• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

23 4.1 Deskripsi Perusahaan

4.1.1 Sejarah Perusahaan

PT. “X” didirikan pada tahun 1996 dan mulai beroperasi secara komersial tepatnya bulan Oktober 1996. PT. “X” merupakan kantor cabang dimana pusatnya terletak di Jakarta. Kegiatan usaha PT. “X” baik di kantor pusat maupun kantor cabang adalah bergerak dalam bidang perdagangan pakaian jadi seperti pakaian dalam, pakaian luar, handuk, selimut dan lain-lain. Kegiatan utamanya yaitu membeli produk dari kantor pusat dan menjual produk tersebut ke para agen dalam negeri (penjualan lokal) atau ke luar negeri (penjualan eksport).

Untuk pembelian produk, PT. “X” membeli produk dari kantor pusat dengan menggunakan purchase order. Sedangkan untuk penjualannya, PT. “X”

telah menjalin kerjasama yang baik dengan pelanggan potensial yang ada di Surabaya maupun cabang-cabang lain yang terdapat di Indonesia Bagian Timur serta melakukan kerja sama dengan perusahaan di luar negeri contohnya Malaysia, India, USA. Para pelanggan PT. “X” adalah merupakan para agen besar maupun kecil untuk dijual lagi ke konsumen akhir.

Penjualan lokal PT. “X” dilakukan secara direct selling (sales) atau sesuai dengan permintaan konsumen. Sedangkan untuk penjualan ekspor dilakukan dengan L/C dan transaksi dalam mata uang asing.

Lokasi PT. “X” terletak di Surabaya Barat yang merupakan salah satu pusat pedagangan sehingga hal ini menguntungkan pihak PT. “X” dalam mengembangkan dan memajukan usahanya.

PT X telah melalui berbagai macam halangan dan dapat bertahan hingga sekarang dimana sekitar tahun 1997 di Indonesia mengalami memburuknya kondisi ekonomi yang berkelanjutan karena depresiasi mata uang Rupiah terhadap mata uang asing. Kondisi mencakup pula penurunan drastis harga saham dan pencatatan penyediaan kredit. Dampak memburuknya kondisi ekonomi Indonesia hingga saat ini tidak mempengaruhi secara negatif kegiatan operasional perusahaan. Bahkan PT. “X” dapat memperluas cabang-cabangnya di kota-kota lain termasuk luar pulau Jawa.

(2)

4.1.2 Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggung jawab perencanaan dan pengendalian kepada unit – unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan.

Bentuk organisasi yang ada di PT. “X” sesuai dengan gambar di bawah ini adalah organisasi fungsional. Masing – masing fungsi dipegang oleh orang yang ahli di bidangnya, seluruh perintah mengalir dari pimpinan tiap bidang yang kemudian diberikan kepada setap staff dalam pelaksanaannya. Demikian juga sebaliknya dengan tanggung jawab. Dalam struktur ini maka yang berhak memberikan perintah hanyalah pimpinan yang dalam hal ini adalah Area Manager Indonesia Timur sedangkan para staff hanyalah sebagai pembantu pimpinan.

Jumlah karyawan yang ada di PT X adalah ± 30 orang yang terdiri dari satu Area Manager, satu Branch Manajer, dua staf HRD, satu Marketing Supervisor, satu Financial and Accounting supervisor, satu bagian Kepala gudang dan sisanya merupakan para staf dari Supervisor tersebut. Struktur organisasi PT X seperti pada gambar.

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

Sumber : data perusahaan, diolah

4.1.3 Job Description

Adapun deskripsi tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian adalah sebagai berikut :

1. Area Manager

Area Manager

Branch Manager

Marketing Kepala Gudang

Sales

Finance&Acc

Sales Staf Staf Staf Staf

HRD

(3)

a. Sebagai pimpinan tertinggi di dalam perusahaan cabang Bagian Indonesia Timur, dalam melaksanakan tugasnya Area Manager bertanggung jawab dan memberikan laporan rutin setiap tahun kepada direktur di perusahaan Pusat.

b. Memimpin perusahaan cabang yang terletak di Indonesia Timur sesuai dengan wewenang yang dilimpahkan oleh direktur yang berhubungan dengan perencanaan, pengawasan, pengurusan dan pengembangan PT X.

2. Branch Manager

a. Sebagai pengganti Area Manager jika Area Manager sedang melakukan perjalanan dinas ke cabang-cabang yang lain.

b. Bertugas mengawasi kinerja para Supervisor baik marketing maupun yang lainnya kemudian melaporkan hasilnya ke Area Manager.

3. Human Resource Department (HRD)

a. Mengevaluasi kinerja para staf agar dapat meningkatkan kesejahteraan para staf dalam perusahaan.

b. Mempunyai wewenang untuk melakukan perekrutan dan pemberhentian para staf.

4. Marketing

a. Bertugas untuk melakukan penjualan semaksimal mungkin agar dapat memenuhi omzet penjualan kemudian melaporkan report penjualan kepada Branch Manager.

b. Mempunyai wewenang terhadap para sales dalam mengkoordinasi untuk melakukan penjualan baik secara kanvas maupun ke para agen dalam kota.

5. Financial and Accounting

a. Bertanggung jawab untuk membuat Laporan Keuangan setiap periode untuk ditunjukkan kepada Branch Manager.

b. Memberikan persetujuan atas semua hal yang bersangkutan dengan pengeluaran dan penerimaan kas.

c. Mengatur penggunaan uang yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan perusahaan semaksimal mungkin.

6. Kepala Gudang

a. Bertanggung jawab terhadap keluar masuknya barang.

(4)

b. Melakukan pengecekan rutin terhadap barang persediaan dan menjaga keamanannya.

4.2 Deskripsi Data 4.2.1 Penjualan

Sistem penjualan perusahaan dengan cara melalui eksport dan penjualan lokal. Penjualan lokal PT. “X” terdiri dari penjualan kepada para agen dalam kota dan penjualan luar kota Surabaya yang dilakukan melalui kanvas oleh para sales (direct marketing).

Prosedur penjualan lokal PT. “X” terhadap para agen dalam kota dimulai dengan adanya permintaan barang dari konsumen yang disertai dengan penawaran harga oleh PT. “X” kemudian melakukan pengecekan barang di bagian gudang.

Jika harga dan barang di gudang tidak sesuai maka penjualan batal. Jika ada kesesuaian harga serta barang yang dimaksudkan ada, maka perusahaan membuat bukti order yang berupa dokumen memo atau sell order. Selanjutnya dokumen tersebut dikirim ke bagian gudang untuk pengambilan barang kemudian bagian gudang membuat surat jalan untuk mengirim barang yang dipesan tersebut.

Sedangkan prosedur penjualan melalui kanvas dimulai dengan adanya pengambilan barang di gudang oleh sales. Kemudian PT. “X” mengajukan penawaran kepada para agen di seluruh kota di Jawa Timur. Jika ada kecocokan harga dan barang maka dilakukan penyerahan barang secara langsung dan langsung dibuatkan nota tagihan oleh para sales yang menangani saat itu.

Dalam bagian penjualan terdapat sistem komisi dimana komisi ini diberikan kepada sales (marketing) sebesar 0.75 % dari seluruh penjualannya dalam 1 bulan. Hal inilah yang dapat memotivasi para sales sehingga dapat meningkatkan omzet penjualan PT. “X”

Sistem penjualannya dapat dilakukan secara kredit atau tunai tergantung dari permintaan konsumen. Penjualan produk oleh PT. “X” kepada agen besar diberikan potongan harga sebesar 5% + 1,5% + 1,5% baik secara kredit maupun tunai sedangkan untuk agen kecil diberi potongan harga sebesar 5% + 1,5% dan maksimal pembayaran yaitu 1 bulan sejak barang diterima. Sedangkan untuk penjualan yang dilakukan melalui kanvas, pembayaran dapat dilakukan secara

(5)

tunai atau kredit dengan maksimal pembayaran hanya 2 minggu dan potongan harga yang diberikan sebesar 5%.

Untuk penjualan eksport dilakukan dengan L/C sehingga setelah membuat dokumen pengiriman barang (delivery order) maka pembayaran dapat diambil di bank yang ditunjuk. Untuk eksport tidak terdapat potongan harga. Penjualan Eksport dilakukan dengan sistem kontrak selama 3 bulan jadi selama 3 bulan itu jumlah permintaan barang selalu sama dan dengan harga yang sama pula hanya transaksi yang terjadi dalam bentuk mata uang asing. Karena transaksi dengan mata uang asing maka kurs yang dipakai yaitu kurs yang terjadi pada saat transaksi dan yang sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan. Kontrak tersebut diperbaharui jika telah lewat 3 bulan. Sistem kontrak disetujui kedua belah pihak jika PT. “X” dapat memenuhi permintaan jumlah barang setiap bulan.

Penjualan eksport yang dilakukan berdasarkan atas surat perjanjian antara 2 negara yang berhubungan yaitu dengan sistem kontrak selama 3 bulan dan selalu diperbaharui setelah kontrak selesai. Inti dari isi kontak tersebut bahwa negara penerima Jasa Kena Pajak mengajukan suatu permintaan barang dalam jumlah dengan harga tertentu selama 3 bulan berturut-turut. Apabila PT. “X”

dapat memenuhi permintaan tersebut maka terjadilah suatu transaksi.

Pencatatan pajak atas transaksi penjualan yaitu bagian akuntansi mencatat pajak atas transaksi penjualan berdasarkan tanggal pada waktu mengirim nota tagihan yang disertai dengan faktur pajak yaitu pada waktu pembayaran 1 bulan berikutnya. Dan perusahaan melakukan pencatatan atas pengenaan pajak keluaran terhadap penjualan barang tersebut.

4.2.2 Pembelian

Sistem pembelian PT. “X” dimulai dari bagian marketing yang meminta barang ke bagian gudang. Kemudian bagian gudang melakukan pengecekan barang apakah barang yang diminta tersebut masih ada. Hal ini juga bisa dilakukan atas inisiatif bagian gudang itu sendiri. Jika persediaan barang tidak cukup maka bagian gudang membuat dokumen permintaan barang ke bagian pembelian. Selanjutnya bagian pembelian menghubungi kantor pusat untuk melakukan permintaan barang. Jika barang yang diminta ada maka bagian

(6)

pembelian membuat dokumen purchase order dan kemudian dikirim ke kantor pusat.

Jika barang yang diminta kantor pusat tidak dapat memenuhi maka bagian pembelian menghubungi supplier lain untuk melakukan permintaan dengan cara supplier mengajukan penawaran harga. Apabila harga dan kualitas barang yang

ditawarkan memenuhi syarat maka bagian pembelian membuat dokumen purchase order kemudian dikirim ke supplier.

Karena sistem pembelian produk PT. “X” kepada kantor pusat maka pembelian dapat dilakukan secara kredit dengan harga pokok ditambah Pajak Pertambahan Nilai dan lama pembayaran maksimal 2 bulan. Jika membeli kepada supplier lain maka pembelian dapat juga dilakukan secara kredit maupun tunai.

Jika secara tunai maka akan mendapat potongan harga sebesar 15% + 2,5% tetapi jika secara kredit maka potongan harga hanya 15% dan waktu pembayaran hanya 1 bulan.

Pencatatan pajak atas transaksi pembelian yaitu bagian akuntansi menunggu nota tagihan dan faktur pajak jadi pencatatan atas pajak pembelian yang dilakukan berdasarkan atas nota tagihan dan faktur pajak pada saat pembayaran kepada kantor pusat atau supplier lain. Perusahaan mengakui atas pajak pembelian pada saat diterimanya nota tagihan disertai dengan faktur pajaknya.

4.2.3 Penyajian SPT Masa PPN

Penyajian SPT Masa PPN untuk mengetahui perician besarnya PPN yang terhutang dan tindakan apa yang selama ini diambil oleh PT. “X”. Dasar Pengenaan Pajak untuk menghitung Pajak Masukan berdasarkan dari harga beli.

Pajak Masukan di perusahaan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran. Hal ini sesuai dengan ketentuan peraturan perpajakan yaitu Undang-Undang PPN dan penjualan ekport telah ditetapkan sebesar 0% sehingga Pajak Keluaran tersebut untuk penjualan lokal.

Berikut ini adalah SPT Masa PPN bulan Desember 2002

(7)
(8)
(9)
(10)

4.2.4 Laba Rugi dan Neraca

Penyajian Neraca pada perusahaan juga dibuat secara tahunan dimana Laporan Neraca terdiri dari seluruh asset perusahaan baik dari persediaan barang, aktiva tetap, piutang dagang dan hutang dagang.

Tabel 4.5 Neraca Perusahaan

Aktiva Lancar Kewajiban Lancar

Kas 144,422,425.00 Hutang Usaha 4,870,116,220.00

Bank 653,516,443.00 Hutang Lain-lain 28,471,665.00 Piutang Usaha 3,499,737,869.50 Beban yang masih harus dibayar 6,813,450.00 Piutang PPN 679,216,318.00 Hutang Sewa Guna Usaha 32,445,000.00 Persediaan 3,102,410,935.00

Beban Dibayar Di Muka 12,600,000.00

Jumlah Aktiva Lancar 8,091,903,990.50 Jumlah Kewajiban Lancar 4,937,846,335.00

Aktiva Tidak Lancar Ekuitas

Aktiva Tetap 1,768,067,781.50 Modal Saham 500,000,000.00 Akumulasi Penyusutan (475,191,907.00) Modal Disetor Lainnya 500,000,000.00 Jumlah Aktiva Tidak Lancar 1,292,875,874.50 Saldo Laba 3,446,933,530.00 Total Ekuitas 4,446,933,530.00

Jumlah Aktiva 9,384,779,865.00 Jumlah Pasiva 9,384,779,865.00

Aktiva Pasiva

PT. "X"

Neraca Per 31 Desember 2002

Sumber : Data Perusahaan, diolah

Dari data tersebut terdapat Aktiva dimana Aktiva tidak tetap terdiri dari tanah, bangunan, kendaraan dan inventaris kantor. Sedangkan Aktiva Lancar terdiri dari beban yang sudah dibayar, beban yang dimaksud adalah biaya asuransi atas pembelian kendaraan secara leasing yang telah dibayar 3 tahun lalu. Selain beban juga terdapat Piutang Usaha dimana Piutang ini terdiri dari Penjualan Lokal yang belum dilunasi sekitar 2 bulan. Hal ini disebabkan karena keadaan ekonomi yang sulit dan permintaan konsumen akhir yang rendah sehingga perputaran usaha menjadi lambat dan dampaknya terdapat dalam hal pembayaran.

Untuk Passiva, terdapat 3 macam hutang yaitu hutang usaha dimana hutang yang berhubungan langsung dengan pembelian. Sistem pembelian PT. “X”

dengan lama pembayaran 2 bulan sehingga hutang yang terdapat di aktiva yaitu

(11)

hutang selama 2 bulan. Sedangkan hutang lain-lain merupakan hutang kepada ekspedisi untuk pengiriman eksport dimana memerlukan kendaraan transportasi yang besar dan termasuk biaya pengiriman. Lama Pembayaran kepada ekspedisi ini selama 1 bulan. Selain 2 macam hutang tersebut juga terdapat hutang sewa guna usaha, hutang ini untuk membeli kendaraan yang dilakukan pada tahun 2000 dengan masa 3 tahun dan dengan bunga 7% / tahun sehingga selain hutang juga terdapat biaya bunga yang termasuk di dalam biaya yang masih harus dibayar.

Sedangkan penyajian Laba Rugi pada perusahaan dibuat secara tahunan dimana Laporan Laba Rugi ini terdiri dari Pendapatan / Penerimaan dari Penjualan dan Pengeluaran / Pembelian barang-barang dagangan. Laporan ini untuk mengetahui apakah pada tahun yang bersangkutan perusahaan mengalami Laba / Rugi dan semua itu dapat diketahui dari Pendapatan dan Pengeluaran.

(12)

Tabel 4.6 Laporan Laba Rugi

Pendapatan

Penjualan Lokal 20,598,427,217

Penjualan Ekspor 9,200,083,450

Total Pendapatan 29,798,510,667

HPP

Persediaan Awal 2,882,884,367

Pembelian 27,390,590,400

Persediaan Akhir (3,102,410,935)

Total HPP 27,171,063,832

Laba ( Rugi ) kotor 2,627,446,835

Biaya Operasi :

Komisi dan Bonus 223,488,830

Pengiriman 46,083,204

BBM, Parkir dan Tol 150,781,050 Gaji, Upah dan Kesejahteraan Karyawan 500,872,925

Perjalanan Dinas 31,306,600

Iklan, Promosi dan Reklame 120,832,461 Pemeliharaan dan Pajak Kendaraan 48,960,995

Kanvas 12,781,050

Tunjangan PPh 13,523,568

Perlengkapan Gudang 1,979,600

Penyusutan 475,191,907

Listrik, Air dan Telepon 150,214,979

Asuransi 6,300,000

ATK dan Perlengkapan Kantor 4,526,887 Pemeliharaan dan Perbaikan 48,960,995

Sumbangan 8,287,905

Lain - lain 39,095,125

Total Biaya Operasi 1,883,188,081

Laba ( Rugi ) Bersih Operasi 744,258,754

Pendapatan ( Beban ) Lain - lain

Bunga Sewa Guna Usaha (6,813,450) Beban Administrasi Bank (2,002,895) Kerugian Selisih kurs (158,555,067)

Total Pendapatan ( Beban ) Lain - lain (167,371,412)

Laba ( Rugi ) Bersih 576,887,342

PT "X"

Laporan Laba Rugi Per 31 Desember 2002

Sumber : Data Perusahaan, diolah

(13)

Dari data Laporan Laba Rugi PT. “X” diketahui bahwa terdapat beberapa biaya yang berhubungan langsung dengan penjualan seperti :

1. Biaya komisi dan bonus adalah merupakan biaya komisi untuk para sales sebesar 0,75% dari seluruh total penjualan.

2. Biaya pengiriman tersebut untuk pengiriman barang ke luar kota melalui ekspedisi misalnya terdapat agen luar kota yang meminta barang tetapi tidak ada agen yang melakukan kanvas kesana.

3. Kanvas merupakan pengeluaran yang terjadi pada saat sales melakukan kanvas seperti biaya inap dan biaya makan.

Sedangkan sisanya merupakan biaya umum dan administrasi seperti : 1. Perjalanan dinas merupakan perjalanan rutin setiap bulan untuk Area Manager

melakukan tugas keliling ke seluruh Indonesia Timur untuk mengontrol kegiatan di cabang lainnya.

2. Biaya penyusutan tersebut untuk penyusutan seluruh aktiva seperti kendaraan, bangunan dan inventaris kantor.

3. Pemeliharaan dan perbaikan gedung.

4. Biaya lain-lain seperti biaya antar jemput karyawan, biaya minum, biaya catering dan lain lain.

5. Bunga Sewa Guna Usaha selama 1 tahun atas pembelian kendaraan.

4.2.5 Laporan Keuangan

Laporan Keuangan PT. “X” telah disusun dengan menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku. Dasar penyusunan Laporan Keuangan adalah cash basis. Laporan Keuangan disusun berdasarkan konsep Biaya Perolehan kecuali beberapa akun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana dijelaskan masing-masing dalam kebijakan akuntansi atas akun-akun Laporan Keuangan. Sedangkan untuk pajak pembelian dan pajak penjualan berdasarkan atas faktur pajaknya yang disertai bukti pendukung berupa nota tagihan untuk penjualan atau dokumen purchase order untuk pembelian.

Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan Laporan Keuangan adalah Rupiah. Sedangkan transaksi untuk penjualan eksport dilakukan

(14)

dalam bentuk mata uang asing sehingga yang digunakan adalah kurs pajak yang berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada saat tanggal terjadinya transaksi.

4.3 Analisa dan Pembahasan

4.3.1 PT. “X” sebagai Pengusaha Kena Pajak

PT. “X” merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan pakaian dimana kegiatannya membeli barang jadi kemudian dijual lagi secara langsung ke konsumen melalui para agen. Dengan melihat usaha yang dilakukan, dapat diketahui bahwa PT. “X” merupakan Pengusaha Kena Pajak. Hal ini karena barang yang dijual PT. “X” merupakan Barang Kena Pajak.

4.3.2 Pembahasan

Salah satu hak bagi Pengusaha Kena Pajak yang ditunjuk sebagai subyek Pajak Pertambahan Nilai adalah mengkreditkan Pajak Masukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam mekanisme indirect substraction method, Pengusaha Kena Pajak hanya membayarkan Pajak Pertambahan Nilai ke kas Negara sebesar selisih antara Pajak Keluaran dikurangi Pajak Masukan.

Penghitungan tersebut dilakukan untuk setiap masa (bulan). Jika Pajak Masukan lebih besar dari Pajak Keluaran maka kelebihan tersebut dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau direstitusi pada masa pajak yang bersangkutan.

Dari data Pembelian dan Penjualan yang ada ternyata pada tahun 2002 perusahaan mengalami Pajak Pertambahan Nilai yang lebih bayar sebesar Rp 679.216.318 Hal ini disebabkan karena terdapat transaksi penjualan eksport yang hamper 30% dari omzet penjualannya dan dimana tarif Pajak Pertambaha Nilai- nya 0% sesuai dengan ketentuan Undang-undang PPN. Jumlah PPN yang lebih bayar ini cukup banyak.

PPN yang lebih bayar tersebut dapat direstitusi atau dikompensasi. Dalam mengambil keputusan maka diperlukan suatu tax planning. Selama ini PT. “X”

selalu melakukan kompenssi terhadap PPN lebih bayar tersebut.

Hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan tersebut antara lain :

(15)

1. Biaya Pemeriksaan

Jika ingin melakukan restitusi maka harus memperhatikan tentang biaya pemeriksaan yang akan timbul sehingga dapat mengurangi laba. Yang dimaksud dengan biaya pemeriksaan, yaitu biaya yang akan dikeluarkan selama proses restitusi tersebut.

Berdasarkan wawancara dengan pihak pemeriksa pajak sendiri ternyata sebenarnya biaya pemeriksaan tersebut tidak ada. Biaya yang dikeluarkan apabila perusahaan diperiksa., biaya ini dianggap sebagai biaya siluman. Hal ini terjadi karena perusahaan tersebut melakukannya agar restitusi dapat berjalan lancer.

Biaya pemeriksaan tersebut sebenarnya dapat dinamakan sebagai biaya entertainment dimana biaya yang tidak dapat dibuktikan. Besarnya biaya ini tidak dapat diketahui secara pasti. Menurut analisa, besarnya biaya ini diperkirakan sebesar 10% dari jumlah PPN yang lebih bayar.

Jika dilakukan restitusi maka timbul biaya pemeriksaan sebesar 10 % x Rp 679.216.318,- = Rp 67.921.632,- sedangkan jika dilakukan kompensasi kemungkinan untuk diperiksa juga ada tapi sangat kecil sehingga jarang terdapat biaya pemeriksaan.

2. Opportunity Cost

Selain biaya pemeriksaan, juga terdapat unsure opportunity cost yaitu keuntungan yang akan dikorbankan ketika satu alternative dipilih di antara yang lain. Umumnya jika terdapat opportunity cost berarti keputusan yang diambil adalah restitusi karena jika dilakukan kompensasi tidak akan ada opportunity cost.

Dari laporan penjualan dan pembelian tersebut diketahui bahwa ternyata jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang lebih bayar bukanlah jumlah yang kecil tetapi cukup banyak. Jika jumlah sebesar ini dikompensasi maka akan kehilangan opportunity cost dimana opportunity cost ini hanya timbul jika dilakukan restitusi.

Jumlah tersebut jika di restitusi maka dapat menambah kas perusahaan.

Jadi jika melakukan restitusi kemudian jumlah tersebut di deposito di bank Artha Graha dengan suku bunga 7 % / tahun. Sedangkan jika melakukan kompensasi maka opportunity cost tersebut akan hilang.

(16)

Tetapi ada 1 (satu) hal yang harus diperhatikan yaitu tentang proses restitusi karena opportunity cost tersebut akan timbul jika dilakukan restitusi jadi harus mengetahui terlebih dahulu berapa lama proses restitusi.

3. Proses Restitusi

Dalam melakukan restitusi tidaklah mudah seperti melakukan kompensasi.

Ada beberapa proses dan langkah – langkah yang harus dilalui. Tatacara pengajuan restitusi adalah sebagai berikut :

1. PT. “X” pada tahun 2002 terdapat kelebihan pembayaran pajak dimana Pajak Masukan lebih besar daripada Pajak Keluaran maka dari itu PT. “X” dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) dengan cara mengisi kolom yang tersedia dalam SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai atau surat tersendiri secara tertulis.

2. Sebagai kelengkapan atau data tambahan yang dilampirkan yaitu bukti-bukti atau dokumen yang berhubungan dengan kelebihan pembayaran pajak seperti faktur Pajak Masukan dan faktur Pajak Keluaran, Pemberitahuan Ekspor Barang dan wesel eksport.

3. Permohonan restitusi tersebut disampaikan kepada Kepala KPP di tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan.

4. Kemudian Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang diajukan oleh PT. “X”

5. Setelah dilakukan pemeriksaan maka harus menerbitkan SKP (Surat Ketetapan Pajak) paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak permohonan diterima.

6. Setelah SKP terbit maka harus menerbitkan SKPLB (Surat Keputusan Pajak Lebih Bayar) paling lambat 1 (satu) bulan.

Dari proses restitusi tersebut dapat diketahui bahwa jika dilakukan restitusi maka PPN lebih bayar tersebut baru dapat diterima 1 (satu) tahun kemudian berarti pada tahun 2004 awal. Kemudian di deposito bank selam 1 tahun sampai pada tahun 2005 awal. Sedangkan biaya pemeriksaan tersebut dikeluarkan pada awal tahun 2003.

(17)

Sehingga opportunity cost-nya pada tahun 2004 adalah 7 % x Rp 679.216.318,- = Rp 47.545.142,26 yang dihitung dari jumlah PPN lebih bayar tersebut. Dari hasil pertimbangan diatas dapat diketahui bahwa opportunity cost- nya lebih kecil daripada biaya biaya pemeriksaan sehingga lebih baik dilakukan kompensasi. Factor lain yang dapat dijadikan bukti untuk memperkuat hasil keputusan ini yaitu opportunity cost yang lebih jelas untuk tahun 2003 karena jumlah ini merupakan opportunity cost tahun 2005.

Jadi harus mengetahui terlebih dahulu berapa nilai dari opportunity cost pada tahun 2003 karena jumlah opportunity cost tersebut yang sebesar Rp 47.545.142,26 merupakan opportunity cost yang baru keluar pada awal tahun 2005. untuk mencari nilai sekarang dari opportunity cost ini maka dengan menggunakan Present Value dengan masa waktu 2 tahun yaitu :

PV = 47.545.142,26 = 47.545.142,26 = Rp 41.527.768,59 (1+7%)2 1.14

Besarnya opportunity cost pada tahun 2003 yaitu sebesar Rp 41.527.769,59 Berdasarkan perhitungan diatas ternyata PT. “X” mempunyai opportunity cost yang lebih kecil daripada biaya pemeriksaan yang sebesar Rp 67.921.632 Sehingga dalam hal ini lebih menguntungkan jika melakukan kompensasi dan keputusan yang diambil oleh PT. “X” sudah tepat.

Dari faktor-faktor penyebab diatas maka untuk mengambil keputusan antara restitusi atau kompensasi dibuatkan suatu pohon keputusan untuk mempermudah dalam pengambilan keputusan. Untuk kasus PT. “X”, pohon keputusan seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.4 Pohon Keputusan

No Faktor yang mempengaruhi keputusan Restitusi Kompensasi restitusi atau kompensasi

1 Biaya Pemeriksaan - X

2 Opportunity Cost X -

3 Proses Restitusi - X

Hasil Pertimbangan X

sumber : data perusahaan, diolah.

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi
Tabel 4.5 Neraca Perusahaan
Tabel 4.6 Laporan Laba Rugi  Pendapatan Penjualan Lokal      20,598,427,217 Penjualan Ekspor        9,200,083,450 Total Pendapatan       29,798,510,667 HPP Persediaan Awal        2,882,884,367 Pembelian      27,390,590,400 Persediaan Akhir       (3,102,410
Tabel 4.4 Pohon Keputusan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini psikologis ibu hamil trimester ketiga yang siap dalam menghadapi persalinan pasca relaksasi hypnobirthing di BPM Yossi Trihana dan BPM Yessi Aprillia

Dengan kelemahan yang dimiliki oleh ketiga pendekatan tersebut, maka penulis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan atribut, karena pendekatan ini menjelaskan prilaku

Persepsi merupakan penggunaan dari pikiran (sense) untuk memandu (to guide) aksi gerak (motor action). Di dalam proses persepsi, individu dituntut untuk membentuk penilaian

Lokasi tersebut dipilih oleh peneliti sebagai lokasi penelitian karena daerah tersebut mudah untuk dijangkau sehingga diharapkan dengan menggunakan daerah tersebut

Pada table 4.1 tersebut dapat dilihat bahwa dengan penambahan %massa Nb akan meningkatkan jumlah porositas paduan zirkonium, serta menurunkan parameter densifikasi dari

Pada model rumahtangga nelayan pandega, tidak semua tanda parameter dugaan sesuai dengan yang diharapkan, tanda parameter dugaan untuk peubah pendidikan suami

1) Semangat mengkritik diri sendiri merupakan salah satu nilai yang dikembangkan dalam lesson study, yaitu melakukan refleksi secara jujur untuk memperbaiki kekurangan diri