• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keywords: Padang Market, Development, Rehabilitation, Government

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Keywords: Padang Market, Development, Rehabilitation, Government"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN PASAR RAYA PADANG TAHUN 1955-1990

Cindy Yulia1, Refni Yulia2, Kharles2

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat

2Dosen program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

The issues of this study is discussed about development of Padang market (1955-1990). Before 1995 Padang market hadn’t taken over by government.

Padang market initially managed by the private/personal. Over times Padang market taken by the city government and done rehabilitation including build the new stands for the merchants. The problem in this study is: How the background establishment of Padang market, How the development Padang market from 1955-1990. This study used history method with stage which compose in four stages that are heuristik, source critic, Interpretation, and Historiografi. The result showed that development of Padang market having a lot of rehabilitation of the year to year. The market start developed since 1971 done repair and updates with change the long stand to the new blocks and implemented in 7 phase. In 1988 and 1989 a private company change the VII phase to Duta Plaza. Padang market in 1990 managed of city government controlled by market official.

Keywords: Padang Market, Development, Rehabilitation, Government

PENDAHULUAN

Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat membutuhkan sarana penunjang salah satunya pasar, Menurut Kotler dan Amstrong “1999”pasar merupakan seperangkat pembeli aktual dan potensial dari sebuah produk atau jasa. Ukuran dari pasar sendiri tergantung pada jumlah orang

yang menunjukan kebutuhan, memiliki kemampuan dalam pertukaran. Keberadaan pasar dapat dianggap sebagai pusat perekonomian. Sering dikaitkan dengan pengertian kuno atau sesuatu yang bersifat luhur sebagai warisan nenek moyang.

(2)

Pasar Padang semula di bangun oleh pedagang China pada saat zaman kolonial Belanda. Pasca kemerdekaan, kepemilikan pasar diambil alih oleh pemerintah dan dikelola sendiri oleh pemerintah. Di bawah kepemilikan pemerintah, pasar Jawa sering direkonstruksi dan direvitalisasi. Hal ini disebabkan bahwa kecenderungan pasar yang sering kali terjadi kebakaran yang menghanguskan bangunan-bangunan pasar. Salah satu contonya adalah peristiwa kebakaran yang melanda pasar pusat setelah terjadinya peristiwa PRRI tahun 1955. Atas peristiwa tersebut, pemerintah kemudian melakukan perbaikan menyeluruh terhadap pasar dan menambah beberapa blok dan kios.

Seiring dengan perbaikan fasilitas pasar ini, pemerintah kemudian mengganti nama Pasar Kampung Jawa menjadi Pasar Raya Padang.

Setelah Pasar Kampung Jawa menjadi 1 Pasar Raya Padang, terjadi pergantian los lama dengan blok- blok baru dua lantai dilaksanakan dalam 7 fase. Fase I-III dimulai pada tahun 1959 dan fase IV-VII dimulai pada tahun 1971. Sebuah blok

dinamakan Blok A dibangun pada tahun 1973. Pasar makanan ditempatkan di Pasar Raya Timur, dibangun dengan tiga fase antara tahun 1978 dan 1983, lantai dua ditambahkan pada tahun 1987.

Blok yang lain dibangun pada tahun 1985 dibagian barat terminal angkutan umum. Banyak rumah yang harus dirobohkan untuk menyediakan ruangan bagi perluasan pasar. Umumnya rumah-rumah ini dimiliki oleh pemerintah dan disewakan kepada pegawai yang ditawari dengan rumah baru dengan harga yang murah. Tahun 1988 sebuah perusahaan Swasta mengubah fase VII menjadi duta Plaza lantai tiga ditambah dan lantai dua dan tiga diperbaharui dengan AC, Eskalator, Jubin putih, dan di depannya diberi cermin kaca gelap. Sehingga, Pasar Raya menjadi Primadona Karna menjelma menjadi “supermarket”.

Semua juga serba ada dipasar serta memiliki bangunan permanen.

Masing-masing pedagang memiliki lokasi sendiri di pasar.

Lokasi bagian tengah diperuntukan bagi pedagang tekstil dan barang- barang lain yang tahan lama. Lokasi

(3)

di sebelah barat untuk toko-toko yang menjual barang mahal, seperti perhiasan, perabot. Di Blok A, untuk peralatan listrik. Perluasan pasar dibagian barat terminal toko-tokonya banyak yang kosong. Pasar Raya Timur merupakan tempat penjualan bahan makanan mentah.

Pengelompokan jenis dagang ini sebenarnya lebih beragam lagi dibandingkan apa yang digambarkan di sini. Tahun 1975 ke depan, pemerintah telah mengatur pengelompokan ini dengan peraturan daerah. Pasar-pasar sekunder lama telah diperbaharui (Program ini diberi nama MIP, Market Improvement Program) dan pasar yang sama seperti Pasar Siteba dibangun pada tahun 1970-an.

Beberapa pasar ini, seperti pasar lama Pasar Tanah Kongsi dan Pasar Simpang Haru, Pasar Siteba, Pasar Lubuk Buaya dan Pasar Bandar Buat merupakan tempat perdagangan yang sibuk. Pasar-pasar lain didukung oleh pemerintah karena pasar tersebut sesuai dengan rencana induk kota, namun sesungguhnya tidak kunjung berkembang seperti Pasar Ulak

Karang, Pasar Alai, Pasar Teluk Bayur, dan Pasar Bungus.

Pelanggan disekitar pasar tersebut tidak terlalu banyak, dan hampir semua angkutan umum yang berkumpul di Terminal Pasar Raya sehingga membuat orang-orang mudah pergi ke Pasar Raya.

Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk menulis dan meneliti tentang Pasar Raya Padang.

Oleh sebab itu peneliti mengambil judul “PERKEMBANGAN PASAR RAYA PADANG (1955-1990)”

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian sejarah (historical method). Pengertian metode penelitian sejarah disini adalah suatu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau.

Menurut Garaghan metode penelitian sejarah adalah suatu kumpulan yang sistematis dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang dimaksudkan untuk membantu dengan secara efektif dalam pengumpulan bahan-bahan sumber dari sejarah, dalam menelaah/menilai

(4)

sumber-sumber itu secara kritis, dan menyajikan suatu hasil sinthese (yang biasanya dalam bentuk tertulis) dari hasil yang dicapai.

Penelitian ini dilakukan dengan cara meninjau masalah- masalah dari perspektif sejarah berdasarkan dokumen dan literature yang ada. Empat langkah kegiatan dalam metode penelitian sejarah, yaitu.

Heuristik atau pengumpulan data pada tahap ini akan dilakukan wawancara, kemudian pengamatan, pengumpulan dokumen. Tahap ini diartikan pula sebagai usaha yang dilakukan untuk menghimpun data dan menyusun fakta-fakta sejarah yang berhubungan dengan penulisan ini. Sumber sejarah yang dipakai adalah sumber primer dan sumber sekunder yang berhubungan langsung dengan masalah penelitian.

Sumber primer adalah sumber sejarah yang diperoleh melalui kesaksian daripada seorang saksi dengan mata kepala sendiri atau saksi dengan panca indera yang lain, atau dengan alat mekanis seperti diktafon, yakni orang atau alat yang hadir pada peristiwa yang

diceritakannya atau lebih dikenal dengan saksi pandangan pertama.

Pada sumber primer ini akan dilakukan wawancara dengan orang- orang yang terlibat langsung pada pasar raya Padang seperti: kepala dinas pasar, karyawan kantor pasar raya Padang, pedagang pasar raya Padang, masyarakat sekitar pasar raya Padang, buruh kerja, dan juga konsumen. Sumber sekunder merupakan data yang dapat menunjang yang bisa diperoleh melalui studi kepustakaan, yaitu pustaka STKIP PGRI, UNP, UNAND, Galeri Arsip Statis Kota Padang, Perpustakaan daerah Sumatera Barat, dan BPS.

Pengolahan data, setelah mendapatkan data primer dan sekunder, langkah selanjutnya yaitu pengolahan sumber yaitu melakukan pengujian sumber yang didapat melalui kritik eksternal, dan kritik internal. Kritik eksternal yaitu pengujian otentitas (keaslian) materinya terhadap aspek-aspek

“luar” dari sumber sejarah.

Kritik internal adalah menguji kesahihan (reabilitas) isi informasi sejarah yang terkandung di

(5)

dalamnya, yang menekankan aspek

“dalam” yaitu dari sumber

“kesaksian” (testimony).

Interpretasi adalah usaha untuk menghubung-hubungkan dan mengkaitkan peristiwa atau fakta satu sama lain sedemikian rupa sehingga fakta yang satu dengan yang lainnya kelihatan sebagai satu rangkaian yang masuk akal menunjukan kecocokan satu sama lain. Fakta sejarah dalam proses ini tidak dapat dimasukan, tetapi harus dipilih mana yang relevan dan mana yang tidak relevan dengan gambaran cerita yang akan disusun.

Menginterpretasikan penelitian dalam bentuk karangan sejarah ilmiah, sejarah kritis, perlu diperhatikan sasaran karangan yang logis menurut urutan yang kronologis dan tema yang jelas dan mudah dimengerti.

Historiografi merupakan langkah perumusan cerita sejarah ilmiah, disusun secara logis menurut urutan kronologis dan sistematis yang jelas dan mudah dimengerti, pengaturan bab atau bagian yang

dapat menggabungkan urutan kronologis dan sistematis. Hal ini disebabkan penelitian sejarah sekurang-kurangnya harus memenuhi empat hal yaitu, detail faktual yang akurat, struktur yang logis, dan penyajian yang terang dan halus.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perkembangan Pasar Raya

Padang Tahun 1955 – 1989

Pada tahun 1955 pasar pusat hangus terbakar, pemerintah memutuskan untuk merehabilitasi ulang pasar. Tahun 1959 pemerintah memberi penerangan pasar dengan pengeluaran dana sebanyak 195.500, dan tahun 1960 sebanyak 200.000.

Pemerintah juga melakukan pembersihan pasar dengan pengeluaran sebanyak 204.000 di tahun 1959 dan 206.750 di tahun 1960.

Pekerjaan pergantian los-los lama dengan blok-blok baru dengan 2 lantai dalam 7 fase. Fase 1-3 dimulai pada tahun 1959 sedangkan fase 4-7 dimulai pada tahun 1971.

Sebuah blok diberi nama Blok A dibangun pada tahun 1973. Pasar

(6)

Raya Timur ditempatkan sebagai pasar makanan, yang dibangun pada tahun 1878 dan 1983 terdiri dari 3 fase kemudian lantai 2 ditambahkan pada tahun 1987.

Yang menarik dari proses pembangunan Pasar Jawa yang sekarang merupakan Fase I-VII adalah keterlibatan pedagang sejak awal pembangunan. Menurut tokoh pedagang Fase VII, proses pembangunan pasar di Kampung Jawa yang kemudian dikenal Pasar Jawa dilakukan oleh pedagang dengan cara gotong royong. Bahan- bahan bangunan berupa kayu untuk membuat los-los pasar adalah swadaya pedagang yang diambil dan dibawa langsung oleh pedagang.

Bangunan pasar berupa los kayu ini kemudian yang dikenal dengan Pasar Jawa atau populer dengan sebutan Kampuang Jao. Pasca kebakaran pada awal tahun 1987, keterlibatan pedagang dalam proses pembangunan Pasar Raya sangat

tinggi. Dalam proses

pembangunannya, pemerintah hanya memfasilitasi pedagang untuk mendapatkan pinjaman dari Bank.

Kemudian, Angsuran pinjaman ke Bank dibayar oleh pedagang.

Kawasan Pasar yang disesign oleh pemerintah kota waktu itu merupakan bagian dari Pasar Kampung Jawa dan Pasar Miskin yang dalam perkembangannya kemudian disebut dengan Pasar Raya Padang. Secara detail, tidak seluruhnya fisik kawasan pasar yang ada di kawasan Pasar Raya merupakan bagian dari Pasar Raya.

Dalam perencanaan pembangunan, yang termasuk bagian Pasar Raya adalah Pasar Raya Timur yang terdiri dari Blok III, Pasar Raya yang terdiri dariFase I – Fase VII dan Pasar Raya Barat yang terdiri dari Blok A, Koppas dan Merlin, kawasan Pasar Raya Timur sebelumnya dikenal dengan Pasar Mambo. Pasar Raya Timur Kota Padang yang terletak di Kel. Kampung Jao, Kec. Padang Barat. Pasar Raya Timur ini terdapat dua bagian yaitu Pasar Raya Timur I dan Pasar Raya timur II. Pasar Raya Timur ini sebelah Barat berbatasan dengan Jl. Pasar Raya Fase, sebelah Timur dengan Jl. Bagindo Aziz Chan, sebelah Utara dengan Jl. Pasar Baru, dan sebelah Selatan berbatasan

(7)

dengan Jl. Prof. M. Yamin.dan Pasar Raya dikenal dengan Pasar Kampung Jawa.

Letak Pasar Raya lebih dekat ke pinggir laut dibanding pasar lama (Pasar Gadang). Secara topografis, Pasar Raya tidak mengikuti arus sungai yang menjadi manstream pasar awal di berbagai kota niaga.

Sejak awal Pasar Raya Padang memiliki tata ruang sendiri dengan pola yang disusun sesuai dengan pemanfaatan ruang masing-masing dengan ketersediaan lahan seluas 71.375m. Pasar Raya Padang merupakan pasar paling luas dari 15 pasaryang ada di kota Padang. Selain terluas, Pasar Raya Padang berada di pusat kota dengan nilai tanah Rp5.000.000/meter. Nilai tersebut merupakan nilai tanah tertinggi dari seluruh pasar yang ada di Kota Padang. Harga tersebut sekaligus menempatkan Pasar Raya Padang sebagai kawasan paling bernilai ekonomis dibanding tanah di pasar lain. Baik secara sistem maupun tempat, Pasar Raya merupakan pasar tradisional sejak dibangun hingga sekarang. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Penataan dan

Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern bahwa pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, Badan usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat, atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan dengan tawar menawar.

Dengan mangacu pada perpres tersebut, maka status Pasar Raya adalah pasar tradisional karena pertama pengelolaan pasar berada pada pemerintah Kota Padang, kedua fisik pasa berbentuk toko, kios, los dan tenda yang dikelola oleh pedagang, dan ketiga proses jual beli berlangsung dengan tawar menawar.

Dengan demikian, maka secara tidak langsung, ruang ekonomi yang ada di Pasar Raya Padang merupakan ruang ekonomi tradisional dimana berlangsungnya pasar secara tradisional pula. Kecuali itu, pada

(8)

lantai II dan lantai III Fase VII yang dikelola oleh perusahaan swasta tidak termasuk ke dalam kategori pasar tradisional karena sistem perdagangan adalah sistem perdagangan modern dimana proses tawar menawar antarapedagang dengan pembeli tidak berlangsung.

Lantai II dan III Fase VII merupakan toko modern dimana sistem pelayanan dilaksanakan berlangsung secara mandiri.

Bagian barat terminal angkutan dibangun blok-blok yang lainnya pada tahun 1985. Banyaknya rumah yang dimiliki oleh pemerintah yang disewakan kepada pegawai harus dirobohkan untuk menyediakan ruangan bagi perluasan pasar. Tahun 1988-1989 sebuah perusahaan swasta mengubah fase 7 menjadi Plaza. Blok Pasar Raya Barat, yang dibuat pada masa kolonial berangsur-angsur rusak akibat dimakan waktu.

Bangunan lama tersebut dirobohkan dan diganti dengan pembangunan baru yang dijadikan sebagi toko-toko dan tempat parkir, sebagaimana sejalan dengan ide dari Thomas Karsten. Sebagian besar

blok-blok pasar yang diperbarui di biayai oleh dana inpres yaitu dana pembangunan yang disediakan oleh pemerintah pusat. Masing-masing pedagang memiliki lokasi sendiri di pasar. Pedagang tekstil dan barang- barang lain yang tahan lama diletakan dibagian tengah pasar, pedagang Minangkabau telah mendominasi perdagangan tekstil semenjak zaman kolonial. Toko-toko yang menjual barang mahal seperti perhiasan, perabot diletakan disebelah barat. Untuk alat-alat elektonik dan peralatan listrik diletakan di Blok A. Kawasan Blok A adalah pusat grosir, hampir semua pedagang dari kota/kab di Sumatera Barat datang ketempat ini untuk membeli barang dagangannya seperti sepatu, pakaian, alat tulis, alat pancing, elekronik, dan lainnya.

Bahkan dari provinsi tetangga seperti Jambi, Bengkulu dan Riau juga pernah melakukan transaksi dagang di tempat ini. Pasar Raya Timur dijadikan tempat penjualan bahan makanan mentah. Toko-toko secara bertahap menyebar ke luar Pasar Raya sepanjang jalan M.Yamin dan jalan Permindo. Jalan Permindo

(9)

memiliki tampilan ala Barat dengan berbagai jenis merek barang bergengsi sampai ke penjual kaset- kaset musik.

B. Perkembangan Pasar Raya Padang Tahun 1990

Pasar Raya yang merupakan salah satu ikon destinasi belanja di Padang terus dibenahi untuk dikembalikan menjadi pusat jual beli masyarakat Sumatera Barat yang sempat tersemat pada masa pergerakan kemerdekaan RI hingga akhir 1990-an. Sejatinya sejak didirikan oleh saudagar China, Lie Saay pada abad 19, Pasar Raya yang terletak di Kecamatan Padang Barat menjadi magnet perdagangan tersendiri bagi penjual dan pembeli dari empat provinsi, yakni Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu. Bahkan pada masa pemerintahan Wali Kota Padang Hasan Basri Durin yang dilanjutkan Syahrul Ujud pada awal 1980-an, Pasar Raya menjadi idola warga untuk berdagang dan membeli berbagai kebutuhan.

Pasar Raya yang mempunyai tempat yang strategis yang dimana pasar ini selalu dilalui oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan

umum yang setiap harinya akan beroperasi di Pasar Raya. Semua kendaraan umum yang beroperasi di Kota Padang selalu melintasi Pasar Raya. Oleh karena itu Pasar Raya selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Kebutuhan masyarakat yang ada di Kota Padang akan dapat terpenuhi di Pasar Raya, dengan adanya barang yang diperdagangkan secara lengkap maka kebutuhan masyarakat akan dapat cepat terpenuhi.

“Menurut Yas pedagang alat- alat listrik, Pasar Raya tahun 1990 an dikelola oleh pemerintah kota dibawah naungan Dinas Pasar.

Pemerintah menyediakan kios-kios untuk para pedagang.Sistim pakai kios tersebut ada yang meyewa dan ada juga yang menjadi hak pakai selanjutnya mereka membayar distribusi kepada pemerintah sebanyak Rp.20.000 - Rp.50.000 perbulannya. Distribusi yang dibayarkan kepada pemerintah setiap bulannya itu sudah termasuk semua kebutuhan pedagang di dalamnya yaitu seperti kebersihan, keamanan serta pajak. “

(10)

Dinas Pasar memiliki beberapa tugas utama, pertama, merumuskan kebijaksanaan teknis, memberikan bimbingan dan pembinaan, serta memberikan perizinan sesuai kebijaksanaan yang ditetapkan oleh walikota berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, melaksanakan tugas pokok sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketiga, mengamankan pengendalian teknis atas pelaksanaan tugas pokok sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh walikota berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Menurut Zulkarnaini S.Pd, MM kepala bidang umum dinas perdagangan Kota Padang, Fasilitas penunjang pasar yang ada berupa musshala, WC umum dan kantor- kantor yang salah satunya adalah Kantor Dinas Pasar yang merupakan pengelola pasar, sedangkan utilitas yang ada adalah listrik, air bersih PDAMN dan sumur bor, drainase permanen dengan sistem tertutup serta beberapa container sampah.”

“Menurut Deby pedagang ikan asin, Pasar Raya sangat ramai

dikunjungi konsumen baik di Kota Padang maupun dari luar Kota Padang. Pasar raya buka mulai dari jam 6 pagi dan tutup menjelang magrib, namun sebelum jam 6 pagi sudah banyak konsumen yang datang dan pedagang yang akan membuka barang dagangan di Pasar Raya Padang apalagi pada hari-hari libur dan menjelang moment tertentu seperti hari libur, menjelang bulan puasa atau hari menyambut hari raya sangat ramai bila dibandingkan dengan hari-hari biasa.”

“Menurut Rustam pedagang baju anak-anak, para pedagang di Pasar Raya Padang pada tahun 1990 an sudah membuat sebuah organisasi yang bernama “Persatuan Pasia Tujuh” dimana organisasi ini bertujuan untuk menjaga keamanan toko-toko mereka dari ancaman premanisme, mereka menyewa polisi untuk bisa melindungi toko mereka ketika terjadi perampokan, pencopetan atau tindakan maupun tindakan kriminal lainnya. Anggota organisasi tersebut terdiri pada umumnya dari pedagang-pedagang baju, sedangkan sebagian kecilnya adalah pedagang buku. Ketua dari

(11)

organisasi itu dulunya adalah Bapak Hj. Rustam beliau adalah pemilik toko Mini yang menjual berbagai macam produk kecantikan atau kosmetik yang ada di Pasar Raya Padang. Pedagang-pedagang yang tegabung dalam Organisasi “Pasia Tujuh” tersebut mengeluarkan iuran perbulan sebanyak Rp.5000–

Rp.20.000 perbulannya. Iuran tersebut mereka gunakan untuk biaya keamanan yang mereka percayakan kepada pihak polisi yang mereka sewa.”

“Menurut Ronal Pedagang tomat di pasar raya, bagian depan bioskop Raya sekarang dikenal dahulunya dengan pasar baru atau pasar yang menjadi tempat jual beli sayur mayur. Pedagang sayur berdagang dari subuh buta hingga waktu magrib datang, diperkirakan pada tahun 1990 an ini pedagang- pedagang sayur mayur ini bisa mencapai omset miliaran rupiah.Para pedagang tersebut masih menjajakan dagangannya di pinggir-pinggir jalan, sehingga pengendara harus berhati-hati agar dagangan pedagang tidak tersenggol.”

“Menurut Anto pedagang cabe di Pasar Raya, Perkembangan di Blok satu yang dikenal dengan pasar Inpres I, pada bagian lantai dasar tidak terdapat begitu banyak pedagang hanya berkisar 30 % pedagang yang ada di lantai dasar tersebut. Rendahnya minat pedagang untuk berdagang di pasar Inpres I tersebut di karenakan oleh kondisinya yang masih belum terawat, seperti kondisi atab yang masih banyak bocor, kebersihan yang belum maximal.Bagian lantai II pasar Inpres I di sana terdapat pedagang ayam saja yang tetap beraktifitas, meskipun tidak banyak pembeli tetapi pedagang tetap bekerja seperi memilih, memotong dan menguliti ayam-ayam untuk para pelanggan.”

“Menurut Anto pedagang cabe, Pasar Inpres I yang penuh dengan nuasa hijau, di bagian lantai III masih terbengkalai meja batu atau los pedagang yang sudah mulai rusak masih mereka gunakan untuk berdagang. Ukuran Pasar Inpres I lantai III ini juga sempit sehingga mengurangi selera pedagang untuk berjualan disana. Lantai IV sudah

(12)

bisa dikatakan baik karena sudah terdapat mushalla di sana, yang bisa dijadikan sebagai tempat shalat utama di pasar ini. Beberapa lokasi yang masih tidak terawat masih ditemukan seperti adanya genangan- genangan air.”

KESIMPULAN

Pengelolaan Pasar Raya Padang oleh pemerintah kota semakin jelas hal ini dapat dilihat dari perkembangan pasar yang terjadi secara terus menerus. Tahun 1955 pasar pusat hangus terbakar, pemerintah memutuskan untuk merehabilitasi ulang pasar. Dimulai dari pekerjaan pergantian los-los lama dengan blok-blok baru dengan 2 lantai dalam 7 fase. Menurut tokoh pedagang Fase VII, proses pembangunan pasar di Kampung Jawa yang kemudian dikenal Pasar Jawa dilakukan oleh pedagang dengan cara gotong royong. Bahan- bahan bangunan berupa kayu untuk membuat los-los pasar adalah swadaya pedagang yang diambil dan dibawa langsung oleh pedagang.

Dalam perencanaan pembangunan, yang termasuk bagian Pasar Raya adalah Pasar Raya Timur yang terdiri

dari Blok III, Pasar Raya yang terdiri dari Fase I – Fase VII dan Pasar Raya Barat yang terdiri dari Blok A, Koppas dan Merlin, kawasan Pasar Raya Timur sebelumnya dikenal dengan Pasar Mambo. Pasar Raya Timur Kota Padang yang terletak di Kel. Kampung Jao, Kec. Padang Barat. Pasar Raya Timur ini terdapat dua bagian yaitu Pasar Raya Timur I dan Pasar Raya timur II. Pasar Raya Timur ini sebelah Barat berbatasan dengan Jl. Pasar Raya Fase, sebelah Timur dengan Jl. Bagindo Aziz Chan, sebelah Utara dengan Jl. Pasar Baru, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Jl. Prof. M. Yamin.dan Pasar Raya dikenal dengan Pasar Kampung Jawa.

Tahun 1988-1989 sebuah perusahaan swasta mengubah fase 7 menjadi Plaza. Blok Pasar Raya Barat, yang dibuat pada masa kolonial berangsur-angsur rusak akibat dimakan waktu. Bangunan lama tersebut dirobohkan dan diganti dengan pembangunan baru yang dijadikan sebagi toko-toko dan tempat parkir. Masing-masing pedagang memiliki lokasi sendiri di pasar. Pada masa pemerintahan Wali

(13)

Kota Padang Hasan Basri Durin yang dilanjutkan Syahrul Ujud pada awal 1980-an, Pasar Raya menjadi idola warga untuk berdagang dan membeli berbagai kebutuhan. Pasar Raya yang mempunyai tempat yang strategis yang dimana pasar ini selalu dilalui oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum yang setiap harinya akan beroperasi di Pasar Raya.

Menurut Yas pedagang alat-alat listrik, Pasar Raya tahun 1990 an dikelola oleh pemerintah kota dibawah naungan Dinas Pasar.

DAFTAR PUSTAKA

Bakaba, Jurnal Sejarah Kebudayaan dan Kependidikan Prodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Padang, (Padang) Freek Colombjin, Paco-Paco Kota

Padang Sejarah sebuah kota di Indonesia abad ke- 20 dan penggunaan ruang kota, (Yogyakarta, 2006)

Lois Gottschalk. Mengerti Sejarah, (Jakarta: UI Press, 1986) Hellius Syamsuddin, Metodologi

Sejarah (Yogyakarta:

Ombak, 2007

Mestika Zed, Metodologi Sejarah (Padang: Jurusan Sejarah FIS UNP, 1999)

Arsip Kantor Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Kota Padang,

“Anggaran Belandja Kotapradja Padang Tahun 1960”

Zusmelia, 2009. Dinamika Ruang Ekonomi Tradisional di Kota Padang ( Studi Perubahan Penggunaan Ruang Ekonomi Tradisional di Pasar Raya Padang Pasca Bencana 2009, Jurnal, Dosen STKIP PGRI

Sumbar, Email:

[email protected] Wawancara dengan Yas pedagang

alat-alat listrik di Pasar Raya Padang, Jum’at 18 Agustus 2017

Wawancara dengan Zulkarnaini S.Pd, MM, Kepala bidang Umum tanggal 14 Juli 2017 di Dinas Perdagangan Kota Padang

Referensi

Dokumen terkait

Telah banyak dilakukan penelitian yang difokuskan pada keterlibatan secara langsung siswa dalam investigasi ilmiah melalui praktek yang melibatkan aktivitas mental dan

Penelitian ini nantinya akan menghasilkan sebuah sistem keamanan data pendaftar english communitative dengan menggunakan XML encyription.[4] Tujuan peneltian yang

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada setiap individu sejak dilahirkan kemuka bumi

Analisis pemaknaan leksikal peristilahan dalam Ne’baruakng Kulub cerita rakyat yang terdapat bahasa Kanayatn Mampawah (BDK) di Desa Pahokng Kecamatan Mempawah Hulu

[r]

Secara general, mashlahat ini seperti manfaat menurut lafal dan maknanya.Manfaat diartikan dengan lezat, baik dalam memperolehnya maupun dalam menjaga,

dapat diselesaikan dengan baik. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menciptakan sesuatu yang baru dengan ide-ide atau pemikiran baru yang bersifat berbeda, unik

1) Untuk peneliti selanjutnya diharapkan sampel dalam penelitian lebih diperluas ruang lingkupnya, karena penelitian ini hanya menggunakan Kabupaten dan Kota se-Eks