaran akan mengubah siswa yang pada saat sebelum belajar kemampuannya hanya 25% misalnya, maka setelah belajar selama 5 bulan akan menjadi 100%.
Pendidik dan tenaga kependidikan menyelesaikan semua tugas adsministrasif dan non-pembelajaran dengan tepat waktu sesuai standar yang ditetapkan. Setiap melaksanakan pembelajaran guru selalu membawa daftar hadir siswa. daftar hadir merupakan salah satu bentuk dari tugas guru. Tugas administrasi merupakan tugas yang harus diselesaikan oleh guru antara lain guru harus menyiapkan atau membuat RPP, silabus, daftar hadir, daftar nilai dan lain-lain, sedangkan untuk tugas non administrasi antara lain guru menyiapkan buku tamu, buku inventaris dan buku revisi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyasa (2009:19) bahwa guru sebagai administrator dihadapkan pada berbagai tugas adsministrasi yang harus dikerjakan di sekolah, sehingga guru harus memilki pribadi yang jujur, teliti, rajin, serta memahami strategi dan manjamen.
Pendidik dan tenaga kependidikan memberikan kontribusi terhadap pengembangan sekolah dan mempunyai prestasi yang berdampak positif terhadap nama sekolah. Pendidik dan tenaga kependidikan memberikan kontribusi terhadap pengembangan sekolah dan mempunyai prestasi yang berdampak positif terhadap nama sekolah dengan menampilkan dan menciptakan prestasi peserta didik untuk nama baik sekolah.
Pendidik dan tenaga kependidikan memahami kode etik profesi. Kode etik merupakan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh seorang agar tanggung jawab itu dapat dijalankan dengan baik dengan mematuhi kode etik dapat bertingkah laku sesuai dengan kode etik yang dijalankan. Pendidik dan tenaga kependidikan telah melaksanakan dan menerapkan kode etik antara lain, membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran, menjalankan tugasnya sesuai dengan jam mengajar, dan dapat melakanakan tugas di luar jam mengajar, mengetahui latar belakang peserta didik, menjalin hubungan dengan teman sejawat, dan tergabung dalam Organisasi PGRI.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: Pertama, para pendidik bertindak dan bekerja sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional, menunjukkan pribadi yang teladan, menunjukkan pribadi yang dewasa, memiliki etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi pendidik (guru) dan menjunjung tinggi kode etik profesi guru. Hal ini menunjukkan bahwa etos kerja pendidik telah sesuai dengan yang diharapkan. Kedua, tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
Hasil Observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di lapangan diketahui bahwa tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III secara konsisten dan konsekuen melaksanakan berbagai tugas an fungsinya sebagaimana termaktub dalam undang- undang berkaitan dengan tenaga kependidikan seperti: administrasi kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana prasarana, administrasi hubungan masyarakat dan sekolah serta melaksanakan administrasi kurikulum. Ketiga, berkaitan dengan kecerdasan siswa, dalam penelitian ini di fokuskan pada kecerdasan interpersonal siswa yang diamati dalam tingkah laku baik selama kegiatan pembelajaran maupun selama waktu istirahat. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di lapangan diketahui bahwa kecerdasan interpersonal peserta didik sudah sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka dalam hal: (1) mengerti dan berkomunikasi dengan efektif baik dalam bentuk verbal maupun non- verbal; (2) mampu berinteraksi secara aktif dengan teman sebaya maupun dengan guru; (3) mampu mempengaruhi pendapat dan tindakan teman sebaya serta menjadi penengah dalam konflik; (4) memiliki keahlian bekerja dalam kelompok; (5) mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan (6) peka terhadap
perasaan, motivasi dan keadaan mental seseorang; (7) membentuk dan mempertahankan suatu hubungan; dan (8) cenderung aktif mengetahui hal-hal terbaru
Secara umum etos kerja pendidik dan tenaga kependidikan di SDN Lamarantarung III Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik termasuk dalam kategori baik. Hal ini diketahui dari totalitas para pendidik dan tenaga kependidikan dalam bekerja tanpa memandang status pekerjaan yang dia jabat. Etos kerja merupakan dasar untuk meningkatkan kemampuan bekerja seseorang dalam bekerja. Mencermati pendapat diatas jelaslah bahwa etos kerja merupakan hal yang sangat prinsip bagi seseorang dalam bekerja.
Sebab apabila seseorang bekerja tanpa dilandasi oleh etos kerja yang baik diasumsikan pekerjaan yang dihasilkan tidak memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta.Rineka Cipta.
Ary, Donald. 2000. Introduction to Research in Education. diterjemahkan oleh Arif Furchan. Jakarta: Usaha Nasional.
Buchari, Mochtar. 2006. Dasar- Dasar Kependidikan. Bandung: Tarsito.
Dalyono, M. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta. PT. Kencana Prenada Media Group.
Davis, SB dan DL Goetsch. 2002. Pengantar Manajemen Mutu 2. Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Prenhalindo
Faisal, Sanapiah. 2007. Format – Format Penelitian Social. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Gardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk. Batam: Interaksara.
Hamdani. 2011. Dasar- dasar Kependidikan. Bandung. CV Pustaka Setia.
Hersey, Paul dan Kenneth. H. Blanchard. 2000. Manajemen Perilaku Organisasi:
Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Terjemahan Agus Dharma.
Jakarta: Erlangga
Kartini Kartono. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa
Mulyasa, Dedi. 2011. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Bandung. PT.
Remaja Rosda Karya
Mulyasa, Enco. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
P. Siagian, Sondang. 2002. Kepemimpinan Organisasi & Perilaku Administrasi.
Jakarta: Penerbit Gunung Agung
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Purwanto, Ngalim. Prinsip- prinsip dan Tekhnik Evaluasi Pengajaran. Bandung. PT.
Remaja Rosdakarya.
Rosidah, Ambar Teguh Sulistiyani. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta. Graha Ilmu.
Saefullah. 2012. Psikologi Perkembangan dan Pendidikan. Bandung. CV Pustaka Setia.
Samani, M dan Haryanto MS. 2012. Pendidikan Karakter. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta; Kencana Prenada Media Group
Sudjana, Nana. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru
Surya, Mohammad. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pendidikan. Bandung:
Pustaka Bani Quraily
Susanto, Irean. 2006. Model Penjaminan Mutu dalam Pembelajaran. Modul Pelatihan Surakarta
Sutisna, Otong. 2012. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktik.
Bandung. Angkasa
Syaiful Bahri Djamarah dan Asana Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta.
Rineka Cipta
Tampubolon, Manahan P. 2008. Perilaku Keorganisasian. Bogor: Ghalia Indonesia Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen
Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Uno, Hamzah B. 2009. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Wahyudin. 2008. Pembelajaran dan Model- Model Pembelajaran. Jakarta; IPA Abong
Zulkifli. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.